Jurnal Elemen
Jurnal Elemen is a media for publishing scientific articles in the field of mechanical and automotive engineering which are published regularly in June and December each year. All articles presented are the results of research, conceptual ideas and reviews in the field of mechanical and automotive engineering that have never been published before. Jurnal Elemen managed by P3M in the Tanah Laut State Polytechnic has been ISSN, namely the printed version of ISSN 2442-4471 and online version of ISSN 2581-2661, and for now the Elementary journal has been indexed in ISJD (Indonesian Scientific Journal Database) in PDII-LIPI . then it can be indexed and accredited at SINTA, DOAJ and Scopus.
Articles
18 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4 No 2 (2017)"
:
18 Documents
clear
PENGARUH ELEKTRODA TEMBAGA PADA DC THERMAL PLASMA DAN VARIASI WAKTU PROSES TERHADAP LAJU PRODUKSI ALUMINA
Novi Nur Hamimah;
Imam Sholahuddin;
Salahuddin Junus;
Santoso Mulyadi;
Agung Budi Cahyono
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (184.499 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.61
Alumina merupakan material yang saat ini mulai dikembangkan karena memiliki banyak manfaat terutama dalam bidang industri. Alumina dalam bentuk serbuk dapat digunakan sebagai katalis dalam proses pengecoran, lapisan atau coating dan bahan komposit. Pembuatan serbu k alumina dengan metode DC Thermal Plasma mulai banyak dikembangkan oleh indusri. Metode ini diyakini lebih efisien dan hasil produksi yang lebih banyak. Prinsip DC thermal plasma adalah menguapkan serbuk aluminium menjadi aluminium oksida dengan melewatkannya pada api plasma dalam tabung reaktor dengan suhu yang dapat mencapai 40000 K. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui laju produksi serbuk alumina yang dihasilkan. Waktu proses aliran serbuk aluminium digunakan sebagai variasi untuk mendukung tercapainya laju produksi yang sesuai. Penggunaan elektroda tembaga pada torch plasma dapat meningkatkan kemurnian serbuk alumina dengan kadar 96%, disamping itu pemakaian elektroda tembaga lebih awet, mudah didapatkan dan ekonomis. Variasi waktu yang digunakan yaitu 10, 20, 30 dan 40 detik sedangkan laju aliran oksigen 55 scfh dan aliran serbuk 10 scfh. Hasil menunjukkan bahwa variasi terendah yaitu 10 detik mampu menghasilkan serbuk alumina rata-rata 0.446 gram dengan laju produksi 0.115 gram/detik sedangkan va riasi waktu 40 detik mampu menghasilkan serbuk alumina rata-rata 1.776 gram dengan laju produksi sebesar 0.44 gram/detik.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi variasi waktu proses dapat meningkatkan laju produksi serbuk alumina dan penggunaan elektroda tembaga dapat menghemat pemakaian elektroda secara signifikan sehingga laju produksi juga semakin meningkat.
PENGARUH PANJANG PIPA KATALIS PADA HCS (HYDROCARBON CRACKING SYSTEM) TERHADAP PERFORMA MOTOR BAKAR 4-LANGKAH
Danang Yudistiro;
Nasrul Ilminnafik;
Masruri Wardhana
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (235.559 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.51
HCS (Hydrocarbon Cracking System) merupakan suatu inovasi untuk meningkatkan torsi dan daya bakar. dengan pipa katalis tembaga yang digunakan sebagai alat untuk mempercepat proses cracking bahan bakar yang masuk pada ruang bakar. Penelitian ini bertujuan u ntuk memperoleh data perbandingan unjuk kerja motor bakar 4 langkah dengan variasi panjang pipa katalis dengan kondisi standarts sebagai pembanding.dalam penelitian dilakukan dengan pengujian yaitu torsi. Dari hasil penelitian yang dilakukan Daya maksimal motor terjadi pada kondisi tanpa katalis dengan nilai 11.9 Hp pada putaran mesin 9552 rpm, sedangkan dengan penambahan daya mengalami penurunan karena bahan bakar yang masuk pada ruang bahan tidak sepenuhnya berbentuk cair sehingga penurunan efisiensi vo lumetrik juga disebabkan karena volume bahan bakar yang dibutuhkan lebih besar dalam campuran asupan. Nilai torsi mengalami peningkatan dengan penggunaan pipa katalis, torsi teringgi terjadi pada kondisi pipa katalis dengan panjang 200 mm dengan torsi sebesar 9,32 Nm pada RPM 3040. Untuk katalis dengan panjang 150 mm dan 100 mm nilai torsi yang didapat adalah 9,23 Nm dan 9,16 Nm, sedangakan pada kondisi standart torsi hanya 9,13 Nm. Proses cracking akan terjadi pemecahan molekul - molekul senyawa hidrokarbon yang besar menjadi molekul - molekul senyawa yang lebih kecil, sehingga adanya proses craking tersebut membuat campuran bahan bakar dan udara menjadi lebih ideal dan mudah terbakar pada ruang bakar. Dengan komposisi bahan bakar yang ideal akan meningkatkan pembakaran dan nilai torsi maksimum
ANALISA GERAKAN KAPAL IKAN BERCADIK SEMI-CIRCULAR DI PERAIRAN PUGER JEMBER
Hery Indria Dwi Puspita
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (553.911 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.57
Kapal ikan di pelabuhan Puger terdiri dari beberapa jenis, salah satunya adalah kapal ikan bercadik. Bentuk dan bahan dari kapal ikan bercadik di Puger hanya terbuat dari bambu, sehingga perlu adanya pengembangan bentuk cadik bambu menjadi bentuk cadik semi-circular untuk menambah kualitas hidrodinamika yang lebih baik. Bentuk pengembangan kapal ikan harus sesuai dengan kondisi di Perairan Puger dan harus memenuhi kapasitas dari faktor keamaaan dan hidrodinamika dari kapal ikan bercadik di Perairan Puger Jember. Oleh karena itu, diperlukan analisa gerak (seakeeping) dari kapal ikan bercadik. Analisa gerak (seakeeping) kapal ikan bercadik tersebut u ntuk mengetahui kemampuan kapal bertahan dalam kondisi berbahaya saat beroperasi. Kemudian, dari analisa seakeeping dari kapal ikan bercadik semi-circular dapat diketahui peforma dari pengembangan kapal ikan bercadik semi-circular dengan mengadaptasi ukuran utama dari kapal ikan yang telah ada di Puger. Metode yang digunakan adalah dengan pengukuran langsung dimensi utama dari bentuk body dari kapal ikan di perairan Puger Jember. Selanjutnya hasil pengukuran tersebut digambar kembali dengan mengganti bentuk cadik menjadi bentuk cadik semi-circular, dan kemudian dilakukan evaluasi seakeeping kapal ikan bercadik semi-circular. Berdasarkan hasil evaluasi seakeeping kapal memiliki kriteria gerakan heave, pitch, dan roll yang lebih baik dan sesuai dengan kondisi perairan di Puger.
OPTIMASI MULTI RESPON MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI -WEIGHTED PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (WPCA) PADA PROSES BUBUT MATERIAL ST 60 DENGAN PENDINGINAN MINIMUM QUANTITY LUBRICATION (MQL)
M. Abdul Wahid;
Dian Ridlo P;
Abdul Rohman
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (457.083 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.47
Proses bubut merupakan proses pemesinan dengan menggunakan mesin bubut, yang menghasilkan komponen-komponen mesin yang berbentuk silindris. Pada Proses Bubut karakteristik kualitas yang kritis adalah kekasaran permukaan dan laju pengerjaan bahan. Karakteristik kualitas tersebut dipengaruhi oleh parameter proses pemesinan seperti kecepatan potong, gerak makan, kedalaman potong dan jenis cairan pendingin. Maka diperlukan suatu optimasi untuk mendapatkan kekasaran permukaan yang minimum dan laju pengerjaan bahan yang maksimum. Proses bubut material ST 60 menjadi objek pada penelitian ini . Kombinasi metode Taguchi dan Weighted Principal Component Analysis (WPCA) digunakan sebagai metode optimasi. Rancangan percobaan yang digunakan adalah matriks ortogonal L27. Seting Parameter proses yang ditentukan adalah kecepatan potong, gerak makan, kedalaman potong dan jenis cairan pendingin. Parameter-parameter tersebut masing-masing memiliki 3 level. Kekasaran permukaan memiliki karakteristik respon yang optimal adalah semakin kecil semakin baik dan laju pengerjaan bahan memiliki karakteristik respon semakin besar semakin baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini dapat menurunkan kekasaran permukaan serta meningkatkan laju pengerjaan bahan secara siginifikan.
RANCANG BANGUN PENANDA KECEPATAN SEPEDA MOTOR LISTRIK BERBASIS OPTICAL SENSOR
Sukma Firdaus;
Kurnia Dwi Artika;
Rahmat Galih Suhartono
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (334.154 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.62
Meningkatnya jumlah kendaraan mengakibatkan kapasitas jalan menjadi tidak memadai lagi, dimanadampak dari peningkatan jumlah kendaraan ini mengakibatkan meningkatnya angka kecelakaanyang disebabkan oleh lalainya pengendara, yang setiap tahunnya terus bertambah. seringkalipengendara lupa akan kecepatan kendaraan yang mengakibatkan peluang kecelakaan menjadi besar.Oleh karena itu pada tugas akhir ini dibuatlah suatu alat yang dapat menandakan kecepatan apabilapengendara lupa akan kecepatan kendaraan, alat ini akan memberitahukan pengendara dalamkecepatan tertentu. Alat ini dibuat dengan memanfaatkan Optical Sensor yang digunakan untukmembaca kecepatan kendaraan dan diproses oleh mikrokontroler yang kemudian akanmemerintahkan LED, relay dan buzzer untuk memberitahukan kepada pengendara akan kecepatanpengendara berdasarkan pembacaan pada rotor. Rotor terdiri dari 18 lubang dengan ukuran lubangsetiap 20º, dan dalam satu meter terdapat 0,69 putaran roda dengan diameter roda 46 cm, denganselisih pembacaan lebih besar Digital tachometer di banding optical sensor yaitu 2,87 RPM.
FLAMMABILITY LIMIT GAS LPG DAN UDARA PADA CYLINDRICAL MESO-SCALE COMBUSTOR DENGAN SUDDEN EXPANSION
Puranggo Ganja Widtyo;
Digdo Listyadi Setyawan;
Gaguk Jatisukamto;
Rachmad Dwi Fitriansyah
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (316.84 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.52
Nyala api pada sebuah combustor skala meso mempunyai batas nyala yang berbeda sesuai dengan jenis bahan bakar, debit bahan bakar dan udara serta geometri combustor. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti batas nyala api (flammability limit) pada combustor skala meso dengan sudden expansion. Alat penelitian yang digunakan adalah combustor dengan diameter dalam inlet 4,5 mm, diameter dalam sudden expansion 6 mm dan panjang saluran sudden expansion 20 mm, mixer dan pisco tube serta dengan jenis bahan bakar LPG mix. Parameter penelitian meliputi debit bahan bakar dan debit udara dimana debit bahan bakar dan udara pada combustor dicari titik terendah dan tertinggi untuk mampu nyala. Data debit bahan bakar dan udara tersebut digunakan untuk membuat grafik flammability limit yang merupakan hubungan dari rasio ekuivalen dan kecepatan reaktan. Hasil penelitian menunjukkan rasio ekuivalen terendah pada angka ф = 0,80 dengan kecepatan reaktan V = 12 cm/s dan rasio ekuivalen tertinggi ф = 1,09 dengan kecepatatn reaktan V = 17,98 cm/s. Batas kecepatan reaktan tertinggi V = 19,84 cm/s dan batas kecepatan terendah V = 11,57 cm/s. Grafik flammability limit yang terbentuk pada combustor dengan diameter dalam saluran sudden expansion 6 mm yang menggunakan bahan bakar gas LPG berada pada zona cenderung miskin, karena mempunyai rentang rasio ekuivalen dari ф = 0,80 sampai ф = 1,09.
PENGARUH PERUBAHAN TEMPERATUR ATMOSFER TERHADAP JARAK TERBANG MAKSIMUM PESAWAT N219 PADA FASE TERBANG JELAJAH
Gita Kusumastuti;
Hary Sutjahjono;
Dedi Dwilaksana
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (310.761 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.58
Pesawat N219 sebagai pesawat yang masih dalam masa uji terbang perlu dilakukan evaluasi dan penyempurnaan di berbagai bidang, salah satunya adalah bidang performance. Bidang ini mengkaji prestasi terbang seperti range maksimum yang dapat ditempuh pesawat dengan menggunakan kapasitas bahan bakar yang tersedia. Untuk mengetahui pengaruh kondisi atmosfer terhadap prestasi terbang maka pada penelitian ini diberikan variasi temperatur atmosfer yaitu pada kondisi ISA 0, ISA+10, ISA+20, dan ISA+30. Fase terbang jelajah (cruise) merupakan fokus kajian dalam penelitian ini karena fase tersebut adalah fase dominan baik dalam hal jarak, waktu, maupun konsumsi bahan bakar. Metode yang digunakan adalah metode specific fuel consumption. Metode ini digunakan untuk menentukan kecepatan yang dapat menghasilkan range maksimum. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh dari perubahan temperatur atmosfer terhadap range maksimum pesawat N219 pada fase terbang jelajah. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa semakin besar peningkatan temperatur terhadap kondisi ISA 0 maka range maksimum yang dapat dicapai oleh pesawat juga semakin meningkat. Pada kondisi ISA 0 range maksimum yaitu 1 946,48 km dan terus mengalami peningkatan hingga ISA+30 yaitu sebesar 2 224,36 km. Hal ini terjadi karena dengan meningkatnya temperatur maka massa jenis udara semakin menurun, menyebabkan specific air range meningkat, sehingga range maksimum pesawat juga meningkat.
PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKAR PREMIUM DAN PERTALITE TERHADAP EMISI GAS BUANG SEPEDA MOTOR EMPAT TAK SATU SILINDER 108 CC
Kurnia Dwi Artika;
Rudiansyah Rudiansyah
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (425.828 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.48
Kontribusi emisi gas buang sepeda motor sebagai sumber polusi udara sebesar 60–70%, sangat memberipengaruh terhadap kehidupan. Seiring dengan meningkatnya volume kendaraan sepeda motor yang menambah parah permasalahan polusi dan kemacetan baik di desa maupun di ibukota. Salah satu langkah alternative untuk mengatasi permasalahan tingkat polusi udara yaitu dengan menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Meski dari segi harga relatif lebih mahal, namun dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh penggunaan bahan bakar premium dan pertalite terhadap karakteristik dari emisi gas buang yang terkandung (HC, CO, CO2 , λ) dengan menggunakan sepeda Motor Honda Beat 108 cc pada tiga variasi tahun pembuatan yaitu tahun 2010, 2011, dan 2012. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kualitas emisi gas buang pertalite sebesar 18 % lebih baik dari pada penggunaan bahan bakar premium, dan hasil ini masih berada di bawah nilai ambang batas emisi gas buang kendaraan berdasarkan keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2006.
RANCANG BANGUN MESIN PEMBUAT PAKAN KAMBING FERMENTASI (I-GITA)
Anton Kuswoyo
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (412.998 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.63
Peternakan kambing di Kabupaten Tanah Laut memiliki potensi cukup besar. Jumlah peternaknya tersebar hampir di seluruh kecamatan. Namun umumnya masih dikelola secara tradisional. Peternak hanya mampu memelihara belasan ekor kambing saja. Hal ini karena kemampuan mencari pakan kambing (rumput) terbatas. Umumnya peternak mencari pakan kambing menggunakan sabit, atau istilahnya ngarit. Ada beberapa sebagian yang memelihara kambing dalam jumlah besar, namun pakannya juga dicari dengan cara ngarit. Kekurangan mencari pakan dengan cara ngarit adalah memerlukan tenaga manusia, dan harus setiap hari ngarit, kerna rumput tidak bisa disimpan berhari-hari. Guna mengatasi hal tersebut, maka perlu teknologi pembuat pakan kambing yang menghasilkan pakan kambing dalam jumlah banyak dan bisa disimpan dalam jangka waktu lama. I-GITA adalah mesin pembuat pakan kambing fermentasi otomatis. Mesin ini berfungsi untuk membuat pakan kambing melalui proses fermentasi, dilengkapi dengan pengatur putaran mixer yang dirancang otomatis. Pakan kambing fermentasi sangat cocok diberikan kepada ternak kambing skala besar. Disamping nilai gizinya tinggi, pakan kambing hasil fermentasi juga dapat disimpan dalam jumlah banyak selama berbulan-bulan. Sehingga peterkan kambing tidak perlu mencari rumput dengan sabit (ngarit) setiap hari. I-GITA menjadi solusi tepat bagi peternak kambing modern. Ternak kambing tanpa ngarit, dan bisa dilakukan secara besar-besaran. Keunggulan I-GITA adalah: Portabel, praktis, ekonomis, dan dapat diproduksi massal.
PENGARUH POSISI VACUUM GATE TERHADAP MATERIAL TERBUANG PADA PROSES VACUUM ASSISTED TRANSFER MOLDING
Rika Dwi Hidayatul;
Ahmad Syuhri;
Aris Zainul Mutaqqin;
Lazuardi Rahmadhani
ELEMEN : JURNAL TEKNIK MESIN Vol 4 No 2 (2017)
Publisher : POLITALA PRESS
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (252.196 KB)
|
DOI: 10.34128/je.v4i2.53
Vacuum Assisted Resin Transfer Molding merupakan salah satu metode pembuatan produk dimana resin sebagai matriks dihisap dengan tekanan vacuum didalam cetakan dengan bagging trasparan. Produk dari hasil Vacuum Assisted Resin Transfer Molding lebih tipis, permukan rata, ketebalan sama dan padat dibandingkan dengan metode Hand Lay Up namun membutuhkan proses Infuse lebih lama. Tujuan dari penelitian dalam karya ilmiah ini adalah untuk mengamati pengaruh dari posisi Vacuum Gate terhadap banyaknya material terbuang dalam proses Infuse suatu produk. Variasi posisi Vacuum Gate diletakan dalam tiga posisi berbeda 60%, 80% dan 100% dari total panjang cetakan serta tekanan Vacuum sebesar -0.6 Bar, -0.8 Bar dan -1.0 Bar menghasilkan material terbuang yang terkumpul dalam Trap Pot seberat 11.3 Gram pada posisi Vacuum gate berada pada 80% dari panjang total cetakan dan tekanan Vacuum sebesar -0.8 Bar. Hasil penelitian menunjukan bahwa posisi Vacuum Gate terbaik untuk meminimaslisir material terbuang adalah pada posisi 80% dari total panjang cetakan, disebabkan karena pada posisi tersebut terbukti mengurangi terjadinya perbedaan aliran resin yang mengalami Infuse, serta dengan tekanan -0.8 Bar adalah tekanan optimal dalam penelitian ini, hal ini dikarenakan apabila dengan tekanan yang terlalu besar menyebabkan aliran resin tidak merata melainkan langsung menuju Vacuum Gate, bila dengan tekanan terlalu kecil berakibat pada waktu Infuse yang lebih lama sehingga terjadi Curing terlebih dahulu sebelum proses Infuse selesai. Dengan memvariasikan tekanan vacuum serta posisi Vacuum Gate menunjukan rekayasa berhasil dilakukan untuk meminimalisir material terbuang dalam pembuatan suatu produk.