cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
KALPATARU
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
Appendix Kalpataru Volume 25, nomor 2, tahun 2016 Kalpataru Majalah Arkeologi
KALPATARU Vol. 25 No. 2 (2016)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktualisasi Hasil Penelitian Arkeologi di Maluku Refleksi Arkeologi Maluku Tentang Pluralisme, Integrasi Sosial, Demokrasi, Dan Kedaulatan Bangsa. Wuri Handoko
KALPATARU Vol. 21 No. 2 (2012)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v21i2.119

Abstract

Ada pelajaran berharga untuk bangsa ini tentang pemahaman atas pluralisme, demokrasidan integritas kebangsaan yang sesungguhnya menjadi identitas nasional bangsa kita. Fenomena kebudayaan masa lampau yang dapat kita jamah melalui bukti-bukti tinggalan arkeologi, nilainilaifilofosis dan budaya yang telah kita interpretasikan sesungguhnya mampu menjadi jembatan reintegrasi sosial sebagai bagian dalam membangun kedaulatan bangsa. Maluku, sebagai wilayah yang masyarakatnya majemuk dan pernah memiliki pengalaman pahit konflik sosial, adalah wilayah dengan potensi arkeologi yang berlimpah, dan dari yang berlimpah itu masih sebagian kecil saja yang sudah terungkap. Dari kecilnya data arkeologi yang terungkap, ternyata meyimpan makna dan nilai-nilai humanisme, pluralisme, demokrasi, yang telah berurat berakar yang bisa menjadi media membangun kemanusiaan yang lebih beradab, perdamaian, toleransi, persaudaraan, yang meskipun sempat tercerabut, tidak sampai merusak akarnya, yang jika ditanam kembali dengan baik, mampu bertumbuh dan berkembang sebagai modal membangun peradaban bangsa yang lebih maju dan bermartabat. Abstract. There is a valuable lesson for this nation about the understanding of pluralism, democracy, and national integrity, which are actually the national characteristics of our nation. The phenomenon of past culture that we can obtain through archaeological evidences, philosophical and cultural values that we have interpreted can serve as the bridge of social re-integration as part of our effort to build national sovereignty. The Moluccas, as an area with multi-dimensional communities and has unfortunately experienced social conflicts, is an area with abundant archaeological potencies. Out of the abundant potencies, only a small part has been revealed, and it contains meanings and values of humanism, pluralism, and democracy, which are deeply rooted and can be used as the media to build more civilized humanity, peace, tolerance, and brotherhood, which had been once destroyed although not entirely perished and if we rebuild them they will grow and flourish as the base to establish more advanced and dignified national civilization.
Perdagangan Cengkih Masa Kolonial dan Jejak Pengaruhnya di Kepulauan Lease Syahruddin Mansyur
KALPATARU Vol. 22 No. 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v22i1.120

Abstract

Abstrak. Jaringan perdagangan masa lampau menempatkan rempah-rempah sebagai komoditi utama. Dalam konteks ini, wilayah Maluku dikenal sebagai surga rempah-rempah, karena dua komoditi utama yang dihasilkan yaitu cengkih (Sysgium aromaticum; Eugenia aromaticum) dan pala (Myristica fragrans). Para pedagang Belanda melalui kongsi dagangnya yang dibentuk pada tahun 1602 yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) berhasil merebut hegemoni perdagangan rempah-rempah di Maluku. Topik tulisan ini adalah jejak jaringan perdagangan masa Kolonial terkait dengan kebijakan monopoli cengkih yang diterapkan oleh VOC sekitar pertengahan abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 di Maluku. Periode ini ditandai dengan pemusatan produksi cengkih di tiga gugus pulau yaitu Nusalaut, Saparua, dan Haruku atau sering disebut Kepulauan Lease. Aspek yang dikaji adalah jejak pengaruh perdagangan cengkih masa Kolonial di Kepulauan Lease. Abstract. Clove Trade during Dutch Colonization and its Influence in Lease Islands. Trade networks of the past have put the spices as primary commodities. In this context, the Moluccas region known as “heaven of spices” because the two main commodities produced are cloves (Sysgiumaromaticum; Eugenia aromaticum) and nutmeg (Myristicafragrans). Dutch traders through its trading partnership formed in 1602 that is Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) managed to seize hegemony spice trade in the Moluccas. Topic of this paper is The trace of Colonial era trade networks associated with the clove monopoly policies applied by the VOCs around the mid-17th century to the mid-19th century in the Moluccas. This period is characterized by the concentration of clove production in the three island groups namely Nusalaut, Saparua, and Haruku or often called the Lease Islands. The aspect of studies is the trace of cloves trading influence in colonial era in the Lease islands
Appendix Kalpataru Volume 22, nomor 1, tahun 2013 KALPATARU Majalah Arkeologi
KALPATARU Vol. 22 No. 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preface Kalpataru Volume 22, nomor 2, tahun 2013 KALPATARU Majalah Arkeologi
KALPATARU Vol. 22 No. 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persebaran Karst di Beberapa Pulau-Pulau Terluar Indonesia dan Prospeknya pada Penelitian Arkeologi Indonesia Robby Ko King Tjoen
KALPATARU Vol. 22 No. 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v22i2.123

Abstract

Abstrak. Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2005 menetapkan adanya 92 pulau terluar yang berbatasan dengan Malaysia, Vietnam, Filipina, Palau, Australia, Timor Leste, India, Singapura, dan Papua Nugini. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa 12 di antaranya sebagai “karang”, “batu karang”, “terumbu karang”, tanpa gua-gua. Hanya sedikit pulau yang luas dan memiliki gua-gua karst. dan dinamakan pulau “batu kapur”, “batu gamping”, “gamping”. Beberapa pulau  lainnya dilaporkan terdiri dari “batuan andesit’ dan “batuan sedimen”. Cukup banyak yang tidak dideskripsi segi geologi-petrologinya. Data flora dan faunanya sangat sedikit. Hanya beberapa pulau terluar yang berpenghuni. Apakah di antara pulau-pulau itu, yang berbatu gamping dan sudah mengalami proses karstifikasi dengan adanya gua-gua, bernilai arkeologi? Hal ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam, terutama karena menyangkut waktu (time), ruang (space), perubahan (change), dan kesinambungan (continuity).Abstract. The Distribution of Karst on a Number of Outer Islands in Indonesia and Its Prospect to Indonesian Archaeological Research. The Presidential Decree No. 78 of the year 2005, which stipulates that there are 92 outer islands that  are bordered by Malaysia, Vietnam, the Philippines, Palau, Australia, Timor Leste, India, Singapore, and Papua New Guinea. Identification shows that 12 of them are coral/coral reef islands with no caves. Only a few are wide enough and have karst caves and are named limestone islands. Some other islands are reported to be consists of andesitic and sedimentary rocks. Quite many have not been described in terms of their geologypetrology.  The flora and fauna data are scarce. Only a number of the outer islands are inhabited. Are there among the islands, which consist of limestone and had gone through karstification process, that have archaeological value? To answer it, more thorough investigations are needed, particularly because time, space, change, and continuity are involved.
Arkeologi Pulau Terluar Di Maluku: Survei Arkeologi Pulau Masela Marlon Ririmasse
KALPATARU Vol. 22 No. 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v22i2.125

Abstract

Abstrak. Masela adalah satu di antara sembilan puluh dua pulau terluar yang ada di Indonesia. Terletak di ujung selatan Kepulauan Maluku, pulau ini merupakan bagian dari bentang luas pulaupulau yang berbatasan dengan daratan besar Australia. Memiliki nilai strategis secara geografis dan geohistoris, kajian arkeologis atas pulau ini belum pernah dilakukan.Tulisan ini adalah rekam hasil penelitian arkeologis perdana di Pulau Masela yang dilakukan pada paruh kedua tahun 2012. Tulisan ini merupakan upaya lebih jauh untuk memahami wajah sejarah budaya Masela dengan mengamati segenap potensi arkeologis di wilayah ini yang telah direkam melalui sudut pandang arkeologi pulau terluar. Survei penjajakan diadopsi sebagai pendekatan untuk merekam secara luas ragam bukti materi masa lalu yang tersebar di pulau ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pulau Masela menunjukan tiga karakter khas dalam kaitan dengan potensi arkeologis di wilayah ini: konstruksi dan distribusi pemukiman kuna; jejak penguburan tradisional; dan situssitus terkait sejarah lokal. Pengembangan tema penelitian terkait ketiga potensi, kiranya dapat diinisiasi melalui pendalaman kajian atas situs-situs pemukiman kuna di wilayah ini.Abstract. The Archaeology of The Outer Islands: Archeological Survey in Masela Island. Masela is one of the ninety-two outermost islands in Indonesia. Situated in the southern-end of the Maluku Islands, Masela is a part of the islands in the bordering region with Australia. Having a strategic value geographically and geohistorically, archaeological research in this island has not been done yet. This paper is the record of the first archaeological study in Masela which have been conducted at the second half of 2012. This research is a further attempt to understand the cultural history in Masela by observing archaeological potential in this island. The Reconnaissance survey has been adopted as an approach to record the past material culture in the coverage survey areas. The result of this study shows that Masela have three distinctive character in relation to the archaeological potential of the region that consist of: construction and distribution of ancient settlements; traces of traditional burials; and living traditions among local communities. In developing the research theme related to this three potentials, might be initiated through the study of ancient settlements in this island.
Persebaran dan Bentuk-Bentuk Megalitik Indonesia: Sebuah Pendekatan Kawasan Bagyo Prasetyo
KALPATARU Vol. 22 No. 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v22i2.126

Abstract

Abstrak. Studi tentang arkeologi kawasan dilandasi oleh pemikiran bahwa ruang merupakan  bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia. Demikian pula dengan kawasan Megalitik Indonesia, merupakan topik yang selalu menarik untuk dikaji. Hadirnya budaya megalitik di lingkup makro dengan berbagai jenisnya memberikan informasi yang sangat berharga sebagai titik tolak kajian arkeologi kawasan serta mata rantai kesinambungan budaya megalitik di Nusantara.Abstract. The Distribution and Forms of Megalithic in Indonesia: A Spatial Approach. Study on spatial archaeology is based on a notion that space is an integral aspect in human life. That is also the case with the megalithic regions in Indonesia, which are always interesting to investigate. The presence of megalithic culture in macro scope, with its various forms, provides valuable information as the starting point in the study of spatial archaeology and part of continuity sequence of megalithic culture in the Archipelago
Studi Kewilayahan dalam Penelitian Peradaban Śriwijaya Eka Asih Putrina Taim
KALPATARU Vol. 22 No. 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v22i2.127

Abstract

Abstrak. Kerajaan Śriwijaya memiliki peradaban yang tersebar di seluruh wilayah yang berada di bawah kekuasaannya, tidak hanya di Sumatra bagian selatan, tetapi di seluruh wilayah Nusantara bahkan di wilayah Asia Tenggara. Hasil studi arkeologi mengenai peradaban Śriwijaya masih bersifat spatial, belum dapat menggambarkan posisi dan fungsi antara satu situs Śriwijaya dengan situs Śriwijaya lain, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Studi atau penelitian Śriwijaya diperlukan secara integritas dalam suatu kawasan untuk mendapatkan hasil secara holistik, tidak terpisah-pisah oleh batasan wilayah, baik secara administratif maupun kewilayahan geografis. Dalam makalah ini akan dicoba untuk membahas mengenai penelitian berorientasi kawasan yang tidak dipisah-pisah baik secara geografis, administratif, maupun wilayah kerja.Abstract. Territorial Studies in Śrivijaya Civilization Research. The Great of Śrivijaya Kingdom must had a great civilization as well as its greatness. The civilization spread to the entire region under his control, not only in southern Sumatra, but also in all parts of the archipelago and even in Southeast Asia. Yet the archaeological study of the Śrivijaya civilization is still spatial, not able to describe the common thread between the position and function between one of Śrivijaya site to others, either nationally and regionally and internationally. Integrity in Śrivijaya study or research is necessary to get a holistic result, not separated by a region boundary either in administrative or territorial geographical. in this paper will try to discuss about the research orientated area that is not fragmented by separation either geographical, administrative, or work areas.
Bina Kawasan di Negeri Bawah Angin: Dalam Perniagaan Kesultanan Banten Abad ke-15--1 Sonny C Wibisono
KALPATARU Vol. 22 No. 2 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kpt.v22i2.128

Abstract

Abstrak. Tulisan ini memberi perhatian pada sebuah kawasan yang disebut “tanah di bawah angin”. Seperti sudah dipahami sejarawan, kawasan yang dimaksud merupakan jalinan niaga antar penduduk Asia Tenggara yang berhasil menandai pertumbuhan ekonomi dan peradaban di kawasan ini pada abad ke-15--17. Luasnya cakupan dan kejelasan wilayah ini menimbulkan soal untuk mencapainya. Ranah studi arkeologi sejarah dari masa ini, yang diharapkan dapat memaknai zaman ini, belum cukup diarahkan untuk mengungkapkannya, meskipun sudah cukup banyak penelitian situs dilakukan. Penelitian sintesis yang bertolak dari negeri para sultan sebagai bagian dari kawasan ini merupakan cara yang dipandang dapat digunakan untuk mencapainya. Negeri Kesultanan Banten yang sudah cukup banyak diteliti dari segi sejarah dan arkeologi digunakan sebagai kasus untuk melihat bagaimana kawasan niaga di negeri ini dibangun oleh para sultan melalui strategi politik ekonomi mereka. Upaya bina kawasan Kesultanan ini antara lain dilakukan mulai dari penguasaan wilayah, pemindahan ibu kota dari pedalaman ke pesisir, pengembangan kota pelabuhan Banten Lama, penguatan dan perluasan wilayah lada, pembangunan kota baru dan revitalisasi pertanian di wilayah Tirtayasa. Abstract. The Regional Development of the Land below the Wind: Trade in the Sultanate of Banten during 15th--17th centuries CE. This paper gives attention to an area called “the land below the wind”. As is well understood by historians, the area is part of a trade network between Southeast Asian population that successfully marked economic growth and civilization in the region in 15-17 centuries CE. The broadness of coverage and intelligibility of this area raises questions on how to achieve it. Realm of historical archaeological study of this period, which is expected to make sense of this era, has not really aimed revealing it, despite the considerable amount of research carried out on site. Research synthesis, which departed from the state of sultans as part of the region, is considered a way that can be used to achieve it. Affairs of the Sultanate of Banten, which has been studied quite a lot in terms of history and archeology, are used as a case to see how the commercial region in this country was built by the sultans through their economic-political strategy. Regional development strategy of the Sultanate was done through territorial conquest, relocation of the capital city from the interior to the coast, the development of the port city of Banten Lama, reinforcement and expansion of the area of pepper, a new urban development, and revitalization of agriculture in Tirtayasa region