cover
Contact Name
Angga Kautsar
Contact Email
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Phone
842 888888 Ext : 3510
Journal Mail Official
jurnal.farmaka@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung Laboratorium I Fakultas Farmasi, UNPAD Jl. Raya Jatinangor KM 21, Bandung-Sumedang, Indonesia 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Farmaka
ISSN : 16931424     EISSN : 27163075     DOI : https://doi.org/10.24198/
Core Subject : Health, Science,
Farmaka is replacement for Pharmaceutical Bulletin, published since 1991, with a frequency of four times a year. Editors accept scholarly works of research results and literature review which was closely related to the science, pharmaceutical technology and practice.
Articles 56 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)" : 56 Documents clear
Peran Flavonoid pada Berbagai Aktivitas Farmakologi Izzatul Khoirunnisa; Sri Adi Sumiwi
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3460.303 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.21922

Abstract

Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder dengan struktur fenolik yang bervariasi dan dapat ditemukan dalam buah-buahan, sayuran, biji-bijian, kulit kayu, akar, batang, bunga, teh dan anggur. Flavonoid terkenal dengan efek menguntungkannya bagi kesehatan dan upaya sedang dilakukan untuk mengisolasi bahan yang disebut flavonoid. Flavonoid sekarang dianggap sebagai komponen yang sangat diperlukan dalam berbagai aplikasi nutrasetikal, farmasi, obat-obatan dan kosmetik. Hal ini karena flavonoid memiliki sifat antioksidan, anti-inflamasi, anti-mutagenik dan anti-karsinogenik ditambah dengan kapasitasnya untuk memodulasi seluler kunci fungsi enzim. Saat ini banyak dilakukan kegiatan penelitian dan pengembangan flavonoid terkait dengan isolasi, identifikasi, karakterisasi dan fungsi flavonoid dan akhirnya penerapannya pada manfaat kesehatan. Dalam review ini dibahas mengenai 26 jenis flavonoid beserta aktivitas farmakologis dari flavonoid tersebut.
REVIEW: KOSMETIK HALAL DAN ANALISIS KIMIA UNTUK MENDETEKSI KANDUNGAN NON-HALAL REVISI MAHDIYYAH, MAR'ATUL; Putriana, Norisca
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.509 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.23139

Abstract

Peningkatan populasi muslim di dunia mengakibatkan adanya peningkatan terhadap konsumsi dan permintaan terhadap produk halal salah satunya adalah kosmetik. Kosmetik halal sudah bukan kata asing lagi bagi beberapa negara muslim, namun sayangnya masih banyak yang belum mengetahui definisi sebenarnya dari kosmetik halal. Masih banyak yang beranggapan produk kosmetik halal hanya yang mengandung babi dan alkohol saja. Review ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai kosmetik halal dan apa saja yang boleh terkandung di dalamnya serta analisis kimia yang digunakan untuk mendeteksi kandungan non halal dalam produk kosmetik.Kata kunci: Kosmetik halal, Kandungan non halal, Analisis kimia
BERBAGAI METODE IMMUNOASSAY UNTUK DETEKSI AFLATOXIN B1 (AFB1) KATHERINE AUGUSTIA TJENGGAL; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.022 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22158

Abstract

Aflatoxin merupakan metabolit bersifat racun berbahaya, aflatoxin ditemukan diberbagai bahan pangan, untuk aflatoxin B1 banyak ditemukan di bahan pangan tumbuhan dan bersifat karsinogenik apabila dikonsumsi oleh manusia. Paparan aflatoxin terhadap manusia tidak menimbulkan gejala spesifik yang mudah dideteksi. Sehingga diperlukan metode yang tepat untuk mendeteksinya. Banyak metode telah dikembangkan untuk mendeteksi metabolit ini. Salah satunya adalah immunoassay yang memiliki keuntungan lebih cepat, mudah, dan murah, dibandingkan dengan metode konvensional.
IDENTIFIKASI INTERAKSI ANTAR OBAT PADA RESEP SALAH SATU APOTEK DI BANDUNG TRIARINI, DILA; Lestari, Keri; Mulyanto, Sangkan
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (36.509 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22977

Abstract

Interaksi antar obat merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Terjadinya interaksi obat yang tidak diinginkan dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya polifarmasi. Identifikasi interaksi antar obat dilakukan pada resep yang masuk di salah satu Apotek di Bandung pada bulan April 2019. Dari 61 resep yang diambil secara acak, terdapat 18 interaksi obat pada 15 resep yang berbeda. Interaksi antar obat yang teridentifikasi terdiri dari 5 interaksi kategori major (27,7%), 9 interaksi kategori moderate (50%), dan 4 interaksi kategori minor (22,2%). Pengaruh dari interaksi antar obat dapat diminimalisir melalui peningkatan kewaspadaan oleh tenaga kesehatan professional, terutama farmasis.Kata kunci: interaksi obat, apotek, interaksi antar obat
GALLIUM-68 dan PENGKHELAT GALLIUM-68 SEBAGAI AGEN RADIOFARMAKA TARGET SPESIFIK UTARI YULIA ALFI; HOLIS ABDUL HOLIK
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.562 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22081

Abstract

Gallium-68 adalah radioisotop pemancar positron yang dihasilkan dari generator 68Ge / 68Ga yang mudah digunakan dan meniadakan kebutuhan siklotron. Peptida berlabel Gallium-68 telah diakui sebagai kelas baru radiofarmasi yang menunjukkan lokalisasi target yang cepat. Penggunaan pengkhelat 68Ga juga membantu dalam spesifik target. 68Ga-DOTATOC, 68Ga-DOTATATE, 68Ga-DOTANOC, adalah radiofarmaka paling terkemuka yang saat ini digunakan untuk pencitraan berbagai subtipe reseptor somatostatin yang diekspresikan secara berlebihan pada banyak tumor neuroendokrin. Telah ada peningkatan luar biasa dalam jumlah studi klinis dengan 68Ga selama beberapa tahun terakhir di seluruh dunia. Dengan latar belakang itu, ulasan ini akan fokus pada aplikasi klinis radiofarmaka berbasis 68Ga.
HUBUNGAN ANTARA KADAR HEMATOKRIT DENGAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT KARDIOVASKULAR PADA MAHASISWA FARMASI UNPAD ANGKATAN 2016 Kita Radisa
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.098 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22060

Abstract

ABSTRAKHematokrit merupakan hasil total dari persentase volume darah pada tubuh manusia. Tinggi rendahnya nilai hematokrit sangat penting karena dapat berfungsi sebagai pendeteksi penyakit anemia, penyakit lainnya yang berhubungan dengan jumlah sel darah dan dapat mengukur keakuratan kadar haemoglobin pada tubuh manusia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan kadar hematokrit dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular pada mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Angkatan 2016. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran yang memiliki riwayat keluarga penyakit kardiovaskular, pengukuran kadar hematokrit, dan parameter penyakit kardiovaskular meliputi kadar kolesterol total dan tekanan darah sistolik. Hasil analisis dengan uji kolerasi Spearman menggunakan software SPSS menunjukan hasil signifikansi sebesar 0,079 dimana p-value > 0,05. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara faktor risiko penyakit kardiovaskular dengan kadar hematokrit.Kata kunci: faktor risiko, hematokrit, penyakit kardiovaskularABSTRACTHematocrit is the total result of the presentation of blood volume in the human body. The high and low hematocrit value is very important because it can function as a detector of anemia, other diseases related to the number of blood cells and can measure the accuracy of hemoglobin levels in the human body. This study was conducted to determine whether or not there was a relationship between hematocrit levels and risk factors for Cardiovascular Disease (CVD) in the Faculty of Pharmacy students of Padjadjaran University. The study was conducted by collecting data from the Faculty of Pharmacy students of Padjadjaran University who had a family history of cardiovascular disease, measurement of hematocrit levels, and measurement of parameters of cardiovascular disease including total cholesterol and systolic blood pressure. The results of the analysis with the Spearman correlation test using SPSS software showed a significance result of 0.079 where p-value> 0.05. It can be concluded that there is no relationship between risk factors for cardiovascular disease and hematocrit levels.Keywords: risk factors, hematocrit, cardiovascular disease
SIMULASI MOLECULAR DOCKING DAN MOLECULAR DYNAMICS SENYAWA AKTIF TERHADAP NEURAMINIDASE DARI INFLUENZA Aurizal Risandy Irawan; Zelika Mega
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.953 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.21993

Abstract

ABSTRAKInfluenza merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang sistem pernafasan. Oseltamivir merupakan antiviral golongan inhibitor neuraminidase yang dapat menghambat proses penyebaran virus dengan berikatan dengan sisi aktif dari neuraminisase. Munculnya beberapa kasus resistensi oseltamivir dikarenakan adanya mutasi pada urutan asam amino virus. Oleh karena itu, perlu dikembangkan obat alternatif untuk mengatasi penyakit yang disebabkan virus influenza. Beberapa penelitian telah dilakukan dengan menggunakan molecular docking dan molecular dynamics dalam proses pencarian obat baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam ganoderat, witaferin A, flavonoid, turunan carvone, turunan asam tiazolidin-4-karboksilat, asam klorogenat, dan violaksantin memiliki potensi yang baik sebagai inhibtor neuraminidase dari virus influenza.Kata kunci : Influenza, Molecular Docking, Molecular Dynamics, Neuraminidase
REVIEW ARTIKEL : BERBAGAI AKTIVITAS FARMAKOLOGI DARI SENYAWA KITOSAN Anisa Marieta; Ida Musfiroh
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.169 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.21866

Abstract

Kitosan adalah salah satu senyawa dari turunan kitin, dan banyak dihasilkan oleh hewan seperti  cangkang eksoskeleton artropoda (kepiting, udang, lobster) maupun jamur. Kitosan dapat terbentuk dengan pengurangan gugus asetil dengan adanya proses deasetilasi. Keberadaan kitin sangat berlimpah di alam, dan menurut beberapa penelitian ternyata kitosan memiliki berbagai aktivitas farmakologi seperti sebagai antibakteri, antioksidan, antihiperglikemik, antimalarial, antiulcer, antifungal, dan antitoxoplasma. Dengan begitu dapat diketahui bahwa kitin memiliki banyak manfaat bagi kelangsungan hidup manusia.Kata kunci : Kitosan, gugus asetil, aktivitas farmakologi.
Aktivitas antikanker payudara dan serviks pada beberapa tanaman SASQIA FATURACHMAN; Rini Hendriani
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.406 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22282

Abstract

Kanker Serviks dan Payudara merupakan kanker yang sering menyerang pada wanita. Berbagai pengobatan untuk mengatasi kedua kanker tersebut terus dikembangkan salah satunya melalui tanaman. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui tanaman yang memiliki aktivitas sebagai anti kanker payudara dan serviks. Penulisan Review artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan jurnal diatas tahun 2000. Hasil yang didapatkan yaitu 10 tanaman masing-masing untuk anti kanker payudara dan serviks. Diantara tanaman yang didapatkan yang memiliki potensi  yang baik sebagai anti kanker Payudara ialah Pereskia Bleo (IC50: 3,125 ppm). Sedangkan untuk anti kanker Serviks ialah  Salvia Chorassanica (IC50: 2,38 ppm). Kata Kunci: Kanker Payudara, Kanker Serviks, Tanaman Obat
REVIEW ARTIKEL: FORMULASI DAN EVALUASI SECARA FISIKOKIMIA SEDIAN KRIM ANTI-AGING IRA MAYA; Mutakin Mutakin
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3495.531 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22115

Abstract

Penuaan secara alamiah terjadi pada makhluk hidup. Efek dari proses penuaan pada manusia adalah terjadinya gangguan secara fisik seperti kehilangan elastisitas kulit sehingga kulit menjadi keriput dan juga hiperpigmentasi. Sebagai upaya dalam mencegah maupun mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan antioksidan. Antioksidan dapat menginhibisi terjadinya reaksi oksidasi sel sehingga dapat mengurangi kerusakan sel dan penuaan dini. Beberapa tumbuhan yang telah diteliti memiliki potensi sebagai antiaging adalah mahkota dewa, sirih, narwastu, rambutan, jagung, ubi jalar, kelor, raspberi, anggur dan lengkeng. Untuk memudahkan penggunaan tanaman tersebut sebagai antioksidan, bentuk sediaan kosmetik merupakan pilihan utama yang dapat digunakan secara mudah dan nyaman. Bentuk sediaan kosmetik dapat berupa sediaan gel, krim, bedak, salep dan losion. Review artikel ini akan memaparkan formulasi sediaan krim anti-aging yang mengandung zat aktif dari ekstrak tanaman. Review artikel ini menggunakan metode penelitian komparatif dengan mengumpulkan berbagi sumber pustaka primer dari 18 jurnal penelitian. Hasil review ini mengindikasikan bahwa semua krim yang diformulasikan stabil secara fisikokimia dengan tidak adanya tanda-tanda kerusakan bentuk sediaan emulsi dan perubahan sifat fisikokimia selama uji stabilitas dilaksanakan. Sehingga formula ini berpotensi digunakan dalam pengembangan formula sediaan krim yang mengandung zat aktif dari ekstrak tanaman. 

Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 23, No 3 (2025): Farmaka (November) (In Press) Vol 23, No 2 (2025): Farmaka (Juli) (In Press) Vol 23, No 1 (2025): Farmaka (Maret) (In Press) Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November) Vol 22, No 2 (2024): Farmaka (Juli) Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret) Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November) Vol 21, No 2 (2023): Farmaka (Juli) Vol 21, No 1 (2023): Farmaka (Maret) Vol 20, No 3 (2022): Farmaka (November) Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli) Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret) Vol 19, No 4 (2021): Farmaka (Suplemen) Vol 19, No 3 (2021): Farmaka (November) Vol 19, No 2 (2021): Farmaka (Juli) Vol 19, No 1 (2021): Farmaka (Maret) Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen) Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November) Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September) Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari) Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember) Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Supplemen) Vol 17, No 1 (2019): Farmaka (Februari) Vol 16, No 4 (2018): Prosiding Abstrak Pharmacopea 2018 Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September) Vol 16, No 3 (2018): Farmaka (September) Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus) Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni Vol 16, No 1 (2018): Farmaka (Juni) Vol 15, No 4 (2017): Farmaka Desember Vol 15, No 3 (2017): Suplemen Desember Vol 15, No 3 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Suplemen Vol 15, No 1 (2017): Farmaka (Maret) Vol 14, No 4 (2016): Farmaka Vol 14, No 3 (2016): Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen Vol 14, No 2 (2016): Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement Vol 14, No 1 (2016): Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA More Issue