cover
Contact Name
aqlania
Contact Email
aqlania@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aqlania@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jalan Jendral Sudirman No. 30 Panancangan Cipocok Jaya, Sumurpecung, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42118
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Aqlania
ISSN : 20878613     EISSN : -     DOI : -
The Aqlania Journal is a scientific journal that focuses on the publication of research results in religious philosophy, humanitarian and environmental studies. This journal is published periodically twice a year in June and December. The Aqlania journal is open to researchers, practitioners and observers of religious, human and environmental philosophy studies. This journal is managed by the Department of Aqeedah and Islamic Philosophy Philosophy Faculty of Ushuluddin and Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2018): June" : 5 Documents clear
Akal dan Wahyu Badlatul Muniroh
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.16 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2062

Abstract

Perbincangan menganai akal dan wahyu merupakan bagian terpenting dalam aliran teologi Islam, yaitu masalah mengetahui Tuhan dan masalah mengetahui baik dan jahat. Perbincangan tentang masalah ini ternyata menjadi perdebatan panjang di kalangan ulama sejak masa klasik hingga zaman kontemporer. Di antara tokoh ulama klasik yang pemikirannya masih dijadikan rujukan hingga kini ialah al Hujjaj Imam Al Ghazali, sementara di kalangan ulama kontemporer, yang di Indonesia disebut sebagai pakar filsafat Islam ialah Harun Nasution.Tulisan ini berusaha mencari titik singgung dan titik perbedaan antara kedua tokoh di atas, dengan fokus masalah: pengertian akal dan wahyu, pemikiran kedua mengenai akal dan wahyu, serta perbedaan dan persamaan pemikiran keduanya mengenai akal dan wahyu. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pemikiran dua tokoh yang berbeda budaya dan periode, yakni Imam al-Ghazali dan Harun Nasution mengenai akal dan wahyu serta persamaan dan perbedaan antara keduanya. Untuk tujuan itu, tulisan ini menggunakan metode deskriptifkomparatif dengan studi kepustakaan (library research).Pemikiran al-Ghazali lebih cenderung kepada pemikiran aliran Asy’ariyah, berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan hal lainnya diketahui manusia berdasarkan wahyu. Sementara itu Harun Nasution sependapat dengan pemikiran aliran Muktazilah yang lebih mengedepankan akal daripada wahyu. Menurut beliau akal mempunyai kemampuan mengetahui Tuhan, maupun baik dan buruk meski tanpa bimbingan agama.Akal dan wahyu merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dari kedua tokoh ini. Akal merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk binatang, sedangkan wahyu adalah petunjuk bagi akal. Keduanya sama-sama berpegang kepada wahyu, namun berbeda dalam interpretasi mengenai teks ayat-ayat Alquran dan hadits. Perbedaan dalam interpretasi inilah sebenarnya yang menimbulkan aliran-aliran yang berlainan itu tentang akal dan wahyu.
Pemikiran al-Farabi Tentang Politik dan Negara Hesti Pancawati
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.315 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2063

Abstract

menurut Al-Farabi, politik berperan sebagai etika dan swakarsa yang terkait-erat dengan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. Al-Farabi memulai pemikiran politiknya tatkala menyinggung asal-usul dan kemunculan negara atau kota. Menurutnya, masyarakat mucul dari keberadaan persatuan di antara individu-individu yang saling membutuhkan satu sama lain. Tidak seorang pun dapat mencukupi kebutuhannya sendiri-sendiri, baik itu kebutuhan primer maupun sekunder. Pemikiran politik Al-Farabi banyak mendapat pengaruh dari para Filosof Barat, terutama Plato dan Aristoteles. Penggambaran negara utama yang diterapkan oleh Al-Farabi sama dengan konsep Plato. konsep negara utama yang digambarkan Al-Farabi merupakan konsep sebuah negara yang di dalamnya terdapat kebahagiaan yang didapatkan dari hasil kerjasama antar penduduknya. Negara utama tersebut haruslah dipimpin oleh seseorang yang sempurna yang baik secara akhlakmaupun kecerdasannya. Selain Al-Farabi, tentunya banyak filsuf-filsuf Islam lain yang juga turut menyumbangkan pemikiran politiknya, seperti Ibnu Abi’Rabi, Al-Mawardi dan masih banyak yang lainnya, yang masing-masing memiliki konsep yang berbeda-beda.
Hubungan Islam Dan Kristen Di Indonesia Dalam Pandangan Adian Husaini Jumhana Jumhana
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.073 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2064

Abstract

Tulisan ini menyoroti dua masalah utama, yaitu; Pertama, bagaimana hubungan Islam dan Kristen di Indonesia dalam pandangan Adian Husaini? Kedua, bagaimana cara membangun hubungan harmonis Islam dan Kristen di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Islam dan Kristen di Indonesia menurut Adian Husaini dan untuk mengetahui cara membangun hubungan harmonis Islam dan Kristen di Indonsia. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Library Research, yaitu cara pengumpulan data melalui buku-bukuyang releven dengan maslah yang diteliti dan dan literature yang ada kaitannya dengan yang penulis bahas.Dalam pengolahan data ini penulis menguraikan permasalahan dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu mengumpulkan data khusus yang kemudian diambil kesimpulannya yang bersifat umum. Selain itu penulis juga menggunakan metode komparatif, yaitu mengumpulkan data-data yang bersifat umum untuk selanjutnya dianalisis dan diambil kesimpulan yang bersifat khusus.Dari hasil penelusuran atas masalah ini, dapat disimpulkan bahwa menurut Adian Husaini untuk membangun hubungan harmonis Islam dan Kristen di Indonesia, kaum muslimin dan Kristen tetap harus berpegang teguh pada keyakinannya dan harus jujur terhadap ajarannya. Tanpa harus mengobarkan klaim kebenaran tersebut dengan menganggap semua agama sama atau semacamnya.
Sekularisme dan Deprivatisasi Agama di Era Kontemporer Mohamad Hudaeri
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.57 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2060

Abstract

Tulisan ini hendak mengeksplorasi pemikiran Jose Casanova tentang sekulerisme dan deprivatisasi Agama. Casanova menegaskan bahwa sekularisasi pada masyarakat modern tidak menyebabkan agama mengalami kemunduran (secularization as religious decline) atau mengalami privatisasi (secularization as privation). selain itu, menurut Casanova agama mesti dipisahkan dari kehidupan ruang publik sebagai negara. Sekularisasi sebagai diferensiasi menegaskan pembedaan suatu ruang sosial yang menyebabkan agama tidak lagi mendefenisikan “semua realitas” yang mencakup di dalamnya ranah sekular. kemunduran agama lebih merupakan opsi sejarah, dari pada suatu kepastian. Agama akan mengalami kemunduran apabila ia menolak proses diferensiasi modernitas. Kemudian, Apa yang membedakan Protestan di Amerika dan Eropa Barat, menurut Casanova, adalah bahwa di Amerika “tidak pernah ada negara absolut dan kekuasaan gerejawi yang bergabung (caesaropapist state church).
Kebebasan Beragama Dalam Piagam Madinah Syafiin Mansur
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam Vol 9 No 1 (2018): June
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.034 KB) | DOI: 10.32678/aqlania.v9i01.2061

Abstract

Piagam Madinah terbentuk sebagai dokumentasi politik yang paling istimewa dalam sejarah Islam. Piagam ini merupakan konstiusi Negara pertama yang ditulis dalam sejarah pada abad ke-tujuh Masehi yang memuat 47 pasal yang sangat sistematis uraianya dari muqadimah, pembahasan dan penutup. Piagam Madinah ini memuat nilai pembentukan umat, hak asasi, persatuan seagama, persatuan segenap warga negara, golongan minoritas, melindungi negara, pimpinan negara, politik perdamaian. Piagam Madinah sebagai dokumen yang berisi nilai, norma, hukum dan aturan hidup bermasyarakat yang majemuk. serta ajaran dasar akan pengakuan tinggi atas perbedaan etentitas sosial dan politik, perbedaan agama dan keyakinan yang ada dalam kehidupan masyarakat. Piagam Madinah ini juga menjamin dan menlindungi semua elemen kehidupan umat beragama dalam menjalankan ajaran agamanya serta membangun hidup rukun dan damai, toleransi yang saling menghargai dan menghormati serta lemah lembut dan lapang dada sehingga menjadi nilai dasar kebebasan beragama yang toleransi tinggi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5