Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Diversitas Ikan Karang pada Berbagai Variasi Substrat Karang Mati di Perairan Pulau Liukangloe, Kabupaten Bulukumba Chair Rani; Abdul Haris; Ahmad Faizal
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 2 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i2.6484

Abstract

Microhabitat variation was one of the key factors that determine diversity of organism associated in coral reefs. The purposed of this study was to analyze species richness and density of reef fish associated with various dead coral substrates. In addition, it also analyzes spatial distribution of reef fishes. Stationary visual census technique was applied to record data of fish speceis number and density on 4 forms of dead coral substrate (massive, branching, tabulate, rubbles, and natural/living corals as a control). The observation area was 2x 2 m and 5 replications were carried out for each substrate.The analysis of variance was to used to compare the number of species and density between substrates and correspondence analysis was used to analyse spatial distribution. Equivalent proportions were found for major, target, and indicator fish, on branching, tabulate and live coral substrates. Dead coral substrates were dominated by target and indicator fish, whereas rubbles were dominated by major and target fish groups. Individual composition was dominated by indicator fish, except for coral rubble which was dominated by target fish. The substrate in the form of branching corals have a higher species richness and fish density compared to rubble, but not significantly different from the tabulate corals and natural corals. Indicator fish (family Chaetodontidae) was spatially distributed mostly on live corals, rubbles were characterized by high Acanthurus pyropherus, Arothron mappa, Halichoeres hotulanus, Abudefduf vagiensis, Caesio xanthonota,and Dascylus auranus, and dead corals were characterized by species of major fish.  Variasi mikrohabitat di daerah terumbu karang menjadi salahsatu faktor kunci yang menentukan keragaman biota yang berasoiasi dengan terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekayaan jenis dan kepadatan ikan karang pada berbagai bentuk substrat karang mati. Selain itu, juga menganalisis sebaran spasial ikan karang. Teknik stationary visual censusdiaplikasikan untuk mendata ikan pada 4 bentuk substrat karang mati (masif, branching, tabulate, pecahan karang mati, dan karang alami/hidup sebagai kontrol). Luas area pengamatan sebesar 2x2 m2 dan dilakukan 5 kali pengulangan untuk setiap substrat.. Perbandingan jumlah jenis dan kepadatan ikan antara substrat dilakukan dengan analisis ragam dan sebaran spasial dengan analisis koresponden. Ditemukan proporsi yang setara untuk ikan major, indikator, dan target pada substrat branching, tabulate dan karang hidup. Substrat karang mati, didominasi oleh ikan target dan ikan indikator. Sedangkan pada substrat berupa pecahan karang mati didominasi oleh kelompok ikan major dan target. Komposisi individu didominasi oleh ikan indikator, kecuali pada substrat pecahan karang, didominasi oleh ikan target. Pada substrat dengan bentuk branching memiliki kekayaan spesies dan kepadatan ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pecahan karang, namun tidak berbeda nyata dengan substrat karang tabulate dan karang alami.Sebaran spasial ikan indikator (famili Chaetodontidae) banyak ditemukan di substrat karang hidup, sedangkan pada substrat pecahan karang dicirikan oleh tingginya kepadatan ikan Acanthurus pyropherus, Arothron mappa, Halichoeres hotulanus, Abudefduf vagiensis, Caesio xanthonota, dan Dascylus auranus. Ikan major merupakan penciri pada substrat karang mati.
Pemetaan spasio-temporal ikan-ikan herbivora di Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan [Spatio-temporal mapping of herbivorous fishes at Spermonde Islands, South Sulawesi] Ahmad Faizal; Jamaluddin Jompa; Natsir Nessa; Chair Rani
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v12i2.118

Abstract

Herbivorous fish is one of the indicators of coral reef ecosystem health. The healthiness of coral reef ecosystem is characterized by the increasing of herbivorous fish abundance. The aims of this study were to map the spatio-temporal distribution of herbivorous fish and relationship between the health condition of coral reef and herbivorous fishes. The number of species and density of herbivorous fish were enumerated using visual census technique, whereas the assessment of coral reef condition using the quadrant methods. The distribution of data was plotted using data mapping technique. The density of herbivorous fishes between islands was compared using analyses of variance (ANOVA). Relationship between the density of fishes and coral reef was analyzed using simple linear regression. The results showed that abundance of herbivorous fish was range 0.014-0.532 ind.m-2 (April-August periods) and analysis of variance revealed that the abundance of herbivorous fish species between islands was different significantly. The density of herbivorous fish was correlated positively with coral reef condition. Abstrak Ikan herbivora di terumbu karang menjadi salah satu indikator tingkat kesehatan ekosistem. Pada terumbu karang yang sehat biasanya ditandai dengan kelimpahan ikan herbivora yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi spasial dan temporal ikan herbivora dalam kaitannya dengan kondisi kesehatan karang. Pendataan jumlah jenis dan kepadatan ikan herbivora dengan metode transek sabuk dan pencacahan dengan teknik visual sensus, sedangkan penilaian kesehatan karang dengan metode transek kuadran. Data sebaran diplot dengan teknik pemetaan sedangkan data kepadatan dikelompokkan berdasarkan pulau dan dianalisis perbedaannya dengan analisis ragam. Hubungan antara kepadatan ikan herbivora dengan kesehatan karang dilakukan dengan menggunakan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kepadatan ikan herbivora periode April-Agustus dengan kisaran 0,014-0,532 ekor.m-2. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa ada perbedaan kepadatan ikan herbivora antarpulau. Hubungan antara kepadatan ikan herbivora dengan kondisi kesehatan karang berkorelasi positif dan nyata.
Keterkaitan parameter fisik-kimia perairan dengan kelimpahan jenis ikan demersal di Sungai Maro pada fase bulan berbeda musim peralihan I Modesta Ranny Maturbongs; Sisca Elviana; Chair Rani; Andi Iqbal Burhanuddin
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Sangia Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1676.01 KB) | DOI: 10.29239/j.agrikan.12.1.162-172

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan ikan demersal yang tertangkap di perairan Sungai Maro serta mengetahui keragaman dan keseragaman ikan  pada fasa bulan yang berbeda (new moon dan full moon) pada musim peralihan I. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2019 di Sungai Maro. Sebanyak 98 ekor yang tertangkap yang terbagi pada fase bulan gelap sebanyak 45 ekor dan 53 ekor diperoleh pada fase bulan terang dengan menggunakan jaring insang percobaan dari berbagai ukuran mata jaring. Dari hasil tangkapan diperoleh 14 spesies ikan dari 14 genus terkoleksi. Keanekaragaman jenis ikan demersal pada fase bulan gelap dan terang termasuk dalam kategori rendah. Tingkat keseragaman jenis pada fase bulan gelap termasuk dalam kategori tidak merata, pada fase bulan terang termasuk kategori kurang seragam. Hasil CCA menunjukkan parameter fisik-kimia perairan  berpengaruh terhadap sebaran ikan demersal pada stasiun dan fase bulan yang berbeda.
ANALISA STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DAN POTENSI PENGGUNAANNYA SEBAGAI BIOINDIKATOR LIMBAH ORGANIK DI TELUK LABUANGE, SULAWESI SELATAN Mudian Paena; Rajuddin Syamsuddin; Chair Rani; Haryati Tandipayuk
Jurnal Riset Akuakultur Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.15.2.2020.129-139

Abstract

Komunitas fitoplankton di perairan Teluk Labuange semakin dipengaruhi oleh limbah organik yang berasal dari tambak udang superintensif dan kegiatan antropogenik lainnya di sepanjang garis pantai. Akibatnya, struktur komunitas plankton di teluk tersebut telah mengalami perubahan besar yang dapat digunakan sebagai bio-indikator pencemaran limbah organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan struktur komunitas plankton di perairan Teluk Labuange dan potensi penggunaannya sebagai bio-indikator pencemaran limbah organik. Survei lapangan dilakukan di enam stasiun pengambilan sampel yang didistribusikan di dalam teluk untuk mengumpulkan sampel air, untuk analisis fitoplankton. Ada 12 titik pengambilan sampel di setiap stasiun dari total 72 sampel air dikumpulkan. Jenis-jenis bioindikator yang diidentifikasi kemudian dianalisis menggunakan CCA (Canonical Correlation Analysis) yang tersedia dalam perangkat lunak PAST (Statistik Paleontologis) untuk menghitung kekuatan hubungan antara kualitas air (amonia, nitrat, fosfat, BOT, dan COD) dan indikator fitoplankton. Data kelimpahan spesies dan fitoplankton dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA untuk menentukan perbedaan jenis dan kelimpahan fitoplankton di setiap stasiun. Studi ini telah mengidentifikasi 48 spesies fitoplankton, di mana 18 spesies fitoplankton diidentifikasi sebagai berpotensi HAB,s (plankton berbahaya). Dari 18 spesies plankton, enam spesies dapat diklasifikasikan sebagai plankton bioindikator limbah organik, yaitu Ceratium triops, Ceratium trichoceros, Lyngbya sp, Navicula pupula, Dinophysis caudata, dan Dinophysis sp. Kehadiran enam jenis fitoplankton secara langsung berkaitan dengan tingginya konsentrasi amonia, nitrat, fosfat, BOT, dan COD di perairan. Indeks keanekaragaman fitoplankton yang dihitung dari penelitian ini menunjukkan bahwa Teluk Labuange diklasifikasikan sebagai perairan yang sangat tercemar. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi pasokan limbah organik kedalam teluk sangat penting dilakukan untuk memastikan keberlanjutan akuakultur pantai di Teluk Labuange, seperti instalasi pengolahan limbah di tambak udang superintensif atau pengelolaan limbah yang efektif di daerah pemukiman pesisir.Phytoplankton communities in the waters of Labuange Bay have been increasingly affected by organic waste released by superintensive shrimp farms and other anthropogenic activities along the coastline. As a result, the plankton community structure of the bay might have undergone a substantial change which could be used as a bio-indicator of organic waste pollution. The objective of this study was to determine the structure of the plankton community in the waters of Labuange Bay and assess its potential use as a bio-indicator of organic waste pollution. Field surveys were conducted in six sampling stations distributed within the bay to collect water samples for phytoplankton analysis. There were 12 sampling points in each station from which a total of 72 water samples were collected. The types of bio-indicators identified were analyzed using canonical correlation analysis (CCA) available in the paleontological statistics (PAST) software to calculate the strength of the relationship between water quality (ammonia, nitrate, phosphate, BOT, and COD) and phytoplankton indicators. Data on species and phytoplankton abundance were statistically analyzed using ANOVA to determine the differences in the type and abundance of phytoplankton in each station. This study had identified 48 phytoplankton species, of which 18 species of phytoplankton were identified as potentially HABs plankton (harmful algae blooms). From the 18 plankton species, six species could be classified as organic bio-indicator planktons, namely Ceratium triops, Ceratium trichoceros, Lyngbya sp., Navicula pupula, Dinophysis caudata, and Dinophysis sp. The presence of the six types of phytoplankton was directly related to the high concentration of ammonia, nitrate, phosphate, BOT, and COD in the waters. The calculated phytoplankton diversity index from this research indicated that Labuange Bay was classified as heavily polluted waters. Therefore, efforts to reduce organic waste loading in the bay are critical to ensure the sustainability of coastal aquaculture in Labuange Bay, such as waste treatment plants in superintensive shrimp farms or effective waste management in the coastal settlement areas.
Dampak Budidaya Rumput Laut Terhadap Sebaran dan Biodiversitas Makrozoobentos Parman Parakkasi; Chair Rani; Radjuddin Syamsuddin; Nadjamuddin Nadjamuddin; Supriadi Mashoreng
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.048 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan untuk menganalisis dampak budidaya rumput laut terhadap sebaran dandiversitas makrozoobentos pada area budidaya dan sekitarnya. Penelitian dilakukan di PerairanPulau Karampuang Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat pada bulan September-November2017. Pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan sebelum dan setelah dilakukan budidayarumput laut dalam area budidaya serta 25 m dan 50 m dari area budidaya. Substrat dasar diambilmenggunakan Grab Sampler, kemudian diayak dengan sieve net (mesh size 0,5 mm) untukmemisahkan pasir dengan sampel makrozoobentos. Sampel substrat juga diambil sebanyak 200gram untuk dianalisis kandungan bahan organik total, keasaman dan potensi redoks. Sampelmakrozoobentos selanjutnya dianalisis di bawah makroskop untuk menentukan jenis dan jumlahindividunya. Perbandingan kelimpahan dan indeks keanekeragaman, antar jarak dari area budidayadan antar waktu diuji menggunakan Analisis Varians, sedangkan hubungan kelimpahan dan indekskeanekaragaman makrozoobentos dengan faktor lingkungan dianalisis menggunakan korelasipearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 67 jenis dari 3 kelas ditemukan padapenelitian ini yang didominasi oleh gastropoda. Berdasarkan waktu sampling, kelimpahan danindeks keanekaragaman makrozoobentos cenderung mengalami penurunan pada minggu ke-6budidaya, namun berdasarkan jarak dari area budidaya, tidak terlihat adanya perbedaan padakelimpahan maupun indeks keanekaragaman makrozoobentos antara area budidaya dan sekitararea buddidaya. Faktor lingkungan yang mempunyai korelasi kuat dengan kelimpahan dan indekskeanekaragaman makrozoobentos adalah kandungan bahan organik total dan potensi redokssedimen. Secara umum pada penelitian ini terindikasi adanya pengaruh perubahan terhadapmakrozoobentos setelah 1,5 bulan budidaya, dan pengaruh tersebut masih didapatkan sampai padajarak 50 meter dari area budidaya.Kata kunci: Dampak budidaya rumput laut, sebaran makrozoobentos, diversitas makrozoobentos, Pulau Karampuang  
Dynamics of Herbivorous Fish and Its Role in Controlling Algal Coverage in Coral Reef Restoration Area Affected by the Bleaching Phenomenon in 2016 Chair Rani; Abdul Haris; Ahmad Faizal
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 4 (2023): April
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i4.3065

Abstract

Coral reefs in the waters of Liukangloe Island were reported to have experienced a bleaching phenomenon in May 2016 and rehabilitation efforts were carried out in 2019. This study aimed to analyze the structure of the herbivorous fish community and its role in controlling algal cover in the rehabilitation area. Observations of herbivorous fish were carried out using visual census techniques on an area of ​​4m2 and observation of algae in 0.5x0.5 m2 transects on several coral attachment media from dead coral substrates. The results showed that the proportion of herbivorous fish species in the transplant area ranged from 15.81-58.67% and the proportion of individuals ranged from 12.51-34.62%. The dynamics of the number of species and abundance of herbivorous reef fish did not show significant differences between substrates and had the same dynamic pattern in all substrates uses but varied temporally according to the time of observation. The exception is the rubble area which continues to increase until the end of the observation. A high number of herbivorous fish species richness was observed in the branching and natural coral substrates and low in the rubble substrate.  The abundance of herbivorous reef fish showed a significant and negative relationship to algal cover and confirmed that the presence of herbivorous reef fish could control or reduce the value of algal cover.
Keragaman jenis ikan di Sungai Maro pada musim peralihan I Sisca Elviana; Modesta Ranny Maturbongs; Sunarni Sunarni; Chair Rani; Andi Iqbal Burhanuddin
Depik Vol 8, No 2 (2019): August 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.848 KB) | DOI: 10.13170/depik.8.2.12128

Abstract

Abstract. The river is one of aquatic resource that is rich in organisms, including various types of fish. Maro River  has characteristics of a river that has a wide area of estuary area makes it a fishing area by local fishermen.This study aims to determine the structure of fish communities caught on the Maro River in the transition season I.This research was conducted in April - May 2018 on the Maro River in Merauke Regency.Determination of research stations was chosen based on differences in environmental conditions on the Maro River.Data analysis using ecological index: composition of fish species (P), frequency of occurrence (Fi), species diversity (H '), type uniformity (E) and dominance (D).The results obtained by the composition of fish species found as many as 18 species, of which the species most commonly found in station I were 13 species while the lowest was found in station II as many as 3 species.The highest frequency of acquisition is Kurtus gulliveri which is 100%. The highest percentage of attendance was obtained from the same species at 43%.The poverty index during the first transition season was 2,104, included in the criteria of moderate and medium community.The uniformity index of 0.455 is included in the low uniformity category, meaning that the spread of each type in the community is relatively even.The dominance index value during the first transition season is 0.221, indicating that no type dominates.the ecological index value obtained shows even distribution of fish and no one dominates.Overall the condition of the aquatic environment on the Maro River is still in a good and balanced environment.Keywords: Diversity, the first transition period of monsoon, Maro Rivers Abstrak. Sungai merupakan salah satu perairan yang kaya akan organisme didalamnya. Sungai Maro merupakan salah satu sungai yang ada di Kabupaten Merauke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan yang tertangkap di Sungai Maro pada musim peralihan I. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2018 di Sungai Maro Kabupaten Merauke. Penentuan stasiun penelitian dipilih berdasarkan perbedaan kondisi lingkungan di Sungai Maro. Analisis data menggunakan indeks ekologi: komposisi jenis ikan (P), frekuensi keterdapatan (Fi), keanekargaman jenis (H’), keseragaman jenis (E) dan dominansi (D). Hasil penelitian diperoleh 13 jenis. Dari hasil penelitian, komposisi jenis ditemukan sebanyak 18, dimana jenis species yang paling banyak ditemukan pada stasiun 1 sebanyak 13 spesies sedangkan stasiun II ditemukan species paling sedikit yaitu sebanyak 3 species. Frekuensi keterdapatan yang paling tinggi yaitu species Kurtus gulliveri memiliki frekuensi keterdapatan yang paling tinggi yaitu 100%. Presentase kehadiran tertinggi diperoleh adalah jenis ikan kaca (Kurtus gulliveri) sebesar 43%. Indeks keanekargaman selama musim peralihan I sebesar 2,104, termasuk dalam kriteria sedang dan komunitas sedang. Indeks keseragaman sebesar 0,455 termasuk dalam kategori keseragaman rendah, artinya penyebaran individu setiap jenis didalam komunitasnya relatif merata. Indeks dominansi selama musim peralihan I sebesar 0,221, menunjukkan tidak ada jenis yang mendominasi. Indeks keanekaragmannya sedang, dengan indeks dominansi dan indeks keseragamannya rendah menandakan distribusi ikan yang merata dan tidak ada yang mendominasi. Secara keseluruhan kondisi lingkungan perairan pada Sungai Maro masih dalam lingkungan yang baik dan seimbang.Kata Kunci: Struktur komunitas, musim peralihan I, Sungai Maro
Keragaman jenis ikan di Sungai Maro pada musim peralihan I Sisca Elviana; Modesta Ranny Maturbongs; Sunarni Sunarni; Chair Rani; Andi Iqbal Burhanuddin
Depik Vol 8, No 2 (2019): August 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.2.12128

Abstract

Abstract. The river is one of aquatic resource that is rich in organisms, including various types of fish. Maro River  has characteristics of a river that has a wide area of estuary area makes it a fishing area by local fishermen.This study aims to determine the structure of fish communities caught on the Maro River in the transition season I.This research was conducted in April - May 2018 on the Maro River in Merauke Regency.Determination of research stations was chosen based on differences in environmental conditions on the Maro River.Data analysis using ecological index: composition of fish species (P), frequency of occurrence (Fi), species diversity (H '), type uniformity (E) and dominance (D).The results obtained by the composition of fish species found as many as 18 species, of which the species most commonly found in station I were 13 species while the lowest was found in station II as many as 3 species.The highest frequency of acquisition is Kurtus gulliveri which is 100%. The highest percentage of attendance was obtained from the same species at 43%.The poverty index during the first transition season was 2,104, included in the criteria of moderate and medium community.The uniformity index of 0.455 is included in the low uniformity category, meaning that the spread of each type in the community is relatively even.The dominance index value during the first transition season is 0.221, indicating that no type dominates.the ecological index value obtained shows even distribution of fish and no one dominates.Overall the condition of the aquatic environment on the Maro River is still in a good and balanced environment.Keywords: Diversity, the first transition period of monsoon, Maro Rivers Abstrak. Sungai merupakan salah satu perairan yang kaya akan organisme didalamnya. Sungai Maro merupakan salah satu sungai yang ada di Kabupaten Merauke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan yang tertangkap di Sungai Maro pada musim peralihan I. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2018 di Sungai Maro Kabupaten Merauke. Penentuan stasiun penelitian dipilih berdasarkan perbedaan kondisi lingkungan di Sungai Maro. Analisis data menggunakan indeks ekologi: komposisi jenis ikan (P), frekuensi keterdapatan (Fi), keanekargaman jenis (H’), keseragaman jenis (E) dan dominansi (D). Hasil penelitian diperoleh 13 jenis. Dari hasil penelitian, komposisi jenis ditemukan sebanyak 18, dimana jenis species yang paling banyak ditemukan pada stasiun 1 sebanyak 13 spesies sedangkan stasiun II ditemukan species paling sedikit yaitu sebanyak 3 species. Frekuensi keterdapatan yang paling tinggi yaitu species Kurtus gulliveri memiliki frekuensi keterdapatan yang paling tinggi yaitu 100%. Presentase kehadiran tertinggi diperoleh adalah jenis ikan kaca (Kurtus gulliveri) sebesar 43%. Indeks keanekargaman selama musim peralihan I sebesar 2,104, termasuk dalam kriteria sedang dan komunitas sedang. Indeks keseragaman sebesar 0,455 termasuk dalam kategori keseragaman rendah, artinya penyebaran individu setiap jenis didalam komunitasnya relatif merata. Indeks dominansi selama musim peralihan I sebesar 0,221, menunjukkan tidak ada jenis yang mendominasi. Indeks keanekaragmannya sedang, dengan indeks dominansi dan indeks keseragamannya rendah menandakan distribusi ikan yang merata dan tidak ada yang mendominasi. Secara keseluruhan kondisi lingkungan perairan pada Sungai Maro masih dalam lingkungan yang baik dan seimbang.Kata Kunci: Struktur komunitas, musim peralihan I, Sungai Maro
Keragaman jenis ikan di Sungai Maro pada musim peralihan I Sisca Elviana; Modesta Ranny Maturbongs; Sunarni Sunarni; Chair Rani; Andi Iqbal Burhanuddin
Depik Vol 8, No 2 (2019): August 2019
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.8.2.12128

Abstract

Abstract. The river is one of aquatic resource that is rich in organisms, including various types of fish. Maro River  has characteristics of a river that has a wide area of estuary area makes it a fishing area by local fishermen.This study aims to determine the structure of fish communities caught on the Maro River in the transition season I.This research was conducted in April - May 2018 on the Maro River in Merauke Regency.Determination of research stations was chosen based on differences in environmental conditions on the Maro River.Data analysis using ecological index: composition of fish species (P), frequency of occurrence (Fi), species diversity (H '), type uniformity (E) and dominance (D).The results obtained by the composition of fish species found as many as 18 species, of which the species most commonly found in station I were 13 species while the lowest was found in station II as many as 3 species.The highest frequency of acquisition is Kurtus gulliveri which is 100%. The highest percentage of attendance was obtained from the same species at 43%.The poverty index during the first transition season was 2,104, included in the criteria of moderate and medium community.The uniformity index of 0.455 is included in the low uniformity category, meaning that the spread of each type in the community is relatively even.The dominance index value during the first transition season is 0.221, indicating that no type dominates.the ecological index value obtained shows even distribution of fish and no one dominates.Overall the condition of the aquatic environment on the Maro River is still in a good and balanced environment.Keywords: Diversity, the first transition period of monsoon, Maro Rivers Abstrak. Sungai merupakan salah satu perairan yang kaya akan organisme didalamnya. Sungai Maro merupakan salah satu sungai yang ada di Kabupaten Merauke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan yang tertangkap di Sungai Maro pada musim peralihan I. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April – Mei 2018 di Sungai Maro Kabupaten Merauke. Penentuan stasiun penelitian dipilih berdasarkan perbedaan kondisi lingkungan di Sungai Maro. Analisis data menggunakan indeks ekologi: komposisi jenis ikan (P), frekuensi keterdapatan (Fi), keanekargaman jenis (H’), keseragaman jenis (E) dan dominansi (D). Hasil penelitian diperoleh 13 jenis. Dari hasil penelitian, komposisi jenis ditemukan sebanyak 18, dimana jenis species yang paling banyak ditemukan pada stasiun 1 sebanyak 13 spesies sedangkan stasiun II ditemukan species paling sedikit yaitu sebanyak 3 species. Frekuensi keterdapatan yang paling tinggi yaitu species Kurtus gulliveri memiliki frekuensi keterdapatan yang paling tinggi yaitu 100%. Presentase kehadiran tertinggi diperoleh adalah jenis ikan kaca (Kurtus gulliveri) sebesar 43%. Indeks keanekargaman selama musim peralihan I sebesar 2,104, termasuk dalam kriteria sedang dan komunitas sedang. Indeks keseragaman sebesar 0,455 termasuk dalam kategori keseragaman rendah, artinya penyebaran individu setiap jenis didalam komunitasnya relatif merata. Indeks dominansi selama musim peralihan I sebesar 0,221, menunjukkan tidak ada jenis yang mendominasi. Indeks keanekaragmannya sedang, dengan indeks dominansi dan indeks keseragamannya rendah menandakan distribusi ikan yang merata dan tidak ada yang mendominasi. Secara keseluruhan kondisi lingkungan perairan pada Sungai Maro masih dalam lingkungan yang baik dan seimbang.Kata Kunci: Struktur komunitas, musim peralihan I, Sungai Maro