cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 410 Documents
PENINGGALAN JEPANG DI SARMI PAPUA [Japanese Remains in Sarmi Papua] nFN Saberia
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.876 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.215

Abstract

Sarmi is one of the areas Japan has made as its defense base in World War II. The purpose of this paper is to know the existence of Japan in Sarmi and the remnants of Japanese heritage located in Tanjung Batu Village, East Sarmi District Sarmi District. The method used in this paper is oral history and uses literature review. Remains of Japanese relics in World War II were found in Kampung Tanjung Batu, Sarmi proving that Japan was once in Sarmi.  ABSTRAKSarmi merupakan salah satu wilayah yang dijadikan Jepang sebagai basis pertahanannya pada Perang Dunia II. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui keberadaan Jepang di Sarmi dan sisa-sisa peninggalan Jepang yang terdapat di Kampung Tanjung Batu Distrik Sarmi Timur Kabupaten Sarmi. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah sejarah lisan dan menggunakan kajian pustaka. Sisa-sisa peninggalan Jepang pada Perang Dunia II ditemukan di Kampung Tanjung Batu, Sarmi yang membuktikan bahwa Jepang pernah berada di Sarmi.
SENI TATAH SUNGGING DESA KEPUHSARI SEBAGAI WARISAN BUDAYA DI KABUPATEN WONOGIRI [The Arts of Tatah Sungging Kepuhsari Village As A Cultural Heritage in Wonogiri Regency] Lilyk Eka Suranny
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.328 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.216

Abstract

The art of puppet making known in the community with tatah sungging art. In current society the tatah sungging art increasingly marginalized by the development era. This study used descriptive qualitative method. Initially tatah sungging art in the Kepuhsari village carried by a puppeteer named Ki Guno Wasito which was later revealed to posterity who subsequently developed in the community of Kepuhsari village. Tatah sungging art in the making of the puppet is a combination of the tatah (chisel) and sungging (coloring). The values contained in the tatah sungging art that is the economic values, moral / educational values, cultural and artistic value, historical value and cultural preservation. This values are deeply embedded in society  ABSTRAKSeni pembuatan wayang dikenal dimasyarakat dengan seni tatah sungging. Dalam masyarakat saat ini seni tatah sungging semakin terpinggirkan akibat perkembangan jaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai sejarah perkembangan seni tatah sungging di Desa Kepuhsari, teknologi pembuatan wayang kulit serta nilai-nilai yang terkandung dalam seni tatah sungging tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Awalnya seni tatah sungging di Desa Kepuhsari dibawa oleh seorang dalang bernama Ki Guno Wasito yang kemudian diturunkan ke anak cucunya dan selanjutnya berkembang di masyarakat Desa Kepuhsari. Seni tatah sungging dalam pembuatan wayang merupakan perpaduan dari tatah (pahat) dan sungging (mewarnai). Nilai-nilai yang terkandung dalam seni tatah sungging yaitu nilai ekonomi, nilai moral/edukatif, nilai seni dan budaya serta nilai historis dan pelestarian budaya. Nilai-nilai tersebut melekat dalam kehidupan bermasyarakat.
TRADISI PEMBUATAN GERABAH DI DESA NGRENCAK KABUPATEN TRENGGALEK [Traditional Pottery of Ngrencak, Trenggalek Regency] Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.249 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.217

Abstract

The tradition of making and using pottery has existed since prehistoric times, this tradition is also found in Ngrencak Village, Trenggalek Regency. The purpose of this research is to know Ngrencak traditional pottery technology and the impact of modem culture on Ngrencak pottery tradition. Data collection techniques used in ethnoarkeologi studies are direct communication or direct contact with the data provider or often referred to as interviews, observation, and literature study. Ngrencak pottery-making technique is made by hand combined with stitching technique and rotary wheel. Ngrencak pottery faces rival plastic containers. It also depends on market demand.  ABSTRAKTradisi pembuatan dan penggunaan gerabah sudah ada sejakzaman prasejarah, tradisi ini juga terdapat di Desa Ngrencak, Kabupaten Trenggalek. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui teknologi gerabah tradisional Ngrencak dan dampak budaya modern terhadap tradisi gerabah Ngrencak. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam studi etnoarkeologi yaitu komunikasi langsung atau kontak langsung dengan pemberi data atau sering disebut dengan wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Teknik pembuatan gerabah Ngrencak dibuat dengan tangan yang dipadukan dengan teknik tatap pelandas dan roda putar. Gerabah Ngrencak menghadapi saingan wadah plastik. Selain itu juga tergantung permintaan pasar.
cover, redaksi, kata pengantar, daftar isi, abstrak, vol 9 no 1 Redaksi Jurnal Papua
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (911.987 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i1.218

Abstract

cover, redaksi, kata pengantar, daftar isi, abstrak, vol 9 no 2 Redaksi Jurnal Papua
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2444.138 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.220

Abstract

ENAMEL HIPOPLASIA PADA TENGKORAK MANUSIA PRASEJARAH DARI SITUS MELOLO, SUMBA, NUSA TENGGARA TIMUR (Hypoplasia Enamels in Human Skull Preparation from Melolo Site, Sumba, East Nusa Tenggara) Desytri Ayu Herina; Toetik Koesbardiati
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.425 KB) | DOI: 10.24832/papua.v10i1.238

Abstract

Cultural changes that occur during the Neolithic final transition to the beginning of the metal age are slowly providing consequences for the health problems of a population. Lifestyle changes that occurred during the transition resulted in the emergence of growth stress that must be faced by the population living in transition. Causes of developmental stress are unequal living conditions, nutritional stress, illness, dietary changes, and increased population density. Stress of growth period experienced by individuals can be recorded on bones and teeth as a pathology. Therefore, bones and teeth are part of the body that has plastic and dynamic characteristic. The pathology that can be recorded on the teeth as an indicator of stress is Enamel Hipoplasia (EH). The purpose of this study is to describe the emergence of EH on the remaining order of human prehistori from Melolo site. The emergence of EH is identified macroscopically and uses photography methods with Alternative Light Source UV light tehnologi for documentation. EH on the remaining human skeletal order of Melolo has a pattern of horizontal or horizontal grooves called Linier Enamel Hipoplasia (LEH). EH with the LEH pattern is owned by 3 individuals from Melolo as a response from the development of transitional life from the late Neolithic era to the beginning of the metal age with the pattern of agriculture. Abstrak Perubahan budaya yang terjadi pada masa transisi akhir neolitik menuju awal zaman logam secara perlahan memberikan konsekwensi terhadap munculnya masalah kesehatan suatu populasi. Perubahan gaya hidup yang terjadi pada masa transisi mengakibatkan munculnya stres masa pertumbuhan yang harus dihadapi oleh populasi yang hidup pada masa itu. Penyebab munculnya stres masa pertumbuhan adalah ketidakseimbangan kondisi lingkungan tempat tinggal, tekanan gizi, kemunculan penyakit, perubahan pola diet, dan peningkatan jumlah kepadatan populasi. Stres masa pertumbuhan yang dialami oleh individu dapat terekam pada tulang dan gigi sebagai suatu patologi karena tulang dan gigi merupakan bagian tubuh yang plastis dan dinamis. Patologi yang dapat terekam pada gigi sebagai indikator terjadinya stres adalah Enamel Hipoplasia (EH). Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemunculan EH pada sisa rangka manusia prehistori dari situs Melolo. Kemunculan EH diidentifikasi secara makroskopis menggunakan metode fotografi dengan tehnik Alternative Light Source sinar UV untuk dokumentasi. EH pada sisa rangka manusia prehistori dari Melolo berjenis lekuk mendatar atau horizontal yang disebut Linier Enamel Hipoplasia (LEH). EH berjenis LEH yang ditemukan pada tiga individu dari Melolo timbul sebagai respon terhadap perkembangan kehidupan pada masa transisi dari zaman akhir neolitik menuju awal zaman logam yang bercorak agrikultur.
FUNGSI PEMBAYARAN MAS KAWIN PADA KOMUNITAS KAMPUNG SKOUW SAE, KOTA JAYAPURA (Dowry Payment Function Skouw Sae Community, Jayapura City) La Usman
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.16 KB) | DOI: 10.24832/papua.v10i1.239

Abstract

Residents of the Skouw Sae village, Muara Tami District, Jayapura City often make payments for dowry within and outside the village. The question to be answered regarding the title above is what are the functions of the activity. This study uses an ethno-archeological approach using several techniques, namely: literature study, observation, interview. After all the required data collected is then described, analyzed and interpreted, and drawn a conclusion The results of the study found that there are seven payment functions of dowry. First, to fulfill family food needs. Second, to fulfill reproduction needs for the continuity of individuals, families, clans and communities. Third, to support the payment of compensation from the husband's family to the wife's family in order to meet the comfort and welfare needs of the wife's family. Fourth, for Christmas celebrations and ritual activities at traditional houses, in order to fulfill safety needs. Fifth, fulfillment of family relaxation needs. Sixth, meeting the needs of the movement to bring closer relations between women who are separated from their homes. Seventh, supporting traditional and formal education activities to meet the growth needs of individual families. Abstrak Warga Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura sering melakukan pembayaran mas kawin dalam maupun luar kampung. Pertanyaan yang ingin dijawab berkaitan dengan judul di atas adalah apa saja fungsi kegiatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnoarkeologi dengan menggunakan beberapa teknik yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara. Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul kemudian dideskripsikan, dianalisis dan diinterpretasikan, dan ditarik suatu kesimpulan Hasil penelitian menemukan terdapat tujuh fungsi pembayaran mas kawin. Pertama, untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga. Kedua, untuk pemenuhan kebutuhan reproduksi guna kesinambungan individu, keluarga, klan dan komunitas. Ketiga, untuk mendukung pembayaran ganti rugi dari keluarga suami terhadap keluarga istri guna memenuhi kebutuhan kenyamanan dan kesejahteraan keluarga istri. Keempat, untuk perayaan Natal serta kegiatan ritual pada rumah adat, guna pemenuhan kebutuhan keselamatan. Kelima, pemenuhan kebutuhan relaks keluarga. Keenam, memenuhi kebutuhan gerakan mendekatkan hubungan antara perempuan yang terpisah tempat tinggalnya. Ketujuh, mendukung kegiatan pendidikan tradisional dan formal guna pemenuhan kebutuhan pertumbuhan individu keluarga.
PERPINDAHAN PEMUKIMAN MASYARAKAT BAJO DARI PULAU MASUDU SULAWESI TENGGARA (Moving of Bajo Community Settlement From Masudu Island, South East Sulawesi) Simon Sirua Sarapang
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.41 KB) | DOI: 10.24832/papua.v10i1.241

Abstract

The movement of people from one area to another can improve the structure of community settlements and socio-economic structures. This paper aims to determine the background of the settlement of the Bajo people from Masudu Island to the coast of Liano Village, the process of relocating the Bajo Community from Masudu Island to the coast of Liano Village, the settlement pattern of the Bajo Community, the socio-economic life of the Bajo community. Data collection consists of three types of study documents, interviews, and observations. The collected data is verified by two stages, namely: verification of internal data, and verification of external data. The next stage is the stage of interpretation which consists of analysis and synthesis. The results showed that the background of the movement of the Bajo people in Liano Village was a factor in the damage to houses due to strong winds and tides, the government policy of inadequate Bajo community income. The process of moving the Bajo community was carried out in stages, starting with the people who lived in the western part of Masudu Island in 1999, by crossing the sea and some people carrying home tools on Masudu Island. The pattern of settlement of Bajo people in the neighborhood Liano village is linearly following the highway with the distance between houses close together. The socio-economic life of the Bajo community in Liano Village is the creation of interactions with other communities on the land and the availability of infrastructure for the Bajo people so that they facilitate activities. ABSTRAK Perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lainnya dapat memperbaiki struktur pemukiman masyarakat dan struktur sosial ekonomi. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui latarbelakang perpindahan pemukiman Masyarakat Bajo dari Pulau Masudu ke pesisir pantai Desa Liano, proses perpindahan pemukiman Masyarakat Bajo dari Pulau Masudu ke pesisir pantai Desa Liano, pola pemukiman Masyarakat Bajo, kehidupan sosial ekonomi masyarakat Bajo. Pengumpulan data terdiri dari tiga jenis yaitustudi dokumen, wawancara, dan observasi. Data yang telah dikumpulkan tersebut dilakukan verifikasi yang terdiri dari dua tahap yakni: verifikasi data internal, dan verifikasi data eksternal. Tahapan selanjutnya adalah tahap interpretasi yang terdiri dari analisis dan sintesis. Hasil penelitian menunjukan bahwa latar belakang perpindahan masyarakat Bajo di Desa Liano adalah faktor kerusakan rumah akibat angin kencang dan pasang air laut, kebijakan pemerintah penghasilan masyarakat bajo yang kurang mencukupi. Proses perpindahan masyarakat Bajo dilakukan secara bertahap yang diawali masyarakat yang tinggal di bagian Barat Pulau Masudu pada tahun 1999, dengan menyebrangi laut dan sebagian masyarakat membawa perkakas rumah yang ada di Pulau Masudu. Pola pemukiman masyarakat Bajo di Lingkungan Desa Liano berbentuk linear mengikuti jalan raya dengan jarak antara rumah saling berdekatan. Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Bajo di Desa Liano adalah terciptanya interaksi dengan masyarakat lain yang ada di darat serta tersedianya prasarana bagi masyarakat Bajo sehingga mempermudah mereka dalam berbagai aktivitas.
ANJING DALAM BUDAYA PAPUA (Dog in the Papua Culture) Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.159 KB) | DOI: 10.24832/papua.v10i1.243

Abstract

Tribes in Papua consider dogs to be animals that have important values for their lives. This paper aims to determine the function of dogs for the lives of tribes in Papua and to determine the value of these dogs for the lives of tribes in Papua. The method used in this study is an ethno-archaeological approach. The function of dogs in the lives of several tribes in Papua is as friends for hunting and also as their dema and totem. The Momuna and Korowai tribes use dog tooth fangs as payment for dowry, custom fines, and also used as body jewelry in the form of necklaces and bracelets. The sacred value of a dog for the lives of these tribes is the belief that a dog can expel subtle creatures (demons, dead spirits, evil magic, suanggi) by barking and also as dema / totems that can provide abundant hunting blessings. ABSTRAK Suku-suku di Papua menganggap anjing merupakan binatang yang mempunyai nilai penting bagi kehidupan mereka. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui fungsi anjing bagi kehidupan suku-suku yang berada di Papua serta untuk mengetahui nilai anjing tersebut bagi kehidupan suku-suku di Papua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan etnoarkeologi. Fungsi anjing dalam kehidupan beberapa suku-suku yang berada di Papua adalah sebagai sahabat untuk berburu dan juga sebagai dema dan totem mereka. Suku Momuna dan Suku Korowai menggunakan taring gigi anjing sebagai pembayaran mas kawin, denda adat, dan juga dijadikan perhiasan tubuh berupa kalung dan gelang. Nilai sakral seekor anjing bagi kehidupan suku-suku ini adalah kepercayaan bahwa seekor anjing dapat mengusir makluk halus (setan, roh-roh orang mati, sihir jahat, suanggi) dengan cara menggonggong dan juga sebagai dema/totem yang dapat memberikan berkat berburuan yang melimpah.
BUDAYA MARITIM DI PESISIR UTARA PAPUA (Maritime Culture in the Papua North Coast) Hari Suroto; Erlin N. I. Djami
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v10i1.244

Abstract

The sea has been instrumental in the life of coastal communities of northern Papua since prehistoric times to historical times. The sea becomes a source of food and a means of liaison with the outside through a series of voyages. It is interesting to do maritime archeological research on the northern coast of Papua. The purpose of this research is about the shape of maritime culture on the north coast of Papua as well as the maritime tradition on the northern coast of Papua. This research was conducted with data collection, data analysis and data interpretation. The forms of maritime culture on the north coast of Papua include livelihoods, traditional knowledge related to maritime, living equipment, and local wisdom in the preservation of maritime resources. The maritime tradition on the northern coast of Papua recognizes local wisdom in organizing, managing, utilizing and participating in conserving marine and coastal resources. ABSTRAK Laut sangat berperan dalam kehidupan masyarakat pesisir utara Papua sejak masa prasejarah hingga masa sejarah. Laut menjadi sumber dalam mendapatkan makanan serta menjadi sarana penghubung dengan luar melalui serangkaian pelayaran. Sangat menarik untuk melakukan penelitian arkeologi maritim di pantai utara Papua. Tujuan penelitian ini adalah mengenai bentuk kebudayaan maritim di pantai utara Papua serta tradisi maritim di pantai utara Papua. Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data, analisis data dan interpretasi data. Bentuk kebudayaan maritim di pantai utara Papua meliputi mata pencaharian hidup, pengetahuan tradisional terkait dengan maritim, peralatan hidup, dan kearifan lokal dalam pelestarian sumberdaya maritim. Tradisi maritim di pantai utara Papua mengenal kearifan lokal dalam mengatur, mengelola, memanfaatkan serta ikut melestarikan sumber daya laut dan pesisir.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 More Issue