cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
ANALYSIS ON THE PULSE STORM EVENT IN THE SOUTH BANDUNG WEST JAVA BASED ON THE TRANSPORTABLE X-BAND DOPLLER RADAR CAMPAIGN, (CASE STUDY : MARCH 16, 2017) Ginaldi Ari Nugroho; Tiin Sinatra; Trismidianto Trismidianto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1081.52 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a2968

Abstract

Pulse storm is a term to mention the occurrence of storms that have a short duration with the nature of its weak updraft. The results of the Transportable X-band radar campaign were able to capture a pulse storm at a location 25 km southwest from a radar position. Convective core with echo value > 50 dbz is detected at 4 km altitude but has a weak updraft so that it dissipated in the next 40 minutes. This convective activity is also showed by convective index value as well as Tbb value from Himawari Satellite data in those area. The microburst effect showed from the surface wind shear that expand along + 6.6 km with the edge of the area experiencing high wind with maximum speed from combine shear showed up to 14.5 m/s. The microburst category is dry microburst based on the increase in precipitation value from AWS surface data
PERBANDINGN PENGARUH BADAI GEOMAGNET TERHADAP TEC IONOSFER DI ATAS MANADO, PONTIANAK DAN BANDUNG (Studi Kasus : 17 Maret dan 23 Juni 2015) (Comparisson of Geomagnetic Storm Effect on Ionospheric TEC over Manado, Pontianak dan Bandung Case study: 17 March Sri Ekawati; Anwar Santoso
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.301 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3031

Abstract

ABSTRACT The largest geomagnetic storms of solar cycle 24 so far occurred on March 17, 2015 (Dst index reached -223 nT) and on June 23, 2015 (Dst index reached -204 nT). Geomagnetic storm is one of major space weather event sourced from Coronal mass Ejection (CME) of the Sun that affected the ionosphere layer. Total Electron Content (TEC) in the ionosphere is very vulnerable affected by changes of system electrical currents in the magnetosphere due to the geomagnetic storm. An extreme enhancement of TEC called positive ionospheric storms otherwise an extreme depression of TEC called negative ionospheric storms. The research objective of this paper was to determine the effect of the geomagnetic storms on enhancement and depression ionospheric TEC over Manado, Pontianak dan Bandung. This research also examines the solar wind plasma condition and CME as a drivers of this geomagnetic storm.  TEC data obtained from GPS Ionospheric scintillation and TEC Monitor (GISTM) in Manado (1.48o U;124.85o E) Pontianak (-0.03o S; 109.33o E) and Bandung (-6.90o S; 107.60o E). The TEC data is converted into data Vertical TEC (VTEC) then compared with the data median VTEC during geomagnetic quiet days (qVTEC). The results showed that there was a negative ionospheric storms affected by geomagnetic storm due date of March 17, 2015 with a deviation of VTEC (dVTEC) reached -71.41%. In contrast, there was a positive ionospheric storm affected by geomagnetic storm due date of June 23, 2015 with deviation VTEC (dVTEC) reached 53.82%. The mechanism of the significant enhancement and depression VTEC caused by ionospheric electrodynamics processes. Keywords: geomagnetic storm, Dst-Index, Ionosphere, TEC ABSTRAK Badai Geomagnet yang terbesar pada siklus Matahari ke-24 sampai saat ini adalah peristiwa badai geomagnet pada tanggal 17 Maret 2015 (indeks Dst mencapai -223nT) dan 23 Juni 2015 (indeks Dst mencapai -204 nT). Badai geomagnetik merupakan bagian dari cuaca antariksa yang bersumber dari Corronal Mass Ejection (CME) Matahari yang mempengaruhi lapisan ionosfer. Total Electron Content (TEC) di ionosfer sangat rentan dipengaruhi oleh perubahan sistem arus listrik di magnetosfer akibat terjadinya badai geomagnet. Peningkatan TEC yang ekstrim dinamakan badai ionosfer positif sebaliknya penurunan TEC yang ekstrim dinamakan badai ionosfer negatif. Tujuan penelitian pada makalah ini adalah mengetahui pengaruh badai geomagnet tersebut terhadap peningkatan dan penurunan TEC ionosfer diatas Manado, Pontianak dan Bandung. Penelitian ini juga meninjau kondisi plasma angin surya dan CME sebagai sumber penggerak badai geomagnetik ini. Data TEC diperoleh dari GPS Ionospheric Scintillation and TEC Monitor (GISTM) di Manado (1,48o LU; 124,85o LS); Pontianak (0,03oLS;109,33oBT) dan Bandung (-6,90o LS; 107,60o BT). Peristiwa badai Geomagnetic storm yang dianalisis adalah peristiwa badai geomagnet kategori kuat yang berlangsung pada tanggal 17 Maret 2015 (indeks Dst mencapai -223nT) dan 23 Juni 2015 (indeks Dst mencapai -204 nT). Data TEC tersebut dikonversi menjadi data Vertical TEC (VTEC) kemudian dibandingkan dengan data median VTEC pada saat hari tenang geomagnet (qVTEC). Hasil menunjukkan terjadi badai ionosfer negatif diakibatkan badai geomagnet tanggal 17 Maret 2015 dengan deviasi VTEC (dVTEC) data Pontianak mencapai -71,41%. Sebaliknya, terjadi badai ionosfer positif diakibatkan badai geomagnet tanggal 23 Juni 2015 dengan deviasi VTEC (dVTEC) mencapai 53,82%. Mekanisme terjadinya peningkatan dan penurunan VTEC yang siginifikan tersebut disebabkan oleh proses elektrodinamika di ionosfer. Kata kunci: Badai geomagnet, Indeks Dst, Ionosfer, TEC
PRAKIRAAN FLARE SINAR-X MATAHARI BERDASARKAN EVOLUSI DAERAH AKTIF Santi Sulistiani; Tiar Dani
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.345 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3088

Abstract

Flare Matahari diketahui berasal dari daerah aktif dan dapat melontarkan energi hingga 1023 erg. Radiasi flare Matahari dapat mengionisasi atmosfer-atas Bumi sehingga mengakibatkan terganggunya komunikasi radio. Oleh karena itu, prakiraan flare Matahari sangat penting untuk peringatan dini cuaca antariksa. Makalah ini bertujuan untuk mengembangkan sistem prakiraan flare sinar-X yang dihasilkan suatu daerah aktif untuk 24 jam ke depan berdasarkan masukan perubahan parameter dari daerah aktif selama tiga hari sebelum terjadinya flare, meliputi posisi lintang dan bujur heliografis, luas, jumlah bintik, dan kelas McIntosh dan Hale. Model prakiraan flare dikembangkan menggunakan algoritma random forest. Konfigurasi paling optimal yang digunakan dalam algoritma ini menghasilkan model prakiraan dengan akurasi sekitar 75% untukprakiraan kondisi tanpa-flare, sekitar 40-45% untuk prakiraan flare kelas C dan M, dan sekitar 80% untuk prakiraan flare kelas X. Konfigurasi 50 pohon dan 90 daun menghasilkan prakiraan flare sinar-X kelas ≥ C dengan akurasi data latih sebesar 71,9% dan F-score data uji sebesar 70,0%. Sementara itu, konfigurasi 500 pohon dan 150 daun menghasilkan prakiraan dengan akurasi data latih sebesar 71,0% dan F-score data uji sebesar 70,4%. Parameter fisis daerah aktif yang paling berkontribusi terhadap prakiraan flare adalah luas, kelas Hale, kelas McIntosh, jumlah bintik, dan posisi bujur dalam 24 dan 48 jam menjelang flare. Model prakiraan flare ini dapat digunakan untuk mendukung kegiatan SWIFtS yang telah beroperasi di LAPAN sejak tahun 2015.
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KETERSEDIAAN AIR DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) Sinta Berliana Sipayung; Amalia Nurlatifah; Indah Susanti
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1404.729 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a2966

Abstract

Wilayah NTB yang terdiri dari Pulau Lombok dan Sumbawa, terletak di bagian Indonesia Timur dan tergolong wilayah gersang dan rawan kekurangan air. Hal ini terjadi akibat curah hujan rendah setiap tahunnya dan tidak menutup kemungkinan karena adanya hal tersebut, akan terjadi kekurangan sumber air. Kondisi saat ini ditemukan bahwa jumlah DAS di Pulau Lombok dan Sumbawa mengalami kerusakan sangat tinggi. Perubahan iklim sendiri diprediksi akan memperparah dan turut berdampak pada berkurangnya sumber daya air di NTB. Dalam penelitian kali ini dilakukan analisis terhadap pengaruh perubahan iklim terhadap ketersediaan air di NTB berdasarkan proyeksi model CCAM dengan skenario RCP 4.5. Dampak perubahan iklim saat ini dan akan datang dianalisis untuk mendukung pertumbuhan perekonomian wilayah NTB. Analisis ini dilakukan berbasis data observasi, re-analisis, model CCAM (histori dan RCP), dan model hidrologi. Data yang digunakan adalah data observasi (1990-2017), data curah hujan dan data temperatur, data hasil luaran model CCAM 1990-2014 (histori/RCP) resolusi 14 km. Hasil model divalidasi terlebih dahulu dengan menggunakan data observasi. Dengan menggunakan metode komposit, downscaling, regriding, komposit, dan perhitungan neraca air, serta analisis terhadap ketersediaan air maka diperoleh bahwa bias antara model dan data observasi di Mataram adalah mencapai 95 mm/bln, dan Bima: 85 mm/bln. Dengan nilai korelasi di masing-masing tempat tersebut adalah 0.69 dan 0.63. Dari hasil analisis diketahui akan terjadi defisit air pada Bulan Januari tahun 2040 jika dibandingkan dengan tahun 2018 masing-masing sebesar 80 mm di Mataram dan 120 mm di Bima. Sedangkan pada Bulan Agustus 2040 akan terjadi defisit air jika dibandingkan dengan tahun 2018 yaitu sebesar 40 mm di Mataram dan cenderung tetap di Bima.  Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya optimasi pola operasi Waduk akibat Dampak Perubahan Iklim di masa yang akan datang.
EFEK MEDAN MAGNET ANTAR-PLANET ARAH UTARA-SELATAN TERHADAP MEDAN DIPOL GEOMAGNET L. Muhammad Musafar
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.27 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a2918

Abstract

Ditinjau sebuah model analitik untuk membahas efek keberadaan medan magnet antar-planet pada daerah sekitar orbit bumi dimana medan magnet bumi ditinjau sebagai medan dengan konfigurasi dipol. Untuk memetakan medan dipol tanpa gangguan maupun dengan keberadaan medan magnet antar-planet telah diterapkan pendekatan menggunakan potensial Euler untuk merumuskan persamaan garis medan. Dalam makalah ini hanya ditinjau medan efek keberadaan komponen arah utara atau selatan medan magnet antar-planet terhadap medan dipol geomagnet. Keberadaan medan magnet antar-planet yang memiliki komponen arah utara meng-akibatkan terjadinya rekoneksi garis medan pada daerah kutub, sedangkan medan magnet antar-planet dengan komponen arah selatan mengakibatkan rekoneksi pada daerah siang dan malam di bidang ekuatorial. Peningkatan kekuatan medan magnet antar-planet secara umum mengakibatkan kompresi terhadap medan dipol geomagnet disertai oleh titik rekoneksi bergerak mendekati bumi. Hasil uji untuk kasus badai magnet yang terjadi pada bulan Juli, 2000 menunjukkan bahwa pada awal fase ekspansi badai magnet titik rekoneksi magnetik terjadi pada jarak 19.5RE. Selanjutnya selama fase ekspansi ketika kekuatan medan magnet mencapai nilai maksimum titik terdekat rekoneksi magnetik diukur dari pusat bumi pada jarak 8.05RE dan pada akhir badai magnet lokasi rekoneksi menjauhi dari bumi yaitu pada jarak 26.9RE.
Vol. 16 No. 2 Juni 2019 Amalia Nurlatifah
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3269

Abstract

Vol. 16 No. 2 Juni 2019
Vol. 16 No. 1 Desember 2018 Amalia Nurlatifah
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.834 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3175

Abstract

PREDIKSI KONSENTRASI NITROGEN OKSIDA (NO, NOx) AMBIEN DENGAN MENGGUNAKAN KONSENTRASI NO2 DAN O3 DARI PASSIVE SAMPLER (Studi Kasus : Cipedes, Bandung) asri indrawati; Dyah Aries Tanti; Tuti Budiwati; Sumaryati Sumaryati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1332.025 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3005

Abstract

Pemantauan konsentrasi nitrogen oksida di udara ambien sangat penting dilakukan, mengingat bahaya dan dampak yang ditimbulkan secara luas bagi kesehatan manusia serta lingkungan hidup. Passive sampler merupakan metode pemantauan udara yang murah dan mudah untuk dilakukan, terutama untuk lokasi pemantauan yang sulit dijangkau. Penelitian ini dilakukan untuk memprediksi konsentrasi nitrogen oksida (NO dan NOx) dengan menggunakan passive sampler. Data yang digunakan yaitu data konsentrasi NO2 dan O3 dari passive sampler serta data rata-rata bulanan radiasi matahari dan temperatur daerah Cipedes, tahun 2011 – 2015. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan persamaan reaksi fotokimia. Selain itu dilihat juga hubungan antara radiasi matahari dan temperatur terhadap perubahan konsentrasi NO2, NO dan O3 dengan menggunakan metode statistik korelasi Pearson. Hasil yang diperoleh yaitu NO dengan rentang konsentrasi sebesar 6,32 – 55,8 ppb, dengan nilai rata-rata sebesar 21,97 ppb. Sedangkan untuk konsentrasi NOx 37,28 – 100,83 ppb, dengan nilai rata-rata sebesar 66,43 ppb. Dari korelasi hubungan diperoleh bahwa radiasi matahari dan temperatur berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan konsentrasi O3.  
ANALISIS PROBABILITAS SPREAD F IONOSFER LINTANG RENDAH SEKTOR INDONESIA Asnawi Husin
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.187 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a2929

Abstract

Tulisan ini membahas analisis kemunculan spread F dan validasi probabilitas kemunculan Spread F dari Model global ionosfer, IRI (International Reference Ionosphere)  untuk lintang rendah sektor Indonesia. Prosentase kemunculan spread F periode 2007 hingga 2013 dari dua titik pengamatan yaitu stasiun Agam (0,3o LS, 100,3o BT, Lintang geomagnet 9,8) dan Tanjungsari (6,5oLS 107.6o BT, Lintang geomagnet 16,04) dihitung untuk mendapatkan informasi klimatologi kemunculan spread F di Indonesia. Spread F adalah fenomena gangguan kerapatan elektron ionosfer yang merupakan komponen penting cuaca antariksa. Fenomena spread F di lintang ekuator kemunculannya cukup tinggi dan dikenal sebagai equatorial spread F, (ESF) yang masih terus dikaji karena efeknya pada gelombang radio yang dapat menyebabkan fading pada komunikasi pita frekuensi tinggi (band frequency  HF) dan loss of lock pada sinyal GNSS. Teori umum dalam menjabarkan mekanisme gangguan ionosfer terkait kemunculan spread F adalah perubahan non liner ketidakstabilan Rayleigh-Taylor dikombinasikan dengan laju atau drift E x B. Hasil analisis probablitias kemunculan spread F di Agam dan Tanjungsari diperoleh pola yang hampir sama, namun demikian tingkat hubungan antara kemunculan di dua tempat tersebut tidak cukup kuat dengan nilai koefisien korelasi adalah 0.58. Hal ini menunjukkan bahwa kemunculan spread F secara umum bersifat lokal. Kemunculan spread F saat aktivitas matahari minum umumnya terjadi pada Solatis Juni, didominasi tipe PM (setelah tengah malam, Post Midnight) sebaliknya saat matahari tinggi, tipe kemunculan PS (Post Sunset) lebih dominan dengan pola ekuinoks dua puncak (Maret-April dan September-Oktber). Validasi model IRI secara umum lebih tinggi (overestimate) di lintang rendah Indonesia. Tingkat hubungan antara model dengan data pengamatan sangat lemah bahkan tidak searah (koefisien bernilai negatif). Dari identifikasi periode dominan menggunakan analsis wavelet, di peroleh periode harian, yaitu muncul pada malam hari, tetapi periode tersebut tidak disemua bulan dan tahun. Ditemukan juga periode 6 hari dan 12 hari, yang terkait dengan modulasi gelombang planetari.
Vol. 16 No. 1 Desember 2018 Amalia Nurlatifah
Jurnal Sains Dirgantara Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.018 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2018.v16.a3176

Abstract