cover
Contact Name
Abu Muslim
Contact Email
abumuslim@kemenag.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Qalam
ISSN : 08541221     EISSN : 2540895X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 26, No 2 (2020)" : 16 Documents clear
RELASI TAUHID DAN POLITIK PADA MASYARAKAT BONE Abul Khair; A.Qadir Gassing; Usman Jafar; Andi Aderus
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.868

Abstract

Riset ini menyajikan hubungan antara konsep tauhid dan politik pada masyarakat Bone. Dengan memilih tiga kecamatan di Kabupaten Bone sebagai objek penelitian, riset ini diharapkan dapat mengurai problematika ketauhidan dalam dinamika sosial politik masyarakat Kabupaten Bone, dan memahami persepsi masyarakat Bone terkait tema yang diteliti. Untuk menemukan bentuk relasi tauhid dan politik dalam masyarakat Kabupaten Bone, peneliti melakukan langkah pengumpulan data dengan teknik purposive sampel, menganalisis data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan pendekatan al-siyasah al-syar’iyyah, lalu menyajikannya secara deskriptif historis dan fakta empiris.Berdasarkan analisis data penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwanilai-nilai ketauhidan secara komprehensif belum aktual dalam kehidupan sosial politik pada masyarakat Kabupaten Bone, sebab persepsi masyarakat Bone mengenai relasi tauhid dan politik cenderung masih dimaknai terpisah, dalam arti tauhid masih bersifat metafisis-ritualis dan politik masih bersifat tentatif. Dengan temuan tersebut, prinsip “kontinum realitas” menjadi penting dibumikan di Bone agar interaksi politik tidak minim spirit ketauhidan. 
AWA ITABA LA AWAI ASSANGOATTA: APLIKASI MODERASI BERAGAMA DALAM BINGKAI KEARIFAN LOKAL TO WOTU Muhammad Sadli Mustafa
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.863

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kearifan lokal etnik Wotu yang bernuansa moderasi beragama, fungsi kearifan lokal itu dalam membangun moderasi beragama, dan  upaya yang dilakukan oleh masyarakat etnik Wotu dalam merawat kearifan lokal tersebut. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat etnik Wotu memiliki kearifan lokal dalam bentuk falsafah yang bernuansa moderasi beragama. Falsafah dimaksud adalah awa itaba la awai assangoatta yang bermakna dari kitalah datangnya persatuan/kebersamaan kita. Falsafah itu masih hidup dan mengakar dalam kehidupan masyarakat etnik Wotu hingga kini. Dengan falsafah itu, masyarakat etnik Wotu senantiasa berbaur dan hidup bersama dengan masyarakat sekitarnya yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama selama bertahun-tahun hingga saat ini. Etnik Wotu yang mayoritas muslim tidak sedikit pun pernah mengusik kenyamanan beribadah umat agama lainnya. Mereka juga melindungi, saling membantu dan memperlakukan umat agama lain layaknya saudara. Kearifan lokal itu  dirawat melalui pendidikan dalam keluarga dan dengan keteladanan. Keteladanan orang tua dalam praktik kehidupan bermasyarakat dengan pemeluk agama berbeda. Selain itu, pemerintah setempat turut menguatkan kerukunan dengan membantu pembangunan rumah ibadah semua agama. Tokoh agama dari Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dalam kunjungannya ke masyarakat sering kali mengingatkan untuk kembali ke akar budaya mereka yang berorientasi pada moderasi beragama
PEMBELAJARAN JARAK JAUH SEBAGAI HABITUS BARU DALAM EKOSISTEM PENDIDIKAN DI UIN ALAUDDIN MAKASSAR Muhammad Rais
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.881

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola pembelajaran jarak jauh, yang diterapkan pada UIN Alauddin Makassar, sebagai respons pihak civitas akademik, terhadap instruksi pemerintah via Kementerian Agama, agar bermigrasi dari pembelajaran yang lazim dilakukan secara konvensional dengan arus utama tatap muka secara klasikal, ke rumah masing-masing dengan basis pembelajaran daring. Kebijakan tersebut diambil sebagai antisipasi agar mahasiswa, dosen, serta staf kependidikan lainnya, terhindar dari wabah Covid-19 yang kini melanda seluruh kawasan di dunia. Dengan memanfaatkan metode riset kualitatif, data serta informasi mengenai kebijakan yang dipilih tersebut, dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap kalangan informan, meliputi dekan, dosen, mahasiswa, dan tim pengelola informasi dan teknologi pembelajaran jarak jauh. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa, ada beberapa platform pembelajaran yang digunakan pendidik maupun mahasiswa selama masa belajar dari rumah yang sudah biasa digunakan dalam pembelajaran jarak jauh, diantaranya platform Lentera sebagai aplikasi pembelajaran dalam  sistem manajemen pembelajaran, termasuk Google Classroom, Google Meeting, Zoom/Webinar, dan Whats Up, serta dan platform pembelajaran daring lainnya yang relevan. Platform pembelajaran jarak jauh ini digunakan di UIN Alauddin Makassar dalam proses pembelajaran, dalam bentuk penugasan, absensi, monitoring, maupun evaluasi melalui komunikasi intensif. Terobosan ini dinilai para civitas akademik belum efektif di tengah kondisi yang serba tidak normal akibat pandemi ini. Hambatannya terdiri dari jauhnya jarak, yang tidak memungkinkan terkoneksi dengan jaringan internet, kompetensi literasi virtual yang minim dan keterbatasan ruang fiskal keluarga yang belum memungkinkan mereka untuk memiliki peranti pembelajaran daring.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM RITUAL MADDOJA BINE PADA KOMUNITAS MASYARAKAT BUGIS DI SULAWESI SELATAN Sarifa Suhra; Rosita Rosita
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.883

Abstract

Penelitian ini berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan Islam dalam ritual maddoja bine pada komunitas petani Bugis di Sulawesi Selatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan Sumber data dari informan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maddoja bine adalah ritual leluhur yang dipegang teguh oleh masyarakat Bugis yang berprofesi petani.  Maddoja bine secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah aktivitas menjaga bibit padi semalam suntuk sebagai bentuk penghormatan dan kasih sayang pada bibit padi yang esok hari akan ditebar di persemaian. Inti ritual ini adalah do’a berupa permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bibit padi tersebut selamat sejak ditebar dipersemaian hingga di panen. Hal menarik dalam ritual ini adalah dituturkannya sureq I Lagaligo dalam epos Meong Mpalo Karellae di dalam kisah tersebut sarat dengan nilai kebaikan yang sejalan dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Nilai-nilai pendidikan Islam dalam ritual maddoja bine mencakup nilai aqidah, nilai ibadah dan nilai akhlak. Nilai akhlak lebih menonjol dibanding nilai lainnya. Seperti; adanya persatuan, silaturrahim, gotong-royong, kepedulian kepada sesama dan kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai tertulis dalam kisah Miong Mpalo Karellae yang dituturkan oleh passure’ berbunyi: Nonnokko matu talao sappa pangampe madeceng bara engka talolongeng situju-tuju nawanawanna, Ininnawa mapatae, sabbara mappesonae, masempo toi dalle’na makkunrai namamase, temasookka ukka timu, orowane mapata, misseng duppai bisesa, paenre sangiang seri, teppogau gau ceko. Dalam kisah tersebut ada 8 nilai yang harus dimiliki yakni; sederhana, pemurah, sabar, tawakkal, penyayang, sopan berbicara, menghormati tamu, memuliakan padi, dan jujur.
KOMPARASI MODERASI KEBERAGAMAAN MAHASISWA UNIVERSITAS TADULAKO DAN IAIN PALU: SEBUAH STUDI KUALITATIF Nurhayati Nurhayati; Suhardin Suhardin
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.873

Abstract

Konsep Islam moderat merupakan suatu cara pandang keagamaan yang sangat relevan dalam konteks keberagaman yang ada di Indonesia dalam segala dimensi, baik dimensi agama, adat istiadat, suku, ras, dan apa saja yang ada di dalam bangsa itu sendiri. Penelitian ini tergolong jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan multidisipliner. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dokumentasi, serta penelusuran referensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi moderasi keberagamaan mahasiswa Universitas Tadulako dan IAIN Palu, perbedaan dan persamaan moderasi keberagamaan mahasiswa Universitas Tadulako dan IAIN Palu dan konten penyimpangan keberagamaan mahasiswa Universitas Tadulako dan IAIN Palu serta sinergitas pembinaan moderasi keberagamaan mahasiswa Universitas Tadulako dan IAIN Palu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, 1) moderasi keberagamaan di dua institusi ini sudah berjalan dengan baik berbarengan dengan fenomena kajian Islam fundamentalis-skriptualis yang menjurus radikalis berkembang. 2) perbedaan moderasi keberagamaan terlihat dari mahasiswa Untad  yang cenderung bersikap eksklusif dalam memahami polaritas keberagamaan karena akses mereka lebih banyak diwarnai oleh kajian yang bersifat fundamentalis-skriptualis. Sedangkan mahasiswa IAIN Palu lebih cenderung inklusif karena kajian mereka lebih banyak bersifat kontekstual-transformatif. 3) konten penyimpangan keberagamaan mahasiswa pada dua lembaga tersebut terlihat pada bahwa Islam adalah ideologi negara yang paling mampu membawa kemaslahatan bagi Indonesia.
KECERDASAN BUDAYA KIAI MOJO DALAM MENDIRIKAN KAMPUNG JAWA TONDANO (KIAI MOJO'S CULTURE INTELLIGENCE IN ESTABLISHING KAMPUNG JAWA TONDANO) Kamajaya Al Katuuk
Al-Qalam Vol 26, No 2 (2020)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v26i2.851

Abstract

Keteladanan dalam mendirikan komunitas yang memiliki identitas budaya khusus, seperti Jawa Tondano adalah hal yang tidak mudah. Diperlukan kemampuan manajerial mumpuni. Apalagi sebelumnya di daerah tersebut terdapat masyarakat lokal yang memiliki identitas berbeda. Dalam komunitas Jawa-Tondano, identitas dibangun di atas landasan agama Islam dan budaya Jawa.  Adapun  unsur pendukungnya terdiri dari masyarakat pejuang yang diasingkan dari Perang Jawa dan pemukim setempat. Tokoh kunci dari pendiri Jawa Tondano adalah Kiai Mojo. Subyek penelitian adalah berada pada masyarakat Kampung Jawa-Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, terutama warisan manajemen budaya Kiai Mojo yang tetap dirasakan hingga kini. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan langkah-langkah manajemen budaya yang diinisiasi oleh Kiai Mojo, serta respons masyarakat Minahasa pada saat kampung Jawa Tondano dibangun. Tulisan ini bertumpu pada konsep kecerdasan budaya dari Brooks Peterson yang merumuskan kecerdasan budaya sebagai kemampuan untuk terlibat dalam serangkaian perilaku yang menggunakan keunggulan interpersonal dalam berinteraksi. Dalam konteks ini, teori kepemimpinan kesatria dari Summet Kumar ditambahkan untuk menginterpretasi sosok Kiai Mojo. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pendirian Kampung Jawa-Tondano terwujud karena kemampuan Kiai Mojo menerapkan manajemen budaya yang bercirikan kemampuan toleransi tanpa mengesampingkan sikap kesatria dalam mempertahankan identitas dan prinsip agama. Hal mana yang juga secara simultan ditunjukkan masyarakat Minahasa pada waktu itu. 

Page 2 of 2 | Total Record : 16