cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Zuriat
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2006)" : 7 Documents clear
Perbaikan Daya Hasil Varietas Lokal Cabai Melalui Persilangan Antar-Varietas Rinda Kirana
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6741

Abstract

Lima belas genotip hasil persilangan antar-varietas cabai telah dievaluasi di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA), Lembang pada bulan Mei−Desember 2006 untuk melihat penampilan fenotipik karakter hasil dan beberapa karakter lainnya. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 22 perlakuan dan dua ulangan. Sebagai kontrol digunakan enam tetua dan Tanjung-2. Berdasarkan hasil uji LSI, beberapa genotip hasil persilangan memperlihatkan penampilan karakter melebihi salah satu dan atau kedua tetuanya. Terdapat empat genotip hasil persilangan yang memiliki daya hasil melebihi kedua tetuanya, bahkan satu diantaranya yaitu G5 memiliki karakter ideal/harapan seperti berumur genjah, tinggi tanaman sedang, tipe kompak, bobot buah per tanaman dan hasil per plot melebihi kontrol. Selanjutnya genotip ini dapat ditelaah lebih lanjut untuk dipertimbangkan menjadi genotip harapan.
Pewarisan Karakter Ketahanan Terhadap Antraknos (Colletotrichum gloeosporoides) Pada Hasil Persilangan Tanaman Cabai Ungu x Cabai Merah Genotip RS07 Dewi Yustisiani; Winny Dewi W.; Meddy Rachmadi; Dedi Ruswandi; Neni Rostini; R. Setiamihardja
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6746

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pewarisan ketahanan terhadap penyakit antraknos pada cabai merah. Percobaan lapangan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari, Sumedang dan percobaan laboratorium dilakukan di Laboratorium Ilmu Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor sejak bulan Januari sampai bulan April 2004. Bahan penelitian di lapangan terdiri atas populasi P1 (cabai ungu), P2 (cabai merah RS07), F1 (cabai ungu × cabai merah RS07), BC11, BC12, dan F2. Hasil percobaan lapangan, menunjukkan bahwa pewarisan karakter ketahanan cabai hasil persilangan cabai ungu × cabai merah RS07 terhadap antraknos dikendalikan oleh gen sederhana dengan rasio 13:3 (epistasis, dominan, dan resesif). Nilai duga heritabilitas dalam arti sempit tergolong sedang dan dalam arti luas tergolong tinggi, dengan nilai harapan kemajuan genetik yang tergolong cukup tinggi. Hasil percobaan laboratorium, menunjukkan bahwa pewarisan karakter ketahanan tanaman cabai hasil persilangan cabai ungu × cabai merah RS07 terhadap antraknos dikendalikan oleh gen sederhana dengan rasio 13:3 (epistasis, dominan, dan resesif). Nilai duga heritabilitas dalam arti sempit maupun arti luas, dengan nilai harapan kemajuan genetik yang tergolong tinggi.
Heritabilitas, Kemampuan Genetik dan Korelasi Karakter Daun dengan Buah Muda, Pada 21 Genotip Nenas Neni Rostini; Ema Yuliani; Nani Hermiati
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6732

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemajuan genetik, heritabilitas dan korelasi karakter daun dengan buah muda pada 21 genotip nenas di desa Tambakan Subang. Percobaan telah dilakukan dari bulan Mei 2005 sampai bulan Juli 2005 di desa Tambakan kecamatan Jalancagak Kabupaten Subang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yang disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dengan 21 genotip nenas sebagai perlakuan dan dua ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria nilai kemajuan genetik yang tinggi terdapat pada panjang daun ke-2, panjang daun ke-3, dan lebar kanopi. Kriteria nilai duga heritabilitas yang tinggi ditunjukkan oleh panjang daun ke-3, lebar kanopi, dan panjang buah. Lebar daun ke-2, lebar daun ke-3, dan diameter mahkota berkorelasi positif secara genotipik dan fenotipik dengan diameter buah dan panjang buah.
Perubahan Kandungan Sukrosa dan Aktivitas Invertase pada Batang Tebu Selama Pemanenan Tri Agus Siswoyo; Ika Oktavianawati; Bambang Sugiharto; Untung Murdiyanto
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6739

Abstract

Invertase (_-D-fructofuranosidase, E.C. 3.2.1.26) merupakan enzim kunci dalam metabolisme sukrosa pada tanaman tebu serta berkolerasi tinggi terhadap kandungan sukrosa dan gula reduksi selama masa pertumbuhan. Pada tanaman tebu terdapat 2 jenis invertase yaitu Acid Invertase (AI) dan Neutral Invertase (NI) yang mempunyai fungsi berlainan dalam pengakumulasion sukrosa. Penelitian ini bertujuan mempelajari peranan AI dan NI setelah pemanenan serta hubungannya terhadap perubahan kandungan sukrosa. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas NI tertinggi terjadi pada awal pemanenan dan mempunyai korelasi negatif yang nyata sebesar (r2) = 0.41 dengan kandungan sukrosa. Aktivitas AI baru menunjukkan aktivitas yang meningkat setelah umur penyimpanan diperlama dan mempunyai korelasi negatif yang tinggi dengan kandungan sukrosa sebesar (r2) = 0.40. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa peranan NI lebih menentukan terhadap degradasi sukrosa pada awal pemanenan.
Korelasi Hasil dan Komponen Hasil dengan Kualitas Hasil Pada 100 Genotip Nenas (Ananas comosus (L.) Merr.) dari Beberapa Seri Persilangan Generasi F1 Neni Rostini; Yuti Giametri; Suseno Amien
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6729

Abstract

Penelitian bertujuan untuk memperoleh satu atau beberapa karakter hasil dan komponen hasil yang memiliki korelasi dengan kualitas hasil 100 genotip nenas hasil beberapa seri persilangan koleksi Neni Rostini. Penelitian telah dilakukan dari bulan Desember 2004 sampai bulan Februari 2005 di Kebun Percobaan Universitas Padjadjaran Jatinangor. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen tanpa model tata ruang yang menggunakan analisis korelasi linear sederhana. Untuk menguji signifikansinya digunakan t-student. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif nyata antara kedalaman mata dengan panjang buah, bobot buah, bobot buah total dan jumlah mata; diameter core dengan panjang pedunkulus, panjang buah, bobot buah total dan jumlah mata; nilai Total Soluble Solid (TSS) dengan diameter pedunkulus. Terdapat korelasi negatif antara diameter core dengan panjang pedunkulus; nilai Total Soluble Solid (TSS) dengan panjang pedunkulus dan jumlah mata; Organoleptik dengan tinggi mahkota; pH dengan diameter pedunkulus; warna daging buah dengan panjang pedunkulus
Potensi Hasil dan Mutu Varietas Introduksi Tembakau Burley Fatkhur Rochman; , Suwarso; A. S. Murdiyati
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6734

Abstract

Tembakau burley telah diusahakan di Indonesia sejak tahun 1957 di beberapa daerah antara lain Lumajang, Klaten dan Mojokerto. Introduksi varietas memiliki beberapa keuntungan, yaitu (1) mendapatkan varietas unggul baru secara cepat, (2) Dapat dijadikan bahan seleksi sebagai calon varietas unggul baru, (3) Digunakan sebagai sumber gen yang diperlukan dalam program pemuliaan. Varietas unggul hasil introduksi belum tentu bersifat unggul seperti di daerah asalnya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi hasil dan mutu serta respon varietas introduksi terhadap penyakit utama di Indonesia. Penelitian dilaksanakan tahun 2004 di dua lokasi yaitu 1) di desa Kabuaran Kecamatan Kunir Kabupaten Lumajang, Jawa Timur pada ketinggian tempat ± 25 m di atas permukaan laut dan 2) di desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang-Jawa Timur pada ketinggian tempat ± 650 m di atas permukaan laut, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi krosok, indek mutu dan indek tanaman varietas introduksi tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding (Ky 17). Indek tanaman relatif varietas TN 90 dan NC 3 masih fluktuatif (tidak konsisten). Indek tanaman aktual varietas TN 90 di Kabuaran, Kunir lebih tinggi 19.29% dibanding Ky 17, dan indek tanaman aktual NC 3 di Oro-oro Ombo, Pronojiwo lebih tinggi 7.29% dibanding Ky 17. Penyakit yang muncul pada varietas introduksi adalah penyakit-penyakit yang sering dijumpai pada pertanaman tembakau di Indonesia seperti Mosaik, TEV, TLCV, lanas (Phytophthora nicotianae) dan nematoda Meloidogyne spp. Dengan tingkat serangan rendah. Tidak dijumpai panyakit lain atau penyakit baru.
Ketahanan 20 Genotip Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Terhadap Antraknos (Colletotrichum spp.) Pada Pertanaman Tumpangsari dengan Singkong Intan Pratiwi Y.B.S.; Winny Dewi W.; Meddy Rachmadi; Neni Rostini; R. Setiamihardja
Zuriat Vol 17, No 2 (2006)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v17i2.6749

Abstract

Pengujian ketahanan 20 genotip cabai merah terhadap penyakit Antraknos pada pertanaman tumpang sari dengan singkong telah dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dari bulan Februari 2005 sampai Mei 2005. Penelitian bertujuan untuk memperoleh genotip cabai merah yang memiliki ketahanan terhadap Antraknos dan penampilan hasil tinggi pada lingkungan pertanaman tumpangsari cabai merah singkong yang diperlakukan dengan defoliasi dan tanpa defoliasi. Percobaan disusun berdasarkan rancangan petak terbagi dengan 20 genotip cabai merah ditempatkan dalam anak petak dan pertanaman tumpangsari dengan defoliasi dan tanpa defoliasi singkong ditempatkan dalam petak utama. Percobaan laboratorium disusun berdasarkan rancangan acak lengkap dengan 20 genotip cabai merah sebagai perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan genotip RMCK II, RM08 X KRTRM, MuKRT, KRTSHATOL, MuRS 07, KRT II, RM08 IIA, Laris, Lado, CRMGT, KRTRM, UPG IIB, Prabu, Kresna, dan Gada lebih tahan terhadap Antraknos baik pada pertanaman tumpangsari dengan defoliasi dan tanpa defoliasi singkong, serta defoliasi singkong memberikan perubahan yang nyata terhadap ketahanan Antraknos, penampilan komponen hasil, serta karakter hasil 20 genotip cabai merah dibandingkan dengan pertanaman tunggalnya. Berdasarkan uji-LSInya genotip UPG IIB menunjukkan penampilan komponen hasil, serta karakter hasil yang baik pada pertanaman tumpangsari dengan defoliasi dan tanpa defoliasi singkong. Berdasarkan analisis perubahan penampilannya genotip KRT II memiliki toleransi yang baik pada lingkungan pertanaman tumpangsari dengan defoliasi singkong untuk karakter jumlah buah per tanaman dan bobot buah per tanaman. Tidak terdapat genotip yang memiliki nilai Kesetaraan Lahan lebih besar dibandingkan genotip Taro dan Tit Super, dan genotip Gada memiliki nilai Rasio Kompetisi lebih besar dibandingkan Tit Super.

Page 1 of 1 | Total Record : 7