cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains Dirgantara
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
KESETARAAN KECEPATAN GELOMBANG KEJUT SEMBURAN RADIO MATAHARI TIPE II DAN LONTARAN MASSA KORONA - Suratno; Gunawan Admiranto; Santi Sulistiani; Johan Muhamad
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1329.204 KB)

Abstract

Penelitian tentang keterkaitan semburan radio tipe II, lontaran massa korona (CME) dan ledakan matahari, dihasilkan bahwa kecepatan gelombang kejut yang diturunkan dari pergeseran frekuensi semburan radio matahari tipe II menunjukkan kesesuaian yang cukup baik dengan kecepatan CME. Kecepatan gelombang kejut yang tinggi akan melewati tebal lapisan korona dalam waktu yang pendek dan sebaliknya, dibuktikan dari hubungan antara kecepatan CME dan durasi semburan radio pada rentang frekuensi tertentu (30 MHz – 20 MHz) berbentuk hubungan eksponensial ΔТII (menit) = 8.284e-0.0008Vcme dengan koefisien korelasi sebesar 0.66. Korelasi linier antara kecepatan gelombang kejut (Vs) dan kecepatan CME berbentuk Vcme (km/s) = 0.581Vs+229.4, dengan koefisien korelasi 0.64 dan hanya berlaku bila Vs ≥ 362 km/s. Di samping itu diperoleh juga bahwa korelasi intensitas SXR terhadap kecepatan gelombang kejut lebih baik bila dibandingkan dengan korelasi terhadap kecepatan CME disebabkan lokasi ledakan yang dekat dengan sumber gelombang kejut. Kata kunci: Ledakan matahari, Semburan radio matahari tipe II, Lontaran massa korona.
KARAKTERISTIK TINGKAT GANGGUAN GEOMAGNET REGIONAL INDONESIA [CHARACTERISTIC OF GEOMAGNETIC DISTURBANCE LEVEL OVER INDONESIAN REGION] Mamat Ruhimat; John Maspupu; Mira Juangsih; Visca Wellyanita; Kiyohumi Yumoto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 10, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1118.171 KB)

Abstract

Tingkat gangguan geomagnet merupakan besaran yang menggambarkan aktivitas geomagnet, yang mencakup informasi tentang fenomena yang terjadi di magnetosfer. Gangguan geomagnet ini diperoleh dari pengukuran variasi harian geomagnet yang sudah bebas dari variasi hari tenangnya. Data variasi harian geomagnet yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari pengukuran magnetometer yang dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bekerjasama dengan Universitas Kyushu dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada stasiun-stasiun pengamatan geomagnet di Kototabang, Pontianak, Parepare, Manado, dan Kupang. Untuk mengetahui karakteristik gangguan geomagnet regional Indonesia dari kelima stasiun tersebut digunakan suatu metode yang dikenal dengan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA). Dengan penelitian ini diharapkan dapat mengetahui tingkat gangguan geomagnet regional Indonesia. Hasil perhitungan tingkat gangguan geomagnet dari 5 stasiun secara visual menunjukkan hasil gangguan yang hampir sama. Dari hasil analisis komponen utama kelima stasiun memiliki korelasi data yang kuat antara stasiun satu dengan lainnya. Disamping itu gangguan geomagnet dari stasiun Manado merupakan gangguan geomagnet paling dominan yang ditunjukkan dengan nilai eigen tertinggi 2,81.Kata Kunci: Gangguan geomagnet, Variasi harian geomagnet, Analisis komponen utama
MODEL BADAI IONOSFER INDONESIA TERKAIT BADAI GEOMAGNET (INDONESIA IONOSPHERIC STORM MODEL RELATED TO GEOMAGNETIC STORM) Anwar Santoso; Mira Juangsih; Sri Ekawati; Iyus Edi Rusnadi; Anton Winarko; Siska Filawati; Dadang Nurmali
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.388 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2017.v15.a2617

Abstract

 Knowledge about the ionospheric response to the geomagnetic storms is needed to support SWIFtS activity in Space Science Center-LAPAN. However, it is difficult to predict its behavior. As an approach, it needs a model of the ionospheric response to geomagnetic storms. In this paper, the modeling of the Indonesia ionospheric storms to the geomagnetic storm was done by modifying the global empirical models developed by Araujo-Pradere. By using ap index data, Dst index, and foF2 ionosphere from BPAA Sumedang of 2005-2015, it was obtained the Indonesia ionospheric storms model related to the geomagnetic storm. The analysis result showed that the Sumedang ionospheric storms model had a deviation or error < 40% of the data. Therefore it can be concluded that this models can be used to support the SWIFtS activity in Space Science Center-LAPAN for future space weather conditions.  AbstrakPengetahuan tentang respon ionosfer terhadap badai geomagnet sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan SWIFtS di Pusat Sains Antariksa-LAPAN. Namun, sulit diprediksi perilakunya. Sebagai pendekatan, diperlukan sebuah model respon ionosfer terhadap badai geomagnet. Dalam makalah ini, dilakukan pemodelan badai ionosfer Indonesia terkait badai geomagnet dengan memodifikasi model empiris global yang telah dikembangkan oleh Araujo-Pradere. Dengan menggunakan data indeks ap, indeks Dst dan foF2 ionosfer BPAA Sumedang tahun 2005-2015 diperoleh model badai ionosfer regional Indonesia terhadap badai geomagnet. Dari analisis disimpulkan bahwa model badai ionosfer Sumedang tersebut memiliki simpangan atau kesalahan < 40% terhadap data. Hal ini menunjukkan bahwa model badai ionosfer Sumedang tersebut dapat dipergunakan untuk mendukung kegiatan SWIFtS di Pusat Sains Antariksa-LAPAN sebagai bahan pertimbangan dalam memprediksi kondisi cuaca antariksa akan datang.   
VARIASI LAPISAN E DAN F IONOSFER DI ATAS KOTOTABANG - Ednofri; Sri Suhartini
Jurnal Sains Dirgantara Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.478 KB)

Abstract

Pengamatan ionosfer di atas Kototabang (0,2ºLS, 100,3ºBT) dilakukan menggunakan ionosonda Frequency Modulated Continous Wave (FMCW) yang dioperasikan sejak Maret 2004. Hasil pengamatan sampai dengan September 2006 diteliti untuk mengetahui variasi ionosfer di daerah tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa secara umum variasi ionosfer di atas Kototabang mengikuti pola karakteristik ionosfer di daerah lainnya di Indonesia. Variasi harian menunjukkan maksimum sekitar tengah hari, variasi tahunan nampak dari penurunan nilai foE, foF1, dan foF2 seiring berkurangnya tingkat aktivitas matahari. Hal ini diperkuat dengan korelasi positif yang diperoleh antara rata-rata median bulanan foE, foF1, dan foF2 pada local noon (pukul 10.00 – 15.00), dengan koefisien korelasi masing-masing 0.64, 0.90, dan 0.80. Variasi musiman nampak dari adanya dua puncak (Maret- April dan September–Oktober), dan dua minimum (Juli-Agustus dan Desember–Januari). Badai magnet yang terjadi pada tanggal 15 Mei 2005 mengakibatkan penurunan foF2 sebesar 5.5 Mhz atau 38% dibandingkan harga median bulanannya, sekitar 5 jam setelah terjadinya badai tersebut. Kata kunci : Ionosfer, Variasi, Lapisan E, Lapisan F.
KETIDAKTERATURAN LAPISAN IONOSFER DAN KAITANNYA DENGAN PROSES-PROSES KOPLING ATMOSFER-IONOSFER INDONESIA [IONOSPHERIC IRREGULARITIES AND ITS RELATION TO COUPLING PROCESS OF ATMOSPHERE-IONOSPHERE OVER INDONESIA] Dyah Rahayu Martiningrum
Jurnal Sains Dirgantara Vol 9, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1547.959 KB)

Abstract

Ketidakteraturan ataupun ketidakstabilan plasma di lapisan ionosfer perlu dijelaskan mekanismenya sehingga akan bermanfaat dalam pembangunan maupun pengembangan model lapisan ionosfer. Dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, dalam hal ini adalah radar MF, Radar Atmosfer Ekuator (EAR), dan GNU Radio Beacon Receiver, sinyal-sinyal keluarannya diolah untuk mendapatkan parameter dinamika atmosfer-ionosfer. Hubungan antara ketidakteraturan lapisan ionosfer berupa Equatorial Spread F (ESF) dengan proses dinamis yang terjadi di lapisan atmosfer bawah dapat dijelaskan melalui mekanisme penjalaran gelombang gravitas dari atmosfer bawah ke atmosfer atas. Selain itu ditemukan juga adanya proses kopling antara lapisan E dan lapisan F yang berperan dalam terbentuknya ketidakteraturan lapisan ionosfer tersebut. Hasil lainnya menunjukkan adanya keterkaitan antara aktivitas matahari dengan ketidakteraturan di lapisan ionosfer dengan munculnya Equatorial Spread F (ESF) malam hari di wilayah ekuator Indonesia. Kata Kunci: Equatorial Spread F (ESF), Kopling lapisan E dan F
RANCANG BANGUN ALAT PENGUKUR DAN SISTEM JARINGAN DATA CO2 DI INDONESIA BERBASIS WEB Asif Awaludin; Ginaldi Ari Nugroho; Chunaeni Latief; Afif Budiyono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 8, No 1 (2010)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1324.813 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2010.v8.a1534

Abstract

A web-based CO2 measurement device and a data network system in Indonesia which consist of the CO2 measurement device, the local data processor system, and the central data processor system has been built. The CO2 measurement device consist of the GMM220 CO2 sensor module from Vaisala and the data logger system. The data logger output consists of location, time, date, CO2 concentration, and input voltage, which packed all up in one data form with RGPGHG as the data header. The data logger system store the data into SD Card memory and ends it to the local data processor system. The CO2 Monitor Software in the local data processor system processes the data and display the graphical data which shows the maximum, minimum and average values of the data, and also sends the data to the central data processor system. The central data processor system displays data from several local data processor systems in the form of real time web-based graphical data and text, so the internet users can access and download its data. The development result device has been applicated in Kototabang, and the CO2 measurement device has been connected as well to the central data processor system in Bandung via the internet network to perform the web-based CO2 data network system in Indonesia. According to the data stored by the central data processor system for the periode of 1 - 26 March 2010, it shows that the CO2 concentration in Kototabang have an average of 403,5 ppm, with the maximum of 476,9 ppm and the minimum of 364,7 ppm. While the CO2 concentration in Bandung have an average of 397,2 ppm, with the maximum of 502,5 ppm and the minimum of 325,3 ppm. Key words: Data logger, CO2 sensor, Web-based interface
ESTIMASI BADAI GEOMAGNET BERDASARKAN PERILAKU PARAMETER ANGIN SURYA DAN MEDAN MAGNET ANTARPLANET SEBELUM BADAI GEOMAGNET (THE ESTIMATION OF GEOMAGNETIC STORM BASED ON SOLAR WIND PARAMETERS AND INTERPLANETARY MAGNETIC FIELD BEHAVIOR BEFORE GEOMAGNETIC STOR Anwar Santoso; Mamat Rahimat; Rasdewita Kesumaningrum; Siska Filawati
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.58 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v14.a2327

Abstract

Space weather research is the principal activity at the Space Science Center, Lapan to learn characteristics and generator source of the space weather so that can mitigate its the impact on the Earth's environment as mandated in Law No. 21 Year 2013. One of them is the phenomenon of geomagnetic storms. Geomagnetic storms caused by the entry of solar wind together with the IMF Bz that leads to the south. The behavior of the solar wind parameters together with the IMF Bz before geomagnetic storms can determine the formation of geomagnetic storms that caused it. In spite that, by the solar wind parameters and IMF Bz behavior before geomagnetic storm can be estimated its intensity through the equation Dst * = 1.599 * Ptotal - 34.48. The result of this equation is obtained that the Dst minimum deviation between the raw data and the output of this equation to the geomagnetic storm events on March 17, 2013 is about of -2.51 nT or 1.9% and on the geomagnetic storm events on February 19, 2014 is about of 2.77 nT or 2, 5%. Thus, the equation Dst * = 1.599 * Ptotal - 34.48 is very good for the estimation of geomagnetic storms.
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISTIK SERUAK DINGIN (COLD SURGE) TAHUN 1995-2003 Edvin Aldrin; Gilang Satriya Adhi Utama
Jurnal Sains Dirgantara Vol 4, No 2 (2007)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.599 KB)

Abstract

The study identifies the cold suge characteristics that influence the rainfall season in the northwestern part of Indonesia. This study found the cold surge episode to be active and propagate to the equator right after 4 to 6 days of increasing cold surge indices in Hong Kong. The cold surge also interacts with the Borneo Vortex and the Easterly Wave as the main factor that hinder the cold surge propagation to the south. Basides, the cold surge propagation will block the Inter Tropical Convergence Zone movement to north at the end of the rainfall season and sometimes force the ITCZ to moce back southward to the 10-15S thus will incite more convective activities and large precipitations in south Indonesia especially over Java during the rainfall period in western part of Indonesia.
VARIASI DIURNAL UAP AIR DI LAPISAN TROPOSFER BAWAH SAAT MADDEN JULIAN OSCILLATION FASE AKTIF MEMASUKI KAWASAN BARAT INDONESIA BERBASIS ANALISIS DATA GPS (DIURNAL VARIATION OF LOW LEVEL MOISTURE WHEN THE ACTIVE PHASE OF MADDEN JULIAN OSCILLATION ENTERING AREA OF WESTERN INDONESIA BASED ON GPS DATA ANALYSIS) Aries Kristianto; Tri Wahyu Hadi; Dudy Darmawan Wijaya
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.139 KB)

Abstract

Uap air di lapisan troposfer bawah (Low-level Moisture/LLM) berperan dalam pertumbuhan awan hujan. Teknologi Global Positioning System (GPS) mampu mengekstraksi uap air LLM dengan menerapkan metode kombinasi selisih uap air total hasil ekstrasi groundbased GPS dengan Precipitable Water Vapor (PWV) di lapisan troposfer atas ECMWF. Variasi diurnal LLM berbasis data GPS di beberapa kawasan yang ada di bagian barat Indonesia, yaitu wilayah Jawa bagian Barat dianalisis terutama saat fase aktif Madden Julian Oscillation (MJO) sebagai salah satu variabilitas dominan yang sangat penting di daerah tropis. Kejadian MJO November 2009 di wilayah Jawa bagian Barat memberikan dampak terhadap variasi harian LLM, dimana anomali hariannya meningkat seiring dengan menurunnya anomali OLR saat MJO onset, dan menurun saat pasca MJO. Di bagian utara menunjukkan konsentrasi LLM menurun dari barat-timur, sedangkan di bagian selatan konsentrasinya meningkat. Variasi dari utara-selatan menunjukkan konsentrasi LLM yang cenderung berubah-ubah, sementara di bagian timur peningkatan uap air ke arah selatan sesuai dengan analisis vektor angin. Variasi diurnal LLM November 2009 saat fase MJO aktif secara umum konsentrasinya lebih tinggi dibandingkan pra dan pasca MJO. Dari analisis indeks konvektif citra satelit MTSAT IR1 juga menunjukkan LLM saat MJO berkaitan dengan aktivitas konvektif, baik pada periode pra-MJO, saat onset, aktif hingga pasca MJO.Kata Kunci: LLM,GPS, MJO, OLR
MUATAN PENGUKUR PARAMETER ATMOSFER ROKET SONDA RSX-100 DAN METODE PENGUJIANNYA [RSX-100 ROCKETSONDE ATMOSPHERIC PAYLOAD AND ITS TESTING METHOD Asif Awaludin; - Halimurrahman; Rachmat Sunarya; Laras Tursilowati; Bambang Sapto Wibowo; Endro Artono
Jurnal Sains Dirgantara Vol 12, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1251.783 KB)

Abstract

Dalam rangka mendukung program pengembangan roket sonda LAPAN, telah dikembangkan muatan pengukur atmosfer untuk roket sonda RSX-100 beserta metode pengujiannya yang terdiri dari pengujian sistem sensor dan jangkauan sistem telemetri, pengujian ketahanan muatan, pengujian pelepasan muatan dan pembukaan parasut, pengujian integrasi roket, dan peluncuran muatan pengukur atmosfer bersama RSX-100. Berdasarkan hasil pengujian, sistem telemetri dengan link margin sebesar 50,76 dB untuk jangkauan 8 km telah berhasil mengirimkan data sensor tekanan dan GPS hingga ketinggian 11 km. Frekuensi natural muatan yang sebesar 80 Hz sangat aman terhadap munculnya resonansi dengan frekuensi natural roket. Muatan juga telah teruji ketahanannya terhadap getaran, hentakan, dan percepatan yang diperkirakan akan terjadi saat roket terbang. Sistem pelepasan muatan dan pembukaan parasut juga telah teruji mampu mengeluarkan parasut dan muatan dari dalam tabung roket dengan waktu yang dibutuhkan oleh parasut dan muatan untuk keluaran dari tabung setelah proses separasi roket adalah sekitar 5 detik atau tinggijatuh sekitar 30 meter. Kecepatan turun parasut membawa muatan diperkirakan sekitar 5 hingga 6 m/s. Sedangkan lama waktu lock kembali GPS setelah keluar dari tabung roket adalah 5 detik. Dari hasil uji terbang bersama RSX-100 dengan lama terbang 60 detik, muatan tidak berhasil keluar dari tabung karena roket gagal separasi sehingga hasil pengukuran adalah data kondisi di dalam roket. Data yang berhasil direkam menunjukkan apogee setinggi 5622 m.Kata kunci: Roket sonda, RSX-100, Muatan pengukur atmosfer, Metode pengujian.

Page 8 of 21 | Total Record : 210