cover
Contact Name
Eggy Fajar Andalas
Contact Email
andalaseggy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
andalaseggy@gmail.com
Editorial Address
Institute of Culture, University of Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial
ISSN : 25808567     EISSN : 2580443x     DOI : 10.22219
Core Subject : Humanities, Art,
Satwika (Kajian Budaya dan Perubahan Sosial) publishes scientific papers on the results of studies/research and reviews of the literature in the fields of cultural studies and social change. The journal is oriented towards research on cultural phenomena and the current social changes. With the aim of dialogue in contemporary socio-cultural conditions, journals encourage cultural analysis and social change that challenge ideological modes and share inequitable justice, contribute to broad theoretical debates, and help stimulate new and progressive social involvement.
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober" : 28 Documents clear
Hilangnya Bahuma Mototn: Modernisasi Pertanian terhadap Sistem Perladangan Orang Dayak Kanayatn Nadila Putri; Hasanah; Diaz Restu Darmawan; Taufik Agus Purnomo
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.32776

Abstract

Tulisan ini merespon perubahan pola perladangan komunitas Dayak karena kebijakan pemerintah yang mengusung modernisasi pertanian. Tujuan tulisan ini menganalisis dampak modernisasi pertanian terhadap praktik perladangan orang Dayak Kanayatn Desa Samalantan, Kecamatan Samalantan, Kabupaten Bengkayang di Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif dan merujuk pada teori modernisasi oleh Rostow, yang menggambarkan perubahan sosial dalam lima tahapan pembangunan. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan untuk mendeskripsikan pola perladangan Dayak Kanayatn, bentuk perubahan yang terjadi, dan dampak yang dihasilkan akibat modernisasi pertanian. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang merupakan peladang dan petani Dayak Kanayatn. Selain itu observasi lapangan dilakukan untuk memperoleh pemahaman langsung tentang praktik perladangan mereka. Data sekunder diperoleh melalui studi literatur, dokumen resmi, dan catatan lapangan yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi pertanian memiliki dampak signifikan terhadap sistem perladangan orang Dayak Kanayatn di Desa Samalantan. Dampak positifnya meliputi peningkatan produktivitas melalui penggunaan teknologi pertanian dan praktik pertanian yang efisien, peningkatan kesejahteraan masyarakat, serta kontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. Namun, dampak negatifnya mencakup perubahan nilai-nilai sosial budaya masyarakat Dayak Kanayatn, kehilangan kearifan lokal, dan terancamnya benih padi lokal Dayak Kanayatn. Melalui pemahaman yang lebih mendalam tentang implikasi modernisasi pertanian, diharapkan langkah-langkah kebijakan dapat dirumuskan untuk melestarikan kearifan lokal, meminimalisir dampak negatif, dan memaksimalkan manfaat positif dari modernisasi pertanian dalam upaya mencapai pembangunan berkelanjutan di wilayah ini.           This research aims to analyze the effect of agricultural modernization on the farming system of Dayak Kanayatn in Samalantan Village, Samalantan Subdistrict, Bengkayang Region. It used a qualitative approach using a descriptive design. A modernization theory expressed by W.W. Rostow was used as atheoretical basis, describing social changes in five-stage development. The datawere gathered through primary and secondary sources. The research illustrated the farming pattern of Dayak Kanayatn, the form of changes, and the effects caused by agricultural modernization. The primary data were obtained from in-depth interviews with a participant. He is a native of Dayak Kanayatn, working as a farmer. Observations were also conducted to better understand the farming practices in the area. Following that, secondary sources were traced through literature reviews, official documents, and field notes that were relevant to the research topic. Results indicated that agricultural modernization significantly affected the farming system of the Dayak Kanayatn people in Samalantan Village. The positive effect was a productivity increase with the use of agricultural technology and efficient farming practices. In addition, it contributed to the people's welfare improvement and sustainable economic and developmental growth. However, this modernization also brought some negative effects, such as sociocultural changes among people in Dayak Kanayatn. People might also be facing the threat of losing local wisdom and local rice seeds in Dayak Kanayatn. The results of this study are expected to provide a better understanding of social change and the impact of agricultural modernization on the Kanayatn Dayak community, as well as provide relevant recommendations for sustainable agricultural development in this region.
Intensitas Budaya pada Musik Iringan Tari Tiga Serangkai di Sanggar Andari Lukyantus Lukyantus; Nurmila Sari Djau; Mastri Dihita Sagala
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.32944

Abstract

Tari Tiga Serangkai merupakan karya tari dari Sanggar Andari yang tercipta pada tahun 2002 atas respon terhadap konflik etnis yang terjadi di Kalimantan Barat pada tahun 1996. Kemajemukan itu dilihat oleh Kusmindari Triwati bukan sesuatu yang memecah belah justru menjadi simbolik Persatuan dan menjadi dasar terbentuknya tari Tiga Serangkai. Tari yang tidak lepas dari musik pengiringnya tentunya saling berkorelasi dalam konsep persatuan dari berbagai etnis tersebut, sehingga Intensitas Budaya yang terkandung di dalam karya ini menjadi menarik untuk ditelisik lebih dalam terutama sebagai sebuah medium pemersatu masyarakat yang mejemuk di Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif serta Etnomusikologi sebagai pendekatan dalam menggali lebih dalam mengenai intensitas budaya dalam sudut pandang musik. Intensitas budaya yang terkandung dalam karya tari Tiga Serangkai oleh Sanggar Andari tampak melalui penyatuan elemen musik dan tarian dari berbagai latar belakang etnis yang ada di Kalimantan Barat. Intensitas Budaya yang terkandung dalam tari Tiga Serangkai bukan hanya sebuah karya gerak tari namun lebih dalam karya tersebut sebagai sebuah penggambaran sejarah, nilai, serta menjadi ruang dialektika antar suku menuju keharmonisan di Kalimantan Barat.   Tiga Serangkai dance is a dance work from Sanggar Andari that was created in 2002 in response to the ethnic conflict that occurred in West Kalimantan in 1996. The plurality is seen by Kusmindari Triwati as not something that divides, but instead becomes a symbolic unity and becomes the basis for the formation of Tiga Serangkai dance. The dance that cannot be separated from the accompanying music is certainly correlated with the concept of unity of the various ethnicities, so that the Cultural Intensity contained in this work becomes interesting to be examined more deeply, especially as a unifying medium for pluralistic communities in West Kalimantan. This research uses qualitative research using descriptive methods and Ethnomusicology as an approach in digging deeper into cultural intensity from a musical point of view. The cultural intensity contained in the Tiga Serangkai dance work by Sanggar Andari is seen through the unification of music and dance elements from various ethnic backgrounds in West Kalimantan. The cultural intensity contained in Tiga Serangkai dance is not only a work of dance movements but deeper than that work as a depiction of history, values, and a dialectical space between tribes towards harmony in West Kalimantan.
Studi Kasus Perceraian Aparatur Sipil Negara Melalui Pendekatan Sosiologi di Wilayah Bogor Abubakar Iskandar; Makbul Hijab; Sugiyanto Sugiyanto; Stevanie Nathalya
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33016

Abstract

Dalam masyarakat, kehidupan keluarga dan perkawinan diorganisasi dan dikontrol oleh perasaan cinta, solidaritas, dan pertimbangan ekonomi. Namun, seiring waktu, terjadi pergeseran dari integrasi dan kolaborasi yang kuat menjadi terpecah akibat perilaku menyimpang. Faktor-faktor penyebabnya meliputi masalah ekonomi, perselingkuhan suami, suami memiliki wanita idaman lain, suami tidak memenuhi kebutuhan batin istri, kekerasan fisik oleh suami, istri berzina, dan istri sering pulang malam, yang semuanya dapat berujung pada perceraian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan pergeseran dari cinta dan solidaritas dalam keluarga ke dominasi faktor ekonomi, menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian, dan menjelaskan prosedur perceraian menurut Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1990. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah: menjelaskan bagaimana dan mengapa pergeseran dari cinta dan solidaritas ke dominasi faktor ekonomi terjadi dalam keluarga, menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian, serta menjelaskan prosedur perceraian menurut Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1990. perceraian, Menjelaskan prosedur perceraian menurut undang-undang nomor 45 tahun 1990. Penelitian ini menggunakan paradigma “Positivisme”. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan adalah “kuantitatif deskriptif” Teknik pengambilan data adalah observasi dan dokumentasi. Data dianalisis dengan content analysis. Penelitian menunjukan ada tiga pengkategorisasian keluarga yaitu keluarga inti, luas dan keturunan. Penelitian juga menunjukan 44,4% perceraian disebabkan oleh factor ekonomi, sedangkan 25,9% perceraian disebabkan oleh suami berselingkuh dengan wanita lain dan sebanyak 7,4% mengatakan perceraian disebabkan oleh suami melakukan kekerasan fisik terhadap isteri, Permohonan Perceraian dari isteri sebanyak 92,5% dan permohonan perceraian dari suami sebanyak 7,5%. Kesimpulan penelitian ini adalah masalah keuangan menjadi penyebab utama pertengkaran, terutama di kalangan ekonomi menengah ke bawah, sementara faktor lain seperti ketidaksetiaan dan kekerasan dalam rumah tangga juga berperan.   In society, family life and marriage are organized and controlled by feelings of love, solidarity and economic considerations. However, over time, there is a shift from strong integration and collaboration to fragmentation due to deviant behavior. Contributing factors include economic problems, husband's infidelity, husband having another woman, husband not fulfilling wife's inner needs, physical violence by husband, wife committing adultery, and wife often coming home at night, all of which can lead to divorce. The purpose of this study is to explain the shift from love and solidarity in the family to the dominance of economic factors, analyze the factors that lead to divorce, and explain the divorce procedure according to Law Number 45 of 1990. The specific objectives of this research are: explain how and why the shift from love and solidarity to the dominance of economic factors occurs in the family, analyze the factors that cause divorce, and explain the divorce procedure according to Law Number 45 of 1990. divorce, Explain the divorce procedure according to law number 45 of 1990. This research uses the “Positivism” paradigm. Therefore, the approach used is “descriptive quantitative” The data collection techniques are observation and documentation. The data was analyzed by content analysis. The research shows that there are three categorizations of families, namely nuclear, extended and descendant families. The research also showed that 44.4% of divorces were caused by economic factors, while 25.9% of divorces were caused by husbands having affairs with other women and as many as 7.4% said divorce was caused by husbands physically abusing their wives, Divorce applications from wives were 92.5% and divorce applications from husbands were 7.5%. The conclusion of this study is that financial problems are the main cause of quarrels, especially in the middle and lower economic circles, while other factors such as unfaithfulness and domestic violence also play a role.
Eksistensi Kearifan Lokal dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Sungai: Studi Kasus Masyarakat Desa Surau Bengkulu Tengah Bintang Renaldi; Heni Nopianti; Ika Pasca Himawati
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33110

Abstract

Pencemaran SDA Sungai menjadi fenomena yang tengah marak terjadi. Penelitian bertujuan untuk mengkaji eksistensi kearifan lokal masyarakat dalam  pengelolaan sumber daya alam sungai di Desa Surau Kabupaten Bengkulu Tengah, dengan menggunakan teori Ekologi Budaya oleh Steward serta Interaksionisme Simbolik  sebagai landasan analisisnya. Data diperoleh melalui observasi non partisipan, wawancara mendalam yang kemudian dianalisis menggunakan teknik MDAP (Manual Data Analhysis Procedure). Informan ditentukan melalui teknik snowball sampling dengan kriteria tertentu. Upaya menemukan hasil penelitian dilakukan melalui penerapan metode kualitatif dengan desain studi kasus.Hasil penelitian menunjukkan keberadaan mitos “Duguk” di tengah masyarakat Desa Surau dalam kaitannya dengan pengelolaan SDA sungai merupakan sebuah kearifan lokal yang muncul dari hasil ekstraksi asal-usul, sistem nilai, kepercayaan, hingga sistem religi dan bahasa masyarakat Desa Surau. Mitos “Duguk” sarat akan nilai-nilai yang mencoba menumbuhkan masyarakat dengan sikap menghormati dan menghargai lingkungan alam khususnya lingkungan sungai. Berdasarkan hasil penelitian, mitos “Duguk” pada masyarakat Desa Surau saat ini kian memudar eksistensinya. Pudarnya  eksistensi “Duguk” sebagai sebuah kearifan lokal di tengah masyarakat Desa Surau terjadi karena dihadapkan oleh dinamika  perkembangan modernisasi serta pemahaman terhadap agama  yang kemudian mengubah perspektif masyarakat terkait mitos-mitos yang ada di sekitar mereka. Mitos “Duguk” sendiri memiliki potensi yang dapat mengatur pemanfaatan lingkungan pada masyarakat.   River natural resource pollution has become a phenomenon that is currently occurring. The study aims to examine the existence of community local wisdom in the management of river natural resources in Surau Village, Central Bengkulu Regency. The analysis is based on Cultural Ecology theory by Steward and Symbolic Interactionism. The data was obtained through non-participant observation and in-depth interviews, which were then analyzed using the MDAP (Manual Data Analysis Procedure) technique. The informants were determined through the snowball sampling technique, with certain criteria. Efforts were made to find the results of the research through the application of qualitative methods with a case study design. The results indicated the presence of the "Duguk" myth in the Surau Village community with regard to the management of river natural resources. This myth can be considered a local wisdom that emerged from the extraction of the Duguk myth's origins. The results indicated that the "Duguk" myth in the Surau Village community with regard to river natural resource management is a local wisdom that emerges from the extraction of the origins, value system, belief system, religious system, and language of the Surau Village community. The myth of "Duguk" is imbued with values that seek to foster a community imbued with respect and appreciation for the natural environment, especially the river environment. The research findings indicate that the myth of "Duguk" in the Surau Village community is gradually losing its significance. The community of Surau Village is currently experiencing a decline in the practice of "Duguk," which is being superseded by the prevailing cultural dynamics. The phenomenon of Surau arises from the interplay between the dynamics of modernization and the evolving understanding of religion. This interplay has the effect of altering the community's perspective on the myths that are part of Surau Village's cultural heritage.
Konstruksi Identitas Naratif Konsumen Hijau dalam Gaya Hidup Nol Sampah Egi Budiana; Tisna Prabasmoro; Muhamad Adji
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33163

Abstract

Di tatanan masyarakat kontemporer, aktivitas konsumsi hijau dalam gaya hidup nol sampah berimplikasi pada pembentukan identitas konsumen. Menurut teori budaya konsumen, hal ini disebabkan nilai simbolis dan nilai kultural dari aktivitas konsumsi. Artikel ini bertujuan menjelaskan konstruksi identitas konsumen hijau di Kota Bandung dalam penerapan gaya hidup nol sampah di kehidupan sehari-hari. Untuk memahami konstruksi tersebut, artikel ini menggunakan metode wawancara life story yang akan dianalisis berlandaskan konsep identitas naratif dan teori processual identity. Informan terdiri dari lima pelanggan Toko Organis YPBB—suatu toko curah yang berfokus pada edukasi prinsip nol sampah. Penelitian ini menemukan dua dimensi dalam proses konstruksi identitas konsumen hijau. Pertama adalah dimensi refleksi yang menjelaskan afirmasi diri sebagai bentuk peneguhan identitas yang ditempuh lewat aktivitas konsumsi hijau. Kedua adalah dimensi interaksi sosial yang menampilkan negosiasi identitas di arena sosial informan.  Artikel ini berargumen bahwa pola konsumsi dalam gaya hidup dapat menegaskan identitas seseorang melalui apa yang orang lain persepsikan dan yang orang itu refleksikan tentang dirinya sendiri.   In contemporary society, green consumption activities on zero waste lifestyle imply consumer identity construction. Based on consumer culture theory, it happens due to the symbolic and cultural values from the consumption act. This article aims to explain the construction of a green consumer identity in Bandung on zero waste lifestyle implemented in everyday life. This article uses life story interview method and then will be analyzed by narrative identity concept and processual identity theory. The informants consist of five YPBB Toko Organis customers—it is a bulk store where people can learn about the zero waste principle. This research finds two dimensions of the green consumer identity construction process. First, the reflection dimension explains self-affirmation as a form of identity assertion through green consumption activities. Second, the social interaction aspect which displays identity negotiation processes in one social arena. This article argues that consumption schemes in a lifestyle affirms one’s identity through what others perceive and what one reflects about oneself.
Ekspresi Kearifan Nusantara dalam Istilah Kemendikbudristek Agusman Agusman; Marlinda Ramdhani
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33198

Abstract

Kemendikbudristek memiliki berbagai istilah yang digunakan untuk menamai subbidang, program dan aplikasi seperti Arjuna, Sinta, Rama, Tri Darma dan seterusnya. Istilah-istilah tersebut ketika diperdengarkan akan memberikan korelasi terhadap berbagai istilah dalam wacana kebudayaan. Dengan demikian, tujuan penelitian ini ialah untuk menjelaskan ekspresi kearifan lokal yang terdapat pada istilah-istilah Kemendikbudristek tersebut. Metode penelitian yang digunakan ialah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa teknik mencatat istilah-istilah dalam Kemendikbud Ristek sebagai sumber data berupa kata (akronim) dan frasa sebagai wujud datanya. Teknik analisis data ialah menjelaskan konsep nilai-nilai atau ekspresi kearifan lokal pada istilah dengan menghubungkannya kepada kearifan budaya nusantara. Penelitian ini menunjukkan bahwa istilah-istilah Kemendikbudristek mengambil bentuk akronim dan beberapa frasa dari nama penokohan dalam wacana budaya, bahasa Sansekerta (suku kata yang memiliki aspek eufonik Sansekerta) dan frasa bahasa Indonesia. Istilah penokohan tersebut mengambil nama tokoh pewayangan seperti  Arjuna, Sinta, Rama dan bahasa Sansekerta seperti Siaga, Sapto, Tri Darma serta bahasa Indonesia seperti Kurikulum Merdeka, Sigap dan seterusnya yang masing-masing memiliki nilai kearifan lokal.  Ekspresi keariafan lokal yang terdapat pada istilah Kemendikbudristek tersebut menunjukkan lansdcape nilai-nilai kearifan lokal untuk dijadikan sebagai identitas nasional dan bisa dijadikan sebagai panduan dalam mengangkat kearifan lokal sebagai basis kehidupan berbangsa dan bernegara.   The Ministry of Education and Culture has various terms used to name subfields, programs and applications such as Arjuna, Sinta, Rama, Tri Darma and so on. When these terms are heard, they will provide a correlation to various terms in cultural discourse. Thus, the aim of this research is to explain the expression of local wisdom contained in the terms of the Ministry of Education and Culture. The research method used is qualitative with data collection techniques in the form of recording terms in the Ministry of Education and Culture as a data source in the form of words (acronyms) and phrases as a form of data. The data analysis technique is to explain the concept of values or expressions of local wisdom in terms by connecting them to the cultural wisdom of the archipelago. This research shows that the terms of the Ministry of Education and Culture take the form of acronyms and several phrases from characterization names in cultural discourse, Sanskrit (syllables that have a euphonic Sanskrit aspect) and Indonesian language phrases. The characterization terms take the names of wayang characters such as Arjuna, Sinta, Rama and Sanskrit such as Siaga, Sapto, Tri Darma as well as Indonesian such as Curriculum Merdeka, Sigap and so on, each of which has local wisdom values. The expression of local wisdom contained in the term Kemendikbudristek shows the landscape of local wisdom values to be used as a national identity and can be used as a guide in promoting local wisdom as the basis of national and state life.
Bertahan di Dunia Digital: Koping Religius dengan Penerimaan Diri Korban Perundungan Siber Indirahma Arifi; Puti Archianti Widiasih
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33590

Abstract

Perkembangan internet dan penggunaan media sosial yang semakin meningkat menjadi alasan terjadinya perundungan siber, yang merupakan tindakan agresif terus menerus dan seringkali tanpa tujuan yang jelas. Korban perundungan siber cenderung mengalami dampak negatif terhadap penerimaan diri, yang merupakan landasan penting dalam menerima dan memahami kemampuan diri, pengalaman pribadi, dan pengalaman orang lain. Pengalaman negatif korban, dapat dihadapi dengan strategi koping efektif, yakni koping religius sebagai upaya memahami dan menghadapi stresor dengan cara yang dianggap sakral. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu hubungan koping religius dengan penerimaan diri. Penelitian ini menggunakan The Brief Religious Coping (BRCOPE) dan Berger’s Self Acceptance Scale yang keduanya telah diadaptasi. Jumlah subjek sebanyak 206 orang berusia 18-25 tahun. Teknik analisis menggunakan spearman correlation yang menunjukkan hubungan positif antara koping religius positif dengan penerimaan diri (r = 0,160, p = 0,021, p < 0,05) dan hubungan negatif antara koping religius negatif dengan penerimaan diri (r = 0,516, p = 0,000, p < 0,01). Artinya, penelitian ini menemukan bahwa koping religius positif berhubungan dengan peningkatan penerimaan diri pada dewasa awal korban perundungan siber, sementara koping religius negatif berhubungan dengan penurunan penerimaan diri.   The development of the internet and the increasing use of social media are the reasons for cyberbullying, which is a continuous aggressive action and often without a clear purpose. Victims of cyberbullying tend to experience a negative impact on self-acceptance, which is an important foundation in accepting and understanding one's abilities, personal experiences, and the experiences of others. Victims' negative experiences can be faced with effective coping strategies, namely religious coping as an effort to understand and deal with stressors in a way that is considered sacred. Therefore, this study aims to find out the relationship between religious coping and self-acceptance. This study used The Brief Religious Coping (BRCOPE) and Berger's Self Acceptance Scale, both of which have been adapted. The number of subjects was 206 people aged 18-25 years. The analysis technique used Spearman correlation which showed a positive relationship between positive religious coping and self-acceptance (r = 0.160, p = 0.021, p < 0.05) and a negative relationship between negative religious coping and self-acceptance (r = 0.516, p = 0.000, p < 0.01). That is, this study found that positive religious coping is associated with increased self-acceptance in early adult victims of cyberbullying, while negative religious coping is associated with decreased self-acceptance.
Pengaruh Religiositas terhadap Motivasi Boikot Produk Syafa Alfina; Yulistin Tresnawaty
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33756

Abstract

Religiositas berperan penting dalam kehidupan seseorang, atas pilihan yang dibuatnya, dan apa yang dikonsumi mereka.  Religiositas yang tinggi menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan sikap dan perilaku konsumen, serta dapat menjadi pengaruh dalam kehidupannya. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiositas terhadap motivasi boikot pada produk yang diduga terafiliasi dengan Israel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan bantuan SPSS versi 25. Sampel dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 150 responden berusia 18 – 40 tahun. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan pendekatan non probability sampling berupa accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel religiositas adalah Religiousity Commitment Inventory – 10 yang dikembangkan oleh Worthington et al tahun 2003 dan alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel motivasi boikot adalah Boycott Motivation Scale yang dikembangkan oleh Klein tahun 2004. Berdasarkan uji validitas dan uji reliabilitas yang telah dilakukan pada variabel religiositas diperoleh nilai rhitung > rtabel maka dinyatakan valid dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.785 > 0.6. Pada variabel motivasi boikot diperoleh nilai rhitung > rtabe maka dinyatakan valid dan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.908 > 0.6. Dengan demikian bahwa instrumen dari kedua variabel pada penelitian ini dinyatakan reliabel. Hasil analisis regresi sederhana menunjukan bahwa terdapat pengaruh positif antara religiositas terhadap motivasi boikot dengan nilai signifikansi 0.005 p < 0.05. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi religiositas individu maka semakin tinggi pula motivasinya untuk melakukan boikot.   Religiosity plays an important role in a person's life, the choices they make, and what they consume.  High religiosity is an important factor in shaping consumer attitudes and behaviour, and can be an influence in their lives. So this study aims to determine the effect of religiosity on boycott motivation on products suspected of being affiliated with Israel. This research uses a quantitative approach. In this study, researchers used simple linear regression analysis with the help of SPSS version 25. The sample in this study amounted to 150 respondents aged 18-40 years. The sampling technique was carried out using a non-probability sampling approach in the form of accidental sampling. The research instrument used to measure religiosity variables is the Religiousity Commitment Inventory - 10 developed by Worthington et al in 2003 and the measuring instrument used to measure boycott motivation variables is the Boycott Motivation Scale developed by Klein in 2004. Based on the validity test and reliability test that has been carried out on the religiosity variable, the rcount> rtable value is valid and the Cronbach's Alpha value is 0.785> 0.6. On the boycott motivation variable, the rcount> rtabe value is obtained, it is declared valid and the Cronbach's Alpha value is 0.908> 0.6. Thus, the instruments of the two variables in this study were declared reliable. The results of simple regression analysis show that there is a positive influence between religiosity on boycott motivation with a significance value of  0.005 p < 0.05. So, it can be concluded that the higher the religiosity of the individual, the higher the motivation to boycott.
Pengaruh Environmental Concern terhadap Purchase Intention pada Produk Skincare Organik Avisa Regina Cahyaningrum; Yulistin Tresnawaty
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33844

Abstract

Makin naiknya perhatian terhadap masalah lingkungan mendorong konsumen untuk lebih selektif dalam memilih produk yang berkelanjutan seperti produk skincare  organik berbahan alami dalam rutinitas sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepedulian lingkungan individu terhadap niat membeli produk skincare organik. Penelitian ini menggunakan penelitian pendekatan kuantitatif yang melibatkan 275 responden pengguna produk skincare ramah lingkungan/organik berbahan alami berusia 17-40 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik incidental sampling. Dalam penelitian ini menggunakan metode regresi linear dengan bantuan IBM SPSS versi 25. Pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur variabel environmental concern adalah environmental concern scale memiliki nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,793. Pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur variabel purchase intention adalah purchase intention for green products scale memiliki nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,893. Hasil analisis menunjukkan bahwa environmental concern berpengaruh signifikan positif terhadap purchase intention sebesar 26,6% dengan nilai koefisien yang diperoleh adalah F= 98,515 p= 0,000 dan B= 0,508. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi environmental concern pada individu maka semakin tinggi purchase intention individu terhadap pengguna skincare organik.   The increasing attention to environmental issues encourages consumers to be more selective in choosing sustainable products such as organic skincare products made from natural ingredients in their daily routine. This study aims to determine how much influence individual environmental concerns have on the intention to buy organic skincare products. This study uses a quantitative approach research involving 275 respondents who are users of environmentally friendly/organic skincare products made from natural ingredients aged 17-40 years. Sampling using incidental sampling technique. In this study using the linear regression method with the help of IBM SPSS version 25. Data collection used to measure environmental concern variables is the environmental concern scale which has a Cronbach’s Alpha value of 0.793. Data collection used to measure purchase intention variables is purchase intention for green products scale has a Cronbach’s Alpha value of 0.893. The results of the analysis show that environmental concern has a significant positive effect on purchase intention by 26.6% with the coefficient value obtained is F= 98.515 p= 0.000 and B= 0.508. From the results of this study, it can be concluded that the higher the environmental concern of individuals, the higher the individual purchase intention of organic skincare users.
Interaksi Simbolik dalam Penyajian Musik Iringan Tari Rampak Rebana di Sanggar Andari Pontianak Nanang Akbar; Mastri Dihita Sagala; Nurmila Sari Djau
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 8 No. 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v8i2.33930

Abstract

Keberhasilan sebuah penyajian kesenian tradisional merupakan hasil dari proses interaksi antar para pemain, baik melalui verbal maupun melalui simbol. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan bagaimana proses interaksi simbolik antara penari dan pemusik dalam sebuah penyajian musik iringan Tari Rampak Rebana di Sanggar Andari Pontianak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menyajikan segala proses interaksi yang terjalin dari proses awal garapan, latihan, hingga penyajian karya. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan sosiokultur untuk mengungkapkan bagaimana proses interaksi simbolik terwujud berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Keabsahan data mengguanakan triangulasi sumber, yakni wawancara terhadap pemilik sanggar, komposer musik penari. Teknik analisis data melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bentuk penyajian musik iringan Tari Rampak Rebana menjadi upaya pewarisan dalam melestarikan budaya Melayu. Proses ini melalui kegiatan penyampaian ide garapan dari komposer kepada para pemusik, proses latihan antara pemusik dan penari hingga sampai kepada penyajian musik iringan Tari Rampak Rebana. Selain itu, penelitian ini membuktikan bahwa interaksi simbolik tidak serta merta terjadi pada suatu komunitas sanggar, melainkan tumbuh berdasarkan penerimaan ide, penyamaan persepsi dan adaptasi yang berlangsung secara kontinu sehingga menjadi budaya yang perlu dilestarikan.   The success of a traditional art presentation is the result of the process of interaction between the players, both verbally and through symbols. The purpose of this study is to reveal how the process of symbolic interaction between dancers and musicians in a musical presentation accompaniment to Rampak Rebana Dance at Sanggar Andari Pontianak. This research uses qualitative descriptive methods to present all interaction processes that are established from the initial process of cultivation, exercise, to the presentation of works. The research approach uses a sociocultural approach to reveal how the process of symbolic interaction is realized based on habits that occur in the community. Data were collected through observation, interviews and documentation. Data validity using source triangulation, which is an interview with the owner of the studio, the composer of dancer music. Data analysis techniques through the stages of data reduction, data presentation and conclusions.  The results of this study show that the form of presenting accompaniment music of Rampak Rebana Dance is an inheritance effort in preserving Malay culture. This process is through the activity of conveying ideas made by the composer to the musicians, the process of rehearsal between musicians and dancers to the presentation of music accompaniment to the Rampak Rebana Dance. In addition, this study proves that symbolic interaction does not necessarily occur in a studio community, but grows based on the acceptance of ideas, equalization of perceptions and adaptation that takes place continuously so that it becomes a culture that needs to be preserved.

Page 1 of 3 | Total Record : 28