cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER DI BAGIAN UTARA EKUATOR SUMATERA PADA SAAT PERISTIWA EL-NINO DAN DIPOLE MODE POSITIF TERJADI BERSAMAAN Sri Woro B. Harijono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.405 KB)

Abstract

Analisa kondisi curah hujan yang tetap normal atau atas normal di bagian utara Sumatera pada periode bulan Juni-Juli-Agustus (JJA) pada saat peristiwa El Nino dan Dipole Mode Positif terjadi secara bersaman (simultan) telah dilakukan dengan menggunakan parameter Air Mampu Curah (Precipitable Water, PW), tutupan awan, dan radiasi gelombang panjang (OLR). Sirkulasi atmosfer Timur – Barat dan Utara – Selatan yang merupakan wahana transportasi masa uap air menuju bagian utara Sumatera telah digambarkan dalam bentuk peta sirkulasi Zonal dan peta sirkulasi Meridional. Pada saat kejadian Dipole Mode (DM) positif dan terjadi El Nino akan menyebabkan bergesernya sistem sirkulasi zonal yang menjauhi wilayah Indonesia ke arah Samudera Pasifik bagian tengah karena pengaruh El Nino dan ke arah barat Samudera India karena pengaruh DM positif. Proses dinamika aliran massa uap air ini mengalami anomali mengakibatkan penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan ekuator. Namun pada empat lokasi penelitian, di bagian utara Sumatera (Aceh – Medan – Lhokseumawe – Meulaboh), selama periode JJA saat terjadinya DM positif dan tahun El Nino (1963, 1973, 1982 dan 1997) sifat curah hujannya lebih tinggi dari keadaan rata-ratanya. Hal ini disebabkan masih adanya ketersediaan uap air di sekitar wilayah penelitian yang teridentifikasi antara lain; dari parameter OLR, Air Mampu Curah (Precipitable water) dan tutupan awan serta adanya mekanisme transfer masa uap air tersebut ke arah bagian utara Sumatera yang diidentifikasikan sebagai angin Monsun India. Analisis lebih rinci dari data curah hujan rata-rata bulanan di atas menunjukkan bahwa sifat hujan di Medan dan Lhokseumawe tidak signifikan bila dibandingkan dengan Aceh dan Meulaboh. Hal ini disebabkan faktor lokal seperti posisi geografi dan sirkulasi lokal berperan penting dalam proses pengangkatan massa udara/konveksi dan berfungsi dalam mekanisme pembentukan hujan di daerah tropis. Posisi geografis Medan dan Lhokseumawe yang berada di balik pegunungan Bukit Barisan menjadi daerah belakang angin selama periode Juni-Juli-Agustus (JJA), sehingga tinggi/besarnya curah hujan dari normalnya tidak signifikan. Sementara Aceh dan Meulaboh yang berada di muka pegunungan Bukit Barisan menjadi daerah hadap angin pada periode tersebut dan sifat hujan atas normalnya signifikan. Kata kunci: ENSO, India Ocean Dipole Mode (IODM), Sirkulasi Walker, Sirkulasi Hadley, PW, Tutupan Awan.
SEMBURAN RADIO MATAHARI TIPE III SEBAGAI INDIKATOR PENINGKATAN INTENSITAS ANGIN SURYA [TYPE III SOLAR RADIO BURSTS AS INDICATOR OF SOLAR WIND INTENSITY ENHANCEMENT] - Suratno; Santi Sulistiani; Johan Muhamad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.916 KB)

Abstract

Fenomena flare, lontaran partikel energi tinggi, semburan radio tipe III dan angin surya merupakan rangkaian kejadian yang memiliki keterkaitan yang kuat. Semburan tipe III dipicu oleh kejadian flare dan lontaran partikel bermuatan energi tinggi di korona matahari dengan kecepatan kira-kira sepertiga kali kecepatan cahaya. Partikel energetik ini akan mengakibatkan peningkatan densitas dan kelajuan angin surya yang terdeteksi di atmosfer atas bumi. Beda waktu antara waktu awal semburan tipe III dan waktu puncak angin surya merupakan waktu penjalaran dari partikel energetik. Waktu penjalaran partikel energetik dapat diturunkan dari pergeseran frekuensi semburan tipe III. Hasil analisis sebanyak 34 pasangan data semburan tipe III dan angin surya ditemukan bahwa beda waktu antara waktu awal semburan tipe III sampai dengan puncak kelajuan angin surya berada pada rentang 7 sampai 60 menit dan beda waktu antara waktu awal tipe III dengan puncak densitas berada pada rentang 10 sampai 60 menit. Beda waktu penjalaran partikel energetik yang diturunkan dari pergeseran frekuensi tipe III dengan data pengamatan menunjukkan bahwa nilainya akan semakin mendekati nol apabila klas flare sinar-X tinggi (kelas M dan atau X) dan atau posisi flare berada di sekitar meridian tengah dan belahan barat matahari. Kata Kunci: flare, Semburan radio tipe III, Angin surya
EVOLUSI ORBIT CENTAURS DAN TRANS-NEPTUNUS KE BAGIAN DALAM TATA SURYA - B. Dermawan; - Z. Hudaya; - T. Hidayat; - M. Putra; - A. Fermita; - D. T. Wahyuningtyas; - D. Mandey; - D. Utomo
Jurnal Sains Dirgantara Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1108.08 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2010.v8.a1535

Abstract

Dynamical study of Trans-Neptunian Objects (TNOs) showed that the orbital evolution of TNOs, especially for Scattered-Disk class, is closely related to Centaurs. As of 1 June 2009, there were 673 known Centaurs and TNOs whose orbits are well-determined within an uncertainty of  6.4 /decade. It is interesting to investigate a fraction of evolving Centaurs and TNOs to inner solar system regions along 1 Myr evolution under perturbations of all planets. In order to have a better knowledge about spatial distributions of Centaurs and TNOs, we generated additional four sets artificial data based on the known distribution. We find that most Centaurs show chaotic orbital evolutions and many of them are ejected out to the outer solar system. The ejected Centaurs in the first-half evolution are more numerous than that of the second-half one. This study also indicates that number of Centaurs originated from 3:2 Neptune resonance objects is more abundant at about 5  105 yr, and only ~1% Centaurs and TNOs evolve to be Mars-crossers. Keywords: Asteroids, Orbit dynamic, Centaurs, Trans-Neptunus
Back Pages JSD Vol 14 No 1 Desember 2016 Redaksi Jurnal
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.003 KB)

Abstract

Back Pages JSD Vol 14 No 1 Desember 2016
MODEL TEMPORAL CURAH HUJAN DAN DEBIT SUNGAI CITARUM BERBASIS ANFIS - Ruminta
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.241 KB)

Abstract

Penelitian terhadap model temporal curah hujan dan debit sungai berbasis ANFIS telah dilakukan di daerah aliran sungai Citarum, Jawa Barat. Penelitian tersebut menggunakan data bulanan hasil observasi curah hujan, evapotranspirasi, dan debit sungai dari Januari 1968 hingga Desember 2000 dan data bulanan Global Temperature (GT) dan Central Indian Precipitation (CIP) yang diperoleh dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP). Identifikasi model temporal curah hujan dan debit sungai didasarkan pada Adaptive Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model temporal curah hujan dan debit sungai berbasis ANFIS dapat mensimulasi data observasi secara akurat. Model tersebut mampu meminimalisasi bias (RMSE) dan memaksimalisasi presisi (E). Model tersebut sangat potensial untuk memprediksi curah hujan dan debit sungai di masa Model Temporal Curah Hujan dan Debit ......... (Ruminta) 23 datang. Prediksi curah hujan dan debit sungai dari model temporal tahunan lebih akurat dibanding model temporal bulanan. Koefisien limpasan (C) sungai Citarum sangat besar (lebih dari 53%) dan cenderung naik secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa tutupan lahan oleh hutan cenderung makin berkurang. Nilai rasio debit sungai maksimum-minimum (Qmax /Qmin ratio) relatif tinggi yaitu berkisar antara 2.17 – 15.48, menunjukkan bahwa sumber daya air di daerah aliran sungai Citarum telah mengalami kerusakan. Cadangan air (S) adalah defisit dan cenderung berkurang secara signifikan. Fakta ini menunjukkan bahwa kekeringan di daerah aliran sungai Citarum akan terjadi sangat rawan. Kata kunci: Curah hujan, Debit sungai, ANFIS, Koefisien limpasan, Rasio Qmax /Qmin.
HOLT-WINTERS DALAM PREDIKSI ANOMALI OLR Eddy Hermawan
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.787 KB)

Abstract

One of the pivotal study when analyzing the impact of the Madden-Julian Oscillation (MJO) phenomenon on rainfall anomalies in the Western part of Indonesia region is knowing the characteristics and the prediction of Outgoing Longwave Radiation (OLR) as the main parameter. This paper, focused to develop a predictive model OLR using the Box-Jenkins (ARIMA) method, which compared by the Holt-Winters method. This analysis focused on the average five days (pentad) OLR data in the Western part of Indonesia region, precisely at the position of 120oE for period of January 2007 to December 2009. Based on the comparison of the MSE (Mean Squares of Errors), and the MAPE (Mean Absolute Percentage Error) obtained from the Box-Jenkins (ARIMA) and Holt-Winters methods can be concluded that appropriate to predict the value of pentad OLR data on the position 120oE is the Box-Jenkins (ARIMA) method, because it has smaller value of MSE and MAPE comparing with the Holt-Winters method. Box-Jenkins model is the model ARIMA (1.0.1)(0.1.1)9 according to the results of significance analysis, autocorrelation in the residuals (white noise), also normality of residuals, where the process is repeated until model is really suitable and best meet the assumptions of model selection. The models can be assessed by the signal tracking value at each forecasting model. This assessment showed two of models in accepted boundary value, i.e ±5. This shows forecasting model can still be used to predict the 4 periods of the OLR pentad anomaly. Keywords: Box-Jenkins (ARIMA), Holt-Winters, OLR, and Prediction Model ABSTRAK Salah satu kajian penting ketika menganalisis dampak dari fenomena Madden-
ANALISIS KORELASI PEARSON UNTUK UNSUR-UNSUR KIMIA AIR HUJAN DI BANDUNG Tuti Budiwati; Afif Budiyono; Wiwiek Setyawati; Asri Indrawati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 7, No 2 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.329 KB)

Abstract

Pearson correlation coefficients are used to study influences of chemical and meteorological factors to rain water characteristic. The chemical composition of rain water analysis is composed of anion variables such as sulphates (SO42-), nitrates (NO3-), chlorides (Cl-), and cation variables such as ammonium (NH4+), calsium (Ca2+), kalium (K+), sodium (Na+) and magnesium (Mg2+). Furthermore, other active variables such as pH and electric conductivity (EC) influences are also assessed. The statistical analysis is used to obtain a more comprehensive assessment in order to understand acid rain events. The acid rain is often correlated to strong meteorological factor influences such as rainfall. Therefore, the study is carried out for two different seasons in Bandung, i.e. wet and dry seasons.Keywords: Anion, Cation, Electric conductivity (EC), Pearson correlation coefficient, pH
PERFORMA WAVEFORM SISTEM ALE 2G PADA PROSES IDENTIFIKASI KETERSEDIAAN KANAL IONOSFER SIRKUIT BANDUNG-WATUKOSEK [PERFORMANCE OF THE 2G ALE WAVEFORMS FOR IDENTIFICATION PROCESS OF IONOSPHERIC CHANNEL AVAILABILITY ON BANDUNG-WATUKOSEK CIRCUITS] Varuliantor Dear; Adit Kurniawan
Jurnal Sains Dirgantara Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.227 KB)

Abstract

Penelitian ini menganalisis performa waveform sistem Automatic Link Establishment (ALE)generasi kedua (2G) pada proses identifikasi ketersediaan kanal yang dilakukan berdasarkan hasilpenerapan pada sebuah sirkuit komunikasi kanal ionosfer. Analisis dilakukan dari hasilperbandingan antara perhitungan ketersediaan kanal berdasarkan kemampuan pantul oleh lapisanionosfer dan hasil penerapan waveform sistem ALE pada sirkuit komunikasi Bandung(6,53ºLS;107,35ºBT) –Watukosek (7,15ºLS;112,45ºBT) yang menggunakan sebuah frekuensi tunggal,yakni 10,1455 MHz. Hasil analisis performa identifikasi ketersediaan kanal waveform ALE dilakukandengan menyajikan kurva Bit Error Rate (BER) rata-rata sebagai fungsi Signal+Noise+Distorsi/Noise+Distorsi (SINAD), dan distribusi SINAD dari data empiris yang diperoleh. Dari kurva BER rataJurnalrata sebagai fungsi SINAD dan distribusi SINAD untuk tiap periode satu hari pengamatan,perhitungan nilai outage probability (Pout) berdasarkan kriteria nilai SINAD minimum dari BERmaksimum yang diijinkan pada sistem ALE dilakukan untuk memperoleh persentase keberhasilanidentifikasi ketersediaan kanal. Hasil perhitungan Pout dengan kriteria BER maksimum 0,288menunjukkan bahwa waveform ALE 2G tidak dapat digunakan untuk proses identifikasi ketersediaankanal hingga mencapai lebih dari 50% dari nilai ketersediaan kanal maksimum yang telah dibatasioleh nilai Lowest Usable Frequency (LUF) dan Maximum Usable Frequency (MUF). Dari hasilperhitungan Pout tersebut, persentase keberhasilan identifikasi ketersediaan kanal dalam periode satuhari juga menunjukkan bahwa penggunaan waveform sistem ALE 2G hanya mampu mengidentifikasihingga 36% dari ketersediaan kanal yang tersedia dalam satu hari. Kegagalan identifikasiketersediaan kanal tersebut menunjukkan bahwa modulasi 8-Continuous Phase Frequency ShiftKeying (CPFSK) yang digunakan pada waveform ALE 2G belum optimal dalam proses identifikasiketersediaan kanal pada propagasi sistem komunikasi ionosfer.Kata Kunci:Waveform ALE, 8-CPFSK, Identifikasi Channel Availability
TELAH ORBIT SATELIT LAPAN-TUBSAT Nizam Ahmad; Thomas Djamaluddin
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No.1 Desember (2007)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.03 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2007.v5.a659

Abstract

The study of orbit characteristics of LAPAN-TUBSAT can be done by using some microsatellites which identical in the case of mission and its orbit. This knowledge is usefull to reduce the failure of mission. This characteristics can be seen from the change of orbital elements caused by perturbation forces. LAPAN-TUBSAT is placed in Low Earth Orbit (LEO) at altitude about 630 km which has orbit near polar (i≈98˚). At this altitude, the perturbations come from non-gravitation force such as atmospheric drag and gravitation force from earth oblatness. From the simulation can be predicted that in the early years of its operation, the variation in altitude and semi major axis is relatively small. The means that this satellite could have the life time more than 50 years. The effect of earth oblatness will cause the regression of the nodes of about 1˚/day and the rotation of the line of apsides of about -3˚/day. These changes are not too critical for near polar orbit which means that satellite keeps conducted the mission goal such as satellite imaging.
HISTERESIS IONOSFER SELAMA SIKLUS MATAHARI KE 23 DARI GLOBAL IONOSPHERIC MAP [IONOSPHERIC HYSTERESIS DURING SOLAR CYCLE 23 FROM GLOBAL IONOSPHERIC MAP] Buldan Muslim
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1318.831 KB)

Abstract

Model-model yang digunakan untuk prediksi ionosfer jangka panjang belum mempertimbangkan efek histeresis ionosfer. Beberapa hasil penelitian pengaruh histeresis ionosfer pada pemodelan ionosfer jangka panjang memberikan kesimpulan yang kontradiktif. Data Total Electron Content (TEC) yang diperoleh dari Global Ionosphere Maps (GIM) telah digunakan untuk penelitian variabilitas spasial dan diurnal histeresis ionosfer selama siklus matahari 23. Besar histeresis diestimasi sebagai perbedaan antara rata-rata TEC selama fase turun dengan rata-rata TEC selama fase naik dari siklus matahari. Histeresis ionosfer memiliki variabilitas spasial yang mirip dengan variabilitas anomali ionisasi ionosfer ekuator, dimana nilai terbesarnya terjadi di daerah puncak anomali ionisasi ionosfer ekuator, dan ada ketidaksimetrissan arah lintang dan bujur. Histeresis ionosfer ekuator dan lintang rendah memiliki pola kejadian yang sistematis baik secara spasial maupun temporal sehingga memungkinkan untuk memasukkan efek histeresis dalam model ionosfer jangka panjang. Histeresis ionosfer di daerah lintang rendah bisa menyebabkan kesalahan dari model linier ionosfer sampai 49 %. Oleh karena itu dalam pemodelan ionosfer lintang rendah hendaknya mempertimbangkan efek histeresis dengan menggunakan formulasi yang berbeda untuk fase naik dan fase turun dari siklus matahari.Kata kunci: Ionosfer, Aktivitas matahari, Histeresis

Page 10 of 21 | Total Record : 210