cover
Contact Name
Ir. Farida Ariyani, M.Sc
Contact Email
jurnal.ppbkp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.ppbkp@gmail.com
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
ISSN : 19079133     EISSN : 24069264     DOI : -
JPBKP is a scientific resulted from research activities on marine and fisheries product processing, food safety, product development, process mechanization, and biotechnology. Published by Research Center for Marine and Fisheries Product Processing and Biotechnology, Ministry of Marine Affairs and Fisheries twice a year periodically in Indonesian language.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023" : 8 Documents clear
Penerimaan Konsumen dan Sifat Fisikokimia Cookies dengan Penambahan Tinta Loligo sp. Mudirta, Mudirta; Pamungkas, Bagus Fajar; Sulistiawati, Septiana; Rusdin, Ilmiani; Mismawati, Andi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.953

Abstract

Cookies adalah jenis biskuit dengan kandungan lemak tinggi sehingga adonannya lembut dan relatif renyah jika pecah dengan tekstur kompak, dan dapat divariasikan. Penambahan tinta cumi Loligo sp. pada cookies merupakan bentuk diversifikasi produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerimaan konsumen dan karakteristik fisikokimia cookies dengan penambahan tinta cumi. Rancangan Acak Lengkap merupakan metode yang dipilih untuk analisis data eksperimen pada penambahan tinta cumi sebanyak 0,25% (P1), 0,50% (P2), 0,75% (P3), dan 1% (P4) secara triplo (untuk proksimat). Komposisi proksimat (warna, kadar abu, lemak, air, protein, dan karbohidrat (by different) serta hedonik (aroma, tekstur, warna, rasa, dan keseluruhan) merupakan indikator yang diamati. Nilai proksimat dianalisis menggunakan ANOVA one way, sedangkan perbedaan perlakuan dianalisis lebih lanjut menggunakan uji Duncan Multiple Range (p0,5). Data hedonik dievluasi melalui uji Kruscal-Wallis, perbedaan perlakuan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney (p0,5). Formulasi terbaik berdasarkan penerimaan konsumen adalah P3 dengan nilai warna 6,89 (suka), aroma 6,86 (suka), rasa 7,31 (suka), tekstur 7,29 (suka), dan nilai keseluruhan 7,29 (suka). Nilai proksimat P3 terdiri dari warna L* sebesar 20,73; a* sebesar 0,52; b* sebesar 2,00; kadar air, abu, protein, lemak dan karbohidrat berturut-turut sebesar 3,86%; 1,58%; 6,80%; 24,21%; dan 63,98%.ABSTRACTCookies are a type of biscuit made from a soft dough, with high fat content, relatively crunchy when broken, have a dense texture, and can be diversified. The addition of Loligo sp. squid ink to cookies is a form of product diversification. This research aims to evaluate the consumer receptions and the physicochemical characteristics of cookies with the addition of squid ink. Completely Randomized Design is the method chosen for analyzing experimental data on the addition of 0.25% (P1), 0.50% (P2), 0.75% (P3), and 1% (P4) squid ink in triplicate (for proximate). The parameters observed were proximate composition (color, ash content, fat, water, protein, and carbohydrates (by different) and hedonic (aroma, texture, color, taste, and overall). Proximate data were analyzed using one-way ANOVA, where treatment differences were further analyzed using the Duncan Multiple Range test (p0.5). Hedonic data were analyzed using the Kruscal-Wallis test, treatment differences followed by the Mann-Whitney test (p0.5). The best formulation based on consumer acceptance is P3 with a color value of 6.89 (liked), aroma of 6.86 (liked), taste of 7.31 (liked), texture of 7.29 (liked), and overall value of 7.29 (liked). The proximate value of P3 consists of color L* of 20.73; a* of 0.52; b* of 2.00; water content of 3.86%; ash content of 1.58%; protein content of 6.80%; fat content of 24.21%; and carbohydrate content of 63.98%.
Karakteristik Fisikokimia Serbuk Tinta Cumi yang Dikeringkan dengan Oven Kristiningsih, Ari; Wittriansyah, Khoeruddin; Sodikin, Jenal; Fadlilah, Ilma
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.942

Abstract

Tinta cumi merupakan limbah sampingan dari cumi-cumi yang belum termanfaatkan dengan baik. Pemanfaatan tinta cumi masih terbatas pada produk segar, yang mengakibatkannya tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama. Sehingga diperlukan olahan lanjutan untuk memperpanjang masa simpan seperti dijadikan dalam bentuk serbuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik fisikokimia tinta cumi yang telah diawetkan dalam bentuk serbuk. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan melakukan pengamatan pada serbuk tinta cumi. Pengamatan dilakukan dengan melakukan analisis proksimat, analisis SEM-EDX dan analisis FT-IR. Kandungan lemak dan protein serbuk tinta cumi memiliki nilai lebih rendah dibandingkan dengan bagian tubuh lainya. Analisis SEM-EDX menunjukan bahwa serbuk tinta cumi memiliki bentuk yang tidak beraturan dengan unsur penyusun utama C, N dan O. Hasil analisis FT-IR menunjukan bahwa gugus fungsi yang terdapat di dalam serbuk tinta cumi adalah gugus fungsi fenolik (O-H) dan amina (N-H) yang berpotensi menjadi senyawa antibakteri dan juga antioksidan.Kata Kunci : ABSTRACTSquid ink is a byproduct of squid that has not been utilized properly. Despite its potential, the use of squid ink is still limited to fresh products, which means it cannot be stored for a long time. Therefore, further processing is needed to extend the shelf life, such as making it into powder form. The objective of this study is to determine the physicochemical characteristics of squid ink that has been preserved in powder form. The research method used is exploratory descriptive by observing the squid ink powder. Proximate analysis, SEM-EDX analysis, and FT-IR analysis were carried out to observe the powder. The fat and protein content of squid ink powder is lower compared to other body parts. SEM-EDX analysis shows that squid ink powder has an irregular shape with the main constituent elements of Carbon, Nitrogen, and Oxygen. The results of FT-IR analysis show that squid ink powder contains functional groups of phenolic (O-H) and amine (N-H), which have the potential to be an antibacterial compound and an antioxidant.
Potensi Ekstrak Daun Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Rahmawati, Rahmawati; Nurhayati, Tati; Nurjanah, Nurjanah
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.933

Abstract

Tanaman lindur (Bruguiera gymnorrhiza) merupakan salah satu jenis tanaman mangrove yang dapat tumbuh pada kondisi salinitas rendah dan aerasi yang baik. Ekstrak lindur memiliki kandungan senyawa fitokimia sehingga berpotensi diaplikasikan sebagai antibakteri pada bidang pangan maupun kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi potensi antibakteri dari ekstrak daun tanaman lindur terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dan Escherichia coli ATCC 8739. Metode pengujian yang digunakan adalah ekstraksi bertingkat menggunakan proses maserasi dengan menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstrak yang diperoleh kemudian dilakukan uji fitokimia dan uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ekstrak n-heksana, ekstrak etil asetat, dan ekstrak etanol adalah sebesar 1,93%, 3,56%, dan 7,36%. Ekstrak n-heksana mengandung steroid, triterpenoid, dan flavonoid, ekstrak etil asetat mengandung steroid, triterpenoid, flavonoid, dan fenol hidrokuinon, dan ekstrak etanol mengandung steroid, flavonoid, saponin, fenol hidrokuinon, dan tanin. Hasil penelitian menunjukkan hanya ekstrak etil asetat yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus ATCC 6538 dan bakteri E. coli ATCC 8739. Efektivitas tertinggi terdeteksi pada bakteri S. aureus ATCC 6538 yang tergolong ke dalam bakteri Gram positif, dengan diameter zona bening berkisar 3-8 mm, pada rentang jam ke-11 sampai jam ke-19. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak etil asetat yang mengandung senyawa polar dan non polar dari tanaman lindur memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai antibakteri. AbstractLindur plant (Bruguiera gymnorrhiza) is one type of mangrove plant that can grow in conditions    of low salinity and good aeration. Lindur extract contains phytochemical compounds so that it has   the potential to be applied as an antibacterial in the food and health sectors. This study was aimed    at evaluating the antibacterial potency of lindur plant leaf extract against Staphylococcus aureus ATCC 6538 and Escherichia coli ATCC 8739. The test method used was stratified extraction using maceration with n-hexane solvents, ethyl acetate, and ethanol. The extract obtained was then carried out phytochemical tests as well as antibacterial activity tests with the agar diffusion method. The results indicated that the yield of n-hexane extract, ethyl acetate extract, and ethanol extract were 1,93%, 3,56%, and 7,36%. N-hexane extract contains steroids, triterpenoids, and flavonoids, ethyl acetate extract contains steroids, triterpenoids, flavonoids, and phenol hydroquinone, and ethanol extract contains steroids, flavonoids, saponins, phenol hydroquinone, and tannins. The result also depicted that only in ethyl acetate extract can inhibit the growth of S. aureus ATCC 6538 and E. coli ATCC 8739. The highest effectiveness was observed in the S. aureus ATCC 6538 which belongs to Gram-positive bacteria, with a clear zone diameter ranging from 3-8 mm, in the range of the 11th to the 19th hour. This study concluded that that ethyl acetate extract containing polar and nonpolar compounds from lindur plants are potential to be developed as an antibacterial.
Pengujian Organoleptik dan Deteksi Logam Berat pada Bahan Baku dan Produk Bakso Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) dari Selat Bali Dewi, Resti Nurmala; Budiadnyani, I Gusti Ayu; Febrianti, Desy; Putrivenn, Dewi Fridolin
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.973

Abstract

Ikan lemuru (Sardinella lemuru) merupakan sumberdaya perikanan yang melimpah di Selat Bali dan memiliki nilai ekonomis yang rendah. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, ikan lemuru dapat diolah menjadi produk diversifikasi yang banyak digemari masyarakat yaitu bakso ikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memproduksi bakso ikan lemuru dengan empat konsentrasi daging dan tepung tapioka (P0, P1, P2, dan P3). Tingkat penerimaan konsumen dianalisis melalui pengujian organoleptik menggunakan 30 panelis tidak terlatih. Pengujian logam berat sebagai salah satu jaminan keamanan produk dilakukan menggunakan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Hal ini dikarenakan wilayah penangkapan ikan lemuru di Selat Bali merupakan wilayah perairan yang mengalami banyak pencemaran akibat kegiatan penangkapan ikan dan industri. Hasil pengujian organoleptik pada bahan baku menunjukkan nilai rata-rata delapan untuk seluruh atribut yang menandakan bahwa ikan lemuru berada dalam kondisi segar. Kandungan logam berat pada bahan baku juga masih di bawah ambang batas menurut Standar Nasional Indonesia (SNI). Disamping itu, penambahan daging ikan lemuru dan tepung tapioka memberikan hasil yang signifikan terhadap nilai organoleptik dengan formulasi terbaik (P1) sebesar 7,34 (kenampakan), 7,92 (bau), 8,36 (rasa) dan 7,85 (tekstur) (p0,05). Konsentrasi logam berat pada bakso ikan tidak dipengaruhi oleh penambahan tepung dan berada di bawah ambang batas dengan konsentrasi (mg/kg) pada perlakukan terbaik (P1) sebesar 0,007±0,0010 (Hg) (p0,05), 0,0010±0,0010 (Pb) (p0.05) dan 0,0020±0,0013 (Cd) (p0,05). Dapat disimpulkan bahwa produk bakso ikan lemuru disukai oleh konsumen dan memiliki konsentrasi logam berat pada rentang yang aman.ABSTRACTLemuru fish (Sardinella lemuru) is one dominant commodity from the Bali Strait which has low economic value. To solve this issue, lemuru can be converted into a variety of widely-liked products, such fish balls. Therefore, this study aimed to produce fish balls with four concentrations of meat and tapioca flour (P0, P1, P2 ,and P3). The level of consumer acceptance was analysed through organoleptic testing employing 30 untrained panelists. The heavy metal of samples was also analysed using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). This is due the current fishing activities and industries in the Bali Strait contribute to heavy metals pollution in the water. The organoleptic testing of raw materials revealed an average value of eight for all aspects, which suggested that lemuru was in fresh conditions. The content of heavy metals in raw materials was below standards issued by Indonesian National Standard (SNI). Furthermore, the addition of lemuru meat and tapioca flour was significantly affected the quality of fish ball, with organoleptic scores obtained from the best treatment (P1) were 7.85 (texture), 8.36 (taste), 7.92 (smell), and 7.34 (appearance) (p0.05). The concentration of heavy metals in fish balls was not influenced by the addition of flour and was below the threshold with the concentrations (mg/kg) of 0.007±0.0010 (Hg) (p0.05), 0.0010±0.0010 (Pb) (p0.05) and 0.0020±0.0013 (Cd) (p0.05). In conclusion, lemuru fish ball was preferred by customers and had heavy metal concentrations that were within a safe limit.
Pengaruh Suhu Ekstraksi Terhadap Karakteristik Gelatin dari Sisik Ikan Lates calcarifer dan Oreochromis niloticus Hariyanti, Hariyanti; Nafi’ah, Khusnun; Azizah, Nur; Gantini, Sri Nevi
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.918

Abstract

Indonesia merupakan produsen ikan terbesar dari produk kelautan dan budidaya air tawar. Sisik ikan merupakan limbah ikan yang telah banyak dipelajari pemanfaatannya, salah satunya untuk pembuatan gelatin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu ekstraksi yang berbeda terhadap kualitas gelatin sisik ikan air laut (Lates calcarifer/kakap putih), dan ikan air tawar (Oreochromis niloticus/nila merah). Metode penelitian ini adalah membandingkan kualitas gelatin dengan ekstraksi menggunakan teknologi sonikasi dengan variasi suhu ekstraksi, yaitu 55, 60, dan 65 °C. Gelatin dari sisik kakap putih dengan suhu ekstraksi sonikasi pada 60 °C memiliki rendemen tertinggi sebesar 14,79%, dengan kadar air 10,61%, kadar abu 1,79%, pH 4,86, viskositas 4,41cps, dan kandungan Cu dan Zn masing-masing sebesar 4,61, dan 2,99 mg/kg. Gelatin dari sisik nila merah dengan suhu ekstraksi sonikasi pada 65 °C memiliki rendemen tertinggi sebesar 11,62% dengan kadar air sebesar 9,05%, kadar abu sebesar 2,70%, pH 5,09, viskositas 1,61cps, dan kandungan Cu dan Zn masingmasing sebesar 11,88 mg/kg dan 2,59 mg/kg. Hasil karakterisasi gelatin kedua sisik ikan tersebut mengikuti standar SNI dan GMIA. Rendemen gelatin sisik ikan air laut (14,79%) mempunyai nilai lebih besar dibandingkan gelatin sisik ikan air tawar (11,62%). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kedua jenis ikan tersebut menghasilkan gelatin yang memenuhi syarat standar dan suhu ekstraksimemberikan pengaruh rendemen terhadap hasil gelatin kedua ikan. AbstractIndonesia is the largest fish producer derived from marine products and freshwater aquaculture. Fish scales are fish waste that has been studied for its utilization, one of which is for gelatine manufacture. This study aims to determine the effect of different extraction temperatures on the quality of gelatine scales of seawater fish (Lates calcarifer/white snapper), and freshwater fish (Oreochromis niloticus/red tilapia). This research method compares gelatine quality with extraction using sonication technology with extraction temperature variations, namely 55, 60, and 65 °C. Gelatine from white snapper scales with extraction temperature by sonication at 60 °C has the highest yield of 14.79%, with water content of 10.61%, ash content of 1.79%, pH of 4.86, viscosity of 4.41cps, and content of Cu and Zn respectively of 4.61, and 2.99 mg/kg. Gelatine from red tilapia scales with extraction temperature by sonication at 65 °C has the highest yield of 11.62%, with water content of 9.05%, ash content of 2.70%, pH of 5.09, the viscosity of 1.61cps, and content of Cu and Zn was 11.88 mg/kg and 2.59 mg/kg, respectively. The results of this study can conclude that the two types of fish produce gelatine that meets the standard requirements, and the extraction temperature affects the gelatine yield of the two fish.
Pengaruh Karagenan dari Rumput Laut Kappaphycus alvarezii terhadap kesegaran Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Febrianti, Arlin Anugerah; Nofreeana, Andri; Armando, Eric
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.959

Abstract

Ikan gurami dengan nama latin Osphronemus gouramy merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Kandungan air yang cukup tinggi pada ikan menjadi penyebab terjadinya penurunan mutu dan kesegaran ikan karena mudah membusuk. Upaya menghindari pembusukan atau kemunduran mutu pada ikan biasanya dilakukan dengan cara pendinginan, namun terdapat keterbatasan yaitu umur simpan daging relatif pendek. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh perendaman karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii, serta mengetahui dosis karagenan yang optimal untuk digunakan dalam mempertahankan kesegaran ikan gurami. Metode yang digunakan antara lain uji nilai organoleptik, uji Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N), dan uji Angka Lempeng Total (ALT) yang disimpan selama 0, 3, dan 6 hari pada suhu 4oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karagenan berpengaruh sangat nyataterhadap nilai organoleptik dan  TVB-N,  namun tidak berpengaruh terhadap uji ALT. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dosis karagenan yang optimal untuk mempertahankan kesegaran ikan gurami adalah 500 ppm.AbstractGourami fish with the latin name Osphronemus gouramy is a freshwater fish that has high economic value. Fish has a fairly high water content so that the quality and freshness of the fish decreases because it rots easily. Efforts to avoid spoilage or deterioration in quality of fish are usually done by refrigeration, however refrigeration still has limitations, namely the relatively short shelf life of the meat. The aim of this research is to determine the effect of soaking Kappaphycus alvarezii seaweed carrageenan extract, as well as determine the optimal dose of extract to be used to maintain the freshness of Gourami Fish. The methods used include organoleptic value tests, Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N) test, and Total Plate Count (TPC) test which are stored for 0, 3, and 6 days at 4oC. The results showed that carrageenan extract had a very significant effect on organoleptic value and TVB-N, but had no effect on TPC test. Based on the result of this research, it can be concluded that the optimal dose of carrageenan to maintain the freshness of gourami fish is 500 ppm.
Evaluasi Potensi Jenis Caulerpa sebagai Agen Antidiabetik dan Sediaan Fortifikasi dalam Pangan Apriasih, Hipit Putri; Nofreeana, Andri; Armando, Eric
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.935

Abstract

adinya penyakit diabetes mellitus (DM). DM dapat diobati dengan obat tradisional dari tumbuhan yang mengandung senyawa antidiabetik seperti flavonoid. Flavonoid tersebut berperan dalam menghambat kerja aktivitas enzim α-glikosidase. Apabila aktivitas enzim α-glikosidase terhambat maka peningkatan kadar glukosa darah juga akan terhambat. Senyawa flavonoid ada pada beberapa jenis Caulerpa sp. seperti C. serrulata, C. racemosa, dan C. lentillifera. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi antidiabetik pada tepung C. serrulata, C. racemosa, dan C. lentillifera. Pada penelitian ini tepung Caulerpa disubstitusikan dalam mie dan diujikan pada tikus. Parameter yang diujikan antara lain kadar glukosa darah, berat badan dan indeks glikemik. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 Faktorial dengan Faktor 1 adalah jenis Caulerpa dan Faktor 2 adalah besar dosis. Data kadar glukosa yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan sidik ragam (ANOVA) dengan taraf signifikan 5% dan apabila perlakuan terhadap variabel yang diamati menunjukkan perbedaan maka dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) sedangkan analisis indeks glikemik ditentukan dengan membandingkan luas area di bawah kurva (Area Under Curve atau AUC) mie Caulerpa dan glukosa. Hasil analisis kadar glukosa darah menunjukkan perlakuan yang diberi tepung Caulerpa mengalami penurunan kadar glukosa darah pada tikus. Hasil terbaik penurunan kadar glukosa ditunjukkan pada perlakuan C1D2 (C. serrulata dosis 15%) dengan penurunan sebesar 44,58%. Perbedaan jenis Caulerpa tidak menunjukkan adanya beda nyata, sedangkan pada perlakuan dosis menunjukkan adanya beda nyata. Hasil analisis berat badan tikus menunjukkan adanya rata-rata mengalami penurunan. Sedangkan pada hasil uji indeks glikemik, nilai IG terkecil bernilai 37,9 pada pelakuan C3D1 (C. lentillifera dosis 10%). AbstractFood is a factor that can increase blood glucose levels or cause diabetes mellitus (DM). DM can be treated with traditional medicines from plants that contain anti-diabetic compounds such as flavonoids. These flavonoids play a role in inhibiting the activity of the α-glycosidase enzyme so that they can inhibit the increase in blood glucose levels.. Flavonoid compounds exist in several types of Caulerpa sp. such as C. serrulata, C. racemosa, and C. lentillifera. The purpose of this study was to determine the antidiabetic potential of C. serrulata, C. racemosa, and C. lentillifera flour. In this study Caulerpa flour was substituted in noodles and tested on rats. Parameters tested included blood glucose levels, body weight and glycemic index. The method used was a 2-factorial completely randomized design (CRD) with factor 1 being Caulerpa type and factor 2 being dose size. The glucose level data obtained was analyzed statistically using variance (ANOVA) with a significance level of 5% and if the treatment of the observed variables showed differences then it was continued with the Duncan's Multiple Range Test (DMRT) while the glycemic index analysis was determined by comparing the area under curve (Area Under Curve or AUC) Caulerpa noodles and glucose. The results of the analysis of blood glucose levels showed that the treatment that was given Caulerpa flour experienced a decrease in blood glucose levels in rats. The best results for reducing glucose levels were shown in the C1D2 treatment (C. serrulata dose of 15%) with a decrease of 44.58%. The different types of Caulerpa did not show a significant difference, while the dose treatment showed a significant difference. The results of the analysis of the rats' body weight showed that the average had decreased. Whereas in the glycemic index test results, the smallest GI value was 37.9 in the C3D1 treatment (C. lentillifera dose of 10%).
Pengaruh Coating Kitosan dan Minyak Atsiri Kemangi terhadap Angka Kapang dan Penerimaan Produk Katsuobushi Rohsarifuddin, Fadiya Furuujihim; Tjahjaningsih, Wahju; Saputra, Eka; Subekti, Sri; Andriyono, Sapto; Nirmala, Dwitha
Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Politeknik - Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jpbkp.v18i2.957

Abstract

Penelitian ini melakukan coating kitosan dengan penambahan minyak atsiri kemangi pada konsentrasi berbeda pada katsuobushi yang kemudian disimpan selama 14 hari penyimpanan suhu ruang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan minyak atsiri kemangi pada coating kitosan dalam menjaga mutu fisik, kimia, dan mikrobiologi katsuobushi selama penyimpanan suhu ruang. Perlakuan yang dilakukan meliputi: kontrol (tanpa coating), 1% kitosan (P1), 1% kitosan dan 1% minyak atsiri (P2), 1% kitosan dan 1,5% minyak atsiri (P3), dan 1% kitosan dengan 2% minyak atsiri (P4). Hasil analisis ANOVA angka kapang, Angka Lempeng Total (ALT), parameter kimiawi produk seperti kadar air, protein, dan lemak, hingga penerimaan sensori pada katsuobushi dengan coating kitosan dan minyak atsiri kemangi secara signifikan (p0,05) lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan perlakuan coating kitosan saja setelah 14 hari penyimpanan suhu ruang. Perlakuan coating 1% kitosan dan 1% minyak atsiri kemangi menunjukkan karakteristik mutu katsuobushi terbaik, dengan angka kapang sebesar 29 kol/g, ALT 3,87 log kol/g, kadar air 13,1%, kadar protein 55,13%, kadar lemak 1,81%, serta rerata penerimaan kenampakan, aroma, tekstur, dan rasa masing-masing sebesar 3,43; 3,43; 3,57; dan 3,4. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan minyak atsiri kemangi pada coating kitosan mampu meningkatkan efektivitas kitosan dalam menghambat pertumbuhan mikroba dan menjaga mutu katsuobushi selama penyimpanan suhu ruang.ABSTRACTThis study evaluates the effect of chitosan coatings by adding basil essential oil at different concentrations on the quality of katsuobushi during 14 days of storage at room temperature. This study aimed to determine the effect of adding basil essential oil to chitosan coatings in maintaining katsuobushi's physical, chemical, and microbiological quality during room temperature storage. The treatments included control (without coating), 1% chitosan (P1), 1% chitosan and 1% essential oil (P2), 1% chitosan and 1.5% essential oil (P3), and 1% chitosan with 2% essential oil (P4). The results of ANOVA analysis of mold number, total plate count (TPC), protein content, fat content, and sensory acceptance of katsuobushi with chitosan coating and basil essential oil were significantly lower (p0.05) than the control treatment and chitosan coating treatment only after 14 days of room temperature storage. The 1% chitosan and 1% basil essential oil coating treatment showed the best quality characteristics of katsuobushi, with a mold number of 29 CFU/g, TPC of 3.87 log CFU/g, moisture content of 13.1%, 55.13% crude protein, 1.81% crude fat, and mean acceptance of appearance, aroma, texture, and taste were respectively 3.43; 3.43; 3.57; and 3.4. This study's findings indicate that adding basil essential oil to chitosan coatings can increase the effectiveness of chitosan in inhibiting microbial growth and maintaining the quality of katsuobushi during room temperature storage.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2023 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2025): Juni 2025 Vol 19, No 2 (2024): Desember 2024 Vol 19, No 1 (2024): Juni 2024 Vol 18, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 18, No 1 (2023): Juni 2023 Vol 17, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 17, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 16, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 16, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 15, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 15, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 14, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 14, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 11, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 10, No 1 (2015): Juni 2015 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 9, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 8, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 7, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 5, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 4, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 3, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 2 (2007): Desember 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 2, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 2 (2006): Desember 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 1, No 1 (2006): Juni 2006 Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 11, No 4 (2005): JPPI Ed Pascapanen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 10, No 3 (2004): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen Vol 9, No 5 (2003): JPPI ed pasca panen More Issue