cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012" : 9 Documents clear
Optimalisasi reproduksi ikan pelangi kurumoi Melanotaenia parva Allen, 1990 melalui rasio kelamin induk dalam pemijahan [Optimizing of reproduction kurumoi rainbowfish (Melanotaenia parva Allen, 1990 through sex ratio in spawning] Bastiar Nur; Nurhidayat Nurhidayat
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.116

Abstract

Kurumoi rainbowfish (Melanotaenia parva) is an ornamental fish from “Kurumoi Lake” West Papua, well known for its potential value as an export ornamental fish commodity in Indonesia. The objective of this research was to determine the optimal sex ratios between males and females of kurumoi rainbowfish, in order to obtain its optimum breeding capacity. Broodstocks sex ratio was used as the treatment on this experiment, four treatments were conducted: (A) 1^: 1$, (B) 2^:1$, (C) 3^:1$, and (D) 4^:1$, with four replications for each treatment. The present experiment was conducted in small scale hatchery of Research Centre for Ornamental Fish Aquaculture, Depok, from May to July 2011. Result shown that the treatment B gave the best result (167±30 eggs). This result was significantly different with the treatment D (85±36 eggs), but in contrary not significantly different with the treatment A (132±29 eggs) and C (127±15 eggs). These results were related positively with the fertilization rate for each treatment, which the best fertilization rate were obtained by the treatment B with 99.69±0.63%, however this result was not significantly different with other treatments (P>0.005). The best hatching rate were obtained in treatment D with 96.49±49%, this result was not significantly different with other treatments. The highest survival rate was obtained from treatment B, with 34.21% (not significantly different with other treatments). Based on that result, we can conclude that sex ratio (B) gave the best result on this experiment. Abstrak Ikan pelangi kurumoi (Melanotaenia parva) merupakan ikan hias yang berasal dari perairan “Danau Kurumoi” di dae-rah Papua yang berpotensi sebagai komoditas ekspor ikan hias Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan rasio kelamin induk jantan dan betina terbaik bagi pemijahan ikan pelangi kurumoi yang optimal. Perlakuan dalam pe-nelitian ini adalah rasio kelamin induk jantan dan betina: (A) 1:1, (B) 2:1, (C) 3:1, dan (D) 4:1; masing-masing perlakuan dipijahkan sebanyak empat kali (ulangan waktu pemijahan). Penelitian ini dilakukan di ruang pembenihan Balai Penelitian dan Pengembangan Budi Daya Ikan Hias (BPPBIH) Depok pada bulan Mei-Juli 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemijahan ikan pelangi pada perlakuan (B) menghasilkan jumlah telur yang dipijahkan (ovulasi) tertinggi yaitu sebanyak 167±30 butir. Hasil ini berbeda secara signifikan dengan perlakuan (D) dengan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 85±36 butir namun tidak berbeda dengan perlakuan (A) dengan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 132±29 butir serta perlakuan (C) dengan jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 127±15 butir. Demikian pula halnya dengan derajat pembuahan telur di mana pada perlakuan (B) didapatkan nilai tertinggi yaitu sebesar 99,69±0,63% namun tidak berbeda secara signifikan dengan ketiga perlakuan lainnya (P>0,05). Derajat penetasan tertinggi diperoleh pada perlakuan (D) yaitu sebesar 96,49±49% namun tidak berbeda secara signifikan dengan ketiga perlakuan lainnya. Sintasan larva umur satu bulan tertinggi diperoleh dari hasil pemijahan menggunakan rasio kelamin induk (B) yaitu sebesar 34,21% namun tidak berbeda secara signifikan dengan ketiga perlakuan lainnya. Pemijahan ikan pelangi kurumoi dengan rasio kelamin induk (B) memberikan hasil yang terbaik pada penelitian ini.
Pengaruh level protein pakan terhadap laju metabolisme juwana ikan bandeng (Chanos chanos, Forsskal 1775) [Effect of dietary protein level on the metabolism rate of milkfish (Chanos chanos, Forsskal 1775) juvenile] Zainuddin Zainuddin; M. Iqbal Djawad; Ryan Ardiyanti
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.117

Abstract

The aim of study was to determine the best level of dietary protein on the metabolism rate (oxygen consumption) of milkfish (Chanos chanos Forsskal) juvenile. This study used completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates. The experimental treatments were dietary protein level of 30, 35, 40, and 45%. The juvenile weight ranged from 0.4-0.5 g and length ranged from 2.0-3.5 cm. Feed doses were 10% from the body weight with three times per day feeding frequency. Oxygen consumption was measured by using closed bottle method. The results showed that the oxygen consumption of milkfish juvenile tend to increase until at level 40%, but decrease at level 50% of dietary protein. The best level of dietary protein in this study was 40%. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menentukan level protein pakan yang terbaik terhadap laju metabolisme (konsumsi oksi-gen) juwana ikan bandeng Chanos chanos,Forsskal. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) de-ngan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah level protein pakan yang berbeda, yaitu 30, 35, 40, dan 45%. juwana ikan yang digunakan mempunyai bobot individu berkisar antara 0,4-0,5 g per ekor dengan panjang tubuh berkisar 2,0-3,5 cm dan dipelihara selama empat minggu. Dosis pemberian pakan sebesar 10% dari bobot tubuh dengan frekuensi pemberian sebanyak tiga kali dalam sehari. Parameter konsumsi oksigen diukur dengan menggunakan metode botol tertutup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi oksigen juwana ikan bandeng cen-derung meningkat hingga level protein pakan 40% dan menurun kembali pada level protein pakan 50%. Level protein pakan terbaik dalam penelitian ini adalah 40%.
Pemetaan spasio-temporal ikan-ikan herbivora di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan [Spatio-temporal mapping of herbivorous fishes at Spermonde Islands, South Sulawesi] Ahmad Faizal; Jamaluddin Jompa; Natsir Nessa; Chair Rani
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.118

Abstract

Herbivorous fish is one of the indicators of coral reef ecosystem health. The healthiness of coral reef ecosystem is characterized by the increasing of herbivorous fish abundance. The aims of this study were to map the spatio-temporal distribution of herbivorous fish and relationship between the health condition of coral reef and herbivorous fishes. The number of species and density of herbivorous fish were enumerated using visual census technique, whereas the assessment of coral reef condition using the quadrant methods. The distribution of data was plotted using data mapping technique. The density of herbivorous fishes between islands was compared using analyses of variance (ANOVA). Relationship between the density of fishes and coral reef was analyzed using simple linear regression. The results showed that abundance of herbivorous fish was range 0.014-0.532 ind.m-2 (April-August periods) and analysis of variance revealed that the abundance of herbivorous fish species between islands was different significantly. The density of herbivorous fish was correlated positively with coral reef condition. Abstrak Ikan herbivora di terumbu karang menjadi salah satu indikator tingkat kesehatan ekosistem. Pada terumbu karang yang sehat biasanya ditandai dengan kelimpahan ikan herbivora yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi spasial dan temporal ikan herbivora dalam kaitannya dengan kondisi kesehatan karang. Pendataan jumlah jenis dan kepadatan ikan herbivora dengan metode transek sabuk dan pencacahan dengan teknik visual sensus, sedangkan penilaian kesehatan karang dengan metode transek kuadran. Data sebaran diplot dengan teknik pemetaan sedangkan data kepadatan dikelompokkan berdasarkan pulau dan dianalisis perbedaannya dengan analisis ragam. Hubungan antara kepadatan ikan herbivora dengan kesehatan karang dilakukan dengan menggunakan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kepadatan ikan herbivora periode April-Agustus dengan kisaran 0,014-0,532 ekor.m-2. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa ada perbedaan kepadatan ikan herbivora antarpulau. Hubungan antara kepadatan ikan herbivora dengan kondisi kesehatan karang berkorelasi positif dan nyata.
Sebaran ukuran dan kondisi ikan zebra Amatitlania nigrofasciata (Gunther, 1867) di Danau Beratan, Bali [Size distribution and condition of Zebra Cichlid, Amatitlania nigrofasciata (Gunther, 1867) in Lake Beratan, Bali] Arip Rahman; Agus Arifin Sentosa; Danu Wijaya
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.119

Abstract

Lake Beratan situated at Bali which indicated happening accidental introduction of the zebra fish (Amatitlania nigrofas-ciata). Zebra fish is a species of fish of the family Cichlidae according to IUCN Red List including the status of potential pest. Research location represents the area of the lake Beratan in the West, North, East and South. The purpose of this study was to determine the distribution and condition of zebra fish in Lake Beratan. The experiment was conducted in May, July and October 2011 using the survey and determining the location of a purposive sampling. Fish samples obtained using experimental gill nets. The composition of the zebra fish catch in Lake Beratan reached 42.68%. Zebra fish were caught, sizes ranging from 2.5 to 10.5 cm (TL) and body weight ranged from 0.254 to 22.79 g. Distribution of zebra fish in Lake Beratan was evenly at each location. Environmental conditions did not affect the life of the zebra fish. This was due to the good adaptability of the zebra fish. Abstrak Danau Beratan terletak di Bali dan terindikasi terjadi introduksi ikan zebra (Amatitlania nigrofasciata) tanpa disengaja. Ikan zebra termasuk spesies ikan dari famili Cichlidae yang menurut IUCN Red List Status termasuk spesies penggang-gu. Tujuan penelitian adalah untuk memprediksi sebaran ukuran dan kondisi ikan zebra di Danau Beratan. Penelitian di-laksanakan pada bulan Mei, Juli dan Oktober 2011 dengan menggunakan metode survei. Penentuan lokasi penelitian mewakili daerah danau Beratan yaitu di bagian barat, utara, timur, dan selatan. Sampel ikan diperoleh dengan menggu-nakan jaring insang percobaan. Komposisi tangkapan ikan zebra di Danau Beratan mencapai 42,68%. Ukuran panjang total ikan zebra yang tertangkap berkisar 2,5-10,5 cm dengan bobot tubuh berkisar antara 0,254-22,79 g. Keberadaan ikan zebra di Danau Beratan hampir merata di setiap lokasi. Kondisi lingkungan tidak berpengaruh terhadap kehidupan ikan zebra, karena kemampuan adaptasi ikan zebra yang cukup baik.
Fish diversity at Cileumeuh River in District of Majenang, Cilacap Regency, Central Java [Diversitas ikan di Sungai Cileumeuh Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah] Agus Nuryanto; Dian Bhagawati; M. Nadjmi Abulias; Indarmawan Indarmawan
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.120

Abstract

Cileumeuh River is one of the large rivers in Western Cilacap Regency, Central Java. This river, from its upper reaches to its mouth runs through forest, farming, and housing areas. This condition leads to the prediction that the Cileumeuh River has altered its physic-chemical characteristics which led to be its being inhabited by diverse fish species. This study aims to collect data about fish species that inhabit Cileumeuh River. The survey method used was to cluster random sampling according to upper, middle, and lower parts of the river. The observed variables were number of species and abundance. During the survey a total number of 288 fish individuals were collected. Identification placed the samples into 22 species and 10 families. The obtained families were Clariidae, Loricariidae, Bagridae, Cichlidae, Synbranch-idae, Channidae, Belontiidae, Anabantidae, Cyprinidae, and Poeciliidae. Among ten families, Cyprinidae had the highest number of species (ten species) and followed by Bagridae with five species. The other eight families each have one species. High number of species and families has confirms that the Cileumeuh River has high fish diversity. Abstrak Sungai Cileumeuh merupakan salah satu sungai yang cukup besar di Kabupaten Cilacap bagian Barat. Sungai tersebut mengalir melalui areal hutan, pertanian, dan perumahan. Kondisi tersebut diduga menyebabkan perubahan fisik-kimiawi perairan yang berdampak pada beragamnya ikan yang hidup di Sungai Cileumeuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengoleksi data mengenai spesies ikan penghuni Sungai Cileumeuh. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara acak kelompok. Sungai dibagi menjadi tiga daerah yaitu hulu, tengah dan hilir. Variabel yang diamati adalah jumlah spesies dan jumlah individu tiap spesies. Sebanyak 288 individu ikan berhasil dikoleksi selama penelitian. Hasil identifikasi menempatkan sampel ke dalam 22 spesies dan 10 famili. Di antara kesepuluh famili yang didapatkan, famili Cyprinidae merupakan kelompok dengan jumlah spesies terbanyak yaitu 10 spesies dan diikuti oleh famili Bagridae dengan lima spesies, sedangkan delapan famili sisanya hanya memiliki satu spesies. Tingginya jumlah spesies dan famili yang diperoleh mengindikasikan bahwa Sungai Cileumeuh memiliki keragaman ikan yang tinggi.
Keragaman dan struktur kumpulan ikan di anak sungai-anak sungai Sopokomil, Dairi, Sumatera Utara [Fish diversity and assemblage structure in tributaries of Sopokomil River, Dairi, North Sumatra] Charles P.H. Simanjuntak
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.121

Abstract

Diversity and fish assemblage structure of Sopokomil tributaries was investigated on August and November 2010 with aims to describe spatial and temporal variation of the fish assemblage and evaluate environmental influence on fish distribution in Sopokomil tributaries. Seventeen sites were sampled using backpack electrofishing with single-pass depletion method. Throughout the study, sixteen fish species belonging to 10 genera and 8 families were collected. Species richness and diversity significantly increased from upstream, middle stream and downstream. Based on analysis of similarities (two-way ANOSIM), fish assemblages were significantly different in spatial variation but not in temporal variation. Canonical correspondence analysis (CCA) highlighted four environmental variables (altitude, total suspended solid, dissolved oxygen, and temperature) significantly structuring fish assemblages in the tributaries of Sopokomil River. Total suspended solids in streams increases by anthropogenic activities along the tributaries. The status of protected forest which is cover upstream and part of middle stream of Sopokomil River needs to maintain for ichythyofauna preservation. Abstrak Penelitian tentang keragaman dan struktur kumpulan ikan yang dilakukan pada bulan Agustus dan November 2010 di anak sungai-anak sungai Sopokomil bertujuan mendeskripsikan komposisi dan keragaman kumpulan ikan secara spasial dan temporal serta mengevaluasi faktor lingkungan utama yang memengaruhi distribusi ikan di lokasi tersebut. Penangkapan ikan menggunakan alat backpack electrofishing dengan metode single-pass depletion di tujuh belas stasiun pengamatan. Ikan yang ditemukan selama penelitian berjumlah 16 spesies dari 10 genera dan 8 famili. Kekayaan spesies dan keragaman ikan meningkat secara signifikan mulai dari zona hulu, tengah, dan hilir. Hasil uji two-way ANOSM tanpa replikasi menunjukkan bahwa kumpulan ikan secara spasial berbeda secara signifikan, namun tidak berbeda secara temporal. Canonical correspondence analysis (CCA) menggarisbawahi bahwa ada empat parameter lingkungan uta-ma yang signifikan memengaruhi struktur kumpulan ikan di anak sungai-anak sungai Sopokomil, yakni ketinggian, pa-datan tersuspensi total, oksigen terlarut, dan suhu. Beberapa aktifitas antropogenik ditengarai ikut mengambil peran da-lam meningkatkan kandungan total padatan tersuspensi di badan sungai. Status hutan lindung yang melingkupi daerah hulu dan sebagian bagian tengah Sungai Sopokomil perlu untuk tetap dipertahankan demi kelestarian iktiofauna sungai ini.
Pertumbuhan dan daya tahan tubuh juwana kerapu bebek (Cromileptes altivelis) yang mendapatkan tambahan selenium dan terpapar cekaman lingkungan Muhaimin Hamzah; M. Agus Suprayudi; Nur Bambang Priyo Utomo; Wasmen Manalu
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.122

Abstract

This study was conducted to determine the level of sodium selenite (inorganic selenium) supplementation on growth and vitality of juvenile humpback grouper (Cromileptes altivelis) exposed to environmental stress. The experiment was designed as a completely randomized design with six treatments and three replications. The treatment was Se (sodium selenite) supplementation at various levels i.e. 0, 0.025, 0.05, 0.1, 0.2, and 0.4 mg Se kg-1. The experimental juveniles humpback grouper having average initial length of 5,83+0,28 cm and body weight of 3,47+0,43 g were reared in 90 x 40 x 35 cm3 aquaria and fed artificial diet (pellet) two times daily (08.00 and 16.00) at satiation. The humpback grouper were reared for 42 days at the stocking density of 15 fishes per 100 L on sea water with salinity of 30-31 ppt and temperature of 28-29oC. At the end of the experiment, the experimental fishes were submerged in fresh water for 10 minutes to evaluate their responses to osmolarity stress. Result of this study showed that the survival rate, daily growth rate, feed intake, feed efficiency, protein retention, liver glycogen, muscle glycogen, and all parameters of blood profile were not affected by the Se supplementation. On the contrary, Se supplementation improved lipid retention, plasma GPx enzyme activity, RNA-DNA ratio, and T3-T4 ratio. The addition of sodium selenite at dose of 0,05 mg Se kg-1 increased growth performance and vitality of juvenile humpback grouper. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah penambahan sodium selenite (selenium anorganik) dalam pakan yang mampu meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh juwana kerapu bebek (Cromileptes altivelis) yang terpapar pada cekaman akibat perubahan kondisi lingkungan. Percobaan didesain menggunakan rancangan acak lengkap dengan enam perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah penambahan selenium (Se) dalam bentuk sodium selenite (Se anorganik) pada berbagai dosis (0; 0,025; 0,05; 0,1; 0,2; dan 0,4 mg Se kg-1). Juwana kerapu bebek yang di-gunakan berukuran panjang awal rata-rata 5,83+0,28 cm dan bobot tubuh rata-rata 3,47+0,43 g dipelihara dalam akuarium berukuran 90 x 40 x 35 cm3 dan diberi pakan buatan berbentuk pellet frekuensi dua kali sehari (pukul 08.00 dan 16.00) at satiation. Ikan dipelihara selama 42 hari dengan padat penebaran 15 ekor per 100 liter air laut bersalinitas 30-31 ppt dan suhu 28-29 oC. Pada akhir pemeliharaan, ikan direndam di dalam air tawar selama 10 menit untuk mengetahui respons stres akibat perubahan osmolaritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, konsumsi pakan, efisiensi pakan, retensi protein, glikogen hati, glikogen otot, dan semua parameter gambaran darah tidak dipengaruhi oleh penambahan Se. Sebaliknya, penambahan Se meningkatkan retensi lemak, aktivitas enzim GPx plasma, rasio RNA-DNA, dan rasio T3-T4. Penambahan sodium selenite dosis 0,05 mg Se kg-1 mampu meningkatkan kinerja pertumbuhan dan daya tahan tubuh juwana kerapu bebek.
Kondisi fisiologis ikan bandeng (Chanos chanos Forskal) yang dipelihara pada media yang terpapar merkuri dengan tingkat salinitas berbeda Ridwan Affandi; Riri Ezraneti; Kukuh Nirmala
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.123

Abstract

Mercury is a dangerous heavy metal to fish and human who consumed that contaminated fish. The objective of the research was to analysis the effect of mercury to physiological condition of milkfish which reared in various level of salinity. Experiment was divided into four treatments: A (0% + 0 mg Hg L-1); B (0%o + 0.012 mg Hg L-1); C (10%o + 0.012 mg Hg L-1); and D (20%o + 0.012 mg Hg L-1), each with three replications. Milkfish of 7-8 cm in length was reared in aquarium of 60 x 40 x 40 cm3 in size, filled with 40 L of water. Twenty milkfish were added into each aquarium, fed by artificial food up to 5% biomass, 3 times per day during 30 day of experiment. Physiological parameters were observed by measuring osmotic gradient, oxygen consumption and blood glucose. Within freshwater conditions, the results showed that osmotic gradient and blood glucose increased, while oxygen consumption decreased in response to the present of mercury. Milkfish that reared in 10%o salinity showed better physiological conditions than other treatment, i.e. osmotic gradient 0.237±0.088 Osm kg-1 H2O, oxygen consumption 0.257±0.037 mgO2 g-1 hour-1, and blood glucose 11.77±1.30 mg mL-1. It was shown that the toxicity level of mercury were the lowest at 10%o salinity. Abstrak Merkuri merupakan logam berat yang sangat berbahaya bagi kehidupan ikan, bahkan dapat membahayakan kesehatan bagi yang mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi logam berat tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh merkuri terhadap kondisi fisiologis ikan bandeng yang dipelihara pada berbagai tingkat salintas. Percobaan terdiri atas empat perlakuan yakni: A (0% + 0 mg Hg L-1), B (0%o + 0,012 mg Hg L-1), C (10%o + 0,012 mg Hg L-1), dan D (20%o + 0,012 mg Hg L-1).Masing-masing perlakuan memiliki tiga ulangan. Ikan bandeng yang berukuran 7-8 cm dipelihara dalam akuarium berukuran 60 x 40 x 40 cm3 dengan volume air 40 L. Masing-masing akuarium diisi dengan 20 ekor ikan bandeng dan dipelihara selama 30 hari. Pakan buatan berbentuk pellet diberikan tiga kali per hari sebanyak 5% dari bobot biomassa. Parameter yang diukur meliputi beban osmotik, tingkat konsumsi oksigen, dan kadar glukosa darah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ikan bandeng yang dipelihara di media air tawar, keberadaan merkuri menyebabkan naiknya beban osmotik dan kadar glukosa darah serta menurunkan tingkat konsumsi oksigen. Kondisi fisiologis ikan bandeng yang dipelihara pada salinitas 10%o lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya dengan nilai beban osmotik 0,237±0,088 Osm kg-1 H2O, tingkat konsumsi oksigen 0,257±0,037 mgO2 g-1 jam-1 dan kadar glukosa darah 11,7±1,30 mg.mL-1. Dampak toksisitas merkuri terhadap kondisi fisiologis ikan bandeng berkurang ketika dipelihara pada media dengan salinitas 10%o.
Pertumbuhan ikan oskar (Amphilophus citrinellus, Gunther 1864) di Waduk Ir H. Djuanda, Jawa Barat [Growth of Midas Cichlid (Amphilophus citrinellus, Gunther 1864) in Ir. H. Djuanda Reservoir, West Java] Prawira Atmaja R.P. Tampubolon; M. F. Rahardjo; Krismono Krismono
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.124

Abstract

This research was held on October 2011 until January 2012 in Ir. H. Djuanda Reservoir, West Java, in order to describe some aspects of Midas cichlid (Amphilophus citrinellus) growth, such as length-weight relationship, condition factor, and growth constant (K). The samples were captured from six stations using 1, 1.5, 2, 2.5, 3, and 3.5 inches mesh sized of gill nets. The captured samples were separated in accordance to the stations, then the fish size and weight were measured. The total of fish captured were 460 individuals from six sampling stations. Total length of the captured fishes ranged from 62-210 mm and body weight is 4.81-187.18 gram. Midas cichlids are positive allometric. The condition factor varied depending on periods and stations. The growth formula for Midas cichlid was Lt= 215.78 (1-e'039 (t+025)). Abstrak Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2011-Januari 2012 di Waduk Ir. H. Djuanda, Jawa Barat, dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa aspek yang bertalian dengan pertumbuhan ikan oskar (Amphilophus citrinellus) di waduk tersebut, seperti hubungan panjang-bobot, faktor kondisi, dan koefisien pertumbuhan. Contoh ikan diambil di enam stasiun yang menggunakan alat tangkap jaring insang berukuran mata jaring 1; 1,5; 2; 2,5; 3; dan 3,5 inci. Contoh ikan yang tertangkap dipisahkan berdasarkan stasiun, kemudian diukur panjang dan ditimbang bobotnya. Total ikan contoh yang tertangkap selama penelitian berjumlah 460 ekor yang berasal dari enam stasiun pengamatan. Panjang total dan bobot tubuh ikan berkisar antara 62-210 mm dan 4,81-187,18 gram. Pola pertumbuhan ikan oskar ada-lah alometrik positif. Faktor kondisi ikan oskar bervariasi berdasarkan waktu dan stasiun pengamatan. Persamaan pertumbuhan panjang ikan oskar mengikuti formula Lt= 215,78 (1-e-0,39 (t+0,25)).

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue