cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
DAMPAK VARIABILITAS IKLIM TERHADAP PRODUKSI PANGAN DI SUMATERA Sinta Berliana Sipayung
Jurnal Sains Dirgantara Vol 2, No.2 Juni (2005)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.871 KB)

Abstract

Food security will become unstable if extreme climate occurred frequently, such as dry and rainy season more than normal condition. This condition will have positive and negative effects, especially on agriculture sector. In this study, effect of climate variability on agriculture production over Sumatera Island for ten years (1991-2000) observation will be discussed. The result show that part of Sumatera Island has more surplus than deficit, so it has more planting season in one year. We suspect that El-Nino event has more effect than La-Nina event in decending crop agriculture productivity at Sumatera Island who has Monsoon raifall pattern.
RESPON TEC IONOSFER DI ATAS BANDUNG DAN MANADO TERKAIT FLARE SINAR-X MATAHARI KELAS M5.1 DAN M7.9 TAHUN 2015 (IONOSPHERIC TEC RESPONSE OVER BANDUNG DAN MANADO ASSOCIATED WITH M5.1 AND M7.9 CLASSES OF SOLAR FLARE XRAYS IN 2015) Sri Ekawati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.767 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2017.v14.a2329

Abstract

The solar flare is potential to cause sudden increase of the electron density in the ionosphere,particularly in D layer, known as Sudden Ionospheric Disturbances (SID). This increase of electron density occurs not only in the ionospheric D layer but also in the ionospheric E and F layers. Total Electron Content (TEC) measured by GPS is the total number of electrons from D to F layer. The aim of this research is to study the effect of solar flare x-rays, greater than M5 class in 2015, on ionospheric TEC over Bandung and Manado. This paper presents the preliminary result of ionospheric TEC response on solar flare occurrence over Indonesia. The ionospheric TEC data is derived from GPS Ionospheric Scintillation and TEC Monitor (GISTM) receiver at Bandung (-6.90o S;107.6o E geomagnetic latitude 16.54o S) and Manado (1.48o N; 124.85o E geomagnetic latitude 7.7o S). The solar x-rays flares classes analyzed where M5.1 on 10 March 2015 and M7.9 on 25 June 2015. Slant TEC (STEC) values where calculated to obtain Vertical TEC (VTEC) and the Differential of the VTEC (DVTEC) per PRN satellite for further analysis. The results showed that immediately after the flare, there where sudden enhancement of the VTEC and the DVTEC (over Bandung and Manado) at the same time. The time delay of ionospheric TEC response on M5.1 flare was approximately 2 minutes, then the VTEC increased by 0.5 TECU and the DVTEC rose sharply by 0.5 – 0.6 TECU/minutes. Moreover, the time delay after the M7.9 flare was approximately 11 minutes, then the VTEC increased by 1 TECU and the DVTEC rose sharply by 0.6 – 0.9 TECU/minutes. ABSTRAK Flare matahari berpotensi meningkatkan kerapatan elektron ionosfer secara mendadak, khususnya di lapisan D, yang dikenal sebagai Sudden Ionospheric Disturbances (SID). Peningkatan kerapatan elektron tersebut terjadi tidak hanya di lapisan D, tetapi juga di lapisan E dan F ionosfer. Total Electron Content (TEC) dari GPS merupakan jumlah banyaknya elektron total dari lapisan D sampai lapisan F. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek flare, yang lebih besar dari kelas M5 tahun 2015, terhadap TEC ionosfer di atas Bandung dan Manado. Makalah ini merupakan hasil awal dari respon TEC ionosfer terhadap fenomena flare di atas Indonesia. Data TEC ionosfer diperoleh dari penerima GPS Ionospheric Scintillation and TEC Monitor (GISTM) di Bandung (-6,90o S; 107,60o E lintang geomagnet 16,54o LS) dan Manado (1,48oLU;124,85oBT lintang geomagnet 7,7o LS) dikaitkan dengan kejadian flare kelas M5.1 pada tanggal 10 Maret 2015 dan kelas M7.9 pada tanggal 25 Juni 2015. Nilai Slant TEC (STEC) dihitung untuk memperoleh nilai Vertical TEC (VTEC), kemudian nilai Differential of VTEC (DVTEC) per PRN satelit diperoleh untuk analisis selanjutnya. Hasil menunjukkan segera setelah terjadi flare, terjadi peningkatan VTEC dan DVTEC (di atas Bandung dan Manado) secara mendadak pada waktu yang sama. Waktu tunda dari respon TEC ionosfer setelah terjadi flare M5.1 adalah sekitar 2 menit, kemudian VTEC meningkat sebesar 0,5 TECU dan DVTEC meningkat secara tajam sebesar 0,5 – 0,6 TECU/menit. Sedangkan, waktu tunda setelah terjadi flare M7.9 adalah 11 menit, kemudian VTEC meningkat sebesar 1 TECU dan DVTEC meningkat secara tajam sebesar 0,6 – 0,9 TECU/menit.
AWAN MAGNET PADA FASE MINIMUM AKTIVITAS MATAHARI DAN KAITANNYA DENGAN GANGGUAN GEOMAGNET Clara Y. Yatini; Mamat Ruhimat
Jurnal Sains Dirgantara Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.716 KB)

Abstract

 Interplanetary structures are important for the development of geomagnetic disturbance. The structures include intense north-southward Interplanetary Magnetic Field, the shock, solar wind density and velocity, and probably the magnetic cloud. We studied five events of magnetic clouds which occurred in the minimum phase of solar activity in order to understand solar wind-magnetosphere coupling. The correlations between storm intensity and the different solar wind parameters will also be presented as well. By analyzing five magnetic clouds occurred in 2006 and the associated geomagnetic enhancement, we found that not all magnetic clouds lead to geomagnetic disturbances. Keywords:Magnetic cloud, Interplanetary magnetic field, Geomagnetic disturbance
LAPISAN F3 DI IONOSFER LINTANG RENDAH Sri Suhartini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 3, No.1 Desember (2005)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.22 KB)

Abstract

Calculation using the Sheffield University plasmasphere ionosphere model (SUMIP) have shown that under certain conditions an additional layer (F3 layer) can form in the equatorial ionosphere. The F3 layer forms during the morning-noon period in the equatorial region where the combined effect of the upward ExB drift and neutral wind provides vertically upward plasma drift velocity at altitude near and above the F2 peak. The observation results over Biak and Parepare are shown that F3 layer may form in low latitude ionosphere. The observations result over Biak (1.20˚S, 136.04˚E, magnetic latitude 12.18˚S) on January 2005 shown the occurence of the F3 layer 75% of the days from 09:00 to 18:00 local time. The critical frequency of the F3 layer (foF3) exceeds foF2 by about 1 to 3 MHz, and the virtual height h'F3 ranges from 400 to 600 km. Generally, observation result indicate that the formation of F3 layer at low latitude is different with the equatorial region. Where, in addition to the fountain effects, the dynamical processes of the formation of this layer is influenced by the station location relative to the geographic equator.
Pengaruh Central Pacific dan eastern Pacific El Nino terhadap variabilitas curah hujan di Sulawesi Budi Prasetyo; Nikita Pusparini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.05 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v15.a2864

Abstract

Pulau Sulawesi dipengaruhi oleh fenomena Central Pacific (CP) dan Eastern Pacific (EP) El Niño. Curah hujan Sulawesi mencakup ketiga pola hujan yang ada di Indonesia yaitu Monsunal, equatorial, dan lokal. Variabilitas ketiga pola curah hujan tersebut akan memberikan respon yang berbeda terhadap pengaruh dari kedua tipe El Niño tersebut. Maka, Kajian ini akan membahas pengaruh dari kedua tipe El Niño  terhadap curah hujan Sulawesi. Penelitian ini Menggunakan data curah hujan bulanan berasal dari Climate Prediction Center (CPC) National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), Suhu Permukaan Laut (SPL) bulanan dari System Ocean Data Assimilation (SODA) versi 2.2.4 dan oceanic Niño Indeks (ONI) dengan periode  Januari 1950 hingga Desember 2010 (60 tahun). Perhitungan statistik sederhana berupa perata-rataan, korelasi, dan analisa komposit digunakan dalam kajian ini. Penentuan tipe El Niño menggunakan tiga buah indeks yang berbeda. Hasilnya diperoleh bahwa Curah hujan Sulawesi berkurang saat kedua tipe El Niño. Penurunan curah hujan akibat EP El Niño berkisar antara 5 – 20 mm sedangkan akibat CP El Niño berkisar antara 2-12 mm. Wilayah Sulawesi dengan pola curah hujan monsunal merupakan wilayah yang mengalami penurunan curah hujan terbesar akibat kedua tipe El Niño tersebut, kemudian diikuti dengan pola curah hujan equatorial dan terakhir Lokal.
PEMANTAUAN BENDA JATUH ANTARIKSA DAN ANALISISNYA Abdul Rachman; Thomas Djamaluddin
Jurnal Sains Dirgantara Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.989 KB)

Abstract

Telah dibuat sebuah prosedur pemantauan benda jatuh antariksa menggunakan sumber-sumber data dari internet dan perangkat-perangkat lunak orbit satelit. Teknik-teknik dalam prosedur ini telah digunakan sejak awal 2009 dan saat ini dapat disimpulkan bahwa prosedur tersebut efektif digunakan dengan asumsi akses ke sumber data tidak terganggu. Satu hal yang perlu diingat ketika memakai prosedur ini adalah prediksi waktu dan lokasi jatuh benda (reentry time and location) yang dipakainya tidak terbebas dari masalah akurasi. Hasil pemakaian prosedur menunjukkan bahwa sekalipun prediksi waktu jatuh yang dipakai menggunakan teknik special perturbation yang lebih akurat daripada SGP (Simplified General Perturbation), prediksi tersebut bisa memberikan hasil yang tidak valid jika dilakukan lebih awal dari 100 jam sebelum waktu jatuh. Kata kunci: Prosedur pemantauan, Benda jatuh antariksa, Special perturbation, Simplified general perturbation (SGP).
ANALISIS KEMAMPUAN RADAR NAVIGASI LAUT FURUNO 1932 MARK-2 UNTUK PEMANTAUAN INTENSITAS HUJAN [ANALYSIS OF FURUNO MARINE RADAR 1932 MARK-2 CAPABILITY TO OBSERVE RAIN RATE] Asif Awaludin; Ginaldi Ari Nugroho; Soni Aulia Rahayu
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1229.651 KB)

Abstract

Indonesia mempunyai banyak daerah rawan banjir dan tanah longsor sehingga diperlukan sistem peringatan dini terhadap bencana tersebut. Radar cuaca merupakan salah satu alternatifnya, akan tetapi harganya mahal, sehingga diperlukan radar cuaca alternatif yang biayanya murah. Dalam penelitian ini dilakukan analisis kemampuan radar navigasi laut Furuno 1932 Mark-2 sebagai solusi radar cuaca biaya murah dengan menganalisis spesifikasinya kemudian membuat eksperimen dan pengujian untuk mencoba solusi kelemahannya melalui pengembangan sistem akuisisi dan pengolah sinyal radar. Menurut spesifikasinya, unit scanner radar memenuhi syarat untuk pendeteksian hujan, hanya membutuhkan koreksi volume untuk lebar berkas vertikal yang lebar. Sedangkan unit display-nya belum memenuhi karena plotter-nya masih satu warna dan penghilang clutter-nya menganggap hujan sebagai clutter. Dari hasil eksperimen dan pengujian dapat diketahui bahwa radar ini mampu digunakan untuk mendeteksi pergerakan hujan dengan nilai reflektivitas yang terpantau antara 15-30 dBZ. Hasil pengukuran rain gauge menunjukkan pada reflektivitas 30 dBZ tersebut terpantau hujan dengan intensitas 5,4 mm/jam. Hubungan antara (Z) dan (R) yang terdeteksi tidak sesuai dengan persamaan Marshall Palmer, karena nilai 30 dBZ menghasilkan intensitas hujan 2,7 mm/jam. Oleh karena itu dalam penelitian selanjutnya perlu dicari hubungan Z dan R yang sesuai untuk radar ini melalui kalibrasi nilai reflektivitas menggunakan data hasil pengukuran rain gauge. Kata kunci: Faktor Reflektivitas Radar, Radar Navigasi Laut, Intensitas Hujan
ANALISIS PERGERAKAN BINTIK MATAHARI DI DAERAH AKTIF NOAA 0375 Clara Y.Yatini; E.Sungging Mumpuni
Jurnal Sains Dirgantara Vol 4, No.1 Desember (2006)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.935 KB)

Abstract

The observation of flaring sunspots group (active region) has been conducted to obtain the characteristic of spot's motion. In active region NOAA 0375 the motion is divided in two periods, 3-8 June 2005, when the group was growing, and 10-12 June 2003 when it was decaying. By comparing the movement plots, we see that the strong flares were most produced when the active region was in the decaying phase.
ANALISIS GELOMBANG EIT DAN LONTARAN MASSA KORONA PADA PERISTIWA FLARE 7 MARET 2012 [ANALYSIS OF EIT WAVE AND CORONAL MASS EJECTION OF THE FLARE EVENT ON MARCH 7, 2012] Johan Muhamad; Agustinus Gunawan Admiranto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1913.424 KB)

Abstract

Pada tanggal 7 Maret 2012, sebuah flare kelas-X5.4 melepaskan energi yang besar pada daerah aktif NOAA 11429. Sesaat setelah flare dimulai, sebuah gelombang EIT terdeteksi oleh instrumen AIA 193 Å wahana Solar Dynamics Observatory (SDO). Gelombang ini tampak jelas menjalar yang kemudian disusul oleh gelombang EIT berikutnya yang dipicu oleh flare kelas X1.3 sekitar satu jam kemudian. Kedua gelombang EIT ini menunjukkan penjalaran gelombang yang memiliki perbedaan arah dan karakteristik satu sama lain. Peristiwa gelombang EIT pertama disertai dengan kemunculan struktur mirip kubah yang berkaitan erat secara spasial dengan peristiwa lontaran massa korona (CME). Hasil analisis menunjukkan adanya gelombang moda cepat dan lambat pada peristiwa pertama yang tidak tampak pada peristiwa kedua. Peristiwa kedua juga tidak disertai dengan CME sebagaimana peristiwa pertama. Hasil ini menyarankan bahwa gelombang EIT dapat dihasilkan oleh mekanisme lain selain gelombang kejut yang diakibatkan oleh CME.Kata kunci: Gelombang EIT - lontaran massa korona (CME) - semburan radio Matahari - flare
Back Pages JSD Vol 15 No 1 Desember 2017 Redaksi Jurnal
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.408 KB)

Abstract

Back Pages JSD Vol 15 No 1 Desember 2017

Page 9 of 21 | Total Record : 210