cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 26 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 1 (2024): April" : 26 Documents clear
Lanskap Permukiman Tradisional Masyarakat Kerinci dalam Kajian Memori Kolektif Nurul Afni Sya'adah; Wanny Rahardjo Wahyudi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.31951

Abstract

Memori atau ingatan manusia yang tidak bertahan lama dituangkan dalam wujud benda sehingga kegiatan mengingat dan melupakan terwujud dalam bentuk budaya material. Ingatan bersama (memori kolektif) kelompok masyarakat tertuang dalam budaya material yang menjadi identitas mereka. Permukiman tradisional masyarakat Kerinci masih mempertahankan kondisi lanskap budaya secara tradisional. Hal ini menarik untuk ditelusuri lebih dalam perihal bagaimana pengetahuan tersebut masih digunakan pada pola permukiman masyarakat Kerinci sehingga tulisan ini bertujuan untuk melihat bagaimana pengetahuan tersebut terus berlanjut secara turun temurun dalam masyarakat Kerinci. Dalam tulisan ini akan dibahas bagaimana permukiman tradisional masyarakat Kerinci saat ini masih mengikuti pola permukiman masa lalu. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka metode yang digunakan berupa tahapan dalam studi arkeologi berupa pengumpulan data utama yang dilakukan dengan deskripsi dan dokumentasi. Tahapan selanjutnya berupa analisis data yang dilakukan dengan analisis morfologi dan analisis konteks yang melihat secara makro keadaan temuan untuk melihat gejala yang muncul. Tahapan akhir berupa penafsiran data dengan memadukan hasil analisis dan teori yang digunakan. Dari hasil analisis disimpulkan bahwa permukiman tradisional masyarakat Kerinci merujuk pada pola permukiman kuno masa megalitik yang telah mengalami adaptasi terhadap islmamisasi yang terjadi di Kerinci dan masih digunakan hingga masa kini.   Memory does not exist for a long time, it is transformed into objects so the activities of remembering and forgetting are realized by material culture. The collective memory is contained in the material culture that becomes an identity of society. The Kerinci traditional settlements still maintain traditional cultural landscape conditions. It is interesting to explore how this knowledge is still used in the pattern of Kerinci traditional settlements. This research aims to look at how this knowledge continues from generation to generation in Kerinci society.  This article will discuss how the Kerinci traditional settlement still follows the settlement patterns of the past. To answer this question, the stages of archaeological studies are used as the method such as data collection to primary sources carried out by description and documentation. Data analysis is carried out using morphological analysis and context analysis to look for the symptoms that appear in macro conditions. Data interpretation by combining the results of the analysis and the theory used. From the results of the analysis, the Kerinci traditional settlement refers to the ancient settlement patterns of the megalithic tradition which have adapted to the Islamization that occurred in Kerinci and are still used today.
Faktor-Faktor Determinan Modal Sosial dalam Menghadapi Pandemi Covid-19: Studi Kasus Desa Wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta Shinta Putri
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32142

Abstract

Penelitian ini penting dilakukan karena dapat berkontribusi dalam meningkatkan desa wisata dalam menghadapi kemungkinan pandemi di masa mendatang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi komponen-komponen pembentuk faktor-faktor modal sosial dan menemukan faktor-faktor determinan dalam modal sosial serta besaran pengaruhnya. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian dilakukan pada empat desa yang mewakili tiap kabupaten di DIY yakni Desa Wisata Kakilangit, Desa Wisata Pentingsari, Desa Wisata Nglanggeran, dan Desa Wisata Tinalah. Menurut Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tingkatan desa wisata maju/mandiri ini ditentukan berdasarkan beberapa kriteria seperti daya tarik, aksesibilitas, fasilitas, pemberdayaan masyarakat, pemasaran dan promosi, serta kelembagaan dan SDM. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan sejumlah 128 pelaku usaha wisata. Conficence level yang digunakan adalah 92% berdasarkan Rumus Slovin. Data kemudian diolah menggunakan analisis Structural Equation Model Analysis (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial secara signifikan dipengaruhi oleh tiga faktor yakni faktor kepercayaan, norma, dan jejaring sosial. Dalam hal ini jejaring sosial merupakan faktor dengan tingkat pengaruh terting. Berdasarkan penelitian ini sangat penting bagi pemerintah baik di tingkat pusat maupun tingkat desa bersama dengan pengelola desa wisata untuk meningkatkan modal sosial pada beberapa faktor dan komponen yang disebutkan dalam penelitian ini. Penelitian ini berkontribusi untuk meningkatkan ketahanan desa wisata melalui modal sosial untuk menghadapi pandemi di masa yang akan datang.   This research is based on the issue of the vulnerability of tourist village communities to the Covid pandemic, where social capital is needed to increase resilience. This research is important because it can contribute to improving tourist villages in facing possible future pandemics. The aim of this research is to identify the components that form social capital factors and to find the determinant factors in social capital and the magnitude of their influence. This research is quantitative research. The research was conducted in four developed/independent tourist villages representing each district in DIY, namely Kakilangit Tourism Village, Jenissari Tourism Village, Nglanggeran Tourism Village, and Tinalah Tourism Village. According to the Yogyakarta Special Region Tourism Office (DIY), the level of a developed/independent tourist village is determined based on several criteria such as attractiveness, accessibility, facilities, community empowerment, marketing and promotion, as well as institutions and human resources. Data was collected through questionnaires with a total of 128 tourism business actors. The confidence level used is 92% based on the Slovin Formula. The data was then processed using Structural Equation Model Analysis (SEM). The research results show that social capital is significantly influenced by three factors, namely trust, norms and social networks. In this case, social networking is the factor with the highest level of influence. Based on this research, it is very important for the government both at the central and village levels together with tourism village managers to increase social capital on several factors and components mentioned in this research. This research contributes to increasing the resilience of tourist villages through social capital to face future pandemics.
Representasi Kulit Hitam dalam One Punch Man, The Promised Neverland, dan Shaman King Salsabila Rahmah; Emma Ramawati Fatimah; Esther Risma Purba
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32414

Abstract

Blackface di Jepang diperkenalkan oleh orang kulit putih pada tahun 1854 dan mulai diadaptasi sejak tahun 1920-an dalam pertunjukan, layar perak, buku anak, dan mainan di Jepang. Meskipun ditolak oleh aktivis anti-rasisme, blackface kembali muncul beberapa tahun kemudian, diperkuat dengan kurang tegasnya regulasi anti-ujaran kebencian yang mempersulit definisi rasisme di Jepang. Dalam perkembangannya, blackface banyak ditemukan dalam anime produksi tahun 90-an, bahkan setelah tahun 2010, seperti Superalloy Darkshine (One Punch Man, 2015 & 2019), Sister Krone (The Promised Neverland, 2019), dan Chocolove McDonell (Shaman King, 2021) yang menjadi fokus penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi rasial orang kulit hitam dari ketiga anime tersebut yang juga menunjukkan keterkaitan pandangan orang Jepang terhadap orang kulit hitam yang memengaruhi bagaimana mereka menggambarkan orang kulit hitam dalam proses produksi anime tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah dokumentasi dan studi pustaka dengan pendekatan kualitatif menggunakan teori semiotika John Fiske. Teori ini terdiri dari level realitas, representasi, dan ideologi yang menyertakan unsur dari produksi tayangan televisi seperti dialog, pencahayaan, penampilan yang dapat dikaitkan dengan nilai sosial masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah ketiga karakter kulit hitam tersebut serupa dengan karakter kulit hitam budaya populer Barat yang bersifat stereotipikal, yaitu bodoh dan pemarah. Hal ini berkaitan dengan orang Jepang yang mengikuti cara pandang orang kulit putih yang merendahkan orang kulit hitam. Rendahnya pengetahuan orang Jepang tentang dampak rasisme membuat kurang dilibatkannya orang kulit hitam dalam produksi konten anime yang didominasi orang Jepang sehingga representasi tersebut bersifat stereotipikal.   Blackface in Japan was introduced by white people in 1854 and began to be adapted in the 1920s and 1930s in Japanese performances, silver screens, children's books, and toys. Although blackface was considered offensive due to the resistance from anti-racism activists, it reemerged again because of the lack of strict anti-hate speech regulations that complicate the definition of racism in Japan. In its development, blackface is found in many 90s anime, even after 2010, such as Superalloy Darkshine (One Punch Man, 2015 & 2019), Sister Krone (The Promised Neverland, 2019), and Chocolove McDonell (Shaman King, 2021). The research aims to analyze the elements of racial representation of black people from those three anime, which also shows how the Japanese views of black people affect how they portray black people in the anime production process. This study applies a literature study with a qualitative approach using John Fiske's semiotic theory which is suitable for analyzing television products including anime. This theory consists of levels of reality, representation, and ideology that include elements from the production of television shows such as dialog, lighting, and appearance that can be associated with the social values of society. The result of this study is that the three black characters are similar to the stereotypical black characters portrayed in Western popular culture, namely stupid and angry. The Japanese were imitating white racists mocking black people and demeaning black people. The lack of knowledge in addressing and challenging concerns about racism among the Japanese makes black people less involved in the production of Japanese-dominated anime content so that the representation is stereotypical.
Adopsi Teknologi Informasi dalam Kegiatan Ekonomi Masyarakat Baduy Luar di Kanekes Banten Anisah Agustina; Setiadi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32425

Abstract

Perkembangan teknologi di era digital lambat laun membawa arus perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat adat, termasuk masyarakat suku Baduy. Sebagaimana masyarakat adat lain, masyarakat Baduy Luar tidak terlepas dari pengaruh perkembangan era digital. Mereka mulai memanfaatkan teknologi sebagai alat penunjang aktivitas ekonomi. Studi ini bertujuan untuk mengetahui proses introduksi dunia digital pada masyarakat Baduy Luar, mendeskripsikan strategi ekonomi digital sebagai sebuah inovasi yang diadopsi masyarakat, dan mengetahui implikasinya terhadap moral ekonomi masyarakat Baduy. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan studi pustaka dengan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah para tokoh adat dan masyarakat Baduy Luar yang aktif dalam kegiatan ekonomi digital. Analisis data menggunakan model Miles and Huberman. Hasil studi menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi dalam kehidupan ekonomi Baduy Luar merupakan sebuah implikasi dari keterbukaan diri masyarakat terhadap modernisasi. Adopsi inovasi teknologi kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan ekonomi digital di tengah peraturan adat yang melarang penggunaan teknologi bagi masyarakat Baduy.   The development of technology in the digital era gradually brings about changes in the life structure of indigenous communities, including the Baduy tribe. Like other indigenous communities, the Outer Baduy community cannot be separated from the influence of developments in the digital era. They begin to utilize technology as a supporting tool for economic activities. This study aims to understand the process of introducing the digital world to the Outer Baduy community, describe digital economic strategies as an adopted innovation, and ascertain its implications on the economic morals of the Baduy community. This study employs an ethnographic method with a qualitative approach. Data collection was carried out through participant observation, in-depth interviews, and a literature study using purposive sampling techniques. The informants in this research are traditional leaders and the Outer Baduy community who are active in digital economic activities. Data analysis uses the Miles and Huberman model. The results of the study indicate that the changes occurring in the economic life of Outer Baduy are an implication of the community's openness to modernization. The adoption of technological innovation is then utilized to develop a digital economy amidst customary regulations that prohibit the use of technology for the Baduy community.
Maskulinitas dan Relasi yang Termediasi dalam Perfect Strangers Iqbal Abdul Rizal; Tisna Prabasmoro; Ari J. Adipurwawidjana
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32603

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji performativitas maskulinitas dalam relasi langsung dan termediasi oleh telepon seluler yang disajikan Perfect Stranges (2022). Perfect Strangers (2022) yang bergenre drama komedi, menyajikan hubungan yang termediasi menimbulkan kekaburan dalam identitas gender yang memengaruhi performativitas maskulinitas tokoh laki-laki karena adanya mediasi telepon seluler. Fase gerhana bulan dalam Perfect Strangers (2022) menjadi media film untuk menyampaikan komedi yang memuat permasalahan terkait performativitas maskulinitas. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan naratologi film dengan mengelaborasi gagasan maskulinitas Connell, gagasan performativitas gender Judith Butler, dan gagasan Cerulo & Ruanie terkait relasi yang termediasi.  Penelitian akan mengkaji penyajian sinematik hubungan antara performativitas maskulinitas dalam relasi yang termediasi oleh telepon seluler dalam Perfect Strangers (2022) versi Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam Perfect Strangers performativitas gender melalui telepon seluler digambarkan menimbulkan kekaburan dalam hubungan fisik atau relasi tatap muka. Performativitas gender yang mengacu pada penampilan dan tindakan berulang dalam hubungan tatap muka berbeda dengan relasi yang termediasi dapat digunakan untuk menutupi jati diri yang sebenarnya termasuk identitas seksual. Individu nonheteronormatif dapat menyembunyikan identitas seksualnya dalam hubungan relasi yang termediasi.   This study aims to examine the performativity of masculinity in direct and mediated relationships by cell phones presented in Perfect Strangers (2022). Perfect Strangers (2022), a comedy-drama genre, presents a mediated relationship that causes blurring in gender identity that affects the masculinity performativity of male characters due to the mediation of cell phones. The lunar eclipse phase in Perfect Strangers (2022) becomes a film medium to convey comedy that contains problems related to masculinity performativity. This research is analyzed using film narratology by elaborating on Connell's idea of masculinity, Judith Butler's idea of gender performativity, and Cerulo & Ruanie's idea of mediated relationships.  The research will examine the cinematic presentation of the relationship between masculinity performativity in cell phone-mediated relationships in the Indonesian version of Perfect Strangers (2022). This research shows that in Perfect Strangers, gender performativity through cellular phones is depicted as causing blurring in physical or face-to-face relationships. Gender performativity which refers to the appearance and repetitive actions in face-to-face relationships in contrast to mediated relationships can be used to mask true identities including sexual identity. Non-heteronormative individuals can hide their sexual identity in mediated relationships
Kusmindari Triwati: Tokoh Pelestari Seni Tari di Kota Pontianak Sephira Adalia; Dwi Oktariani; Ismunandar Ismunandar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32747

Abstract

Kusmindari Triwati, seorang koreografer aktif di Kota Pontianak, telah menciptakan lebih dari 50 jenis tari tradisional dan kreasi yang dipentaskan secara lokal dan internasional. Selain itu, ia mendirikan Sanggar Andari yang bertujuan melestarikan kesenian tari tradisional di Indonesia. Penelitian biografinya menggunakan pendekatan kualitatif dan deskriptif untuk menganalisis perjalanan hidup dan kontribusinya dalam dunia seni tari. Data primer dan sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, tampilan data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Triwati adalah seorang seniman tari yang sukses, dengan dukungan dari keluarga, lingkungan kerja, dan berbagai penghargaan yang diterimanya, termasuk gelar Tokoh Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat. Sanggar Andari, yang dipimpinnya, berperan dalam mengembangkan tari tradisional di Kota Pontianak dan melatih generasi muda untuk mengikuti festival tari nasional dan se-Kalimantan. Karya-karyanya yang populer, seperti tari nugal, tari tiga serangkai, dan tari rampak rebana, telah meraih banyak penghargaan dari berbagai instansi. Harapannya adalah agar masyarakat mencintai dan melestarikan budaya daerah dengan totalitas. Sebagai tokoh pelestari tari di Kota Pontianak, kisah hidupnya dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menghargai dan mempertahankan warisan budaya mereka.   Kusmindari Triwati, an active choreographer in Pontianak City, has created more than 50 types of traditional dances and creations performed locally and internationally. She also founded Sanggar Andari, which aims to preserve traditional dance arts in Indonesia. This research aims to uncover and describe Kusmindari Triwati's biography. The research uses a qualitative approach with descriptive methods to analyze her life journey and contributions to the world of dance. Primary and secondary data were collected through literature studies, observations, interviews with informants, and documentation, then analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The research results show that she is a successful dancer, supported by family, work environment, and various awards, including the Cultural Figure of West Kalimantan Province awarded by the Governor. Kusmindari Triwati founded Sanggar Andari, which develops traditional dance by educating the younger generation of Pontianak to participate in national and Kalimantan-level dance festivals. Her popular works, such as the nugal dance, three serangkai dance, and rampak rebana dance, have received numerous awards from various institutions. Her hope is that people will love and preserve their local culture wholeheartedly. As a dance preservation figure in Pontianak, her life journey can inspire people to appreciate and maintain their cultural heritage.
Strategi Pembelajaran Tari Untuk Anak di Sanggar Andari Kota Pontianak Mutia Afilla; Dwi Oktariani; Ismunandar Ismunandar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32748

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pembelajaran yang di gunakan Sanggar Andari di Kota Pontianak dalam menerapkan pembelajaran tari untuk anak. Dengan menggunakan metode penelitian deskritif kualitatif untuk memaparkan data-data yang ditemukan dilapangan dari hasil wawancara bersama narasumber yang terlibat dalam proses pembelajaran, observasi serta berbagai studi dokumentasi melalui reduksi data, deskripsi data, dan pengambilan kesimpulan sehingga teknik validasi data nya dapat di uji melalui teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa strategi pembelajaran tari untuk anak di Sanggar Andari adalah dengan mengikuti instruksi dari pelatih. Materi yang diberikan untuk anak adalah tari tradisional dan tari kreasi baru Kalimantan Barat dan Nusantara untuk kelas dasar dan mahir atau lanjutan. Metode pembelajaran yang digunakan adalah strategi pembelajaran demontrasi terbimbing, strategi pembelajaran kontekstual, dan strategi pembelajaran kooperatif yang dilakukan oleh pelatih. Tahapan evaluasi dilaksanakan setahun dua kali dengan sistem pertunjukan tari sekaligus sebagai apresiasi bagi anak dalam proses untuk naik ke tingkat selanjutnya. Sedangkan kendala yang ditemukan saat kegiatan pembelajaran berlangsung yaitu anak kadang merasa jenuh, tidak fokus pada saat pembelajaran berlangsung, pelatih berusaha mengatasi hal tersebut melalui upaya seperti anak akan diberi penanganan khusus, memberikan dorangan, motivasi serta kata kata yang akan membangun semangat anak dalam pembelajaran di Sanggar Andari Kota Pontianak.   This research aims to describe the learning strategies used by Sanggar Andari in implementing dance learning for children. Dance learning for children at Sanggar Andari is one way to improve children's development. Using qualitative descriptive research methods to present data found in the field from interviews with sources involved in the learning process, observations and various documentation studies to support data regarding the learning strategies used at Sanggar Andari in children's classes. Then it is analyzed through several stages, namely: data reduction, data description, and drawing conclusions so that the data validation technique can be tested through source triangulation techniques. The research results obtained show that the dance learning strategy for children at Sanggar Andari, Pontianak City is to follow the instructions of the trainer. The material provided for children is lenggang broken Sembilan as the most basic material for Andari studios for children and the Main Sarong dance material is provided for classes of children who have entered advanced or advanced classes. The learning method used is a guided demonstration method carried out by the Sanggar Andari dance trainer. The evaluation stage is carried out twice a year using a dance performance system as well as an appreciation for children in the process of moving to the next level. Meanwhile, the obstacles found during learning activities are that children sometimes feel bored and do not focus while learning is taking place. The trainer tries to overcome this through efforts such as giving children special treatment, providing encouragement, motivation and words that will build children's enthusiasm for learning. took place at Sanggar Andari.
Proses Kreatif Kusmidari Triwati dalam Penciptaan Tari Rampak Rebana di Sanggar Andari Kota Pontianak Risda Pancha Permatasari; Dwi Oktariani; Ismunandar Ismunandar
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32750

Abstract

Tari Rampak Rebana merupakan tari kreasi baru ciptaan Ibu Kusmindari Triwati, berlandaskan kesenian melayu yang bernafaskan islam dan terdapat pengembangan langkah gerak tari tradisi Melayu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan koreografi. Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif dengan pendekatan koreografi. Triangulasi data mengolah hasil observasi, wawancara, dokumentasi, yang didapatkan untuk mendapatkan hasil penelitian. Hasil Penelitian ini untuk mengungkap proses kreatif kusmindari triawati dalam penciptaan tari rampak rebana di sanggar andari. Tari rampak rebana adalah eksplorasi gerak yang dilakukan dengan mengamati hubungan antar penari dan pemusik dalam bermain rebana, pola-pola gerak Radad, langkah dan syara. Improvisasi dilakukan dengan melanjutkan tahapan eksplorasi sehingga lebih berkualitas. Evaluasi dilakukan dengan memilih dan memilah rangkaian kebutuhan unsur tarinya. Komposisi tari dilakukan dengan menyusun gerak dan unsur tari lainnya yang telah dihasilkan dalam proses eksplorasi, improvisasi dan komposisi. Melalui banyak proses yang dilewati oleh Kusmindari Triwati yang mengajak beberapa seniman musik hingga pada akhirnya tari Rampak Rebana berhasil tercipta pertama kalinya ditahun 1996 dan terus menerus di pertahankan eksistensinya hingga sekarang.   The Rampak Rebana dance is a new dance creation created by Mrs. Kusmindari Triwati, based on Malay arts with an Islamic spirit and there is a development of traditional Malay dance steps. The method used in this research is descriptive qualitative with a choreographic approach. The data in this research is presented in qualitative descriptive form with a choreographic approach. Data triangulation processes the results of observations, interviews, documentation, which are obtained to obtain research results. The results of this research are to reveal the creative process of Kusmindari Triawati in creating the Rampak Tambourine dance at Andari Studio. Rampak tambourine dance is an exploration of movement carried out by observing the relationship between dancers and musicians in playing the tambourine, Radad movement patterns, steps and syara. Improvisation is carried out by continuing the exploration stage so that it is of higher quality. Evaluation is carried out by selecting and sorting a series of needs for the dance elements. Dance composition is done by arranging movements and other dance elements that have been produced in the process of exploration, improvisation and composition. Through many processes, Kusmindari Triwati invited several musical artists until finally the Rampak Rebana dance was successfully created for the first time in 1996 and continues to maintain its existence until now.
Pola Komunikasi Public Relations terhadap Fiksi Penggemar: Alternative Universe (AU) dalam Media Jurnalistik Digital (Media Sosial X) Finny Syabhina Amanda; M. Yoserizal Saragih
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32830

Abstract

Dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, komunikasi dapat memecahkan masalah dan meningkatkan hubungan. Teknologi Informasi dan Komunikasi telah memungkinkan terjadinya interaksi tatap muka dan virtual. Internet dan media sosial adalah hasil dari kemajuan teknologi yang memungkinkan orang untuk mengakses informasi, pengetahuan, pendidikan, dan kesenangan. Teknologi informasi dan komunikasi telah menciptakan Twitter. Dalam hal ini, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tiga hal yaitu (1) Pola komunikasi public relations pada akun twitter @perfectlyfine terhadap fiksi penggemar alternative universe (AU) dalam media jurnalistik digital (2) Faktor pendukung dan penghambat yang terjalin antara author dengan readers (3) Alasan media sosial X yang merupakan media jurnalistik digital ini dipilih sebagai media saluran komunikasi dan produksi sebuah karya fiksi penggemar berupa alternative universe (AU). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, melalui pendekatan studi kasus dengan teknik pengumpulan data menggunakan data primer denga teknik purposive sampling yang melibatkan informan kunci dan informan pendukung, yaitu pemilik akun Twitter @perfecltyfine serta pengikut yang merupakan pembaca cerita fiksi pada akun Twitter @perfecltyfine serta data sekunder melalui jurnal, buku, maupun artikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi public relations yang digunakan penulis menggunakan metode pola komunikasi sirkular dalam setiap proses penyampaian pesan kepada para pembacanya; Media sosial X merupakan salah satu media jurnalisme elektronik yang digunakannya. Media sosial X juga digunakan untuk mendistribusikan cerita fiksi penggemar (fan fiction) alternative universe (AU) karya penulis yang dapat dibaca oleh pembaca dari berbagai kalangan pengguna X. Faktor-faktor yang mendukung proses komunikasi antara penulis @perfecltyfine dengan pembaca cerita fiksi AU antara lain: (1) Metode penulis sangat menentukan sebuah karya tulis yang layak di mata pembaca. (2) Fiksi penggemar yang ditulis oleh penulis berfokus pada tema-tema sosial. (3) Karakter dan pilihan visual penulis membuat pembaca terkesan. (4) Reaksi pembaca terhadap cerita. Penulis memiliki beberapa tantangan, antara lain: (1) Pembaca sering merasa malu untuk berbicara dengan penulis. (2) Sikap apatis pembaca terhadap cerita fiksi penggemar alam semesta alternatif penulis.      By using information and communication technology, communication can solve problems and improve relationships. Information and Communication Technology has made face-to-face and virtual interactions possible. The internet and social media are the result of technological advances that allow people to access information, knowledge, education and fun. Information and communication technology has created Twitter. In this case, this research aims to find out three things, namely (1) The pattern of public relations communication on the @perfectlyfine twitter account for alternative universe (AU) fan fiction in digital journalistic media (2) Supporting and inhibiting factors that exist between authors and readers (3) The reason social media X which is a digital journalistic media was chosen as a media channel for communication and production of a work of fan fiction in the form of an alternative universe (AU). This research was conducted using a qualitative method, through a case study approach with data collection techniques using primary data with purposive sampling techniques involving key informants and supporting informants, namely the owner of the @perfecltyfine Twitter account and followers who are readers of fiction stories on the @perfecltyfine Twitter account and secondary data through journals, books, and articles. The results showed that the public relations communication pattern used by the author used the circular communication pattern method in every process of delivering messages to his readers; Social media X is one of the electronic journalism media he uses. X social media is also used to distribute the author's alternative universe (AU) fan fiction stories that can be read by readers from various X users. Factors that support the communication process between the writer @perfecltyfine and readers of AU fiction stories include: (1) The author's method determines the worthiness of a written work in the eyes of readers. (2) The fan fiction written by the author focuses on social themes. (3) The author's characters and visual choices impress readers. (4) The reader's reaction to the story. Writers have several challenges, including: (1) Readers are often embarrassed to talk to writers. (2) Reader apathy towards the author's alternate universe fan fiction stories.
Pesan–Pesan Dakwah dalam Tradisi Upah-Upah Pernikahan Batak Mandailing Aidil Bismar Albani Pakpahan; Muaz Tanjung
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i1.32917

Abstract

Tradisi Mangupah sebuah Budaya yang masih dipertahankan dan dilaksanakan oleh masyarakat Batak Mandailing. Menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber rujukan utamanya. Nilai-nilai dakwah adalah nilai-nilai Islam yang menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber rujukan utamanya. Namun, nilai - nilai tersebut bukan merupakan “sesuatu yang mati”, sebab nilai-nilai dakwah selalu bersifat dinamis yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan yang ada di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pesan-Pesan Dakwah yang terdapat pada prosesi Mangupah dan bagaimana implementasi masyarakat terhadap Upah-upah pernikahan Batak Mandailing. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, Hasil penelitian dapat dilihat sebagai berikut, Tradisi Upah-upah pernikahan sebagai inti dari pernikahan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT, yang dimana proses Tradisi ini di nilai sangat sakral dan bermakna dimana banyak terdapat Nilai-nilai Dakwah yang terdapat pada tradisi Upah-upah Pernikahan Batak Mandailing meliputi Nilai syukur, Nilai Nasihat, Nilai Ibadah, Nilai Silaturahmi, dan Nilai Gotong Royong dan Penyajian makanan dalam tradisi Upah-upah Pernikahan.   Mangupah tradition is a culture that is still maintained and implemented by the Mandailing Batak community. Making the Qur'an and Hadith as the main reference source. The values of da'wah are Islamic values that make the Qur'an and Hadith as the main source of reference. However, these values are not "something dead", because the values of da'wah are always dynamic and are adjusted to the times and science in society. This study aims to determine the Da'wah Messages contained in the Mangupah procession and how the community's implementation of Mandailing Batak wedding wages. The method in this research is qualitative with a descriptive approach, qualitative research focuses on understanding the context, meaning, and complexity of a phenomenon. This approach uses methods such as interviews, participatory observation, document analysis, and content analysis to collect diverse and in-depth data. The stages of this research are data collection where researchers look for references to local traditional leaders and based on books and articles, data reduction, data presentation, and conclusions. The results of the study can be seen as follows, the Wedding Upah-upah Tradition is the core of marriage as a form of gratitude to Allah SWT, where the process of this Tradition is considered very sacred and meaningful where there are many Da'wah Values contained in the Mandailing Batak Wedding Upah-upah tradition including Gratitude Value, Advice Value, Worship Value, Gathering Value, and Mutual Cooperation Value and Food Presentation in the Wedding Upah-upah tradition.     

Page 2 of 3 | Total Record : 26