cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jayapura,
P a p u a
INDONESIA
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat
ISSN : 20859767     EISSN : 25809237     DOI : -
Core Subject : Art,
Journal of Papua is published twice a year in June and November by the Balai Arkeologi Papua. The Papua Journal contains the results of research, conceptual ideas, studies and the application of theory relating to archeology.
Arjuna Subject : -
Articles 410 Documents
SITUS NEOLITIK MALLAWA MAROS, SULAWESI SELATAN (Suatu Hasil Analisis Keterkaitan antara Artefak dengan Sumber Daya Lingkungan) Neolithic Site at Mallawa Maros of South Sulawesi [A Result of Relevancy Analysis Between The Artefacts and The Environment Resources] nFN Hasanuddin
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1985.996 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i1.205

Abstract

The Mallawa is an open site located in the eastern part of Maros, South Sulawesi. The topography of Mallawa site is wavy and took place in a hilly area. Dating of the site using C14 Analysis showed that the site is about 3550 ±130 BP and 2710 ±170 BP and 2281± 46 BP. The point of this site, besides of its plenty artifacts that signifying occupied-densely site of some hills, the site is also located nearby caves of Maros. From the perspective of periodization, Mallawa site relatively younger compared to occupancy period in Maros caves. It is likely to say that the occupancy of Mallawa cave is the further stage in development of past life that characterized by its material culture remains. Several pottery findings possesses various of interesting forms and ornaments. In this research has also found several interesting findings such as pottery fragments, beads and stone artifacts. The excavation brings out more findings then the surficial findings. Through XRD analysis, SEM and also, XRF of the pottery and soil sample shows that Mallawa pottery were made and produced by the Mallawa themselves and the people surrounding based on the fact that the pottery contains the same mineral with the soil that surrounding this site.  ABSTRAKMallawa adalah situs terbuka yang terletak di bagian timur Maros, Sulawesi Selatan. Topografi situs Mallawa bergelombang dan terletak di daerah perbukitan. Pertanggalan situs dengan menggunakan Analisis C14 menunjukkan bahwa situs ini berumur sekitar 3550 ± 130 BP dan 2710 ± 170 BP dan 2281 ± 46 BP. Bagian penting dari situs ini, selain dari temuan artefak yang menandakan tempat berpenduduk padat di beberapa bukit, situs ini juga terletak di dekat gua-gua Maros. Dari segi periodisasi, situs Mallawa relatif lebih muda dibandingkan dengan masa hunian di gua Maros. Kemungkinan besar dikatakan bahwa hunian situs Mallawa merupakan tahap lanjutan dalam pengembangan kehidupan lampau yang ditandai oleh budaya materialnya. Beberapa temuan gerabah memiliki berbagai bentuk dan ornamen yang menarik. Dalam penelitian ini juga ditemukan beberapa temuan menarik seperti fragmen gerabah, manik-manik dan artefak batu. Penggalian tersebut menghasilkan lebih banyak temuan. Melalui analisis XRD, SEM dan juga, XRF dari gerabah dan sampel tanah menunjukkan bahwa gerabah Mallawa dibuat dan diproduksi di Mallawa sendiri berdasarkan fakta bahwa gerabah mengandung mineral yang sama dengan tanah di sekitar lokasi ini.
MAKNA MOTIF LUKISAN MEGALITIK TUTARI [The Meaning of Tutari Megalitical Motif] Erlin Novita Idje Djami; Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.519 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i1.206

Abstract

In the megalithic period, humans living around the Tutari hill have poured their minds through paintings on rocky boulders spread across the slopes of Tutari Hill. Painting Megalithic Tutari describes ideas or ideas and behavior of society in the form of symbols, which express the natural environment and socio-cultural conditions of the community. The existence of these paintings is very interesting to know the shape and meaning. The purpose of this paper is to know the meaning of motifs megalithic painting Tutari. The methods used are stylistic analysis and contextual analysis. The motifs of the paintings contained in the Tutari Megalithic Site are human motifs, anthropomorphic images, flora, fauna, cultural objects, and geometric. These motifs have meaning related to the beliefs, daily life, and environmental circumstances of Lake Sentani in prehistoric times.  ABSTRAKPada masa megalitik, manusia yang hidup di sekitar bukit Tutari telah menuangkan alam pikiran mereka melalui lukisan pada bongkah-bongkah batu yang tersebar luas di lereng Bukit Tutari. Lukisan Megalitik Tutari menggambarkan gagasan atau ide dan perilaku masyarakat dalam bentuk simbol-simbol, yang mengekspresikan lingkungan alam dan keadaan sosial budaya masyarakatnya. Keberadaan lukisan-lukisan tersebut sangat menarik untuk diketahui bentuk dan maknanya. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui makna motif lukisan megalitik Tutari. Metode yang digunakan adalah analisis stilistik dan analisis kontekstual. Motif lukisan yang terdapat di Situs Megalitik Tutari berupa motif manusia, gambar antropomorfik, flora, fauna, benda budaya, dan geometris. Motif-motif ini memiliki makna yang berkaitan dengan kepercayaan, kehidupan seharihari, serta keadaan lingkungan Danau Sentani pada jaman prasejarah.
UNSUR BUDAYA PRASEJARAH DAN TIPO-KRONOLOGI NISAN DI KOMPLEKS MAKAM MATTAKKO, MAROS,SULAWESI SELATAN [The Elements of Prehistoric Culture and Tomb Typo-Chronology in Burial Complex of Mattakko, Maros, South Sulawesi] Nur, Muhammad; Hasanuddin, nFN
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.452 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i1.207

Abstract

This research is examining the elements of prehistoric culture and tomb typo-chronology in Burial Complex of Mattakko that located in Maros Regency. The research used identification, comparison study, interview, historiography method and data integration/final analysis. There are six types of tomb in this site such as sword type, gada, phalus, menhir, menhir statue, and Aceh type group K. Result of the analysis shows that the tombs with gada type and sword type (Buginese type) and Aceh type are from 17th century, which is paralleling with the epic war of Makassar in 1667. The appearing of tombs menhir type, menhir statue and phalus which are the elements of prehistoric culture affirming assumtion all at once about cultural existences that has been rooted long up to pre-Islamic era.  ABSTRAKPenelitian ini membahas unsur budaya prasejarah dan tipo-kronologi nisan di Kompleks Makam Mattakko Kabupaten Maros. Metode penelitian yang digunakan adalah identifikasi, kajian perbandingan, wawancara, metode historiografi, dan integrasi data/hasil analisis. Ada enam tipe nisan di situs ini yaitu tipe pedang, gada, phallus, menhir, arca menhir, dan tipe Aceh jenis K. Hasil analisis menunjukkan bahwa nisan tipe gada dan pedang (tipe Bugis) dan tipe Aceh berumur sejak abad ke-17, bersesuaian dengan fase perang Makassar yang puncaknya terjadi pada tahun 1667. Tampilnya nisan tipe menhir, arca menhir, dan phallus yang merupakan unsur budaya prasejarah sekaligus menguatkan asumsi mengenai eksistensi budaya yang sudah berakar sebelumnya namun berlangsung hingga kisaran waktu abad ke-17 yang masih dekat dengan masa pra-Islam.
PERKEMBANGAN TRADISI PEMBUATAN GERABAH ABAR SENTANI [The Development of Abar Pottery] Maryone, Rini
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.089 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i1.208

Abstract

The knowledge of making pottery in Abar Village has been around since time immemorial. Until now Abar pottery development has undergone many changes. Artisan pottery in Abar Village is determined to continue to improve the quality of production in order to compete in the market. Based on this the authors feel interested to examine more about the development of pottery tradition in Abar Village. The purpose of this research is to know the development of shape, type, function and meaning of pottery Abar. The research method is qualitative, while for the strategy in the data collection phase is literature study, observation and interview. The results: found types of pottery Abar is ebe hele (crock), sempe (belanga) and kenda / plate, and pottery that has undergone changes namely: flower pots, wall hangings, drums, table chairs, stoves. Abar pottery has three functions: function as a kitchen tool, social function and religious function.  ABSTRAKPengetahuan pembuatan gerabah di Kampung Abar sudah ada sejak dahulu kala. Hingga saat ini perkembangan gerabah Abar sudah mengalami banyak perubahan. Pengrajin gerabah di Kampung Abar bertekad untuk terus meningkatkan kualitas produksi agar mampu bersaing di pasaran. Berdasarkan hal tersebut penulis merasa tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai perkembangan tradisi gerabah di Kampung Abar. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perkembangan bentuk, jenis, fungsi dan makna gerabah Abar. Metode penelitian bersifat kualitatif, sedangkan untuk strategi dalam tahap pengumpulan data adalah studi pustaka, observasi dan wawancara. Adapun hasil: ditemukan jenis-jenis gerabah Abar berupa ebe hele (tempayan), sempe (belanga) dan kenda/ piring, serta gerabah yang sudah mengalami perubahan yaitu: pot bunga, hiasan dinding, tifa, kursi meja, kompor. Gerabah Abar memiliki tiga fungsi yaitu: fungsi sebagai alat dapur, fungsi sosial dan fungsi religius.
POLA TATA RUANG BANGUNAN, RUMAH-RUMAH DAN FUNGSI DI DESA ADAT PENGOTAN KABUPATEN BANGLI [Building Spatial Pattern, Houses and Functions in Pengotan Village, Bangli Regency] Yusmaini Eriawati
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.49 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i1.209

Abstract

In some researchs of settlement archeology in Indonesia, such as the Trowulan site in Mojokerto or Liangan site in Temanggung, until now still not much gained an overview of significant regarding the spatial pattern layout of the building, as well as the shape of the building houses in the two these sites. Whereas This paper describes an overview of how the spatial pattern of settlements, especially the spatial patterns of the building, the shape of the houses and their functions in Desa Adat Pengotan, Bali. Traditional Village Pengotan chosen because this village has unique characteristics that differ from other indigenous villages in the district of Bangli, Bali Province. The method applied is ethnoarchaeology studies, through a general comparative approach to the methods and techniques of work through the interview, descriptive and interpretative. The results of research in the form of images and spatial models of settlements, especially the spatial patterns associated with building houses or other buildings that are interconnected, along with the form and function of use and wear, both profane and sacred of Desa Adat Pengotan in Bali. These results that can later be used as we examine the comparability of the archaeological sites of settlements.  ABSTRAKPada beberapa penelitian arkeologi permukiman (settlement archaeology) di Indonesia, seperti Situs Trowulan di Mojokerto atau Situs Liangan di Temanggung, hingga saat ini masih belum banyak diperoleh gambaran yang signifikan mengenai pola tata ruang, tata letak bangunan, serta bentuk bangunan rumah yang berada di kedua situs tersebut. Tulisan ini memaparkan gambaran bagaimana pola tata ruang permukiman, terutama pola tata ruang bangunan, bentuk rumah-rumah beserta fungsinya di Desa Adat Pengotan, Bali. Dipilihnya Desa Adat Pengotan dikarenakan desa ini memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dengan desa-desa adat lainnya di wilayah Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Adapun metode yang diterapkan adalah studi etnoarkeologi, melalui pendekatan general comparative dengan metode dan tehnik kerja melalui wawancara, deskriptif dan interpretatif. Hasil penelitian berupa gambaran dan model tata ruang permukiman, terutama pola tata ruang yang berkaitan dengan bangunan rumah atau bangunan lainnya yang saling berhubungan, berserta bentuk dan fungsi guna dan pakai, baik bersifat profan maupun sakral dari Desa Adat Pengotan di Bali. Hasil ini yang nantinya dapat digunakan sebagai data banding dalam kita meneliti situs-situs arkeologi permukiman.
PROFIL PROGNASI WAJAH BEBERAPA POPULASI DUNIA [Prognation Profile of World Population Faces] Toetik Koesbardiati
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4040.504 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.210

Abstract

The face is one of the major variables in determining the biological characteristics of a population in the identification effort of human skeletal remains. This is not only important in the field of forensic anthropology but also the field of bioarchaeology. The purpose of this study is to describe the variation of facial angle in some of the world population. The method applied is anthropometry. The study material is the skull of nine world populations of Europe, North Africa, Subsahara Africa, South America, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polynesia and China. The results showed that among the population tested, Australomelanesoid, Polynesian, Indonesian and African Subsahara populations had a prognathic face both on the even face, as well as the alveolar and facial projection. In contrast, the population groups of China, Europe, Inuit and North Africa are population groups that have faces of orthognath.  ABSTRAKWajah adalah salah satu variabel utama dalam menentukan ciri biologis suatu populasi pada usaha identifikasi sisa rangka manusia. Hal ini tidak hanya panting dalam bidang antropologi forensik tetapi juga bidang bioarkeologi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan variasi sudut wajah pada beberapa populasi dunia. Metode yang diterapkan adalah antropometri. Bahan penelitian adalah tengkorak dari sembilan populasi dunia yaitu populasi Eropa, Afrika Utara, Afrika Subsahara, Amerika Selatan, Inuit, Australomelanesia, Indonesia, Polinesia dan China. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara populasi yang diuji, populasi Australomelanesoid, Polinesia, Indonesia dan Afrika Subsahara memiliki wajah yang prognath baik pada bagian wajah genap, maupun bagian alveolar serta proyeksi wajah. Sebaliknya kelompok populasi China, Eropa, Inuit dan Afrika Utara adalah kelompok populasi yang memiliki wajah orthognath.
A WINDOW INTO PAPUA’S PAST: ARCHAEOLOGICAL AND ANTHROPOLOGICAL STATUS QUO IN THE STAR MOUNTAINS [Melihat Masa Lalu Papua : Penelitian Arkeologi dan Antropologi di Pegunungan Bintang] Wulf Schiefenhovel; Marian Vanhaeren
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.791 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.211

Abstract

In this paper, which is based on anthropological fieldwork in the Province of Papua, and literature research in archaeology and anthropology, we attempt to give an overview over the present status of research in Tanah Papua, with special focus on the prehistory and anthropology of groups in the interior, especially on the little known “Ok-Mek Minisphere” as well as on the potential routes of prehistoric migration to New Guinea and into the Star Mountains.  ABSTRAKTulisan didasarkan pada penelitian lapangan antropologi di Papua, dan penelitian kepustakaan arkeologi dan antropologi. Dalam penelitian ini mencoba untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan penelitian saat ini di Papua, dengan fokus pada prasejarah dan antropologi di pedalaman, terutama di wilayah “Ok- Mek” yang sangat potensial sebagai jalur migrasi prasejarah ke New Guinea dan masuk ke Pegunungan Bintang.
TINJAUAN ARKEOLOGI RELIGI PADA MAKAM RAJA SAOSAO DAN RAJA LAKIDENDE DI KEN DARI SULAWESI TENGGARA [Review of Archaeology Religy in Saosao Tomb and Lakidende Tomb in South East Sulawesi] Muh. Subair
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.741 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.212

Abstract

Civilization of a city can be seen from archaeological remains. Kendari city is known as a city whose society is religious. The purpose of this paper is to know the history of the entry of Islam in Kendari and archaeological remains of the evidence of the entry of Islam in Kendari. The method used is literature study, interview and survey. Islam in Kendari was brought by Islamic religious teachers, Muslim traders and ulama, this is known from the existence of tombs of religious figures o f Islam in the past Kendari.  ABSTRAKPeradaban suatu kota dapat dilihat dari tinggalan-tinggalan arkeologi. Kota Kendari dikenal sebagai kota yang masyarakatnya religius. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui sejarah masuknya Islam di Kendari dan tinggalan-tinggalan arkeologi yang menjadi bukti masuknya Islam di Kendari. Metode yang digunakan adalah studi pustaka, wawancara dan survei. Islam di Kendari dibawa oleh guru agama Islam, pedagang muslim dan ulama, hal ini diketahui dari keberadaan makam tokoh-tokoh agama Islam Kendari pada masa lalu.
TATA RUANG PEMUKIMAN DI PULAU SELU TANIMBAR BARAT [Settlement Layout in Selu Island West Tanimbar] Lucas Wattimena
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.237 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.213

Abstract

Selu Island is one of the small islands within the Tanimbar Archipelago. Geographically the location of Selu Island is strategic enough to connect between the great mainland of Yamdena Island and the surrounding islands. This paper provides an overview of how the characteristics of ancient settlement layout based on the folklore of the local community. The objectives o f the study may be to provide 1) information about ancient settlement forms based on the folklore community. 2) as an information material for archaeological research in Moluccas especially and Indonesia generally. Why Selu Island is so interesting to be studied, because folklore spatial local community settlement is closely related to megalithic tradition. Research method using ethnoarchaeology approach. Technique of collecting data using survey, literature study and interview. The results showed that the characteristics of ancient settlement layout forms on Selu Island, West Tanimbar based on the level of public knowledge. This can be seen in the distribution layout of settlements based on folklore and archaeological evidence oriented to religious elements and ancient burial systems.  ABSTRAKPulau Selu adalah salah satu pulau kecil dalam gugusan Kepulauan Tanimbar. Secara geografis letak Pulau Selu cukup strategis menghubungkan antara daratan besar Pulau Yamdena dan pulaupulau sekitarnya. Tulisan ini memberikan gambaran tentang bagaimana karakteristik tata ruang pemukiman kuno berdasarkan folklore masyarakat setempat. Tujuan penelitian kiranya dapat memberikan 1) informasi tentang bentuk-bentuk pemukiman kuno berdasarkan folklore masyarakat. 2) sebagai bahan informasi bagi penelitian arkeologi di Maluku khususnya dan Indonesia umumnya. Kenapa Pulau Selu begitu menarik untuk diteliti, karena folklore tata ruang pemukiman masyarakat setempat berkaitan erat dengan tradisi megalitik. Metode penelitian menggunakan pendekatan etnoarkeologi. Teknik pengumpulan data menggunakan survei, studi pustaka dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik bentuk-bentuk tataruang pemukiman kuno di Pulau Selu, Tanimbar Barat berdasarkan tingkat pengetahuan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dalam pembagian tataruang pemukiman berdasarkan folklore dan bukti arkeologi yang berorientasi pada unsur religi dan sistem penguburan kuno.
PERAN PEREMPUAN DALAM BUDAYA MARITIM WAROPEN [The Role of Women in the Culture of Maritime in Waropen] Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.239 KB) | DOI: 10.24832/papua.v9i2.214

Abstract

In Waropen livelihood, women in connected maritime tradition play roles in providing food for their family In related to the title, there are some problems deal with the women’s roles in Waropen maritime tradition that can be formulated as follows: How are the roles of women in Waropen maritime tradition, what values revealed in maritime tradition. The research applies etnoarcheolgical approach by using some techniques: bibliographical study, observation, and interview. Those collected data are then described, analyzed, interpreted, and concluded. The results show that there are three main livelihood, i.e., processing sagoo, cathing fish (by men), cathing crabs (by men), and gathering seashells (by men). While women’s roles follow the knowledge system of maritime tradition: time, season, wind, and stars. To go to the location of sagoo processing, shrimps and seashells gathering, Waropen women use canoes without leeboard. In local language it is called sewado. Through the roles of Waropen women in maritime tradition, there are some beneficial socio-cultural values, i.e. being religious, corporation, independence, discipline, hard work, creativity, and care to nature.  ABSTRAKPeran serta perempuan Waropen dalam sistem mata pencaharian hidup berkaitan dengan tradisi maritim, perempuan bertanggung jawab penuh untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Berkaitan dengan judul, ada beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan peran perempuan dalam budaya maritim Waropen, yang dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana peran perempuan dalam budaya maritim di Waropen?, nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam budaya maritim tersebut?. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnoarkeologi dengan menggunakan beberapa teknik yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara. Setelah semua data yang dibutuhkan terkumpul kemudian dideskripsikan, dianalisis dan diinterpretasikan, dan ditarik suatu kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga macam mata pencaharian utamanya yaitu meramu sagu, menangkap ikan (dilakukan oleh lakilaki), menangkap kepiting dan mengumpulkan atau kerang, berburu (dilakukan oleh perempuan). Sementara itu, perempuan Waropen mengikuti sistem pengetahuan budaya maritim seperti sistem pengetahuan mengenai waktu, musim, angin dan bintang. Untuk ke lokasi tempat mencari seperti menokok sagu, mencari keping, udang dan bia, perempuan Waropen menggunakan perahu tak bercadik yang disebut dengan sewado. Melalui peran perempuan Waropen dalam budaya maritim, termuat nilai-nilai sosial-budaya yang berguna dalam kehidupan, yaitu nilai religius, gotong royong atau kerjasama, kemandirian, disiplin, kerja keras, kreatif, dan peduli lingkungan.

Filter by Year

2009 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021 Vol. 13 No. 1 (2021): Juni 2021 Vol. 12 No. 2 (2020): November 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Juni 2020 Vol. 11 No. 2 (2019): November 2019 Vol. 11 No. 1 (2019): Juni 2019 Vol. 10 No. 2 (2018): November 2018 Vol. 10 No. 1 (2018): Juni 2018 Vol 9, No 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 2 (2017): November 2017 Vol. 9 No. 1 (2017): Juni 2017 Vol 9, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 8, No 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 2 (2016): November 2016 Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016 Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 7, No 2 (2015): November 2015 Vol. 7 No. 2 (2015): November 2015 Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015 Vol 7, No 1 (2015): Juni 2015 Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 2 (2014): November 2014 Vol 6, No 1 (2014): Juni 2014 Vol. 6 No. 1 (2014): Juni 2014 Vol 5, No 2 (2013): November 2013 Vol. 5 No. 2 (2013): November 2013 Vol 5, No 1 (2013): Juni 2013 Vol. 5 No. 1 (2013): Juni 2013 Vol 4, No 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 2 (2012): November 2012 Vol. 4 No. 1 (2012): Juni 2012 Vol 4, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol. 3 No. 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 2 (2011): November 2011 Vol 3, No 1 (2011): Juni 2011 Vol. 3 No. 1 (2011): Juni 2011 Vol. 2 No. 2 (2010): November 2010 Vol 2, No 2 (2010): November 2010 Vol 2, No 1 (2010): Juni 2010 Vol. 2 No. 1 (2010): Juni 2010 Vol. 1 No. 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 2 (2009): November 2009 Vol 1, No 1 (2009): Juni 2009 Vol. 1 No. 1 (2009): Juni 2009 More Issue