cover
Contact Name
Ahmadi Riyanto
Contact Email
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Phone
+628111166998
Journal Mail Official
masyarakat.iktiologi@gmail.com
Editorial Address
Gedung Widyasatwaloka, Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi-LIPI Jl. Raya Jakarta-Bogor Km 46, Cibinong 16911
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology)
ISSN : 16930339     EISSN : 25798634     DOI : https://doi.org/10.32491
Aims and Scope Aims: Jurnal Iktiologi Indonesia (Indonesian Journal of Ichthyology) aims to publish original research results on fishes (pisces) in fresh, brackish and sea waters including biology, physiology, and ecology, and their application in the fields of fishing, aquaculture, fisheries management, and conservation. Scope: This journal publishes high-quality articles dedicated to all aspects Aquaculture, Fish biodiversity, Fisheries management, Fish diseases, Fishery biotecnology, Moleculer genetics, Fish health management, Fish biodiversity.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 19 No 1 (2019): February 2019" : 13 Documents clear
The growth and survival rate of Nile tilapia, Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) in the aquaponic system with different vetiver (Vetiveria zizanioides L. Nash) plant density Widyatmoko Widyatmoko; Hefni Effendi; Niken TM Pratiwi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.346

Abstract

Tilapia fish farming with the aquaponic is a system of cultivation that can save land use and increase the efficiency of nutrient utilization of residual feed and fish metabolism by the plant. This research aimed to analyze the influence of different plant densities on growth, survival and the comparison of length and weight of tilapia (Oreochromis niloticus) in aquaponic system with dense plant. The experimental design used was Completely Randomized Design in time with three treatments and three replications with the level of density of vetiver (Vetiveria zizanioides) tested in this study was 400 g, 800 g and without vetiver. Nile tilapia (Oreochromis niloticus) was used with weight of 14 g, average length of 8-9 cm, and the experiment lasted for 42 days. The observed parameters was the growth of length and weight, length-weight relationship, and the survival rate. The results showed that the highest increase was in the treatment of 800 g vetiver plants with the growth of 19 g, the length increase of 2.64 cm and the survival rate of 100 ± 0.00 %. The lowest value was in the control. The use of aquaponic system in nile tilapia management with vetiver and control treatment had significant effect (P <0.05) on weight gain, length increase, and survival rate of tilapia. Water quality in all treatments generally reflected a range within tolerable limits and not harmful to tilapia growth. Abstrak Budi daya ikan nila dengan sistem akuaponik merupakan sistem budi daya yang dapat menghemat penggunaan lahan dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan hara dari sisa pakan serta metabolisme ikan oleh tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh padat tanaman yang berbeda terhadap pertumbuhan, sintasan dan perbanding-an panjang dan bobot ikan nila (Oreochromis niloticus) pada sistem akuaponik dengan padat tanaman yang berbeda. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga kali ulangan dengan tingkat kepadatan vetiver yang diuji dalam penelitian ini adalah 400 g, 800 g dan tanpa vetiver. Ikan yang digunakan adalah ikan nila dengan bobot 14 g, panjang rata-rata 8-9 cm, dan dipelihara selama 42 hari. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan bobot, hubungan panjang-bobot, pertambahan panjang dan sintasan. Hasil peneli-tian menunjukkan bahwa peningkatan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan tanaman vetiver 800 g dengan pertam-bahan bobot sebesar 19 g, pertambahan panjang sebesar 2,64 cm dan sintasan ikan sebesar 100±0,00 %. Nilai teren-dah terdapat pada kontrol. Penggunaan sistem akuaponik pada pemeliharaan ikan nila dengan perlakuan vetiver dan kontrol berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot, pertambahan panjang, dan sintasan ikan nila. Kua-litas air pada semua perlakuan secara umum menggambarkan kisaran yang masih berada dalam batas toleransi dan tidak membahayakan bagi pertumbuhan ikan nila.
Biological aspects of pink ear emperor, Lethrinus lentjan (Lacepede, 1802) in Bangka and adjacent waters Yoke Hany Restiangsih; Nur’ainun Muchlis
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.349

Abstract

Coral fish is the one of the important fish resources in Indonesian waters, but the potential and exploitation rate needs to be obtained. Pink ear emperor is one of coral fish that many caught in Bangka. Research was conducted to determine biological aspect of pink ear emperor caught by fish traps, that includes length distribution, length-weight relationship, sex ratio, maturity stage, food habits, and length at first mature. This research was conducted from February 2014 to November 2015 with sampling location in Sungailiat fishing port. The observed aspects included fork length, weight, sex, gonad maturity and fish stomach contents was done monthly. The results showed the growth pattern are allometric negative, folk length ranged from 12 to 58 cm. The condition of sex ratio of males to females was 1:2,06. The gonade maturity stage of males and females were stage I, II, III, and IV for all months of observation. Stomach contained was shellfish, crap, shrimp and fish. Length at first capture(Lc) was 28 cm and length at first maturity(Lm) was 26 cm. Size length at first capture was bigger than the size length at first maturity, so the pink ear emperor at Sungailiat available to maintained the balance of fish stock on population. Abstrak Ikan karang merupakan salah satu sumber daya yang penting di perairan Indonesia, namun tingkat potensi dan tingkat pemanfaatannya masih perlu untuk dikaji. Ikan lencam merupakan salah satu ikan karang yang banyak tertangkap di perairan Bangka. Tujuan penelitian ini mengkaji beberapa aspek biologi ikan lencam hasil tangkapan bubu, meliputi sebaran ukuran panjang, pola pertumbuhan, nisbah kelamin, dan ukuran rata-rata pertama kali matang gonad dan kebiasaan makan. Penelitian ini dilaksanankan di PPN Sungailiat pada bulan Februari 2014 – November 2015. Aspek yang diamati meliputi panjang cagak, bobot tubuh ikan, jenis kelamin, kematangan gonad, dan isi lambung ikan. Hasil penelitian menunjukkan pola pertumbuhan ikan lencam bersifat allometrik negatif. Sebaran ukuran panjang berkisar antara 12 – 58 cm. Nisbah kelamin jantan terhadap betina sebagai 1 : 2,06. Pada setiap bulan pengamatan tingkat kematangan gonad jantan dan betina berada pada stadia I, II, III, dan IV. Isi lambung ikan lencam selama pengamatan terdiri dari kerang-kerangan, kepiting, udang, dan hancuran ikan. Panjang pertama kali ikan tertangkap (Lc) sebesar 28 cm dan pertama kali matang gonad (Lm) sebesar 26 cm. Rata-rata ukuran pertama kali tertangkap lebih besar dbandingkan dengan ukuran pertama kali matang gonad sehingga ikan lencam di Perairan Bangka masih dapat mempertahankan keseimbangan stok dalam suatu populasi.
Morphological characteristics of silver barb fish population Barbonymus gonionotus (Bleeker, 1849) from different water locations in Central Java Province Hasan Ayyub; Agung Budiharjo; Sugiyarto Sugiyarto
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.378

Abstract

There are population of silver barb (Barbonymus gonionotus) in Bengawan Solo River, Dengkeng River, Opak River and Gajah Mungkur Reservoir. Bengawan Solo River’s flow meet Dengkeng River’s flow while Opak River’s flow separated from the two other made an interesting phenomenon of population separability to study diversity and grouping between populations through morphological markers. The study aimed to analyze the diversity of silver barb in the Bengawan Solo River, Dengkeng River, Opak River and Gajah Mungkur Reservoir based on morphological characters. Measurement of morphological characters with morphometric methods with 14 measured morphological characters. Measurement of water chemical and physical factors include temperature, current velocity, depth, pH, dissolved oxygen and substrate. The result showed that the four distinguished morphological characteristics of the population predominantly in silver barb (B. gonionotus) were the dorsal depth, snouth length and caudal pundacle depth. Group analysis showed that silver barb population of the Bengawan Solo River had morphological characters more similar to the Dengkeng River than Opak River and Gajah Mungkur Reservoir because of the similarity of habitat and proximity of the location. Based on the most influential environmental factors is the difference in current velocity. Abstrak Populasi ikan tawes (Barbonymus gonionotus ) terdapat di Sungai Bengawan Solo, Sungai Dengkeng, Sungai Opak, dan Waduk Gajah Mungkur. Aliran Sungai Bengawan Solo bertemu dengan aliran Sungai Dengkeng sedangkan aliran Sungai Opak terpisah dari keduanya. Hal ini menjadikan sebuah fenomena keterpisahan populasi yang menarik untuk diteliti keragaman dan pengelompokan antar populasi melalui penanda morfologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman ikan tawes di Sungai Bengawan Solo, Sungai Dengkeng, Sungai Opak, dan Waduk Gajah Mungkur berdasarkan karakter morfologis. Pengukuran karakter morfologis dengan metode morfometrik dengan 14 karakter morfologis yang diukur. Pengukuran faktor fisika kimia air meliputi suhu, kuat arus, kedalaman, pH, oksigen terlarut, dan substrat. Hasil penelitian menunjukkan karakter morfologis pembeda keempat populasi tersebut yang dominan pada ikan tawes adalah tinggi sirip dorsal, panjang moncong, dan tinggi batang ekor. Analisis kelompok menunjukkan populasi ikan tawes Sungai Bengawan Solo memiliki karakter morfologis lebih mirip dengan Sungai Dengkeng daripada Sungai Opak dan Waduk Gajah Mungkur karena kemiripan habitat dan kedekatan lokasi. Faktor lingkungan yang paling berpengaruh adalah perbedaan kuat arus perairan.
Diet digestibility and growth performance of giant gouramy juvenile, Osphronemus goramy fed on diet supplemented using glutamine Yuli Andriani; Mia Setiawati; Mas Tri Djoko Sunarno
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.386

Abstract

Giant gouramy Osphronemus goramy as a leading fresh water fish commodity has a low growth. Therefore, this study aimed to evaluate the glutamine supplementation with different doses in diet to diet digestibility and growth performance of giant gouramy juvenile. The study consisted of two stages which were diet digestibility test and growth test. Glutamine doses i.e. 0, 1, 2, and 3% were mixed into isoprotein and isoenergy test diet. Chromium oxide (Cr2O3) 0.6% was used as an indicator of digestibility. Giant gouramy juvenile as sampel test with initial body weight 2.07±0.00 g were reared in 50x40x35 cm3 aquaria with density of 25 fish per aquaria. Fishes were given diet three times daily at 07:00 am, 12:00 am and 17:00 pm by at satiation. Diet digestibility test was conducted by collecting feces method which collected after the seventh day of feeding test . Growth test was conducted for 60 days and during maintenance with water change as much as 30% of the volume in the morning before feeding. The result showed that the supplementation of 3% glutamine increased the total digestibility (73.66±0.18%), energy digestibility (64.79±0.22%), protein digestibility (90.57±0.01%), enzyme activity of protease (6.13±0.02 U g-1 protein) and lipase (0.86±0.01 U g-1 protein), and liver glycogen contain (6.86±0.17mg g-1 sampel). In the other hand, the supplementation of 2% glutamine increased feed efficiency (88.75±2.54%), daily growth rate (4.25±0.07%) and protein retention (47.19±0.77%). In conclusion, the supplementation of 2-3% glutamine in diet clearly increased the diet digestibility and growth performance of giant gouramy juvenile. Abstrak Ikan gurami Osphronemus goramy sebagai komoditas unggulan ikan air tawar mempunyai pertumbuhan yang lambat. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengevaluasi penambahan glutamin dengan dosis berbeda dalam pakan terhadap kecernaan pakan dan kinerja pertumbuhan benih ikan gurami. Penelitian ini terdiri atas dua tahap yaitu uji kecernaan pakan dan uji pertumbuhan. Glutamin dengan dosis 0, 1, 2 dan 3% dicampurkan ke dalam pakan uji isoprotein dan isoenergi. Chromium oxide (Cr2O3) ditambahkan dalam pakan uji sebanyak 0,6% sebagai indikator kecernaan. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan gurami dengan bobot awal 2,07±0,00 g, dipelihara dalam akuarium berukuran 50x40x35 cm3 dengan padat tebar 25 ekor per akuarium. Ikan diberi pakan uji dengan frekuensi tiga kali dalam sehari yaitu pada pukul 07.00, 12.00, dan 17.00 WIB secara at satiation. Uji kecernaan pakan dilakukan selama 20 hari menggunakan metode pengumpulan feses yang dilakukan pada hari ketujuh setelah ikan diberi pakan uji. Uji pertumbuhan dilakukan selama 60 hari dan selama pemeliharaan dilakukan pergantian air sebanyak 30% dari volume media pemeliharaan pada pagi hari sebelum pemberian pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan glutamin 3% meningkatkan kecernaan total (73,66±0,18%), kecernaan energi (64,79±0,22%), kecernaan protein (90,57±0,01%), aktivitas enzim protease (6,13±0,02 U g-1 protein) dan lipase (0,86±0,01 U g-1 protein) serta kadar glikogen hati (6,86±0,17mg g-1 sampel). Penambahan glutamin 2% meningkatkan efisiensi pakan (88,75±2,54%), laju pertumbuhan harian (4,25±0,07%) dan retensi protein (47,19±0,77%). Disimpulkan bahwa penambahan glutamin dosis 2-3% dalam pakan dapat meningkatkan kecernaan pakan dan kinerja pertumbuhan benih ikan gurami.
Reproductive biology of silurid catfishes Ompok miostoma (Vaillant 1902) in Mahakam River East Kalimantan Jusmaldi Jusmaldi; Dedy Duryadi Solihin; Ridwan Affandi; MF Rahardjo; Rudhy Gustiano
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.387

Abstract

Reproductive biology of silurid catfish O.miostoma(Vaillant 1902)as one of endemic species in Mahakam River East Kalimantan is not yet known. This study aimed to analysisreproductive aspect related to changing seasons, including sex-ratio, spawning season, spawning location, length at first gonad maturity, gonado-somatic index, and fecundity. Total fish samples (n=1214)were collected monthly from November 2013 to October 2014 at four locations in the Mahakam River, using many fishing gears.The results of this research showthe total length of fish ranged from 132.19 to 227.30 mm and weight ranged from 20.00 to 70.40 g. The overall sex ratio of male and female was1: 1.56, while at gonad maturity stages were1:1.77. The spawning season range from November to January and peak spawning occurs in December. The highest spawning location was found at swamp flood Semayang Lake. The length at first gonad maturity of male ranged of 191.05-202.60 mm, while it was in 179.56-198.50 female. Maximum average gonado-somatic index (GSI) values obtained for male and female were 0.32 and 2.07 respectively during spawning period in November and declined to minimum in February. The total fecundity and eggs diameter rangedfrom 2648 to 12495 eggsind-1and 0.61 to 1.30 mm respectively. There was a positive correlation between fecundity andtotal length and weightof fishes. Abstrak Biologi reproduksi ikan lais O. miostoma (Vaillant 1902)sebagai salah satu spesies endemik di Sungai Mahakam Kalimantan Timur belum pernah diketahui. Tujuan penelitian ini adalah menganalisisaspek reproduksi ikan laisberkaitan dengan perubahan musimyang mencakupnisbah kelamin, musim pemijahan, lokasi pemijahan, ukuran kali pertama matang gonad, indeks kematangan gonad dan fekunditas.Total ikan contoh 1214 ekor telah dikumpulkan setiap bulan mulai dari bulan November 2013 sampai Oktober 2014di empat lokasi perairan Sungai Mahakam, menggunakan berbagai alat tangkap. Hasil penelitian menunjukkanukuran panjang total ikan berkisar dari 132,19-227,30 mm dan bobot berkisar dari 20,00-70,40 gram.Nisbah kelamin seluruh ikan jantan dan betina yang diamati 1 : 1,56, sedangkanpada tahap kematangan gonad 1:1,77. Musim pemijahan terjadi mulai dari bulan November sampai Januari dan puncak pemijahan pada bulan Desember. Lokasi pemijahan tertinggi ditemukan di rawa banjiran Danau Semayang. Ukuran ikan pertamamatang gonad pada jantan berkisar dari 191,05-202,60 mm dan betina berkisar dari 179,56-198,50 mm. Rata-rata indeks kematangan gonad (IKG) tertinggi ditemukan pada jantan dan betina berturut turut 0,32 dan 2,07 selama musim pemijahanpada bulan November dan menurun hingga terendah pada bulan Februari. Fekunditas total berkisar dari 2.648-12.495 butir telur per individu.Ada korelasi positif antara fekunditas dengan panjang total dan bobot ikan.
Improved quality of color sumatra barb, Puntigrus tetrazona (Bleeker, 1855) with artificial feed enriched red spinach flour (Amaranthus tricolor L.) Gamel Koncara; Nur Bambang Priyo Utomo; Mia Setiawati; Muhamad Yamin
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.398

Abstract

The Sumatra barb (Puntigrus tetrazona) is one of the Indonesia indigenous ornamental fish from Sumatra island. The breeding of sumatra barb fish has actually seen a decline in color quality because this species cannot produce carotenoid in the body. To solve this problem, needed an alternative using supplementation the carotenoid in the feed. The objective of this study was aimed to determine the effectiveness of red spinach flour doses as feed on the quality of the sumatra barb. The sumatra barb ornamental fish, with weight about 0.54 g and length about 3.50 cm, were reared in the aquarium (30 cm x 20 cm x 20 cm). The completely randomized design with 4 treatments (A=0% (control), B=2%, C=4%, and D=6%) and 3 replications were analyzed in this study. Parameters in this study consisted of body skin color qualities (e.g. L = lightness, C = chroma, and H = hue) and the number of carotenoid in the skin, fins, and meat. The fish were reared for 42 days and given feed 3 times per day. This result showed that supplementation of red spinach flour by 6% with carotenoid 45.26 ppm in feed, 50.44 ppm in fins, 16.10 ppm in the skin, and 3.69 ppm in meat, could increase sumatra barb color qualities. It was indicated decreasing lightness 60.83%, increasing chroma 20.57%, and sustaining hue 87,09°. Abstrak Ikan sumatra albino (Puntigrus tetrazona) merupakan salah satu ikan hias asli Indonesia yang berasal dari pulau Sumatera. Budidaya ikan sumatra albino mengalami penurunan dalam kualitas warna karena spesies ini tidak dapat memproduksi karotenoid dalam tubuhnya. Guna mengatasi permasalahan ini, maka dibutuhkan sebuah alternatif berupa penambahan karotenoid dalam pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas dosis tepung bayam merah sebagai pakan terhadap kualitas warna ikan sumatra albino. Ikan hias sumatra albino dengan bobot 0,54 g dan panjang 3,50 cm dipelihara di dalam akuarium (30 cm x 20 cm x 20 cm).Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empatperlakuan (A=0% (kontrol), B=2%, C=4%, dan D=6%) dan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi nilai kualitas warna kulit ikan (L=lightness, C=chroma, dan H=hue) dan total karotenoid pada kulit, sirip,serta daging ikan sumatra albino. Ikan dipelihara selama 42 hari dan diberi pakan tigakali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwapenambahantepung bayam merah pada dosis 6%dengan kandungan karotenoid 45,26 ppm pada pakan, 50,44 ppm pada sirip, 16,10 ppm pada kulit, dan 3,69 ppm pada daging, dapat meningkatkan kualitas warna ikan sumatra albino. Hal tersebut diindikasikan dengan menurunnya nilai L=60,83%, meningkatnya nilai C=20,57%, dan mempertahankan nilai H=87,09°.
Ploidy level determination in genetically modified polyploid striped catfish Pangasianodon hypophthalmus Sauvage, 1878 based on the number of nucleoli per cell Muhammad Sami Daryanto; Odang Carman; Dinar Tri Soelistyowati Soelistyowati; Rahman Rahman
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.405

Abstract

The variation in the maximum number of nucleoli per cell in diploid and tetraploid striped catfish Pangasianodon hypophthalmus Sauvage, 1878 in attempts to verify the validity of nucleoli counting as an indirect method for polyploidy identification in fish. The aims of this research is to determine ploidy level of striped catfish based on maximum number of nucleoli per cell. Diploid striped catfish was produced by fertilizing eggs without thermal-shock and tetraploid fish was obtained by fertilizing eggs and applying thermal-shock induction with 4oC for 25 minutes at zygotic age 28 minutes after fertilization prior to first cleavage stage of zygote. The hatching rate of diploid group and tetraploid group were 81,35±0,73% and 3,39±1,78% and survival rate during 15 days rearing were 88,67±5,25% and 83,33±5,73%, respectively. The frequency of one, two, three, and four nucleoli per cell were counted based on each sample observation of 450-550 cells. Cells of diploid individuals had one, and maximum two nucleoli per cell, while tetraploid there were one, two, three, and maximum four nucleoli per cell. Anomaly in the silver-stained appearance at the maximum number of three nucleoli per cell indicated tetraploid individuals as verified by chromosome counting method. Ploidy level determination of striped catfish using the number of nucleoli per cell has a potential for rapid identification. Abstrak Penentuan variasi jumlah maksimum nukleolus per sel pada individu diploid dan tetraploid patin siam Pangasianodon hypophthalmus Sauvage, 1878 dilakukan dalam upaya verifikasi ketepatan penghitungan nukleolus sebagai metode tidak langsung dalam identifikasi ikan poliploid. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat ploidi ikan patin siam berdasarkan jumlah maksimum nukleolus per sel. Diploid patin siam dihasilkan melalui fertilisasi buatan antara telur dan sperma tanpa kejutan suhu sedangkan tetraploid patin siam dihasilkan melalui fertilisasi antara telur dan sperma serta di induksi menggunakan kejutan suhu 4oC dengan durasi kejutan 25 menit pada umur zigot 28 menit setelah fertilisasi sesaat sebelum mitosis I. Persentase penetasan kelompok perlakuan diploid 81,35±0,73% dan kelompok perlakuan tetraploid 3,39±1,78%. Sintasan kelompok perlakuan diploid 88,67±5,25% dan kelompok tetraploid 83,33±5,73% selama 15 hari pemeliharaan. Frekuensi satu, dua, tiga dan empat nukleoli per sel dihitung berdasarkan pengamatan 450-550 sel setiap individu yang diamati. Sel individu diploid memiliki satu dan maksimum dua nukleoli per sel, sedangkan individu tetraploid memiliki satu, dua, tiga, dan maksimum empat nukleoli per sel. Anomali muncul melalui pewarnaan perak nitrat pada jumlah maksimum tiga nukleoli per sel menunjukkan individu tersebut tetraploid yang diverifikasi menggunakan metode penghitungan kromosom. Penentuan ploidi pada ikan patin siam menggunakan penghitungan jumlah nukleolus per sel memiliki potensi dalam identifikasi secara cepat.
The effectiveness of LED light spectrum exposure on growth and color performance of orange clownfish, Amphiprion percula (Lacèpède, 1802) juvenile Ris Dewi Novita; Kukuh Nirmala; Eddy Supriyono; Idil Ardi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.410

Abstract

Orange clownfish is one of the most desired marine ornamental fish by global market due to the orange color on it. The obstacles of the clownfish farming is the changes of the orange color on clownfish. Manipulation of the light spectrum exposure may affect the amount of chromatophore, that can change the color of clownfish become brighter. The present study was aimed at determining an appropriate spectrum of LED light toward growth and color quality of Amphiprion percula juvenile farming. The study was conducted in five treatments with three replication. The treatment consists of four types of LED light with different wavelengths i.e., white (P), red (M), green (H) and blue (B) with 12 hours and control. Clownfish with an average body weight of 0.91±0.19 g and length of 3.28±0.24 cm were used in this study. The result after 60 days showed that the blue LED light give the best glucose levels of 40.00±2.65 mg dL-1, malondialdehyde levels of 9.30±0.29 nmol mL-1, specific growth rate of 1.71±0.05% and feed efficiency of 78.23±1.97%. The best color quality parameters on blue LED light treatment with the Toca color finder (TCF) score reach the orange color on the dorsal, caudal and anal, RGB ratio on the color of the dorsal, caudal and anal each of 64.59±1.00%, 68.12±0.74% and 72.56±0.20% as well as the number of chromatophore each of 346±10 cells/ 0.1 mm-2. The spectrum blue LED light was able to result the growth and quality of best color for clownfish Amphiprion percula juvenile. Abstrak Ikan badut Amphiprion percula merupakan ikan hias air laut yang diminati pasar global ikan hias karena memiliki daya tarik tersendiri pada warna jingga yang dimilikinya. Ikan badut hasil budi daya memiliki kualitas warna jingga yang cenderung memudar. Penggunaan manipulasi spektrum cahaya dalam sistem budi daya dapat memengaruhi perubahan jumlah kromatofor yang dapat meningkatkan warna ikan menjadi terang. Tujuan penelitian ini adalah menentukan spektrum cahaya lampu LED yang tepat terhadap pertumbuhan dan kualitas warna yuwana ikan badut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pada lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas empat jenis spektrum cahaya lampu LED dengan panjang gelombang berbeda yakni putih (P), merah (M), hijau (H) dan biru (B) dengan lama penyinaran 12 jam dan kontrol. Rerata panjang total awal ikan uji adalah 3,28±0,24 cm dan bobot 0,91±0,19 g. Hasil penelitian selama 60 hari pemeliharaan menunjukkan bahwa parameter respons fisiologis dan pertumbuhan terbaik adalah pada perlakuan lampu LED biru dengan kadar glukosa sebesar 40,00±2,65 mg dL-1, kadar malondialdehyde (MDA) sebesar 9,30±0,29 nmol mL-1, laju pertumbuhan spesifik (LPS) sebesar 1,71±0,05% dan efisiensi pakan (EP) sebesar 78,23±1,97%. Parameter kualitas warna terbaik pada perlakuan lampu LED biru dengan skor dalam Toca color finder (TCF) mencapai warna jingga pada bagian dorsal, caudal dan anal, red,green and blue (RGB) ratio pada warna bagian dorsal, caudal dan anal masing-masing sebesar 64,59±1,00%, 68,12±0,74%, dan 72,56±0,20% serta jumlah kromatofor sebesar 346±10 sel/ 0,1 mm-2. Spektrum cahaya lampu LED biru menghasilkan pertumbuhan dan kualitas warna terbaik pada yuwana ikan badut Amphiprion percula.
Effect of thyroxine and rGH hormone recombinant on growth and survival goldfish larvae, Carassius auratus (Linnaeus, 1758) Erlangga Erlangga; Zulfikar Zulfikar; Hariyati Hariyati
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.431

Abstract

Slow growth is obstacles to achieving the target of goldfish production (Carassius auratus auratus). The process of metabolism and growth in fish is influenced by hormonal factors. This research was conducted in February-March 2016 at Hatchery and Aquaculture Technology Laboratory Aquaculture Study Program of Faculty of Agriculture University of Malikussaleh. This study aims to examine the effect of thyroxine (T4) and hormone recombinant Growth Hormone (rGH) hormone by immersion method with different doses on growth and survival of goldfish larvae. The experimental method using a complete non factorial randomized design with four three replication treatments. The treatment is: A= control, B= T4 0.05 mgL-1 + rGH 5 mgL-1, C= T4 0.1 mgL-1 + rGH 10 mgL-1, D = T4 0.15 mgL-1 + rGH 15 mgL-1. Result of research with giving of recombination of hormone T4 and hormone rGH with different dose have an effect on to decrease of yolk volume, egg yolk absorption rate, growth and survival with p value <0,05 . The best treatment is in treatment D (T4 0, 15mgL-1 + rGH 15 mg L-1) with yolk volume and egg yolk absorption rate for 36 hours, growth weight: 3.09 mg, growth length: 1.75 mm, and 81% stability. The values of waters quality the study was 27-28 oC, pH 7.0-7.4, dissolved oxygen 5-6.1 ppm and ammonia 0.1073-0.1793 ppm, still support optimal fish growth for the goldfish. This research is expected to accelerate the growth process of the goldfish larvae with excellent syntax value. Abstrak Pertumbuhan yang lambat merupakan kendala dalam mencapai target produksi ikan maskoki (Carassius auratus auratus). Proses metabolisme dan pertumbuhan pada ikan dipengaruhi oleh faktor hormonal. Penelitian ini dilaksa-nakan pada bulan Februari-Maret 2016 di Laboratorium Pembenihan dan Teknologi Budidaya, Perairan Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Malikussaleh. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pe-ngaruh pemberian hormon tiroksin (T4) dan hormon rGH (recombinant Growth Hormone) melalui metode peren-daman dengan dosis yang berbeda terhadap pertumbuhan dan sintasan larva ikan maskoki. Metode penelitian ekspe-rimental dengan rancangan acak lengkap non faktorial dengan empat perlakuan tiga ulangan. Adapun perlakuannya adalah: A= Kontrol, B= T4 0,05 mgL-1+ rGH 5 mgL-1, C= T4 0,1 mgL-1+ rGH 10 mgL-1, D = T4 0,15 mgL-1+ rGH 15 mgL-1. Hasil penelitian dengan pemberian rekombinasi hormon T4 dan hormon rGH dengan dosis yang berbeda ber-pengaruh terhadap penurunan volume kuning telur, laju penyerapan kuning telur, pertumbuhan dan sintasan dengan nilai p< 0,05. Perlakuan terbaik terdapat pada perlakuan D (T4 0,15 mg L-1 + rGH 15 mgL-1) dengan hasil volume kuning telur dan laju penyerapan kuning telur selama 36 jam, pertumbuhan bobot : 3,09 mg, pertumbuhan panjang : 1,75 mm, dan sintasan : 81 %. Nilai kualitas air selama penelitian yaitu suhu 27-28 oC, pH 7,0-7,4, oksigen terlarut 5-6,1 mgL-1 dan amonia 0,1073-0,1793 mgL-1, masih mendukung pertumbuhan ikan yang optimal bagi ikan mas koki. Penelitian ini diharapkan mampu mempercepat proses pertumbuhan larva ikan mas koki dengan nilai sintasan yang sangat baik.
The effectiveness of the papaya seed (Carica papaya L) for reproductive function of Tilapia, Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) Munawar Khalil; Yunidar Yunidar; Mahdaliana Mahdaliana; Munawwar Khalil; Rachmawati Rusydi; Zulfikar Zulfikar
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 19 No 1 (2019): February 2019
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v19i1.434

Abstract

Introduction fish in Indonesia has been negatively impact to the water ecology, such as declining in the number of native fish species. Handling the negative impacts of introduced fish can be minimized by reducing fertility rates through the use of plant compound extracts. This study was conducted in May - June 2016 which aimed to assess the effectiveness of the papaya seed flour (Carica papaya L) for the reproductive function of introduction fish Oreochromis niloticus. The research design used in this study was completely randomized design, non-factorial with five treatments and three replications, namely A: control (without giving the flour), B: 40 mg, C: 50 mg, D: 60 mg, E: 70 mg of papaya seeds flour mixing in 100 grams of artificial feed. The fish sample used were 45 mature tilapia fish, 4-5 months old with 200 g in weight for female and 250 gram in weight for male. Parameters measured in this research were feed consumption level, fecundity, fertilization rate, hatching rate and sperm morphological structures. The results of this study indicated that the papaya seed flour gave the multiple effect on the sperm abnormality and decreased the motility level of sperm. Statistical analysis showed that the application of papaya seed flour gave significantly different effect (P <0.05) between treatments on percentage of fertilization level and hatching rate parameters, but showed not significantly different on survival rate parameter where P> 0.05. The lowest sperm motility rate was found in treatment E, which was 00.45 ".032 /second. The average eggs number in this study ranged from 994,33 to 1.416 grains, whereas the lowest fertilization level and the lowest hatching rate was in treatment E with the percentage 58.58% and 99.24%. Abstrak Ikan introduksi di Indonesia telah menimbulkan beberapa dampak negatif terhadap ekologi perairan, diantaranya adalah menurunnya spesies ikan asli. Penanganan dampak negatif ikan-ikan introduksi dapat diminimalkan dengan cara menurunkan angka fertilitas melalui penggunaan ekstrak senyawa tumbuhan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Juni 2016 yang bertujuan untuk menganalisis efektivitas tepung biji pepaya (Carica papaya L) dalam menurunkan fungsi reproduksi ikan nila Oreochromis niloticus. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap non-faktorial dengan lima perlakuan tiga ulangan yaitu A: Kontrol (tanpa pemberian tepung), B: Pemberian 40 mg, C: 50 mg, D: 60 mg, E: 70 mg tepung biji pepaya dalam 100 g pakan buatan. Ikan sampel yang digunakan adalah induk ikan nila sebanyak 45 ekor yang berumur 4-5 bulan dengan berat bobot tubuh 200 g untuk induk betina dan 250 g untuk induk jantan. Parameter yang diukur ialah daya konsumsi pakan, jumlah telur (fekunditas), tingkat pembuahan telur, tingkat penetasan telur, dan morfologi sperma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung biji pepaya memberikan efek terhadap abnormalitas sperma dan menurunkan sintasan sperma, dan penurunan tingkat pembuahan telur (fertilitas rendah). Analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian tepung biji pepaya memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) antar perlakuan pada parameter persentase pembuahan dan penetasan telur, namun tidak berbeda nyata terhadap parameter sintasan (P>0,05). Angka motilitas sperma terendah dijumpai pada perlakuan E yaitu 00.45”.032/detik. Jumlah telur pada penelitian ini berkisar rata-rata 994,33-1416 butir dengan nilai pembuahan terendah dan penetasan terendah terdapat pada perlakuan E dengan persentase 58,58% dan 99,24%.

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 22 No 2 (2022): June 2022 Vol 22 No 1 (2022): February 2022 Vol 21 No 3 (2021): October 2021 Vol 21 No 2 (2021): June 2021 Vol 21 No 1 (2021): February 2021 Vol 20 No 3 (2020): October 2020 Vol 20 No 2 (2020): June 2020 Vol 20 No 1 (2020): February 2020 Vol 19 No 3 (2019): October 2019 Vol 19 No 2 (2019): June 2019 Vol 19 No 1 (2019): February 2019 Vol 18 No 3 (2018): October 2018 Vol 18 No 2 (2018): June 2018 Vol 18 No 1 (2018): February 2018 Vol 17 No 3 (2017): October 2017 Vol 17 No 2 (2017): June 2017 Vol 17 No 1 (2017): February 2017 Vol 16 No 3 (2016): October 2016 Vol 16 No 2 (2016): June 2016 Vol 16 No 1 (2016): February 2016 Vol 15 No 3 (2015): October 2015 Vol 15 No 2 (2015): June 2015 Vol 15 No 1 (2015): Februari 2015 Vol 14 No 3 (2014): Oktober 2014 Vol 14 No 2 (2014): Juni 2014 Vol 14 No 1 (2014): Februari 2014 Vol 13 No 2 (2013): Desember 2013 Vol 13 No 1 (2013): Juni 2013 Vol 12 No 2 (2012): Desember 2012 Vol 12 No 1 (2012): Juni 2012 Vol 11 No 2 (2011): Desember 2011 Vol 11 No 1 (2011): Juni 2011 Vol 10 No 2 (2010): Desember 2010 Vol 10 No 1 (2010): Juni 2010 Vol 9 No 2 (2009): Desember 2009 Vol 9 No 1 (2009): Juni 2009 Vol 8 No 2 (2008): Desember 2008 Vol 8 No 1 (2008): Juni 2008 Vol 7 No 2 (2007): Desember 2007 Vol 7 No 1 (2007): Juni 2007 Vol 6 No 2 (2006): Desember 2006 Vol 6 No 1 (2006): Juni 2006 Vol 5 No 2 (2005): Desember 2005 Vol 5 No 1 (2005): Juni 2005 Vol 4 No 2 (2004): Desember 2004 Vol 4 No 1 (2004): Juni 2004 Vol 3 No 2 (2003): Desember 2003 Vol 3 No 1 (2003): Juni 2003 Vol 2 No 2 (2002): Desember 2002 Vol 2 No 1 (2002): Juni 2002 Vol 1 No 2 (2001): Desember 2001 Vol 1 No 1 (2001): Juni 2001 More Issue