cover
Contact Name
Moh. Bakir
Contact Email
mbakir490@yahoo.com
Phone
+6281990925680
Journal Mail Official
jurnal.stiu@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Pegantenan KM. 09 Plakpak Pegantenan
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman
ISSN : 2460383     EISSN : 24778249     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal EL-FURQANIA Vol.04 No.02 Agustus 2018 yang saat ini ada di tangan pembaca menampilkan sejumlah artikel yang merupakan bukti atau hasil “pencarian” para penulis untuk memahami hubungan Ushuluddin dan Ilmu-ilmu Keislaman dengan pranata sosial berdasarkan concern keilmuan masing-masing penulis di berbagai bidang. Jurnal ini menampilkan enam karya tulis ilmiah yang merupakan karya orisinal, tentang kajian al-Qur’an dan kajian keislaman
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 121 Documents
PERILAKU MANUSIA DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ISLAM Yuriadi Yuriadi
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 2 No. 02 (2016): Agustus 2016
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.607 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v2i02.2302

Abstract

Perilaku merupakan hasil dari proses akumulasi psikologis individu yang ditampilakan dalam ruang sosial. Landasan yang dijadikan prinsip utama dalam menuangkan perilaku itu bermacam-macam, salah-satunya berasal dari basis agama, yang dalam psikologi itu dikenal dengan spikologi Islam. Islam adalah sumber dari segala sumber dalam pendidikan akhlak termasuk di dalamnya adalah perilaku dalam hal ini adalah perilaku Islam. Seorang yang memahami Islam dengan benar serta menjalankan segala aturan agama tersebut, akan tercermin melalui kemuliaan perilaku yang ditunjukkan dalam bentuk akhlak sehari-hari. Kehidupan sehari-hari, kita masih sering melihat seseorang yang melakukan tindakan akhlak yang buruk meskipun kita lihat sehari-harinya ia adalah sosok yang tekun menjalankan ibadah. Menjalankan ibadah tanpa dibarengi dengan pemahaman dan upaya yang keras bisa merubah diri ke arah yang lebih baik akan menyebabkan seseorang hanya menjalankan ibadah secara fisik, namun hati dan pikirannya jauh meninggalkan rutinitas ibadah tersebut. Sehingga akhirnya, ibadah hanya tinggal ibadah secara fisik. Ruh dan pikiran tidak merasakan efek dari ibadah tersebut. Seseorang yang rutin menjalankan ibadah secara fisik tetap akan bisa menjalankan dosa, karena ia tidak pernah menghadirkan ibadah tersebut dalam hati dan pikirannya.
REINTERPRETASI DAN REFORMULASI MAKNA JIHAD DAN QITAL (Studi Historis Islam dalam Tafsir Tematik) Suhaimi Suhaimi
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 01 (2017): Februari 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.144 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i01.2757

Abstract

Akhir-akhir ini makna antara jihad dan qital semakin terasa kabur, bahkan terkesan dianggap sebagai landasan aksi terorisme, dianggap sebagai sinonim kata. Banyak terjadi kekerasan atas nama agama dengan mengusung tema jihad. Untuk menemukan konsep yang sebenarnya perlu melakukan reinterpretasi dan reformulasi terhadap ketentuan jihad Islam dengan menelaah sosio-historisnya dalam tafsir tematik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi pustaka (library research) It is known commonly that the term jihad is sometimes misunderstood and misused bay both Moslems and no-Moslems that causes Islam become scapegoat when the act of terrorism occurs. This paper will elaborate on around this issue. By using qualitative approach, the analysis has brought about two important results. These are, the first: the term jihad in al-Qur’an cannot be interpreted just synonymous with the term qital, and the term qital is better understood as one of the forms and techniques of jihad; and second:  from Tafsir analysis of some verses on qital understood that the spread of Islam, using the jihad was done with some steps in two period, that are, the period of Mecca and the period of Medina
NILAI-NILAI DASAR PENDIDIKAN TASAWUF DALAM PARADIGMA MISTIK IBNU ‘ARABI>< TENTANG INSAN KAMIL Ibnu Ali
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 01 (2017): Februari 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.573 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i01.2758

Abstract

Pendidikan sebagai media internalisasi dan sosialisasi masih dinilai belum sukses untuk memanusiakan manusia selama ini. Indikasinya adalah fenomena dehumanisasi dengan munculnya sejumlah problem sosial kemanusian seperti dekadensi moral, kriminalitas, dan lain-lain yang banyak dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan. Maka dalam rangka ini sistem pendidikan telah melakukan banyak pendekatan untuk menyentuh aspek-aspek yang dinilai paling efektif dalam mencapai tujuan pendidikan. Namun banyak di antaranya masih menggunakan pendekatan yang beroreintasi pada aspek intelektual. Bahwa keberhasilan seseorang dalam pendidikan hanya diukur dengan bagaimana kemampuan intelektualnya sehingga seringkali mengabaikan aspek lain yang justeru lebih penting. Penelitian ini adalah untuk mencari aspek lain yang lebih penting itu. Maka melalui paradigma Ibnu ‘Arabi>> tentang “insan kamil” ditemukan kesimpulan bahwa manusia memiliki struktur ontologis dan epistemologis yang pangkalnya adalah qolb (hati atau jiwa) sebagai sentral sikap dan kemauan manusia. Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan tasawuf dapat menjadi pendekatan yang paling efektif dalam mencapai tujuan pendidikan. Education as internalization and socialization media is still considered as unsuccessful for humanizing human during this period. The indication is the fenomenon of dehumanization indicated by the emergence of a number of social and humanitarian problems such as moral decadence, crime, and others that were often commetted by educated people. So based and this case, the education system has a lot of approacshes to touch many aspect considered the most effective in achieving educational goals. But many of them are still using an approach oriented on the intellectual capabilities that neglect other aspect that is more important. This research study is to look for other  aspects that rely on more important. Namely through the paradigm of Ibnu ‘Arabi> boat perpect man (insan kami) which he found conclusion that man has an ontological and epistemological structure  which the source is Qolb (heart/soul) as the central attitudes and human will. Thus it can be concluded that education of Sufism may be the most effective approach in achieving educational goals.
PENDIDIKAN ISLAMI DALAM MENGHADAPI KEBUTUHAN ZAMAN Ach Ach. Zayyadi
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 01 (2017): Februari 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.836 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i01.2760

Abstract

Pendidikan adalah cara untuk mencerdaskan dan menyadarkan masyarakat untuk dapat hidup lebih baik. Pendidikan Islam berusaha mendidik individu mukmin agar tunduk, bertaqwa, dan beribadah dengan baik kepada Allah, sehingga memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Perubahan yang diusahakan dalam proses pendidikan untuk menyampaikan,  baik dalam tingkah laku individu, sekolah dan masyarakat. Pendidikan Islam diadakan tidak lain untuk penyempurnaan akal dan jasmani. Allah memberikan kepada manusia sesuatu kelebihan yang tidak diberikan kepada orang lain. Manusia mempunyai suatu akal yang dapat digunakan untuk berpikir, bagaimana melestarikan alam dan lingkungan, bagaimana membantu individu yang mengalami masalah. Perkembangan zaman membuat tantangan hidup semakin kompleks. Individu harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan mental kuat untuk menjalani kehidupan untuk lebih baik. Pendidikan yang ideal adalah yang memerhatikan dimensi realitas, kapasitas, potensi fisik, intelektual dan spiritual dari individu yang seimbang dalam mendapatkan pengetahuan dari  guru, lingkungan sekolah dan kesiapan mental individu. Masyarakat yang berkemampuan adalah masyarakat akademis dan profesional yang dapat menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian yang merupakan kebutuhan zaman Education is the way to educate and sensitize the public to be able to live better. Islamic Education seeks to educate the individual believer to be submissive, devoted, and pray well to God, so as to obtain happiness in this world and hereafter. Changes sought in the educational process to deliver, both in the behavior of individuals, schools and communities. Islamic education are held in another refinement of mind and the body. God gave man something advantages not given to others. Humans have a mind that can be used to think, how to preserve nature and the environment, how to help people who are having problems. The times make life increasingly complex challenges. Individuals must have the knowledge, experience and the mental strength to live a life for the better. The ideal education is noticed dimension of reality, the capacity, the potential for physical, intellectual and spiritual balance of the individual to obtain knowledge from the teacher, the school environment and an individual's mental readiness. People who are capable of academic and professional communities who can apply science, technology and art is a necessity of the times
AL-FURQAN TAFSIR AL-QUR’AN KARYA AHMAD HASAN: SEBUAH KARYA MASA PRA-KEMERDEKAN Siti Siti Fahimah
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 01 (2017): Februari 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.939 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i01.2762

Abstract

Masa pra-kemerdekaan yang disibukkan dengan kondisi bangsa Indonesia tidak membuat terlena semua warga pada kondisi yang carut marut, Ahmad Hasan sebagai salah satu pemuda yang kritis mencoba melihat kondisi Indonesia dari sisi adat istiadatnya yang semakin mem-prihatikan karena terjebak pada mistisisme. Kegerahan Ahmad Hasan salah satunya adalah dengan dicurahkan pada bentuk karya-karyanya, di antaranya adalah Tafsir al-Furqan. Tafsir al-Furqan lahir dari Kegundahan dan kekhawatiran A. Hasan terhadap kondisi umat yang lebih mengarah pada taqlid.Tafsir al-Furqan karangan Ahmad Hasan ini dapat digolongkan ke dalam tafsir yang menggunakan metode tahli>li>, Sedangkan jenis yang dipakai tafsir ini adalah tafsir bi al-ma'thu>r sekaligus bi al-ma'qu>l. Adapun corak tafsirnya A.Hasan ini bercorak Adabi> Ijtima'i> dan A. Hasan meng-gunakan salinan kalimat dengan kalimat yang sekarang lebih dikenal dengan metode kata  demi kata. Kesederhanaan kitab tafsir ini membuatnya mudah diterima oleh masyarakat, terbukti dengan diterbitkannya di beberapa negara seperti Indonesia, Malaysia dan Libanon. Pre-independence preoccupied with the condition of Indonesia does not make distracted all citizens on condition that messy, Ahmad Hasan as one of the youths who critically trying to see the condition of Indonesia in terms of customs increasingly worrying because it is stuck in mysticism, swelter Ahmad Hasan, one of which is with poured out on the form of his works, including is tafsir al-Furqan. Tafsir al-Furqan born of despondency and concerns A. Hasan of the condition of the people is more directed to taqlid. Tafsir al-Furqan Ahmad Hasan's essay can be categorized into interpretation methods tahlili, while the type used this interpretation is the interpretation bi al-ma'qu>l ma'thu>r once. As to the mode of interpretation is patterned Adabi> Ijtima'i> and A. Hasan use a copy of the sentence with a sentence that is now better known as a method verbatim. The simplicity of this book makes it easy interpretation accepted by society, as evidenced by the issuance of several countries from Indonesia to malaysia to Beirut.
DEKONSTRUKSI ISTINBAth ala Kaum Liberal Wafi Muhaimin
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 01 (2017): Februari 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.54 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i01.2763

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara kritis kaidah ushul fiqih kaum liberal dan aplikasinya dalam buku Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam  (CLD-KHI), yang dicanangkan untuk menjadi buku pedoman peradilan Agama di Indonesia. Kaidah kaum liberal mendiskusikan kaidah ushul fiqih yang sangat mendasar, yaitu maqa>s}id, mashlahah dan akal, serta implementasinya dalam hukum keluarga (al-ahwa>l al-shakhs}iyah). Agar persoalan ini menjadi jelas, dalam mengkaji kaidah ushul fiqih dan fiqih kaum liberal, peneliti menggunakan metode induktif dan analisis-kritis, dengan pendekatan karya ulama ushul fiqih dan fuqaha. Dari kajian ini, dapat disimpulkan bahwa kaidah ushul fiqih kaum liberal bukanlah kaidah baru, melainkan mengadopsi kaidah kontroversi (terdahulu) untuk meruntuh- kan teks-teks agama (nus}u>s}) atas nama maqa>s}id, mas}lahah dan akal, yang tercermin dari fiqih yang dihasilkan dari kaidah ini dan tertuang dalam CLD-KHI dengan cara menyandarkan terhadap pendapat yang lemah The study aims to critically examine the rules of the principles of jurisprudence propagated by the liberalists and their application in Counter Legal Draft-Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI), which has been developed as an endeavour to supersede the guiding texts used in religious courts in Indonesia. Their principles of jurisprudence are devoted to discussing the fundamental concept of ushul al-fiqh, covering the subject of maqa>s}id (objectives), mas}lahah (public benefit) and 'aql (logic), using difficult steps in problematic approaches. Furthermore, the application of the principles of jurisprudence dealing with issues related to the civil matters adopted atypical views. Against this backdrop, the present study undertakes to review the liberalists’ legal maxims using both inductive and critical-analytical methodologies from ushul al-fiqh and fiqh approaches. The findings of the study reveal that the maxims propagated by the liberalists are not something new. In fact, they are derived and adapted from anomalous maxims to disregard and revise the divine revelation by misusing the concept of maqa>s}id, mas}lahah and over reliance upon the logic. Most of the maxims’ applications found in CLD-KHI refer to the weak opinions.
IMPLEMENTASI PEMBIAYAAN AKAD ISTISNA> DALAM TRANSAKSI JUAL BELI ALAT BANGUNAN DI MIBEL BAROKAH PADEMAWU PAMEKASAN (Suatu Tinjauan Perspektif al-Quran dan al-Sunnah) M a r s u m M a r s u m
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 01 (2017): Februari 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.611 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i01.2772

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana analisa dua permasalahan yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini yaitu: 1) Bagaimana bentuk Implementasi Pembiayaan Akad Istisna>, Dalam Transaksi Jual Beli Alat Bangunan di Mibel Barokah (Rida’i) Dusun Kebun Desa Pademawu Timur Kacamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan. 2) Bagaimana proses akad Istisna>, dilakukan dalam transaksi jual beli alat bangunan di Mibel Barokah (Rida’i) Dusun Kebun Desa Pademawu Timur Kacamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian lapangan. Lokasi penelitian di di Dusun Kebun Desa Pademawu Timur Kacamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan. Sumber data diperoleh  dari data primer dan skunder. Data primer yaitu dari orang-orang yang terlibat langsung dalam pengelolaan. Sedangkan data skunder adalah data-data pendukung berupa buku pustaka dan file-file yang berkaitan dengan data yang diperlukan. Prosedur pengumpulan datanya dilakukan dengan pengamatan atau observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis datanya diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: reduksi data, display data dan verifikasi data, Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, meningkatan ketekunan dan triangulasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 1) Bentuk Implementasi dan proses dalam transaksi akad Istisna>, sebagai barikut: a) Penjual memberikan penjelasan terlebih dahulu kepada konsumen yang ingin melakukan akad Istisna>, agar konsumen bisa memahami dengan sebaik-baiknya dan agar kedua belah pihak tidak terjadi salah paham dalam pemesanan. b) Adanya barang yang dipesan serta menentukan harga dari barang tersebut c) Konsumen yang ingin melakukan transaksi akad isiisna>, harus datang langsung ke rumah pemesanan agar merasa puas terhadap barang yang dipesannya. 2) Adapun Proses akad Istisna>, sebagai berikut: a) Penjual meminta uang muka sebagai tanda jadi dalam akad Istisna>,. b) Penjual mengantarkan barang pesanan ke tempat yang disepakati. c) Penjual managgung biaya transport pengantaran pesanan. d) Penjual menentukan harga barang pesanan sebelum akad disepakati. e) Penjual mengantarkan barang pesanan sesuai dengan spesifikasi yang diseapakati oleh kedua belah pihak. This study aims to determine how the analysis of two issues are, the focuses of study in this research are: 1) How do the Istisna> Financing Agreement Implementation In the Sale and Purchase Transactions Tool Building in Barokah furniture (Rida'i) kebun subvillage east pademawu subdisrict Pamekasan district ? 2) How is the Istisna>, contract carried out in the sale and purchase transactions in Barokah furniture building tools (Rida'i) kebun subvillage east Pademawu subdisrict Pamekasan district? This study used a qualitative approach, with the type of field research. research sites in kebun subvillage East Pademawu Pademawu subdisric Pamekasan. Sources of data derived from primary and secondary data. Primary data from people directly involved in the management. While the secondary data is data to support such as library books and files associated with the necessary data. The procedure of data collection is done by observation, interviews and documentation. Analysis of the data is classified into three categories: data reduction, data display and data verification, while checking the validity of the data carried by the extension of observation, increase persistence and triangulation. It can be concluded that 1) Form of Implementation and processes in the transaction agreement of Istisna>, as follows: a) The seller provides an explanation prior to the consumers who want to do Istisna>, contract so that consumers can understand as well as possible and that both parties are not misunders tanding in the reservation. b) The existence of the goods ordered and the price determination of goods c) Consumers who want to trade the Istisna>, contract must come straight home booking in order to feel satisfied with the goods ordered. 2) The process of Istisna>, contract as follows: a) The seller asked for a down payment as earnest money in the Istisna>, contract. b) The seller delivers the goods to the place agreed upon booking. c) The seller pays the transport costs of delivery orders. d) The seller determines the price of the ordered goods before the contract is agreed. e) The seller delivers goods orders in accordance with the specifications agreed by both parties. 
PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM ALA HARUN NASUTION (Sebuah Refleksi Akan Kerinduan “Keemasan Islam”) Sukma Tirta Firdaus
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.563 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i02.3026

Abstract

Abstrak:Saat ini, bila kita membicarakan tentang kejayaan Islam masa lalu,lebih-lebih di bidang ilmu pengetahuan, memberikan rasa pilu yangmendalam. Bagaimana tidak, kenyataan yang terjadi sekarang,Islam yang dulu merupakan kaum paling pintar di dunia, kinihanya menjadi penonton dan objek dari perkembangan IlmuPengetahuan dan Teknologi yang dihasilkan kaum Barat. Dulu,Islam-lah yang mengajari mereka, namun kenapa sekarang justrumereka yang memegang kendali peradaban di era millenium ini.Harun Nasution mengungkapkan, fenomena ini karena kesalahanumat Islam sendiri yang tidak mau beranjak untuk bangkit kembalisetelah kemundurannya. Umat Islam hanya pasrah dan nrimo, akaltidak kembali diasah dan dibiarkan tumpul. Islam harus kembalibangkit dengan memerdekakan akal, penganutan teologi yangtepat, menempatkan posisi akal sesuai kebutuhannya di antarawahyu. Harun menegaskan, tiga hal tersebut merupakan pola baruyang harus dikembangkan, terutama dalam pendidikan Islam, agarIslam tidak semakin terpuruk.Katakunci: Harun Nasution, kemerdekaan akal, pendidikan Islam. Abstract:Today, when we talk about the glory of Islam in the past,especially in the field of science, gives a deep sense of pain. Hownot, the fact that is happening now, Islam that was once the mostintelligent people in the world, is now only a spectator and objectof the development of Science and Technology produced by theWest. In the past, Islam was the one who taught them, but whynow they are in control of civilization in this millennium time.Harun Nasution reveals, this phenomenon because of the error ofMuslims themselves who do not want to move to rise again afterits decline. Muslims are just resigned and take it as it comes,reason is not re-sharpened and left blunt. Islam must re-emerge byliberating reason, proper theology, placing the position of reasonaccording to its needs among revelations. Harun asserted, the triadis a new pattern that must be developed, especially in Islamiceducation, so that Islam is not getting worse.Keywords: Harun Nasution, freedom of mind, Islamic education.
PERSPEKTIF SOSIOLOGIS KONSEP KEBIJAKAN GERAKAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT ISLAMI (GERBANGSALAM) DI KABUPATEN PAMEKASAN (Jawaban Terhadap Wacana Pemisahan Agama dengan Politik) Hendri Masduki
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.076 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i02.3027

Abstract

Abstrak:Para Islamis dewasa ini tengah mencari alternatif-solutif untukmenyelesaikan masalah domestik pemerintahannya, mereka tidakmelihat ideologi barat sebagai alternatif penyelesaian masalahdomestiknya, namun mereka berpaling dan menjadikan Islamsebagai pegangan dan solusi alternatif untuk mengatasi masalahdomestik daerahnya, dan bahkan mereka mendengungkan sebuahslogan ‚Islam is the solution‛ dan bahkan mereka mengartikulasidan memberikan interpretasi suatu kebebasan dalam framereference Syari’at Islam. Tren inilah yang menjadi proritas utamapara elit lokal di daerah untuk mengelola, dan menata pemerintahandi daerahnya. Penataan dan pengelolaan pemerin-tahansecara otonom di tingkat lokal (local state) merupakan dampaksosial gerakan reformasi total pada tahun 1998 yang disusulbergulirnya spirit otonomi daerah, yang menghendaki perubahanparadigma pemerintahan dari sentralisasi birokrasi menujudesentrasasi demokrasi, sehingga pemerintahan di daerah dituntutmempunyai kemampuan dalam mengelola pemerintahan danmengatasi masalah-masalah domestiknya sesuai dengan potensidan khasanah kearifan lokal yang dimiliki di daerahnya. Realitasinilah yang mendorong pemerintahan di daerah-daerah (local state)untuk membuat regulasi kebijakan, baik dalam bentuk peraturandaerah (Perda), Keputusan-keputusan, dan bahkan yang masihberupa rencana strategis.Kata Kunci: Perspektif sosiologis, Konsep kebijakan Gerbangsalam,Kabupaten Pamekasan. Abstract:Todays, All Islamic are searching an alternatif-solution to finishthe problem of domestic government, they don’t use the westideology as the guidance or an alterntif of problem solving, butthey deny and take Islam as the quidence and an alternativesolution to overcome the problem, and even they show the slogan"Islam is the solution" and even they submit and give aninterpretation of freedom in frame reference of Syari'at Islam. ThisTren become main proritas to all local elite in local state tomanage and arrange the governance. The arragement andmanagement of the governance otonomously in local state isrepresenting the social impact of total reformation movement in1998 which is continued by occuring spirit of area autonomy,wanting changging of the government paradigm from sentralisasiof bureaucracy to desentrasasi of democracy, so that thegovernance in local state are hoped to own ability in managinggovernance and overcoming the domestic problem based on thepotention and local properties or asset they have. This reality makethe governance in the local state take the regulation of rules, it canbe an autonomous rule (Perda), The decisions, and even the rule inthe form of strategic planKeywords: Sociology Perspective, the Concept of the Rule of Movement ofIslamic Socity Development (GERBANGSALAM), PamekasanRegency
KEISLAMAN AYAH NABI IBRAHIM (Studi Analisis Tafsir Dan Hadits Nabi Tentang Agama Ayah Nabi Ibrahim As) Khairul Muttaqin
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 3 No. 02 (2017): Agustus 2017
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.168 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v3i02.3028

Abstract

Abstrak:Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa Nabi Ibrahim asadalah seorang utusan Allah SWT yang sangat luar biasa. Ibrahimadalah utusan Allah yang berusaha dengan sekuat tenaga untukmenemukan tuhannya. Ibrahim bahkan dengan keteguhan hatinyamenghancurkan patung-patung yang dibuat oleh Azar ayahnya.Sejarah mencatat bahwa Azar ayah Ibrahim adalah seorang yangkufur kepada Allah SWT dan termasuk pembuat patung-patungyang mana patung tersebut dijadikan sebagai Tuhan dan disembaholeh orang-orang pada zamannya. Namun dalam beberapa kitabtafsir dan hadits-hadits Nabi justru disebutkan sebaliknya bahwaAzar bukanlah ayah kandung Nabi Ibrahim. Azar hanyalah ayahangkat Nabi Ibrahim dan ayah kandung Nabi Ibrahim sendiriadalah seorang muslim yang tidak kufur kepada Allah SWT.Penulisan dalam karya ilmiah ini menggunakan metode libraryresearch atau studi kepustakaan. Penulis membandingkan beberapapendapat dalam kitab-kitab tafsir dan hadits-hadits nabi tentangsiapa sebenarnya ayah kandung Nabi Ibrahim apa agama agamaayah kandung Nabi Ibrahim tersebut. Setelah dilakukan telaahsecara mendalam penulis menyimpulkan bahwa mayoritas ulamatafsir dan hadits justru lebih memilih berpendapat bahwa Azarbukanlah ayah kandung Nabi Ibrahim dan ayah kandung NabiIbrahim adalah seorang muslim yang tidak kufur kepada AllahSWT.Kata Kunci: Agama, Islam, Kafir, Ayah Ibrahim Abstract:In historical books it is mentioned that Prophet Ibrahim as was agreat messenger of Allah SWT. Ibrahim is God's messenger whostrives hard to find his god. Ibrahim even with his fortitudedestroying the statues made by his father Azar. History recordsthat Azar's father Abraham was a disbeliever to Allah SWT andincluded the makers of statues whose statue was made as God andworshiped by people of his day. But in some of the books of tafsirand the hadiths of the Prophet it is mentioned otherwise that Azaris not the father of the Prophet Ibrahim. Azar is not true father ofthe Prophet Abraham and the true father of Prophet Abrahamhimself is a Muslim who believe in Allah SWT. Writing in thisscientific papers uses library research methods or literature studies.The author compares several opinions in the books of tafsir andhadiths of the prophet about who is actually the father of ProphetAbraham and what is the religion of the Abraham's father. After athorough study of the writer concludes that the majority of ulama'tafsir and hadith instead prefer to argue that Azar is not the fatherof Prophet Abraham and the father of Prophet Abraham is aMuslim who believe in Allah SWT.Keywords: Religion, Islam, disbeliever, father of Prophet Abraham

Page 3 of 13 | Total Record : 121