cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Jl. Dr. Junjunan No. 236 Bandung-40174
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Geologi Kelautan: Media Hasil Penelitian Geologi Kelautan
ISSN : 16934415     EISSN : 25278851     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geologi Kelautan (JGK), merupakan jurnal ilmiah di bidang Ilmu Kebumian yang berkaitan dengan geologi kelautan yang diterbitkan secara elektronik (e-ISSN: 2527-8851) dan cetak (ISSN: 1693-4415) serta berkala sebanyak 2 kali dalam setahun (Juni dan Nopember) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2009)" : 5 Documents clear
KARAKTERISTIK DAN PROSES PENGENDAPAN SEDIMEN DASAR LAUT DI PERAIRAN GOSONG BUNGA, KUALANAMU KAB. SERDANG BEDAGEI, PROV. SUMATERA UTARA Ediar Usman; Dida Kusnida
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (945.263 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.2.2009.174

Abstract

Daerah penelitian terletak di perairan Gosong Bunga, lepas pantai Kualanamu dengan kedalaman antara 10 – 20 meter dan di bagian tengah hanya 2 - 3 meter pada saat air laut surut. Hasil analisis besar butir di daerah penelitian diperoleh beberapa jenis satuan tekstur sedimen dasar laut, yaitu: pasir lanauan, pasir, pasir lumpuran sedikit krikilan, lumpur pasiran, lanau pasiran, krikil pasiran, lumpur pasiran sedikit krikilan dan pasir sedikit krikilan. Berdasarkan hubungan antara besar butir dan persentase jumlah/frekuensi butiran; pengendapan sedimen dipengaruhi oleh arus sungai dan arus pantai dengan pola pergerakan butiran adalah saltasi, rolling (gulungan) dan sliding (dorongan) serta suspensi, dan secara umum membentuk pola saltasi. Sedangkan hasil analisis kimia pada beberapa contoh sedimen terpilih menunjukkan kandungan kuarsa (SiO2) berkisar antara 66,33 - 74,21% dan kandungan rata-rata sebesar 69,88%. Analisis fotomikro memperlihatkan komposisi utama adalah butiran kuarsa hampir 85%, mineral berat (magnetit, ilmenit, hematit dan limonit) 10% dan cangkang foram dalam keadaan utuh 5%. Hasil interpretasi rekaman seismik menujukkan ketebalan sedimen Kuarter di daerah penelitian antara 7 – 15 meter, di bagian tengah mencapai 20 meter. Kata kunci: sedimen dasar laut, proses pengendapan, pola pergerakan, lepas pantai Kualanamu The survey area is located on the Gosong Bunga waters, offshore of Kualanamu coast with waters depth between 10 – 20 meters, and part of central area only 2 – 3 meters depth on low sea level. Grain size analysis result from the survey area is several types of seafloor sediment textures silty sand, sand, slightly gravelly muddy sand, sandy mud, sandy silt, sandy gravel, slightly gravelly sandy mud and slightly gravelly sand. Based on relation between size, and cumulative and frequency percent of grains; depositional process of sediment influenced by river and coastal current with movement pattern are saltation, rolling, sliding and suspension, and generally to form a saltation pattern. While, result of chemical analysis on some the samples indicates that the quartz content (SiO2) content are between 66,73 – 74,21%, and the average content is 69,88%. Microphoto analysis indicates that the main content are quartz approximately 85%, 10% heavy minerals (magnetite, ilmenite, hematite and limonite) and good condition foram shell 5%. Seismic interpretation shows that the thickness of Quaternary sediments are about 7 to 15 meters except in the centre of the study area which is 20 meters. Keywords: seafloor sediment, depositional process, movement pattern, offshore of Kualanamu
PENDEKATAN SECARA EMPIRIK TERHADAP GEJALA PERUBAHAN GARIS PANTAI DAERAH INDRAMAYU DAN SEKITARNYA Delyuzar Ilahude; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.901 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.2.2009.175

Abstract

Lokasi daerah studi Indramayu secara geografis terletak di pesisir utara Pulau Jawa dan termasuk pantai terbuka terhadap pengaruh energi gelombang dari arah barat laut, utara dan timur laut. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis perubahan garis pantai dari analisis parameter oseanografi yang dibangkitkan oleh komponen angin permukaan. Pendekatan secara empirik terhadap perubahan garis pantai dari parameter oseanografi, menunjukkan telah terjadi proses erosi dan sedimentasi di pantai Indramayu dan sekitarnya. Daerah abrasi meliputi kawasan bagian tenggara dan barat laut pantai Indramayu. Pergerakan arus sepanjang pantainya disertai oleh pengendapan sedimen (Q) berarah barat laut. Nilai Q pada zona Z-3 lebih besar dari pada di zona Z-1 dan Z-2 dengan jumlah nisbi pasokan sedimen cenderung bergerak ke arah barat laut. Daerah pesisir kawasan Delta Cimanuk diperkirakan akan menjadi zona akumulasi sedimen sepanjang tahun. Sementara proses erosi di bagian tenggara Indramayu tetap berkembang dan berlangsung secara musiman. Kata kunci : Erosi , Indramayu, pasokan sedimen The study area Indramayu, is geographically located at the northern coast of Jawa, which is an open beach that influenced by wave action from the northwest, north and northeast directions. The purpose of this study is to analyze the shift of the shore line based on oceanographic parametric analysis made by surface wind component. An empiric approach to the coastal line change conduct oceanographic parameters shows that erosion and sedimentation have occured along the coastal area of Indramayu and its surounding. The eroded area encompasses the northeastern and northwestern coasts of Indramayu. Its longshore current is follow by sediment (Q) supplies that tend to be deposited in the northwest area. The value of Q in the Z-3 zone is larger than Z-1 and Z-2 zones, as relative amount of sediment supplies tend to move northwest. The coastal area of Delta Cimanuk is estimated to be zone of sediment accumulation along the year, while the erosion process in southeast part of Indramayu spreads and occurs seasonally. Keywords : Erosion, Indramayu, sediment supply
TINJAUAN GEOLOGI TERHADAP MODEL ELEVASI DIGITAL SISTEM PARIT-PRISMA AKRESI, SELATAN JAWA Dida Kusnida; Tommy Naibaho
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.945 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.2.2009.171

Abstract

Model elevasi digital sistem parit-prisma akresi selatan Pulau Jawa menggambarkan keterwakilan topografi dasar laut seperti elevasi, lereng dan lain sebagainya secara tepat dan dengan mudah dapat dikuantifikasikan serta digambarkan sebagai output images. Sistem parit-prisma akresi selatan Pulau Jawa terletak di sebelah tenggara tepian Paparan Sunda dan diperkirakan dialasi oleh kerak samudera terakresi dan berada pada tahap awal evolusi. Analisis topografi rinci data model elevasi digital (DEM) dari daerah ini menunjukan hubungan yang erat antara struktur geologi dan batas satuan batuan. Kata kunci : parit, prisma akresi, DEM, topografi, lereng. Digital elevation model of the trench-accretionary prism system off south Java Island displays an accurate representation of seafloor topographic such as elevation, slope, etc and can easily be quantified and is displayed as output images. The trench-accretionary prism system off south Java Island lies on the southeast Sunda Shelf continental margin and it is suggested to be underlain by the basement of accreted oceanic crust, which is still in an early stage of evolution. Detailed topographic analysis of the digital elevation model (DEM) data from the area reveals a strong correlation between geological structures and rock unit boundaries. Keywords : trench, accretionary prism, DEM, topography, slope.
METODA PSEUDO-GRAVITY DALAM ANALISIS KELURUSAN DAN PATAHAN DI SEKITAR TINGGIAN ASAHAN, PERAIRAN SELAT MALAKA. Subarsyah Subarsyah; Yusuf Adam Priohandono
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1318.513 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.2.2009.172

Abstract

Melalui teori medan dalam metoda magnetik dan gaya berat, ambiguitas yang muncul merupakan suatu faktor yang menyulitkan dalam penerapan kedua metoda ini. Terlebih pada penerapan metoda magnetik yang memiliki efek polaritas positif dan negatif. Beberapa teknik dan metoda telah diterapkan dalam melakukan analisis dan pengolahan data anomali magnet untuk mengatasi masalah ambigutas ini dengan tujuan mempermudah dalam melakukan interpretasi. Salah satu metodanya yaitu transformasi data anomali magnet ke dalam data pseudo-gravity. Metoda ini akan diterapkan dalam analisis dan pengolahan data anomali magnet di sekitar Tinggian Asahan dalam hal ini untuk menganalisis kelurusan dan patahan yang muncul di area ini. Hasil transformasi akan dibandingkan dengan data skunder berupa ketebalan sedimen dan patahan di area yang sama. Hasil penerapan metoda ini memperlihatkan adanya indikasi kelurusan ataupun patahan muncul, yang tidak terlihat jelas pada data aslinya yaitu anomali magnet. Kata Kunci : Transformasi, Pseudo-Gravity, Tinggian Asahan. Through potential field theory in magnetic and gravity methods, ambiguity that presented is the difficult factor in the application of both methods. Moreover the application of magnetic method which involve the effect of positive and negative polarity are more complicated. Some techniques and methods have been used to overcome problem of ambiguity in order to make easier interpretation. One of the techniques is the transformation from anomaly magnetic to pseudo-gravity data. This method will be used within analysis and processing anomaly magnetic data at Asahan Arch to analyze lineaments and faults that appear in this area. Transformation result will be compared with another data which is secondary data about sediment thickness and fault at the same area. This technique shows that indication of fault more clearly than the original data or anomaly magnetic data. Key Words: Transformation, Pseudo-Gravity, Asahan High.
LINGKUNGAN PENGENDAPAN SEDIMEN PERANGKAP GAS BIOGENIK DI DELTA SUNGAI KAPUAS KALIMANTAN BARAT Hananto Kurnio; Yudi Darlan
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.029 KB) | DOI: 10.32693/jgk.7.2.2009.173

Abstract

Lingkungan pengendapan delta Sungai Kapuas di Kalimantan Barat terdiri dari dataran delta atas, dataran delta bawah dan lingkungan marin. Pada wilayah pesisir, dataran delta bawah terdiri dari kanal cabang (distributary channels), rawa (swamp) pada pulau-pulau delta dan pantai. Lingkungan pengendapan marin terdiri muka delta (delta front) dan prodelta; dengan lingkungan muka delta sedimen bersifat pasiran karena mengendapkan muatan sedimen (bed load) dari sungai, sedangkan pada lingkungan prodelta, sedimen yang diendapkan bersifat suspensi pada paparan dengan pengaruh proses marin lemah. Reservoar pasir pada kanal cabang dan pantai purba delta Sungai Kapuas merupakan tempat akumulasi gas biogenik. Kata kunci: lingkungan pengendapan delta, gas biogenik, Sungai Kapuas Deltaic deposition environment of Kapuas River in Western Kalimantan is consisted of upper delta plain, lower delta plain and marine environment. Within coastal zone, lower delta plain can be classified into distributary channels, swamp, deltaic islands and coasts. Marine environment is composed of delta front and prodelta; with delta front environment characterized by sandy sediments derived from river bed load. While prodelta sediments are suspension materials deposited in shelf of weak marine influences. Sand reservoirs at paleo distributary channels and paleo coasts of Kapuas River delta is the media for biogenic gas accumulations. Key words: deltaic deposition environments, biogenic gas, Kapuas River

Page 1 of 1 | Total Record : 5