cover
Contact Name
Abu Muslim
Contact Email
abumuslim@kemenag.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
abumuslim@kemenag.go.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Qalam
ISSN : 08541221     EISSN : 2540895X     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Arjuna Subject : -
Articles 662 Documents
PELAYANAN KEMENTERIAN AGAMA TERHADAP PENGANUT AGAMA HINDU DI KOTA MANADO SULAWESI UTARA Saprillah Saprillah
Al-Qalam Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.957 KB) | DOI: 10.31969/alq.v19i2.165

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk “melihat kembali” sistem pelayanan publik yang dilakukan olehKementerian Agama terhadap penganut agama “yang berjumlah sedikit”. Asumsi dasarnya adalahbahwa problem minoritas terkadang mempengaruhi situasi keberpihakan otoritas yang mainstream.Metode penelitian adalah kualitatif dengan mengeksplorasi sebanyak mungkin data dari narasumberyang terkait. Baik dari pejabat Kementerian Agama sebagai supplier pelayanan maupun dari masyarakatHindu sebagai stakeholder. Penelitian ini dilakukan di Kota Manado. Hasil penelitian menunjukkanbahwa Jenis pelayanan Pembimas bersifat supporting service, agensi, tidak melayani warga secaralangsung. Representasi pelayanan Kemenag dilakukan oleh guru agama Hindu, penyuluh agama, danlembaga keagamaan. Secara umum, pelayanan Kemenag (melalui Bimas dan Penyelenggara Hindu)secara umum sudah berjalan dengan baik. Kedua unit kerja ini bekerja untuk memenuhi tugas pokokdan fungsi (tupoksi). Program kerja yang disusun setiap tahunnya dimaksudkan untuk memenuhitupoksi pendidikan dan urusan agama Hindu (selain fungsi administrasi). Problemnya adalah soaltransparansi dan partisipasi. Publik Hindu sebagai stakeholder sejauh ini tidak mengetahui denganbaik hal-hal apa yang menjadi program kerja yang diprogramkan oleh Kemenag. Ini karena partisipasipublik dalam penyusunan ataupun dalam pengambilan keputusan tidak terjadi. Kemenag “menjauhkandiri” dari publik karena menganggap sudah tahu apa yang dibutuhkan oleh publik. Kemenag hanyamengembangkan sistem yang bersifat empati.
RELASI SOSIAL MAJELIS MUJAHIDIN DALAM KONSTELASI KEBANGSAAN Rosidin Rosidin
Al-Qalam Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.217 KB) | DOI: 10.31969/alq.v22i1.281

Abstract

Pasca reformasi 1998 di Indonesia, banyak bermunculan gerakan maupun pemikiran keagamaan yang memainkan peran dominan dalam isu-isu nasional, baik yang bercorak liberal, moderat  sampai bercorak radikal.  Salah satu gerakan yang muncul adalah Majelis Mujahidin. Penelitian kualitatif deskriptif ini dilakukan dengan metode wawancara, dokumentasi dan observasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bagaimana latar belakang berdiri, (2) relasi dengan masyarakat dan (3) sikap dan pandangan Majelis Mujahidin dalam konstelasi kebangsaan. Hasil penelitian ini adalah: pertama, Majelis Mujahidin di deklarasikan pada penutupan konggres Mujahidin tanggal 7 Agustus 2000 di Yogyakarta. Majelis Mujahidin bersifat aliansi menginginkan penerapan syariat Islam pada lembaga negara Kedua, Majelis Mujahidin terbuka bekerja sama dengan kelompok agama ataupun tokoh-tokoh lain. Ketiga, Majelis Mujahidin memandang kontitusi yang benar adalah seperti dirumuskan pendiri bangsa dengan piagam jakarta di dalamnya. Menyikapi hal ini Majelis Mujahidin membuka cara-cara dialog dalam perjuangannya dengan menawarkan solusi pemecahannya.
MODEL PENGEMBANGAN KARAKTER SANTRI DI PESANTREN PERSIS 67 BENDA TASIKMALAYA JAWA BARAT moh. dulkiah
Al-Qalam Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.305 KB) | DOI: 10.31969/alq.v24i1.442

Abstract

This study aims to describe the model of character development of santri in Pesantren Persis 67 Benda Tasikmalaya West Java. Data collection method used in field research with the qualitative approach with observation data and in-depth interview. The results showed that: First, character development of santri lies in the process of teaching, habituation, and enforcement of rules. Secondly, the teaching model provides development not only in the curriculum that combines the curriculum content of the ministry of religions, the curriculum content of the ministries of education and culture, and the content of the local curriculum, but also contains principles that the teacher (ustadz) considers in curriculum development, namely: the proximity of the relationship between the learning material and the occurring phenomenon), the principle of flexibility (the developed curriculum must have the space for freedom of action, choosing the educational program, and the flexibility in the development of the learning program), the efficiency principle (effort, cost, time, which is used in the learning process must be strict), the principle of effectiveness (curriculum planning can be achieved in accordance with predetermined desires), the principle of continuity (curriculum development shows the relationship between education level, type of education, education program and field of study). Third, habituation is oriented to apply the value of independence and the value of responsibility. Fourth, enforcement of rules is implemented not to give physical sanctions, but rather more motivational.
MENGELOLA KEBERAGAMAN AGAMA DI SEKOLAH MANADO (Studi Kasus: SMK Kristen YPKM dan SMA Tridharma) Irfan Syuhudi
Al-Qalam Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.638 KB) | DOI: 10.31969/alq.v23i2.415

Abstract

Tulisan ini ingin mendeskripsikan bagaimana pihak sekolah mempraktikkan perbedaan agama di kalangan peserta didik beragama non Kristen dan non Buddha di SMK YPKM dan SMA Tridharma Manado, serta bagaimana peserta didik yang jumlahnya sedikit di sekolah itu, merayakan ekspresi keagamaan mereka. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan penentuan informan secara purposif, yaitu kepala sekolah, tenaga pendidik, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan penelusuran di internet.Hasil penelitian menunjukkan, relasi sosial antara peserta didik non Kristen dan non Buddha di SMK YPKM dan Tridharma dengan peserta didik agama lain, tergolong bagus. Demikian pula, tenaga pendidik memperlakukan semua peserta didik tanpa memandang latar belakang agama dan etnis. Di samping itu, pihak sekolah juga tetap memberikan memberikan ruang bagi peserta didik non Kristen dan non Buddha untuk melaksanakan ibadahnya masing-masing.
PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG PERKAWINAN (Studi tentang Perceraian dan Poligami di Kecamatan Panakukkang Kotamadya Ujung Pandang) Hamdar Arraiyah
Al-Qalam Vol 2, No 2 (1990)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (43.154 KB) | DOI: 10.31969/alq.v2i2.669

Abstract

Perkawinan, menurut Undang-Undang RINo. 1 Tahun 1974, bertujuan "membentukkeluarga (rumah tangga) yang bahagian dankekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa."Sejalan dengan tujuan tersebut, maka UU inimenganut prinsip untuk mempersukar tujuanterjadinya perceraian. Disamping itu, menganutazas monogami dan mempersukar terjadinyapoligami. Hanya dalam keadaantertentu saja seorang suami mendapat kesempatanuntuk mengambil isteri lagi dengansyarat-syarat tertentu.Menurut Baihaki, perceraian disebabkanoleh berbagai faktor, namun faktor penyebabterjadinya perceraian tidak sama antara satudaerah dengan daerah lainnya. Ini ada kaitannyadengan kondisi sosial ekonomi dan adatistiadat masing-masing daerah (Baihaki dalamAlfian ed 1977:143). Berbagai hasil penelitianmenunjukkan, ada daerah yang mempunyaifrekuensi perceraian yang tinggi dan ada pulayang rendah.
POTENSILATEN PREJUDICE DAL AM HUBUNGAN UMAT BERAGAMA Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 11, No 2 (2005)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.697 KB) | DOI: 10.31969/alq.v11i2.587

Abstract

Bagaimana pun juga hubungan antar berbagai umat beragamaakan terpola dalam bentuk harmonisasi dan konflik. Harmonis, jikapara penganut agama mampu melokalisir energi keagamaan merekadalam bentuk yang positif. Dan konflik, jika energi agama diarahkankepada radikalisasi keyakinan.Penelitian ini mengungkapkan kedua hal tersebut (harmonis dankonflik) dalam pandangan tokoh-tokoh agama dari dua agama besaryang memiliki tradisi yang panjang di Indonesia, yaitu Agama Islamdan Agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensikerawanan sosial khusunya di kota Makassar sangat besar. Indikatorutamanya adalah bahwa para tokoh agama mengungkapkankekhawatiran akan posisi mereka dan kekhawatiran akan didominasioleh kelompok lain.
KAJIAN TEKS KITTA KANA-KANANNA ALLO RIBOKOWA SEBAGAI MEDIA SOSIALISASI AJARAN AGAMA PADA KOMUNITAS MUSLIM DI SULAWESI SELATAN Abdul Kadir M
Al-Qalam Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/alq.v16i1.492

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian teks terhadap Kitta kana-kananna Alio Riboko yang bertujuan mengetahui bentuk dan isinaskah, mengungkapkan nilai-nilai agama yang terkandung dalam naskah, bentuk sosialisasi nilai-nilai agama, dan mengetahuipersepsi masyarakat terhadap sosialiasi naskah tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di Propinsi Sulawesi Selatan denganmemilih tiga kabupaten sebagai lokasi penelitian, yaitu Kabupaten Gowa, Takalar, dan Jeneponto. Untuk memperoleh datadalam penelitian ini, digunakan studi pustaka, wawancara dan observasi. Analisis naskah dilakukan terhadap naskah-naskahyang dipilih sesuai cara kerja filologi, yaitu deskripsi naskah, transiliterasi dan terjemahan naskah, dan analisis isi naskah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa naskah-naskah kuno masih banyak terpelihara di tengah-tengah masyarakat, variasibentuk naskah Kitta Kana-Kananna Alio Ribokowa cukup banyak meskipun isinya pada dasarnya tetap sama, yaitu tentangNur Muhammad, penciptaan Adam, kematian, kiamat, Neraka, dan Surga. Nilai-nilai agama yang terkandung dalamnaskah adalah tentang keimanan, terutama tentang kematian dan hari akhirat, ancaman siksa Neraka dan janji kenikmatanSurga mendorong penciptaan kehidupan yang baik di dunia. Naskah ini masih relevan disosialisasikan dalam kehidupanmasyarakat. Bentuk sosialisasi naskah dilakukan dalam bentuk penyalinan, peminjaman, pembacaan,
PEMBERDAYAAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN ATTARBIYATUSSAKILAH KOTA KENDARI Abd. Kadir M.
Al-Qalam Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.984 KB) | DOI: 10.31969/alq.v21i2.226

Abstract

Penelitian ini mendiskripsikan berbagai kegiatan keterampilan dalam pemberdayaan santri yangdilakukan oleh Pondok Pesantren Attarbiyatussakilah dan menggambarkan peluang dan tantanganprospek pengembangannya. Dengan metode kualitatif, temuan penelitian menunjukkan bahwa PondokPesantren Attarbiyatussakilah melaksanakan dan mengembangkan berbagai macam keterampilanmelalui kegiatan kurikuler dan ekstra kurikuler dengan melibatkan pimpinan, pembina, dan santripesantren serta masyarakat di sekitar pesantren. Jenis kegiatan pemberdayaan yang dilakukan dandikembangkan oleh pesantren disesuaikan dengan kondisi lingkungan, sarana dan prasarana, dankemampuan yang dimiliki pesantren. Kegiatan dan pengembangan pemberdayaan memiliki prospekyang sangat urgen dalam pembekalan keterampilan bagi santri, penunjang kehidupan santri dalamkehidupan di pesantren, dan merupakan potensi sumber dana dalam pengelolaan pesantren.
JIHAD versi SISWA abd kadir ahmad
Al-Qalam Vol 22, No 2 (2016)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.273 KB) | DOI: 10.31969/alq.v22i2.313

Abstract

Pemahaman terhadap jihad oleh sebagian orang Islam lebih identik dengan tindak kekerasan, meskipun tidak sedikit umat Islam yang membahami jihad secara universal. kontroversi pemaknaan jihad yang diakibatkan oleh pernyataan-pernyataan dan bahkan kelakuan sebagian orang Islam telah menjadikan konsep jihad semakin membingungkan dan simpang siur, terutama pada era modern sekarang ini. Akibatnya pemahaman jihad menjadi warisan bagi generasi pelajar atau siswa di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan yang diberikan oleh siswa mengenai jihad? Apakah pemaknaan jihad tersebut terkait dengan pemahaman tentang kekerasan atas nama agama? Dengan demikian, penelitian ini bertujuan memahami bagaimana siswa mengonstruksi pemahaman tentang jihad termasuk pandangan mereka terhadap tindak kekerasan atas nama agama. Penelitian ini dilakukan di Ternate dan Makassar. Kedua daerah ini memiliki sejarah kekerasan bernuansa agama. Makassar dengan kasus peledakan bom terhadap  sasaran yang dikaitkan dengan simbol kapitalisme global (khususnya AS) dan Ternate dengan sejarah konflik berdarah. Hasil penelitian bagian terbesar (63 persen) pemahaman siswa mengenai jihad bersifat puritanisme (fundamentalis sampai ekstrim). Sementara hanya sebagian kecil (18 persen) yang dapat dimaknai sebagai moderat (inklusif). Untuk kedua komunitas, kecenderungan puritanisme lebih kuat di kalangan siswa Ternate (70 persen) dan pandangan moderat hanya 13 persen. Sementara siswa di Makassar, meski tetap didominasi pemaknaan puritanisme (52 persen), kecenderungan pandangan moderat tidak terlalu rendah (27 persen). Pemaknaan siswa tentang jihad pada daerah kasus  didominasi oleh pandangan yang sempit dan lebih mengarah kepada pengertian qital. Hal itu dipahami dari penggunanaan term-term makna jihad sebagai perjuangan, pengorbanan, perang, mati syahid dan pembelaan agama (Islam). Hal ini berbeda dengan prinsip jihad sebagaimana dipahami dari Alquran dan tradisi Nabi. Tidak ada korelasi yang signifikan antara pemahaman jihad dengan sumber-sumber belajar siswa, termasuk sekolah. Hal ini dapat dipahami sebagai lemahnya peran sekolah dalam memberi pemahaman tentang ajaran Islam yang amat sentral tersebut. Pemahaman tentang jihad, dengan demikian, lebih ditentukan oleh konstruksi sosial. 
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DI MAN MODEL MANADO Rosdiana Muas
Al-Qalam Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.871 KB) | DOI: 10.31969/alq.v20i2.194

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pendidikan karakter pada tataran sosialisasiyang dilakukan baik oleh Kemenag (Mapenda), Diklat Keagamaan Manado, Pengawas Madrasah, danMAN Model Manado, serta proses pengimplementasian pendidikan karakter, faktor pendukung danpenghambat dalam pengimplementasiannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi padatataran pengambil kebijakan telah dilakukan, pendidikan karakter telah diintegrasikan pada kurikulummelalui mata pelajaran dan kegiatan pengembangan diri (ekstrakurikuler). Di antara kendala dalampendidikan karakter yakni kesiapan guru dalam teknik impelementasi pendidikan karakter masih sangatkurang serta wadah guru untuk mengkomunikasi berbagai hal termasuk pendidikan karakter secarateknis sangat diperlukan untuk menjalin jejaring kerja antar guru dan antar lembaga. Peningkatankompetensi guru menjadi keharusan mengingat pentingnya pendidikan budaya dan karakter bagisiswa, baik dalam bentuk diklat, workshop, atau seminar.