cover
Contact Name
Nyoman Angga Krishna Pramana
Contact Email
anggakrishna@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
anggakrishna.dr@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Callosum Neurology Journal : Jurnal Berkala Neurologi Bali
ISSN : 26140276     EISSN : 26140284     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Callosum Neurology Journal is an official journal managed by The Indonesia Neurological Association XXV Branch of Denpasar. This journal is open access to the rules of peer-reviewed journaling which aims as scientific publications and sources of actual information in the field of neurology and neuroscience. Callosum Neurology Journal is published three times a year in January, May, and September and contains original articles of research, case reports, case series reports, literature reviews, and communications from and to editors.
Arjuna Subject : -
Articles 75 Documents
DIZZINESS DAN VERTIGO DENGAN KETERKAITAN SISTEM VERTEBROBASILER Ida Bagus Kusuma Putra; Felix Adrian
Callosum Neurology Vol 2 No 1 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.344 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i1.56

Abstract

Empat juta lebih pasien datang dengan keluhan dizziness maupun vertigo. 5 % pasien yang datang dengan keluhan dizziness dan vertigo ternyata memiliki penyakit stroke. 90% Transient ischemic attack (TIA) pada sirkulasi posterior memilki keluhan vertigo yang biasanya dihiraukan oleh petugas medis. HINTS PLUS (head impulse, tipe nistagmus, skew deviation) ditambah keluhan hilang nya pendengaran yang diperiksa dengan gesekan tangan, dikatakan bisa meyingkirkan kemungkinan dari stroke lebih akurat bahkan dari MRI. 4 sindrom pada pasien dengan keluhan intermiten atau kontinu dizziness, dapat dibagi menjadi triggered episodic vestibular syndrome (t-EVS), spontaneous EVS (s-EVS), traumatik/toksik acute vestibular syndrome (t-AVS), spontaneous AVS (s-AVS). Kata Kunci: HINTS, Vertebrobasiler, Pusing, Vertigo
TRANSIENT BILATERAL VISUAL LOSS PADA PASIEN DENGAN DECOMPRESSION SICKNESS TIPE II Ida Ayu Sri Indrayani; Yenita Khatania Ardjaja; Anak Agung Mas Putrawati Triningrat; Anita Devi
Callosum Neurology Vol 2 No 1 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.94 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i1.60

Abstract

Latar Belakang: Transient visual loss adalah hilangnya tajam penglihatan mendadak baik parsial maupun komplit pada satu atau kedua mata yang terjadi kurang dari 24 jam. Decompression sickness terjadi apabila gelembung gas (bubble) yang terbentuk pada saat tubuh mengalami penurunan tekanan ambient secara mendadak pada pembuluh darah (intravaskular), sistem muskuloskeletal, atau jaringan tubuh lainnya menimbulkan suatu gejala. Bubble di intravaskular dapat mengakibatkan obstruksi vaskular, menghambat aliran darah dan menyebabkan iskemia. Iskemia pada daerah occipital akan menyebabkan terjadinya transient bilateral visual loss. Kasus: Pasien laki-laki berusia 23 tahun dengan keluhan penglihatan kabur yang terjadi mendadak setelah pasien naik ke permukaan dari kegiatan menyelam sedalam ± 5 meter selama 1 menit. Pasien dengan riwayat menarik napas dalam dan cepat beberapa kali sebelum melakukan free diving. Tajam penglihatan kedua mata pasien saat di rumah sakit adalah 4/60. Pemeriksaan segmen anterior dan posterior kedua mata dalam batas normal. Dilakukan terapi oksigen hiperbarik. Tajam penglihatan kedua mata pasien membaik menjadi 6/6 setelah terapi. Diskusi: kasus transient bilateral visual loss pada pasien dengan iskemia occipital post free diving dicurigai disebabkan oleh adanya sumbatan intravaskular oleh bubble yang terbentuk pada decompression sickness. Diagnosis decompression sickness ditegakkan secara klinis dan dapat dipastikan bila gejala membaik setelah pemberian terapi rekompresi. Terapi oksigen hiperbarik merupakan terapi pilihan pada semua kasus dengan riwayat terpapar lingkungan hiperbarik atau kondisi unpressurized high-altitude. Mencegah terbentuknya bubble dalam tubuh adalah dengan menghindari faktor risiko terbentuknya bubble dan mematuhi cara naik ke permukaan (ascending) yang benar setelah diving. Kata Kunci: Buta Mendadak Sementara, Decompression Sickness, Penyelam
PERANAN IDARUCIZUMAB UNTUK MENETRALISIR EFEK ANTIKOAGULAN DABIGATRAN Ida Bagus Kusuma Putra; Andreas Soejitno
Callosum Neurology Vol 2 No 3 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.249 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i3.61

Abstract

Latar Belakang: Dabigatran etexilate (Pradaxa) telah disetujui oleh FDA dan Uni Eropa sebagai antikoagulan untuk mencegah stroke dan emboli sistemik pada pasien dengan atrial fibrilasi non-valvular dan satu atau lebih faktor risiko lain. Penggunaan dabigatran tetap memiliki risiko terjadi perdarahan mengancam nyawa, walaupun jarang terjadi. Diskusi: Dabigatran etexilate merupakan bentuk inaktif (prodrug) dari dabigatran, inhibitor trombin direk. Namun demikian, seperti antikoagulan lain pada umumnya, pasien pengguna dabigatran kadang juga memerlukan tindakan pembedahan emergensi atau prosedur invasif lainnya yang memerlukan netralisasi efek antikoagulan dengan segera. Pilihan terapeutik untuk menetralisir efek dabigatran meliputi penggunaan konsentrat kompleks protrombin, konsentrat kompleks protrombin yang teraktivasi, dan faktor VIIa rekombinan, namun terdapat terapi spesifik berupa antibodi monoklonal yang menetralisir efek antikoagulasi dabigatran secara lebih akurat dan dapat diprediksi, berupa idarucizumab (Praxibind). Simpulan: Idarucizumab mampu menetralisir efek Dabigatran etexilate dan telah disetujui penggunaannya di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, dan Australia. Kata kunci: Dabigatran, Idarucizumab, Antibodi monoklonal, Antikoagulan
LAPORAN KASUS: SINDROM BRUNS PADA NEUROSISTISERKOSIS INTRAVENTRIKULER Kade Agus Sudha Naryana; Ni Made Susilawathi; Anak Agung Raka Sudewi
Callosum Neurology Vol 2 No 3 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.249 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i3.68

Abstract

Latar Belakang: Sindrom Bruns adalah sekumpulan gejala peningkatan intrakranial seperti nyeri kepala, vertigo, dan muntah yang bersifat periodik dan dipicu oleh perubahan posisi kepala. Kasus: Laki-laki 38 tahun, suku Bali datang ke rumah sakit dengan keluhan pusing bergoyang selama dua bulan dan memberat dalam dua minggu terakhir, disertai muntah dan nyeri pada kepala yang bersifat periodik. Pemeriksaan fisik menunjukkan vertigo tipe sentral yang bersifat periodik. Pemeriksaan laboratorium darah normal, pemeriksaan feses tidak ditemukan telur cacing, dan tes serologi positif. Pemeriksaan pencitraan kepala menunjukkan hidrosefalus, kalsifikasi multipel parenkim, dan lesi kistik soliter di ventrikel empat. Pemberian albendazole dan kortikosteroid selama 10 hari menunjukkan perbaikan klinis. Diskusi: Kista neurosistiserkosis dapat ditemukan di ventrikel empat ( 43%-70%), ventrikel lateral (11%-43%), dan ventrikel ketiga (1%-29%). Kista yang bergerak bebas di sistem ventrikel dapat menimbulkan hidrosefalus yang bersifat periodik. Simpulan: Manifestasi neurosistiserkosis intraventrikuler yang jarang dapat berupa Sindrom Bruns. Penegakan diagnosis pada Sindrom Bruns memerlukan MRI kepala. Kata Kunci: Sindrom Bruns, Neurosistiserkosis Intraventrikuler, Hidrosefalus
GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG EPILEPSI DI KECAMATAN KEWAPANTE, KABUPATEN SIKKA Nathasia Suryawijaya; Candida Isabel Lopes Sam; Anna Marita Gelgel
Callosum Neurology Vol 2 No 3 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.249 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i3.73

Abstract

Latar belakang: Rendahnya pengetahuan masyarakat akan epilepsi berpengaruh buruk terhadap kualitas hidup penyandang epilepsi. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan perilaku masyarakat Kecamatan Kewapante terhadap epilepsi. Metode Penelitian: Studi deskriptif terhadap 160 orang pada bulan September – November 2018 di Kecamatan Kewapante dengan teknik cluster random sampling dan menggunakan kuesioner. Hasil: Dari 160 responden, 70.6% berjenis kelamin perempuan, 38.1% berpendidikan terakhir tamat SD, 29% berada dalam kelompok usia 26 – 35 tahun, dan 30% bekerja sebagai ibu rumah tangga. Seluruh responden pernah mendengar atau mengetahui mengenai epilepsi, dan 68.1% pernah melihat serangan epilepsi. Sebanyak 60.6% mengatakan gangguan saraf sebagai penyebab epilepsi dan 66.3% percaya epilepsi dapat disembuhkan. Seluruh responden mengetahui serangan epilepsi sebagai kejang. Sekitar 61.9% responden keberatan jika anak mereka berinteraksi dengan penyandang epilepsi, 79.4% menolak anggota keluarga mereka menikah dengan penyandang epilepsi, 68.1% melarang penyandang epilepsi memiliki pekerjaan yang sama dengan orang lain, dan 71.9% menganggap penyandang epilepsi boleh memiliki anak. Simpulan Seluruh responden warga Kecamatan Kewapante mengetahui serangan epilepsi sebagai kejang, namun perilaku masyarakat terhadap penyandang epilepsi masih beragam. Diperlukan penyebaran edukasi lebih lanjut mengenai epilepsi. Kata kunci: Epilepsi; Pengetahuan; Perilaku
PERAN NEUROFILAMENT LIGHT CHAIN SEBAGAI BIOMARKER PREDIKTOR RISIKO COGNITIVE IMPAIRMENT PADA PENDERITA CHRONIC KIDNEY DISEASE Nella Rosyalina Damayanti; Divayari Gardiani
Callosum Neurology Vol 2 No 3 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.249 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i3.81

Abstract

Latar Belakang: Chronic Kidney Disease (CKD) dapat menyebabkan cognitive impairment yang dapat menurunkan kualitas hidup dan kesejahteraan emosional pasien. Neurofilament Light Chain (NF-L) merupakan protein yang terletak di aksoplasma yang berperan menjaga struktur neuron. Diskusi: Defisit kognitif yang terjadi pada pasien dengan CKD diakibatkan toksin uremik yang menyebabkan cedera saraf. Prevalensi defisit kognitif berkisar 20-50% pada pasien CKD moderat dan 70% pada pasien CKD berat/ menjalani dialisis. Penurunan fungsi kognitif memiliki korelasi positif dengan penurunan eGFR pada pasien CKD. Kadar NF-L serum ditemukan mengalami peningkatan pada pasien setelah cedera akut pada otak seperti iskemia, perdarahan, dan pada pasien dengan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, dibandingkan pada individu sehat. Kadar NF-L serum dapat dideteksi dengan menggunakan pengujian single molecule array (Simoa). Simpulan: Pemeriksaan NF-L dapat dijadikan biomarker terjadinya defisit kognitif pada pasien CKD. Kata Kunci: Chronic Kidney Disease, Neurofilament Light Chain, Fungsi Kognitif, Biomarker
LAPORAN KASUS: TETANUS TIPE GENERAL PADA USIA TUA TANPA VAKSINASI Clarissa Tertia; I Ketut Sumada; Ni Ketut Candra Wiratmi
Callosum Neurology Vol 2 No 3 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.249 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i3.82

Abstract

Latar Belakang: Tetanus disebabkan toksin diproduksi bakteri C.tetani yang mengancam nyawa dan menjadi masalah kesehatan dunia. Kurangnya pengetahuan mengenai resiko infeksi tetanus menyebabkan masyarakat meremehkan luka yang berpotensi tetanus. Kasus: Wanita, 89 tahun datang ke unit gawat darurat dengan keluhan trismus, kekakuan seluruh tubuh terutama bagian leher, disfagia, dan nyeri pada perut dan punggung punggung, riwayat demam, dan telapak kaki kanan tertusuk kayu 5 hari SMRS tanpa injeksi anti-tetanus. Riwayat kejang dan vaksinasi tetanus disangkal. Pasien kompos mentis, gelisah dengan nyeri berat. Trismus 1cm, risus sardonikus, meningismus, uji spatula positif, opistotonos, disertai perut seperti papan. Luka 2x1cm disertai nanah pada plantar pedis dextra. Pasien diberikan anti-tetanus serum, ampicillin sulbactam, metronidazole, dan terapi simptomatik lainnya. Pada hari ke-2 perawatan, terdapat kejang umum tonik dan terdapat perburukan dan pasien dinyatakan meninggal. Diskusi: Manifestasi klinis pada tetanus disebabkan oleh tetanolisin dan tetanospasmin yang berikatan dengan sinaptobrevin/vesicle-associated membrane protein (VAMP), menyebar retrograde ke lower motor neuron kemudian berikatan dengan inhibitor-GABA. Port d entry pada kasus, luka tertusuk kayu dengan tetanus derajat III. Skor Dakar dan Phillips pasien 5 dan 20 (severitas sangat berat, mortalitas >50%). Kesimpulan: Prognosis penyakit tetanus bervariasi tergantung usia, masa inkubasi, klinis, dan komplikasi, sehingga diperlukan diagnosis dan tatalaksana sedini. Kata Kunci: tetanus, C.tetani, toksin, GABA, spasme otot
HIV-ASSOCIATED NEUROCOGNITIVE DISORDER (HAND) PADA PASIEN DENGAN HIV TANPA INFEKSI OPORTUNISTIK Gde Putra Dhyatmika; Ketut Widyastuti; Anak Agung Ayu Putri Laksmidewi
Callosum Neurology Vol 2 No 3 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.249 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i3.86

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) telah menjadi epidemi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Salah satu komplikasi infeksi HIV pada sistem saraf pusat (SSP) berupa gangguan fungsi kognitif yang disebut HIV-associated neurocognitive disorder (HAND). Replikasi HIV dalam jangka waktu panjang terjadi pada astrosit dan mikroglia, yang dapat menurunkan fungsi neuronal. HAND terkait dengan aktivitas virus dan mediator inflamasi sel imun pada SSP sehingga menyebabkan kerusakan neuron otak. Kasus: Pasien perempuan, 28 tahun, suku Bali, mengeluh mudah lupa yang dialami sejak 2 tahun lalu. Pasien masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri walaupun keluhan lupa terkadang dirasakan mengganggu. Pasien memiliki riwayat infeksi HIV sejak bulan September 2015 dengan CD4 16 sel/µl dan mendapat terapi ARV fixed-dose combination dengan regimen tenofovir, lamivudine, dan efavirenz. Pemeriksaan neurobehavior dijumpai atensi baik, gangguan memori terutama new learning ability, memori tunda, asosiasi berpasangan, gangguan visuospasial dan eksekutif, ADL dan IADL mandiri, MMSE: 24, MoCA Ina: 14, Clock Drawing Test: 3, Trial making test A baik, Trial making test B terganggu, International HIV Dementia Scale (IHDS): 10.5, Skala penilaian depresi Hamilton: 15. Hasil CT Scan kepala dalam batas normal. Diskusi: Dari hasil pemeriksaan, pasien dikategorikan dalam HAND tipe Asymptomatic Neurocognitive Impairment (ANI). Kadar CD4 diketahui berhubungan dengan derajat kerusakan neuron otak dan kadar CD4 nadir rendah (? 200 sel/µl) merupakan faktor risiko terjadinya gangguan kognitif pada pasien dengan HIV. Pemberian terapi kombinasi ARV dapat menunjukkan peningkatkan performa fungsi kognitif dan fungsional. Simpulan: Infeksi HIV secara langsung pada SSP dapat menyebabkan gangguan neurokognitif dan inisiasi pemberian terapi ARV dini merupakan usaha pencegahan terjadinya perburukan lebih lanjut. Kata Kunci: HIV, Gangguan Kognitif, CD4, Hand, ARV
LAPORAN KASUS: SINDROMA STOKES-ADAMS SINKOP KARDIAK YANG MIRIP BANGKITAN Putu Lohita Rahmawati; I Wayan Widyantara; I Made Putra Swi Antara
Callosum Neurology Vol 2 No 3 (2019): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.249 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v2i3.90

Abstract

Pendahuluan: Kesalahan dalam mengidentifikasi suatu sinkop sebagai bangkitan epileptik merupakan hal yang tidak jarang terjadi. Pasien mendapatkan manajemen epilepsi namun bangkitan tidak kunjung terkendali. Masalah kardiovaskular harus dipertimbangkan dalam keadaan ini karena keterlambatan identifikasi meningkatkan mortalitas. Kasus: Pasien laki-laki, 26 tahun, mengalami bangkitan onset general motorik tonik klonik yang terjadi lebih dari 20 kali dalam waktu 18 jam dengan durasi 3-5 menit. Diantara kejang pasien sadar baik tanpa adanya periode bingung. Pasien  mendapatkan terapi diazepam 10 mg intravena sebanyak 3 kali pemberian namun kejang terus terjadi. Pemeriksaan fisik menunjukkan bradikardia, kardiomegali dengan bising sistolik mitral dan tidak didapatkan defisit neurologis lainnya. Gambaran EKG menunjukkan AV blok derajat 3 dengan gambaran echocardiography dilatasi ventrikel kiri dengan regurgitasi moderat katup mitral. Pemeriksaan CT-scan kepala dan EEG normal. Dilakukan pemasangan alat pacu jantung sementara dan setelahnya pasien tidak mengalami bangkitan. Diskusi: Aktivitas tonik klonik seperti bangkitan epileptik dapat terjadi pada pasien yang mengalami sinkop akibat AV blok. Penurunan kesadaran mendadak sesaat disertai aktivitas seperti bangkitan akibat aritmia yang menyebabkan penurunan perfusi serebral disebut sebagai sindroma Stokes-Adams. Aktivitas tonik klonik pada keadaan ini tidak responsif terhadap regimen antikonvulsan. Kesimpulan: Laporan kasus ini mengangkat pentingnya pengenalan tentang sinkop kardiak untuk membedakannya dengan bangkitan epileptik. Pada pelayanan gawat darurat, kesalahan identifikasi menyebabkan keterlambatan penanganan dan meningkatkan mortalitas. Kata Kunci: Sindroma Stokes-Adams, Sinkop Kardiak, AV Blok
LAPORAN KASUS DAN TINJAUAN PUSTAKA: SINDROM TOLOSA-HUNT Michael Poryono; I Ketut Sumada; Ni Ketut Candra Wiratmi
Callosum Neurology Vol 3 No 1 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.18 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v3i1.58

Abstract

Latar Belakang: Sindrom Tolosa-Hunt adalah  nyeri orbital atau periorbital unilateral yang berkaitan dengan parese dari salah satu atau lebih saraf kranial III, IV dan / atau VI, etiologi masih belum diketahui. Nyeri dan parese dari Sindrom Tolosa-Hunt membaik bila diberikan terapi kortikosteroid yang adekuat. Laporan Kasus: Kami menyajikan kasus pasien wanita muda dengan nyeri orbital dan opthalmoplegia yang berulang sejak 2 tahun yang lalu. Mata kiri penderita juga mengalami ptosis dan protopsis. CT-scan kepala dengan kontras menunjukkan penebalan otot rektus lateral dan otot rektus superior. Diagnosis Sindroma Tolosa-Hunt dibuat sesuai dengan gejala klinis, Ct scan kepala dengan kontras dan respons positif terhadap pengobatan kortikosteroid. Simpulan: Sindrom Tolosa-Hunt merupakan diagnosis eksklusi. Gambaran Klinis, Neuroimaging, dan respons positif terhadap pengobatan kortikosteroid sangat membantu dalam menentukan diagnosis. Penderita harus diberitahu bahwa penyakit ini dapat terjadi lagi. Kata Kunci: Sindrom Tolosa-Hunt, Ophthalmoplegia, Nyeri Orbita