cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
dewaruci@isi-ska.ac.id
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara, Nomor 19, Kentingan, Jebres, Surakarta 57126, Indonesia.
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Abdi Seni
ISSN : 20871759     EISSN : 27232468     DOI : 10.33153
urnal Abdi Seni memiliki fokus pada hasil pengabdian dan pemberdayaan kepada masyarakat, baik itu pengabdian dosen maupun KKN yang dilakukan oleh mahasiswa dalam bidang seni. Cakupan jurnal Abdi Seni memiliki ranah keilmuan di bidang seni rupa dan desain ataupun seni pertunjukan (Tari, Karawitan, Pedalangan, Teater, Etnomusikologi, dll), yang mampu memberikan banyak manfaat untuk masyarakat serta menambah literasi dalam berkesenian.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2009)" : 9 Documents clear
Pengenalan Laras Gamelan Pada Siswa Sd Al-Islam 2 Jamsaren Surakarta Isti Kurniatun
Abdi Seni Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3512.52 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v1i1.7

Abstract

Pendidikan seni karawitan di Sekolah Dasar yang berbasis agama Islam mempunyai image yang kurang positip karena seni pada umumnya dianggap sangat dekat dengan kemaksiatan. Sisi positip yang terkandung dalam seni seperti mengasah kreativitas, kepekaan rasa musikal, estetis, sosial, toleransi, solidaritas, dan sebagainya pada anak tidak terdeteksi dengan baik. Untuk mensiasati kondisi tersebut, maka kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan strategi pemberian pengalaman bermain gamelan dengan memasukan syair-syair bernuansa Islam yang bertujuan untuk mengasah kepekaan rasa musikal pada anak. Pengenalan laras gamelan ini diharapkan dapat menghapus anggapan negatip mengenai gamelan yang pada akhirnya masyarakat di lingkungan pendidikan Islam dapat menghargai dan memetik manfaat dari kegiatan ini. Hasil kegiatan adalah: pertama, pengenalan istrumen gamelan yang akan dimainkan dengan menggunakan perangkat gamelan Ageng; kedua, pengenalan cara memainkan insrumen gamelan khususnya kelompok balungan; dan ketiga, pembelajaran vokal nada yang dimainkan pada instrumen gamelan atau salah satu lagu yang sangat mudah yang dimainkan bersama dengan instrumen gamelan.Keyword : laras gamelan, siswa SD, kepekaan musical, kreativitas
Penajaman Kemampuan Jurnalistik Melalui Pelatihan Penulisan Dan Fotografi Berbasis Data Bagi Siswa SMA Bondet Wrahatnala
Abdi Seni Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2357.46 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v1i1.39

Abstract

Kemampuan jurnalistik verbal dan fotografi tidak diwadahi secara khusus dalam kurikulum sekolah (SMA). Karena itu, hal ini dirasakan sebagai sebuah kepentingan bagi etnomusikolog untuk memperkenalkan kinerja jurnalistik berbasis data di lapangan. Dengan menggunakan prinsip learning by experience based on the field, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempertajam kemampuan menulis dan fotografi bagi siswa SMA. Ceramah interaktif, workshop klinis, dan unjuk kerja menjadi pilihan solusi yang tepat untuk kegiatan ini. Hasil utama dari kegiatan ini adalah: pertama, memperkenalkan proses kerja jurnalistik berbasis data kepada siswa SMA; dan kedua, mempertajam kemampuan menulis dan fotografi siswa SMA sesuai dengan kaidah jurnalistik. Manfaat yang dapat diambil dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah siswa dapat melakukan proses kerja jurnalistik untuk kemudian dapat diaplikasikan ke dalam bentuk penyelidikan atau investigasi lainnya dengan menggunakan langkah kerja jurnalistik berbasis data.Keyword : kemampuan jurnalistik, pelatihan penulisan dan fotografi berbasis data, learning by experience based on the field
Metode Pembelajaran Savi Dalam Workshop Mural Untuk Siswa Sman Garum Dan Sman Talun Kabupaten Blitar Jawa Timur Sukirno Sukirno
Abdi Seni Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4214.902 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v1i1.13

Abstract

Mural dalam perjalananan seni rupa tidak bisa dilepaskan dari jaman prasejarah kira-kira 31.500 tahun silam, ketika ada lukisan gua di Lascaux, selatan Prancis. Mural-mural abad pertengahan atau periode Baroque memperlihatkan lompatan besar pada tema dan teknik. Interior gereja-gereja di Italia, misalnya, diperindah dengan rerupaan bergaya surealis, karya Michaelangelo dan Leonardo da Vinci, yang bersumber pada kisah-kisah Al Kitab. Di negara-negara konflik, seperti Irlandia Utara, mural sangat mudah ditemui di semua dinding kota. Tercatat sekitar 2000 mural dihasilkan dari sejak tahun 1970 hingga sekarang dan dengan demikian Irlandia Utara-lah negara yang sangat produktif menghasilkan mural. Propaganda politik menjadi tema sentral dalam mural tersebut. Mural pada perkembangannya telah menjadi bagian dari seni publik yang melibatkan komunikasi dua arah. Seniman mural melakukan komunikasi secara visual kepada masyarakat terhadap apa yang ingin dicurahkannya, sedangkan masyarakat sebagai penikmat dalam praktiknya mampu berinteraksi langsung kepada seniman. Hal ini semakin menunjukkan dalam seni mural, bahwa interaksi tidak hanya dilakukan secara visual yang menganut pandangan ‘seni adalah seni’ tanpa pertanggungjawaban yang pasti, namun mural juga mampu mendekatkan dirinya sebagai seni yang berinteraksi juga secara verbal. Dalam hal ini, masyarakat memperoleh pencerahan dalam dunia seni rupa dan secara teknis, masyarakat awam dapat mengambil peran sebagai seniman juga. Faktor karakter inilah yang akhirnya belakangan ini membuat mural semakin mendapatkan perhatian dari masyarakat luas yang awam terhadap perkembangan maupun keberlangsungan hidup seni rupa, lebih khusus lagi adalah anak muda. Fakta inilah yang menjadi dasar penulis untuk melakukan pengabdian masyarakat dengan bentuk kegiatan workshop mural bagi siswa SMAN Garum dan SMAN Talun Kabupaten Blitar. Materi workshopnya sendiri tidak hanya praktik atau pengenalan teknik membuat mural tetapi juga sejarah, definisi, karakter, dan metode penciptaannya.Keyword : mural, seni publik, dan metode penciptaan seni               
“Pelatihan Koreografi” Sebagai Pendidikan Apresiasi Seni Bagi Siswa SMA N 7 Surakarta Soemaryatmi Soemaryatmi
Abdi Seni Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3823.153 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v1i1.45

Abstract

Pendidikan seni di sekolah sebaiknya diberikan dengan pendekatan apresiasi. Pendidikan seni dengan pendekatan apresiasi dimaksud untuk menumbuhkan minat dan apresiasi siswa untuk menghargai dan menikmati seni, merangsang kemampuan berseni, serta memanfaatkan pengalaman estetiknya dalam kehidupan sehari-hari. Pelatihan Koreografi (menata gerak) tingkat dasar sebagai upaya pendidikan dalam bidang apresiasi seni. Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 7 Surakarta yang dipandang siswanya mempunyai potensi seni. Fenomena yang ada, sejumlah sekolah didapati kondisi yang masih memprihatinkan. Misalnya, kemampuan sekolah dalam menyediakan guru pendidikan seni sesuai bidangnya rata-rata amat langka. Di sekolah jarang tersedia lebih dari satu guru bidang seni. Begitu juga ketersediaan sarana dan prasarana, buku-buku pegangan, dan referensinya masih minim. Hal tersebut mencerminkan bahwa peran sekolah pada umumnya dalam pendidikan seni belum berfungsi secara efektif dan maksimal.Keyword : Koreografi
Workshop Membuat Komik Untuk Siswa SMA/Sederajadnya Santoso Haryono
Abdi Seni Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6013.593 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v1i1.29

Abstract

Komik pada perkembangannya telah menjadi bagian dari seni massa yang aktif dalam peranannya sebagai sarana komunikasi. Seniman komik melakukan komunikasi secara visual kepada masyarakat terhadap apa yang ingin dicurahkannya, sedangkan masyarakat sebagai penikmat bisa langsung mengapresiasi dengan cara membaca komiknya, memahami cerita atau pesan yang disampaikan para komikus. Dalam hal ini, masyarakat memperoleh pencerahan dalam dunia seni rupa dan secara tidak langsung komik secara positif ikut serta dalam mengembangkan budaya membaca dan pengembangan imajinasi bagi kalangan generasi muda. Komik atau sastra gambar awalnya adalah merupakan salah satu hal yang dianggap “momok” di kalangan pendidik dan orang tua. Sebenarnya banyak hal positif yang muncul terkait kehadiran komik. Siswa usia sekolah terutama SMA/Sederajadnya, bisa mengekspresikan imaginasinya dengan membuat komik dan dipresentasikan lewat majalah dinding sekolah. Secara tidak langsung kegiatan berkomik bisa menjadi stimulus atau rangsangan bagi siswa/siswi dalam belajar mengaktualisasikan imaginasinya, merencanakan, menyusun, berkomunikasi, dan berkarya yang semuanya sangat bermanfaat dalam membangun pola pikir yang konstruktif. Fakta inilah yang menjadi dasar penulis berfikir bahwa kegiatan workshop membuat komik penting bagi siswa SMA/Sederajadnya, karena menjadi salah satu cara dalam membangun pola pikir yang konstruktif bagi remaja.  Keyword : komik
Pembinaan Sanggar Seni Pedalangan Gaya Surakarta Di Serengan Surakarta purbo asmoro
Abdi Seni Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2681.053 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v1i1.49

Abstract

Sanggar Seni Serengan dipandang mendesak untuk dibina. Hal itu, didasarkan atas pertimbangan bahwa siswa sanggar sangat bervariasi status sosial dan usianya. Sanggar Serengan memiliki jumlah siswa berkisar antara 15-30-an orang, dengan usia antara 15-an sampai 40-an tahun, putra dan putri. Pekerjaan siswa beragam, sebagian ada yang pegawai negeri (TNI, Guru), pegawai swasta, wiraswasta, buruh, swarawati, pengemudi becak, dan lain-lain. Pembelajaran di sanggar Serengan sering tanpa pelatih. Mereka biasanya belajar dengan cara bertukar pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan yang diperoleh secara otodidak ketika melihat pertunjukan wayang. Permasalahan yang muncul yaitu: bagaimana teknik untuk menyeimbangkan pembelajaran berdasarkan bekal awal yang berbeda-beda? bagaiman untuk mendapatkan pembelajaran yang sistematis dengan kondisi sarana dan prasarana yang ada? Tujuan pembahasan yaitu untuk mendeskripsikan dan mendapatkan cara yang tepat untuk menyeimbangkan pembelajaran siswa meskipun bekal awal mereka berbeda-beda. Selain itu, juga untuk mendapatkan cara yang sistematis dalam pembelajaran praktik pakeliran dalam situasi dan kondisi yang serba terbatas. Dengan metode demonstrasi dan apresiasi diperoleh hasil bahwa materi pokok dapat dikuasai siswa dengan baik. Hal itu ditandai dari penguasaan materi yang dapat dinilai sudah memenuhi standar kriteria penilaian unsur-unsur garap pakeliran. yang meliputi konsep bener dan resik. Keyword : seni, studio, pertunjukan
Pemuda Kreatif Menuju Era Kompetitif "Tari Modern Wujud Ekspresi Kreatif" Ni Nyoman Yuliarmaheni
Abdi Seni Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2213.047 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v1i1.33

Abstract

Siswa Sekolah Menengah Atas memunyai potensi seni yang cukup besar, baik seni tradisi maupun seni modern. Hal ini, dapat dilihat dari kegiatan ekstra di sekolah-sekolah yang sangat banyak peminatnya. Kondisi yang demikian sangat perlu adanya pendampingan dari pihak profesional agar bakat dan talenta yang mereka miliki dapat berkembang lebih baik. Kegiatan pendampingan bertujuan mewadahi bakat tari modern bagi para generasi muda, mengembangkan kemampuan dan pengayaan bidang seni tari secara profesional, meningkatkan kualitas kepenarian tari modern, mengembangkan krestivitas dalam bidang tari moderrn, dan membentuk organisasi kawula muda dalam event Hari Pemuda Internasional. Materi pelatihan yang diberikan terdiri atas 3 (tiga) jenis, pertama adalah materi latihan (praktik), kedua pengembangan kreativitas, serta ketiga pengambangan apresiasi seni. Dengan metode partisipasi reaktif. Model ini sangat menekankan adanya kesadaran pengembangan individu agar bisa secara kreatif dan meningkatkan kemandirian yang produktif. Hasil dari pelatihan ini adalah terwujudnya gelar bersama pemuda se kota Surakarta dalam Pesta Pelajar anak-anak SMA se Kota Surakarta dan dokumentasi audio visual yang dapat digunakan acuan bagi sekolah SMU dalam pembelajaran tari Modern.Keyword : Tari Modern, Praktik
Upaya Pelatihan Dan Pengenalan Tari Tradisi Gaya Surakarta Di SMA Batik I Surakarta Dwi Rahmani
Abdi Seni Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6219.898 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v1i1.53

Abstract

The article entitled “An Attempt to Train and Introduce A Traditional Dance of Surakarta Style in SMA Batik I Surakarta” is the result of a public service activity. Dance education is hoped to be able to be successful as one of the supporting pillars of Javanese art and culture in Surakarta. A traditional dance is art and cultural heritage being the characteristics and identity of the court of Surakarta. The problem is that the sophisticated and modern stream of globalization has influence over the life of traditional dance, especially over the younger generation. Due to that, the dance training for senior high school students is hoped to be able to make them more appreciative to traditional dance. The methods used in the training were drill, demonstration, lecture, and synthesis analysis structure. Based on the methods, the result of the training shows that the students could present a story called Rara Mendut Pranacitra, a collaboration of theatre, dance and karawitan. They were only trained for four months but the performance was good enough according to the evaluation criteria for a work of dance.Keyword : traditional dance, trainning , appresiation
Pelatihan Karawitan Karang Taruna Dusun Karangrejo Desa Tibayan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten Sugimin Sugimin
Abdi Seni Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4612.365 KB) | DOI: 10.33153/abdiseni.v1i1.37

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk melatih karawitan kepada kelompok karawitan Karang Taruna Dukuh Karangrejo Desa Tibayan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten, yang saat ini sedang mulai tertarik mempelajari karawitan. Kegiatan ini juga melibatkan beberapa mahasiswa Jurusan Karawitan sebagai ajang pembelajaran bagi mahasiswa untuk menambah kepekaan musikalnya. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah dengan cara trainer participation. Metode ini mencakup cara seorang tutor menularkan pengetahuan dan keterampilan seni karawitan, yaitu: drill, demonstrasi, dan dialog. Pelatih karawitan juga menjadi musisi gamelan. Pendekatan personal diutamakan supaya materi cepat diserap oleh peserta pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa gending-gending yang digunakan sebagai materi pelatihan karawitan dapat diserap dan disajikan dengan cukup baik oleh peserta pelatihan.  Keyword : pelatihan karawitan, trainer participation, gamelan

Page 1 of 1 | Total Record : 9