cover
Contact Name
Nyoman Angga Krishna Pramana
Contact Email
anggakrishna@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
anggakrishna.dr@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Callosum Neurology Journal : Jurnal Berkala Neurologi Bali
ISSN : 26140276     EISSN : 26140284     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Callosum Neurology Journal is an official journal managed by The Indonesia Neurological Association XXV Branch of Denpasar. This journal is open access to the rules of peer-reviewed journaling which aims as scientific publications and sources of actual information in the field of neurology and neuroscience. Callosum Neurology Journal is published three times a year in January, May, and September and contains original articles of research, case reports, case series reports, literature reviews, and communications from and to editors.
Arjuna Subject : -
Articles 75 Documents
CURIGA RUPTUR ARTERIOVENOUS MALFORMATION PADA KEHAMILAN PRETERM Adriana Marsha Yolanda; I Gede Supriadhiana; Anak Agung Ayu Putri Laksmidewi; Ketut Widyastuti
Callosum Neurology Vol 3 No 2 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.106 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v3i2.103

Abstract

Latar Belakang: AVM merupakan penyebab paling utama perdarahan intrakranial pada usia muda. Penyebab perdarahan intraserebral paling sering pada kehamilan adalah ruptur AVM. Risiko terjadinya ruptur AVM diperkirakan sebanyak 3.5%. Perdarahan intraserebral pada kehamilan jarang ditemukan, tetapi memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Saat ini, penatalaksanaan dinilai secara individual dan seringkali menjadi dilema bagi para klinisi. Laporan Kasus: Pasien perempuan, 22 tahun, saat ini sedang hamil anak pertama dengan usia kehamilan 29 minggu datang dengan keluhan utama kelemahan separuh tubuh kanan, yang terjadi mendadak saat sedang duduk. Selain kelemahan separuh tubuh kanan, pasien juga mengeluhkan adanya nyeri kepala, yang dirasakan berdenyut, di seluruh bagian kepala dengan intensitas sedang-berat. Pasien juga sempat muntah 2 kali.Keluhan kesemutan separuh tubuh kanan, bibir mencong, bicara pelo terjadi bersamaan dengan kelemahan separuh tubuh kanan. Diskusi: Pemilihan terapi pada ruptur AVM memiliki banyak pertimbangan. Saat ini belum didapatkan standar penanganan ruptur AVM selama kehamilan. Pasien dengan ruptur AVM memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya perdarahan ulang, 4 kali lebih besar dibandingkan AVM yang tidak ruptur. Angka kejadian untuk terjadinya ruptur tinggi dalam 1 tahun sejak onset perdarahan pertama kali. Beberapa pilihan penanganan AVM yang ada saat ini mencakup penanganan konservatif dan operatif. Penanganan operatif meliputi reseksi, radiosurgery stereotactic, embolisasi endovascular dan kombinasi. Tujuan utamanya adalah mencegah adanya perdarahan ulang. Simpulan: Pecahnya pembuluh darah AVM, memiliki risiko untuk terjadi perdarahan ulang sebanyak 6%-15,8% dalam 1 tahun pertama. Penatalaksanaan operatif diperlukan, tetapi belum ada standar penanganan yang baku mengenai waktu dilakukannya penanganan operatif Kata Kunci: Perdarahan Serebral, Arteriovenous Malformations, Kehamilan
PERAN PEMERIKSAAN ELEKTROFISIOLOGI DALAM DIAGNOSIS SINDROM MILLER-FISHER Ahmad Asmedi; Sekar Satiti; Lothar Matheus Manson Vanende Silalahi
Callosum Neurology Vol 3 No 2 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.556 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v3i2.104

Abstract

Sindrom Miller-Fisher merupakan salah satu varian Sindrom Guillain-Barre yang memiliki gambaran klinis unik dengan trias klasik optalmoplegia, ataksia dan arefleksia. Pemeriksaan penunjang pada Sindrom Miller-Fisher berperan penting karena beberapa kondisi penyakit juga dapat bermanifestasi seperti trias klasik Sindrom Miller-Fisher. Penunjang berupa analisis cairan serebrospinal, pencitraan otak, biomarker antibodi GQ1b telah banyak digunakan untuk menegakkan diagnosis Sindrom Miller-Fisher namun memiliki keterbatasan. Pemeriksaan elektrofisiologi kemudian banyak diteliti karena selain menunjang diagnosis dapat menjelaskan proses penyakit Sindrom Miller-Fisher. Penulisan ini bertujuan untuk membahas peran pemeriksaan elektrofisiologi dalam diagnosis Sindrom Miller-Fisher. Hasil studi menunjukkan bahwa abnormalitas amplitude Sensory Nerve Action Potential (SNAP) dan H-reflex secara konsisten terjadi pada Sindrom Miller-Fisher. Abnormalitas amplitudo SNAP akan membaik dengan cepat dan reversibel sehingga diperlukan juga pemeriksaan elektrofisiologi serial untuk dapat menunjang diagnosis Sindrom Miller-Fisher. Temuan tersebut dapat diperkuat dengan hasil pemeriksaan konduksi saraf motorik, konduksi saraf sensorik dan F-wave yang normal. Kata Kunci: Sindrom Miller-Fisher, Elektrofisiologi, Diagnosis
CARDIAC CEPHALALGIA Adriana Marsha Yolanda; I Made Oka Adnyana
Callosum Neurology Vol 3 No 2 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.603 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v3i2.108

Abstract

Cardiac cephalalgia merupakan nyeri kepala seperti migraine, umumnya namun tidak selalu diperberat dengan aktivitas fisik, timbul selama peristiwa myocardial ischaemia, membaik dengan pemberian nitroglycerine. Cardiac cephalalgia merupakan kasus nyeri kepala yang jarang namun dapat mempengaruhi aspek biopsikososial dan kualitas hidup penderita. Berdasarkan The Internasional Classification of Headache Disorder (ICHD), cardiac cephalalgia digolongkan ke dalam nyeri kepala sekunder yang terkait dengan kelainan homeostasis. Artikel ini membahas pengetahuan terbaru mengenai cardiac cephalalgia terkait definisi, epidemiologi, patofisiologi, gambaran klinis, penegakan diagnosis, diagnosis banding, serta pilihan terapinya dengan melakukan pencarian, review dan telaah serta menyimpulkan berbagai literatur terbaru terkait hal tersebut. Cardiac cephalalgia sering ditemukan pada usia dekade lima. Penegakkan diagnosis berdasarkan nyeri kepala yang berkaiatan dengan adanya myocardial ischaemia, dan berespon baik dengan pemberian nitroglycerine. Penatalaksanaan cardiac cephalalgia menitikberatkan pada penanganan myocardial ischaemia. Nitroglycerine merupakan pilihan utama untuk nyeri kepala Kata Kunci : Cardiac Cephalalgia, Nyeri Kepala Sekunder, Myocardial Ischaemia
LAPORAN KASUS: VERTIGO PADA PASIEN STROKE ISKEMIK VERTEBROBASILER DAN SYOK HIPOVOLEMI Hanifah Hayati; Sri Sutarni
Callosum Neurology Vol 3 No 2 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2713.593 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v3i2.110

Abstract

Latar Belakang: Vertigo merupakan gejala yang paling sering timbul pada stroke iskemik vertebrobasiler. Mekanisme penyebab yang paling sering adalah emboli. Syok hipovolemi pada stroke iskemik vertebrobasiler merupakan kasus yang jarang terjadi. Laporan Kasus: Seorang wanita usia 56 tahun datang ke IGD dengan keluhan lemas dan pusing berputar onset akut. Pusing berputar dirasakan terus menerus, intensitas sedang, disertai mual, muntah dan keringat dingin. Sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit, dikatakan oleh keluarga pasien mengalami penurunan nafsu makan dan minum. Pada pemeriksaan fisik didapatkan hipotensi, paresis nervus VII dan XII dextra UMN, hemiparese dextra, dan refleks babinski bilateral. Positif hasil radiologi CT scan kepala menunjukan iskemik lakunar di medulla oblongata, laboratorium ditemukan adanya hemokonsentrasi, imbalans eletrolit, hiperglikemi, dan penurunan fungsi ginjal. Pasien diberikan rehidrasi intravena, balans cairan, antiplatelet dan terapi simptomatis sesuai keluhan. Diskusi: Stroke iskemik vertebrobasiler disebabkan oleh mekanisme embolik, trombotik, atau hemodinamik. Penyebab mekanisme hemodinamik adalah penurunan aliran darah sistem vertebrobasiler yang sering terjadi pada usia tua. Pada pasien ini terdapat gangguan hemodinamik yaitu hipotensi akibat syok hipovolemik sehingga aliran darah menuju otak berkurang. Kondisi hipovolemi yang parah akan menyebabkan iskemik otak yang diperberat oleh aritmia dan hiperglikemi. Kesimpulan: Vertigo sebagai gejala utama stroke iskemik vertebrobasiler merupakan kasus yang memiliki tingkat mortalitas dan morbiditas tinggi. Iskemik pada kasus ini kemungkinan disebabkan oleh syok hipovolemi dan diperberat adanya aritmia jantung. Penting bagi klinisi untuk dapat mendiagnosis dan memberikan terapi dengan tepat pada pasien stroke vertebrobasiler . Kata Kunci: Vertigo, Stroke Vertebrobasiler, Syok Hipovolemik
PREVALENSI DAN FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN NYERI BAHU PADA TENAGA KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT ATMA JAYA Aurelia Vania; Jimmy Barus
Callosum Neurology Vol 3 No 2 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.038 KB) | DOI: 10.29342/cnj.v3i2.112

Abstract

Latar belakang: Perawat bekerja dalam lingkungan dengan risiko tinggi mengalami nyeri muskuloskeletal. Nyeri bahu merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang paling sering terjadi pada perawat dan dapat mempengaruhi kemampuan dan produktivitas saat bekerja maupun aktivitas sehari-hari lainnya. Studi dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan faktor risiko nyeri bahu pada tenaga keperawatan di RS Atma Jaya. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan pada populasi perawat di RS Atma Jaya pada bulan Juli-Agustus 2019. Studi dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang diisi oleh setiap responden. Hasil: Studi ini melibatkan 110 responden yang terdiri dari 98 wanita dan 12 laki-laki dengan rata-rata usia 29,6 ± 7 tahun. 47,3% responden pernah mengalami nyeri bahu dalam 1 tahun terakhir dengan rata-rata skala NRS 3,3 ± 1,4. 76,9% kejadian nyeri bahu timbul setelah bekerja. Studi menemukan shift malam menjadi faktor protektif kejadian nyeri bahu (RO=0,3). Faktor usia >30 tahun, lama bekerja >5 tahun, adanya nyeri area tubuh lain, aktivitas menarik atau menopang beban >10 kg, dan aktivitas bekerja dengan posisi lengan di atas bahu merupakan faktor risiko yang signifikan (95% IK, p?0.05). Analisis multivariat regresi logistik menunjukkan adanya nyeri area tubuh lain sebagai faktor risiko yang paling signifikan (95% IK, p?0.05). Kesimpulan: Adanya nyeri area tubuh lain merupakan faktor yang paling berperan dalam terjadinya nyeri bahu. Faktor risiko nyeri bahu lainnya adalah usia >30 tahun, lama bekerja >5 tahun, aktivitas menarik atau menopang beban berat, dan aktivitas bekerja dengan posisi lengan di atas bahu. Shift malam merupakan faktor protektif kejadian nyeri bahu. Kata Kunci: Faktor Risiko, Nyeri Bahu, Perawat
DIFFERENCES OF TEMOZOLAMIDE RESPONSE IN GLIOBLASTOMA MULTIFORME: REPORT OF TWO CASES Djohan Ardiansyah; Vita Kusuma Rahmawati; Sri Andreani Utomo
Callosum Neurology Vol 3 No 3 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v3i3.89

Abstract

Background: Glioblastoma multiforme (GBM) is about 20% of primary adult brain neoplasms which has poor prognosis; life expectancy is no more than 12 months after the diagnosis. Temozolomide (TMZ) has become GBM standard therapy, combined with the surgery and radio-chemotherapy. Evaluation is important since its relation with the continuity or termination of therapy. Several studies are improving to measure therapy response of GBM. Response Assessment in Neuro-Oncology (RANO) criteria which is published in 2010, became a major criterias to evaluate TMZ response in patients with GBM. This criteria combines clinical manifestation, steroid therapy, and brain magnetic resonance imaging (MRI). Case: We report two GBM cases with standard management. Two women in productive ages and specific clinical manifestations, diagnosed with GBM in left temporal lobes. A 24-year-old woman showed complete response; while a-41-year old one showed progressive response. Discussion: We analyze TMZ response based on RANO criteria. Prognostic factors that differentiate TMZ response in both cases were presence of comorbidity, intratumoral hemorrhage on MRI, and surgery initiation in early diagnosis. Conclusion: Based on RANO criteria and prognostic factors which support TMZ response, the role of adjuvant TMZ become important in standard management of GBM. Keywords: Glioblastoma Multiforme, Response Assessment in Neuro-Oncology, Temozolomide.
HUBUNGAN INTERNET GAMING DISORDER DENGAN GANGGUAN ATENSI DAN MEMORI PADA SISWA SMP DI DAERAH PERDESAAN DI YOGYAKARTA Cempaka Thursina; Sri Sutarni; RA Yayi Suryo Prabandari; Retno Sutomo; Carla Raymondalexas Machira; Alfi Rizky Medikanto
Callosum Neurology Vol 4 No 1 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i1.94

Abstract

Latar belakang: Internet gaming merupakan kejadian yang merambak dan menjadi hal yang lazim di seluruh dunia. Seiring itu pula, timbul keresahan terkait internet gaming, yaitu peningkatan jumlah gamers yang teradiksi. Maka dari itu, penelitian ini dlakukan untuk mengenal internet gaming disorderi(IGD) terutama di daerah perdesaan di Yogyakarta. Modified Children Mini Mental Status Examination(MMMSEC) merupakan alat ukur yang dipakai dalam pengukuran fungsi kognitif maupun atensi pada anak-anak. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan antara nilai MMMSEC bagian atensi, dan memori dengan IGD pada siswa SMP di daerah perdesaan, Yogyakarta Metode Penelitian: Metode menggunakan studi potong lintang di sejumlah SMP di daerah perdesaan Bantul, Yogyakarta pada Mei-Juni 2019. Subyek penelitian kemudian dilakukan assessment terhadap kejadian IGD, dan setelah itu dilanjutkan dengan assessment. Didapatkan total 74 subyek penelitian dengan 37 subyek dengan IGD, dan 37 merupakan subyek kontrol. Hasil: Prevalensi dari siswa SMP yang terkena IGD yaitu 8.2% di daerah perdesaan di Yogyakartan,. Terdapat 74 subyek penelitian, sebanyak 64.9% laki-laki dan 35.1% perempuan. Analisis non parametrik dengan Mann-Whitney hasil MMMSEC antara IGD dan kontrol mendapatkan hasil yang bermakna di penilaian atensi (p value =0.00), dan nilai total (p value=0.029), sedangkan pada penilaian orientasi, registrasi, recall dan bahasa tidak didapatkan hasil yang bermakna. Hasil analisist terhadap perbedaan nilai MMSMEC pada jenis kelamin tidak mendapatkan hasil yang bermakna. Simpulan: Terdapat hubungan antara nilai MMSMEC pada bagian atensi, dan total dengan IGD pada siswa SMP di perdesaan Yogyakarta. Kata Kunci: Internet Gaming Disorder, IGD, MMMSEC, Atensi, Memori
MANIFESTASI KLINIS NEUROLOGIS PADA COVID-19 Aurelia Vania; Desie Yuliani; I Ketut Sumada
Callosum Neurology Vol 3 No 3 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v3i3.118

Abstract

Latar Belakang: Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) yang disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan penyakit yang mudah menular dan menyebabkan kondisi pandemi saat ini. Manifestasi utama infeksi SARS-CoV-2 adalah gangguan sistem respirasi, tetapi manifestasi neurologis telah dilaporkan pada beberapa literatur. Tujuan: Untuk menggambarkan manifestasi klinis neurologis yang dapat ditemukan pada pasien COVID-19. Diskusi: Gejala neurologis yang dapat timbul pada COVID-19 bervariasi dari nyeri kepala, dizziness, anosmia, penyakit serebrovaskular, penurunan kesadaran, ensefalitis, meningitis, Guillain-Barré Syndrome, dan gangguan muskuloskeletal. Manifestasi klinis neurologis terkadang muncul mendahului gejala tipikal COVID-19. Simpulan: COVID-19 menyebabkan manifestasi klinis neurologis yang bervariasi dari gejala non-spesifik hingga gejala spesifik yang melibatkan sistem saraf pusat, sistem saraf tepi, dan muskuloskeletal. Infeksi virus ini perlu diwaspadai sebagai penyebab keluhan neurologis di masa pandemi dan manifestasi neurologis baru perlu diantisipasi selama perawatan pasien COVID-19. Kata Kunci: COVID-19, Manifestasi Neurologis, SARS-CoV-2
TATA LAKSANA PEMERIKSAAN NEUROLOGIS VIRTUAL DI ERA PANDEMI CORONA VIRUS DISEASE 2019 Ni Made Susilawathi; Kumara Tini; Ida Ayu Sri Wijayanti; Putu Lohita Rahmawati; Putu Gede Sudira; Dewa Putu Wisnu Wardhana; Dewa Putu Gde Purwa Samatra
Callosum Neurology Vol 3 No 3 (2020): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v3i3.119

Abstract

Latar Belakang: Pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dengan penularannya yang sangat cepat di seluruh dunia berdampak terhadap perubahan pelayanan kesehatan di bidang neurologi sebagai upaya mendukung program pengendalian penyakit ini. Tujuan: Merumuskan rekomendasi panduan pemeriksaan neurologis untuk pelayanan teleneurologi.   Diskusi: Penyesuaian dalam pelaksanaan pelayanan neurologi perlu segera dilakukan dengan mengadopsi metode pelayanan dengan telemedicine terutama dalam tata cara pemeriksaan pasien dengan pembatasan fisik dan sosial sebagai salah satu langkah pencegahan infeksi SARS-CoV-2. Simpulan: Layanan teleneurologi perlu dikembangkan dalam pelayanan neurologi termasuk pengembangan prosedur pemeriksaan neurologis secara virtual. Kata kunci: COVID-19, Pemeriksaan Neurologi, Pemeriksaan Virtual, Pembatasan Fisik
MANIFESTASI NYERI KEPALA PADA PASIEN COVID-19 Adrean Hartanto Halim; Ida Ayu Sri Wijayanti
Callosum Neurology Vol 4 No 1 (2021): Callosum Neurology Journal
Publisher : The Indonesia Neurological Association Branch of Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v4i1.122

Abstract

Latar Belakang: Nyeri kepala adalah salah satu gejala yang dapat timbul pada Pasien COVID-19. Tujuan: Membahas nyeri kepala sebagai gejala infeksi COVID-19. Diskusi: Gejala ini dapat muncul selama pasien terinfeksi virus dan disertai dengan gejala khas COVID-19 lainnya seperti demam, batuk kering, sesak napas, sakit tenggorokan, dan nyeri otot. Peran infeksi COVID-19 dan reseptor enzim Angiotensin-Converting 2 (ACE2) di dalam sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer sangat berhubungan pada munculnya manifestasi nyeri kepala karena terjadinya efek badai sitokin. Beberapa pasien dengan stroke iskemik, migrain, dan ensefalitis mengeluhkan nyeri kepala. Simpulan: Nyeri kepala dengan berbagai intensitas dan lokasi merupakan kondisi yang harus diwaspadai karena merupakan salah satu indicator keterlibatan sistem saraf dalam perjalanan penyakit COVID-19. Kata Kunci: COVID-19, Nyeri kepala, Reseptor ACE2