cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
Appendix Kalpataru Volume 21, nomor 1, tahun 2012 Redaksi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
KALPATARU Vol. 21 No. 1 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi Arkeologi di Pulau Alor I Nyoman Rema; Hedwi Prihatmoko
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i2.109

Abstract

Abstract. Alor is one of the outer islands in Indonesia bordered with Democratic Republic of Timor Leste which has numerous significant cultural heritages from the past, from megalithic tradition to the development of major religions in Indonesia. This article is written to share about archaeological potentials in Alor island which can be developed to strengthen national identity, patriotism, and improve the prosperity of Alor community. The data of this research was collected through literature reviews. The completed data was then managed using descriptive-qualitative method by defining the archaeological remains, the function, and the meaning based on the result of the research, then to sum it up, a conclusion. Some archaeological potentials in this island are misba, traditional houses, moko, bulding structures, old Quran, burial urns, and mystical-growing pots. Those archaeological potentials prove that Alor community still upholds their high cultural values and also become a communication media that establishes a harmony with God, humans, and environment.Abstrak. Alor merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste dan memiliki berbagai tinggalan budaya penting dari masa lampau, berupa tradisi megalitik hingga berkembangnya agama-agama besar di Nusantara. Tulisan ini bertujuan mengetahui potensi arkeologi di Pulau Alor, yang kemudian perlu dikembangkan untuk memperkuat karakter dan jati diri, cinta tanah air, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Alor. Data penelitian ini dikumpulkan melalui studi pustaka. Setelah data terkumpul, pengolahan dilakukan secara descriptif-kualitatif dengan mendeskripsikan tinggalan arkeologi, fungsi dan maknanya berdasarkan hasil penelitian yang kemudian diakhiri dengan penyimpulan. Potensi tinggalan arkeologi di pulau ini berupa misba, rumah adat, moko, struktur bangunan, Al Quran kuno, kubur tempayan, kubur ceruk, dan periuk tumbuh. Berbagai potensi arkeologi tersebut membuktikan tingginya nilai peradaban masyarakat Alor, sekaligus sebagai media komunikasi dalam membangun hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan lingkungannya.
Perniagaan dan Islamisasi Di Wilayah Maluku Wuri Handoko
KALPATARU Vol. 22 No. 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v22i1.110

Abstract

Abstrak. Perdagangan dan Islamisasi di wilayah Maluku, merupakan kajian yang saling berkaitan, sebagaimana kajian Islam di wilayah Nusantara lainnya. Proses Islamisasi di wilayah Maluku selain karena perluasan kekuasaan, juga perluasan perdagangan akibat persaingan menguasasi jaringan ekonomi. Perluasan ekonomi melalui jaringan perniagaan, adalah salah satu strategi para mubaligh dalam memperluas atau menyebarkan Islam. Dalam berbagai literatur disebutkan, bahwa para mubaligh, juga didominasi oleh pedagang, artinya mubaligh sekaligus pedagang. Dalam konteks perdangan dan Islamisasi, perdagangan semakin berkembang ketika lembaga Islam terbentuk, selanjutnya terjalin jaringan niaga antar kerajaan. Melalui kajian studi pustaka, tulisan ini berusaha menjelaskan masalah tersebut. Wilayah yang menjadi fokus perhatian kajian ini adalah wilayah Maluku Tengah, hal ini mengingat wilayah ini merupakan wilayah penyebaran Islam terbesar yang berasal dari pusat kekuasaan Islam di Maluku Utara. Perjalanan panjang sejarah terbentuknya jejaring perdagangan internasional di kawasan Maluku ini.Abstract. Trade and Islamization in Moluccas. Trade and Islamization in Moluccas, a study of the interrelationship Islam studies in other parts of the archipelago. The process of Islamization in the Moluccas in addition to the expansion of the power of embarrassment, also dominate the expansion of trade due to the competition of economic network. Economic expansion through commercial networks, is also one of the preachers strategy in expanding or spreading Islam. Mentioned in the literature, that the preachers, which are also dominated by traders, meaning that traders preachers as well. In the context of Islamization and commerce, growing trade when Islamic institutions are formed, further established trade networks between the kingdom. Through the study of literature, this paper attempts to explain. The questions that are the focus of this study is a concern in the region of Central Moluccas, it is because the region is the area of greatest spread of Islam from the Muslim power center in North Moluccas. 
Perface Kalpataru Volume 21, nomor 2, tahun 2012 Redaksi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
KALPATARU Vol. 21 No. 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nekara, Moko, dan Jati Diri Alor. Truman Simanjuntak; Retno Handini; Dwi Yani Yuniawati
KALPATARU Vol. 21 No. 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v21i2.112

Abstract

Moko merupakan benda unik yang memegang peran penting dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Alor. Menariknya, walaupun benda ini tidak diproduksi di Alor, tetapi tetap dipertahankan secara turun-temurun, tidak sebatas benda pusaka tetapi juga sebagai lambang atau status sosial, mas kawin (belis), alat tukar, alat musik, alat-alat upacara dalam kematian, pendirian rumah, pesta panen, perkawinan, dll. Bahkan konon dahulu, moko memiliki fungsi yang jauh lebih kompleks. Selain sebagai pengganti nyawa manusia yang dibunuh atau karena kecelakaan, moko berfungsi sebagai benda religius-magis yang dapat memberi kemakmuran, keberhasilan bagi keluarga, merusak panen bagi yang melanggar ketentuan adat, termasuk sebagai alat untuk menyelesaikan masalah sosial secara adat. Singkatnya moko telah menempati peran yang sangat penting dalam berbagai kisi kehidupan masyarakat Alor sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Benda yang merupakan substitusi nekara ini menjadi jati diri Masyarakat Alor. Oleh sebab itu penggalian, pelestarian, dan aktualisasi nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsiknya menjadi sangat penting bagi penguatan jati diri lokal dalam pengembangan jati diri kebangsaan yang berlandaskan kebhinnekaan. Abstract. Kettledrums, Moko, and Self Identity of Alor. Moko is a unique type of objects that plays an important role in the socio-cultural life of Alor people. Interestingly, although mokos were not produced in Alor, they are being kept from generation to generation, not only as heirloom but also as a symbol of social status, dowry, currency, musical instrument, or instrument in rituals (in the events of death, house-building, harvest, marriage, etc.). In fact, moko used to have far more complex function in the past. Aside from being a substitute of the soul of people who was killed or died in accident, mokos were also functioned as religious-magic objects that can provide prosperity, success in families, destroy harvest if a traditional custom was violated, as well as a tool to traditionally-solved social problems. In short, mokos have played an important role in various aspects of life among the Alor people since hundreds or even thousands of years ago. The object, which was a substitute for kettledrum, is the identity of the Alor people. Therefore research, preservation, and actualization of its intrinsic and extrinsic values are very important to strengthen local identity in the attempt to develop national identity based on diversity.
Lukisan Dinding Gua Prasejarah di Perbatasan Indonesia –Papua Nugini Klementin Fairyo
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i2.113

Abstract

Abstract. The existence of rock art in Keerom area is very interesting to study because located in the border area between Indonesia and Papua New Guinea. The Purpose of this Papua is to determine the different forms of rock art in Keerom area regarding to the function and its meaning in the past and also in order to build. An understanding of the culture in the border region. The method used in this study consist of literature studies field observations and interview and use morphological and piktoral in the analysis processed. The result showed about the form of figurative and non figurative painting on cave walls, especially in the Web and Kibay sites. The meaning of the rock art associated with a symbol of religy and as a symbol of social comunications. The role of the rock arts shows about identify and also has and important meaning in an attempt to preserve the indigenous territories.Abstrak. Penelitian  tentang lukisan dinding gua di Keerom yang berbatasan dengan Papua Niugini menarik untuk dikaji. Informasi dari masyarakat menyebutkan bahwa di wilayah perbatasan banyak lukisan dinding gua yang belum diteliti secara mendalam. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui ragam bentuk lukisan dinding gua di Keerom, fungsi dan makna lukisan dining gua tersebut bagi masyarakat pendukungnya serta peran lukisan dinding gua dalam mempertahankan wilayah perbatasan Indonesia. Metode penelitian yag digunakan yaitu pengumpulan data berupa studi kepustakaan, observasi lapangan dan wawancara. Pengolahan data meliputi analisis morfologi, analisis teknologi dan cara perekaman piktorial. Hasil penelitian menunjukkan bentuk lukisan dinding gua di Web dan Kibay yaitu lukisan figuratif dan non figuratif. Hasil karya seni tersebut merupakan himpunan simbol-simbol atau lambang-lambang yang mengandung nilai kehidupan. Makna lukisan adalah makna religi, komunikasi dan sosial. Peran lukisan dinding gua adalah sebagai tradisi berlanjut, jati diri dan mempertahankan wilayah adat. 
Pelayaran dan Perdagangan Masa Lalu di Kepulauan Maluku Tenggara Marlon Ririmasse
KALPATARU Vol. 22 No. 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v22i1.114

Abstract

Abstrak. Kepulauan Maluku Tenggara adalah wilayah yang membentang antara Timor hingga Papua. Karakteristik geografis yang kompleks telah membentuk profil budaya kawasan ini yang menjadi sedemikian raya. Sejak awal Masehi wilayah ini juga dikenal sebagai kawasan sumber komoditi eksotik seperti mutiara bulu burung cendrawasih, emas, tenun hingga budak. Hal mana yang membuat kontak dan interaksi niaga dengan dunia luar telah terbentuk sejak berabad silam dan menciptakan profil kompleks sejarah budaya kawasan. Lepas dari peran kunci dimaksud, studi-studi sejarah budaya belum banyak memberikan perhatian atas dinamika kontak dan interaksi niaga di wilayah ini pada masa lalu.Termasuk dalam aspek arkeologis. Makalah ini mencoba mengisi ruang dimaksud dengan mengamati karakteristik aktivitas pelayaran dan perdagangan masa lalu di Kepulauan Maluku Tenggara serta implikasinya atas profil sejarah budaya kawasan. Studi pustaka dilekatkan sebagai pendekatan menjawab permasalah yang diajukan dalam kajian mula ini. Hasil telaah menemukan bahwa Kepulauan Maluku Tenggara telah membentuk suatu sistem pelayaran dan perdagangag yang kompleks masa prasejarah terus berkembang hingga masa kolonial. Implikasi atas proses kompleks ini kiranya dapat diamati dari karakteristik budaya wilayah ini yang raya serta jejak budaya materi yang tersebar luas dalam lingkup kawasanAbstract. Past Voyage and Trade in Southeast Moluccas Islands. The Southeast Moluccas Islands is the region that stretches between Timor and Papua. This geographical characteristic has formed the complex cultural profile of the archipelago. Since the early historical period, the Southeast Moluccas Islands is also known as a source area of the exotic commodities such as bird of paradise, gold, woven products and slaves. A condition that in the later times has created interaction and contact between this region and outside world. Despite this key role of the area, proper attention has not been given to study this region in the cultural historical perspective. Included in the archaeological studies. This paper tries to bridge the gap by observing the characteristic of the ancient seafaring and trading activities in the Southeast Moluccas Archipelago and it’s implication for the cultural historical profile of the region. The referential study has been attached as the main approach in this research. This study found that the region of Southeast Moluccas has established the seafaring and trading system since the prehistoric times and continues to be developed until the colonial period. The implications of this complex process is also can be observed in the complex cultural profile of the region as well as through the traces of the material cultural widespread in this archipelago.
Pengembangan Kawasan dan Kepariwisataan Situs Kompleks Percandian Bumiayu. Bambang Budi Utomo
KALPATARU Vol. 21 No. 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v21i2.115

Abstract

Situs Kompleks Percandian Bumiayu yang terletak di Desa Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. Kompleks Percandian bercirikan agama Hindu ini yang sangat luas tidak mungkin diteliti tanpa perencanaan penelitian yang matang. Selain itu Pemanfaatan Situs Bumiayu untuk kepentingan agama, sosial, parawisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan harus mengikuti kaidah-kaidah dan rambu-rambu yang berlaku. Abstract. Bumiayu Temple Complex Site is located at Bumiayu Village, Tanah Abang District, Muara Enim Regency, South Sumatra. The very vast temple complex with Hindu characteristics is impossible to be investigated without careful research plan. Furthermore, utilization of Bumiayu site for religious, social, tourism, education, science, technology, and cultural purposes must comply with proper rules and guidelines.
Eksplorasi Geoarkeologi Pulau Sabu: Salah Satu Pulau Terdepan di Nusa Tenggara Timur M. Fadhlan S. Intan
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v25i2.116

Abstract

Abstract. Savu island with its cluster islands including Sabu Raijua Regency is located in the south of Republic of Indonesia. Researches conducted in East Nusa Tenggara began in 1950s by Th. Verhoeven in Flores and Timor islands. Next research was by National Research Center of Archaeology in Flores, Timor and Sumba (1970), in Atambua and Savu (1980), and in Savu (2010). The researches in Savu so far were focused more on archeology and ethnography, while geological aspect has not been done yet. This article will try to explain about geological condition in Savu island in general.The purpose and goal of the research is to determine the geological condition Savu in detail, including landscape, rock composition, and geological structure. The method used, is the survey. The results shows that Savu consists of plain morphological unit and feeble wave morphological unit with altitude 0-350 meters above sea level. Rock composition consists of marl, tufa, limestone, alluvial, and passed by normal fault. Archaeological data in Savu island are in form of paleolithic, megalithic, indigenous villages, and caves. Abstrak. Pulau Sabu dengan gugusan pulaunya termasuk Kabupaten  Sabu Raijua, terletak di selatan Negara Republik Indonesia. Penelitian di Nusa Tenggara Timur berawal oleh Th. Verhoeven tahun 1950an di Pulau Flores dan Timor. Selanjutnya Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1970 di Flores, Timor, dan Sumba, tahun 1980 di Atambua dan Pulau Sabu, serta tahun 2010 di Pulau Sabu. Penelitian yang telah dilaksanakan di Pulau Sabu selama ini, lebih banyak terfokus pada arkeologi, dan etnografi, sedangkan penelitian yang bersifat geologi belum pernah dilaksanakan. Berdasarkan hal tersebut, maka permasalahan penelitian di Pulau Sabu adalah bagaimana kondisi geologi di daerah tersebut, terkait dengan keberadaan situs arkeologi. Maksud dan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi geologi Pulau Sabu secara detil yang meliputi bentang alam, batuan penyusun, dan struktur geologi. Metode yang digunakan, adalah  survei. Hasil penelitian di Pulau Sabu terdiri dari satuan morfologi dataran, dan satuan morfologi bergelombang lemah, dengan ketinggian adalah 0-350 meter diatas permukaan air laut. Batuan penyusun adalah napal, tufa, batugamping, dan aluvial, serta dilalui Sesar Normal. Kepurbakalaan di Pulau Sabu berupa paleolitik, megalitik, perkampungan adat, dan gua.
Vulkano-Historis Kelud: Dinamika Hubungan Manusia – Gunung Api. M Dwi Cahyono
KALPATARU Vol. 21 No. 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v21i2.117

Abstract

Gunung Kelud adalah satu diantara dua gunung berapi di Jawa Timur yang terbilang paling aktif – selain Gunung Semeru. Aktifitas vulkaniknya berdampak luas. Bukan hanya menimpa wilayah di Kota dan Kabupaten Blitar serta Kabupaten Kediri, namun secara tidak langsung berdampak terhadap daerah-daerah lain di sekitarnya. Pada era kemonarkhian Jawa masa Hindu-Buddha, dampaknya menimpai sebagian wilayah kerajaan-kerajaan di Jawa, sejak masa Kadiri hingga Majapahit. Oleh karena itu, semenjak lampau itu pula telah dilakukan ragam upaya mitigasi terhadap dampak vulkanik Kelud. Sesuai dengan religiositas pada jamannya, salah satu bentuk mitigatif itu adalah religio-mitigatif, yakni mitigasi bencana vulkanik secara religio-magis. Tinjauan “vulkano-historis” dan “antropo-ekologis” terhadap peristiwa vulkanik Kelud lintas masa dengan mendayagunakan sumber data tekstual (epigrafis dan filologis), arkeologis maupun paleo-ekologis bukan tidak mungkin mampu menyingkap: bukan saja misteri kegunungapian Kelud, namun sekaligus alternasi-alternasi upaya mitigasi terhadap kemurkaannya. Setidaknya, tersingkap. konsepsi tentang dinamika relasional antara manusia dan gunung api dalam konteks budaya arkhais di Jawa. Hal serupa bukan tidak mungkin berlaku pada gunung-gunung api lain dalam kurun waktu yang sejaman. Abstract. Kelud is one of the most active volcanoes in East Java, aside from Mount Semeru. Its volcanic activities are widespread and not only affect the areas in the City and Regency of Blitar and the Regency of Kediri, but in some way also have impact in other areas within the vicinity. During the era of Hindu-Buddhist monarchies in Java, the activities had impact on parts of several kingdoms in Java since the Kadiri to Majapahit periods. Therefore since the period there were various efforts to mitigate the impact of Mount Kelud’s volcanic activities. In accordance with the religiosity of its time, one of the mitigation efforts was religio-mitigation, which is volcanic disaster mitigation using religio-magical action. It is viable that this overview on the “volcano-historic” and “anthropo-ecologic” studies on the volcanic activities of Mount Kelud along the period using textual (epigraphic and philological), archaeological, and paleo-ecological data can reveal not only the mystery of the volcanic aspect of Mount Kelud but also the alternations of mitigation efforts to deal with its eruptions. At least it is hoped that it will reveal the concepts of relational dynamics between humans and volcanoes in the context of archaic culture in Java. It is not unlikely that such study can be applied to other volcanoes in similar period.