cover
Contact Name
Marselius Sampe Tondok
Contact Email
marcelius@staff.ubaya.ac.id
Phone
+622178881112
Journal Mail Official
psikologi@gunadarma.ac.id
Editorial Address
Jl. Margonda Raya, No.100, Depok, Jawa Barat. 16424
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Psikologi
Published by Universitas Gunadarma
Jurnal Psikologi (JPUG) accepts manuscripts based on empirical research, both quantitative and qualitative. Priority is given to quantitative research of the multivariate type. Meanwhile, the Jurnal Psikologi also accepts meta-analysis or systematic review manuscripts that have advantages in terms of novelty or unique variables.
Articles 425 Documents
KESADARAN MEMILIH TIPE MAKANAN: STUDI PENGUKURAN SIKAP EKSPLISIT DAN IMPLISIT Grace Theola Hanani; Christiany Suwartono
Jurnal Psikologi Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sosialisasi mengenai pentingnya makanan berserat semakin marak namun konsumsi makanan cepat saji terus meningkat. Padahal, banyak orang yang menyatakan atau menunjukkan sikap yang negatif terhadap konsumsi makanan cepat saji. Peneliti merasa bahwa fenomena kontradiktif tersebut perlu diteliti lebih lanjut. Untuk itulah, peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian mengenai sikap terhadap makanan cepat saji dan makanan berserat, baik secara eksplisit maupun implisit. Sikap eksplisit merupakan evaluasi yang disadari dan dapat dengan mudah dilaporkan. Sedangkan, sikap implisit merupakan evaluasi yang muncul secara involuntary, tidak dapat dikontrol, dan seringkali tanpa disadari. Guna melihat gambaran sikap eksplisit dan implisit terhadap makanan cepat saji dan makanan berserat, serta untuk melihat ada atau tidaknya perbedaan antara sikap eksplisit dan implisit tersebut, diperlukan dua metode pengukuran, yaitu survei bagi sikap eksplisit dan Implicit Association Test (IAT) bagi sikap implisit. Penelitian dilakukan terhadap 31 laki-laki dan 68 perempuan. Partisipan-partisipan penelitian tersebut merupakan para  dewasa muda yang berusia antara 18-24 tahun. Hasilnya menunjukkan  partisipan cenderung memiliki preferensi terhadap makanan berserat dibandingkan dengan makanan cepat saji, baik pada sikap eksplisit maupun sikap implisit partisipan-partisipan penelitian. Namun, terdapat perbedaan yang signifikan antara sikap eksplisit dan implisit partisipan terhadap makanan cepat saji dan makanan berserat. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa masyarakat dalam tahap perkembangan dewasa muda memiliki sikap yang lebih positif terhadap makanan berserat dibandingkan dengan makanan cepat saji. Namun, kecenderungan memilih makanan cepat saji masih termasuk tinggi. Peneliti menduga hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan waktu dan kesibukan, serta sulitnya mengakses makanan berserat dibanding makanan cepat saji. Kata Kunci: Makanan cepat saji, Makanan berserat, IAT, Sikap eksplisit, Sikap implisit
PURSUANCE EMOTION DYNAMIC ON DIABETES MELLITUS PATIENT Kostani Indera Kartika; Nida Ul Hasanat
Jurnal Psikologi Vol 13, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by high levels of glucose in the blood that called hyperglycemia. The high level of blood glucose in diabetic patients is result from defects in insulin action. Diabetes mellitus that uncontrolled can cause acute and chronic complication such as heart diseases, hyperglycemia coma, and hypoglycemia coma. Diabetes mellitus patient must do four things in diabetes management for controlling this disease: monitoring blood level, diet, exercise, and medication.Diabetes mellitus patient has more difficulties to follow dietary advice than other diabetes mellitus management. One of the reason for diabetes mellitus patient doesn’t comply to their dietary advice is their emotional state. Changing in his/her life style if they follow dietary advice can cause negative emotion and conflict on their selves.This research was qualitative research. The researcher used indepth interview as the main instrument.. The subjects were one woman and two men, age over 45 years old, and had been diagnosed diabetes mellitus for more than six months. Indepth interview with subject’s significant others, who guided subjects to do diabetes mellitus management became a way in triangulation. The results of this research showed that three subjects had negative emotion when they followed diet for the first time. They tried to regulate their emotion in order to get homeostatic emotion, so they could follow dietary advice successfully.Keywords: diabetes mellitus, compliance, diet, emotion
PENINGKATAN PRESTASI AKADEMIK MELALUI PENGEMBANGAN KEBERBAKATAN INTELEKTUAL DAN KREATIVITAS DALAM PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN PROSES DAN PENGGUNAAN MULTIMEDIA Seto Mulyadi
Jurnal Psikologi Vol 5, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalalah meningkatkan prestasi akademik melalui pengembangan kreativitas dan keberbakatan intelektual dalam pembelajaran dengan pendekatan proses yang disajikan dengan multimedia yaitu mengintegrasikan warna, gambar, suara, dan gerak ke dalam materi perkuliahan. Guna mencapai tujuan tersebut digunakan metode quasi eksperimen yang melibatkan mahasiswa sebanyak 184 orang dari 4 kelas yang berbeda dan Kelas eksperimen menggunakan pembelajaran dengan pendekatan proses dan multimedia dan kelas kontrol menggunakan pendekatan konvensional juga menggunakan multimedia. Mata kuliah yang dieksperimenkan adalah Psikologi Kepribadian 2, Psikologi Sosial 2, dan Psikologi Perkembangan 1. Hasil yang dicapai menunjukkan skor post-test kelas eksperimen dengan kelas kontrol mempunyai perbedaan yang signifikan untuk mata kuliah Psikologi Kepribadian 2 dan Psikologi Sosial 2. Sementara itu, Psikologi Perkembangan 1 skor post-test kelas eksperimen dengan kelas kontrol tidak mempunyai perbedaan yang signifikan. Kedua mata kuliah tersebut di atas mempunyai perbedaan yang signifikan karena mahasiswa berada pada semester 4 sehingga motivasi belajar sudah terfokus dalam materi perkuliahan lebih-lebih telah memiliki kemandirian belajar. Di sisi lain dalam Psikologi Perkembangan 1 perbedaan skor post-testnya tidak signifikan karena mahasiswanya berada pada semester 2 motivasinya belum terfokus ke materi perkuliahan dan belum memiliki kemandirian belajar (SRL).
OPTIMISME, HARAPAN, DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA, DAN KUALITAS HIDUP ORANG DENGAN EPILEPSI Aska Primardi; M. Noor Rochman Hadjam
Jurnal Psikologi Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Individu dengan penyakit parah seperti epilepsi dengan penyembuhan yang sulit dan terapi yang lama, kualitas hidup menjadi terlihat penting sebagai keluaran perawatan kesehatan yang diharapkan. Tujuan dari studi ini adalah untuk menguji interaksi optimisme, harapan dan dukungan sosial keluarga sebagai prediktor kualitas hidup pada Orang Dengan Epilepsi (ODE). Orang dengan epilepsi direkrut dari Klinik Epilepsi di Departemen Neurology Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Sebanyak 62 pasien epilepsi berhasil direkrut menjadi subjek dalam kurun waktu Mei 2009 sampai Juli 2009. Kualitas hidup orang dengan epilepsi, optimisme, harapan, dan dukungan sosial keluarga diukur menggunakan kuesioner dan juga melalui wawancara terhadap 5 orang pasien Klinik Epilepsi di Jakarta dan 4 orang di Semarang dan Yogyakarta. Optimisme, harapan, dukungan sosial keluarga memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kualitas hidup. Menggunakan korelasi parsial tampak bahwa terdapat korelasi positif antara kualitas hidup dengan optimisme. Hasil wawancara memperlihatkan bahwa kualitas hidup secara efektif dipengaruhi oleh kesehatan fisik (aura, fungsi kognitif dan fisik), kesehatan psikis (kecemasan, kepercayaan diri, rasa malu, optimisme, harapan), dan kesehatan sosial (stigma, diskriminasi, dukungan sosial, peran sosial di pekerjaan dan pendidikan). Peran untuk meningkatkan kualitas hidup ODE tidak hanya berfokus pada parahnya epilepsi yang diderita, namun juga efek sosial dan psikologis dari epilepsi itu sendiri.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI PERSALINAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER KETIGA Triana Indri Maharani; Muhammad Fakhrurrozi
Jurnal Psikologi Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this study is to examine the correlation between social support and anxiety in pregnant women toward giving birth. Participants of this research are 100 pregnant women whom already toward giving birth with 28 until 28 weeks pregnant period. The result shows that the level of social support felt by the participants is in moderate toward high, and the anxiety is moderate toward low. There is also negative correlation between social support and anxiety toward giving birth. It is mean that the higher social support felt by the participants, the lower anxiety they faced. Keywords: Social support, Anxiety toward giving birth, Pregnant women
REPRESENTASI PENYAKIT DAN STRATEGI PENGATASAN PADA ANAK YANG MENDERITA KANKER Rani Agias Fitri; Fensi Fensi
Jurnal Psikologi Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan gambaran pemahaman anak tentang penyakit kanker yang dialaminya melalui lima aspek pada konsep representasi penyakit dan melihat apakah yang menjadi stressor dari setiap aspek tersebut serta strategi pengatasan apakah yang dipilih anak untuk mengatasi tekanan yang mereka hadapi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara secara mendalam. Berdasarkan wawancara mendalam terhadap dua orang subjek, diperoleh hasil bahwa subjek sudah dapat memahami karakteristik dasar dari penyakit, seperti definisi dari ‘sakit’, penyebab penyakit, dan perbedaan penyakit lain dengan penyakit kanker. Selain itu, masing-masing aspek tersebut telah menjadi stressor yang harus dihadapi oleh anak dengan menggunakan strategi pengatasan tertentu.
MAKNA HIDUP PADA BIARAWAN Charlys Charlys; Ni Made Taganing Kurniati
Jurnal Psikologi Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang proses biarawan dalam menemukan makna hidupnya didalam kaul kemiskinan, kaul kemurnian dan kaul ketaatan dalam biara dan mendapatkan pemahaman tentang biarawan yang dapat bermakna tanpa seks, kekayaan dan kebebasan. Proses penemuan makna antara lain : tahap derita (Meaningless, peristiwa tragis dan penghayatan tanpa makna), tahap Penerimaan diri (pemahaman diri dan pengubahan sikap), tahap penemuan makna hidup (penemuan makna dan penemuan tujuan hidup), tahap realisasi makna (komitmen dan kegiatan yang terarah untuk pemenuhan makna hidup) dan tahap kehidupan bermakna(penghayatan bermakna dan perasaan bahagia). Metodologi yang digunakan adalah metodologi studi kasus, yang dibantu dengan pendekatan observasi dan wawancara. Subjek yang dilibatkan dalam studi kasus ini adalah biarawan berusia 40 tahun dan sudah kaul kekal selama 13 tahun. Subjek menjalankan ketiga kaul sejak tahun 1982 dan memutuskan untuk menjalankan ketiga kaul seumur hidup sejak tahun 1994. Dan subjek masih setia dalam menjalankan ketiga kaul di dalam biara. Data yang diperoleh, ternyata menunjukkan proses dari kehidupan tidak bermakna menjadi bermakna di dalam biara.Kata Kunci: makna hidup, biarawan
RELIGIUSITAS DAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA DEWASA AWAL Miftah Aulia Andisti; Ritandiyono Ritandiyono
Jurnal Psikologi Vol 1, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan religiusitas dan perilaku seks bebas pada dewasa awal. Berdasarkan analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Pearson (2-tailed), diketahui bahwa koefisien korelasi yang diperoleh sebesar r = - 0,378 dengan taraf signifikansi sebesar 0,007 (p < 0,01). Berdasarkan hasil tersebut terdapat hubungan yang signifikan antara religiusitas dengan perilaku seks bebas, dengan demikian hipotesis di dalam penelitian ini diterima. Hasil koefisien korelasi yang negatif menunjukkan arah korelasi kedua variabel adalah negatif, bahwa semakin tinggi religiusitas maka semakin rendah perilaku seks bebasnya. Dan sebaliknya semakin rendah religiusitas maka semakin tinggi perilaku seks bebasnya.
PERANAN “SUPPORT FAMILY PSYCHOEDUCATION PROGRAM (SFPP) FOR STROKE PATIENT” TERHADAP PENINGKATAN OPTIMISME PADA KELUARGA PASIEN PENSIUNAN YANG MENGALAMI STROKE Sendi Satriadi
Jurnal Psikologi Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengenai Peranan “Support Family Psychoeducation Program (SFPP) For Stroke Patient” Terhadap Peningkatan Optimisme Pada Keluarga Pasien Pensiunan Yang Mengalami Stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan dari peranan “Support Family Psychoeducation Program (SFPP) for stroke patient” yang nantinya dapat digunakan untuk meningkatkan optimisme pada keluarga pasien pensiunan yang mengalami stroke. Sampel dari penelitian ini adalah satu keluarga pasien pensiunan yang mengalami stroke, terdiri dari 1 orang istri dan 3 orang anaknya. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner optimisme yang bernama Attributional Style Questionaire (ASQ) yang dibuat oleh Martin E.P Seligman (1990) yang kemudian dimodifikasi oleh peneliti. Berdasarkan hasil perhitungan uji statistik nonparametrik Wilcoxon untuk uji beda kasus 2 (dua) sampel berpasangan (sebelum dan sesudah) diberikan program psychoeducation dengan α = 0.05 dengan mempergunakan software SPSS 17.0 diperoleh hasil sebesar 1.604 yang artinya bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Hasil penelitian pun menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga pasien stroke menunjukkan reaksi yang positif terhadap program psychoeducation dan mengalami peningkatan optimisme. Adapun saran dalam penelitian ini “Support Family Psychoeducation Program (SFPP) for stroke patient” ini merupakan salah satu bentuk intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan optimisme pada keluarga pasien pensiunan yang mengalami stroke                                                                                                                  Kata Kunci: Psikoedukasi keluarga, dukungan keluarga, optimisme
SIFAT KEPRIBADIAN DAN STRES PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA Devina Megawanti; Augustine D. Sukarlan; Sherly Saragih Turnip
Jurnal Psikologi Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai penelitian menunjukkan adanya kaitan antara sifat kepribadian individu denganstres psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran sifat kepribadiandominan pada mahasiswa Universitas Indonesia, serta untuk mengetahui kaitan antara sifatdominan tersebut dengan stres psikologis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatifdengan 702 subjek mahasiswa program sarjana reguler. Para partisipan dipilih denganteknik acak. Seluruh partisipan mengisi Neuroticism Extraversion Openness PersonalityInventory (NEO-PI) untuk mengetahui sifat kepribadian dominan, serta Hopkins SymptomsChecklist-25 (HSCL-25) untuk mengukur tingkat stres psikologis. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa sifat dominan pada responden penelitian ini adalah sifat nerotisismesebanyak 221 orang (31.5%). Ditemukan hubungan yang signifikan antara sifat nerotisismedengan stres psikologis pada mahasiswa UI (r = 0.415, p< 0.01). Urutan sebaran sifatdominan pada mahasiswa UI adalah nerotisisme, sifat berhati-hati, keterbukaan padapengalaman, ekstraversi, dan keramahan. Mahasiswa UI dengan sifat dominan nerotisismememiliki tingkat stres psikologis yang tinggi. Sementara itu, tidak ditemukan asosiasi antarastres psikologis dengan sifat dominan lain.AbstractPrevious researchs showed that there is a relationship between personality trait andpsychological distress. This study aims to describe the dominant personality traits among thestudents of University of Indonesia (UI) and to investigate the relationship between dominantpersonality traits of the students and the psychological distress. This is a quantitative studywith 702 undergraduate students at UI. The participants were recruited through randomsampling. The instruments of the study were Neuroticism Extraversion Openness PersonalityInventory (NEO-PI) for determining the dominant personality trait, and the HopkinsSymptoms Checklist-25 (HSCL-25) for measuring their psychological distress. The resultshowed that the most common dominant personality trait found in this study was neuroticism(31,5%). There was a significant relationship between dominant trait neuroticism withpsychological distress among the students of Universitas Indonesia (r = 0,415, p < 0.01). Thedominant traits among the students of UI were consecutively were neuroticism,conscientiousness, openness to experience, extraversion, and agreeableness. The students withthe dominant trait of neuroticism possessed high level of psychological distress. Noassociations were found between psychological distress and other dominant personality traits