Al-Qalam
Al-Qalam Jurnal Penelitian Agama dan Sosial Budaya adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan 2 edisi dalam setahun oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar. Terbit sejak tahun 1990. Fokus Kajian Jurnal berkaitan dengan penelitian Agama dan Sosial Budaya. Lingkup Jurnal meliputi Bimbingan Masyarakat Agama dan Layanan Keagamaan, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Naskah keagamaan Kontemporer, Sejarah sosial keagamaan, Arkeologi religi, Seni dan Budaya Keagamaan Nusantara.
Articles
662 Documents
BERTAHAN MELALUI PERBUDAKAN: Sejarah Alternatif Tanah Merah
Taufik Ahmad
Al-Qalam Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (89.246 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v19i1.224
Pergeseran politik dari rezim orde baru ke era reformasi pada dasarnya telah memberi ruang gerak lebihluas kepada ilmuwan sosial terutama sejarawan untuk melakukan berbagai penelitian, termasuk temapenelitian yang secara politik sensitif pada masa orde baru. Sejarah tahanan politik yang dilihat dariberbagai perspektif di berbagai daerah mulai mendapat perhatian dan pelan-pelan menjadi alternatifdari sejarah orde baru cendrung militeristik. Sejarah dari mereka yang tidak memiliki sejarah (peoplewithout history) pada masa orde baru telah mendapat ruang di era reformasi. Tukisan ini mencobamenganalisis sejarah alternatif Tanah Merah (Mongcongloe, Sulawesi Selatan). Melalui pengalamansehari-hari (daily experiences) masyarakat tahanan politik dalam kamp pengasingan yang mencobabertahan hidup di bawah perbudakan militer, artikel ini menangkap trayektori sejarah dari prosesdialektika antara kontrol militer orde baru di kamp tahanan Tanah Merah dengan respon yang diberikanoleh masyarakat tahanan politik selama 1965-1978. Ada interelasi hubungan yang dinamis, berfluktiatif,saling memberi pengaruh dari satu periode ke periode lainnya antara kontrol militer dengan responmasyarakat tahanan politik.
HUBUNGAN MASYARAKAT JAWA TONDANO DENGAN MINAHASA
Wardiah Hamid
Al-Qalam Vol 20, No 3 (2014)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (53.606 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v20i3.345
Kiyai Mojo dan para pengikutnya, sebagai pendiri awal kampung Jawa Tondano, sebelumnya merekatergabung dalam Perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825-1830. Perang ini amat merugikandan menyulitkan kompeni Belanda, sehingga mereka menggunakan kebijakan mengasingkan parapejuang yang tertangkap ke berbagai daerah. Salah satu wilayah pengasingan adalah daerah TondanoMinahasa. Para mantan pejuang ini kemudian membentuk komunitas Islam Jawa Tondano di Minahasa.Persoalannya, bagaimana hubungan antar masyarakat Jawa Tondano dan masyarakat Minahasa?Penelitian ini dapat mengungkap secara spesifik sejarah hubungan antara masyarakat Kampung JawaTondano yang Islam dan masyarakat Minahasa yang Kristen, beserta perubahan sosialnya. Penelitianyang menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah dan sosiologi ini telah menunjukanbahwa sejak awal hubungan antara Islam kampung Jawa Tondano dan masyarakat Kristen Minahasatelah harmonis melalui perkawinan, kekerabatan, dan menjadikan lahan mata pencarian sawah sebagairuang sosial bersama perjumpaan antara dua komunitas yang berbeda itu.
PENCARIAN OTENTISITAS DIRI KOMUNITAS MU’ALLAF DI KABUPATEN SORONG PAPUA BARAT
Munawir Haris
Al-Qalam Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (127.803 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v20i2.192
Konversi agama jelas bukan masalah sederhana di tanah Papua. Perpindahan agama yang dilakukankomunitas mu’allaf membawa berbagai reaksi keras dari berbagai pihak, temasuk oknum aparat danpemerintah daerah. Keputusan untuk pindah agama ke dalam Islam, tidak semata-mata lahir darihidayah Allah, tetapi ada banyak faktor yang mendasarinya. Faktor-faktor penyebab konversi antaralain: starifikasi sosial, budaya, dan tradisi yang dekat dengan kebiasaan mereka. Faktor budaya yangmelekat, pada suku Abun dengan Islam menjadi faktor dominan mereka melakukan konversi. Dalampenelitian diungkapkan, bahwa sebenarnya budaya yang berkembang di masyarakat Abun lebih dekatdengan Islam. Data menujukan: pertama Islam adalah agama yang pertama kali masuk di daerahTambraw, dibawa oleh Sultan Tidore dari Ternate. kedua faktor guru spiritual yang bertempat tinggaldi gunung disakralkan oleh masyarakat setempat. ketiga faktor hidayah dari Tuhan juga menjadi bagiandari konversi agama yang dilakukan oleh komunitas mu’allaf suku Abun. Penelitian ini menggunakanparadigma analisa kritis, serta menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan konstruksi sosial.Dengan beberapa informan yang dipilih berdasarkan kategori yang ditetapkan peneliti, terutamamereka yang melakukan ikrar di Kemenag Kab.Sorong. Tekhnik pengumpulan data dilakukan dengancara wawancara mendalam dengan sejumlah tokoh peniting. Hasil dari penelitian ini menunjukkanperpindahan agama yang dilakukan mu’allaf melalui tiga proses dialektika yakni, secara personal(individual), kelompok degan mengajak keluarga, dan masuk Islam dengan menyembunyikan identitaskeislaman. proses perpindahan mu’allaf yang terjadi berawal dari pencarian jati diri keagamaan, yangmendapatkan masukkan dari lingkungan obyektifnya.
PELAYANAN KEMENTERIAN AGAMA TERHADAP PENGANUT AGAMA BUDDHA DI KOTA PAREPARE SULAWESI SELATAN
Abd. Shadiq Kawu
Al-Qalam Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.192 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v19i2.152
Penelitian ini adalah penelitian yang menelusuri pelayanan Kementerian Agama kepada penganutagama Buddha di Kota Perepare, Sulawesi Selatan. Penelitian ini berfokus pada tiga masalah penelitian,yaitu; bagaimana pelayanan kementerian agama terhadap penganut agama Buddha, faktor-faktoryang mempengeruhi kualitas pelayanan, dan tanggapan tokoh agama dan tokoh masyarakat terhadappelayanan yang diberikan kepada penganut Buddha. Penelitian ini menggunakan metode kualitatifdengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis datadengan metode deskriptif-analitis. Pelayanan yang diberikan kepada umat Buddha di Kota Pareparedalam bidang penyiaran agama, yaitu dengan menyediakan tiga tenaga penyuluh agama, satudiantaranya adalah penyuluh agama yang berstatus PNS. Pelayanan dibidang penidikan agama adalahbantuan dari kanwil kemenag Sulsel berupa bantuan kepada dua Sekolah Minggu Buddhis yang ada diKota Parepare. Pelayanan dalam hal tempat ibadah, adalah pemberian rekomendasi dan izin pendirianvihara. Faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan adalah problem minimnya jumlah SDM selakustake holder pemberi layanan, tidak adanya alokasi anggaran untuk pelayanan keagamaan kepadapenganut agama Buddha oleh kementerian agama Parepare, tidak adanya struktur penyelenggara bimasagama Buddha di lingkungan kemenag kota Parepare, dan tidak adanya sarana dan pra sarana yangmenunjang maksimalisasi penyelenggaraan pelayanan yang diberikan kepada penganut agama Buddha.Tokoh agama dan tokoh masyarakat menyoroti mnimnya pemberian pelayanan terhadap penganutagama Buddha di Parepare.
THE BELIEF SYSTEM OF THE PEOPLE OF KAJANG: A PERSPECTIVE IN RELIGION ANTHROPOLOGY Sistem Kepercayaan orang Kajang dalam Perspektif Antropologi Agama
Basrah Gising
Al-Qalam Vol 17, No 1 (2011)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.406 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v17i1.103
Indigenous peoples of Kajang is an indigenous community that inhabit Kajang subsdistrict in Bulukumbaregency in South Sulawesi province. They adopt a belief system that called Jenne'Talluka'and SambajangTattappu. Jenne talluka means ablution water that never canceled, while sambajang tattappu meansalways remembering the God almighty oneKajang Indigenous peoples, especially those inhabited inside kajang (inside Embayya) still embrace andkeep up the belief system as mention above until now. Almost all of them do not carry out and shari'aandthe pillars of the Islam: uttering syahadat (confession) words, establishing prayer five times andthe Sunnah, fasting in Ramadan month, contribute to zakat, and fulfilling hajj worship.I use the Anthropology of Religion approach to study the belief system of such Kajang community.Through this approach, I will be focusing on a system of worship and religious behavior of Kajang indig-enous peoples.
PERANAN SYARA' DALAM PROSES ALIHPERAN KB MANDIRI DI KABUPATEN GOWA
Abdul Kadir Ahmad
Al-Qalam Vol 4, No 1 (1992)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (39.114 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v4i1.649
Penelitian ini dilakukan di tiga kecamatandalam Kabupaten Gowa, masingmasingKecamatan Sombaopu, Pallanggadan Bontonompo. Kecamatan yang disebutkanpertama merupakan wilayah kotasesuai dengan posisinya sebagai ibukotakabupaten dan berbatasan langsung dengankotamadya Ujung Pandang; sementara duakecamatan lainnya termasuk wilayah pedesaan.Namun demikian, polarisasi initidaklah ekstrim secara kultural, sebab sulituntuk memberikan pembatasan antara "kota"dan "desa" ketika proses transfonnasi budayaberjalan hampir secara masal di kawasanmanapun pada era moderen sekarang ini.
NILAI LOKAL JOU SE NGOFANGARE SEBAGAI BASIS KERUKUNAN MAS YARAKAT TERNATE, MALUKU UTARA
la sakka
Al-Qalam Vol 13, No 2 (2007)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (86.192 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v13i2.567
This research was conducted in Ternate, North Maluku. This researchaims to describe the local value jou se ngofangare as basic on socialconstruction in Ternate society. This uses qualitative method, wheredata was collected by depth interview. Then, data was analyzed bydescriptive qualitative.This research indicates that this jou se ngofangare consists severalprinciples are: adat se torang (regulation of social relation), galib selakudi (power distribution), sere se duniru (regulation of God), cing secingare (God supervision), bobaso se rasai (care to other man suffering),cara se ngale (God way), loa se banar (right act), and bari (workingtogether). This local value is very important in maintaining thesocial relation among Ternate people that very plurals
UMAT MINORITAS DALAM PELAYANAN KEMENTERIAN AGAMA: Menyasar Penganut Agama Budha di Kota Jayapura Provinsi Papua
Abd. Kadir Rahman
Al-Qalam Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.748 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v20i1.215
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peran Kementerian Agama Kota Jayapuradalam melakukan pelayanan terhadap penganut agama minoritas, salah satu diantaranya adalahpenganut agama Buddha. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Tehnik Penjaringandata menggunakan wawancara mendalam dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwaKementerian Agama Kota Jayapura melakukan pelayanan terhadap penganut agama Buddha dalambentuk bantuan pembangunan dan renovasi rumah ibadah; pelaksanaan pendidikan; dan penyiaranagama.
ARADIGMA FIQH AL-HADITS TERHADAP PERILAKU POLITIK KONTEMPORER
Darsul S Puyu
Al-Qalam Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (226.134 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v22i1.268
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena kampanye politik kontemporer di Kota Makassar dalam bingkai paradigma fiqh hadis, sebagai salah satu parameter fiqh siyasi dalam disiplin politik Islam (al-siyasat al-syar’iyyah). Dengan memanfaatkan metode kualitatif sebagai piranti, peneliti sebagai instrumen utama menggunakan teknis purposeful sampling dalam memilih informan yang qualified memberikan data terkait realitas perpolitikan saat ini, penelitian ini dikombinasikan dengan studi literatur terkait dengan nash-nash hadis yang mengafirmasi perilaku politik. Penelitian ini menemukan fakta bahwa aktivitas politik praktis saat ini masih kerap diwarnai perilaku politik yang mendistorsi fatsoen politik adiluhung, fenomena tersebut sangat vulgar baik dalam bentuk kampanye dan janji politik yang disampaikan para capres dan caleg yakni secara vulgar menyampaikan pernyataan dan meminta agar dirinya dipilih. Mereka juga menyampaikan janji-janji politik yang belum tentu sanggup direalisasikan saat berkampanye. Tidak jarang dari ajang kampanye tersebut para caleg melakukan politik uang, yang mengakibatkan terjadinya praktik KKN bila mereka telah terpilih nanti. Hadis-hadis yang diteliti dalam penelitian ini lebih banyak yang berstatus ahad, di samping ada yang mutawatir. Dari segi kualitasnya, semua hadis-hadis yang diteliti, otentik berkualitas shahih li dzatihi.
REALITAS PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU PADA TINGKAT SD DI KOTA PEKALONGAN JAWA TENGAH
A.M. Wibowo
Al-Qalam Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (91.026 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v20i2.183
Penelitian ini berusaha menemukan pola-pola proses pendidikan Agama Khonghucu bagi peserta didiksekolah dasar di Kota Pekalongan Jawa Tengah. Proses pendidikan yang dimaksud meliputi kurikulumpendidikan agama Khonghucu, kompetensi guru, proses pembelajaran, serta hambatan-hambatanpelaksanaan pendidikan agama Khonghucu di sekolah dasar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatifpenelitian ini berhasil menemukan 4 pola pelaksanaan pendidikan agama Khonghucu pada jenjangsekolah dasar. Pertama, pendidikan agama Khonghucu telah dilaksanakan pada dua sekolah dasar yaituSDN Sampangan 02 dan SD Satyawiguna. Kedua, secara kualifikasi akademik dan standar kompetensi gurupendidikan agama Khonghucu belum mengacu dengan dipersyaratkan pemerintah dalam permendiknasNo 16 tahun 2007 tentang kompetensi guru. Ketiga, kurikulum pendidikan agama Khonghucu yangdilaksanakan pada sekolah dasar di Pekalongan menggunakan kurikulum yang disusun oleh Majelis TinggiAgama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) dan tidak mengacu KTSP. Keempat, ditemukan enam faktorpenghambat dalam pelaksanaan pendidikan agama Khonghucu pada tingkat sekolah dasar yaitu kualifikasiguru, perangkat pembelajaran yang tidak memadahi, proses pembalajaran yang monoton, ketidakmampuanguru pendidikan agama Khonghucu untuk bergaul dan sharing pendapat dengan pimpinan dan temansejawat, monitoring pimpinan sekolah dan Majelis agama Khonghucu (MAKIN) yang belum maksimal,serta ketiadaan buku pelajaran bagi siswa Khonghucu.