cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
RELIABILITAS FREKUENSI KRITIS DAN KETINGGIAN LAPISAN IONOSFER HASIL SCALING OTOMATIS MENGGUNAKAN SISTEM PINTAR ESIR-CADI Jiyo M. Si.
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1689.47 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3066

Abstract

Scaling adalah metode untuk membaca dan menginterpretasikan nilai parameter ionosfer dari ionogram yang diperoleh melalui pengamatan menggunakan ionosonda. Metode ini mengacu kepada Report UAG-23A yang telah digunakan sebagai rujukan baku secara internasional. Pada awalnya, scaling dilakukan secara manual oleh teknisi yang terlatih. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi pemrograman, scaling dapat dilakukan secara otomatis menggunakan sistem pintar atau software. Salah satu software tersebut adalah The Expert System Ionogram Reduction (ESIR) yang telah beroperasi secara otomatis bersamaan dengan beroperasinya ionosoda CADI (Canadian Advanced Digital Ionosonde) di stasiun Kupang-Undana (10,16ºLS, 123,67ºBT) dan Manado-Tomohon (1,48ºLU,  124,85ºBT). Hasil scaling otomatis menggunakan ESIR-CADI diantaranya berupa frekuensi kritis lapisan ionosfer (foE, foF1, dan foF2) dan ketinggiannya (h’E, h’F, dan h’F2). Dalam makalah ini kami membandingkan parameter-parameter tersebut dengan parameter yang sama hasil scaling secara manual. Data yang digunakan merupakan hasil pengamatan di dua stasiun tersebut pada saat puncak siklus aktivitas matahari 2013 - 2015. Tujuannya untuk mengetahui reliabilitas frekuensi kritis dan ketinggian hasil scaling menggunakan ESIR-CADI. Hasil riset menunjukkan bahwa nilai individual dan median foE dan foF2, yang dihasilkan ESIR-CADI di stasiun Kupang-Undana dan Manado-Tomohon semuanya reliabel, sedangkan foF1 dan h’E tidak. Nilai individual dan median h’F2 yang reliabel hanya hasil scaling ESIR-CADI di stasiun Kupang-Undana, sedangkan untuk stasiun Manado-Tomohon hanya nilai mediannya saja. Parameter h’F yang reliabel hanya nilai median hasil scaling ESIR-CADI di Stasiun Kupang-Undana. Dengan demikian nilai foE dan foF2 hasil scaling ESIR-CADI dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi ionosfer pada sistem layanan SWIFtS, sedangkan h’F2 yang dapat digunakan hanya hasil ESIR-CADI Kupang-Undana.
ASTIGMATISMA TELESKOP 50 CM F/3,8 UNTUK OBSERVATORIUM NASIONAL TIMAU Rhorom Priyatikanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2829.753 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3082

Abstract

Observatorium Nasional Timau akan menjadi fasilitas observatorium di bagian tenggara Indonesia, dilengkapi dengan teleskop optik kelas sub-meter dan meter. Sebuah teleskop tipe Ritchey-Chretien dengan bukaan 50 cm dan panjang fokus 150 cm diharapkan menjadi kuda kerja dari program survei. Dalam makalah ini, tingkatan astigmatisma dari teleskop dievaluasi dengan menggunakan pendekatan geometris. Hasilnya menunjukkan bahwa astigmatisma cukup kecil dan tidak signifikan dalam mempengaruhi kinerja sistem keseluruhan. Besarnya direpresentasikan oleh koefisien Zernike Z22 yang nilainya 200 nm, jauh lebih kecil dari panjang gelombang operasional dan ukuran pixel kamera.
ANALYSIS OF WEST NUSA TENGGARA RAINFALL TO ENSO PHENOMENON BASED ON TRMM 3B43 DATA Amalia Nurlatifah
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1043.077 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3123

Abstract

West Nusa Tenggara is part of the Indonesian Maritime Continent region whose weather conditions are heavily influenced by the dynamics of the Pacific Ocean and Indian Ocean. One of the dynamics that influenced the rainfall condition was the ENSO phenomenon (El Nino and La Nina). This study analyzes rainfall response in West Nusa Tenggara to ENSO phenomenon. The research data was taken from TRMM 3B43 with a monthly temporal resolution and 0.25o spatial resolution. Based on the analysis, it was found that El Nino phenomenon characterized by the heating of Sea Surface Temperature (SST) in Nino 3.4 had an impact on decreasing rainfall in NTB. In contrast, the La Nina phenomenon characterized by the cooling of SST in Nino 3.4 tends to have an impact on increasing rainfall in NTB. Nevertheless, the value of the increase and decrease of Nino 3.4 SST anomaly and rainfall in NTB itself is not linear. This is probably due to the magnitude of the ENSO phenomenon only regulating rainfall changes only, not regulating how far, how strong, or how much rainfall is reduced or increased due to the influence of the ENSO phenomenon. This is evidenced by the small correlation coefficient between Nino 3.4 SST anomaly and rainfall in NTB where the strongest value only reached -0.4 in the JJA season. In the JJA season, the correlation coefficient of Nino 3.4 SST Anomaly and rainfall in NTB tend to be negative and strongest when compared to other seasons. This is probably due to the spatial coherence of NTB rainfall in the JJA season better than the other season. Spatially, almost all areas in NTB in El Nino month experience a decrease in rainfall. In contrast, almost all areas in NTB in the month of La Nina experience an increase in rainfall. The smallest decrease or increase in rainfall during El Nino or La Nina takes place in the southwestern of Sumbawa Island. That means, the influence of the ENSO phenomenon in this region tends to be weak.
PROBABILITAS LONTARAN MASSA KORONA BERDASARKAN PARAMETER MEDAN MAGNET UNIVARIAT Rhorom Priyatikanto; Emanuel Sungging Mumpuni; Tiar Dani; Farahhati Mumtahana; Nana Suryana
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (920.696 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3007

Abstract

Forecasting of flare occurrence and coronal mass ejection (CME) are necessary since those energetic phenomena are able to effectively influence the space weather on Earth. In this study, we analyzed four magnetic parameters of active region: (1) mean gradient of horizontal magnetic field (meangbh), (2) mean helicity (meanjzh), (3) mean photospheric magnetic free energy (meanpot) and (4) mean gradient of total field (meangbt) and their potential usage for the input in CME prediction based on linear statistics. Obtained that among those four parameters, meangbt is the best parameter for the purpose mentioned. Active regions with meanbgt ≤ 96 Gauss/Mm probably produce flare with CME and the True Skill Score from this prediction is ~20%. Eventhough this achieved score is considerably low, it is proportionally comparable with respect to the other work. Prediksi flare dan lontaran massa korona (coronal mass ejection, CME) perlu dilakukan mengingat kedua peristiwa energetik tersebut dapat mempengaruhi cuaca antariksa di Bumi secara efektif. Pada studi kali ini, kami menganalisis empat parameter magnetik daerah aktif: (1) rerata gradien medan horisontal (meangbh), (2) rerata arus puntir (meanjzh), (3) rerata gradien medan magnet total (meangbt), dan (4) rerata energi magnetik bebas fotosfer (meanpot) serta potensinya untuk sebagai input dalam prediksi CME berbasis statistik linier. Hasilnya, diantara keempat parameter tersebut, meangbt merupakan parameter terbaik untuk keperluan tersebut. Daerah aktif dengan meangbt ≤ 96 Gauss/Mm berpotensi menghasilkan flare yang disertai CME dan True Skill Score dari prediksi ini adalah ~20%. Meski masih tergolong rendah, skor yang didapatkan dapat disandingkan secara proporsional dengan pekerja oleh peneliti lain.
ANALISIS ARUS LISTRIK DAN MEDAN MAGNET PADA DAERAH AKTIF PENGHASIL FLARE AR NOAA 12017 Johan Muhamad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1705.884 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3190

Abstract

Flare Matahari terjadi akibat adanya pelepasan energi magnetik di suatu daerah aktif. Energi tersebut dihasilkan akibat adanya arus listrik yang mengalir di struktur korona daerah aktif. Pada daerah aktif penghasil flare, sistem arus listrik dan medan magnetnya terbentuk sedemikian rupa sehingga energi magnetiknya terakumulasi di daerah tertentu. Oleh karena itu, pemahaman akan karakteristik sistem kelistrikan dan kemagnetan daerah aktif penghasil flare sangat penting dikuasai agar prakiraan flare dapat dilakukan. Dengan menggunakan data medan magnet fotosfer dari Spaceweather HMI AR Patch (SHARP), kami melakukan analisis terhadap daerah aktif NOAA 12017 (AR 12017) yang menghasilkan banyak flare, termasuk flare kelas M dan X pada bulan Maret 2014. Kami menunjukkan bagaimana cara menurunkan parameter-parameter kelistrikan dan kemagnetan pada daerah aktif ini sepanjang periode flare tanggal 27-29 Maret 2014. Kami menemukan bahwa arus listrik vertikal pada daerah aktif ini menjadi semakin tidak netral menjelang terjadinya flare. Kami juga menemukan bahwa flare-flare terjadi pada awalnya di daerah dengan akumulasi energi yang tinggi, yakni di daerah dengan medan magnet yang tergeser dengan kuat akibat kemunculan fluks baru. Hasil ini menunjukkan bahwa daerah aktif AR 12017 dapat diidentifikasi sebagai penghasil flare, bahkan sebelum flare terjadi berdasarkan karaketeristik sistem arus dan konfigurasi medan magnetnya.
RELATIONSHIP AND PERIODICITY OF SOLAR CORONAL HOLE AREA WITH THE SOLAR WIND SPEED AND GEOMAGNETIC ACTIVITY Tiar Dani, M.Si
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1264.265 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3126

Abstract

Space weather disturbances during solar minimum are more dominantly caused by the appearance of the coronal hole in the sun. In this paper, we developed tools called DeLuNa to detect and calculate the geo-effective corona hole area based on 19.3nm images from the Atmospheric Imaging Assembly instrument on Solar Dynamics Observatory (SDO/AIA193). The results from geoeffective coronal hole detection and measurement from 2016 - 2018 then used to conduct cross-correlation (cc) analysis and wavelet analysis with the solar wind speed and Dst index. We found that an increase in the area of the coronal hole will cause solar wind speed to increase at 3.17 days later (cc = 0.65). Increasing the area of the coronal hole will also cause Dst index to decrease at 3.58 days later (cc = -0.35). While the decrease in the Dst index will only take 2 hours since the increased of the solar wind speed (cc = -0.59). Wavelet analysis short-term periodicities, i.e. 27, 13.5 and 7-9 days. The observed periodicities show that changes in solar wind speed and geomagnetic storm during minimum solar activity are more dominant caused by the geoeffective coronal hole total area.
VOL. 17 NO. 1 DESEMBER 2019 Nurlatifah, Amalia
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 1 (2020): Vol. 17 No. 1 Desember 2019
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7013.226 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3340

Abstract

KARAKTERISTIK KETEBALAN LAPISAN BRIGHT BAND HASIL MODEL PROFIL REFLEKTIVITAS DAN GRADIEN REFLEKTIVITAS Tiin Sinatra; Noersomadi Noersomadi; Ginaldi Ari Nugroho; Soni Aulia Rahayu
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3253

Abstract

Bright band merupakan indikator suatu lapisan pada awan stratus yang ditandai oleh peningkatan reflektivitas radar akibat kristal es yang meleleh. Hal tersebut dapat menyebabkan galat dalam menghitung estimasi presipitasi berdasarkan data radar. Oleh karena itu, deteksi bright band merupakan langkah yang penting untuk dilakukan guna mengoreksi data radar cuaca sebagai acuan dalam pengembangan model estimasi presipitasi. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi dua model untuk identifikasi bright band hasil observasi transportable X-band radar dari data range-height indicator (RHI). Model pertama dengan menggunakan function fit, yaitu profil vertikal reflektivitas (VPR; vertical profile of reflectivity) dan model kedua dengan menggunakan gradien reflektivitas (GR). Hasil analisis menunjukkan perbedaan galat dalam menentukan batas atas (batas bawah) untuk VPR adalah 4,51% (3,1%), sedangkan model GR 9,02% (3,9%). Identifikasi bright band dengan menggunakan model VPR lebih baik dibandingkan dengan model GR untuk penentuan batas atas dan batas bawah dari bright band. Pengetahuan mengenai karakteristik ketebalan BB dapat dimanfaatkan untuk analisis lebih lanjut terkait estimasi presipitasi kuantitatif berdasarkan observasi radar.
DETEKSI MANEUVER ORBIT BERDASARKAN METODE MOVING WINDOWS CURVE FITTING (MWCF) Mohamad Fikri Aulya Nor; Ayu Dyah Pangestu
Jurnal Sains Dirgantara Vol 18, No 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v18.a3477

Abstract

Manuver orbit merupakan anomali atau perubahan drastis pada parameter orbit tertentu dalam waktu yang singkat untuk mempertahankan orbit satelit. Untuk mendeteksi hal tersebut, digunakan metode moving windows curve fitting (MWCF). Metode ini menggunakan analisis statistik parameter orbital tertentu dari data two-line element (TLE) satelit untuk mendeteksi pencilan dalam segmen “jendela yang bergeser”. Hasil deteksi manuver dari beberapa satelit menunjukkan bahwa selain konfigurasi parameter algoritma MWCF, pemilihan parameter orbit yang menjadi data landasan deteksi dan jenis satelit mempengaruhi performa deteksi. Karakteristik parameter orbit saat terjadi manuver juga diperoleh, tetapi akurasinya bergantung pada performa deteksi. Dari 567 variasi uji coba deteksi manuver, ternyata efek konfigurasi parameter algoritma MWCF terhadap performa deteksi dapat dikonfirmasi dengan adanya hubungan-hubungan linear di antaranya. 
ESTIMASI KELIMPAHAN KEADAAN TUNAK POPULASI ASTEROID DEKAT-MATAHARI Judhistira Aria Utama; Ferry Mukharradi Simatupang; Lala Septem Riza; Taufiq Hidayat
Jurnal Sains Dirgantara Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2020.v17.a3264

Abstract

Telah dilakukan simulasi numerik terhadap ribuan sampel asteroid dekat-Bumi nyata (ADB, dari kelas Amor, Apollo, Aten, dan Atira) yang orbitnya telah dikenal dengan sangat baik (U = 0). Komputasi orbit dilakukan hingga 5x106 tahun ke depan memanfaatkan paket integrator SWIFT-RMVS (Regularized Mixed-Variable Symplectic) yang tersedia. Dari keluaran komputasi telah dihitung parameter q’ (nilai terkecil q) yang mendefinisikan orbit populasi asteroid dekat-Matahari (ADM). Berdasarkan model populasi keadaan tunak ADB, diperoleh fluks-masuk asteroid menuju kawasan dekat-Matahari dari kawasan dekat-Bumi sebesar 19 ± 0,21 objek per juta tahun (untuk model Tata Surya di bawah pengaruh gravitasi dan efek Yarkovsky) dan 13 ± 0,14 objek per juta tahun (untuk model Tata Surya di bawah pengaruh gravitasi), keduanya untuk H < 17,75. Kedua nilai fluks-masuk memberikan estimasi keadaan tunak populasi ADM yang setara, yaitu ~3 objek untuk H < 17,75 pada setiap saat bagi kedua model Tata Surya yang digunakan.