cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
Back Pages JSD Vol 14 No 2 Juni 2017 Redaksi Jurnal
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.275 KB)

Abstract

Back Pages JSD Vol 14 No 2 Juni 2017
EVIDENCE OF ADDITIONAL LAYER FORMATION IN THE LOW LATITUDE IONOSPHERE Sarmoko Saroso
Jurnal Sains Dirgantara Vol 2, No.1 Desember (2004)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.288 KB)

Abstract

Ionogram recorded from four ionosonde stations are employed to study the accurrence of an additional layer at F-region altitudes during 1-15 March 1998. It was found that the appearance of the additional layer at the local noontime hours is a typical phenomenon at Parepare (4˚S geographic, 14.8˚S geomagnetic) and Manila (3.7˚N geomagnetic), and was not observed at Chung-Li (14.2˚N geomagnetic). Furthermore, the additional layer was nor seen from any indicate that the fountain effect plays an important role in the formation of the additional layer. However, they also suggest the dynamics of the layer formation are in some way influenced by the location of the station relative to the geographic aquator.
GEO-EFEKTIVITAS AKTIVITAS MATAHARI DAN LINGKUNGAN ANTARIKSA PADA SAAT BADAI GEOMAGNET [GEO-EFFECTIVENESS OF SOLAR ACTIVITY AND SPACE ENVIRONMENT DURING GEOMAGNETIC STORM] Anwar Santoso
Jurnal Sains Dirgantara Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1015.039 KB)

Abstract

Geo-efektivitas aktivitas matahari dan lingkungan antariksa atau Geoeffectiveness adalah suatu kondisi cuaca antariksa (kombinasi antara CME, CH, angin surya, IMF Bz) yang ideal pada saat Interplanetary Shock (IPS) yang dapat memicu terbentuknya badai geomagnet sedang (-50 nT <Dst <-100nT), kuat (Dst < -100nT) dan sangat (Dst < -250 nT). Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran bagaimana kombinasi antara komponen-komponen angin surya dan IMF Bz yang paling optimal sebagai pembentuk kejadian badai geomagnet dan sekaligus berpengaruh terhadap intensitasnya. Data kejadian CME, angin surya (Nsw, Vsw dan Psw), IMF Bz (-) dan indeks Dst tahun 1996-2001 digunakan untuk analisis. Metode yang digunakan adalah metode analisis visual dan statistik. Hasilnya diperoleh 44 kejadian badai geomagnet yang terdiri dari 9 kejadian (20,45%) dipengaruhi oleh komponen densitas angin surya (Nsw), 8 kejadian (18,18%) dipengaruhi oleh kekuatan yang sama ketiga komponen angin surya (Nsw, Vsw dan Psw), 1 kejadian (2,27%) dipengaruhi hanya oleh komponen tekanan angin surya (Psw) yaitu kejadian badai geomagnet tanggal 20 Juli 2000 dan sisanya yaitu 26 kejadian (59,09%) dipengaruhi dominan oleh komponen kecepatan angin surya (Vsw). Selain itu, juga diperoleh bahwa pada peristiwa CME full halo di belahan barat matahari dan kenaikan komponen angin surya bersamaan dengan IMF Bz mengarah ke selatan sesaat dan setelah IPS merupakan kondisi geoefektivitas parameter cuaca antariksa yang menentukan terbentuknya badai geomagnet dengan persentase keberhasilan sangat besar dan efektif. Hal ini membuktikan bahwa geoeffectiveness sangat menentukan keberhasilan terbentuknya badai geomagnet dan intensitasnya.Kata Kunci: Badai geomagnet, Geoeffectiveness, Angin surya, Interplanetary Magnetic Field (IMF), Interplanetary Shock (IPS).
BASIC LIFETIME MODEL FOR REENTRY TIME PREDICTION OF ARTIFICIAL SPACE OBJECTS Abdul Rachman; Rhorom Priyatikanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.642 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v0.a2902

Abstract

The identification of space debris and the prediction of its orbital lifetime are two important things in the initial mitigation processes of threat from falling debris. As a part of the development of related decision support system, this study focuses on developing a basic lifetime model of artificial space object based on a well-known theory and prediction scheme in the field of satellite reentry research. Current implemented model has not accounted atmospheric oblateness or other correcting factors, but it has a reasonably good performance in predicting reentry time of several objects with various initial eccentricities. Among 30 predictions conducted to 10 objects that reentered the atmosphere from 1970 to 2012, there are 13 calculations that yield prediction time with accuracy of < 30% relative to the actual reentry time. In addition, 11 calculations yields prediction time which were more accurate compared to the outputs from SatEvo software that is currently used in the decision support system on the falling debris operated by Space Science Center LAPAN. These results were considered satisfying and can be developed further by adopting the updated atmospheric model and by calculating other relevant correcting factors.
ANALISIS STABILITAS ATMOSFER PADA LAPISAN TROPOSFER ATAS DAN STRATOSFER BAWAH DI ATAS KOTOTABANG MENGGUNAKAN DATA EQUATORIAL ATMOSPHERE RADAR (EAR), BOUNDARY LAYER RADAR (BLR) DAN RADIOSONDE Eddy Hermawan; Sri Hartati Soeparno; Filla Aulifin Kemirah
Jurnal Sains Dirgantara Vol 3, No.2 Juni (2006)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.576 KB)

Abstract

This paper is mainly concerned to the analysis of atmospheric stability especialy near the tropopause layer as well as the variation on wet and dry seasons over Kototabang area, West Sumatera (0.2˚S;100.32˚E) using Equatorial Atmosphere Radar (EAR), Boundary Layer Radar (BLR) and radiosonde data. The Observation of atmosphere stability nearby the tropopauselayer is very important, condering its function as a buffer of an air masses exchanges from troposphere to stratosphere layer and so the contrary, which is usually called as Statosphere - Troposphere Exchange (STE). Data analysis divide in two stages, firstly is the short periode data analysis from Aptil, 10th until May, 9th of 2004 with the main pupose of validation between vertical echo power (VEP) from EAR and Brunt-Vailsala Frequency Squared (N2) from radiosondes. The result shows that the average of correlation coeffisient from 9 observations is 0.81. This point shows that EAR's ability to replace radiosondes data to inform atmosphere stability. The second stage, contain the long periode data analysis from June and November in the years of 2001 until 2004. Both month representing dry and wet seasons based on monthly Global Precipitation Climatology Project (GPCP) data over 25 years (1979-2004) observations in Sumatera Inland area, specifically for Kototabang. Final result shows that the tropopause height variation in dry season (November) is easier to identify. In the other side, zonal wind dominant in November compare to vertical wind on July. This situation probably because the strong monsual affect in wet seasons. The tropopause height is also estimate have no significant effevt to rain intensity.
METODE BARU PRAKIRAAN SIKLUS AKTIVITAS MATAHARI DARI ANALISIS PERIODISITAS Thomas Djamuluddin
Jurnal Sains Dirgantara Vol 2, No.2 Juni (2005)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.013 KB)

Abstract

Periodicity analysis indicates that sunspot number is better to be used as the base of solar activities prediction. The main periodicity (of about 11 years) is relatively constant so thatit can be used in long-term prediction several cycles ahead. For prediction, wavelet analysis of all domonant periode has to be done on any cycle to be used in reconstructing the cycle pattern and for predicting the next ones. The relationship between length of cycle and maximum amplitude is used to predict the peak of a cycle. Prediction tests of several cycles indicate that this new method is accurate enough in predicting cycle pattern and maximum amplitude several cycles ahead. The ability in predicting several cycles ahead may be the superiority of this method over the precursor method considered to be relatively the most accurate nowadays.
EFEK GAS SO2 DAN KELEMBAPAN UDARA TERHADAP INSOLASI DAN TEMPERATUR DI BANDUNG [EFFECT OF SO2 GAS AND HUMIDITY TO INSOLATION AND TEMPERATURE IN BANDUNG] Tuti Budiwati; Saipul Hamdi; Dyah Aries Tanti
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.714 KB)

Abstract

Selain gas rumah kaca seperti CO2, N2O, CH4, H2O (uap air), dan O3 yang berpotensi mempengaruhi radiasi matahari yang diterima permukaan bumi (insolasi) dan berakibat terjadi pemanasan, ternyata SO2 mempunyai efek pendinginan dan pemanasan di permukaan bumi. Gas-gas tersebut mempunyai efek memanaskan troposfer dan permukaan bumi dikarenakan sebagian radiasi yang diemisikan dari permukaan bumi dikembalikan ke bumi dan sebagian lagi diserap. Berdasarkan data monitoring Automatic Weathering Station (AWS) dan SO2 di Bandung (Lapan) dari Oktober 2007 sampai Desember 2012, pada tahun 2010 menunjukkan kelembapan udara rata-rata tinggi yaitu 85% dibandingkan tahun 2009 yaitu 78%, sebaliknya SO2 kecil. Dampaknya menyebabkan penurunan insolasi tahun 2010 menjadi 145 W/m2 dari 166 W/m2 tahun 2009 atau 13%. Terdapat penurunan rata-rata temperatur tahun 2010 menjadi 23,69 ºC dari 23,97 ºC tahun 2009. Hasil analisis dengan metode korelasi Pearson didapati hubungan yang signifikan dan kuat pada musim kering antara SO2 dengan insolasi yaitu 0,514(**) dengan signifikansi p<0,01 dan signifikan tetapi agak lemah antara kelembapan dengan insolasi yaitu-0,489(*) dengan signifikansi p<0,05. Tetapi sebaliknya pengaruh kelembapan udara kuat pada musim basah dibandingkan SO2 terhadap insolasi. Korelasi antara insolasi dengan SO2 dan kelembapan pada musim basah yaitu -0,408(*) dengan signifikansi p<0,05 dan -0,487(**) dengan signifikansi p<0,01.Kata kunci: SO2, Kelembapan udara, Uap air, Gas rumah kaca, Insolasi, Temperatur, Korelasi Pearson
STUDI GELOMBANG ULF: KORELASI PULSA MAGNET Pc3 DENGAN KECEPATAN ANGIN SURYA DAN MEDAN MAGNET ANTARPLANET (STUDY OF ULF WAVE: CORRELATION OF Pc3 MAGNETIC PULSATIONS WITH SOLAR WIND VELOCITY AND INTERPLANETARY MAGNETIC FIELD) Setyanto Cahyo Pranoto; Wahyu Srigutomo
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1151.12 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v13.a2939

Abstract

Energy for the Earth’s magnetospheric processes is provided by solar wind. Pc3 magnetic pulsation is one of geomagnetic ULF wave. Pc3 magnetic pulsation has been studied to understand the dynamic of magnetosphere. Geomagnetic pulsations are quasi-sinusoide variations in the Earth’s magnetic field in the period range of 10-45 seconds. The magnitude of these pulsations ranges from fraction of a nT (nano Tesla) to several nT. These pulsations can be observed in a number of ways such as applied of ground based magnetometer. We used the magnetometer data of Manado, Parepare, and Kupang stations to studied the effect of the solar wind and interplanetary magnetic field on these pulsations. To extract Pc3 magnetic pulsations we applied second order of Butterworth filter and using Hamming windowing. The result showed that Pc3 magnetic pulsation have correlation with increasing solar wind velocity and interplanetary magnetic field-IMF, it is mean that solar wind controls Pc3 magnetic pulsations occurrence. ABSTRAKAngin surya merupakan sumber energi bagi proses-proses fisis yang terjadi di magnetosfer Bumi. Untuk dapat memahami dinamika di magnetosfer Bumi dapat di tinjau dari gelombang ULF salah satunya pulsa magnet Pc3. Pulsa magnet Pc3 merupakan variasi quasi-sinusoide pada medan magnet Bumi dalam rentang periode 10 – 45 detik. Pulsa magnet Pc3 umumnya memiliki amplitudo rendah dengan rentang nT (nano Tesla). Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengamati pulsa magnet Pc3 diantaranya dengan menggunakan magnetometer landas Bumi. Dalam makalah ini kami menggunakan data pengamatan magnetometer stasiun Kupang, Manado, dan Parepare untuk mempelajari hubungan pulsa magnet Pc3 terkait dengan angin surya dan medan magnet antarplanet. Pulsa magnet Pc3 diekstrak dari data variasi medan magnet dengan menggunakan Butterworth Filter dan Hamming windowing. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pulsa magnet Pc3 memiliki korelasi dengan peningkatan kecepatan angin surya dan medan magnet antarplanet. Hal ini mengindikasikan bahwa angin surya merupakan salah satu sumber yang mengontrol perubahan yang terjadi pada pulsa magnet Pc3.
PENGEMBANGAN PIRANTI LUNAK WEIGHTED WAVELET Z-TRANSFORM (WWZ) DALAM ANALISIS SPEKTRAL AKTIVITAS MATAHARI Jalu Tejo Nugroho
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.669 KB)

Abstract

Penulis telah mengembangkan piranti lunak Weighted Wavelet Ztransform(WWZ) yang selama ini telah banyak igunakan dalam analisis spektral aktivitas matahari serta arameter-parameter terkait lainnya. Dengan enambahan fitur seperti kemampuan bekerja pada istem operasi Windows, seperti menghitung nilai periode ecara otomatis serta menampilkan grafik tiga dimensi kontur) yang terintegrasi di dalamnya, para pengguna kan dapat mempersingkat waktu pengolahan data ehingga pada akhirnya hasil analisis yang diperoleh bisa ebih optimal. Kata kunci:Weighted Wavelet Z-transform WWZ), Metode analisis spektral
ANALISIS PENINGKATAN JUMLAH KANDUNGAN ELEKTRON MALAM HARI DI LINTANG RENDAH INDONESIA [ANALYSIS ENHANCEMENT OF ELECTRON CONTENT AMOUNT NIGHT-TIME IN INDONESIAN TOTAL LOW LATITUDE] - Asnawi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (988.463 KB)

Abstract

Tulisan ini membahas investigasi peningkatan jumlah kandungan elektron (TEC) malam hari di lintang rendah Indonesia. Analisis statistik menggunakan data GISTM dari dua tempat, Bandung (6,90 ºLS 107,6 ºBT) dan Pontianak (0,03 ºLS 109,33 ºBT) pada saat aktivitas matahari minimum periode 2009 dan periode aktivitas matahari menuju naik tahun 2011. Analisis ruang berdasarkan IPP satelit yang melintas pada saat kemunculan peningkatan TEC malam hari antara Bandung dan Pontianak diperoleh distribusi kemunculan merata dengan intensitas amplitudo sedikit lebih tinggi sekitar Pontianak yang mengindikasikan adanya peran pergerakan gelombang yang dapat menyebabkan pelemahan ataupun penguatan gangguan skala kecil pada TEC. Dari statistik kemunculan peningkatan TEC malam hari diperoleh kemunculan yang tinggi saat akitivitas matahari maksimum tahun 2011 baik di Bandung maupun Pontianak dengan kemunculan tertinggi pada bulan-bulan equinoks. Pengaruh aktivitas geomagnet tidak tampak, karena aktivitas geomagnet baik pada tahun 2009 maupun tahun 2011 tidak mempengaruhi pola kemunculannya. Berdasarkan pola kemunculannya maka peningkatan TEC malam hari adalah komplemen dari kemunculan gelembung plasma.Kata Kunci: GISTM, Ionosfer, Peningkatan TEC malam hari, TEC

Page 11 of 21 | Total Record : 210