cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
ANALISIS KONDISI FLUKS ELEKTRON DI SABUK RADIASI ELEKTRON LUAR BERDASARKAN MEDAN MAGNET ANTARPLANET (BZ) DAN KECEPATAN ANGIN MATAHARI (ANALYSIS OF ELECTRON FLUX CONDITION IN OUTER ELECTRON RADIATION BELT BASED ON INTERPLANETARY MAGNETIC FIELD (BZ) AND SOL Siska Filawati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1279.821 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2017.v15.a2738

Abstract

Interplanetary space is a hazard precursor for solar eruption toward earth. The solar eruptions enhance electron flux that can lead to anomalies, shifts, and permanent damage to spacecraft, e.g. satellites. The data used in this paper are interplanetary space data represented by interplanetary magnetic field (Bz) and solar wind speed, as well as Dst and AE indexes as comparison indicating disturbance has reached Earth’s poles and equator during 2011-2012. The method used is to determine the value of maximum and minimum Bz in the year 2011-2012 which is taken five days before and after. Analysis and calculation of correlation is done to data of Bz-electron flux and solar wind velocity-electron flux. Clarification of disturbence in interplanetary space and outer electron radiation belt is using index data Dst and AE indexes are used to clarify interplanetary space and outer electron radiation belt disturbances. The aim of this study is to determine the characteristics of interplanetary space that can increase the electron flux so that the space weather early warning can be done. It was found that the period of electron flux enhancement after decrease and increase of Bz was 2 to 3 days. The electron flux would enhance when interplanetary space was in its normal condition at solar wind speed 500 km/sec and Bz is -5 nT to +5 nT. Electron flux correlation with solar wind velocity was better than with Bz. ABSTRAKKondisi ruang antarplanet merupakan prekursor bahaya erupsi matahari terhadap bumi. Erupsi matahari dapat menyebabkan peningkatan fluks elektron. Tingginya fluks elektron dapat menyebabkan anomali, pergeseran, dan kerusakan permanen pada wahana antariksa, misal satelit. Data yang digunakan pada makalah ini adalah data ruang antarplanet yang diwakili oleh kondisi medan magnet antarplanet (Bz) dan kecepatan angin matahari yang merupakan prekursor peningkatan fluks elektron serta data indeks Dst dan indeks AE sebagai pembanding bahwa gangguan telah mencapai kutub dan ekuator bumi selama rentang waktu 2011-2012. Metode yang digunakan adalah menentukan nilai Bz maksimum dan minimum dalam tahun 2011-2012 yang selanjutnya dari penanggalan data tersebut diambil data lima hari sebelum dan sesudah. Analisis dan perhitungan korelasi dilakukan terhadap data Bz-fluks elektron dan kecepatan angin matahari-fluks elektron. Klarifikasi gangguan yang terjadi di ruang antarplanet dan sabuk radiasi elektron luar menggunakan data indeks Dst dan indeks AE. Tujuan ditulisnya makalah ini adalah untuk mengetahui karakteristik kondisi ruang antarplanet yang dapat meningkatkan fluks elektron agar peringatan dini cuaca antariksa dapat dilakukan. Hasil yang didapatkan adalah waktu yang dibutuhkan fluks elektron setelah terjadi penurunan dan peningkatan Bz adalah 2 hingga 3 hari, fluks elektron akan meningkat saat kondisi ruang antarplanet normal yaitu pada kecepatan 500 km/detik dan Bz -5 nT hingga +5 nT, korelasi fluks elektron dengan kecepatan angin matahari lebih baik dibanding fluks elektron dengan Bz.
PEMANFAATAN GLOBAL CIRCULATION MODEL (GCM)UNTUK PREDIKSI PRODUKSI PADI Sinta Berliana Sipayung; - Sutikno
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.871 KB)

Abstract

Dalam pengembangan model untuk prediksi produksi padi berdasarkan Palmer Drought Severity Index (PDSI) menggunakan luaran GCM CSIRO MK3 (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization) Australia, dengan input curah hujan dan suhu bulanan untuk tiga skenario SRES (Special Report on Emissions Scenarios) yaitu SRESA2, SRESB1 dan SRESA1B, maka dapat diprediksi produksi padi di dua Kabupaten Subang dan Tasikmalaya. Dengan menghitung luas area pertanian pada masing-masing wilayah ZPI (zona prediksi iklim), PDSI terboboti per subround/periode (PDSIWp) dan penentuan bobot berdasarkan persentase luas area pertanian pada setiap wilayah maka diperoleh prediksi produksi padi di masa yang akan datang (2010, 2020, 2030, 2040, dan 2050). Prediksi produksi padi di Kabupaten Subang sebesar 792.943 ton dari rataan ketiga model skenario Pemanfaatan Global Circulation........ (Sinta Berliana Sipayung et al.) 83 GCM pada tahun 2020, sementara pada tahun 2050 prediksi produksi padi sebesar 827.270 ton. Kabupaten Tasikmalaya rataan produksi padi periode 1988-2005 adalah 568.145 ton per tahun, sedangkan prediksi produksi padi tahun 2020 sebesar 573.906 ton dan 596.026 ton pada tahun 2050. Jika dibandingkan produksi saat ini rataan tahun 1988-2005 prediksi produksi padi mengalami penurunan sekitar 8 % pada tahun 2020 dan 4% tahun 2050 di Kabupaten Subang sedangkan Tasikmalaya mengalami kenaikan 1% pada tahun 2020 dan 5% pada tahun 2050. Kata kunci: Iklim, GCM, PDSI dan Produksi Padi.
CME HALO DAN DAMPAKNYA PADA INTENSITAS SINAR KOSMIK [HALO CME AND ITS IMPACT TO THE COSMIC RAY INTENSITY] Clara Y. Yatini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.972 KB)

Abstract

Aktivitas matahari terkait erat dengan intensitas sinar kosmik, dan keduanya mempunyai korelasi yang terbalik atau memiliki fase yang berlawanan, yang berarti bahwa aktivitas matahari yang meningkat mengakibatkan turunnya intensitas sinar kosmik. Tahun 2011 merupakan fasa naik dari aktivitas matahari siklus ke 24. Pada tahun ini mulai banyak terjadi lontaran masa korona (Coronal Mass Ejection/CME), diantaranya merupakan CME halo. CME halo mempunyai lontaran yang tersebar merata sehingga mempunyai kemungkinan cukup besar untuk sampai ke bumi, dan mengkibatkan turunnya intensitas sinar kosmik yang teramati di bumi. Dalam penelitian ini dilakukan analisis pengaruh CME halo ini terhadap intensitas sinar kosmik. Data CME halo diperoleh dari Computer Aided CME Tracking (CACTUS), sedangkan data sinar kosmik merupakan data dari Moscow Neutron Monitor. Dalam beberapa peristiwa terlihat bahwa pengaruh CME halo tidak mempunyai pola yang sama. Beberapa CME halo mengakibatkan turunnya intensitas sinar kosmik secara jelas, sementara lainnya tidak mempunyai pola penurunan intensitas yang jelas. Untuk itu dilakukan analisis terhadap intensitas sinar kosmik dalam selang waktu tertentu untuk mengetahui seberapa jauh CME halo berperan dalam penurunan intensitas sinar kosmik. Hasil yang diperoleh mengindikasikan bahwa perubahan intensitas sinar kosmik bukan hanya disebabkan oleh terjadinya CME halo, tetapi dipengaruhi juga oleh fenomena lain yang terjadi di ruang antarplanet. Kata kunci: Lontaran masa korona, Sinar kosmik
KARAKTERISTIK CO2 PERMUKAAN DI BANDUNG TAHUN 2008-2009 (PENGUKURAN TETAP DI WILAYAH PASTEUR) Chunaeni Latief,; Asif Awaludin; Afif Budiyono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1413.926 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2010.v8.a1533

Abstract

A fixed instrument for CO2 measurement (LPN SATKLIM-1B) has been built and installed at LAPAN Bandung, started by using a direct recorder system on the computer then it is completed with data connection to the CO2 monitoring web server. The CO2 sensor used by NDIR technology has been corrected by the temperature and pressure compensation. The sensor was installed on 15 m above ground level, acquired and also recorded its data by monitoring the software developed by using the Microsoft Visual Basic 6.0. From the recording result of measurement data in Bandung from 2008 until 2009, with one minute interval data, it was obtained that the data characteristic compared to the measurement data from Global Atmospheric Watch (GAW) station in Kototabang (using spectroscopy technology) and Mauna Loa, all of them have the same pattern. From one year analysis (2008 – 2009) it was also obtained that by the increase of motor vehicle in Bndung for about 226,500 vehicle a year, 76% land building, and just 8.7% green open spaces, the CO2 has increased 1.5 ppm and the temperature from AWS data 2008-2009 (a year) data has increased 4.3ºC. In another side, the CO2 multiplication effect has occurred at 06.30-08.00 AM according to surface and vertical profile measuremens, due to stable atmosphere and calm wind. Key words: Surface fixed system, CO2 concentration, Convection
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK AKTIVITAS SINTILASI IONOSFER DI ATAS MANADO, PONTIANAK DAN BANDUNG DARI DATA PENERIMA GPS (CHARACTERISTICS COMPARISON OF IONOSPHERIC SCINTILLATION ACTIVITIES OVER MANADO, PONTIANAK AND BANDUNG BASED ON GPS RECEIVER DATA) Sri Ekawati; Sefria Anggarani; Dessi Marlia
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.52 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v14.a2330

Abstract

Ionospheric scintillation activity on certain region need to be known its characteristics since its occurrence can degrade satellite signal quality of global satellite navigation system (GNSS) and also satellite communication that works at L-band frequency. The occurrence of ionospheric scintillation varies with location. Therefore, this paper aimed to determine comparative charasteristics of ionospheric scintillation activity over Manado, Pontianak and Bandung from amplitude scintillation index S4 data derived from GPS receiver. The data obtained from the GPS Ionospheric Scintillation and TEC Monitor (GISTM) at Manado station (1.48o N; 124.85oE geomagnetic latitude 7.7oS), at Pontianak station (0.03o S;109.33oE geomagnetic latitude 9.7oS) and at Bandung (-6.90oS;107.6oE geomagnetic latitude 16.54oS) on July 2014 to June 2015. The data were classified into three categores : quiet, moderate and strong based on s4 index. Then we calculated percentage occurrence of scintillation monthly from each observation stastions and mapping of S4 index over Manado, Pontianak and Bandung. The results show that the presentage of strong scintillation (S4>0.5) above Manado is always lower than the other stastions. Strong scintillation was detected at one stations may not also detected at other stations. For very strong scintillastion event, the occurrence of strong scintillation could be detected by all observation stastions but vary in duration. Duration of strong scintillation over Bandung was the longest (up to 4 hours) compared to Pontianak (less than 2 hours) and Manado (less than 1 hour). Based on map of distribution scintillastion occurrence, strong scintillation occurs more intensively over Bandung than over Pontianak and Manado.
ANALISIS VARIABILITAS CURAH HUJAN DI SUMATERA BARAT DAN SELATAN DIKAITKAN GENGAN KEJADIAN DIPOLE MODE Eddy Hermawan; Sopia Lestari
Jurnal Sains Dirgantara Vol 4, No 2 (2007)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.842 KB)

Abstract

The rainfall variability over the Western and Southern part of Sumatera Island related to te Dipole Mode (DM) event for period of twenty years (1980-1999) based on the monhly mean of rainfall, Dipole Mode Index (DMI), Sea Surface Temparature (SST), and Outgoing Longwave Radiation (OLR) data analysis have already investigated. By applying the spectral analysis technique Fast Fourier Transform (FFT), the most predominant peak ascillation of rainfall and DMI data has been identified. They are Semi Annual Oscillation (SAO) for Bukit Tinggi, Maninjau, and Sicincin sation, and Annual Oscillation (AO) for Padang-panjang, Padang, Batu Sangkar, Solok, Tabing, Bengkulu, Kotabumi, Jambi, and Palembang station, respectively. While the other predominant peak oscallation in period of 1.5 to 3 years are also found , especially on the DMI data analysis. It indicates that the rainfall variability over these areas could be related to the DM event, especially during DM (+) when the high pressure covers most of Indonesia region. When DM (+) occured, especially on JJA (June-July-August) and SON (September-October-November), the rainfall intensity over those area become less intil below normal condition. Conversely, when DM (-) occured, the amount of rainfall intensity is more than normal condition. Compared to DM (-), DM(+) looks more giving a significant influence to the rainfall in both areas.
RANCANG BANGUN SENSOR SUHU TANAH DAN KELEMBABAN UDARA Cahya Edi Santosa; Ari Sugeng Budiyanta
Jurnal Sains Dirgantara Vol 7, No 1 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.494 KB)

Abstract

Suhu dan kelembaban merupakan aspek penting dalam menentukan kondisi cuaca suatu daerah. Aplikasi penelitian ini berfungsi untuk mendeteksi suhu tanah dan kelembaban udara pada suatu tempat. Komponen utama yang digunakan adalah IC LM35 sebagai sensor suhu tanah dan HIH 3610 sebagai sensor untuk mendeteksi kelembaban udara. Rancang bangun sensor suhu tanah dan kelembaban udara ini dikembangkan untuk Automatic Weather Station (AWS). Kata kunci:Suhu Tanah, LM35, Sensor kelembaban, HIH3610.
ANALISIS ASOSIASI SEMBURAN RADIO MATAHARI TIPE III DENGAN FLARE SINAR-X DAN FREKUENSI MINIMUM IONOSFER - Suratno; Sri Suhartini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1608.284 KB)

Abstract

 The type III solar radio bursts is an indicator of solar X-ray flare phenomena. The effect of solar X-ray flares to the ionospheric layer is the increasing of minimum frequency (fmin) which indicates the absorption of incoming high frequency (HF) radio wave. Further impact is a disturbance of high frequency radio communications. The number and flux density of type III bursts and X-ray flare can used as an information of ionospheric disturbance possibility. The correlation analysis shows that the number of X-ray flare is related to the number of ionospheric absorption and the time duration of these absorption. The serial event of type III bursts and solar X-ray flare occures during February 6th to 12th, 2010 are an example cases of the early warning of possibility of radio communications disturbances. Key Words:Solar radio bursts, X-ray flare, Radio communication disturbance
EVALUASI DAN PREDIKSI CUACA ANTARIKSA BERDASARKAN PERUBAHAN HARIAN INDEKS AKTIVITAS MATAHARI: SSN, F10.7, FXRAY, DAN EFLARE (EVALUATION AND PREDICTION OF SPACE WEATHER BASED ON DAILY CHANGES OF SOLAR ACTIVITY INDICES: SSN, F10.7, FXRAY, AND EFLARE) Rhorom Priyatikanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.651 KB)

Abstract

Cuaca antariksa menjadi aspek yang penting dalam peradaban modern karena umat manusia semakin mengandalkan teknologi antariksa. Kondisi ini mendorong adanya upaya yang baik dalam mengukur kondisi terkini antariksa dan memperkirakan masa depan. Sejumlah indeks telah didefinisikan sebagai parameter cuaca antariksa, terutama aktivitas magnetik Matahari. Studi ini menelaah variabilitas dan parameter statistik dari empat indeks, yakni bilangan bintik Matahari (SSN), fluks radio 10 cm (F10.7), fluks sinar-X latar belakang (Fxray), dan energi total flare (Eflare). Siklus 23 dan 24 dipilih sebagai batas waktu analisis. Tujuannya adalah untuk mengetahui variabilitas setiap indeks sepanjanng siklus Matahari serta mengetahui karakter perubahan harian indeks tersebut. Berdasarkan analisis tersebut, tidak ditemukan perbedaan fase yang signifikan di antara fluktuasi keempat indeks meski amplitudo variasi yang berbeda teramati. Perubahan harian dari indeks tersebut hampir mengikuti distribusi Gaussian sehingga pengelompokkan ke dalam kelas diskrit dapat dilakukan. Batasan statistik 0,25? dan 0,85? dapat dipakai untuk membedakan perubahan kecil dan besar.Kata Kunci: Bintik Matahari, Emisi radio, Sinar-X, Energi flare
ANALISIS DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL SINTILASI IONOSFER KUAT DI ATAS INDONESIA SELAMA EKUINOKS 2013 [ANALYSIS OF SPATIAL AND TEMPORAL DISTRIBUTION OF STRONG IONOSPHERIC SCINTILLATION OVER INDONESIA DURING EQUINOX 2013] - Asnawi; Prayitno Abadi; Sri Ekawati; Dessi Marlia
Jurnal Sains Dirgantara Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1066.731 KB)

Abstract

Ketidakteraturan ionosfer daerah ekuator magnetik mempunyai kecenderungan karakteristik yang khas terkait fenomena gelembung plasma dan Equatorial spread F (ESF). Fenomena tersebut terjadi akibat ketidakstabilan plasma setelah matahari terbenam sehingga terjadi gradien kerapatan elektron yang memicu munculnya sintilasi ionosfer. Informasi gangguan sintilasi temporal dan spasial diperlukan untuk mitigasi dampaknya terhadap sistem telekomunikasi dan navigasi. Untuk analisis spasial dan temporal kemunculan sintilasi ionosfer wilayah Indonesia dilakukan pemetaan dengan teknik interpolasi tetangga terdekat (nearest neighbour). Data indeks amplitudo sintilasi ionosfer (S4) yang digunakan diperoleh dari lima stasiun pengamatan yaitu Kototabang, Bandung, Pontianak, Manado, dan Kupang untuk periode 2013. Hasil pemetaan sintilasi ionosfer menunjukkan evolusi kemunculan sintilasi secara spasial yang hampir merata di seluruh wilayah dan terindikasi bergerak ke arah barat. Indikasi pergerakan kemunculan ini disebabkan pergerakan batas waktu terbenam matahari yang bergerak ke arah barat. Secara temporal, diperoleh data kemunculan yang lebih sering pada sore hari hingga tengah malam terutama pada bulan ekuinoks yaitu Maret-April dan September-Oktober.Kata kunci: Ionosfer, Sintilasi, Interpolasi Tetangga terdekat