cover
Contact Name
Zahri Nasution
Contact Email
kebijakan.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kebijakan.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20896980     EISSN : 25273280     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2015): JUNI 2015" : 8 Documents clear
ADOPSI TEKNOLOGI BUDIDAYA UDANG SECARA INTENSIF DI KOLAM TAMBAK Zahri Nasution; Bayu Vita Indah Yanti
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2015): JUNI 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.987 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i1.1070

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian terkait gambaran penerimaan teknologi yang diterapkan pada demfarm oleh pengguna dilihat dari tingkat adopsi teknologi yang diintroduksi oleh kelompok penerima program demfarm. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan analisis kebijakan. Teknologi yang dievaluasi adalah teknologi yang diperkenalkan pada demfarm budidaya udang di kolam tambak secara intensif. Verifikasi lapang ke lokasi percontohan di wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat dilakukan pada bulan Mei 2014. Analisis dan interpretasi data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petambak penerima program dapat mengadopsi sebesar 92% darikeseluruhan teknologi yang dianjurkan pada usaha budidaya udang secara intensif. Teknologi yang diterapkan pada demfarm ini belum diadopsi oleh petambak di sekitarnya, sehingga belum terjadi difusi teknologi budidaya udang vaname yang dilaksanakan melalui demfarm. Alasan utama yang dikemukakan oleh para petambak disekitar area demfarm adalah keterbatasan modal dan pembiayaan usaha untuk pelaksanaan operasional budidaya udang vaname di kolam tambak yang mereka miliki, mengingat berdasarkan hasil penghitungan untuk biaya pembukaan tambak udang yang ada di sekitar lokasi demfarm cukup mahal yaitu mencapai Rp.750 juta per hektar.Title: Adoption Rate of Tiger Prawn Cultured on Brackiswater Fish PondThis paper is an overview of the research results related to the extent of acceptance of the technology applied to demfarm by the user, in terms of the rate of adoption of technology is being introduced by the receiver group demfarm program. The study was conducted using a policy analysisapproach. Technology being evaluated is a technology that was introduced in demfarm shrimp farming in an intensive pond. Field verification to the pilot sites in Karawang regency, West Java, conducted in May 2014. Analysis and interpretation of the data was done descriptively. The results showed that farmers can adopt a program recipient of 92% of the overall technology that is recommended in intensive shrimp farming. The technology applied to this demfarm not been adopted by farmers in the vicinity, so it has not happened shrimp farming technology diffusion vaname implemented through demfarm. The main reason put forward by the farmers around the area demfarm is limited capital and business financing for the operational implementation of shrimp culture ponds vaname at their disposal, given based on the results of the calculation for the cost of the opening of shrimp ponds in the vicinity of demfarm quite expensive, reaching Rp. 750 million per hectare.
STRATEGI KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN BIBIT LOBSTER DI PERAIRAN LOMBOK Cornelia Mirwantini Witomo; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2015): JUNI 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.973 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i1.1075

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah adalah (1) untuk mengetahui kondisi umum perikanan tangkapbibit lobster mencakup ekologi sosial ekonomi; (2).mengetahui kedepan perkiraan dampak Permen KPNo 1 Tahun 2015 tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla sp) dan Rajungan(Portunus pelagicus spp) setelah diberlakukan mencakup ekologi sosial ekonomi; (3) Menyusun strategipengelolaan pemanfaatan bibit lobster yang menjunjung nilai keberlanjutan secara ekologi, ekonomi dansosial. Pendekatan penelitian ini adalah penelitian deskritif dengan cara wawancara dengan informankunci dan melakukan focus group discussion (FGD). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalahpenangkapan bibit lobster sudah menjadi mata pencaharian utama nelayan di Lombok Tengah danLombok Timur dan meningkatkan kesejahteraaan rumah tangga nelayan. Penangkapan bibit lobstersemakin berkembang karena para permintaan akan bibit lobster masih terbuka lebar dan bibit lobster yangmudah tertangkap diperairan Lombok Selatan tanpa menggunakan alat tangkap yang modern. Dampaksosial ekonomi yang ditimbulkan oleh Permen KP No 1 Tahun 2015 bagi nelayan penangkap bibit lobsteradalah menurunnya pendapatan nelayan karena tidak dapat lagi menjual hasil tangkapan dibawah 300gram dan berdampak kehidupan nelayan seperti menjual barang-barang yang dimiliki untuk memenuhikebutuhan sehari-hari, pendidikan dan kesehatan.Strategi pengelolaan perlu melakukan pendekatansosial. Pentingnya pendekatan sosial agar implikasi kebijakan publik membawa perubahan yang positifpada masyarakat. Pengelolaan keberlanjutan bibit lobster yang dapat diberlakukan untuk memperkayaPermen No 1/2015 tanpa harus merusak lingkungan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisiradalah perlu mengatur waktu menangkap, mengatur kuota yang diperbolehkan ditangkap, mengaturukuran yang boleh ditangkap yang syarat pemanfaatan tertentu berdasarkan ukuran tersebut.Title: Strategy of Sustanibility Seed Lobster Management in LombokThe purpose of this research are to find out ecological, social and economic aspect of seed lobstercapture fisheries generally; to find out ecological, social and economic impact of Ministry Rules Number1 2015 about Lobster (Panulirus spp), Mud Crap (Scylla sp) and Swiming Crap (Portunus pelagicusspp) and to formulate management stategy for uphold sustainaibility of seed lobster The approach ofthis research using destrictive method and collect the data by depth intervew with key informan andconduct focus group discussion (FGD) The result of this research is capture of seed lobster give impactto economic household and become main activity of fisherman. Demand of seed lobster stiil wide openand seed lobster easy to catch without modern gear. Social economic impact because Minitry RulesNumber 1/2015 enactment is reduced income of fisherman because no any more to sell their seedlobster below 300 gram weight and give influence in their daily life. To fulfill their needs, they have to selltheir goods. Management strategi need social approach. The importance of this approach is the publicpolicy implication give positive change in community life. Sustainibility management of seed lobster toenrich Ministry Rules number 1/2015 without environment damage and increase human life degree areneed to set time to capture, set total allowed catch based on maximun sustainabel yield, set size allowedcatch with use certain term.
Back Matter and Author Guidelines Back Matter
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2015): JUNI 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.346 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i1.1102

Abstract

PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE BERBASIS SILVOFISHERY DI KECAMATAN CIBUAYA, KABUPATEN KARAWANG Yudhi Amrial; Hefni Effendi; Ario Damar
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2015): JUNI 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (890.232 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i1.1032

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pola pengelolaan silvofishery melalui pengoptimalanskenario kelas tambak silvofishery terpilih. Analisis penelitian menggunakan analisis trade off dengantiga alternatif skenario yaitu (1) tambak silvofishery kelas II (persentase tegakan mangrove dalam tambak(61%-80%), (2) tambak silvofishery kelas III (40%-60%), dan (3) tambak silvofishery kelas IV (<40%)serta lima kriteria yaitu ekologi, bioteknik budidaya, sosial, ekonomi dan kelembagaan. Hasil analisistrade off memperlihatkan urutan skor dari tiga skenario tambak silvofishery yaitu (1) skenario kelas IIImerupakan skenario dengan skor rataan tertinggi sebesar 56,88 disusul (2) skenario kelas II denganskor rataan 45,03 dan (3) skenario kelas IV dengan skor rataan 31,51 sedangkan bobot kriteria tertinggididapatkan pada (1) kriteria ekonomi dengan bobot 0,40 (2) kriteria ekologi dengan bobot 0,23 (3) kriteriabioteknik budidaya dengan bobot 0,16 (4) kriteria kelembagaan dengan bobot 0,13 dan (5) kriteria sosialdengan bobot 0,08. Hasil perkalian skor dengan bobot didapatkan prioritas alternatif kebijakan dalampengembangan silvofishey yaitu alternatif pertama skenario kelas III dengan total nilai (66,68), alternatifkedua skenario kelas IV (40,73) dan alternatif ketiga skenario kelas II (36,99). Implikasi kebijakan yangdapat dilakukan adalah mendorong tambak silvofishery kelas IV menjadi tambak silvofishery kelasIII. Dengan demikian, penggarap tambak diwajibkan menanam kembali mangrove hingga mencapai60% mangrove dan 40% tambak. Adapun tambak silvofishery kelas II (persentase 61-80%) dapatdijadikan Pusat Percontohan Silvofishery bagi masyarakat sekitar atau wisata berbasis pendidikan bagimasyarakat umum.Title: Mangrove Ecosystem Managemet Based on Silvofisheryin Cibuaya District, KarawangThe purpose of this study is arrange silvofishery management system with optimizing the choosenpond class scenario. Analysis that use in this study is trade off analysis with three alternative, they are(1) Class I (the percentage of mangrove stands in a fishpond more than (> 80%), (2) Class II (61 – 80%),(3) Class III (40% - 60%), dan Class IV (< 40%). The result from trade off analysis showed rangking ofscore for each class based on 5 criteria, they are (1) class III scenario, in this class the highest averageof score is 56,88; (2) class II scenario, in this class average of score is 45,03; (3) class IV scenario,in this class the highest average score is 31,51. Trade off also showed rangking of weight for eachclass, the rangking are (1) weight of economy criteria is 0,40; (2) weight of ecology criteria is 0,23; (3)weight of bioengineering cultivation criteria is 0,16; (4) weight of institutional criteria is 0,13; (5) weightof social criteria is 0,08. The result from multiplication process be obtained that the first alternativescenario is Class II (with total value 66,68), the second alternative scenario iss Class IV (40,73), and thethird alternative scenario is Class II (36,99). Therefore, Perhutani should encourage tenants Silvofisheryfourth grade (Class IV) (percentage mangrove <40%) to Class III (mangrove percentage 60%. Thus,tenants are required to replant mangrove farms in fishponds that have been deforested up to 60% and40% of mangrove fishponds. The ponds class II (percentage 61-80%) can be used as the Pilot CenterSilvofishery or education tourism for society.
MEKANISME PENYALURAN BAHAN BAKAR MINYAK BERSUBSIDI PADA USAHA PERIKANAN TANGKAP SKALA KECIL Siti Hajar Suryawati; Tenny Apriliani
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2015): JUNI 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.328 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i1.1077

Abstract

Bahan Bakar Minyak (BBM) mempunyai peranan penting dalam peningkatan produktivitasusaha perikanan, khususnya perikanan tangkap. Biaya penggunaan BBM pada usaha perikananmencapai 70% dari biaya operasional melaut. Kondisi inilah yang menjadikan BBM sebagai saranaproduksi yang sangat strategis bagi nelayan. Penyediaan BBM yang memadai, baik dari sisi kuantitasmaupun harga, sangat di butuhkan agar nelayan dapat menggunakan BBM sesuai kebutuhanoperasionalnya. Kebijakan subsidi BBM pada usaha perikanan dimaksudkan untuk membantunelayan agar dapat membeli BBM sesuai kebutuhannya dengan harga lebih murah sehinggaproduktivitas dan pendapatan nelayan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji usulantingkat subsidi BBM dan perbaikan pola pendistribusiannya pada usaha perikanan tangkap. Data yangdigunakan data primer dan data sekunder, yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil analisismenunjukkan bahwa operasional pendistribusian BBM bersubsidi perlu diawasi agar lebih tepatsasaran sesuai dengan skala usaha penangkapan. Kemudian untuk menjamin tersedianya pasokanBBM bersubsidi dengan harga yang terjangkau nelayan, perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:1) mengaktifkan SPDN yang sudah dibangun namun belum beroperasi; 2) membangun SPBU minikhusus nelayan dengan armada < 5 GT ; dan 3) mengawasi penyaluran BBM bersubsidi agar lebih tepatsasaran.Title: Oil Fuel Subsidized Distribution Mechanism of Small ScaleCapture Fisheries BusinessOil Fuel has an important role in increasing the fisheries productivity, especially capture fisheries.The cost of oil fuel use in fishing effort to 70% of the operating costs. These conditions make the fuelas a means of production are highly strategic for fishers. The provision of adequate fuel both in terms ofquantity and price is in need to encourage fishers to use fuel as needed operations. Policy on fisheriessubsidies are intended to help fishers to be able to buy fuel according to their needs at a cheaperprice so that productivity and fishers incomeincreased. This study aims to assess the proposed level ofsubsidies and improvements in the distribution pattern. The data used primary data and secondary dataand analyzed by using descriptive method. The analysis showed that the distribution of subsidized fueloperations need to be monitored in order to better targeted according to the scale of fishing effort. Then,to ensure the availability of subsidized fuel supply at affordable prices, it needs to : 1) Enable SPDN thatalready built but yet in operation; 2) make the construction of a mini gas station that specializes in servingthe fishing fleet <5 GT; and 3) supervise of distribution of subsidied fuel for the right target.
EVALUASI AWIK-AWIK PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN PANTAI LOMBOK TIMUR Nisa Ayunda; Zuzy Anna
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2015): JUNI 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.844 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i1.1014

Abstract

Sumber daya perikanan sebagai sumber daya alam yang memiliki sifat common-pool resources(CPR), yakni suatu pihak sangat sulit mencegah pihak lain untuk tidak masuk ke suatu wilayah perairan(low exclusion) dan adanya persaingan yang tinggi dalam memanfaatkan sumber daya alam yang sama(high substractability), sehingga pemanfaatannya cenderung secara open access yang mengakibatkanpenurunan produksi. Beberapa model pengelolaan dikembangkan untuk mengatur kegiatan pemanfaatansumber daya perikanan sehingga berkelanjutan baik secara ekonomi dan ekologi, salah satunya melaluipenguatan kelembagaan lokal seperti awik-awik di Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini bertujuanuntuk mengevaluasi awik-awik pengelolaan sumber daya perikanan pantai di Lombok Timur. Evaluasipada penelitian ini dilakukan melalui analisis aktor, dan analisis peraturan yang disepakati. Hasil analisismenunjukkan bahwa awik-awik pengelolaan sumber daya perikanan pantai di Lombok Timur belumberjalan dengan efektif, yang ditandai dengan pemahaman kondisi sumber daya perikanan dan awikawikmasih kurang, dan peran serta dalam melaksanakan tugas dan kewenangan dari aktor yang terlibatdalam awik-awik; dan peraturan yang disepakati dalam awik-awik masih lemah dalam mengelola sumberdaya perikanan.Title: Evaluation of Awik-Awik Fishery Management ResourcesEast Coast LombokFisheries as a common-pool resources (CPR) has characteristic low exclusion (a party difficult toban others to enter a fishing ground) and high substractability (If a fisherman catch one ton of fish, so thisfish is not available for another fisherman). So, fisheries used is under open access threat, and its impactin decline fish production every year. Many management are developed to govern the fisheries used, soit could be bring benefit ecologically and economically, such as developing the local institution to managethe coastal area, for example awik-awik in East Lombok. The purpose of this research is to evaluateawik-awik in managing coastal resources in East Lombok. This research analyzed actors and rule in usein awik-awik. The result showed awik-awik was still not efficient to manage the coastal resources in EastLombok. The understanding of coastal resources and awik-awik from the actors were still low; supportfrom the actors were lower year by year; and rule in used in awik-awik were still weak in managing thecoastal resources in East Lombok.
KEBERLANJUTAN “KEJUNG SAMUDRA” DALAM PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA MANGROVE DI PANCER CENGKRONG DAN DAMAS, PANTAI PRIGI, TRENGGALEK Edi Susilo; Pudji Purwanti; Reski Agung Lestariadi
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2015): JUNI 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2091.475 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i1.1034

Abstract

Pada awalnya di Teluk Prigi terdapat enam lokasi hutan mangrove, yaitu di Karanggongso,Pancer Ledong, Ngemplak, Pancer Cengkrong, Pancer Bang dan Ngrumpukan. Saat ini tinggal ada tigalokasi saja, yaitu tiga terakhir yang disebutkan. Cofish Project telah meletakkan pondasi pengelolaansumberdaya perikanan di Teluk Prigi. Tujuan riset adalah (1) mendeskripsikan Kelembagaan KejungSamudra dalam melakukan pengelolaan dan pemfaatan sumberdaya mangrove, (2) mengidentifikasikelembagaan lain yang memberikan ancaman atau dukungan terhadap eksistensi Kejung Samudra.Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan sampel dipilih secara purposive, melakukanpengamatan lapang dan menggunakan Focus Group Discussion. Kesimpulan riset adalah sebagaiberikut: (1) dari analisis kelembagaan berdasarkan TURF, masalah internal Kejung Samudra adalahbelum adanya kejelasan tentang distribusi pendapatan. (2) Karena Pancer Cengkrong menjadi lokasiwisata maka menjadi “perebutan” beberapa kelembagaan yang ingin memperoleh distribusi pendapatan.(3) Kelembagaan LMDH Argo Lestari dan Perhutani mempunyai peluang untuk memperkuat ataumemperlemah eksistensi Kejung Samudra.Title: Sustainability “Kejung Samudra” in Management and Resource Usein Pancer Cengkrong Mangrove and Damas, Prigi Coast, TrenggalekAt first there were six mangrove forest locations in the Prigi Bay, namely in Karanggongso,Pancer Ledong, Ngemplak, Pancer Cengkrong, Pancer Bang and Ngrumpukan. Currently living thereare three locations, the last three mentioned. Cofish Project has laid the foundation of the fisheriesresources management in that place. The purpose of the research is to (1) describe the institutional ofKejung Samudra to management and utilization of mangrove resources, (2) identify other institutionalgiving threats or support for the existence of the Kejung Samudra. The research method used wasqualitative with the sample were selected purposively, conducting field observations and using focusgroup discussion. The conclusions of research are: (1) from the institutional analysis based on TURF,internal problems Kejung Samudra is the lack of clarity about the distribution of income. (2) BecausePancer Cengkrong become a tourist sites then become a “scramble” some institutions who wish toobtain the distribution of income. (3) LMDH Argo Lestari and Forestry department have the opportunityto strengthen or weaken the existence of the Kejung Samudra.
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN KOMODITAS RUMPUT LAUT E. COTONII UNTUK PENINGKATAN NILAI TAMBAH DI SENTRA KAWASAN INDUSTRIALISASI Hikmah Hikmah
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 5, No 1 (2015): JUNI 2015
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.641 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v5i1.1013

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji tentang potensi dan peluang, p ermasalahan sertapengembagan industri rumput laut. Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan budidayayang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, menyerap tenaga kerja dan meningkatkandevisa negara. Potensi sebaran rumput laut di Indonesia sangat luas baik yang tumbuh secara alamimaupun yang dibudidayakan di laut. Peluang menuju pengembagan Industri rumput laut masih terbuka dilihat dari potensi lahan budidaya, ketersediaan bahan baku, maupun dari sisi permintaan produk olahan.Permasalahan dan tantangan terkait kemampuan Indonesia dalam mengekspor dan bersaing dalamperebutan pangsa pasar dunia untuk pemenuhan kebutuhan rumput laut dunia antara lain rendahnyakualitas dan kontinuitas bahan baku, permodalan, lemahnya sumberdaya manusia dan kelembagaan,serta permasalahan pemasaran produk rumput laut. Strategi kebijakan pengembangan industripengolahan rumput laut E. cotonii untuk peningkatan nilai tambah adalah peningkatan produktivitas dankualitas rumput laut, pengembangan industri pengolahan rumput laut setengah jadi (ATC,SRC dan RC)secara bertahap di sentra kawasan produksi rumput laut, dan pengembangan skala usaha pengolahanrumput laut siap konsumsi dari skala tradisoinal menjadi skala industri.Title: Strategy of Commudity Precessing Industry DepelopmentE. cottonii Seaweed to Increasing Value Added in The AreaCenter of IndustrializationThis paper aims to assess the potential and opportunities, problems and developing a seaweedindustry. Seaweed is one aquaculture commodity that is able to improve the economy, provide employmentand increase foreign exchange. Potential distribution of seaweed in Indonesia is very wide both naturallygrown and cultivated in the sea. Opportunities towards developing a seaweed industry is still open inview of the potential for the cultivation of land, availability of raw materials and processed productsfrom the demand side. Problems and challenges related to Indonesia’s ability to export and compete inthe race for market share to meet the needs of the world’s seaweed were low quality and continuity ofraw materials, capital, human resources and institutional weaknesses, as well as marketing problemsseaweed products. Strategy of commudities E. cotonii seaweed processing industry to developmentincrease the added value is increased productivity and quality of seaweed, seaweed processing industrydevelopment of semi-finished (ATC, SRC and RC) gradually in the central area of seaweed production,and the development of business scale processing of seaweed ready for consumption on the scaletradisoinal be scale industries.

Page 1 of 1 | Total Record : 8