cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 1 (2010)" : 6 Documents clear
Studi Penurunan Konsentrasi Gas Radon dalam Ruangan Menggunakan Beton Ringan Syarbaini Syarbaini; Bunawas Bunawas
Jurnal Permukiman Vol 5 No 1 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.1-6

Abstract

Radon (222Rn) adalah gas radioaktif alam yang tidak berbau, tidak bewarna dan berpotensi menyebabkan kanker paru. Radon terbentuk dari peluruhan radioaktif alam 226Ra dalam bahan bangunan dan dapat masuk secara gradual ke dalam udara ruangan melalui pori-pori bahan bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk studi kandungan 226Ra dan laju lepasan gas radon serta radon dalam udara ruangan gedung bertingkat yang terbuat dari beton ringan dan beton konvensional produk lokal. Kandungan radioaktif alam 226Ra diukur secara spektrometri gamma dengan detektor HPGe. Laju lepasan gas radon dan konsentrasi gas radon masing-masing diukur menggunakan dosimeter radon aktif dan pasif. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 226Ra dalam beton ringan berkisar antara 8 – 39 Bq/kg, lebih rendah dari jenis beton konvensional. Laju lepasan gas radon dari permukaan beton ringan berkisar antara 0,2 – 1,12 Bq/m2.jam dan konsentrasi radon dalam udara ruangan gedung bertingkat yang terbuat dari beton ringan berkisar antara 5 – 39 Bq/m3, lebih rendah dari beton konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian beton ringan dapat menurunkan konsentrasi radon dalam ruangan sehingga resiko kanker paru dari radiasi gas radon dapat diturunkan.
Sifat Fisis dan Mekanis Panel Semen Pelepah Kelapa Sawit Nurul Aini Sulistyowati; Aan Sugiarto
Jurnal Permukiman Vol 5 No 1 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.7-12

Abstract

Tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan pada kondisi normal dan sehat mempunyai 40 –50 pelepah daun per pohon. Pemangkasan pelepah untuk memudahkan pemotongan tandan buah. Pelepah daun yang dipangkas sebanyak 3 buah dan pemanenan dilakukan 4 – 5 kali dalam setahun. Pemanfaatan pelepah selama ini belum optimal, karena hanya ditumpuk di lapangan. Dalam penelitian ini memanfaatkan pelepah daun sebagai bahan baku dalam pembuatan papan semen sawit. Pembuatan papan semen sawit menggunakan komposisi campuran 1 PC : 0,50 partikel pelepah (A) dan 1PC;0,75 partikel pelepah (B) dengan menggunakan akselerator CaCl2 sebanyak 5 % dari berat semen portland. Semakin banyak jumlah partikel pelepah sawit yang digunakan dalam pembuatan papan semen mengakibatkan rendahnya kuat lentur dan tingginya penyerapan air.
Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Menurut UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang dan Fenomena Kebijakan Penyediaan RTH Di Daerah Aris Prihandono
Jurnal Permukiman Vol 5 No 1 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.13-23

Abstract

UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang secara tegas menentukan bahwa proporsi RTH kota minimal 30 % dari luas wilayah. Sebelum undang-undang tersebut diberlakukan, sebenarnya sudah cukup banyak peraturan perundangan yang terkait dengan pengaturan RTH, termasuk peraturan daerah (Perda). Pertanyaan penelitian yang perlu di jawab adalah seberapa jauh kebijakan pemerintah daerah sinkron dengan kebijakan penyediaan RTH sebagaimana diamanatkan UU 26/2007 ? Bagaimana kecenderungan ketersediaan RTH di daerah dari waktu ke waktu ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan penelitian dengan pendekatan non-probability sampling. Kota Bandung, Makasar, Mataram, serta Malang dipilih secara “purposive” sebagai unit penelitian. Kemudian data sekunder menjadi data utama yang menjadi bahan analisis, dimana “content analisis” merupakan teknik analisis yang dipilih. Hasil analisis data dapat dijabarkan sebagai berikut: terdapat tiga tipe kebijakan pengaturan RTH yakni, pertama melindungi kawasan lindung, kedua mengembangkan RTH melalui pembangunan jaringan jalan dan utilitas, ketiga pengaturan kepadatan bangunan. Namun data tentang penyediaan RTH selama dua tahun terakhir menunjukkan terjadinya trend penyempitan RTH yakni di Bandung sebesar 28,1 %. Di DKI Jakarta trend penyempitan RTH dapat dilihat dari menurunnya kebijakan penyediaan RTH sebesar 27,6 % pada tahun 1965-1985 menjadi 13,94 % pada tahun 2000-2010. Jadi penyediaan RTH sebenarnya tergantung pada kemauan politik pemangku kekuasaan di daerah mengingat ketersediaan kebijakan RTH sudah cukup lengkap
Perilaku n-Panel System dalam Menahan Beban Lateral Siklik Statik Siti Aisyah Nurjannah; Nana Pudja Sukmana
Jurnal Permukiman Vol 5 No 1 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.24-35

Abstract

Dalam rencana strategis pembangunan rumah susun sampai 2011, pemerintah mencanangkan pembangunan 1000 menara atau 350.000 unit rumah susun. Pada tahun 2008, rumah susun yang direncanakan untuk dibangun di kawasan perkotaan adalah sebanyak 181 twin block dengan 17.376 unit rumah susun lengkap dengan fasilitas sosial serta prasarana dan sarana dasar permukiman. Sistem struktur beton pracetak dianggap memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan sistem beton konvensional. Pengawasan konstruksi dapat dilakukan dengan lebih mudah dan waktu konstruksi relatif cepat. Dalam rangka mendukung program pemerintah dalam menyediakan rumah susun bagi masyarakat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman melakukan penelitian suatu sistem struktur panel beton bertulang pracetak tiga dimensi dengan bukaan yang menggunakan sistem kombinasi sambungan basah dan sambungan kering sejak tahun 2008. Sistem ini dikenal dengan nama n- Panel System. Pengujian keandalan model struktur n-Panel System dilakukan dengan pengujian beban lateral siklik statik berdasarkan program pembebanan yang direkomendasikan oleh National Earthquake Hazards Reduction Program 1997. Penilaian kinerja model struktur dilakukan berdasarkan pada kriteria keandalan struktur dinding geser menurut Federal Emergency Management Agency (FEMA) 450, nilai daktilitas, factor reduksi gempa, pola retak dan keruntuhan struktur. Hasil pengujian dengan beban lateral siklik static memperlihatkan model struktur masih stabil di atas nilai story drift yang ditetapkan dalam FEMA 450. Dengan kestabilan struktur tersebut, kriteria daktilitas yang dicapai adalah daktail penuh, dengan pembatasan nilai faktor reduksi gempa sesuai SNI 03-1726-2002. Hasil pengujian juga memperlihatkan jenis keruntuhan model struktur adalah keruntuhan geser pada dasar panel.
Penerapan Infrastruktur Persampahan Di Pulau-Pulau Kecil Studi Kasus: Di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Tuti Kustiasih; Fitrijani Anggraini
Jurnal Permukiman Vol 5 No 1 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.36-43

Abstract

Aksesibilitas akibat lokasi yang terpencil dan terisolir merupakan kendala utama dalam pelaksanaan pengelolaan dan pembangunan pulau-pulau kecil di Indonesia dan menyebabkan keterbatasan sumber daya air dan infrastruktur. Pembangunan di pulau-pulau kecil perlu diarahkan untuk mengelola dan mendayagunakan potensi yang ada secara lestari berbasis masyarakat sehingga dapat berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan di pulau-pulau kecil pada umumnya belum dikelola dengan baik. Kajian ini difokuskan pada pembangunan pengelolaan sampah dengan menerapkan teknologi tepat guna komposter, untuk pulau-pulau kecil, mengambil contoh kasus di Kepulauan Seribu khususnya Pulau Harapan. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui upaya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui pengembangan potensi lokal berupa sumber daya alam, sumber daya manusia dan pelibatan kearifan lokal. Dari hasil monitoring dan evaluasi, penggunaan komposter baru mencapai 25 % komposter diisi sampah organik (sisa makanan, sayuran), sesuai dengan petunjuk operasional. Dalam pelaksanaan operasi dan pemeliharaan diperlukan adanya petunjuk operasi dan pemeliharaan yang jelas agar mudah dimengerti oleh masyarakat, sehingga penggunaan teknologi tepat guna komposter di pulau-pulau kecil dapat berkelanjutan.
Kajian Penerapan Penilaian Indeks Resiko Tempat Penimbunan Sampah di Indonesia Sri Darwati
Jurnal Permukiman Vol 5 No 1 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.44-51

Abstract

Di Indonesia terdapat 460 tempat penimbunan sampah terbuka di Indonesia (BPPT, 2008). Dari data Departemen PU 2006, disebutkan 95 % adalah penimbunan sampah terbuka. Dalam Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan Departemen PU, strategi yang akan dilakukan adalah melakukan rehabilitasi tempat penimbunan sampah terbuka menjadi sanitary landfill atau melakukan penutupan. Dalam pengambilan keputusan rehabilitasi tempat penimbunan sampah, diperlukan penilaian resiko lingkungan dan potensi bahaya, salah satunya dengan menggunakan metodologi IRBA (Integrated Risk Based Approach). Parameter yang dipertimbangkan dalam analisis IRBA dikategorikan atas 3 katagori yaitu kriteria lokasi (20 parameter), karakteristik sampah (4 parameter) dan karakteristik lindi (3 parameter) dan dilakukan pembobotan dan indeks sensivitas dari parameter yang diukur. Hasil dari penilaian adalah nilai indeks resiko dan potensi bahaya tempat penimbunan sampah dan tindakan yang disarankan dalam melakukan rehabilitasi. Sebagai contoh penerapan dilakukan penilaian resiko terhadap 5 kasus data tempat penimbunan sampah untuk dianalisis dalam penentuan tindakan rehabilitasi dan penentuan prioritas penanganan tempat penimbunan sampah. Dari kajian ini teridentifikasi potensi dan kendala penerapan IRBA dalam pengambilan keputusan rehabilitasi tempat penimbunan sampah.

Page 1 of 1 | Total Record : 6