cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 3 (2003)" : 4 Documents clear
PENDANGKALAN ALUR PELAYARAN DI PELABUHAN PULAU BAAI BENGKULU Lukman Arifin; Juniar P. Hutagaol; Mustafa Hanafi
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (914.391 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.3.2003.101

Abstract

Alur pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu selalu mengalami pendangkalan. Untuk mengetahui penyebab pendangkalan tersebut maka akan diberikan beberapa informasi hasil kajian geofisika kelautan dari beberapa metoda. Metoda tersebut terdiri dari pengukuran kedalaman laut, pengukuran arus dan pasang surut. Hasil pengukuran kedalaman laut memperlihatkan bahwa kedalaman yang paling dalam di bagian kolam pelabuhan adalah sekitar 12 meter dan yang terdalam di daerah alur juga 12 meter. Pengukuran arus laut memperlihatkan bahwa kecepatan arus pada saat pasang tertinggi lebih tinggi daripada kecepatan arus pada saat surut terendah. Pengendapan lebih besar terjadi pada saat air pasang, apalagi ditambah dengan adanya arus sepanjang pantai yang membawa sedimen ke arah alur. Tipe pasang surut laut di pelabuhan ini adalah tipe campuran ganda, artinya pasang dan surut akan terjadi sekali atau dua kali dalam sehari. Adapun perbedaan tinggi muka air pada saat air pasang dan saat air surut adalah 1,53 meter. Shoaling always occurs in the sailing channel of Pulau Baai Bengkulu Harbour. To know the reason of the shoaling, some information based on the result, of the analysis of several methods of marine geophysical survey are therefore presented. The methods are echo-sounding, sea current and tide measurement. Result of sounding shows that the deepest depth in the lagoon area is around 12 metres and the depth in the channel area is also 12 metres. Result of sea current measurement shows that current velocity during the spring tide is higher than the velocity during the neap tide. Sedimentation is higher in the spring tide, moreover it is increased by the existence of long shore current which transport the sediments into the channel. The type of the sea tide in the harbour is a mixed semi diurnal type which means that the spring and the neap will occur once or twice a day. The height of sea water level difference between spring tide and neap tide season is 1.53 metres.
FORAMINIFERA SEDIMEN DASAR LAUT DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR Mimin Karmini; Rostyati Rostyati
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.797 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.3.2003.98

Abstract

Dalam kerangka penelitian dan penyelidikan geologi dan geofisika kelautan yang dilaksanakan oleh tim Pusat Pengembangan Geologi Kelautan, sebanyak 44 percontoh sedimen telah dianalisis foraminiferanya. Pada umumnya, foraminifera plangton yang lebih banyak dijumpai adalah Globigerinoides spp., Neogloboquadrina dutertrei, dan Pulleniatina spp. Neogloboquadrina dutertrei yang dikenal sebagai spesies penciri untuk kondisi salinitas rendah. Spesies-spesies tersebut banyak dijumpai pada kedalaman lebih dari 40 m, dan mencapai maksimum pada kedalaman 1400 m (lokasi 11, lepas pantai Tanjung Bayur). Di tempat seperti ini jumlah individu dan keanekaragaman foraminifera plangton paling tinggi dan termasuk ke dalam zona lereng sesar atas, sedangkan yang terendah ada di lokasi 7 (dekat pantai muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 11,3 m. Foraminifera bentosnya yang banyak dijumpai adalah Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., dan Pseudorotalia schroeteriana. Keberadaan Amphistegina lessonii sangat tergantung terhadap intensitas cahaya, air yang jernih, dan biasanya berasosiasi dengan terumbu. Turbulensi di daerah telitian diperkirakan relatif rendah karena banyak dijumpainya spesies tersebut. Jumlah individu tertinggi foraminifera bentos terdapat pada lokasi 35 (Muara Lerong), pada kedalaman 45 m, sedangkan yang terendah ada di lokasi 6 (dekat pantai, muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 17,3 m. Keanekaragaman tertinggi dijumpai dilokasi8, pada kedalaman 63,5 m, sedangkan yang terendah di lokasi 6. Fluktuasi jumlah individu foraminifera plangton dan bentos di bagian utara dan tengah tidak terlepas dari kemungkinan adanya arus bawah laut yang bisa mempengaruhi sedimen dan morfologi dasar lautnya. Di bagian selatan jumlah ini cenderung meningkat pada tempat yang menjauh dari pantai. Within the framework of marine geological and geophysical surveyscarried out by the Marine Geological Institute, 44 samples had been analysed, especially for foraminifera. In general, planktonic foraminifera in the study area such as Globigerinoides spp, Neogloboquadrina dutertrei, and Pulleniatina spp are commonly found. Neogloboquadrina dutertrei is known as an indicator species for low salinity. They are found commonly at depths of more than 40 m, the most abundant of it is found at the depth around 1400 m (site 11, offshore of Bayur Peninsula). The maximum total number of individuals and the diversity of planktonic foraminifera occurr at this site as well as at the upper continental, whereas the minimum one is at site 7 (near the mouth of Muara Bayur River), at 11,3 m depth. The common benthonic foraminifera are Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., and Pseudorotalia schroeteriana. Amphistegina lessonii is a species, which is, dependent on light and clear water, and is usually associated with reef. The high number of individuals of this species suggests that the turbulent factor is considered to be relatively low. The maximum total number of individuals of benthonic foraminifera occurs at site 35 (Lerong River Mouth), at 45 m depth, whereas the minimum at site 6 (close to the mouth of Muara Bayur River), at 17,3 m depth. The maximum diversity occursatsite 8, at the depth of 63,5 m, whereas the minimum one is at site 6. The fluctuation of the total number of individuals of planktonic and benthonic foraminifera in the northern and southern parts is probably due to the morphology of the sea floor and the sediment influenced by bottom current. In the southern part the number of individuals of foraminifera tends to increase with the increasing of the distance from the shore.
BATIMETRI, POLA ARUS DAN PERUBAHAN GARIS PANTAI DI SAGARA ANAKAN, CILACAP Dida Kusnida; Wayan Lugra; Lili Sarmili
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.427 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.3.2003.99

Abstract

Sedimentasi yang dicirikan oleh pertumbuhan pulau-pulau baru dan daratan di Sagara Anakan, setidaknya sejak tahun 1944 hingga sekarang, berawal dari proses pasang surut yang terjadi di Sagara Anakan. Kecepatan dan arah arus Citanduy merupakan faktor dominan dalam proses sedimentasi di Sagara Anakan. Penggabungan kecepatan dan arah arus Citanduy dengan kecepatan dan arah pasang surut laut menghasilkan resultante di Sagara Anakan berarah timur-tenggara. Tidal processes in Sagara Anakan at least since 1944 until present, triggered sedimentation characterized by the development of new islands and lands. Velocities and direction of Citanduy current are the dominant factors in sedimentation processes in Sagara Anakan. The interference of velocities and current directions of Citanduy and Indian Ocean tide in Sagara Anakan resulted east-southeast resultants directions.
ESTIMASI KECEPATAN SEDIMENTASI DI PERAIRAN ASTANAJAPURA, KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT (DALAM KAITANYA DENGAN RENCANA PENGEMBANGAN PELABUHAN) Purnomo Raharjo; Faturachman Faturachman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 1, No 3 (2003)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.479 KB) | DOI: 10.32693/jgk.1.3.2003.100

Abstract

Perencanaan dan pengembangan Pelabuhan Cirebon merupakan kegiatan strategis kerena letak kabupaten dan kota Cirebon merupakan sisi penghubung antara beberapa kabupaten di bagian barat (DKI dan Jawa Barat) dan beberapa kabupaten di bagian timur (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Demikian juga wilayah perairannya, merupakan bagian dari perairan Laut Jawa yang menghubungkan beberapa pulau di depannya, seperti Kalimantan, Sulawesi dan kepulauan di Kawasan Timur Indonesia.Salah satu kendala bagi perencanaan Pelabuhan Cirebon yaitu masalah sedimentasi yang cukup aktif di perairan ini, hal ini dimungkinkan karena banyaknya sungai-sungai besar yang membawa sedimen dari daratan disamping itu faktor oseanografi juga berperan. Metoda yang diterapkan pada penelitian ini yaitu dengan melakukan pengamatan pasang surut dan pengukuran arus, membandingkan beberapa peta dasar, menghitung kecepatan sedimentasi pada material halus (suspended sediment) dengan penentuan umur absolut berdasarkan radioaktif 210Pb. Kedudukan muka air laut rata-rata (mean sea level) sebesar 139 cm dan kedudukan air rendah (LWS) sebesar 59.93 cm dibawah duduk tengah, tipe pasang surutnya adalah “pasang campuran yang condong ke harian ganda”, berdasarkan bilangan Formzal F sebesar 0.51. Kondisi arus pada saat pasang kecepatan arus permukaan rata-rata mencapai 0,072 m/detik dan arus menengah mencapai 0,056 m/detik. Pada saat surut kecepatan arus permukaan rata-rata mencapai 0,075 m/detik dan arus menengah mencapai 0,055 m/detik. Pada daerah dekat pantai pola arus permukaan relatif sama dengan pola arah angin dominan yaitu berarah timurlaut – baratdaya. Faktor lain yang mempengaruhi pola arus adalah banyaknya sungai besar serta adanya Tanjung Dleweran yang menjorok ke laut sehingga terjadi pola arus yang menutup (louping current). Kecepatan sedimentasi rata-rata di perairan Astanajapura berdasarkan penentuan umur unsur radioaktif 210Pb berkisar antara 1,37 – 1,5 cm/tahun dengan muatan sedimen rata-rata berkisar antara 30,44 – 36,1 kg/m2/tahun. Planning and development of Cirebon Port is a strategic activity, because some district in the west part (DKI and West Java) and the east part (Central Java and East Java) is connected by the Cirebon district. Cirebon waters isbelonging to the Java Sea and also as a connecting same island in front of, such as Kalimantan, Sulawesi and the eastern part of Indonesia islands. Once of constrain for port development in Cirebon district is a sedimentationrate, this problem due to much sediment are carried by the big rivers from the land. In this research the method are used such as tide observation, current measurement, complied some base map, sediment rate accounting with determining of age absolute base on 210Pb radioactive.Mean sea lavel is 139 cm and low water sea is 59,93 cm below mean sea lave, base on Fromzal unit 0.51 type oftide is mixed tide to predominantly semi diurnal. Mean surficial current velocity is 0.072 m/sec and medium current velocity is 0.055 m/sec in the tide, meansurficial current velocity is 0.075 m/sec and medium current velocity is 0.055 m/sec in the ebb. In the near shore the surficial current relative same with the dominant wind direction that is notheast-southwest. There are many big river and Dleweran cape which extends into the sea cause the louping current are the other factor which influence the current. The average of sedimentation rate in the Astanajapura waters base on radioactive 210Pb dating is 1,37 – 1,5 cm/yr and the average of sediment mass flux is 30,44 – 36,1 kg/m2yr-1.

Page 1 of 1 | Total Record : 4