cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
PENGGUNAAN METODE ASPECT SENSITIVITY DALAM PENENTUAN TINGGI LAPISAN TROPOPAUSE DI SAAT MJO AKTIF MELINTAS KAWASAN KOTOTABANG DAN SEKITARNYA Eddy Hermawan; Irma Nurlela; Tri Wahyu Hadi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No.1 Desember (2007)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.882 KB)

Abstract

This paper is mainly concerned to the utilization of aspect sensitivity (Pv/Po) method to define the tropopause height variation over the equatorial Indonesia, nearby Kototabang (0,2˚S; 100,32˚E), Bukittinggi, West Sumatera using the Equatorial Atmosphere Radar (EAR), especially during the Coupling Processes Equatorial Atmosphere (CPEA) Campign I in 2004 is already done. It is very important to be done since the tropopause is the buffer layer between troposphere and stratosphere (and also contrary) that usually called as the Stratosphere-Troposphere Exchanged (STE) (Holton, 1996). Validation's results with the radiosonde data shows that (Pv/Po relatively higher that radiosonde data. They are about 712 meter and 961 meter for Cold Point Tropopause (CPT) and Lapse Rate Tropopause (LRT) version, respectively. The mean difference between CPT and LRT itself is about 248 meter. This is enough valid considering to the maximum difference between of them not more 500 meter ( Haynes and Shepherd, 2001). This result then be applied in determining of tropopause height variation over Kototabang especially when the Madden-Julian Oscillation (MJO) passed over this region from November to December 2001. It shown that there are no significant differences between MJO active and no active on the tropopause height determination about 17.98 km and 17.73 km, respectively. The most interest is the tropopause height variation is larger during the MJO active than non active.To get the better understanding of tropopause height variation, especially with good time and spatial height resolution, the utilization of ERA and other instruments Kototabang are very needed.
PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI TERHADAP KERAPATAN ATMOSFER ATAS BERDASARKAN DATA POSISI GPS SATELIT LAPAN-A2 (SOLAR ACTVITY INFLUENCE ON THE UPPER ATMOSPHERIC DENSITY DERIVED FROM GPS DATA ON LAPAN-A2 SATELLITE) Tiar Dani; Rhorom Priyatikanto; Slamet Supriadi; Abdul Rachman; Amrullah A. Qadir
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1321.549 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2017.v14.a2550

Abstract

Studies on atmospheric density were very important to obtain a correction factor for the atmospheric density model. Thus, improvement of atmospheric models accuracy, i.e. CIRA, JASCHIA, NRLMSISE, became important in its application for re-entry prediction, satellite tracking and mitigation of the collisions probability between active satellites with space debris. GPS equipment installed in LAPAN-A2 indirectly measured the upper atmospheric density variation in-situ from the satellite orbit path. Notwithstanding the measurement had a lower temporal resolution than using accelerometer, but still gives better resolution than using Two-Line Element (TLE) data. This study had successfully determined upper atmospheric density variation with a 10 second resolution using LAPAN-A2 GPS data. The LAPAN-A2 GPS data validated using In-track Radial Cross-track (RIC) had ± 2 km error compared to the TLE data. It was also found that there was influence of solar activity on atmospheric density changes obtained from the LAPAN-A2 GPS data. AbstrakStudi kerapatan atmosfer atas sangat penting untuk memperoleh faktor koreksi dari suatu model kerapatan atmosfer. Peningkatan akurasi dari model atmosfer yang telah ada (CIRA, JASCHIA, NRLMSISE) sangat penting dalam penerapannya untuk prediksi re-entry, penjejakan satelit dan prakiraan kemungkinan terjadinya tabrakan antara satelit aktif dengan sampah antariksa. Peralatan GPS yang terpasang di satelit LAPAN-A2 secara tidak langsung dapat melakukan pengukuran in-situ perubahan kerapatan atmosfer atas dari orbit yang dilaluinya, meskipun tingkat resolusi temporalnya masih lebih rendah dibandingkan menggunakan instrumen akselerometer tetapi masih jauh lebih baik dibandingkan menggunakan data Two-Line Element (TLE). Studi ini telah berhasil memperoleh variasi kerapatan atmosfer atas dengan resolusi 10 detik menggunakan data posisi GPS LAPAN-A2. Selain itu, diperoleh pula tingkat kesalahan dalam koordinat satelit (Radial Intrack Crosstrack - RIC) data TLE terhadap data posisi GPS LAPAN-A2 sebesar ± 2 km. Selain itu terlihat pula pengaruh aktivitas matahari terhadap perubahan kerapatan atmosfer atas yang diperoleh dari data posisi GPS LAPAN-A2
AEROSOL BACKGROUND LAPISAN STRATOSFER DI ATAS BANDUNG (6˚54'LS 107˚35'BT) BERDASARKAN PENELITIAN TAHUN 1997-2000 MENGGUNAKAN RAMAN LIDAR Saipul Hamdi; Sri Kaloka; Iis Sofiati; Afif Bidiyono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 3, No.1 Desember (2005)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.638 KB)

Abstract

Aerosol background observation over Bandung (6˚54'S 107˚35'E) using LIDAR has being done since 1997 as a part of global LIDAR network coordinated by Japan. The 5 years dta shows that the Integrated Backscattering Coefficient at altitude 18-35 km is very small, in the order of 10-6 sr-1. It is 1/100 times compared to IBC over Japan 4 years after Pinatubo eruption. The altitude of IBC weight is relatively stable, in the range of 20-25 km.
KARAKTERISTIK RUANG-WAKTU SUMBER UAP AIR DI ATAS BENUA MARITIM INDONESIA MENGGUNAKAN DATA ERA INTERIM [SPATIO-TEMPORAL CHARACTERISTICS OF MOISTURE SOURCE OVER THE INDONESIAN MARITIME CONTINENT USING ERA INTERIM DATA] - Suaydhi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.48 KB)

Abstract

Sumber uap air di atmosfer di tiga sub wilayah dalam Benua Maritim Indonesia telah dianalisis menggunakan data ERA Interim. Ada dua sumber uap air atmosfer yang penting, yaitu adveksi dan konveksi. Samudera Pasifik dan Samudera India merupakan sumber uap air utama untuk curah hujan di Benua Maritim. Namun demikian wilayah ini juga merupakan salah satu dari tiga pusat konveksi utama di dunia. Oleh karena itu kontribusi penguapan lokal terhadap curah hujan mempunyai peranan penting. Sebuah model daur ulang curah hujan dinamis digunakan untuk melakukan estimasi kontribusi tersebut. Nisbah hujan daur ulang ini bervariasi di berbagai sub wilayah yang berbeda, namun umumnya berpuncak pada musim semi belahan bumi utara dengan nilai tertinggi 60% yang bertepatan dengan keberadaan ITCZ di atas Benua Maritim. Nilai nisbah terendah adalah 25% yang terjadi selama musim panas belahan bumi utara, di mana ITCZ berada paling jauh dari ekuator. Siklus curah hujan tahunan dari sumber uap air lokal ini mirip dengan hujan konvektif dari TRMM. Nisbah hujan daur ulang meningkat (turun) waktu El Niño (La Niña). Hal ini memberikan indikasi bahwa fluks uap air yang kuat yang masuk ke wilayah ini menekan kontribusi uap air hasil penguapan lokal, sementara selama El Niño fluks tersebut melemah bahkan berbalik arah dengan membawa uap air keluar dari wilayah Indonesia.Kata Kunci: Uap air, Benua maritim, Hujan daur ulang, El Niño, La Niña
RESPONS SINTILASI SINYAL GPS SAAT BADAI GEOMAGNET DI LINTANG RENDAH - Aswati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 3, No.2 Juni (2006)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.534 KB)

Abstract

S4 in dex data of ISM (Ionospheric Scintillation Monitoring) at Pontianak and Pare-pare have been used to analyze the response of ionospheric scintillation during magnetic strom at low latitude. The ionospheric scintillation observed by a GPS receiver of L1 (1.57542 GHz) signals to measure both amplitude and phase variations during the geomagnetic storm of April 6, 2000 and July 15, 2000. Observation of S4 index during geomagnetic storm of April 7, 2000 at Pontianak and July 16, 2000 at Parepare did not show the main phase. This result is in agreement wiyh the hypothesis of the effect of the ring current in the generating or inhibition of F layer irregularities during magnetic storm. Since the minimum excursion of Dst during the magnetic storm on April 6 and July 15, 2000 are near midnight (24.00 UT) or around 07.00 Local Time (LT) on April 7 and July 16, 2000, so that the excursion categorized by excursion Dst takes place during daytime and well before sunset, where shown scintillation are inhibited.
SELEKSI PARAMETER MASUKAN MODEL TEC IONOSFER DI DAERAH LINTANG RENDAH [INPUT PARAMATERS SELECTION OF IONOSPHERIC TEC MODEL AT LOW LATITUDE REGION] Buldan Muslim
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.183 KB)

Abstract

Dalam pemodelan Total Electron Content (TEC) ionosfer, pemilihan parameter masukan dapat meningkatkan efektivitas penerapannya pada prediksi ionosfer. Beberapa parameter masukan untuk model ionosfer antara lain adalah fluks radio matahari pada gelombang 10,7 cm (F10.7) indeks aktivitas geomagnetik dari pengamatan di daerah lintang tengah yaitu indeks Ap dan indeks aktivitas geomagnet dari pengamatan di daerah ekuator yaitu indeks Dst. Data TEC dari Global Ionospheric Map (GIM) pada bulan Januari, mulai 1999 sampai 2010 telah digunakan untuk pembelajaran dan pengujian model Jaringan Syaraf Tiruan Regresi Umum (JSTRU) di daerah lintang rendah. Pemilihan parameter masukan untuk model TEC dilakukan dengan cara mengoptimasi konfigurasi masukan yang dapat menghasilkan model dengan kesalahan terkecil. Model TEC JSTRU dibuat dengan empat konfigurasi masukan: 1. F10.7, dan Universal Time (UT), 2. F10.7, Ap, dan UT, 3. F10.7, Dst, dan UT, 4. F10.7, Ap, Dst, dan UT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akurasi model TEC pada meridian 105 ºBT dengan parameter-parameter masukan yaitu F10.7, indeks geomagnet (Dst atau Ap), dan UT bervariasi terhadap lintang geomagnet. Konfigurasi parameter masukan yang menghasilkan model TEC bulanan paling akurat adalah konfigurasi ketiga yang menggunakan indeks Dst. Kata kunci: TEC, Model, Parameter masukan, Pemilihan, Jaringan syaraf tiruan, Regresi umum, Korelasi
PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI PADA KALA HIDUP SATELIT Thomas Djamaluddin
Jurnal Sains Dirgantara Vol 3, No.1 Desember (2005)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1059.944 KB)

Abstract

It has been known the effect of solar activities in satellite orbits. However, kinds and magnitude of the effect should be investigated for developing integrated model on space weather and satellite orbits. This paper reports the result of global analysis of longterm orbiting satellite with lifetime several solar cycle. It is obtained that there is segregation on satellite's decay time indicating enhancement of satellite decay during active solar. Analysis result on some longterm orbiting satellite, covering several solar cycles, indicate a significant drop on orbital element during maximum solar activity.
ANALISIS PROPAGASI GELOMBANG RADIO PADA SIRKIT KOMUNIKASI DISTRIK PAMEUNGPEUK-BANDUNG DAN HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI LAPISAN IONOSFER [ANALYSIS OF RADIO WAVE PROPAGATION OVER PAMEUNGPEUK-BANDUNG DISTRICT COMMUNICATION CIRCUIT AND ITS RELATIONS WITH CONDIT - Jiyo
Jurnal Sains Dirgantara Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.455 KB)

Abstract

Makalah ini membahas kaitan antara keberhasilan 9 kanal frekuensi untuk sirkit komunikasi distrik Pameungpeuk-Bandung dengan variasi harian lapisan ionosfer. Tujuannya untuk mengetahui ketergantungan keberhasilan kanal frekuensi yang dapat digunakan pada sirkit tersebut terhadap variasi lapisan ionosfer. Keberhasilan kanal frekuensi diamati dengan perangkat Automatic Link Establishment (ALE) dan data ionosfer diamati menggunakan ionosonda IPS51 di Pameungpeuk (7,65°LS, 107,96°BT). Sebagai contoh kasus digunakan data pengamatan bulan Juni 2013. Dari analisis disimpulkan bahwa dari 9 kanal frekuensi hanya 5 kanal yang dapat digunakan yaitu frekuensi 3,596 MHz, 7,0495 MHz, 7,102 MHz, 10,1455 MHz, 14,109 MHz. Kanal frekuensi 3,596 MHz dapat digunakan optimal pada malam hari karena pengaruh peningkatan absorpsi pada siang hari. Frekuensi 7,0495 MHz, 30MHz, dan 10,1455 MHz dapat digunakan dengan baik pada siang hari karena terjadi peningkatan kerapatan elektron lapisan ionosfer. Frekuensi 14,109 MHz dapat digunakan pada siang hingga malam hari karena adanya kemungkinan pemantulan oleh lapisan E-Sporadis. Frekuensi 18,106 MHz, 21,096 MHz, 24,926 MHz, 28,146 MHz tidak bisa digunakan karena lebih tinggi dari frekuensi maksimum lapisan ionosfer. Semua ini menujukkan bahwa keberhasilan komunikasi radio pada sirkit Pameungpeuk-Bandung bergantung kepada perubahan frekuensi lapisan ionosfer.Kata kunci: Propagasi, Distrik, Kanal, Absorpsi, Kerapatan elektron, E-Sporadis
Full paper JSD Vol. 14 No. 1 Desember 2016 Redaksi Jurnal
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7166.342 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v14.a2922

Abstract

PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI PADA VARIASI CURAH HUJAN DI INDONESIA Wilson Sinambela; Tiar Dani; Iyus E. Rusnadi; Jalu Tejo Nugroho
Jurnal Sains Dirgantara Vol 5, No 2 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1425.284 KB)

Abstract

Aktivitas matahari dapat mempengaruhi parameter iklim jangka panjang. Radiasi ultraviolet, radiasi tampak (visible) dan radiasi panas adalah faktor utama yang mempengaruhi parameter iklim bumi. Radiasi-radiasi ini bervariasi mengikuti variasi aktivitas matahari dengan periode sekitar 11 tahun. Penelitian pengaruh aktivitas matahari pada variabilitas curah hujan di atas Indonesia selama 105 tahun (1900-2005) dilakukan dengan analisis wavelet dan korelasi empirik pada data variasi tahunan curah hujan, musim Jurnal Sains Dirgantara Vol. 5 No. 2 Juni 2008:149-168 150 DJF dan JJA yang telah dikelompokkan dengan metode fuzzy clustering. Melalui kombinasi metode fuzzy clustering, wavelet, dan metode korelasi memperjelas bahwa curah di Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas matahari jangka panjang. Kesamaan periodisitas curah hujan dengan aktivitas matahari, terutama periode -11 dan 22-tahun, merupakan indikasi pertama pengaruh aktivitas matahari pada variabilitas iklim Indonesia. Dari hasil analisis keterkaitan antara bilangan sunspot dan curah hujan dengan menggunakan pemulusan rata-rata bergerak 11 tahun dari rata-rata tahunan, curah hujan cenderung mengikuti pola variasi aktivitas matahari jangka panjang walaupun variasi curah hujan ada yang sefasa dan yang mendahului, variasi bilangan sunspot berkisar 15-20 tahun. Sementara itu, hasil analisis menunjukkan bahwa variasi curah hujan di cluster Indonesia Barat mempunyai korelasi yang baik dengan aktivitas matahari jangka panjang dengan indikator panjang siklus matahari sekitar 11 tahun, dan koefisien korelasinya mencapai r = 0,75. Sedangkan variasi curah hujan di cluster Indonesia Timur memiliki korelasi yang baik dengan variasi siklus matahari-11 tahun dan koefisien korelasinya bisa mencapai 0,81. Kata kunci : Variabilitas curah hujan, Aktivitas matahari, Panjang siklus matahari, Fuzzy Clustering.