cover
Contact Name
Edwin Yulia Setyawan
Contact Email
edwin.yulia.setyawan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalsosek.kp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20888449     EISSN : 25274805     DOI : -
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)" : 8 Documents clear
ANALISIS PERMINTAAN IKAN DI INDONESIA: PENDEKATAN MODEL QUADRATIC ALMOST IDEAL DEMAND SYSTEM (QUAIDS) Fitria Virgantari; Arief Daryanto; Harianto Harianto; Sri Utami Kuntjoro
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.062 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5772

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan produk ikan penduduk Indonesia dan menduga elastisitas harga dan pendapatan beberapa kelompok ikan menurut kelompok pendapatan. Data yang digunakan adalah data SUSENAS 2008 modul konsumsi rumahtangga yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik. Metode multistage budgetting approach dengan pendekatan model QUAIDS (Quadratic Almost Ideal Demand System)digunakan dalam penelitian ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendugaan permintaan dengan model QUAIDS memberikan hasil cukup baik. Nilai dugaan koefisien sistem permintaan ikan menunjukkan bahwa semua peubah berpengaruh signifikan terhadap fungsi permintaan kelompok ikan dengan nilai koefisien determinasi sistem 67,3%. Dugaan koefisien peubah wilayah perkotaanperdesaan, peubah jumlah anggota rumah tangga, serta peubah dummy wilayah kepulauan semua bertanda positif. Nilai elastisitas pengeluaran ikan terhadap total pengeluaran pangan untuk semua kelompok pendapatan lebih besar dari dari satu (elastis) dengan kisaran 1,7 sampai 3,9; nilainya semakin kecil dengan semakin meningkatnya pendapatan. Elastisitas pengeluaran kelompok ikan terhadap total pengeluaran ikan semua juga bertanda positif dengan nilai berkisar dari 1,1 sampai 2,9. Hal ini menunjukkan bahwa keempat kelompok ikan yang dianalisis merupakan barang normal. Bila pengeluaran rumahtangga untuk seluruh ikan naik 1%, maka permintaan terhadap kelompok ikan yang dimaksud akan naik sebesar hampir 3%. Elastisitas harga kelompok ikan segar dan ikan awetan pada semua kelompok pendapatan bertanda negatif dengan nilai berkisar dari -0,4 sampai -0,8; sedangkan elastisitas harga untuk udang/hewan air lain (bukan ikan) yang diawetkan adalah -1. Tittle: Analysis of Demand for Fish in Indonesia: A Quadratic Almost Ideal Demand System (QUAIDS) Model Approarch.This study aimed at determining various factors affecting fish consumption patterns of Indonesian households, estimating income and price elasticities for different fish categories according to income groups. National Social and Economic Survey 2008 data were used in this study. and formulating policy directions to increase consumption of fish. Household consumption/expenditure data collected by Central Beaureu of Statistics in 2008 were used in this study. Multistage budgetting approach method with QUAIDS (Quadratic Almost Ideal Demand System) model was used in this study. Results of the analysis show that estimates parameters of demand for fish using QUAIDS model were a relatively good. Estimates value of fish demanf system were significantly affected on fish group demand function with determination coefficient of 67,3%. Dummy coefficient of urban-rural, family size and isloand region were a positive sign. Fish elasticity to the total food expenditure for all income group were greater than 1 ranging from 1,7 to 3,9; the magnitude of elasticity tends to smaller with the increase in income group category. Elasticity of fish group expenditure to the total fish expenditure were a positive sign ranging from 1.1 to 2.9. This indicates that all four fish group are considered a normal good. As total fish expenditure of the household increased by 1%, quantity demang for fish group increased approximately to 3%. Price elasticity of fresh and reserved fish were a negative sign ranging from -0.4 to -0.8; while price elasticity of preserved shrimp and other animal water (non fish) were -1.
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN DAN PELUANG PERBAIKAN PENGEMBANGAN KAWASAN MINAPOLITAN DI KABUPATEN GOWA Tenny Apriliani; Tikkyrino Kurniawan; Hikmah Hikmah
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.821 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5768

Abstract

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menetapkan kebijakan pengembangan kawasan minapolitan di perdesaan. Minapolitan menjadi relevan dengan wilayah pengembangan perdesaan karena pada umumnya sektor perikanan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan merupakan mata pencaharian utama dari sebagian besar masyarakat. Penerapan kebijakan ini menghadapi berbagai hambatan dan tantangan dalam pengembangannya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi serta peluang perbaikan pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Gowa. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus dan Oktober Tahun 2010. Jenis data yang digunakan berupa data primer dan sekunder. Data yang dikumpulkan diolah dan dianalisa secara deskriptif. Beberapa permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan minapolitan adalah terkait dengan aspek infrastruktur dan pemasaran. Permasalahan tersebut perlu segera ditindaklanjuti diantaranya berupa perbaikan dan pengadaan infrastruktur seperti irigasi dan jalan serta peran aktif dari pemerintah baik pusat maupun daerah untuk memberikan informasi pasar kepada pembudidaya. Tittle:Identification of Problems and Opportunities for Improving the Minapolitan Area  Development in the Regency of GowaMinistry of Marine Affairs and Fisheries (MMAF) has established a policy called Minapolitan in the rural areas development. Minapolitan is relevant to the development of rural areas because in general the fisheries sector and utilization of fishery resources is a major livelihood of most people. Implementation of this policy is facing various obstacles and challenges in its development. Therefore this study was to conducted to identify problems faced and opportunities for improvement in the development MInapolitan in Gowa region. This research was conducted in August and October 2010. Primary and secondary data were used in this study. Data collected were processed and analyzed descriptively. Several major problems faced in the development Minapolitan were related to infrastructure and marketing. The problem need to be immediately followed up in the form of maintaining and developing infrastructure, such as irrigation and roads, and encouraging active role of both central and local government to establish market information to fish farmers.
DINAMIKA USAHA, PENDAPATAN DAN POLA PENGELUARAN KONSUMSI PETAMBAK GARAM DI DESA PINGGIRPAPAS, KECAMATAN KALIANGET, KABUPATEN SUMENEP Ahmad Azizi; Manadiyanto Manadiyanto; Sonny Koeshendrajana
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.392 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5774

Abstract

Usaha garam berperan penting dalam pendapatan rumah tangga. Usaha garam tersebut mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, berakibat terhadap pendapatan dan pengeluaran rumah tangga. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik sosial ekonomi dan dinamika usaha tambak garam, tingkat pendapatan dan pengeluaran dari berbagai sumber mata pencaharian. Metode survey digunakan dalam penelitian ini. Sebanyak 32 sampel responden diambil secara acak dan dimonitor secara periodik. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik responden, tingkat pendapatan dan pola pengeluaran rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46,87% responden usaha petambak garam berpendidikan setingkat SLTP dengan kisaran pengalaman usaha 10 sampai 20 tahun. Tanggungan keluarga petambak garam berkisar antara 3- 6 orang. Kepemilikan lahan tambak garam 70,60% milik sendiri dan sisanya sebagai penggarap. Pendapatan zpetambak garam pada tahun 2007 adalah Rp. 31.900.000 dan pendapatan pada tahun 2008 mengalami kenaikan menjadi Rp. 46.700.000, sedangkan tingkat pendapatan pada tahun 2009 petambak garam mengalami penurunan sekitar Rp.5.950.000 sehingga menjadi sebesar Rp. 40.750.000. Sumber pendapatan petambak garam yang hanya mengandalkan dari usaha garam, 53,13% patambak garam yang sumber pendapatannya dari garam dan perikanan adalah 28,12%, sedangkan petambak garam yang mata pencahariannya lebih dari dua adalah hanya 12,50%. Pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga pada tahun 2008 adalah sebesar Rp.15.444.000/tahun sedangkan pada tahun 2009 mengalamikenaikan menjadi Rp. 19.624.000. Tittle: Dynamics of Business, income and expenditure patterns of Salt Farmers in Pinggirpapas Village, Kalianget of the Regency of Sumenep.Salts production business plays an important role in the household income. This type of business is continued to fluctuate from year to year. This situation affect on household’ revenue and expenditure. This research was aimed to analyse social and economic characteristics and dynamics of salt production business, level of income from various source of livelihood, and expenditure pattern of salt farmer household. A survey method was used in this study. Thirdty-two (32) respondent were randomly selected and monitored periodically. Primary and secondary data were collected. Data covered characteristic of respondents, business status, level of income and source and expenditure pattern of selected households. Results of the study illuetrated that educational level of salt farmer was mostly a junior high school (46.87%), while business experiences range from 10 to 20 years. Family size was relative large(3-6 person/household). 70.60% of respondents are owner, while the remaining ones are tenants. In 2007, salt farmer’s income was IDR 31.9 million, while in 2008 the income was increase to be IDR 46.7 million, then it was decreased by 5.95 million to become IDR 40.75 million. Salt farmer household who depended mainly on salt production business was 53.13%, while who depended on both salt business and fisheries and more than two source of income were 28.12% and 12.50%, respectively. In 2008, household expenditure of salt farmer was IDR 15.4 million, then it increased sharply to be IDR 19.6 million.
TRANSFORMASI PENGELOLAAN PERAIRAN UMUM DARATAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR Radityo Pramoda; Zahri Nasution
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (744.657 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5769

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi dan antisipasi dampak ketentuan baru Peraturan Daerah (PERDA) Ogan Komering Ilir (OKI) No. 9/2008 tentang Pengelolaan Lebak, Lebung, dan Sungai di Kabupaten Ogan Komering Ilir, yang menjadi otonomi desa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif melalui pendekatan historis kasuistik yang didukung data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi pengelolaan perairan umum daratan dengan berlakunya Perda OKI No. 9/2008 memberikan akses yang lebih besar kepada masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya ikan. Kewenangan yang dimiliki desa menjadi lebih luas dalam mengatur lebak lebung dan sungai. Kurang optimalnya implementasi Perda OKI No. 9/2008 dikarenakan aparatur dan masyarakat Desa Berkat belum siap mengadopsi perubahan nilai serta norma baru. Implikasi kebijakan penelitian ini adalah perlunya meningkatkan kompetensi aparatur desa melalui pelatihan/pendidikan; memberikan sosialisasi secara komprehensif kepada masyarakat; melakukan kontrol dan pendampingan yang konsisten, serta menciptakan komunikasi hukum yang baik dalam menerapkan peraturan baru. Tittle: Transformation Management of Inland Waters in Ogan Komering Ilir DistrictThis research aimed to review the impact of implementation and anticipate potential impacts of the new provisions of Local Regulation No. 9/2008 on Management of Lebak, Lebung, and Rivers in Ogan Ilir Komering Ilir regency, which has become an autonom of the village. Research was conducted using descriptive-exploratory method, through historical case approach, supported by primary and secondary data. Results show that transformation of the management of inland waters by the enactment of Local Regulation No. 9/2008 provides a greater access to the community to utilize fish resources. Authority of the village was wider than previous system in terms of arranging the lebak lebung and river. Under optimal level of implementation of the Local Regulation No. 9/2008 was due to the apparatus and community unreadines to adopt the values changing in and new norms. Policy implications of this research were as follows improving the competence of village apparatus through training/education; providing comprehensive socialization to the community; doing control and consistent mentoring, and creating a good communication law in applying new regulation.
ANALISIS EKONOMI USAHA RUMAH TANGGA NELAYAN PELAGIS KECIL DI KELURAHAN AEK HABIL, SIBOLGA, SUMATERA UTARA Subhechanis Saptanto; Manadiyanto Manadiyanto; Rizki Aprilian Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.766 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5775

Abstract

Kota Sibolga merupakan salah satu wilayah penghasil ikan pelagis kecil di Indonesia. Salah satu desa perikanan di wilayah Sibolga adalah Kelurahan Aek Habil. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji usaha penangkapan ikan pelagis kecil di Kelurahan Aek Habil. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari hasil wawancara dengan responden pada bulan April 2010. Data sekunder berasal dari dinas perikanan dan kelautan dan berbagai literatur yang mendukung penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survey sedangkan metode analisis yang digunakan adalah metode statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RC ratio pada saat musim puncak adalah sebesar 2,23 dan pada saat musim paceklik adalah sebesar 1,01. Pendapatan kepala keluarga pemilik, nahkoda dan ABK yang berasal dari perikanan secara harian masing-masing sebesar Rp 113.278,- ; 57.011,- dan 45.773,-. Dari sisi pola konsumsi rumah tangga pada umumnya konsumsi untuk pangan lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi non pangannya. Tittle: Analysis of Small-Pellagic Fisher’s Household  in Aek Habil, Sibolga, North Sumatera.The Regency of Sibolga is one of the center production for small-pellagic fish in Indonesia. One of the fisheries rural region in Sibolga is in the Aek Habil Village. This study aimed to analyse small pellagic fish in Aek Habil Village. Study was conducted in April 2010. Primary and secondary data were collected by interviewing respondents and secondary data were collected from many sources, such as marine affairs and fisheries local services and other relevant literatures. A survey method was used in this study. Data were analized using descriptive statistics and cross-tabulated techniques. Results show that RC -ratio in peak season was 2,23 and famine season was 1,01. Income of ship owner, crew leader and crewfrom fisheries business were IDR 113,278, IDR 57,011 and IDR 45,773, respectively. From consumption pattern, household food expenditure was greater than non-food expendeiture, indicating that their welfare status were a relatively poor.
KINERJA PRODUKTIVITAS DAN FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP TOTAL FACTOR PRODUCTIVITY (TFP )TAMBAK UDANG INDONESIA Ono Juarno; Rina Oktaviani; Akhmad Fauzi; Nunung Nuryartono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.728 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5770

Abstract

Kuantitas produksi udang tambak Indonesia meningkat signifikan dalam dua dekade terakhir, dari 97,2 ribu ton tahun 1989 menjadi 352 ribu ton tahun 2010, dengan puncaknya 409 ribu ton pada tahun 2008. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kinerja produktivitas tambak udang dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi TFP menggunakan pendekatan angka Indeks Tornqvist Theil. Hasil studi menunjukkan bahwa pertumbuhan udang tambak Indonesia periode 1989-2008 lebih karena pertumbuhan input/faktor produksi bukan karena pertumbuhan TFP. TFP berfluktuasi disebabkan belum berhasil diatasinya permasalahan penyakit. Hasil konfirmasi pada tingkat lapang menggunakan data primer dari 163 petak tambak menunjukkan bahwa serangan penyakit berpengaruh negatif dan signifikan terhadap TFP. Intensifikasi, benur bersertifkat, dan lamanya pendidikan berkorelasi positif, akan tetapi kondisi riil Indonesia berbeda yaitu mayoritas tambak dikelola secara non intensif. Studi ini juga menunjukkan bahwa luas pengusahaan dan sistem kerjasama antara pembudidaya dengan lembaga pemasaran lainnya berpengaruh negatif terhadap TFP. Terkait dengan hal itu, pemerintah perlu memprioritaskan meningkatkan produktivitas dengan mengatasi serangan penyakit melalui penambahan anggaran riset bidang penyakit, penyediaan benur bermutu, peningkatan sumber daya manusia (SDM). Selain itu, diperlukan regulasi dalam hal pengaturan pola tanam dengan penggantian species yang dapat memutus rantai penyakit. Disamping itu, direkomendasikan agar mengurangi padat penebaran. Tittle: Productivity Performance and Factors Influencing to the Total Factor Productivity (TFP) of Indonesia Shrimp Cultured.Production of Indonesian shrimp cultured has experienced a remendeous growth during the last two decades with its peak performance at 409 metric tons in the year of 2008. The objective of this research was to analyze productivity performance of Indonesian shrimp cultured using the Tornqvist Theil Index and its determinants. Results showed that source of growth was mainly due to input gowth. TFP fluctuations were mainly because of disease outbreaks. Using field data comprises a total of 163 ponds confirm that disease outbreaks plays an important role in lowering TFP. Intensification, fry certification, and education halved a positive correlation with TFP. However, the Indonesian shrimp farmers in majority cultured the shrimps using traditional system. On the other hand, cooperation between farmers and other marketing institution and total pond area show a negative effects on achieving higher TFP. Therefore, the government could improve farmed shrimp productivity through increasing research budget on diseases, improving seed quality and human resources. The government should also put a priority regulation on changing cropping system accompanied by changing shrimp species cultured so that carrier agents of diseases can be broken. Apart from these, lowering stocking density was also suggested.
ANALISIS PENDAPATAN USAHA TANGKAP NELAYAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI WILAYAH PESISIR PANTAI SULAWESI SELATAN Abdul Rahim
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.731 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5776

Abstract

Penelitian yang dilakukan di wilayah pesisir pantai Sulawesi Selatan bertujuan untuk menghitung besarnya perbedaan pendapatan usaha tangkap nelayan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan eksplanatori. Berdasarkan dimensi waktu digunakan data cross-section yang bersumber pada data primer. Responden nelayan diambil secara stratified sampling sedangkan kabupaten secara purposive sampling. Hasil penelitian menemukan bahwa pendapatan usaha tangkap nelayan perahu motor dan perahu tanpa motor di Kabupaten Jeneponto lebih besar dari nelayan Kabupaten Barru dan Sinjai. Besar-kecilnya pendapatan usaha tangkap nelayan perahu motor per trip di wilayah pesisir pantai Sulawesi Selatan dipengaruhi secara positif oleh harga minyak tanah, produktivitas, umur, dan alat tangkap rawai tetap, sedangkan secara negatif dipengaruhi oleh harga bensin, lama melaut, dan perbedaan wilayah penangkapan. Pendapatan nelayan perahu tanpa motor per trip di Sulawesi Selatan dipengaruhi secara positif oleh produktivitas jaring insang tetap dan perbedaan wilayah. Selama setahun, pendapatan nelayan perahu motor dipengaruhi secara positif oleh harga minyak tanah, dan produktivitas secara nyata positif; sedangkan secara negatif dipengaruhi oleh harga bensin, lama melaut, trip, dan perbedaan wilayah. Pendapatan nelayan perahu tanpa motor secara positif dipengaruhi oleh produktivitas, tanggungan keluarga, jaring insang tetap, dan perbedaan wilayah. Tittle: Analysis of Fisher’s Fishing Income and its Various Factors Influence in Coastal Area of South Sulawesi.Research was conducted in coastal area region of South Sulawesi which aimed to calculate the level of difference fisher’s fishing income from each region of coastal area and analysis the various factors influencing it. Research method was used descriptive and explanatory. cross-section data of the primary data. Fisher’s responder were sampled stratifiecally indicate that is fishing income of motorized boat were used and non-motorized boat in regency Jeneponto bigger than is Barru and Sinjai. Then its motorized boat fisher’s fishing income per trip in coastal area of South Sulawesi influenced positively by kerosene price, productivity, age, and set long line, while negatively influenced by gasoline price,fishing day per trip, and difference of fishing areas. Then fishing income non-motorized boat fisher’s per trip in South Sulawesi influenced positively by productivity, set gill net remain to and regional difference. Other only a annual fishing income motorized boat fisher’s influenced positively by kerosene price, and productivity positive manifestly, while negatively influenced by gasoline price, fishing day per trip, number of trip, and fishing area difference. Then fishing income non-motorized boat fisher’s  influenced positively by productivity, family responsibility, set gill net, and fishing area difference.
ANALISIS DAMPAK SUBSIDI INPUT TERHADAP EFISIENSI EKONOMI USAHA BUDIDAYA IKAN KERAPU DI KABUPATEN PESAWARAN, LAMPUNG Tajerin Tajerin; Estu Sri Luhur
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 2 (2011): DESEMBER (2011)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (994.818 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v6i2.5771

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis perkiraan dampak subsidi input terhadap efisiensi ekonomi budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung dan menentukan pilihan subsidi input yang optimal bagi keberlanjutan usaha. Penelitian dilakukan di Perairan Ringgung Kabupaten Pesawaran, Lampung pada bulan September - Desember 2010. Contoh responden dipilih secara sengaja menggunakan metoda sensus. Data yang digunakan adalah data primer dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan fungsi biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangsa faktor usaha (sebagai proksi efisiensi ekonomi) budidaya ikan kerapu memiliki respons positif yang nyata terhadap perubahan harga benih, harga pelet ikan, harga pakan rucah ikan dan harga keramba jaring apung; dan memiliki respons negatif yang nyata terhadap perubahan upah tenaga kerja. Pemberian subsidi input berdampak positif terhadap pangsa faktor usaha budidaya ikan kerapu. Di samping itu, pilihan subsidi input yang optimal untuk meningkatkanpangsa faktor usaha adalah subsidi input benih dan pakan rucah ikan masing-masing sebesar 10% disertai subsidi bahan bakar minyak sebesar 30%. Berdasarkan temuan tersebut dan demi menjaga manfaat subsidi input bagi pengembangan usaha budidaya ikan kerapu di lokasi penelitian, pemerintah perlu menetukan formulasi dan mekanisme yang tepat pemberian subsidi input untuk usaha budidaya ikan kerapu. Pada satu sisi memperhatikan pentingnya efisiensi ekonomi (pangsa faktor) sebagai salah satu indikator keberlanjutan usaha, namun di sisi lain tidak menimbulkan semakin besarnya pengangguran. Tittle: Impact Analysis of Input Subsidies to Economic Efficiency of the Grouper Fish Culture in Pesawaran, Lampung.This paper was aimed to analyze possible impact of input subsidies to economic efficiency of the grouper fish culture in floating net cage, and determine level of input subsidies for maintainning sustainability of the business. This study was conducted in the regency of Pesawaran of Lampung province in September - December 2010. Sample respondents were purposely selected using a census method. Primary data were analyzed using the cost function approach. Results showed that share factor of grouper fish culture was a significant positively response to change in seed price, price of fish pellet, trash fish prices and prices of the floating net cage, and was a significant negatively response to change in labor cost. Input subsidies were a positively impact on the share factor of grouper fish culture. In addition, the optimum level of input subsidies to increase share factor can achieved by increase 10% of seed and trash fish feed subsidies, and 30% of fuel subsidies, respectively. Based on these findings and in order to maintain potential benefits of input subsidies in the development of grouper fish culture development, government should impose appropriate formulation and mechanism input subsidies for grouper fish industry. In one side, attention should be given on economic efficiency (factor share) as one of sustainability indicators of the business, and in the other side, this policy imposed should not create unemployment problem.

Page 1 of 1 | Total Record : 8