cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 410 Documents
Cover, Editorial Team, Preface, Table of Contents & Abstract Redaksi Jurnal Papua
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1167.605 KB) | DOI: 10.24832/papua.v10i1.245

Abstract

DAMPAK PERANG DUNIA II TERHADAP BUDAYA MASYARAKAT BIAK TIMUR (Impacts of World War II in East Biak Society) Sonya M. Kawer
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (991.624 KB) | DOI: 10.24832/papua.v11i2.246

Abstract

World War II was very influential to the eastern region of Indonesia and had left many remains in the areas that became the center or the liaison area of its power. Biak Numfor is one of the important areas in the historical process. There are many relics in the form of former hiding places of caves, houses, attributes of war, money, dizziness, places to eat and medical devices. The problem is how is the form and function and influence on the local community? Qualitative research with interview, observation, and literature study techniques, tried to formulate a strategy of World War II heritage tracks. The hope, this research can be used as an educational material for the history of Papua during the colonial period. Besides being a historical site that needs to be preserved and preserved and or developed as a cultural tourism object. ABSTRAK Perang Dunia II sangat berpengaruh ke wilayah timur Indonesia dan telahmeninggalkan bany a k tinggalan di daerah-daerah yang menjadi pusatatau daerah penghubung kekuasaannya. Biak Numfor menjadi salah satudaerah penting dalam proses sejarah. Disana banyak peninggalan berupabekas tempat pesembunyian gua-gua,rumah, atribut perang, uang, pening,tempat makan dan alat-alat kesehatan. Permasalahnya, bagaimana bentukdan fungsi serta pengaruh pada masyarakat setempat? Penelitian kualitatifdengan teknik waw a ncara, observasi, dan studi pustaka, berusahamerumuskan strategi jejak peninggalan Perang Dunia II terhadap budayamasyarakat setempat. Harapannya, penelitian ini dapat digunakan sebagaibahan pendidikan sejarah Papua di masa penjajahan. Selain juga sebagaisitus bersejarah yang perlu dijaga dan dilestarikan dan atau dikembangkansebagai objek wisata budaya.
MISTERI RADAR DI BUKIT KAMPUNG BARUKI DISTRIK NUMFOR BARAT (Mystery of Radar in Baruki Village, West Numfor District) Suryo, Almuchalif
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.44 KB) | DOI: 10.24832/papua.v11i2.247

Abstract

Numfor Island is located in Cenderawasih Bay. Numfor Island is one of the strategic islands that were established by Japan and the Allies during the Pacific War. To protect Biak Island from the threat of enemy aircraft, the Dutch set up radar in West Numfor. From existing references that the Dutch put the MK IV type 15 radar made in England. This radar has a range of up to 200 NM. The need for socialization about the existence of this tower as a warissan cultural heritage protected by law, so that this tower does not disappear slowly without a trace. ABSTRAKPulau Numfor terletak di Teluk Cenderawasih. Pulau Numfor merupakan salah satu pulau yang strategis yang diperbutkan oleh Jepang dan Sekutu pada masa Perang Pasifik. Untuk melindungi Pulau Biak dari ancaman pesawat udara musuh, maka Belanda mendirikan radar di Numfor Barat. Dari referensi yang ada bahwa Belanda menempatkan radar jenis MK IV tipe 15 buatan Inggris. Radar ini memiliki daya jangkau sampai 200 NM. Perlunya sosialisasi tentang keberadaan tower ini sebagai warissan cagar budaya yang dilindungi oleh undang-undang, agar tower ini tidak hilang secara perlahan-lahan tanpa bekas.
BATU MAWE DI TELUK WONDAMA (Mawe Stone in Wondama Bay) Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.186 KB) | DOI: 10.24832/papua.v11i2.248

Abstract

There are quite a few megalithic interesting topics to studies. Megalithic cultural remains can be studied from all aspects. On this occasion the out her will examine the remain of the megalitithic culture of the mawe stone in the Roon district of Wondama Bay Regency, West Papua Province. This study uses an ethno-archaeological approach and a motodegy approach. The ethno-arhnographic data as analogy to obtain the community cultural model under study. In the end it can projeocted the extinect past culture can help solve archeological problems. While using the mythological approach is expected to be able to give a clear picture of how mythological stories can be received and read by the next generation. This research has been conducted in two stages, namely data collection and data processing. Data collection is done in save ral ways, namely survey, interview and conduct literature studies. The final stages is data processing aftet all the data collected is them described, analyteed, and interpreted. From the megalithic remains and mythology, valves that need to be conveyed to be the community and future generations can taken. the existence of this mythologis has an important rule, one of which is social and culture values. These values provide apicture and experience for the community. Thus the presence of megalithig culture with various valuable information is a starting point for archeological studies as a chan of megalithic culture in the archipelago. ABSTRAK Tinggalan megalitik di Papua cukup banyak merupakan topik yang menarik untuk dikajih. Tinggalan budaya megalit tersebut dapat dikajih dari segala aspek. Pada kesempatan ini penulis akan mengkaji tinggalan budaya mengalit dari aspek mitologi dan budaya di Papua. Yaitu tinggalan megalitik batu mawe yang berada di Kampung Manerbo, Distrik Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan etnoarkeologi dan pendekatan mitologi. Pendekatan etnoarkeologi memanfaatkan data etnografi sebagai analogi untuk memperoleh model kebudayaan masyarakat yang diteliti. Pada akhirnya dapat di proyeksikan kebudayaan masa lampau yang telah punah sehingga dapat membantu memecahkan masalah-masalah arkeologi. Sedangkan dengan menggunakan pendekatan mitologi diharapkan mampu memberikan gambaran secara jelas bagaimana kisah mitologi dapat diterima dan dibaca oleh generasi penerus. Penelitian ini pulah dilakukan dengan dua tahap yaitu pengumpulan data dan pengolahan data. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara yaitu : survei, wawancara dan melakukan studi pustaka. Tahap akhir adalah pengolahan data, setelah semua data terkempul kemudian dideskripsikan, dianalisis dan diinterpretasikan. Dari tinggalan megalitik dan mitologinya dapat diambil nilai-nilai yang perlu di sampaikan kepada masyarakat dan generasi penerus Keberadaan mitologi ini memiliki peran yang penting, salah satunya terkandung nilai, sosial, dan budaya. Nilai-nilai inilah yang memberikan gambaran dan pengalaman tersendiri pada masyarakat. Dengan demikian hadirnya budaya megalit dengan berbagai informasi yang sangat berharga ini sebagai titik tolak kajian arkeologi sebagai mata rantai budaya megalitik di Nusantara.
PERAWATAN WARISAN BUDAYA: MEMBANGUN MASA DEPAN BANGSA SEBUAH PENELITIAN PENDAHULUAN (Preservation of Cultural Heritage: Building The Future of The Nation a Preliminary Study) I Made Sutaba
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.494 KB) | DOI: 10.24832/papua.v11i2.249

Abstract

Indonesia is well known to all over the word as a very rich country of cultural heritage that spread all over the island. Among them, there are an important tangible and intangible archaeological heritage. As historical heritage, this cultural is a valuable source of pluralistic information of the past life of our ancestor. Learning his historical evident, there are remarkable problems that is impossible for me to study it now, for example problem of typology, function and so on. In this study we decided to learn only the preservation and protection of cultural heritage and its relevant relationship for building he future of the nation, which has not investigate yet until now. Facing the future, cultural heritage that bear a significant socio-cultural values are increasingly important for buiding the future of our nation. By studying the problems, this study aims is to predict the problems. To achieve this goals, the study through library research along with archaeological and SWOTS approach. The result show that preservation and protection of cultural heritage has an important relationshil for building the future of the nation.ABSTRAKIndonesia terkenal di seluruh dunia, adalah negeri yang kaya raya akan warisan budaya yang tersebar hampir di seluruh kepulauan. Di antara warisan budaya ini, terdapat cabar budaya yang tergolong tangible dan intangible. Sebagai bukti sejarah, warisan budaya ini adalah sumber informasi yang sangat berharga bersifat pluralistik mengenai kehidupan masa lalu nenek moyang kita. Mencermati bukti-bukti sejarah ini mengandung permasalahan yang tidak mungkin kami teliti dewasa ini, seperti masalah tipologi, fungsi dan lain-lainnya. Dalam penelitian ini, kami memutuskan hanya meneliti mengenai perawatan dan perlindungan warisan budaya dan relevansinya bagi pembangunan masa depan bangsa. Menghadapi masa depan, warisan budaya ini mengandung nilai-nilai sosial-budaya yang signifikan, menjadi semakin penting untuk pembangunan masa depan bangsa kita. Mempelajari permsalahan in, penelitian ini bertujuan untuk meneliti permasalahan ini. Untuk mencapai tujuan ini, penelitian dilakukan melalui kajian pustaka yang disertai dengan pendekatan arkeologi dan SWOTS. Hasil penelitian ini menujukkan, bahwa perawatan dan perlindungan warisan budaya mempunyai hubungan relevansi yang angat penting bagi pembangunan masa depan bangsa kita.
PEMANFAATAN SISTEM GAGASAN KOMUNITAS SKOUW SAE, KOTA JAYAPURA (The idea system within the Skouw Sae community, Jayapura City) Usman, La
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.611 KB) | DOI: 10.24832/papua.v11i2.250

Abstract

The idea system within the Skouw Sae community, Muara Tami District, Jayapura City plays an important role in fulfilling their basic needs. This study analyzes what kind of ideas system is found in the society. The data were processed using qualitative analysis. The results of the study found three types of ideas systems. The first, which is sourced from the knowledge in culture, such as: the knowledge that comes from the traditional house of tangfa, the position of the land in society, the work behavior, the money as the symbol of the head payment, the work behavior, the money as the symbol of the head payment, Hoo as a symbol of the regulation of natural resource utilization, prohibition of liquor, arisan education as a behavior support the completion of higher education, beads and money as a symbol of dowry, behavior in kinship, shamanism and the symbol of village administration. Secondly, which is based on beliefs and religions, such as: order or kati as a symbol of belief and parade of Easter and Christmas torches as a religious behavior. Third, sourced from sports, arts and ceremonies, such as sports, bajo dance, wo and mandep as a symbol of art and ceremonial behavior around the circle of life. ABSTRAKSistem gagasan dalam komunitas Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka. Penelitian ini menganalisis apa saja sistem gagasan yang terdapat pada masyarakat tersebut. Data diolah menggunakan analisis kualitatif. Hasil penelitian menemukan tiga jenis sistem gagasan. Pertama, yang bersumber pada pengetahuan dalam budaya, seperti: pengetahuan yang bersumber pada rumah adat tangfa, kedudukan tanah dalam masyarakat, perilaku kerja, uang sebagai simbol pembayaran kepala, perilaku kerja, uang sebagai simbol pembayaran kepala, Hoo sebagai simbol pengaturan pemanfaatan sumber daya alam, pelarangan minuman keras, arisan pendidikan sebagai perilaku mendukung penyelesaian pendidikan tinggi, manik-manik dan uang sebagai simbol mas kawin, perilaku dalam kekerabatan, perdukunan serta simbol pemerintahan kampung. Kedua, yang bersumber pada kepercayaan dan agama, seperti: tata atau kati sebagai simbol kepercayaan serta pawai obor Paskah dan Natal sebagai perilaku keagamaan. Ketiga, yang bersumber pada olah raga, kesenian dan upacara, seperti olah raga, tarian bajo, wo serta mandep sebagai simbol kesenian serta perilaku upacara sekitar lingkaran hidup.
Cover, Editorial Team, Preface, Table of Contents & Abstract Redaksi Jurnal Papua
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1055.013 KB) | DOI: 10.24832/papua.v11i2.251

Abstract

LEMBAH BESOA: TEKTONIK DAN SITUS (Besoa Valley: Tectonics and Sites) Intan, Muh. Fadhlan S.
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6254.232 KB) | DOI: 10.24832/papua.v10i2.252

Abstract

Besoa Valley (Poso, Central Sulawesi) has a lot of remains of megalithic culture, which has not been considered by environmental researchers, especially geoarchaeology. Thus, it is necessary to do surface geological mapping in general as one of the efforts to present geological information related to the Besoa Valley Megalithic site. The aim is to find out the geomorphological, stratigraphic and geological structures in the region. Research methods are carried out through literature review, surveys, field data analysis and interpretation. Environmental observations provide information about morphology, constituent rocks, and geological structures of the Besoa Valley. There are ten megalithic sites in the Besoa Valley. Tectonic activities and geological structures that trigger natural disasters are nine elements, one of which is the Palu-Koro Fault. The quite active tectonic plate shift in the Palu-Koro Fault, making the Megalithic region of the Besoa Valley, is prone to earthquakes. Geoarchaeological research in the Besoa Valley, will provide benefits in the knowledge of human wisdom at that time, in an effort to adapt to the conditions of the surrounding natural environment, where the Besoa Valley is an integral part of the Palu-Koro Fault.ABSTRAKLembah Besoa (Poso, Sulawesi Tengah) banyak menyimpan tinggalan budaya megalitik, yang selama ini belum diperhatikan oleh peneliti lingkungan, khususnya geoarkeologi. Dengan demikian, perlu dilakukan pemetaan geologi permukaan secara umum sebagai salah satu upaya menyajikan informasi geologi terkait dengan situs Megalitik Lembah Besoa. Tujuannya adalah untuk mengetahui aspek-aspek geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi di wilayah tersebut. Metode penelitian dilakukan melalui kajian pustaka, survei, analisis data lapangan dan interpretasi. Pengamatan lingkungan memberikan informasi tentang morfologi, batuan penyusun, dan stuktur geologi Lembah Besoa. Terdapat sepuluh situs megalitik di Lembah Besoa. Kegiatan tektonik dan struktur geologi yang memicu terjadinya bencana alam ada sembilan unsur, salah satunya adalah Patahan Palu-Koro. Pergeseran lempeng tektonik yang cukup aktif di Sesar Palu-Koro, membuat wilayah Megalitik Lembah Besoa, rawan terhadap gempa bumi. Penelitian geoarkeologi di Lembah Besoa, akan memberikan manfaat dalam pengetahuan tentang kearifan manusia pada masa itu, dalam upaya menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan alam sekitarnya, dimana Lembah Besoa merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Patahan Palu- Koro.
STUDI KASUS PATOLOGI GIGI: KARIES PADA RANGKA MANUSIA ST1, SONG TERUS, PACITAN, JAWA TIMUR ( Dental Pathology Case Study: Caries On ST1 Human Remains, Song Terus, Pacitan, East Java) Anita Tamu Ina; Dyah Prastiningtyas; Harry Widianto; Florent Détroit; Ferry Fredy Karwur; Andri Purnomo; Anne-Marie Sémah; François Sémah
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2137.762 KB) | DOI: 10.24832/papua.v10i2.253

Abstract

Human remains found in Song Terus (Pacitan, East Java), known as ST1, presented an opportunity of in-depth study in reconstructing how human lived during Early Holocene period in the area. This article focuses on palaeopathological aspects by examining lesions of disease observable in bones and dentition of human remains found in archaeological context. The research done for this article focuses more on dental remains, as teeth are known to have durability and longevity as archaeological finds, and could also provide information on age-at-death, types of diet, and oral diseases which may occurred during a person’s life. Dental caries is one of the most common type of oral disease found in archaeological context. Research methods used are macroscopic observation and literature reference comparison.. Results showed there were nine dentition on this individual (from a total of 27 identified dentition) suffered from caries with various degree of severity. Other types of oral disease noted during observation and analysis were periodontal disease. ST1 might have been suffering from severe caries due to lack of oral hygiene, as well as minimum dental treatment towards emerging oral disease. Nevertheless, these diseases did not seem to be directly caused by ST1’s dietary habit during lifetime. ABSTRAK Temuan rangka manusia ST1 di Song Terus (Pacitan, Jawa Timur) memberikan peluang untuk menelusuri lebih jauh pola kehidupan manusia pada periode Holosen Awal di wilayah ini. Artikel ini berfokus pada aspek paleopatologi yang merupakan salah satu kajian ilmu dalam menelusuri jejak kehidupan manusia di masa lalu melalui penyakit pada tulang dan gigi manusia yang ditemukan dalam konteks arkeologi. Materi penelitian dalam artikel ini menitikberatkan pada gigi manusia yang merekam informasi mengenai masa hidup seseorang, termasuk aspek-aspek perkiraan usia saat mati, jenis makanan yang pernah dikonsumsi, dan penyakit yang pernah diderita. Kasus patologi berupa karies menarik untuk diteliti sebab penyakit ini merupakan salah satu kasus yang umum ditemukan pada sisa rangka manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi makroskopis dan metode pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 27 gigi tersisa pada individu ST1, terdapat sembilan gigi yang terdeteksi mengalami karies dan beberapa gigi lain yang menderita penyakit periodontal. Karies pada individu ini tampak disebabkan oleh mikro-organisme yang berkembang di dalam mulut akibat minimalnya perawatan kesehatan gigi dan mulut, serta tidak berhubungan langsung dengan asupan nutrisi yang dikonsumsi oleh individu ini pada masa hidupnya.
PERSEPSI MASYARAKAT PEZIARAH TERHADAP MAKAM KERAMAT DI KABUPATEN LUWU UTARA (Perception of Pilgrim Toward Sacred Tomb in North Luwu) Ansaar
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.621 KB) | DOI: 10.24832/papua.v10i2.256

Abstract

The tradition of pilgrimage to old sacred tombs is a phenomenon that lives in the community that has been carried out for generations. Mystical beliefs based on traditions and beliefs that are based on rational thoughts, show the various kinds of beliefs of tomb pilgrims. Supernatural powers on tombs that are considered sacred can affect their perspective or perception of the unseen world which is considered to change their destiny and life. This study, in addition to aiming at giving an idea of the purpose and motivation of pilgrims visiting old sacred tombs, is also to find out the perception of the pilgrims to the sacred tombs. This research is descriptive qualitative with field data collection techniques. The results of the discussion showed that the purpose and motivation of pilgrims came to the sacred tombs, because there was a belief from them that visiting sacred tombs would get a blessing in accordance with their intended intentions and goals. Pilgrims who come to the tomb, each other also have different perceptions or views, depending on their goals and needs coming to the tomb. ABSTRAK Tradisi ziarah ke makam-makam tua yang dikeramatkan merupakan fenomena yang hidup di kalangan masyarakat yang telah dilakukan secara turun temurun. Kepercayaan mistis yang berbasis pada tradisi dan kepercayaan yang berdasar pada pemikiran-pemikiran rasional, menunjukkan berbagai macam kepercayaan para peziarah makam. Kekuatan supranatural pada makam-makam yang dianggap keramat dapat mempengaruhi cara pandang atau persepsi mereka terhadap dunia gaib yang dianggap dapat merubah nasib dan kehidupannya. Penelitian ini, di samping bertujuan memberi gambaran tentang tujuan dan motivasi peziarah mengunjungi makam-makam tua yang dikeramatkan, juga untuk mengetahui persepsi masyarakat peziarah terhadap makam-makam yang dikeramatkan itu. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data lapangan. Hasil pembahasan menunjukkan, bahwa tujuan dan motivasi peziarah mendatangi makam-makam keramat itu, karena ada keyakinan dari mereka bahwa mendatangi makam-makam keramat akan memperoleh berkah sesuai dengan niat dan tujuan yang dikehendaki. Peziarah yang datang ke makam itu, satu sama lain juga punya persepsi atau pandangan yang berbeda, tergantung dari tujuan dan kebutuhan mereka datang ke makam itu.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 More Issue