cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 21 No. 3 (2020): Desember" : 6 Documents clear
Asketisme Perempuan Jawa Dalambayang Hedonisme Priayi Surakarta (Abad XIX- Awal Abad XX) Wardhana, Adi Putra Surya; Farokhah, Fiqih Aisyatul
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 3 (2020): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.311

Abstract

Tujuan penelitian mengkaji diskursus asketisme perempuan Jawa dalam bayang hedonisme priayi Surakarta abad XIX sampai awal abad XX. Dalam beberapa naskah Jawa yang ditulis pada abad XIX hingga awal abad XX, perempuan Jawa dikonstruksi untuk hidup asketis. Sementara itu, priayi laki-laki dan penguasa tradisional Surakarta gemar merayakan kehidupan hedonismenya. Oleh sebab itu, ada beberapa permasalahan yang dibahas. Pertama, menganalisis kondisi sosial-politik di Surakarta abad XIX sampai awal abad XX yang mempengaruhi penyebarluasan diskursus asketisme perempuan Jawa; kedua, mengkaji hedonisme elit istana yang dirayakan di atas asketisme perempuan Jawa; ketiga, manganalisis motivasi tindakan dari konstruksi diskursus asketisme perempuan Jawa pada abad XIX hingga awal abad XX. Metode sejarah digunakan untuk menganalisis topik utama penelitian. Hasil penelitian menunjukkan, penguasa tradisional di Surakarta mengalami kekalahan secara politik terhadap pemerintah kolonial Belanda. Hedonisme dirayakan di atas kontruksi asketisme perempuan Jawa dalam naskah-naskah piwulang estri sebagai pelampiasan atas kekalahan tersebut. Naskah-naskah piwulang estripun marak diproduksi dan direproduksi pada abad XIX – XX. Motivasi tindakan dalam konstruksi asketisme perempuan Jawa adalah untuk meraih kemenangan atas tubuh, hati, dan pikiran perempuan. Namun, perempuan Jawa pandai bernegosiasi sehingga mereka merebut ruang-ruang kekuasaan pada rumah tangga, ekonomi, dan ranjang.
Menambang Kali Brantas: Dari Krisis Menuju Jalan Keluar nawiyanto, nawiyanto; Krisnadi, IG; Endrayadi, Eko Crys; Handayani, Sri Ana; Salindri, Dewi; Calvaryni, Nina Mutiara
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 3 (2020): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.312

Abstract

Artikel ini membahas penambangan pasir di Sungai Brantas yang semula bermanfaat berubah menjadi ancaman dan diharapkan dapat lebih memperkaya historiografi sungai yang sejauh ini lebih banyak menyoroti sungai sebagai pusat peradaban, sumber bencana, dan pencemaran. Dengan bersandar pada sumber arsip, surat kabar sejaman, dan wawancara, diargumentasikan bahwa krisis sungai Brantas terjadi seiring akselerasi panambangan pasir, yang dipicu tumbuhnya permintaan galian pasir untuk pembangunan kota dan difasilitasi oleh penggunaan teknologi modern berupa mesin penyedot pasir mekanis. Penambangan pasir mekanis menimbulkan kerusakan infrastruktur dan pemukiman di berbagai tempat di sepanjang sungai dari wilayah hilir yang terus merambat ke hulu, serta hilangnya kekayaan keragaman hayati. Upaya mencari solusi telah berlangsung lama, namun gagal menghentikan penambangan dan membawa Sungai Brantas keluar dari krisis. Kegagalan terjadi bukan karena ketiadaan payung hukum, melainkan sulitnya implementasi regulasi di lapangan akibat keterlibatan oknum aparat dan politisi dalam bisnis pasir Brantas, serta godaan keuntungan besar secara mudah dan cepat dari menambang di tengah keterbatasan alternatif pekerjaan yang tersedia.
Pela, Gandong dan Plural Social Capital: Analisis Kapasitas Modal Sosial dalam Membangun Integrasi Sosial Masyarakat Ambon Purwana, Bambang Hendarta Suta
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 3 (2020): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.313

Abstract

Ambon menjadi panggung kekerasan yang paling mengejutkan yang pernah terlihat di Indonesia sejak pembantaian antikomunis 1965/1966. Perang agama telah menjadikan Ambon sebagai kota yang dikotak-kotakkan baik secara fisik maupun mental. Masyarakat Ambon bersifat plural terdiri dari berbagai kelompok sosial seperti komunitas-komunitas anak negeri Maluku, anak dagangatau pendatang dari luar Maluku dan agama yang berbedabeda. Peladan gandongmerupakan lembaga adat anak negeriMaluku untuk membangun integrasi sosial mereka. Ketika konflik Ambon berlangsung dengan massif diupayakan perdamaian melalui adat peladan gandong. Temuan dari studi ini menunjukkan bahwa, peladan gandonghanya efektif berlaku bagi sesama anak negeri Maluku yang terikat perjanjian dalam adat pela dan gandong. Masyarakat Ambon yang plural memerlukan plural sosial capital sehingga terbentuk relasi-relasi sosial antar kelompok yang beragam untuk membangun kehidupan sosial yang harmonis. Sumber utama data dalam artikel ini, catatan penelitian lapangan tahun 2012, studi literatur dan dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif.
Tak Selalu Menjadi “Dari Timur Ke Barat”: Model Basalla Dan Pengetahuan Pertanian Dihindia Belanda (1817-1942) Basuki, Irawan Santoso Suryo
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 3 (2020): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.314

Abstract

Tulisan ini menyelidiki bagaimana pengetahuan pertanian diproduksi dan disirkulasikan di Hindia Belanda (1817-1942). Seluruh proses penulisan, dari pengumpulan data hingga analisis dari tulisan ini menggunakan metode sejarah. Tulisan ini membuktikan bahwa Model Basalla, yang mengatakan bahwa pengetahuan modern dimulai di Barat dan kemudian didifusikan ke wilayah lain (koloni) secara satu arah serta menempatkan orang-orang nonEropa sebagai pihak yang pasif menerima, benar secara sebagian. Pada mulanya, di Hindia Belanda, pengetahuan hanya dikembangkan oleh para ilmuwan Eropa. Sirkulasi sebagian besar merupakan proses satu arah. Pergeseran akhirnya terjadi selama periode Politik Etis, yang dipromosikan sebagai “kolonialisme yang layak.” Meskipun kebijakan tersebut memasukkan pendidikan sebagai salah satu tujuan utamanya, pemerintah tidak memiliki rencana untuk meningkatkan peran intelektual penduduk koloni sebagai produsen pengetahuan. Tulisan ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan pertanian disebarkan melalui lahan demonstrasi, sekolah pertanian, Departemen Pertanian yang baru didirikan, dan publikasi resmi dari Layanan Informasi Pertanian. Dapat dilihat dengan jelas bahwa penduduk lokal tetap menjadi kelompok pasif dalam sebagian besar proses ini.
Kultus Hanuman: Pembawa Hujan dalam Naskah Merapi-Merbabu Sumarno, Sumarno; Anjani, Anggita; Agusta, Rendra
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 3 (2020): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.315

Abstract

Hanuman adalah sosok yang dipuja cukup lama dalam tradisi Jawa Kuna. Dalam beberapa arca, Hanuman digambarkan sebagai sosok yang membawa keselamatan dan kedamaian. Selain itu, dalam kisah pewayangan Jawa baik Ramayana maupun Mahabarata, Hanuman juga dikenal sebagai ksatria-pandita. Ia berusia panjang dan terlibat dalam berbagai pertempuran baik dari perang Alengka, Bratayuda, sampai pertikaian keluarga Yawastina dan Mamenang. Dalam khazanah naskah Merapi-Merbabu ditemukan mantra pemanggil hujan yang secara khusus mengkultuskan tokoh Hanuman sebagai pembawa hujan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan metode gabungan antara filologis dan etnografis untuk membahas hubungan teks-teks Merapi Merbabu terkait tokoh Hanuman. Selanjutnya, pembahasan teks diolah dengan data etnografis terkait ritual pemanggilan hujan yang masih berlangsung di kawasan Merapi-Merbabu dan keterkaitannya terhadap teks tentang teks Hanuman Merapi-Merbabu dan catatan yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Secara keseluruhan teks Darmawarsa berisi tentang perjalanan Sang Prtajala dan Sang Hyang Darmawarsa dalam mencapai anugrah dari Batara Guru. Dalam teks Darmawarsa ditemukan mantra terkait Hanuman sebagai sosok pembawa hujan. Relasi teks terkait sosok Hanuman yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai pembawa hujan dan angin saat ini masih ditemukan pada masyarakat lereng Merapi-Merbabu. Perubahan kepercayaan masyarakat membuat ritual meminta hujan mengalami perubahan ke dalam bentuk baru yang disesuaikan dengan agama yang berkembang.
Ngèngèr (Suatu Model Pendidikan Karakter) Mudjijono, Mudjijono
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 21 No. 3 (2020): Desember
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.316

Abstract

Banyak pemahaman konsep kebudayaan yang dikemukakan oleh berbagai pemikir kebudayaan, satu di antaranya konsep kebudayaan yang lebih menekankan pada kebudayaan intangible. Pemahaman kebudayaan seperti itu sangat pas untuk mengkaji berbagai kebudayaan pada tataran nilai budaya, misalnya terkait pendidikan karakter, mengingat objek penelitian itu ada pada alam pikir. Pemahaman dan pembahasan pendidikan karakter pada anak merupakan hal yang sangat penting mengingat hal itu akan menjadi pondasi dan pegangannya dalam menjalani kehidupan di kelak kemudian hari. Berbagai pemikiran banyak yang menawarkan model pendidikan karakter. Hal itu memunculkan pemikiran, model pendidikan karakter yang bagaimana yang baik untuk diterapkan ? Walaupun sudah ada berbagai pemikiran dan semuanya sangat baik, namun masih ada satu pemikiran yang patut untuk dicermati, yakni ngèngèrsebagai sebuah agen pendidikan karakter. Ngèngèrdiartikan sebagai ngabdi, meloe marang wong liya dadi batoer. Dalam menjalani ngèngèrada ilmu yang didapat yang dapat dipergunakan untuk pegangan dalam menjalani hidup. Ada beberapa sekolah yang sangat cerdas mengaplikasikan konsep ngèngèrdalam kurikulum pendidikan sekolah, yaitu live in provesidan live in social. Pengamatan, wawancara, dan pustaka dilakukan untuk mencermati dan menggali pemahaman konsep di sekitar kehidupan dalam ngèngèr. Live in provesidan live in social diterapkan pada murid-murid SMA De Britto Yogyakarta denga menitipkan siswa pada penjual kerajinan dan tinggal bersama keluarga tukang sapu.

Page 1 of 1 | Total Record : 6