cover
Contact Name
Muhammad Najib Habibie
Contact Email
najib.habibie@gmail.com
Phone
+6285693191211
Journal Mail Official
jurnal.mg@gmail.com
Editorial Address
Jl. Angkasa 1 No. 2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
ISSN : 14113082     EISSN : 25275372     DOI : https://www.doi.org/10.31172/jmg
Core Subject : Science,
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) is a scientific research journal published by the Research and Development Center of the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) as a means to publish research and development achievements in Meteorology, Climatology, Air Quality and Geophysics.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 23, No 2 (2022)" : 7 Documents clear
PENGARUH FENOMENA SUNSPOT TERHADAP VARIASI SUHU UDARA DAN KELEMBAPAN RELATIF DI KOTA MEDAN Yosafat Donni Haryanto; Nelly Florida Riama; Dendi Rona Purnama
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.525 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.781

Abstract

Pengaruh aktivitas Matahari terhadap cuaca dan iklim telah menjadi topik penelitian setelah siklus 11 tahunan sunspot ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sunspot terhadap variasi suhu udara dan kelembapan relatif (RH) di Kota Medan. Dalam penelitian ini digunakan data rata-rata harian suhu udara dan RH selama 30 tahun dari tahun 1985 – 2014 di Stasiun Meteorologi Kualanamu yang diperoleh dari BMKG. Sementara itu, data bilangan sunspot (sunspot number) harian tahun 1985 – 2014 diperoleh dari Solar Influences Data Analysis Center (SIDC) - The Royal Observatory of Belgium (RWC). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien determinasi R² antara sunspot number dengan parameter suhu udara dan RH secara berturut-turut adalah 0,9 dan 2,2. Sementara itu, koefisien korelasi antara sunspot number dengan parameter suhu udara dan RH secara berturut-turut adalah -0,058 dan 0,038. Semua variabel menunjukkan p-value <0,05 yang berarti signifikan secara statistik. Sehingga, peningkatan bilangan sunspot berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan suhu udara dan peningkatan RH di Kota Medan.
SUHU PERMUKAAN DAN KANDUNGAN PANAS LAUT PERAIRAN INDONESIA DALAM SATU ABAD TERAKHIR Mutiara Rachmat Putri; Iwan Pramesti Anwar; Ayi Tarya; Idris Mandang
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.987 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.841

Abstract

Histori kenaikan suhu permukaan laut (SPL) telah terjadi sejak revolusi industri dunia. Secara alamiah kejadian letusan gunung yang dahsyat dapat pula mempengaruhi suhu air laut hingga kedalaman laut tertentu. Suhu air laut ini sangat mempengaruhi kandungan panas laut, yang berperan penting dalam mengatur kondisi iklim yang terjadi di bumi. Kandungan panas laut di Perairan Indonesia dihitung menggunakan data temperatur berdasarkan data Met Office Hadley Observation “EN 4.1.1” yang merupakan hasil model numerik dan asimilasi data pengamatan, dengan resolusi ruang 1o x 1o dan rentang waktu bulanan dari tahun 1901-2015 atau selama 115 tahun. Kandungan panas laut dihitung di kedalaman 0-100 m dan total kedalaman perairan Indonesia. Kandungan panas laut permukaan di Indonesia dari tahun 1901-2015 mengalami kenaikan sebesar 2x1014 J, namun sebaliknya di kedalaman total turun sebesar -2x1014 J. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan iklim dari interaksi laut udara di permukaan laut, yang ditunjukkan pula adanya trend kenaikan SPL dalam kurun waktu 115 tahun. Pengaruh dari Samudra Pasifik yang masuk melalui Sistem Arus Laut Indonesia diperkirakan menjadi penggerak utama kenaikan kandungan panas laut di Indonesia. Selama indeks Pacific Decadal Oscillation (PDO) memiliki fase positif menyebabkan turunnya kandungan panas di Perairan Indonesia dan sebaliknya fase negatif PDO menyebabkan naiknya kandungan panas laut rata-rata.
STUDI IKLIM PURBA PADA FORMASI TONASA BERDASARKAN FORAMINIFERA PLANKTONIK LINTASAN SUNGAI PALAKKA DAN KARAMA B, SULAWESI SELATAN Meutia Farida; Asri Jaya; Ilham Alimuddin; Safruddim Safruddim; Asmita Ahmad
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1259.934 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.839

Abstract

Foraminifera planktonik adalah salah satu proxy dalam penentukan iklim, termasuk iklim purba. Organisme ini memiliki sebaran geografi yang luas, dan beberapa spesies hidup pada kondisi iklim tertentu, sehingga keberadaan fosil ini sangat baik digunakan untuk interpretasi perubahan iklim dari masa ke masa. Formasi Tonasa memiliki sebaran yang luas di Sulawesi Selatan. Formasi ini disusun oleh batuan karbonat yang terbentuk dari mineral karbonat dan organisme laut diantaranya adalah foraminifera, yang dapat merekam kondisi iklim ketika batuan ini terendapkan. Pengambilan data singkapan menggunakan metode Stratigrafi Terukur pada perselingan napal dan batugamping di Barru (Lintasan Sungai Palakka) dan Jeneponto (Lintasan Karama B). Aktivitas selanjutnya adalah preparasi sampel, observasi, identifikasi dan determinasi umur berdasarkan pemunculan awal dan kemunculan akhir spesies. Hasil identifikasi foraminifera planktonik di daerah Barru diperoleh sebanyak 12 spesies: Globigerina senni, Globigerina ampliapertura, Globigerina soldadoensis, Globigerina yeguaensis, Globorotalia centralis, Globorotalia aragonensis, Globorotalia aspensis, Globorotalia bolivariana, Globigerina collactea, Hantkenina dumblei, dan Hantkenina brevispina, Globigerapsis index. Di Karama B sebanyak 6 (enam) spesies: Globigerina ampliapertura, Globigerina yeguaensis, Globorotalia kugleri, Catapsydrax dissimilis, Globorotalia siakensis, Globigerinoides immaturus, dan 1 sub-spesies Globorotalia opima opima. Analisis biostratigrafi Lintasan Sungai Palakka berumur P.9 – P.16 (Eosen Awal – Eosen Akhir), sedangkan Lintasan Karama B, berumur N.1 – N.7 (Oligosen Tengah – Miosen Awal). Hasil studi awal iklim purba menunjukkan bahwa beberapa genus/spesies di daerah Palakka dan Karama B hidup pada kondisi iklim Tropis – Subtropis, Sungai Palakka hangat (warm), sedangkan Karama B (cooling – warm). Berkurangnya variasi genus/spesies pada transisi umur Eosen ke Oligosen diakibatkan oleh perubahan iklim yang signifikan dari hangat ke dingin (cooling).
Analisa sistem komunikasi data berbasis Internet of Things (IoT) menggunakan metode PIECES pada Sistem Pengamatan Cuaca Otomatis di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Ariffudin Ariffudin; Purnawarman Musa
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.831

Abstract

Stasiun Pengamatan Cuaca pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merapatkan jaringan stasiun pengamatan cuaca guna menghasilkan akurasi data yang lebih baik. BMKG memiliki kurang lebih 1000 dan jumlah ini masih jauh dari ideal untuk kerapatan jaringan pengamatan cuaca se-Indonesia. Stasiun pengamatan cuaca yang terbagi dalam 3 (tiga) type yaitu Automatic Rain Gauge (ARG), Automatic Weather Station (AWS) dan Agroclimate Automatic Weather Station (AAWS). Pemuktahiran sistem pengiriman data dari stasiun pengamat cuaca terhadap protokol pengiriman File Transfer Protocol (FTP) melalui modem General Packet Radio Service (GPRS) setiap 10 menit, dengan upgrade teknologi Internet of Things (IoT) perlu peninjauan terhadap kinerja operasional sistem komunikasi data. Karakteristik data yang kecil sangat cocok pada teknologi Internet of Things dengan menggunakan protokol Message Queuing Telemetry  Transport (MQTT) guna monitoring data-data cuaca secara real-time. Berdasarkan hasil kajian dan penelitian dengan pengujian yang dilakukan terhadap metode komunikasi protokol FTP dengan protokol IoT MQTT pada stasiun AWS menggunakan analisa dengan metode PIECES (Performance, Information, Economic, Control, Efisiency dan Service) menunjukkan protokol MQTT yang berbasis IoT sebagai konsep komunikasi data yang tepat dimasa depan mengantikan protokol FTP. 
ANALISIS SPASIAL FENOMENA URBAN HEAT ISLAND MENGGUNAKAN ALGORITMA LAND SURFACE TEMPERATURE KOTA KENDARI La Ode Alwi; La Gandri; Herlan Hidayat; Eka Rahmatiah Tuwu; Irawati Irawati; Sahindomi Bana; Vivi Fitriani; Lies Indriyani
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.852

Abstract

Konversi terhadap lahan-lahan bervegatasi menjadi lahan-lahan terbangun akibat perkembangan kota dan arus urbanisasi dapat memicu terjadinya fenomena urban heat island di beberapa kota di Indonesia. Berdasarkan data peningkatan jumlah penduduk dan ekspansi ruang terbangun yang tidak terkendali di Kota Kendari, ada dugaan bahwa telah terjadi fenomena urban heat island. Mengidentifikasi serta mengukur karakteristik spasial temporal urban heat island sejak dini akan sangat penting bagi pengambil keputusan untuk merumuskan kebijakan demi mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fenomena urban heat island Kota Kendari perode tahun 2001 dan tahun 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah brightness temperature dengan menggunakan logaritma yang diformulasikan pada alat pengolahan Citra Landsat 7 untuk data tahun 2001 dan Citra Landsat 8 OLI untuk data tahun 2019. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstraksi land surface temperatur menggunakan citra Satelit Landsat-7 tahun 2001 menunjukkan nilai suhu minimum sebesar 19,099 oC dan suhu maksimum sebesar 34,459 oC.  Hasil perhitungan urban heat island treshold sebesar  25,95 0C. Sehingga dengan menentukkan urban heat island index disimpulkan bahwa pada tahun 2001 wilayah Kota Kendari telah mengalami fenomena Urban Heat Island dengan wilayah paparan sebesar 1,021% dari total luas wilayah. Sedangkan pada tahun 2019, ekstraksi land surface temperatur menggunakan citra Satelit Landsat-8 OLI, menunjukkan nilai suhu minimum sebesar 14,27 0C dan suhu udara maksimum sebesar 35, 426 0C. Hasil perhitungan urban heat island treshold sebesar 24,6 0C. Dengan menentukkan urban heat island index disimpulkan bahwa pada tahun 2019 telah terjadi peningkatan fenomena urban heat island dengan wilayah paparan yang lebih luas yakni 18,92% dari luas wilayah.
PENGARUH CENS-CT TERHADAP CURAH HUJAN EKSTRIM DAN BANJIR DI KOTA SEMARANG (STUDI KASUS TANGGAL 5 DAN 6 FEBRUARI 2021) Zauyik Nana Ruslana; Sulistyowati Sulistyowati; Umaroh Umaroh; Rudi Setro Prihatin; Sri Endah ANA
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.761

Abstract

Pada awal bulan Februari 2021, CENS (Cross Equatorial Northerly Surge) mengalami lonjakan aliran permukaan dari LCS (Laut Cina Selatan) hingga mencapai pesisir Pulau Jawa sehingga memicu aktivitas kuat konveksi yang berpotensi hujan dengan intensitas Sangat Lebat – Ekstrim. Analisa dari wilayah CT (Cold Tongue) menunjukkan penjalaran suhu dingin dari LCS bersamaan dengan CENS hingga Laut Jawa yang berpotensi memperburuk untuk terjadinya hujan ekstrim. Transpor uap air di khatulistiwa dari BBU (Belahan Bumi Utara) ke BBS (Belahan Bumi Selatan) secara klimatologis terjadi pada periode DJF (Desember-Januari-Februari). Berdasar analisa pada dasarian ke-1 bulan Februari 2021 aliran uap air berasal dari Pasifik Barat dan LCS serta Samudera Hindia bagian Selatan Pulau Sumatera dan Jawa. Kejadian hujan ekstrim juga dibuktikan dengan peningkatan transportasi uap air pada low level (1000 - 850 mb) mulai pukul 01.00 LT dan meningkat tinggi pada pukul 03.00 - 04.00 LT kemudian turun pada pukul 05.00 - 06.00 LT, sedangkan dari transportasi uap air pada ketinggian 1000 - 500mb juga menunjukkan banyaknya transportasi uap air sejak pukul 01.00 - 06.00 LT. Dari distribusi curah hujan tanggal 5 Februari 2021 juga menunjukkan tingginya curah hujan hingga level ekstrim dari pesisir Kota Semarang (Kecamatan Tugu, Ngaliyan dan Semarang Barat) hingga level hujan lebat di wilayah Selatan Kota Semarang (Kecamatan Tembalang dan Banyumanik), bila distribusi pada dasarian ke-1 bulan Februari 2021 dibandingkan dengan normalnya adalah lebih tinggi. Berdasarkan historis kejadian banjir, bulan Februari  tertinggi kedua setelah bulan Januari. dalam periode tahun 2008 - 2020 kejadian banjir pada bulan Februari di Kota Semarang mengalami peningkatan signifikan. Sinkronisasi data hujan dengan kejadian banjir periode tahun 2021 - 2020 terdapat kaitannya antara banjir dan hujan dengan intensitas lebat - sangat lebat
KARAKTERISTIK DAN PELAPISAN MASSA AIR DI PERAIRAN TELUK BUNGUS DAN BEBERAPA PULAU-PULAU KECIL DI KOTA PADANG Try Al Tanto; I Wayan Nurjaya; Indra Jaya; Tri Hartanto; Amir Yarkhasy; Akmala Dwi Nugraha; Soma Somantri
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 2 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i2.882

Abstract

Perairan Sumatera Barat merupakan tempat bertemunya massa air yang datang dari Samudera Hindia dan daratan. Kajian ini bertujuan untuk melihat distribusi, stratifikasi, kestabilan dan karakteristik massa air di wilayah kajian. Penelitian di perairan Sumatera Barat ini dilakukan menggunakan instrument CTD, berupa kedalaman, temperatur dan salinitas yang diakuisisi oleh Tim Survei IPB. Penelitian ini mencakup 2 wilayah kajian, wilayah Teluk Bungus dan pulau-pulau kecil (PPK). Terdapat 9 stasiun yang terbagi dalam 4 transek untuk dianalisis dalam kajian, yaitu transek Teluk Bungus 1 dan 2 yang berada di perairan Teluk Bungus dan transek PPK 1 dan 2 yang berada di sekitar PPK. Analisis dilakukan dengan metode DIVA dan Diagram TS menggunakan Ocean Data View dan bahasa pemrograman Python 3.8. Hasil kajian memperlihatkan bahwa di perairan Teluk Bungus memiliki karakteristik umum salinitas rendah dan temperatur yang tinggi sedangkan wilayah PPK memiliki karakteritik salinitas tinggi dan temperatur yang rendah. Teluk Bungus memiliki nilai rata-rata temperatur 29.738 oC ± 0.383, salinitas 32.784 ± 0.063 psu, densitas 20.155 Kg/m3 ± 0.175 dan Brunt Vaisala 8.62 cyc/h. PPK memiliki nilai rata-rata temperatur 29.142 oC ± 0.580, salinitas 32.973 psu ± 0.191, densitas 20.498 Kg/m3 ± 0.331 dan Brunt Vaisala 6.7 cyc/h. Daerah teluk dan dekat daratan cukup stabil sedangkan wilayah perairan dekat PPK kurang stabil. Karakteristik perairan di wilayah Teluk Bungus didominasi massa air dari daratan sedangkan wilayah PPK didominasi massa air dari samudera.

Page 1 of 1 | Total Record : 7