cover
Contact Name
aqlania
Contact Email
aqlania@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqlania@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Aqlania
ISSN : 20878613     EISSN : -     DOI : -
The Aqlania Journal is a scientific journal that focuses on the publication of research results in religious philosophy, humanitarian and environmental studies. This journal is published periodically twice a year in June and December. The Aqlania journal is open to researchers, practitioners and observers of religious, human and environmental philosophy studies. This journal is managed by the Department of Aqeedah and Islamic Philosophy Philosophy Faculty of Ushuluddin and Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No 2 (2020): December" : 5 Documents clear
Konsep Utilitarianisme John Stuart Mill Asep Saepullah
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 2 (2020): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i2.2961

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana konsep etika utilitarianisme John Stuart Mill guna mengetahui relevansinya terhadap ilmu-ilmu atau pemikiran keislaman. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dihadapkan pada dua tindakan, yaitu tindakan baik dan tindakan buruk yang biasa disebut sebagai sistem ethics. Ethics atau etika sendiri memiliki banyak ajaran atau pun teori, salah satunya adalah teori teleological yang membahas secara mendalam perihal baik-buruknya perbuatan manusia didasarkan pada tujuan akhir. Teleological ethics kemudian melahirkan aliran yang disebut utilitarianisme, yaitu paham tentang baiknya suatu perbuatan apabila membawa kebahagiaan terbesar bagi banyak orang. Persoalan lain pun muncul, ketika utilitarianisme dianggap ingin menyamakan kebaikan dengan manfaat, yakni adanya tindakan yang lebih mementingkan pada egoisme sendiri dibanding kepentingan kelompok. Maka muncullah John Stuart Mill yang menyempurnakan sekaligus memperhalus ajaran utilitarianisme. Walaupun etika yang dianut Mill itu hedonistik, namun Mill tetap memegang nilai-nilai kebenaran untuk bertindak egois, demi mendapatkan lebih banyak kebahagiaan untuk kepentingan orang banyak. Olehsebab itu, penulis berupaya menjelaskan bagaimana relevansinya terhadap ilmu-ilmu atau pemikiran keislaman melalui pendekatan historis-filosofis. Melalui pendekatan ini penulis menyimpulkan bahwa perbuatan atau tingkah laku yang bertujuan untuk membahagiakan banyak orang, seperti yang ada dalam utilitarianisme John Stuart Mill mampu menghadirkan nilai-nilai ajaran agama yang humanis, tidak terkecuali dalam ilmu-ilmu atau pemikiran keislaman, seperti teologi, kalam, fiqh, tasawuf, filsafat, tafsir, hadits, dan lain sebagainya.
Relativisme Determinatif Widia Febriana; Tayo Sandono
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 2 (2020): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i2.3550

Abstract

Manusia hadir di dunia dilengkapi dengan akal, naluri, dan wahyu. Meski begitu, belum dirumuskan bagaimana hubungan antara dua dari ketiga modal tersebut bagi manusia dalam mencapai tujuan hidup yang optimal. Tujuan artikel ini adalah mengembangkan kerangka kerja untuk mengoptimalkan peran akal dan wahyu dalam membimbing kehidupan manusia di dunia. Metode intuisi linguistik dari filsafat analitik digunakan untuk mengeksplorasi pengetahuan peneliti dalam mengembangkan kerangka kerja. Intuisi linguistik peneliti menghasilkan tiga komponen: akal, sistem, dan waktu. Akal berasal dari manusia sendiri untuk memahami Al Qur’an dan alam semesta. Sistem tersebut bersumber dari hubungan antara Al Qur’an dan alam semesta sedemikian rupa sehingga masing-masing bekerja untuk menciptakan pemahaman yang komprehensif dan muncul. Al Qur’an kemudian memberikan ilmu sehingga ilmu itu sendiri menjadi bagian dari Al Qur’an. Kami menunjukkan contoh bagaimana hubungan ini dapat memecahkan permasalahan jabariyah dan qadariyah dan antara permasalahan empirisme dan rasionalisme lebih baik daripada saat ini. Elemen waktu menjadi elemen ketiga yang memungkinkan terjadinya pergeseran paradigma dalam sistem. Seiring berjalannya waktu, dinamika manusia, sains, dan interpretasi dapat mendukung optimalisasi kehidupan di segala zaman. Kami menyebut model ini relativisme determinatif. Model ini memberikan solusi bagi permasalahan jabariyah dan qadariyah dan antara permasalahan empirisme dan rasionalisme.
Konsep Etika Muhammad Ibn Zakariyya ar-Razi Ali Yazid Hamdani
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 2 (2020): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i2.2738

Abstract

Etika merupakan bagian dari filsafat yang berkaitan dengan nilai baik dan buruk tindakan moral. Dalam sejarah pemikiran filsafat yang dimulai sejak Yunani Kuno, etika tidak terlepas dari perhatian para tokoh pemikir Yunani. Hal ini pun juga berpengaruh pada pemikir setelahnya, khususnya dalam filsafat Islam. Keterhubungan ini menjadi estafet pemikiran terus saja bergulir sehingga pemikir Islam pun memberikan perhatian penuh terhadap etika karena berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Berbagai pemikir Islam telah membentuk wajah dan konsep etikanya. Salah seorang diantaranya adalah Muhammad Ibn Zakariyya ar-Razi yang merupakan seorang dokter sekaligus filosof yang sangat cerdas dan produktif. Dalam hal ini, komsep etika ar-Razi setidaknya ada tiga aliran yang sangat memperngaruhi pola pemikiran konsep etikanya. Diantaranya; Epicurianisme, yang cenderung pada persoalan psikis, Aristotelianisme, dengan konsep keseimbangan diantara titik ekstrem (ta’dil al-af’al-nufus), dan naturalisme, yang menekankan pada semua kriteria baik buruknya tindakan moral sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri baik secara lahir maupun batin. Ketiganya melebur satu membentuk konsep etika yang baru dengan pemikran orinalitas ar-Razi sendiri.
The Integration Beetwen Religion and Philosophy According to Ibn Thufail and Ibn Rushd Fahim Khasani
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 2 (2020): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i2.2694

Abstract

Some scholars used to believe that Religion and Philosophy are conflictual, disharmonious and impossible to integrate. This opinion comes from two groups; textualists who do not care about philosophy and philosophy enthusiasts who ignore the creed. Both of them cannot be expected to contribute to the people in terms of developing knowledge and advancing knowledge. Then, came a third party who carefully saw the correspondence between Religion and Philosophy, even though the two could not be separated from each other. This simple article intends to present the efforts of two great philosophers from the Maghrib; Ibn Thufail (d 581 H) and Ibn Rushd (d 595 H) in harmonizing and integrating Religion and Philosophy / Revelation and Intellect / Faith and Science.
Virtue Ethics Aristoteles dalam Kebijaksanaan Praktis dan Politis Bagi Kepemimpinan Islam Raha Bistara
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 11 No 2 (2020): December
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/aqlania.v11i2.3372

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas pemikiran Aristoteles sebagai filosof pasca helenistik. Pemikirannya yang bersifat antroposentris sangat mempengaruhi pemikir muslim yang akan datang. Virtue ethics sebagai etika yang mengatur manusia untuk berbuat bijaksana baik yang bersifat praktis ataupun politis dijadikan landasan dasar seseorang dalam mengambil setiap keputusan. Penelitian ini bersifat kepustakaan dengan menggunakan sumber primer sebagai rujukan utama dan sumber sekunder sebagai data penunjang. Dengan menguaraikan data-data tersebut kita akan mengetahui bagaimana pemikiran Aristoteles berimplikasi begitu sangat luas dalam diri seseorang terutama ketika berkaitan dengan kebijaksanaan. kebijaksanaan ini tidak bisa dijalankan oleh seorang diri, dengan sifat manusia sebagai zoon politicon secara otomatis gagasan virtue ethics yang dicanangkan oleh Aristoteles dapat berjalan dengan baik. Kebijaksanaan ini tidak hanya terjadi di belahan dunia Barat tetapi juga meluas dalam diri manusia orang-orang Timur. Maka secara otomatis virtue ethics sangat mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemimpin muslim baik kebijakan yang bersifat praktis ataupun bersifat politis.

Page 1 of 1 | Total Record : 5