cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 456 Documents
Kajian Penerapan Penilaian Indeks Resiko Tempat Penimbunan Sampah di Indonesia Sri Darwati
Jurnal Permukiman Vol 5 No 1 (2010)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2010.5.44-51

Abstract

Di Indonesia terdapat 460 tempat penimbunan sampah terbuka di Indonesia (BPPT, 2008). Dari data Departemen PU 2006, disebutkan 95 % adalah penimbunan sampah terbuka. Dalam Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan Departemen PU, strategi yang akan dilakukan adalah melakukan rehabilitasi tempat penimbunan sampah terbuka menjadi sanitary landfill atau melakukan penutupan. Dalam pengambilan keputusan rehabilitasi tempat penimbunan sampah, diperlukan penilaian resiko lingkungan dan potensi bahaya, salah satunya dengan menggunakan metodologi IRBA (Integrated Risk Based Approach). Parameter yang dipertimbangkan dalam analisis IRBA dikategorikan atas 3 katagori yaitu kriteria lokasi (20 parameter), karakteristik sampah (4 parameter) dan karakteristik lindi (3 parameter) dan dilakukan pembobotan dan indeks sensivitas dari parameter yang diukur. Hasil dari penilaian adalah nilai indeks resiko dan potensi bahaya tempat penimbunan sampah dan tindakan yang disarankan dalam melakukan rehabilitasi. Sebagai contoh penerapan dilakukan penilaian resiko terhadap 5 kasus data tempat penimbunan sampah untuk dianalisis dalam penentuan tindakan rehabilitasi dan penentuan prioritas penanganan tempat penimbunan sampah. Dari kajian ini teridentifikasi potensi dan kendala penerapan IRBA dalam pengambilan keputusan rehabilitasi tempat penimbunan sampah.
Kajian Regionalisasi Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) Sampah Menggunakan Metoda Analisis SWOT (Studi Kasus TPA Benowo Surabaya) Sarbidi Sarbidi
Jurnal Permukiman Vol 4 No 1 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.1-9

Abstract

Lahan untuk tempat pembuangan akhir (TPA) sampah mulai sulit diperoleh, terutama di wilayah kota besar dan metropolitan. Pengelola harus membuangnya ke dalam TPA kota lain. Beberapa kota telah merintis kerjasama regionalisasi TPA, tetapi banyak yang belum terlaksana secara optimal. Kaitan dengan itu telah dianalisis data dan informasi regionalisasi pen gelolaan TPA Benowo Surabaya. Metodologi pelaksanaannya dimulai dengan identifikasi permasalahan, pengolahan data sekunder dan data primer menggunakan teknik analisis manajemen SWOT (strengths, weaknesses, opportunities and threats). Analisis ini men ghasilkan faktor kunci keberhasilan (FKK) dan peta kekuatan organisasi berada pada kwadran-2. Oleh karena itu perlu mendayagunakan kekuatan lingkungan internal organisasi saat ini, dan men gantisipasi ancaman dari lingkungan eksternal. Selain itu, analisis menghasilkan beberapa tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program, dan beberapa kegiatan. Supaya TPA regional lebih realistik, masing-masing pihak terkait, perlu menetapkan dan menyepakati skenario kerjasama, secara bersama-sama, dan disusun berdasarkan teknik analisis manajemen memanfaatkan sumber daya masing-masing
Potensi Rehabilitasi Tempat Pemerosesan Akhir Sampah Melalui Penambangan Lahan Urug Sri Darwati
Jurnal Permukiman Vol 4 No 1 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.10-28

Abstract

Keterbatasan dan sulitnya mencari lahan Tempat Pemerosesan Akhir (TPA) Sampah di perkotaan di Indonesia menjadikan penambangan lahan urug menjadi salah satu alternatif untuk peningkatan kapasitas TPA, men ggunakan kembali lahan urug dan mengurangi biaya untuk mencari lahan TPA, baru serta mendapatkan bahan penutup sampah. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk men getahui potensi dan kendala penambangan lahan urug di Indonesia sebagai upaya rehabiitasi TPA sampah. Metodologi pen gumpulan data sekunder dari hasil litbang terdahulu, data primer dengan wawancara kuesioner, observasi lapangan dan studi kasus. Metodologi analisis data secara deskriptif dan analisis laboratorium. Disimpulkan bahwa penambangan kompos pada lahan urug dapat dilaksanakan pada sel penimbunan pasca penimbunan sampah terbuka setelah umur 6 tahun. Komposisi sampah yang masuk TPA umumnya dominan organik sehinga potensi penambangan lahan urug adalah kompos. Kendala pada proses penambangan adalah masih terdapatnya gas mudah terbakar, sampah masih tercampur dengan material B3 (bahan beracun berbahaya), resiko kelongsoran pada lahan yang berdekatan serta memperpendek umur excavator yang digunakan, kualitas kompos masih tercampur dengan plastik, terkontaminasi degan logam berat dan kadar C dan C/N ratio yang tidak memenuhi standar. Direkomendasikan untuk melakukan studi karakteristik lokasi, penaksiran kelayakan ekonomi dan biaya pelaksanaan serta memperhatikan kesehatan keselamatan pekerja, perlu adanya NSPM (Norma Standar Pedoman dan Manual) untuk mendukung pelaksanaan penambangan lahan urug. Aplikasi kompos dapat digunakan untuk tanah penutup TPA, pupuk organik untuk penghijauan sekitar TPA, tanaman non pangan dan tanaman keras.
Papan Partikel dari Pelepah Kelapa Sawit Nurul Aini Sulistyowati
Jurnal Permukiman Vol 4 No 1 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.29-37

Abstract

Limbah padat kelapa sawit yang tersedia berupa tandan kosong, pelepah, cangkang dan batang kelapa sawit. Setiap pemanenan buah kelapa sawit harus dilakukan pemotongan pelepah seban yak 2-3 buah per tandan kelapa sawit. Pemanfaatan pelepah ini belum optimal, karena hanya dibiarkan membusuk di kebun. Dalam penelitian ini akan memanfaatkan pelepah kelapa sawit seba gai bahan baku dalam pembuatan papan partikel guna mendapatkan sifat fisis dan mekanisnya. Kadar air, kerapatan, dan pengembagan tebal berturut-turut sebesar 12,60 %, 0,52 g/cm3 dan 21,20 % untuk kadar perekat 10 %, sedangkan untuk kadar perekat 12 % sebesar 13,90 %, 0,56 g/cm3 dan 12,60 %. Sifat mekanis modulus patah dan modulus elastisitas papan partikel pada kadar perekat 10 % sebesar 24 kg/cm2 dan 5,041 kg/cm2. Sementara pada kadar perekat 12 % sebesar 51,5 kg/cm2 dan 8.906 kg/cm2.
Analisis Kinerja Peredam Viscoelastis di antara Dua Sub Sistem Struktur Nuraini Nuraini
Jurnal Permukiman Vol 4 No 1 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.38-45

Abstract

Peredam viscoelastis yang akan dibahas dalam tulisan ini tidak dipasang pada sistem pen gaku ban gunan seperti yang umum dilakukan tetapi sistem peredam ini dipasang diantara dua sub sistem struktur dibawah pembebanan gaya gempa yaitu pada tiap level lantai yang men ghubungkan dua buah ban gunan. Ada empat model struktur yang akan dibahas lebih lanjut yaitu tiga model struktur dengan peredam viscoelastis dan satu model struktur tanpa peredam viscoelastis. Analisis pertama yang dilakukan adalah memodelisasi masing-masing sub sistem struktur berderajat kebebasan banyak (Multi Degree Of Freedom = MDOF) menjadi sub sistem struktur berderajat kebebasan tunggal (Single Degree Of Freedom = SDOF) dengan menerapkan metode Rayleigh Ritz. Selanjutnya, disusun persamaan gerak untuk seluruh sistem dengan menerapkan prinsip Newton, D’Alembert dan Hooke. Persamaan dinamik ini diselesaikan secara analisis riwayat waktu (Time History Analysis) dengan men ggunakan Average Acceleration Method. Metode ini dipiih karena konvergensi, stabiitas dan akurasinya jauh lebih baik bila dibandingkan dengan metode-metode lain. Selanjutnya respon struktur yang berupa perpindahan, kecepatan dan percepatan dilakukan terhadap empat model struktur, simulasi parametrik dengan memvariasikan karakteristik dinamik masing-masing sub sistem struktur dan peredam viscoelastis dilakukan untuk men getahui kinerja peredam viscoelastis dalam mereduksi efek gempa bumi pada struktur ban gunan. Untuk mempermudah proses analisa tersebut maka dibuat pemrograman dengan men ggunakan software MATLAB® versi 6.1.0.450 Release 2.1.
Struktur dan Kinerja Industri Konstruksi Nasional: Pendekatan Analisis Input-Output Andreas Wibowo
Jurnal Permukiman Vol 4 No 1 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.55-66

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan struktur dan kinerja sektor industri konstruksi sebelum dan setelah krisis moneter 1997/8 secara kuantitatif men ggunakan model input-output (I-O). Data yang digunakan adalah data I-O tahun 1990, 1995, 2000, dan 2003 dari Badan Pusat Statistik. Analisis I-O menunjukkan tidak terjadi perubahan berarti dalam hal efisiensi, permintaan akhir, bilangan pen gganda output dan input serta upah dan gaji. Perubahan yang cukup substansial hanya terjadi pada pen gganda tenaga kerja yang bisa diserap untuk setiap unit permintaan terhadap sektor konstruksi dan rasio nilai tambah bruto dan output yang dihasilkan. Statistik yang ada menunjukkan bahwa industri konstruksi nasional tampaknya sudah kembali ke kin erjanya semula.
Model Pengembangan Hunian Vertikal Menuju Pembangunan Perumahan Berkelanjutan Tito Murbaintoro; M. Syamsul Ma'arif; Surjono H. Sutjahjo; Iskandar Saleh
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.72-87

Abstract

Pengembangan hunian vertikal di Kota Depok merupakan salah satu alternatif strategi memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyarakat terutama Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), mengurangi backlog, dan mengoptimalkan pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pengembangan hunian vertikal menuju pembangunan perumahan berkelanjutan dan implikasinya terhadap kebijakan pembangunan perumahan bagi MBR. Metode analisis data yang digunakan meliputi analisis deskriptif, analisis statistika, analisis finansial, analisis input-output (I-O), dan analisis sistem dinamik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Kota Depok memiliki potensi minat yang besar terhadap hunian vertikal namun tingkat keterjangkauan terutama MBR masih sangat rendah. Untuk meningkatkan keterjangkauan masyarakat dalam memiliki hunian, maka peran pemerintah sangat diperlukan terutama dalam pemberian bantuan dan insentif kepemilikan hunian. Pembangunan perumahan juga memberikan dampak ganda (multiplier effect) terhadap pembangunan di Kota Depok dan daerah sekitarnya. Dampak tersebut antara lain tingginya pembangunan perumahan, meningkatnya pendapatan masyarakat, dan  tingginya tingkat penyerapan tenaga kerja akibat pembangunan perumahan.  Peningkatan kebutuhan jumlah hunian, serta backlog perumahan di Kota Depok menunjukkan kecenderungan pertumbuhan mengikuti kurva eksponensial pada tahun simulasi 2001 sampai tahun 2025. Untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat di Kota Depok khususnya MBR dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan mempertahankan ketersediaan lahan RTH pada tingkat tertentu, skenario yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan RTH sampai pada luasan 5000 ha, dengan mendorong pertumbuhan hunian vertikal melalui subsidi bunga sebesar 8% dan subsidi uang muka sebesar Rp 10.000.000 – Rp 13.000.000.
Peningkatan Peran Lembaga Lokal dalam Rangka Pembangunan Permukiman di Perdesaan Aris Prihandono
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.88-101

Abstract

Pelibatan kelembagaan lokal tingkat desa dalam pembangunan perumahan dan permukiman sangat relevan dengan situasi saat ini karena kapasitas dan kapabilitas lembaga-lembaga formal yang ada sangat terbatas. Sekalipun demikian upaya tersebut harus disertai langkah seleksi yang hati-hati karena terkait dengan internalisasi muatan baru.  Hasil kajian adalah bahwa sejumlah kriteria dapat dijadikan referensi dalam pemilihan lembaga, yakni: tingkat kemapanan, kondisi unsur-unsur kelembagaan, serta efektivitas organisasi. Selanjutnya dilakukan penyusunan substansi dan metode pemberdayaan setelah tipe-tipe kelembagaan dan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja lembaga diketahui. Bentuk pemberdayaan dapat berupa asistensi, fasilitasi, atau promosi. Sedangkan materi pemberdayaan meliputi tiga hal, yaitu materi umum, yakni materi yang diperlukan dalam proses peningkatan wawasan pengelola lembaga tanpa membedakan tipologi lembaga; materi inti adalah materi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan peningkatan kapasitas dan sinergi lintas program; materi penunjang adalah materi dasar yang secara normatif harus sudah dikuasai oleh calon peserta. 
Pembangunan Rumah Susun dalam Mendukung Aktivitas Ekonomi Perkotaan (Studi Kasus Kota Bandung) Heni Suhaeni
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.102-109

Abstract

Konsep dasar pembangunan rumah susun perkotaan adalah penataan ruang yang menghasilkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat dengan penggunaan lahan yang efisien.  Masalahnya adalah pembangunan rumah susun tidak pernah memperhitungkan kelompok-kelompok sasaran secara  jelas. Padahal aktivitas ekonomi di kawasan perkotaan di kota-kota besar Indonesia pada umumnya didukung dan digerakkan oleh berbagai kelompok dan strata  sosial ekonomi masyarakat yang beragam.  Kajian ini mengidentifikasi struktur aktivitas ekonomi penduduk mayoritas dan  kecenderungannya dalam membentuk & membangun pola-pola aktivitas ekonomi perkotaan, serta pembangunan rumah susun yang seperti apa yang dapat  mendukung aktivitas ekonomi perkotaan tersebut.  Kajian ini menggunakan data statitistik, dan metoda yang digunakan adalah metoda penelitian induktif.  Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa ternyata aktivitas yang dominan  penduduk  Kota Bandung  bergerak di sektor  perdagangan dan industri pengolahan, terutama industri pengolahan skala rumah tangga sektor non formal.  Oleh sebab itu pembangunan rumah susun sebaiknya diarahkan secara terintegrasi untuk mendukung dan mengakomodasi kebutuhan ruang sebagai unit hunian dan  sebagai ruang ekonomi produktif perkotaan di  Kota Bandung. 
Infrastruktur Pecinan yang Mudah Diakses Mendukung Prinsip Pariwisata yang Aksesibel Inge Komardjaja
Jurnal Permukiman Vol 4 No 2 (2009)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2009.4.110-120

Abstract

Pecinan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan pariwisata yang menarik. Secara ekonomi, kawasan wisata yang direncana dan dikelola dengan baik memberikan keuntungan yang berarti bagi pemerintah setempat. Demikian pula halnya dengan pecinan yang perlu ditata berdasarkan perencanaan matang dan pelaksanaan yang cermat. Dengan berpegang pada prinsip pariwisata yang aksesibel, wisatawan lokal dan mancanegara yang menyandang cacat akan tertarik untuk mengunjungi pecinan. PBB mengatakan para penyandang cacat mempunyai hak yang sama dengan mereka yang tidak cacat untuk berwisata. Penyandang cacat mempunyai keterbatasan mobilitas fisik, sehingga membutuhkan infrastruktur fisik yang mudah dan aman diakses. Dalam kenyataan, penyandang cacat tidak diberikan kesempatan yang setara untuk mengunjungi pecinan serta menikmati fasilitas dan suasana yang ditawarkan. Mereka mengalami kesulitan untuk bergerak secara mandiri, karena infrastruktur fisik kawasan pecinan tidak bebas hambatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk dapat mengidentifikasi problem penyandang cacat. Hasil analisis data menunjukkan mereka masih mengalami marjinalisasi karena tidak dapat menggunakan atau kesulitan mengakses infrastruktur disitu. Desain universal menciptakan infrastruktur yang aksesibel yang memberikan kemudahan bagi semua golongan masyarakat, tanpa kecuali, seperti orang jompo, orang yang baru sembuh dari penyakit berat, anak kecil yang belajar jalan atau pendorong gerobak. Pecinan yang ramah-cacat (disabled-friendly) mendukung prinsip accessible tourism.