cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)" : 12 Documents clear
KAPASITAS JARINGAN SOSIAL DAN KEBIJAKAN REVITALISASI PELABUHAN PERIKANAN DI PULAU TERDEPAN (Pelajaran dari Revitalisasi Pangkalan Pendaratan Ikan Lugu, di Kabupaten Simeulue) Armen Zulham
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.626 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.1633

Abstract

Pembangunan ekonomi pulau terdepan melalui Program Pembangunan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (PSKPT) sedang giat dilakukan. Di Kabupaten Simeulue, program PSKPT merupakan program andalan. Dengan program PSKPT ini, infrastruktur perikanan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Lugu di renovasi, harapannya bisnis Lapangan Usaha  Perikanan di Kabupaten Simeulue dapat berkontribusi  pada PDRB Kabupaten Simeulue lebih dari 11,5 %. Oleh sebab itu, revitalisasi PPI Lugu  merupakan salah satu target dari PSKPT Simeulue. Sejak September 2015 infrastruktur di PPI Lugu di renovasi dan  dilengkapi dengan Pabrik Es, Air Blast Frezer, pertokoan dan perkantoran agar akselerasi perekonomian Simeulue terjadi. Namun, akselerasi itu, belum terwujud, karena pemahaman tentang jaringan sosial, pertukaran sosial dalam bisnis perikanan di Simeulue kurang dicermati. Pengamatan tentang hal ini telah dilakukan sejak Januari 2015, dan kajian mendalam tentang  PPI Lugu dilakukan pada bulan April 2016. Kajian ini dilakukan untuk melengkapi data aspek sosial ekonomi dan bisnis perikanan di Kabupaten Simeulue. Hasil penelitian ini dapat dijadikan pelajaran, dalam memfungsikan beberapa pelabuhan perikanan di pulau terdepan. Tulisan ini merekomendasikan, operasional  PPI Lugu, dilakukan dalam dua tahap: jangka pendek dengan memberi konsesi pada perusahaan / pengusaha yang memiliki modal dan jaringan pasar yang luas untuk mengelola Cold Storage dan ABF atau Pabrik Es.   Dalam jangka panjang, setelah konsesi berjalan, pada tahun ketiga operasional PPI Lugu diimplementasikan dengan struktur kelembagaan pelabuhan perikanan yang berlaku. Title: Social Networking Capacity and  The Policy of Revitalization of Fishing Port  in The Frontier Island (A Lesson From Revitalization of Lugu Fishing Port, in Simeulue Regency)The economic development of frontier islands through the Integrated Marine and Fisheries Development Program (SKPT) is intensively being carried out. This program is the main activity of Simeulue Regency by renovation of the cold storage, ice factory, air blast freezer, ship dock as well as building market and offices in the  Lugu Fishing Port. The development of infrastructures is expected to encourage the growth of fisheries business, function (revitalization) of the Lugu Fishing Port, and increase the contribution of fisheries business field in the gross regional domestic product of Simeulue. The aim of this report is to understand social network and to find the strategy of the  Lugu Fishing Port revitalization, field observation for the Lugu Fishing Port revitalization was conducted by a quick survey in January 2015 and deep interview about socio economic aspect and fisheries business was conducted on 30 fishers and 3 fish traders (toke bangku)  in April 2016. Data was analyzed descriptive based on economic theory of Handerson and Quant and the sociology-economy theory of Damsar and Indrayani. Results of this study showed that role and capacity of business, social network, and social exchange in fisheries business in Simeulue not used as a references in arranging the policy of the Lugu Fishing Port revitalization. As a result, the fishing port has not functioned until August  2016. This study recommends the operational of  the Lugu Fishing Port to be conducted in two steps: short-term in giving concession to companies/businessman having the fund and wide market network to manage cold storage or ice factory, and long term starting from the third year by operating the fishing port based on the fishing port  organizational structure applied.
Front Matter Koeshendrajana, Sonny
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.4946

Abstract

VALUASI EKONOMI EKOSISTEM MANGROVE DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN MERAUKE Maria MD Widiastuti; Novel Novri Ruata; Taslim Arifin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.757 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3856

Abstract

Ekosistem mangrove mengalami tekanan dan penurunan jasa lingkungan diduga karena abrasi dan fenomena alam serta aktivitas masyarakat seperti penggalian pasir di pesisir pantai. Pemerintah telah melakukan upaya konservasi hutan mangrove dengan cara penanaman kembali, namun belum berhasil. Salah satu permasalahan adalah belum atau tidak adanya informasi nilai ekonomi mangrove sebagai dasar penentuan program konservasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai ekonomi ekosistem mangrove di pesisir Laut Arafura meliputi 3 distrik yaitu Malind, Merauke dan Naukenjerai. Metode yang digunakan yaitu TEV (Total Economic Value) yang terdiri dari analisis nilai guna langsung menggunakan harga pasar. Nilai guna tidak langsung dan nilai pilihan menggunakan benefit transfer. Nilai non guna yang terdiri dari nilai keberadaan dan nilai pewarisan menggunakan WTP (willingness to pay). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ekonomi hutan mangrove di kawasan pesisir pantai Laut Arafura per tahun sebesar Rp. 213.344.656.759,00 (213 Milyar Rupiah) atau setara dengan Rp. 21.075.240,00/ha/tahun atau setara dengan Rp. 8,6 juta rupiah per kepala keluarga. Title: Economic Valuation In The Coastal Mangrove Ecosystem District MeraukeEcosystem mangrove in Araufra Coastal had underpressure and decreasing environmental services because of abration as natural phenomena, and unsuistainable community activities such as digging sand on the coast. The Government has made the conservation of mangrove forests by replanting, but has not succeeded. One of the problems is not yet or absence of information about the economic value of mangroves as the basis for determining the conservation program. This study aims to determine the economic value of the mangrove ecosystem in the Arafura Sea coast in three districts: Malind, Merauke and Naukenjerai. The methodology using TEV (Total Economic Value) consisting of direct use value analysis using market prices. Indirect use values and the options value using the benefits transfer. Non-use value consist the existence and bequest value using WTP (willingness to pay). The result showed that the economic value of mangrove forests in the coastal regions of the Arafura Sea is Rp. 213.344.656.759,00 (213 billion rupiah per year) or equivalent with Rp. 21.075.240,00/ha/year, or equivalent with Rp. 8,6 million per household.
MATA PENCAHARIAN DAN PENDAPATAN RUMAH TANGGA DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN WAKATOBI Ngadi Ngadi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.276 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3696

Abstract

Paper ini ditujukan untuk membahas mata pencaharian dan pendapatan rumah tangga di kawasan pesisir Kabupaten Wakatobi tahun 2015.  Penelitian dilakukan di tiga desa kawasan pesisir Wakatobi yaitu Desa Sombano di Kecamatan Kaledupa,  dan Desa Waelumu dan Longa di Kecamatan Wangi-Wangi. Data yang digunakan untuk analisis adalah data dasar aspek ekonomi terumbu karang dan ekosistem terkait di Kabupaten Wakatobi tahun 2015. Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik survai, wawancara terbuka dan penelusuran data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar penduduk di Sombano bekerja sebagai petani rumput laut, sedangkan penduduk di Longa dan Waelumu bekerja di pertanian tanaman pangan dan perikanan tangkap. Sementara itu, rerata pendapatan rumah tangga di kawasan pesisir  masih rendah, terutama pada waktu musim gelombang kuat.  Rumah tangga di Desa Waelumu memiliki rerata pendapatan rumah tangga tertinggi, sedangkan pendapatan terendah terdapat di Desa Longa. Rumah tangga berpendapatan tinggi di Desa Waelumu dan Longa adalah nelayan tuna dengan area melaut yang luas, sedangkan di Desa Sombano merupakan petani rumput laut.  Rendahnya pendapatan masyarakat pesisir terutama nelayan di Wakatobi tidak terlepas dari praktek penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Persoalan tersebut masih terus terjadi meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk menanganinya. Dari sisi petani rumput laut, persoalan utama yang dihadapi adalah minimnya inovasi terutama penciptaan bibit unggul sehingga produksi rumput laut terus menurun.TItle: Livelihood and Household Income In Coastal Area, Wakatobi Regency This paper is intended to discuss the diversification of household income in coastal areas Wakatobi 2015. The study was conducted in three villages of the coastal area in Wakatobi that are Sombano Village in Kaledupa sub-district;  Village Waelumu and Longa in Wangi Wangi Sub-district. The data used for the analysis is the baselie data economic aspects of coral reefs and associated ecosystems in Wakatobi 2015. The data was collected by survey, open interviews and secondary data searches. The analysis showed the majority of the population in Sombano work as seaweed farmers, while residents in Longa and Waelumu work in crop farming and capture fisheries. Meanwhile, the average household income in coastal areas is still low, mainly at the strong wave season. Household in Waelumu have the highest average income, while the lowest is in Longa. High-income of households in Waelumu and Longa is tuna fishermen with large fishing area, while in the village of Sombano a seaweed farmers. The low income of coastal communities, especially fishermen in Wakatobi is inseparable from fishing practices are not environmental friendly. The problem continues to occur in spite of various efforts to address it. In terms of seaweed farming, the main problem is the lack of innovation, especially the creation of seeds so that the seaweed production continues to decline.  
Back Matter Koeshendrajana, Sonny
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.98 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.4947

Abstract

PENGELOLAAN BERKELANJUTAN PERIKANAN TANGKAP WADUK CIRATA : MODEL BIO-EKONOMI Zuzy Anna
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.957 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3688

Abstract

Perikanan tangkap di waduk, merupakan potensi yang dapat diandalkan bagi pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat sekitarnya, sayangnya kegiatan ini belum banyak mendapat perhatian pengelolaan. Terbukti dari masih sangat rendahnya kontribusi sektor perikanan tangkap waduk ini pada perekonomian daerah. Untuk digunakan sebagai basis pengelolaan, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis  pengaruh aktivitas produksi (penangkapan) terhadap kondisi sumber daya ikan seperti parameter biologi dan rente sumberdaya perikanan pada kondisi aktual, lestari, dan juga optimal, dengan menggunakan model bio-ekonomi standard logistik dan Gompertz. Skenario model yang digunakan adalah analisis bio-ekonomi model logistik Gordon Schaefer (GS) dengan estimasi parameter algoritma Fox, dan model Fox/Gompertz dengan estimasi  parameter biologi seluruhnya algoritma CYP. Analisis perikanan tangkap dilakukan dengan menggunakan skenario rezim pengelolaan open access, Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Maximum Economic Yield (MEY). Hasil penelitian menunjukan adanya overfishing dan overcapacity pada beberapa tahun pengamatan yang ditandai dengan adanya kelebihan effort baik pada Model GS maupun Gompertz. Pengelolaan dengan menggunakan rezim MEY memberikan nilai rente yang paling maksimum, dengan biomass yang lebih konservatif, dan  effort yang lebih efisien, baik pada model GS maupun model Gompertz. Implikasi kebijakan pengelolaan waduk melalui rasionalisasi jumlah alat tangkap. Model MSY mengisyaratkan rasionalisasi alat tangkap lebih sedikit dibandingkan model MEY, sementara Model Gompertz mengisyaratkan penurunan alat tangkap lebih tinggi dibandingkan model GS. Alternatif pembatasan output atau kuota output juga dapat dilakukan dengan menggunakan nilai JTB. Title: Sustainable Fisheries Management in Cirata Dam: Bio-Economic ModellingCapture fisheries in the dam is a potential that can be relied for the surrounding community subsistence. Unfortunately this activity has not received much attention management. This was evident from the very low dam fisheries contribution, to the regional economy. For the purpose of fisheries management in the dam, this study was conducted to analyze the effect of production activities, on the condition of fish resources such as biological parameters and fishery resource rents on actual conditions, sustainable, and optimally, using bio-economic model of standard logistic and Gompertz. The scenario model used is the analysis of bio-economic model of logistics Gordon Schaefer (GS) with the parameter estimation of Fox algorithm, and  Gompertz model  with algorithm CYP  for biological parameter estimation. Analysis of fisheries carried out by using a scenario of open access management regime, Maximum Sustainable Yield (MSY) and the Maximum Economic Yield (MEY). The results showed overfishing and overcapacity in several years of observation which is characterized by an excess of effort both on the GS model and Gompertz. Management using MEY regime provides the maximum possible value of rents, with biomass more conservative and more efficient effort, both on the GS model and the model of Gompertz. Policy implications reveal from the study is dam management through the rationalization of the number of fishing gear or boats. MSY model suggests rationalization of fishing gear less than the model MEY, while the Gompertz model implies a decrease in fishing gear higher than the GS model. Alternative output restrictions or quotas outputs can also be implemented by using the value of total allowable catch.
PERANAN “BANTAL SOSIAL” PADA MATA PENCAHARIAN NELAYAN SKALA KECIL DI JAWA Budi Wardono; Akhmad Fauzi
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (614.037 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3831

Abstract

Salah satu alasan yang kuat nelayan tangkap skala kecil tetap melaut meskipun mempunyai risiko tinggi karena peluang/prospek pendapatan/penerimaan yang tinggi pada satu saat. Risiko melaut tidak hanya membuat ketidakpastian tetapi juga karena risiko biaya operasional yang tinggi. Dihadapkan dengan kondisi biaya operasional yang  tinggi, nelayan menggunakan strategi yang berbeda, salah satunya melekat pada peran tengkulak. Dalam pandangan konvensional, pedagang perantara/ langgan sebagai hambatan bagi nelayan untuk menjadi kompetitif di pasar. Namun di negara berkembang seperti Indonesia, mereka memainkan peran penting sebagai "bantal sosial" dalam kehidupan nelayan skala kecil. Tujuan penelitian adalah menyelidiki tingkat kecenderungan keterikatan hubungan langgan/pedagang antara sebagai “bantal sosial” dengan nelayan di dua daerah penangkapan ikan yang menonjol di pantai utara dan pantai selatan Jawa. Analisis data dilakukan dengan metode analisis kuantitatif yaitu model analisis multinomial logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan dari pantai utara cenderung sangat kuat hubungannya dengan perantara untuk kelangsungan hidupnya dibandingkan dengan nelayan di pantai selatan. Implikasi dari temuan tersebut bahwa peran sentral langgan/perantara/tengkulak/langgan merupakan bentuk hubungan yang bersifat ekonomi dimana kedua belah pihak bisa mengambil keuntungan. Pola hubungan bukan hanya sekedar sebagai penyangga, namun lebih dari itu yaitu berfungsi sebagai “bantal” sosial (social cushion) para nelayan. Hubungan seperti ini merupakan bentuk layanan dimana para nelayan bisa mendapatkan alternatif layanan jasa “kredit” dari para perantara/langgan/tengkulak. Bentuk layanan seperti yang diperankan oleh langgan/pedagang perantara selama ini belum bisa digantikan oleh lembaga pemerintah yang resmi, dimana pola hubungan tersebut sangat dibutuhkan oleh nelayan skala kecil. Pola hubungan tersebut selain dipengaruhi oleh lokasi, juga dipengaruhi oleh status kepemilikan kapal, lama kepemilikan kapal dan jumlah ABK.Title: The Role “Social Cushion” On The Livelihood Of Small Scale Fishers In JavaOne of the strong reason for small scale fishers to keep fishing despite high risk of fishing, is the prospect of high earning at one moment in time. Risk at fishery not only  create uncertaining but also risk high cost of fishing. Faced with such a high cost, fishers use different strategies, one of which is attached to the middlemen. Convientional views middlemen as an obstacle for fishers to be competitive in the market. Yet in developing country such us Indonesia, they play crucial role as a “social cushion” in the livelihood of small scale fishers. The purpose of research is to investigate the tendency of engagement relationships middleman as "social cushion" with fishermen in the fishing areas that stand out on the north coast and the south coast of Java. Data was analyzed using quantitative analysis method multinomial logistic analysis model. Results of this study show that fishers of the northern coast tend to strongly attach to middlemen for their survival compared with those in the southern coast.  Relationships with fishermen middlemen is a service, where fishermen can get alternative services "credit" from the middleman. Services such as that played by middleman has not been able to replace them by official government agencies, where this kind of relationship is needed by small-scale fishermen. The relationship patterns in addition affected by the location, also influenced by the status of ownership of the vessel, long time ship ownership and the number of crew.  
POTENSI SUB-SEKTOR PERIKANAN UNTUK PENGEMBANGAN EKONOMI DI BAGIAN SELATAN GUNUNGKIDUL Gilang Adinugroho
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.06 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3698

Abstract

Pembangunan di bagian selatan Gunungkidul masih tertinggal dibandingkan daerah lain. Pada tahun 2014 nilai produksi perikanan laut di bagian selatan mencapai 29 milyar, menjadi potensi mengembangkan ekonomi wilayah. Penelitian ini bertujuan penelitian untuk: (1) mengidentifikasi perkembangan kegiatan perikanan laut, dan; (2) mengidentifikasi peran dan potensi sub sektor terhadap ekonomi wilayah di bagian Selatan Gunungkidul. Metode penelitian deskriptif kualitatif dan lokasi berada di 6 kecamatan di bagian selatan yaitu Panggang, Purwosari, Tepus, Saptosari, Tepus, dan Girisubo. Produksi perikanan laut di bagian selatan selama 2004-2013 mengalami peningkatan sedangkan nilai produksinya relatif fluktuatif. Komoditas utamanya adalah teri, tuna, cakalang dan pari. Terdapat 8 PPI di Gunungkidul, Sadeng mempunyai produksi tertinggi dan fasilitas paling lengkap. Kontribusi sub sektor perikanan kecamatan bagian selatan terhadap kabupaten terus menurun selama 2004-2013. Hampir semua sub sektor perikanan di bagian selatan merupakan sektor unggulan, kecuali di Purwosari. Hasil analisis menunjukkan bahwa kegiatan perikanan di Tepus merupakan unggulan dan prospektif. Sub sektor perikanan di Saptosari, Tanjungsari, Panggang dan Girisubo termasuk unggulan tapi tidak prospektif. Kegiatan perikanan di Purwosari bukan sektor unggulan dan tidak prospektif.Title: Potention Of Fishery Sub-Sebctor For Economic Development In Southern GunungkidulSouthern part of Gunung kidul still undeveloped among other regions. The economic potential in the southern part are tourism and fishery. In 2014, value of marine fishery production in the south reach 29 billion, can be potential regional economic development. Purpose of research are 1) to identify the development of marine fisheries and 2) to identify the potention of fishery sub-sector to economy region in the southern Gunung Kidul. Research methods is qualitative descriptive and locations are in Panggang, Purwosari, Tepus, Saptosari, Tepus, and Girisubo. Marine fisheries production in the south during 2004-2013 has increased but the value of production is fluctuating. Main commodities are anchovies, tuna, skipjack and rays. There are 8 fishery ports in Gunung Kidul, Sadeng has the highest production and the most complete facilities. Almost all fishery activities in the south are leading sectors in economy regional, except in Purwosari. Analysis results showed that fishing activities in Tepus is seeded and prospective. Fisheries in Saptosari,Tanjungsari, Panggang and Girisubo are seeded but not prospective. fisheries activities in Purwosari isn't seeded and not prospective. 
STRUKTUR PENDAPATAN PERIKANAN TANGKAP KELUARGA NELAYAN DAN IMPLIKASINYA: Analisis Data Panel Kelautan dan Perikanan Nasional Rikrik Rahadian; Maulana Firdaus; Andrian Ramadhan
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.562 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3832

Abstract

Kemiskinan merupakan sebuah kata yang sangat melekat dengan keluarga Nelayan, sehingga banyak usaha telah dilakukan oleh pemerintah untuk menanganinya, umumnya melalui pemberian bantuan serta pemberdayaan usaha keluarga nelayan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat kondisi struktur pendapatan perikanan keluarga Nelayan selama ini melalui analisis ketergantungan pendapatan perikanan keluarga Nelayan terhadap tingkat usaha penangkapan. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis data Panel, dengan dua variabel berupa data rata-rata pendapatan keluarga Nelayan dan rata-rata pengeluaran BBM di enam lokasi tipologi penangkapan pada penelitian PANELKANAS – Bitung, Sampang, Sambas, Sibolga, OKI dan Purwakarta – sepanjang periode 2010-2013. Hasil analisis data sepanjang periode pengamatan menunjukkan beberapa fenomena berikut ini: 1). Peningkatan usaha penangkapan berpengaruh signifikan meningkatkan Pendapatan Perikanan Keluarga sebesar 15% dari nilai usaha yang dilakukan; 2). Terjadi rata-rata pendapatan perikanan non-penangkapan yang positif di semua lokasi penelitian; dan 3). Terdapat kesenjangan nilai rata-rata pendapatan perikanan non-perikanan antar lokasi penelitian. Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka untuk membantu keluarga nelayan meningkatkan kesejahteraannya akan diperlukan kebijakan yang dapat mendorong peningkatan usaha penangkapan dan diversifikasi usaha perikanan.Title: Structure of Capture Fisheries Income Family Fisherman and Implications: Panel Data Analysis of The National Marine and Fishery Poverty is a word closely associated with fisher’s households, thus far numerous government efforts – such as grants and empowerment programs – have been conducted to tackle this problem. This paper is aimed at scrutinizing the income structure of fisher’s households by analyzing the dependency of their income to their Catching Effort. The panel data analysis conducted is based on the average Household’s Fisheries Income and its average Gasoline Expenditure data of six PANELKANAS’ Captured Fisheries locations – Bitung, Sampang, Sambas, Sibolga, OKI and Purwakarta – which were observed through out the 2010-2013 periode. The result shows several phenomena, such as: (1). Catch effort is a significant factor positively affecting the household’s fisheries income, as much as 15% of the total effort value; (2). There has been a positive average non-captured fisheries income in every location observed; and (3). There have been disparities of the average non-captured fisheries income among different locations. With such results, poverty alleviation of fisher’s households would still require both catch-effort enhancing as well as livelihood diversifying policies.
DAMPAK PEMBERLAKUAN BEA KELUAR TERHADAP KINERJA EKSPOR SEKTOR KELAUTAN DAN PERIKANAN INDONESIA Estu Sri Luhur; Tajerin Tajerin
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 11, No 2 (2016): DESEMBER (2016)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1502.792 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v11i2.3833

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara eksportir produk perikanan terbesar di dunia dengan komoditas unggulan udang, tuna, dan rumput laut. Namun, komoditas ekspor Indonesia masih didominasi oleh produk primer berupa bahan mentah sehingga nilai ekspor masih rendah. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dampak pemberlakuan bea keluar terhadap produk primer perikanan terhadap kinerja ekspor sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu cara mengatasi permasalahan tersebut. Kajian ini menggunakan data sekunder dengan mengambil Tabel I-O tahun 2008 yang kemudian disusun dalam bentuk computable general equilibrium (CGE) dengan menggunakan model Orani-G. Komoditas yang dianalisis adalah ikan TTC, ikan tangkap lainnya, patin, kerapu, rumput laut, budidaya lainnya, udang, ikan kering dan ikan olahan. Kajian ini menggunakan simulasi dengan tiga skenario pemberlakuan bea keluar, yaitu 7,5% (sim-1), 15% (sim-2), dan 22,5% (sim-3). Hasil kajian menunjukkan bahwa skenario 3, yaitu pemberlakuan tarif bea keluar 22,5% memberikan dampak terbesar terhadap kinerja makroekonomi di antaranya  peningkatan GDP 0,01% dan konsumsi rumah tangga sebesar 0,046%. Dampak terhadap kinerja sektoral: 1) output dan nilai tambah produk primer perikanan mengalami penurunan terbesar pada ikan TTC sebesar 0,68%, sedangkan output dan nilai tambah produk olahan perikanan mengalami peningkatan terbesar pada ikan olahan sebesar 0,72%; 2)  ekspor produk primer perikanan mengalami penurunan terbesar pada udang sebesar 35,81%, sedangkan ekspor produk olahan perikanan mengalami peningkatan terbesar pada ikan olahan sebesar 2,41%; 3) impor produk primer perikanan produk olahan perikanan mengalami penurunan terbesar pada udang sebesar 23,09%.Title: Impacts of Export Duties to Marine and Fisheries Sector’s Export PerformanceIndonesia has one of the largest exporters of fisheries products in the world with leading commodity shrimp, tuna and seaweed. However, Indonesia's exports are still dominated by primary products such as raw materials so that the value of exports is still low. On the other hand, the development of fishery processing industry in the country is still plagued by a lack of supply of raw materials so that to this day processing industry relies heavily on imported products. This paper aims to analyze the impact of the imposition of export duties on primary products of fisheries on the export performance of marine and fisheries sector as one way of addressing the issue. This study uses secondary data by taking the 2008 IO table is then compiled in the form of Computable General Equilibrium (CGE) models using Orani-G. Commodities are analyzed TTC fish, catch more fish, catfish, grouper, sea grass, other farming, shrimp, dried fish and fish preparations. This study uses three scenarios simulated with the imposition of export duties, ie 7.5% (sim-1), 15% (sim-2), and 22.5% (sim-3). The results show that the impact of the imposition of export duties on macroeconomic performance including 0.01% increase in GDP and household consumption amounted to 0.046%. Impact on sectoral performance: 1) output and value added fishery primary products experienced the largest decline in fish TTC 0.68%, while the output and value added processed fishery products experienced the largest increase in fish preparations of 0.72%; 2) export of primary products fishery experienced the largest decline in shrimp by 35.81%, while exports of processed fishery products experienced the largest increase in fish processed by 2.41%; 3) imports of primary products fishery processed fishery products experienced the largest decline in shrimp at 23.09%.

Page 1 of 2 | Total Record : 12