cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
rindo.herdianto@pu.go.id
Editorial Address
Jalan Panyaungan, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung 40393
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Permukiman
ISSN : 19074352     EISSN : 23392975     DOI : http://dx.doi.org/10.31815/jp
Core Subject : Engineering,
Karya tulis ilmiah dibidang permukiman yang meliputi kawasan perkotaan/perdesaan, bangunan dan gedung yang ada didalamnya serta sarana dan prasarana pendukungnya.
Arjuna Subject : -
Articles 275 Documents
Kajian Sistem Pengelolaan Bangunan Rumah Susun Sederhana Danto Sukmajati; Joni Hardi; Edy Muladi
Jurnal Permukiman Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.13-23

Abstract

Pembangunan rumah susun sederhana dipercaya oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta sebagai salah satu jalan keluar penyediaan kebutuhan rumah layak huni dan sekaligus perbaikan lingkungan di DKI Jakarta. Namun demikian penyediaannya belum didukung oleh sistem pengelolaan yang baik dan efisien. Alih-alih mencapai tujuan seperti yang diharapkan, rumah susun sederhana malah seperti memindahkan kekumuhan horizontal menjadi kekumuhan vertikal. Tulisan ini disarikan dari hasil kajian tentang pengelolaan rumah susun yang dibangun oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Kajian yang menggunakan kaidah kualitatif dengan wawancara dan observasi lapangan ini selain menghasilkan kesimpulan tentang potret pengelolaan yang ada saat ini serta dampaknya terhadap kualitas bangunan dan lingkungan. Pada bagian akhir dihasilkan beberapa usulan dan rekomendasi model pengelolaan rumah susun sederhana yang sesuai diterapkan di DKI Jakarta.
Daya Dukung Lahan untuk Pengembangan Perumahan di Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Kelapa dan Pulau Tunda Kuswara Kuswara
Jurnal Permukiman Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.24-29

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai analisis daya dukung lahan untuk mendukung pengembangan perumahan di pulau-pulau kecil dengan mengambil kasus Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Kelapa, dan Pulau Tunda. Tujuan pembahasan ini untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik daya dukung lahan di masing-masing pulau dalam kaitannya dengan pengembangan perumahan saat ini maupun masa yang akan datang. Dengan diketahuinya karakteristik daya dukung lahan maka dapat ditentukan arahan atau rekomendasi untuk pengembangan perumahan maupun upaya penataan yang diperlukan. Dalam analisis daya dukung ini, metode yang digunakan adalah analisis kuantitatif terhadap daya tampung lahan sesuai dengan kriteria yang terdapat dalam SNI 1733 – 2004 dan Petunjuk Teknis Perencanaan Tata Ruang Pulau- pulau Kecil. Berdasarkan hasil analisis, untuk kondisi saat ini daya dukung lahan Pulau Tunda dan Pulau Pramuka masih dapat mendukung perumahan yang ada, sedangkan perumahan di Pulau Kelapa dan Pulau Panggang sudah melebihi daya dukung lahan kedua pulau tersebut. Untuk perkiraan 10 tahun ke depan, dengan menggunakan proyeksi penduduk dan kebutuhan lahan untuk perumahan disimpulkan hanya Pulau Tunda yang masih mampu menampung pengembangan perumahan, sedang perkembangan perumahan di ketiga pulau lainnya sudah melampaui daya dukung yang ada. Kondisi ini juga menggambarkan bahwa perkembangan pembangunan dan pertumbuhan penduduk yang cepat apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan secara lebih cepat juga
Metode Kovariansi dalam Penilaian Kinerja Kemampuan Adaptasi Bangunan terhadap Lingkungan Arief Sabaruddin; Tri Harso Karyono; Rumiati R. Tobing
Jurnal Permukiman Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.30-38

Abstract

Penelitian arsitektur terkait dengan pengukuran kinerja bangunan terhadap kemampuan adaptasi pada lingkungan (iklim mikro), sering sekali terkendala oleh kondisi tempat dan cuaca, yang tidak memiliki kesamaan ketika kegiatan pengukuran dilakukan pada beberapa sampel. Beberapa variabel data yang diukur sulit untuk dikontrol, seperti dalam pengukuran udara (iklim mikro). Pada kasus penelitian pengaruh desain terhadap kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan, diperlukan beberapa sampel yang diambil dari desain yang berbeda. Kegiatan membandingkan kinerja dua objek bangunan pada lokasi yang berbeda, seperti perbedaan lokasi antara kawasan pantai dataran rendah dengan lokasi pada dataran tinggi. Kinerja bangunan dalam hal ini dinyatakan sebagai kemampuan desain bangunan untuk beradaptasi terhadap lingkungan outdoor terhadap lingkungan indoor. Bangunan berfungsi melindungi penghuninya dari gangguan di luar bangunan. Dalam penelitian arsitektur demikian terdapat tiga variabel utama, yakni, sebagai variabel dependen adalah lingkungan indoor, variabel independen adalah lingkungan outdoor dan variabel faktor adalah aspek-aspek desain. Metode Analisa Kovariansi sudah umum digunakan pada penelitian pada disiplin ilmu di luar disiplin arsitektur. Tulisan ini menjelaskan penerapan metode dengan Analisa Kovariansi dalam mengukur kinerja desain bangunan secara murni tanp a pengaruh perbedaan tempat dan iklim mikro.
Pengolahan Air Leachate Sampah dengan Teknologi Aerasi dan Filtrasi Tibin Ruby Prayudi
Jurnal Permukiman Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.39-44

Abstract

Masalah utama tempat pembuangan akhir sampah adalah terjadinya infiltrasi leachate yang akan mencemari tanah dan lapisan air tanah. Pengolahan leachate sampah dilakukan secara kimia atau biologi tergantung pada karakteristik leachate. Kurangnya kandungan oksigen terlarut akan menghambat proses biodegradasi sehingga kandungan zat organik leachate akan meningkat. Dari latar belakang di atas maka akan dilakukan uji coba pengolahan air leachate dengan teknologi aerasi. Uji coba dilakukan dengan tiga model yaitu proses aerasi dengan satu kali kebutuhan oksigen, proses aerasi dengan dua kali kebutuhan oksigen dan proses aerasi satu kali kebutuhan oksigen dilengkapi dengan penyaringan media pasir saringan pasir lambat. Dari ketiga uji coba ini akan dibandingkan hasil pengolahannya terhadap kandungan pH, warna dan COD leachate. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan penurunan yang bermakna antara pH, warna dan COD sebelum dan sesudah pengolahan dilakukan uji t sampel berpasangan dengan program Statistical Package for Social Sciences (SPSS). Dari ketiga cara pengujian, pengolahan secara aerasi dengan dua kali konsumsi oksigen meningkatkan kandungan pH paling kecil yaitu 4,05 % dan pengolahan secara aerasi dengan satu kali konsumsi oksigen dan penyaringan, merupakan cara pengolahan paling tertinggi dalam persentase menurunkan kandungan warna yaitu 61,54 % dan menurunkan COD sebanyak 31,22 %. Melalui uji t sampel diperoleh hubungan yang kuat antara pH, warna dan COD sebelum dan sesudah pengolahan karena signifikasi perhitungan p> the signifikasi pada tabel α
Potensi Sampah Organik Menjadi Pupuk Organik pada Kawasan Perkantoran Lia Meilany Setyawati
Jurnal Permukiman Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.45-52

Abstract

Di dalam Undang-undang RI No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolan Sampah dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 81 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga mengamanatkan seluruh kawasan perkotaan salah satunya adalah kawasan perkantoran diwajibkan penyelenggaraan pengurangan sampah dan penanganan sampah, sehingga dipandang perlu mengembangkan model pengelolaan sampah. Pada umumnya kawasan perkantoran mempunyai luas yang cukup besar dan berlokasi cukup jauh dari Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPA S), sehingga umumnya belum terlayani, maka konsep pengurangan sampah di sumber sangat cocok untuk diaplikasikan terutama sampah organik yang berpotensi cukup besar untuk dijadikan pupuk organik dengan konsep kawasan kantor mandiri. Kajian ini dilakukan di Kantor Pusat Litbang Permukiman di Cileunyi Kabupaten Bandung, proses pemilahan: reuse, reduce, recycle (3R) perlu dioperasionalkan secara optimal di sumber, sehingga residu sampah diusahakan seminimal mungkin yang harus diangkut ke TPA sampah. Metode yang digunakan deskriptif dan eksperimental. Deskriptif untuk pengukuran dan penghitungan timbulan dan komposisi sampah dari berbagai sumber dalam 2 musim, yang dihasilkan dari luas lahan terbuka hijau 76.974 m2 dan luas bangunan terbangun 8.384 m2 serta jumlah pegawai 293 orang. Eksperimental untuk menguji model pengelolaan sampah serta potensi sampah organik di perkantoran menjadi pupuk organik. Kajian ini menghasilkan timbulan sampah organik dari berbagai sumber sebesar 34.071,86 kg/tahun, pola yang direncanakan yakni sistem pengomposan (komposter, sistem windraw skala kawasan, bekas cacing/kascing) akan menghasilkan kompos sebesar 15.660 kg/tahun yaitu 46,4% dari sampah organik yang dihasilkan,  dengan C/N 15 - 20 telah memenuhi standard. Pola pengelolaan terpadu berbasis 3R (reduce, reuse, recycle) dan potensi daur ulang sampah organik menjadi pupuk organik dapat terjamin keberlanjutannya perlu didukung dengan keberadaan operator dan partisipasi para pegawai dalam melakukan pemilahan.
Sifat Fisis dan Mekanis Bambu Laminasi Bahan Berbentuk Pelupuh (Zephyr) dengan Penambahan Metanol sebagai Pengencer Perekat Dany Cahyadi; Anita Firmanti; Bambang Subiyanto
Jurnal Permukiman Vol 7 No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.1-4

Abstract

Penelitian bambu laminasi dengan menggunakan bahan berbentuk pelupuh (zephyr) dengan menggunakan perekat thermosetting yang artinya menggunakan kempa panas telah banyak dilakukan. Tetapi teknologi pembuatan bambu laminasi dengan menggunakan kempa dingin belum banyak dilakukan terutama berbahan baku bambu berbentuk pelupuh dengan menggunakan perekat poly urethane. Salah satu masalah penggunaan perekat ini adalah kekentalannya yang cukup tinggi sehingga menyulitkan pada proses pelaburan perekat pada bambu. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan penelitian pembuatan bambu laminasi berbahan bambu berbentuk pelupuh yang dalam proses pembuatannya menggunakan perekat water based polymer-isocyanate (Koyobond) yang diencerkan dengan metanol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan metanol terhadap sifat fisis dan mekanis bambu laminasi berbahan bambu berbentuk pelupuh. Dalam pembuatan panel bambu komposit dengan ukuran 85 cm x 40 cm x 5 cm dengan variasi berat labur 150 g/m2, 200 g/m2, dan 250 g/m2, serta variasi kadar metanol 1%, 3%, dan 5% dari berat perekat. Kemudian dilakukan pengujian sifat fisis dan mekanis. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan metanol dapat menurunkan penyerapan air dan pengembangan tebal, dan dapat meningkatkan sifat mekanisnya.
Analisis Pengembangan Unit Produksi Conblock dan Paving Block Berbasis Limbah Batubara dalam Rangka Mendukung Pembangunan Rumah Murah Anita Firmanti; Aventi Aventi; Dany Cahyadi; Aan Sugiarto; Bambang Sugiharto; Bambang Subiyanto
Jurnal Permukiman Vol 7 No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.5-12

Abstract

Fly-ash dan bottom ash yang merupakan hasil samping (by-product) pada pembakaran batubara untuk energi dapat dimanfaatkan untuk conblock maupun paving block yang memenuhi SNI. Selain dilakukan validasi terhadap kualitas produk yang dihasilkan, untuk mengetahui kelayakan juga dilakukan analisis pasar, analisis keekonomian dan finansial serta dilakukan analisis lingkungan pengembangan conblock dan paving block yang diproduksi dengan peralatan semi masinal maupun full-machinal. Hasil analisis pasar menunjukkan bahwa unit produksi bahan bangunan yang dikembangkan sangat prospektif terutama bila dikaitkan dengan kebutuhan pembangunan rumah dan jalan lingkungan. Berdasarkan analisis NPV, IRR, BEP dan PI diketahui bahwa unit produksi bahan bangunan yang dikembangkan terutama yang dengan full - machinal sangat menguntungkan. Hasil analisis lingkungan menunjukkan bahwa beton/ bata fly-ash atau bottom ash tidak berbahaya yang didukung pula dari nilai uji TCLP yang menunjukkan nilai terlarut di bawah baku mutu yang disyaratkan
Pengaruh Kadar Kehalusan Butir terhadap Ketahanan Geser Tanah Pasir Vulkanik Silvia F. Herina
Jurnal Permukiman Vol 7 No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.13-23

Abstract

Tanah pasir vulkanik yang merupakan hasil erupsi dari gunung berapi terdapat di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tanah ini umumnya berbentuk menyudut, dari tinjauan sifat mekanis faktor ini dianggap menguntungkan terutama bagi kekuatan geser tanah karena posisinya yang seolah bisa saling mengunci. Namun karena partikel pasir yang bisa digolongkan sebagai partikel ka sar, pasir murni tetap akan lebih mudah terurai, berdilatasi atau berkontraksi jika mengalami tegangan geser dibandingkan dengan tanah berkaraktersitik lain, seperti clay atau silty clay. Ada beberapa kontroversi pendapat bahwa penambahan kadar butir halus pada pasir dapat meningkatkan kuat gesernya, karenanya penelitian ini selain untuk mengkaji adanya pengaruh butiran halus pada pasir vulkanik juga dimaksudkan untuk mengkaji kontroversi yang ada. Dalam penelitian ini diuji sebelas sampel pasir vulkanik ya ng berasal dari daerah Srandakan (Bantul, Yogyakarta) dan Gantiwarno (Klaten-Yogyakarta). Pengujian kuat geser dilakukan di laboratorium dengan menggunakan alat triaxial dengan menerapkan beban monotonik tidak teralir (consolidated undrained). Hasil pengujian menunjukkan bahwa pasir vulkanik mempunyai karaktersitik geser yang sama dengan pasir alluvial, penambahan kadar butiran halus dalam tanah pasir vulkanik tidak mempengaruhi kenaikan kuat gesernya, tetapi gradasi yang baik terbukti dapat meningkatkan ku at geser tanah (Sr1-4;Sr2-4  ;Sr3-4  ;Sr4-4). Karena adanya perbedaan dari beberapa hasil studi terdahulu termasuk kajian ini, disimpulkan bahwa adanya butiran halus dalam tanah pasir, baik itu pasir vulkanik atau alluvial (endapan) belum dapat disimpulkan akan meningkatkan ketahanan geser statis maupun siklik. Beberapa faktor lain harus ditinjau, seperti adanya perbedaan plastisitas tanah atau perbedaan riwayat pada tanah yang mengandung butiran halus.
Peran Komunitas dalam Pengelolaan Sampah Berbasis Pola Pilah Kumpul Olah terhadap Reduksi Sampah Kota Sri Darwati; Fitrijani Anggraeni
Jurnal Permukiman Vol 7 No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.24-32

Abstract

Komunitas memegang peranan kunci dalam perubahan paradigma pengelolaan sampah dari pola kumpul- angkut-buang menjadi pilah-kumpul-olah. Probolinggo merupakan kota yang berhasil dalam melibatkan peran komunitas dalam pemilahan sampah. Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah dimulai dengan membentuk Kelompok Masyarakat (Pokmas) dalam pemilahan dan pengumpulan sampah rumah tangga. Pemda Probolinggo menetapkan kebijakan terkait dengan Sistem Pemilihan dan Pengumpulan Sampah dan memfasilitasi masyarakat dalam pelatihan, pendanaan dan penguatan kelembagaan. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran komunitas, organisasi masyarakat dan pemerintah dalam menerapkan pola pilah kumpul dengan mengambil studi kasus Kota Probolinggo dalam menunjang reduksi sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah. Metoda pengumpulan data diperoleh dari data sekunder, observasi lapangan, wawancara terstruktur dengan pengelola persampahan. Metode analisis dilakukan deskriptif evaluatif terhadap aspek teknis, pembiayaan dan kelembagaan. Disimpulkan bahwa kunci keberhasilan dalam pola pilah kumpul olah adalah perubahan perilaku masyarakat serta adanya fasilitasi tokoh masyarakat dan pemerintah. Pola pilah kumpul dilakukan masyarakat dan olah dilakukan oleh pemerintah di unit pengomposan di TPA. Untuk meningkatkan pemasaran, pola pemasaran kompos dengan ketentuan keuntungan 70% untuk kelompok masyarakat dan 30% untuk Dinas Kebersihan merupakan upaya yang efektif dalam mendorong partisipasi dan memberikan reward terhadap masyarakat dalam melakukan pemilahan dan pengumpulan di sumber.
Karakteristik Ruang Tradisional pada Desa Adat Penglipuran, Bali i Putu Agus Wira Kasuma; iwan Suprijanto
Jurnal Permukiman Vol 7 No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2012.7.40-50

Abstract

Lingkungan permukiman tradisional di Bali memiliki banyak potensi salah satunya adalah pola ruang tradisional yang mencerminkan aktivitas sosial dan budaya masyarakatnya. Seperti halnya Desa Adat Penglipuran yang memiliki tatanan pola ruang yang unik dan merupakan warisan budaya yang harus dipertahankan. Dinamika pertumbuhan penduduk serta arus perkembangan kebutuhan masa kini menimbulkan kebutuhan akan ruang yang dapat merusak tatanan ruang tradisional yang ada. Di lain pihak belum adanya regulasi yang berisikan mengenai aturan tata ruang Desa Adat Penglipuran menjadi faktor ancaman bagi keberlanjutan dari pola ruang yang sudah dijaga sampai sekarang. Permasalahannya adalah belum teridentifikasinya karakteristik ruang tradisional di Desa Adat Penglipuran sebagai landasan untuk menyusun konsep tata ruang Desa Adat Penglipuran yang ideal. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan rasionalisme. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif yaitu berusaha untuk menggambarkan kondisi pola ruang tradisional di Desa Adat Penglipuran dan mengidentifikasi karakter dari masing-masing ruang yang ada. Hasil penelitian adalah ruang tradisional Desa Adat Penglipuran terdiri dari tiga tingkatan ruang yang berdasarkan konsep Tri Mandala, yaitu Utama, Madya dan Nista dimana pada masing-masing ruang memiliki tingkat kesucian, lokasi/ penempatan, guna lahan dan fungsi ruang yang berbeda.

Page 6 of 28 | Total Record : 275