cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2019)" : 6 Documents clear
SOLAR WIND SPEED AND ULF Pc5 POWER AT LOW-LATITUDE AS PRECURSOR OF ELECTRON FLUX ENHANCEMENT DUE TO GEOEFFECTIVE CMEs IN 2015 TO 2017 Siska Filawati; Fitri Nuraeni
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3084

Abstract

Electron flux is one of the space weather parameters that needs to be monitored and predicted for the purpose of mitigating the negative effects of space weather. Solar storms caused by CME which will affect electron flux can be observed using spacebased and ground-based data. The spacebased data used is solar wind speed data from ACE satellite and electron flux from GOES 13 satellite. The groundbased data are magnetometer data from Biak and Parepare stations which will be calculated on Pc5 power values. Cross correlation method is used to determine the correlation of two equations as functions that influence each other as electron flux which is affected by solar wind speed and Pc5 power. The correlation value of the speed of solar wind with electron flux is higher than Pc5 power with electron flux. However, the maximum value of r power Pc5 with electron flux occurs before the maximum value of r solar wind speed with electron flux which means that Pc5 power is more effective as a precursor to electron flux enhancement.
PERBANDINGN PENGARUH BADAI GEOMAGNET TERHADAP TEC IONOSFER DI ATAS MANADO, PONTIANAK DAN BANDUNG (Studi Kasus : 17 Maret dan 23 Juni 2015) (Comparisson of Geomagnetic Storm Effect on Ionospheric TEC over Manado, Pontianak dan Bandung Case study: 17 March Sri Ekawati; Anwar Santoso
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.301 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3031

Abstract

ABSTRACT The largest geomagnetic storms of solar cycle 24 so far occurred on March 17, 2015 (Dst index reached -223 nT) and on June 23, 2015 (Dst index reached -204 nT). Geomagnetic storm is one of major space weather event sourced from Coronal mass Ejection (CME) of the Sun that affected the ionosphere layer. Total Electron Content (TEC) in the ionosphere is very vulnerable affected by changes of system electrical currents in the magnetosphere due to the geomagnetic storm. An extreme enhancement of TEC called positive ionospheric storms otherwise an extreme depression of TEC called negative ionospheric storms. The research objective of this paper was to determine the effect of the geomagnetic storms on enhancement and depression ionospheric TEC over Manado, Pontianak dan Bandung. This research also examines the solar wind plasma condition and CME as a drivers of this geomagnetic storm.  TEC data obtained from GPS Ionospheric scintillation and TEC Monitor (GISTM) in Manado (1.48o U;124.85o E) Pontianak (-0.03o S; 109.33o E) and Bandung (-6.90o S; 107.60o E). The TEC data is converted into data Vertical TEC (VTEC) then compared with the data median VTEC during geomagnetic quiet days (qVTEC). The results showed that there was a negative ionospheric storms affected by geomagnetic storm due date of March 17, 2015 with a deviation of VTEC (dVTEC) reached -71.41%. In contrast, there was a positive ionospheric storm affected by geomagnetic storm due date of June 23, 2015 with deviation VTEC (dVTEC) reached 53.82%. The mechanism of the significant enhancement and depression VTEC caused by ionospheric electrodynamics processes. Keywords: geomagnetic storm, Dst-Index, Ionosphere, TEC ABSTRAK Badai Geomagnet yang terbesar pada siklus Matahari ke-24 sampai saat ini adalah peristiwa badai geomagnet pada tanggal 17 Maret 2015 (indeks Dst mencapai -223nT) dan 23 Juni 2015 (indeks Dst mencapai -204 nT). Badai geomagnetik merupakan bagian dari cuaca antariksa yang bersumber dari Corronal Mass Ejection (CME) Matahari yang mempengaruhi lapisan ionosfer. Total Electron Content (TEC) di ionosfer sangat rentan dipengaruhi oleh perubahan sistem arus listrik di magnetosfer akibat terjadinya badai geomagnet. Peningkatan TEC yang ekstrim dinamakan badai ionosfer positif sebaliknya penurunan TEC yang ekstrim dinamakan badai ionosfer negatif. Tujuan penelitian pada makalah ini adalah mengetahui pengaruh badai geomagnet tersebut terhadap peningkatan dan penurunan TEC ionosfer diatas Manado, Pontianak dan Bandung. Penelitian ini juga meninjau kondisi plasma angin surya dan CME sebagai sumber penggerak badai geomagnetik ini. Data TEC diperoleh dari GPS Ionospheric Scintillation and TEC Monitor (GISTM) di Manado (1,48o LU; 124,85o LS); Pontianak (0,03oLS;109,33oBT) dan Bandung (-6,90o LS; 107,60o BT). Peristiwa badai Geomagnetic storm yang dianalisis adalah peristiwa badai geomagnet kategori kuat yang berlangsung pada tanggal 17 Maret 2015 (indeks Dst mencapai -223nT) dan 23 Juni 2015 (indeks Dst mencapai -204 nT). Data TEC tersebut dikonversi menjadi data Vertical TEC (VTEC) kemudian dibandingkan dengan data median VTEC pada saat hari tenang geomagnet (qVTEC). Hasil menunjukkan terjadi badai ionosfer negatif diakibatkan badai geomagnet tanggal 17 Maret 2015 dengan deviasi VTEC (dVTEC) data Pontianak mencapai -71,41%. Sebaliknya, terjadi badai ionosfer positif diakibatkan badai geomagnet tanggal 23 Juni 2015 dengan deviasi VTEC (dVTEC) mencapai 53,82%. Mekanisme terjadinya peningkatan dan penurunan VTEC yang siginifikan tersebut disebabkan oleh proses elektrodinamika di ionosfer. Kata kunci: Badai geomagnet, Indeks Dst, Ionosfer, TEC
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KETERSEDIAAN AIR DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) Sinta Berliana Sipayung; Amalia Nurlatifah; Indah Susanti
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1404.729 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a2966

Abstract

Wilayah NTB yang terdiri dari Pulau Lombok dan Sumbawa, terletak di bagian Indonesia Timur dan tergolong wilayah gersang dan rawan kekurangan air. Hal ini terjadi akibat curah hujan rendah setiap tahunnya dan tidak menutup kemungkinan karena adanya hal tersebut, akan terjadi kekurangan sumber air. Kondisi saat ini ditemukan bahwa jumlah DAS di Pulau Lombok dan Sumbawa mengalami kerusakan sangat tinggi. Perubahan iklim sendiri diprediksi akan memperparah dan turut berdampak pada berkurangnya sumber daya air di NTB. Dalam penelitian kali ini dilakukan analisis terhadap pengaruh perubahan iklim terhadap ketersediaan air di NTB berdasarkan proyeksi model CCAM dengan skenario RCP 4.5. Dampak perubahan iklim saat ini dan akan datang dianalisis untuk mendukung pertumbuhan perekonomian wilayah NTB. Analisis ini dilakukan berbasis data observasi, re-analisis, model CCAM (histori dan RCP), dan model hidrologi. Data yang digunakan adalah data observasi (1990-2017), data curah hujan dan data temperatur, data hasil luaran model CCAM 1990-2014 (histori/RCP) resolusi 14 km. Hasil model divalidasi terlebih dahulu dengan menggunakan data observasi. Dengan menggunakan metode komposit, downscaling, regriding, komposit, dan perhitungan neraca air, serta analisis terhadap ketersediaan air maka diperoleh bahwa bias antara model dan data observasi di Mataram adalah mencapai 95 mm/bln, dan Bima: 85 mm/bln. Dengan nilai korelasi di masing-masing tempat tersebut adalah 0.69 dan 0.63. Dari hasil analisis diketahui akan terjadi defisit air pada Bulan Januari tahun 2040 jika dibandingkan dengan tahun 2018 masing-masing sebesar 80 mm di Mataram dan 120 mm di Bima. Sedangkan pada Bulan Agustus 2040 akan terjadi defisit air jika dibandingkan dengan tahun 2018 yaitu sebesar 40 mm di Mataram dan cenderung tetap di Bima.  Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya optimasi pola operasi Waduk akibat Dampak Perubahan Iklim di masa yang akan datang.
Vol. 16 No. 2 Juni 2019 Amalia Nurlatifah
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3269

Abstract

Vol. 16 No. 2 Juni 2019
PREDIKSI KONSENTRASI NITROGEN OKSIDA (NO, NOx) AMBIEN DENGAN MENGGUNAKAN KONSENTRASI NO2 DAN O3 DARI PASSIVE SAMPLER (Studi Kasus : Cipedes, Bandung) asri indrawati; Dyah Aries Tanti; Tuti Budiwati; Sumaryati Sumaryati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1332.025 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3005

Abstract

Pemantauan konsentrasi nitrogen oksida di udara ambien sangat penting dilakukan, mengingat bahaya dan dampak yang ditimbulkan secara luas bagi kesehatan manusia serta lingkungan hidup. Passive sampler merupakan metode pemantauan udara yang murah dan mudah untuk dilakukan, terutama untuk lokasi pemantauan yang sulit dijangkau. Penelitian ini dilakukan untuk memprediksi konsentrasi nitrogen oksida (NO dan NOx) dengan menggunakan passive sampler. Data yang digunakan yaitu data konsentrasi NO2 dan O3 dari passive sampler serta data rata-rata bulanan radiasi matahari dan temperatur daerah Cipedes, tahun 2011 – 2015. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan persamaan reaksi fotokimia. Selain itu dilihat juga hubungan antara radiasi matahari dan temperatur terhadap perubahan konsentrasi NO2, NO dan O3 dengan menggunakan metode statistik korelasi Pearson. Hasil yang diperoleh yaitu NO dengan rentang konsentrasi sebesar 6,32 – 55,8 ppb, dengan nilai rata-rata sebesar 21,97 ppb. Sedangkan untuk konsentrasi NOx 37,28 – 100,83 ppb, dengan nilai rata-rata sebesar 66,43 ppb. Dari korelasi hubungan diperoleh bahwa radiasi matahari dan temperatur berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan konsentrasi O3.  
RELIABILITAS FREKUENSI KRITIS DAN KETINGGIAN LAPISAN IONOSFER HASIL SCALING OTOMATIS MENGGUNAKAN SISTEM PINTAR ESIR-CADI Jiyo M. Si.
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1689.47 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3066

Abstract

Scaling adalah metode untuk membaca dan menginterpretasikan nilai parameter ionosfer dari ionogram yang diperoleh melalui pengamatan menggunakan ionosonda. Metode ini mengacu kepada Report UAG-23A yang telah digunakan sebagai rujukan baku secara internasional. Pada awalnya, scaling dilakukan secara manual oleh teknisi yang terlatih. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi pemrograman, scaling dapat dilakukan secara otomatis menggunakan sistem pintar atau software. Salah satu software tersebut adalah The Expert System Ionogram Reduction (ESIR) yang telah beroperasi secara otomatis bersamaan dengan beroperasinya ionosoda CADI (Canadian Advanced Digital Ionosonde) di stasiun Kupang-Undana (10,16ºLS, 123,67ºBT) dan Manado-Tomohon (1,48ºLU,  124,85ºBT). Hasil scaling otomatis menggunakan ESIR-CADI diantaranya berupa frekuensi kritis lapisan ionosfer (foE, foF1, dan foF2) dan ketinggiannya (h’E, h’F, dan h’F2). Dalam makalah ini kami membandingkan parameter-parameter tersebut dengan parameter yang sama hasil scaling secara manual. Data yang digunakan merupakan hasil pengamatan di dua stasiun tersebut pada saat puncak siklus aktivitas matahari 2013 - 2015. Tujuannya untuk mengetahui reliabilitas frekuensi kritis dan ketinggian hasil scaling menggunakan ESIR-CADI. Hasil riset menunjukkan bahwa nilai individual dan median foE dan foF2, yang dihasilkan ESIR-CADI di stasiun Kupang-Undana dan Manado-Tomohon semuanya reliabel, sedangkan foF1 dan h’E tidak. Nilai individual dan median h’F2 yang reliabel hanya hasil scaling ESIR-CADI di stasiun Kupang-Undana, sedangkan untuk stasiun Manado-Tomohon hanya nilai mediannya saja. Parameter h’F yang reliabel hanya nilai median hasil scaling ESIR-CADI di Stasiun Kupang-Undana. Dengan demikian nilai foE dan foF2 hasil scaling ESIR-CADI dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi ionosfer pada sistem layanan SWIFtS, sedangkan h’F2 yang dapat digunakan hanya hasil ESIR-CADI Kupang-Undana.

Page 1 of 1 | Total Record : 6