cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya
ISSN : 14115239     EISSN : 25984209     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
The Patrawidya appears in a dark gray cover with a papyrus manuscript. The Patrawidya Journal is published three times a year in April, August and December. The study of the Patrawidya Journal article is on the family of history and culture. The Patrawidya name came from a combination of two words "patra" and "widya", derived from Sanskrit, and became an absorption word in Old Javanese. the word "patra" is derived from the word "pattra", from the root of the term pat = float, which is then interpreted by the wings of birds; fur, leaves; flower leaf; fragrant plants fragrant; leaves used for writing; letter; document; thin metal or gold leaf. The word "widya" comes from the word "vidya", from the root vid = know, which then means "science". Patrawidya is defined as "a sheet containing science" ISSN 1411-5239 (print) ISSN 2598-4209 (online).
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol. 25 No. 1 (2024)" : 8 Documents clear
BANDAR KEMA:: JALUR ISLAMISASI DAN DOMINASI KOLONIAL (1824-1930) Zamzami, Rizal; Riyadi, Ahmad Syaf’i Mufadzilah; Azis, Muhammad Nur Ichsan
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.389

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis jalur islamisasi dan dominasi kolonial terhadap keberadaan Islam di Bandar Kema, Minahasa. Perkembangan islamisasi di Kema, tidak lepas dari aktivitas dan peran para penyebar Islam, baik ulama, pedagang, dan tokoh politik, sejak abad ke-19 M. Islamisasi di Bandar Kema mengalami signifikansi pada pertengahan abad ke-19, melalui relasi politik dan aktivitas niaga maritim. Metode sejarah yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan ilmu sosial yang menggunakan teori islamisasi dan pengaruh kolonisasi di kawasan tertentu. Jalur islamisasi di Bandar Kema berimplikasi pada terbentuknya masyarakat muslim yang mendiami daerah pesisir. Di sisi lain, dominasi kolonial juga berdampak munculnya kelompok-kelompok muslim yang berusaha mempertahankan keberadaan mereka di tengah pengaruh tersebut yang berhubungan langsung dengan kebijakan politik dan ekonomi.
DARI POLIKLINIK HINGGA RUMAH SAKIT : UPAYA MENYEHATKAN PEKERJA PERKEBUNAN DI MANGKUNEGARAN PADA 1914 -1930-AN Handayani, Rinda; Amini, Mutiah
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.407

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai upaya menyehatkan pekerja perkebunan yang dilakukan oleh Pemerintah Mangkunegaran pada 1914 hingga 1930-an. Dalam historiografi Indonesia, Mangkunegaran dikenal sebagai kerajaan yang mendulang kesuksesan di ranah ekonomi baik perkebunan maupun industri gula. Kemajuan di bidang industri mendorong pemerintah Mangkunegaran berupaya untuk menciptakan iklim sehat pada pekerja perkebunannya. Berdasarkan analisis dokumen yang ditemukan, penelitian ini membuktikan bahwa di Mangkunegaran telah terdapat layanan kesehatan seperti poliklinik dan rumah sakit yang dibangun di wilayah perkebunan dan industri perkebunan. Tulisan ini berfokus pada upaya yang dilakukan oleh pemerintah Mangkunegaran untuk menyehatkan pekerja perkebunan. Pekerja yang sehat dan produktif merupakan investasi modal para pengusaha perkebunan yang keuntungannya akan diperoleh melalui peningkatan produksi perusahaan. Simpulan penting dalam riset ini menunjukkan bahwa upaya menyehatkan pekerja perkebunan di Mangkunegaran selain sebagai upaya meningkatkan ekonomi juga sebagai strategi pemerintah Mangkunegaran untuk merespon modernisasi pada awal abad ke-20.
Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin in Islamic civilization at Sambas 1931-1943: restructuring of Islam government and infrastructure development Posha, Beti Yanuri
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.419

Abstract

The Islamic Kingdom of Sambas, known as Sambas Sultanate, was established on 10 Zulhijjah 1040 /10 July 1631. Sambas Sultanate was famous since the first Sambas Sultan, Sultan Muhammad Syafiuddin I (1631-1668), until the 15th Sultan of Sambas Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin (1931-1943). The purpose of this article is to review how the influence of Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin in 1931-1943 on the progress of contemporary Islamic civilization in Sambas area. This study uses historical method with steps: heuristics, verification, interpretation and historiography. The results showed that the influence of the Sultan was restructuring the Islamic government through aspects of renewing educational institutions, religious institutions, politics, and Islamic law. At the same time, infrastructure development, such as many major roads were expanded by the Sultan and even built two large bridges as a means of transportation for the people of Sambas which are used until now, as well as in the field of architecture renovating the palace and making the symbol of the Alwatzikubillah palace.
Pengelolaan Arsip Sejarah Kasultanan dan Kadipaten sebagai Perwujudan Keistimewaan Yogyakarta Urusan Kebudayaan Ramadhan, Ndaru
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.467

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana pengelolaan arsip sejarah Kasultanan dan Kadipaten dilakukan dan peran DPAD DIY dalam pengelolaan arsip sejarah Kasultanan dan Kadipaten. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan arsip sejarah Kasultanan sebagai perwujudan keistimewaan kebudayaan Yogyakarta di KHP Widya Budaya terkait pelestarian telah dilakukan secara mandiri, sedangkan pengelolaan arsip Kadipaten masih difasilitasi oleh DPAD DIY. Peran DPAD DIY adalah memfasilitasi pengelolaan arsip dan sumber daya manusia. Berdasarkan penelitian tersebut diharapkan Kasultanan, Kadipaten, dan DPAD DIY dapat bersinergi untuk mewujudkan keistimewaan kebudayaan Yogyakarta melalui pelestarian arsip-arsip bernilai sejarah yang ada di Kasultanan dan Kadipaten.
Cunggrang Inscription Site in Pasuruan Regency as a History Learning Source Maulana, Wildhan Ichzha; Wijayanti, Finna; Fathurrahman, Fathurrahman; Fitriana, Imelda; Khairunnisa, Khairunnisa
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.471

Abstract

The purpose of this research is to analyze the potential and suitability of the Cunggrang Inscription as a history learning resource for high school students. This research uses the historical method which 4 stages, heuristics, verification, interpretation, and historiography based on a philological approach. The results showed that the Cunggrang Inscription has relevance to the basic competencies and indicators of class X senior high school history subjects that focus on social, cultural, religious, and government aspects during the Medang Kingdom period of East Java. The information contained in the Cunggrang Inscription helps students know several aspects of learning material on the history of the Medang Kingdom civilization (1) the division of government administrative areas; (2) the formation of special autonomous regions; (3) the structure of government bureaucracy; (4) the ancient Javanese dating system; and (5) Mount Penanggungan as an ancient Hindu spiritual landscape. Through the use of the potential of the Cunggrang Inscription, it can support teachers to create contextual and interesting history learning, so students’ understanding of the history of Hindu civilization, especially during the Medang Kingdom, becomes more comprehensive.
Patriotisme dalam Foto Majalah Merdeka Edisi Enam Boelan Indonesia Merdeka, 1946 Wardhana, Adi Putra Surya
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.472

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan kajian tentang narasi patriotisme dan wacana kemerdekaan 100% dalam foto majalah Merdeka edisi enam bulan Indonesia merdeka pada 1946. Beberapa permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah kon-disi foto jurnalistik masa awal revolusi, bentuk-bentuk narasi patriotisme dan wacana kemerdekaan 100% serta tujuan menyebarluaskan wacana tersebut dalam foto majalah Merdeka edisi enam bulan Indonesia merdeka. Penelitian ini menggunakan metode ana-lisis konten kualitatif dengan pendekatan sejarah untuk menganalisis foto jurnalistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa foto jurnalistik masa awal kemerdekaan mengalami banyak hambatan dan tantangan. Merdeka menjadi media massa yang mampu menerbit-kan foto jurnalistik. Majalah Merdeka menjadi media untuk menyebarluaskan narasi pat-riotisme dan wacana kemerdekaan 100% yang terkandung dalam foto jurnalistik. Dengan demikian, tujuan foto jurnalistik Majalah Merdeka adalah membangun spirit patriotik pembaca, memvisualisaikan perjuangan seluruh elemen bangsa, mengomunikasikan peran pemerintah pusat, dan mencitrakan relasi harmonis antara pemerintah pusat dengan militer Indonesia demi mewujudkan kemerdekaan 100%.
Surat Kabar Borneo Barat Shinbun Berbasis Digital History sebagai Sumber Belajar Sejarah Yafi, Reyhan Ainun; Maulana, Wildan Ichzha; Yuliantri, Rhoma Dwi Aria
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.475

Abstract

Sejauh ini surat kabar Borneo Barat Shinbun berbasis digital history masih belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pembelajaran sejarah oleh mayoritas guru sejarah di Kalimantan Barat, sebab adanya keterbatasan pemahaman mereka mengenai akses digital dari sumber teks tersebut. Adapun metode penelitian termasuk dalam kualitatif deskriptif dengan model studi kasus, sedangkan untuk tahapan pengumpulan data didasarkan pada observasi langsung, wawancara secara mendalam, serta dokumentasi dengan meninjau berbagai dokumen yang memiliki relevansi dengan topik penelitian. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) surat kabar Borneo Barat Shinbun ini sangat relevan dengan kompetensi dasar (3.5 & 4.5) untuk mata pelajaran sejarah wajib, kemudian (3.9 & 4.9) untuk mata pelajaran sejarah peminatan sebagai sumber pembelajaran sejarah. (2) Guru sejarah di Pontianak dan Kubu Raya belum mengoptimalisasikan surat kabar Borneo Barat Shinbun yang tersedia di laman digital collection Universitas Leiden. (3) Untuk mengenalkan surat kabar Borneo Barat Shinbun berbasis digital history secara luas kepada guru sejarah dapat dilakukan melalui pengadaan sosialisasi bertajuk forum group discussion.
Fungsi Kertas Ber-kop dan Makna Sengkalan dalam Manuskrip Kepangeranan di Yogyakarta pada Awal Abad ke-20 Saktimulya, Sri Ratna
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52829/pw.492

Abstract

Kertas berkop pada manuskrip kuno digunakan oleh para pangeran Keraton Yogyakarta pada kisaran tahun 1900-1920. Mereka menyalin teks dengan disertai sengkalan (penanda angka tahun yang disamarkan melalui kata dan memiliki makna khusus). Permasalahannya adalah untuk apa mereka memakai kertas berkop dan mengapa disertai sengkalan? Penelitian ini bertujuan menunjukkan fungsi kertas berkop dan makna sengkalan yang ditulis oleh para pangeran pengguna kertas berkop. Adapun pendekatan dan metode yang digunakan adalah filologis dan kodikologis. Melalui penelitian ini diketahui bahwa pengguna kertas berkop adalah para pangeran keturunan Hamengku Buwana VI yang melakukan penyalinan manuskrip pada masa Hamengku Buwana VII. Fungsi kertas berkop adalah sebagai afirmasi kepemilikan melalui penyebutan nama, jabatan,tempat tinggal, dan tahun cetak kertas. Adapun makna sengkalan pada teks yang ditulis di atas kertas berkop milik para pangeran Yogyakarta itu selain sebagai penanda tahun juga untuk menyamarkan kata hati atas peristiwa yang sedang dihadapinya.

Page 1 of 1 | Total Record : 8