cover
Contact Name
Zahri Nasution
Contact Email
kebijakan.sosek@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kebijakan.sosek@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 20896980     EISSN : 25273280     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan menyebarluaskan hasil karya tulis ilmiah di bidang Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Artikel-artikel yang dimuat diharapkan dapat memberikan masukan bagi para pelaku usaha dan pengambil kebijakan di sektor kelautan dan perikanan terutama dari sisi sosial ekonomi
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016" : 7 Documents clear
STATUS KEBERLANJUTAN INTRODUKSI TEKNOLOGI KELAUTAN DAN PERIKANAN DI KABUPATEN INDRAMAYU Tikkyrino Kurniawan; Mei Dwi Erlina
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2331.148 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i1.2609

Abstract

Banyak teknologi yang telah diintroduksikan oleh KIMBis Indramayu dari tahun 2011 hingga 2014. Tapi tidak semua teknologi tersebut diadaptasikan oleh stakeholder. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat seberapa banyak teknologi yang telah diaplikasikan oleh stakeholder dan apa saja kendala-kendalanya. Kegiatan ini dilaksanakan mulai bulan Januari – Desember 2015. Lokasi PEK SIS TAL Indramayu di Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan FGD, observasi, pengamtatan di lapangan dan wawancara dengan menggunakan kuesioner terstruktur, studi literatur dan dokumentasi yang terkait. Metode analisa PEK SIS TAL selain menggunakan analisis deskriptif, juga menggunakan analisis kuantitatif. Kesimpulan penelitian ini adalah Hasil FGD menunjukkan bahwa secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa, teknologi yang diintroduksikan sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sederhana sehingga seharusnya sudah diterapkan oleh stakeholder dimasyarakat. Teknologi yang paling banyak diadopsi adalah pada sektor budidaya (37%), tambak garam (25%) dan nelayan (25%). Teknologi yang berhasil diintroduksikan adalah teknologi budidaya terutama pada budidaya air payau. Implikasi kebijakan yang dapat disarankan adalah harus dibuat persyarakat standar SDM yang dapat menerima teknologi atau melakukan pengkategorian penerima teknologi (adopter), sehingga penerapan teknologi dapat diterapkan secara maksimal. Selain standar kemampuan, pemilihan penerima teknologi juga harus melihat kemauan dan pengalaman usaha. Hal ini harus diseleksi dengan baik agar teknologi dapat diadopsi dan diterapkan oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraanya serta yang telah mendapatan introduksi teknologi dapat menjadi Trainer of Trainer (TOT) sehingga teknologi yang telah diintroduksikan dapat disebar luaskan oleh mereka. Title: The Effectiveness on Introductions on Marine And Fisheries Technology on Indramayu’s Fisheries Science and Business Clinical (KIMBis) LocationMarine technology and fisheries have been introduced by KIMBis Indramayu from 2011 to 2014. While not all of these technologies adopted by the Community users. The aims of this study are (1) to analyze the sustainability of marine and fisheries technology that were introduced in Indramayu District and (2) to analyze the effectiveness of marine and fisheries technology in Indramayu District. This study was conducted from January to Desember 2015 in Indramayu District, West Java Province. The data were collected by FGD, field observations and interviews using a structured questionnaire, literature, and related documentations. The analytical methods are using both descriptive and quantitative methods. The fisheries business activities have utilized and implemented technology such as aquaculture (37%), salt farming (25%), and capture fisheries (25%), while the least using technology are fisheries product processing activity (13%). Most of them have already adopted by the community, even more there are technologies that have undergone diffusion the marine and fisheries technology in Indramayu are effective. 
ANALISIS USAHA PAKAN IKAN MANDIRI (KASUS PABRIK PAKAN IKAN MANDIRI DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL) Budi Wardono; Adhita Sri Prabakusuma
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1539.928 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i1.1610

Abstract

Kebutuhan pakan ikan semakin tinggi dan sebagian besar kebutuhan pakan ikan dipenuhi oleh pabrik pakan ikan komersial.  Salah satu sebab mahalnya harga pakan ikan komersial adalah karena sebagian besar bahan baku tepung ikan diimpor. Pemerintah mempunyai tekad  untuk dapat mandiri pakan ikan dengan membuat kebijakan mengaktifkan pabrik pakan ikan mandiri. Sebagian pabrik baru dengan kapasitas yang masih relatif rendah dan belum dikelola secara profesional. Untuk dapat bersaing dengan pabrik pakan komersial tentunya masih banyak permasalahan yang dihadapi oleh pabrik pakan mandiri. Salah satunya adalah mengenai skala keekonomian pabrik pakan ikan mandiri. Tujuan penelitian untuk melakukan analisis skala usaha pakan ikan mandiri yang dilakukan oleh masyarakat. Penelitian ini dilakukan pada pabrik pakan mandiri di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian dilakukan dengan cara studi kasus pada pabrik pakan ikan mandiri di Gunungkidul dari tahun 2012 sampai 2014. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan: pengenalan teknologi pakan (2011), bantuan mesin dari pemerintah (2011-2014), pengembangan kelembagaan dan usaha pakan, peningkatan skala ekonomi pabrik pakan (2012 – sekarang). Hasil yang diperoleh pengembangan pabrik pakan ikan mandiri harus dapat memenuhi setidaknya dua aspek yaitu penguasaan teknologi (aspek teknokrat) dan kedua adalah penguasaan aspek sosial ekonomi budaya (penerimaan masyarakat, skala usaha dan  manajemen usaha). Pengembangan kearah scaling up didasarkan pada kebutuhan pasar lokal pakan ikan dan penguasaan jaringan bahan baku dan pemasaran produk. Pada periode awal pengembangan pabrik pakan mandiri, ketersediaan bahan baku secara kontinyu menjadi titik kritis keberhasilan pengembangan pabrik pakan.Title: Analysis of Independently Fish Feed Business in The District GunungkidulFish feed needs mostly from commercial feed mills, so feed the fish tend to rise in price. The government’s efforts to reduce dependence on the commercial fish feed business policy of community based fish feed (pabrik pakan ikan mandiri). Most community-based fish feed factory capacity is still relatively low, yet continuous and managed simply. Problems faced by independent feed mills are about economies of scale. The research objective analysis of business scale community-based fish feed (pabrik pakan ikan mandiri). Research has been carried out at the feed mill “Ngudi Results” Gunung Kidul District, and is focused on a case study in 2012 to 2014. The study was conducted with several stages: the introduction of feed technology (2011), the machinery of government assistance (2011-2014), institutional development and business feed, improved economies of scale feed mill (2012 - present). The results obtained fish feed plant development must meet at least two aspects: the mastery of technology (aspect technocrats) and the mastery of social economic and culture aspects (public acceptance, financial, business scale and business management). Development towards scaling up based on local market needs and control networks fish feed raw materials and product marketing. In early period of the development aspects of the feed mill productivity and continuity becomes a critical point of feed mill successful development.  
KAJIAN KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN BUDIDAYA IKAN BANDENG DI GRESIK Irwan Mulyawan; Achmad Zamroni; Fatriyandi Nur Priyatna
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.71 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i1.2607

Abstract

Perikanan budidaya bandeng telah lama menjadi bagian dari usaha masyarakat pesisir. Permasalahan pengelolaan budidaya bandeng semakin hari menjadi semakin kompleks. Sedikitnya ada lima aspek yang terlibat: ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan. Oleh karena itu, kajian singkat (rapid) terhadap pengelolaan perikanan budidaya bandeng dilakukan untuk melihat keterkaitan lima aspek tersebut. Dengan penggunakan analisis Rapid Appraisal Of Fisheries (Rapfish) diuraikan tingkat keberlanjutan pengelolaan perikanan budidaya bandeng berdasarkan dimensi (aspek) dan atribut (variable) yang dikembangkan. Dihasilkan bahwa keberlanjutan pengelolaan perikanan budidaya bandeng berada pada kondisi cukup (cenderung buruk) sehingga perlu re-orientasi pengelolaan. Perlu melakukan penyeimbangan aspek ekologi dan ekonomi, dengan mengurangi tekanan pada ekosistem mangrove dan memperbanyak tujuan pasar / orientasi pemasaran produk bandeng.Title: Study On Sustainable Management Of Milkfish Fish Farming In GresikMilkfish aquaculture has been part of the efforts of coastal communities for a long time. Milkfish aquaculture management issues become more complex. There are at least five aspects involved: ecological, economic, social, technological and institutional. Therefore, a brief assessment (rapid) for the management of aquaculture of milkfish is done to see how the five aspects. By using an analysis Rapid Appraisal Of Fisheries (Rapfish) described the level of sustainability of aquaculture of milkfish by dimensions (aspects) and attributes (variables) were developed. Produced that the sustainability of aquaculture of milkfish in condition enough (likely worse) that need re-orientation of management. Need to do a balancing ecological and economic aspects, by reducing the pressure on the mangrove ecosystem and increase market destination / product marketing orientation for milkfish.
PERSEPSI NELAYAN TERHADAP UJICOBA PENGGUNAAN ELECTRONIC LOGBOOK PERIKANAN DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA BUNGUS, KOTA PADANG, PROVINSI SUMATERA BARAT Tenny Apriliani; Hadhi Nugroho
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (685.325 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i1.2608

Abstract

Logbook penangkapan ikan merupakan salah satu instrument yang digunakan oleh pemerintah dalam rangka penguatan pengawasan pemanfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan. Pengunaan logbook secara manual yang digunakan selama ini masih banyak mengalami kendala teknis. Permasalahan tersebut kemudian diharapkan dapat teratasi melalui pengembangan logbook penangkapan ikan berbasis elektronik (e-logbook) yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian dan Perekayaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP) sejak tahun 2011. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui persepsi nelayan terhadap ujicoba penggunaan e-logbook di PPS Bungus. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober Tahun 2014 di PPS Bungus. Data yang dikumpulkan berupa data primer yang diperoleh melalui wawancara dengan bantuan kuisioner dan data sekunder yang berupa laporan dari institusi terkait. Data kemudian dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum nelayan / nakhoda di PPS Bungus setuju apabila ke depan melakukan pengisian data tangkapan ikan menggunakan elektronik log book. Namun, perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan kepada nakhoda secara intensif. Alat elektronik log book juga harus mudah digunakan dan memiliki fitur sederhana dan mudah dipahami nelayan/nakhoda. Peningkatan kepatuhan nelayan dalam menggunakan elektronik log book dapat dilakukan melalui penambahan fitur yang memuat informasi bermanfaat bagi nelayan, seperti informasi daerah penangkapan ikan, informasi cuaca, serta informasi harga ikan. Peran petugas pelabuhan dalam rencana pengembangan dan penerapan elektronik log book menjadi sangat penting karena petugas pelabuhan merupakan pelaksana teknis yang akan berhadapan langsung dengan nelayan sehingga kegiatan sosialisasi dan pelatihan elektronik log book juga perlu diberikan tidak hanyan kepada nelayan tetapi juga petugas pelabuhan.Title: Perception of Fishermen to Trials of Fishery Electronic Logbook at Bungus Fishing Port, Padang City, West Sumatra ProvinceLogbook fishing is one the instrument which is tested by the government in order to strengthen the supervision of the utilization of marine resources and fisheries. The use of manual logbook used today are many experienced technical problems. The problems are then expected to be resolved through the development of fishing-based electronic logbook (e-logbook) by the Center for Technology Assessment and Enginering of Maritime Affairs and Fisheries (P3TKP) since 2011. This paper aims to determine the perception of fishermen toward the use of e-logbook in PPS Bungus. The study was conducted in October 2014 in PPS Bungus. Data collected in the form of primary data obtained through interviews with the help of questionnaires and secondary data such as reports from relevant institutions. Data were analyzed by descriptive statistics. The results showed that in general the fishermen / skippers in PPS Bungus agree to using the electronic log book for the next charging of fish catch data. However, it needs to be disseminated and intensive training to master. Electronic appliance log book must also be easy to use and have simple features and understandable by fisherman / skipper. Increased compliance of fishermen in the use of electronic log book could be done through the addition of features that includes useful information for fishermen, such as fishing area information, weather information, and fish price. Port officers role in the plan of development and implementation of electronic log book becomes very important because in the implementation they will be dealing directly with fishermen, so socialization and training activities electronic log book should be given not only to the fishermen but also officers.
ANALISIS PREFERENSI KONSUMSI IKAN MENGHADAPI NATAL 2015 DAN TAHUN BARU 2016 Siti Hajar Suryawati; Subhechanis Saptanto; Hertria Maharani Putri
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.269 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i1.1614

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji preferensi konsumen terhadap ikan menjelang hari natal dan tahun baru. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pelaksanaannya dengan teknik survey. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) yaitu di Kota Medan dan Kota Manado berdasarkan dominasi penduduk kristiani dan dominasi produksi perikanan serta aksesibilitas menuju lokasi. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Pilihan konsumsi ikan dalam bentuk segar mengalami pergeseran menjadi bentuk olahan seiring dengan meningkatnya pendidikan konsumen. Preferensi masyarakat terhadap ikan secara umum menunjukkan pola preferensi yang homogen.Title: Analysis Of Fish Consumption Preference to Face Christmas 2015 and The New Year 2016This study aims to assess the fish consumer preferences towards the Christmas and New Year days. The method in this research use descriptive method and its implementation by survey techniques. Locations were selected intentionally (purposive) that is in the city of Medan and Manado based on dominance of the Christians population, fish production and accessibility to the location. The data used are primary data and secondary data. Preference of fish consumption was shifted from fresh to processed along with increasing of the consumer education. Public preference to fish demand generally show the homogeneous preference pattern.
ANALISIS KEBIJAKAN UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA BERKELANJUTAN DI KAWASAN PERAIRAN LABUAN CERMIN – KABUPATEN BERAU, KALIMANTAN TIMUR Erwiantono Erwiantono; Heru Susilo; Anugrah Aditya; Qoriah Saleha; Anisa Budiayu
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.39 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i1.1611

Abstract

Kawasan perairan Labuan Cermin adalah salah satu tujuan wisata unik di  Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang terletak di daerah pesisir dan memiliki pemandangan yang indah.  Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengidentifikasi kesesuaian lahan dan menentukan daya dukung kawasan Labuan Cermin untuk mengembangkan model ekowisata berkelanjutan; 2) menganalisis nilai manfaat ekonomi dari kegiatan ekowisata dan 3) menetapkan prioritas strategi dalam mengelola ekowisata berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai Mei, 2016. Pengumpulan data menggunakan metode survei dan 60 wisatawan diwawancarai dengan menggunakan metode accidental sampling. Metode analisis data terdiri dari matriks kesesuaian lahan, analisis daya dukung, analisis nilai ekonomi pariwisata dengan menggunakan metode biaya perjalanan dan penetapan prioritas strategi pengelolaan ekowisata berkelanjutan menggunakan SWOT dan QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Labuan Cermin sesuai/cocok untuk kegiatan ekowisata di mana indeks kesesuaiannya adalah 78%. Penelitian ini juga menemukan bahwa jumlah ideal turis yang diperbolehkan beraktivitas sebanyak 46 orang / hari. Rata-rata jumlah wisatawan yang berkunjung adalah sebanyak 12.000 orang turis / tahun, jumlah ini tidak melebihi dari daya dukung diizinkan yaitu sebanyak  16.576.000 orang turis / tahun. Selanjutnya, nilai manfaat ekonomi ekowisata dari kawasan Labuan Cermin berdasarkan metode biaya perjalanan adalah sebesar Rp 1.656.780.274,11 / tahun. Prioritas strategi pertama dalam mengembangkan ekowisata berkelanjutan di perairan Labuan Cermin adalah merevitalisasi peran lembaga lokal (Lekmalamin) dengan meningkatkan kapasitas teknis, manajerial dan sosial ekonominya.Title: Policy Analysis Of Sustainable Ecotourism DevelopmentIn Labuan Cermin Waters - Berau Regency, East KalimantanLabuan Cermin waters is one of unique tourist destinations in Berau, East Kalimantan, that is located in coastal area and has a beautiful landscape. The research objectives were: 1) identifying the land suitability and determining the carrying capacity of Labuan Cermin for sustainable ecotourism modelling; 2) analysing the ecotourism value and 3) establishing priority strategies for managing sustainable ecotourism. This research was conducted from January to May – 2015. Data collection applied survey method and 60 tourists were interviewed using accidental sampling method. Data analysis methods consisted of land suitability matrix, carrying capacity analysis, tourism economic value analysis using travel cost method and priority strategies of sustainable ecotourism management using SWOT and QSPM methods. The results showed that Labuan Cermin was suitable for ecotourism in which the index of suitability was 78%. This study also determined the number of allowed tourist were 46/day. The average number of tourists were 12.000 tourists/year, while not exceeding from allowed carrying capacity were 16.576.000 tourists/year. Furthermore, the ecotourism economic benefit value of Labuan Cermin based on travel cost method were IDR 1.656.780.274,11/year. The first priority strategy in developing sustainable ecotourism in Labuan Cermin waters was to revitalize the role of local institution (Lekmalamin) by improving its technical and socioecomic  capacity.  
DAMPAK KENAIKAN BAHAN BAKAR MINYAK PADA PERIKANAN BUDIDAYA TAMBAK SEMI INTENSIF DAN INTENSIF: STUDI KASUS DI KABUPATEN KARAWANG, JAWA BARAT Andrian Ramadhan; Siti Hajar Suryawati
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 6, No 1 (2016): JUNI 2016
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.458 KB) | DOI: 10.15578/jksekp.v6i1.2703

Abstract

Analisis kenaikan harga BBM khususnya solar sebesar 23% memberi dampak yang berarti bagi usaha perikanan budidaya berskala intensif dan semi-intensif. Kenaikan harga BBM akan berimplikasi terhadap biaya produksi secara langsung. Penelitian ini ditujukan untuk melihat keragaan usaha budidaya sebagai akibat dari kenaikan harga BBM. Lokasi Karawang dipilih karena merupakan salah satu kabupaten yang memiliki banyak aktivitas budidaya di tambak. Metode penelitian menggunakan metode studi kasus dan analisis dilakukan dengan menggunakan analisis usaha.Hasil penelitian menunjukkan terjadinya kenaikan biaya operasional akibat kenaikan BBM. Kenaikan terbesar terjadi untuk penggunaan energi yang naik sebesar 40% karena sumber energi utama berasal dari generator yang menggunakan BBM didalam operasionalisasinya. Secara keseluruhan biaya naik sebesar 15,95% untuk budidaya semi-intensif dan naik sebesar 16,40% untuk budidaya intensif. Pada sisi penerimaan juga mengalami peningkatan yang signifikan khususnya pada budidaya intensif yaitu 14.61%. Hal ini dikarenakan komoditas udang yang diusahakan dalam budidaya intensif mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Sementara penerimaan pada budidaya semi intensif mengalami kenaikan tipis sebesar 1.7%. Kebijakan yang perlu dilakukan oleh pemerintah terkait dengan hal ini adalah penyediaan kebutuhan listrik yang memadai untuk mengurangi penggunaan BBM pada budidaya secara intensif. Hal ini diyakini dapat menekan biaya operasional sampai dengan 22%. Selain itu penyediaan pakan yang terjangkau perlu didukung oleh kebijakan terkait baik melalui pengembangan pakan alternatif mupun subsidi pakan yang sudah ada. AbstractThe increasing of fuel prices especially diesel by 23% has given a great impact in aquaculture business both for intensive and semi-intensive scale. It will imply directly on the production cost. This study aimed to look at the business performance change as a result of the fuel prices change. Study has been conducted in Karawang due to the number of aquaculture active on this district. The case study method was performed on this research. Financial analysis is used in order to explain the impact of fuel price to the aquaculture business. The result show the increasing of operating costs due to the fuel change. The largest increasing occurred in energy cost that rose by 40%. It was happened because of the use of generator for electricity supply that need fuel in its operation. Overall costs increased by 15.95% for semi-intensive and 16.40% for intensive scale. On the revenue side is also increased by 14.61% in intensive scale and 1,7% in semi-intensive scale. Intensive scale gain a high revenue because of the high shrimp price increasing in the same time. One of the policy needed to responds this issue is reducing the use of fuel in aquaculture by providing adequate electricity supply that estimate could reduce operating costs up to 22%. Other policy could be taken is providing a low price of fish feed. It could be reach by developing alternative fish feed and giving subsidiy for existing commercial fish feed.

Page 1 of 1 | Total Record : 7