cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Transportasi Sungai: Upaya untuk Meningkatkan Efisiensi Pengadaan, Penyimpanan dan Distribusi Gabah/Beras Hasbullah, Rokhani; Patiwiri, Abdul Waries
JURNAL PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.921 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i1.196

Abstract

Sejak dahulu kala sungai merupakan sarana aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari seperti untuk mencuci, mandi, irigasi, pengangkutan dan pelayaran atau transportasi. Sebagai jalur transportasi, peran sungai-sungai di Indonesia nampaknya mulai ditinggalkan dan bergeser ke transportasi moda darat karena adanya anggapan bahwa jalur darat lebih cepat dibandingkan dengan transportasi sungai. Apalagi, pemerintah lebih memprioritaskan peningkatan sarana dan prasarana jalur darat. Akibatnya, wilayah-wilayah di jalur sungai agak tertinggal perkembangannya dan berdampak terhadap jasa sungai yang merupakan mata pencaharian hidup sebagian masyarakat di sekitar aliran sungai. Dalam menghadapi krisis energi, potensi sungai perlu mendapatkan perhatian baik sebagai transportasi sungai, sumber energi alternatif, kelestarian lingkungan maupun manfaat lainnya. Semestinya kita dapat belajar dari Thailand yang cukup piawai dalam memanfaatkan sungai, tidak hanya sebagai transportasi tetapi juga sebagai obyek wisata yang menarik.
STRATEGI SUBSIDI INDUSTRI PERTANIAN NEGARA-NEGARA MAJU (G8): BENCHMARKING BAGI KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL Arifin, Bustanul
JURNAL PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.849 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i2.290

Abstract

Indonesia sebagai salah satu negara anggotaWTO perlu memahami setiap kesepakatan yang dihasilkan terkait dengan perdagangan internasional di sektor pertanian, jasa, akses pasar dan Iain-Iain antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang. Berdasarkan falsafah perdagangan internasional dan fenomena asimetri pasar dunia komoditas pertanian, tulisan ini membahas tentang strategi subsidi yang diterapkan negara-negara maju dalam kerangka asimetri perdagangan internasional secara umum. Langkah-langkah yang dilakukan negara maju tersebut dapat dijadikan benchmarking dalam perumusan strategi kebijakan perdagangan internasional di Indonesia. Bagi Indonesia, kesepakatan-kesepakatan WTO amat perlu dilaksanakan secara hati-hati dan terukur tanpa harus mengorbankan keutuhan dan kedaulatan ekonomi bangsa. Terhadap subsidi-subsidi yang diterapkan oleh negara maju (G-8), Indonesia harus menempuh jalur diplomasi ekonomi dan perdagangan dunia secara bilateral untuk memperluas akses pasar bagi komoditas unggulan seperti di sektor perikanan (udang, tuna, cakalang), perkebunan (kelapa sawit, karet, coklat),dan sebenarnya juga untuk perindustrian (furniture, handycraft dan produk elektronik low-tech). Akses pasar harus didukung langkah diplomasi dan kerjasama dengan sesama negara berkembang, baik melalui Group-20, Group-33 dan bahkan Cairns Group yang belakangan mulai agak ditinggalkan. Minimal, pertukaran arus-informasi ekonomi antar dunia usaha dan antar negara dapat diperlancar, yang mampu meningkatkan nilai dan iklim investasi, berkembangnya kapasitas sektor riil dan skala usaha ekonomi dan sebagainya. Hal ini akan mampu meningkatkan kualitas pemulihan ekonomi di Indonesia, perekonomian yang mampu menyerap dan menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.
Pengembangan Pabrik Gula Mini untuk Mencapai Swasembada Gula (Mini Sugar Mills Development to Achieve Sugar Self-Sufficiency) Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1156.744 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i4.126

Abstract

Indonesia adalah negara pengimpor gula terbesar dengan rata-rata impor sekitar dua juta ton per tahun. Berbagai upaya untuk meningkatkan produksi belum mampu mengimbangi pertumbuhan pesat permintaan untuk konsumsi langsung dan penggunaan industri. Banyak kendala yang menghadang peningkatan produksi antara lain keterbatasan bahan baku, kinerja pabrik yang kurang baik, keterbatasan modal investasi, dan keterbatasan lahan untuk perluasan perkebunan tebu. Kesulitan mendapatkan lahan dengan luasan yang besar dalam satu hamparan menjadi faktor utama sulitnya peningkatan kapasitas atau penambahan pabrik gula baru. Salah satu alternatif pemecahannya adalah dengan mengoptimalkan ketersediaan lahan yang terpencar untuk mendukung pabrik gula mini. Untuk tujuan itu, dilakukan analisis kelayakan pabrik gula mini dari aspek teknis dan ekonomi. Studi ini menemukan bahwa pengembangan pabrik gula mini layak dilaksanakan dengan kapasitas 500 ton tebu per hari pada tingkat rendemen minimum tujuh persen. Pada tingkat rendemen ini diperoleh nilai IRR sebesar 30,56 persen, NPV sebesar Rp. 31.878.880.154, Net B/C sebesar 1,64, PBP selama 3,98 tahun dan BEP sebesar Rp. 19.880.709.795. Investasi yang diperlukan adalah Rp. 49.453.000.000 dan modal kerja Rp. 12.026.000.000.Indonesia is one of the biggest net sugar importing countries at the average of 2 million ton each year. The efforts to increase national production have not been successful to meet the rapid growth of demand for both direct household consumption and industrial usage. There are many constraints to increase production such as lack of raw material supply, bad performance of sugar mills, less capital and land availability for extension of sugar cane plantation, and environmental factors. As a tropical country, Indonesia should be able to meet its sugar demand, especially on the basis of sugarcane. Out of those constraints, the availability of suitable land in a region for plantation of sugarcane has been the main barrier for increasing the capacity of existing mills and establishing new big scale mills. Therefore, it is necessary to optimize the fragmented available land for small scale sugar mills. For this reason, one necessary step is to analyze the feasibility of small scale or mini sugar mills from technical and economical aspects. This study revealed that mini sugar mills are feasible to be developed at 500 ton cane sugar per day capacity at minimum 7 percent of yield. At this yield, it is determined that the value of IRR is 30.56 percent, NPV is Rp. 31,878,880,154., Net B/C is 1.64, PBP is 3.98 years and BEP is Rp. 19,880,709,795. The investment needed is Rp. 49.453 billion and working capital is Rp. 12.026 billion. 
Kelangkaan Pupuk dan Alternatif Pemecahannya Budi Santosa, Purbayu
JURNAL PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.948 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i3.268

Abstract

Permasalahan kelangkaan pupuk bersubsidi tidak ada habis-habisnya dalam perjalanar, petani berbudidaya padi.Sewaktu pupukdibutuhkan biasanya menjadi barang langka sehingga harganya membumbung tinggi. Penyebab dari hal tersebut antara lain masalah struktur pasar yang cenderung oligopolisdan distribusi pupuk yang masih lemah, konspirasi antar kepentingan untuk memperoleh rente ekonomi, masalah pemakaian pupuk yang boras dan pasokan input kebutuhan pabrik pupuk yang tersendat. Pemecahan masalah tersebut bisa dilakukan dengan cara menata struktur pasar, melakukan perbaikan dalam distribusi perpupukan, mengefisienkan pemakaian pupuk, membebaskan harga pupuk sesuai mekanisme pasar dengan ganti subsidi untuk pembelian beras dan memperlakukan hukum yang tegas dan konsisten kepada pihak-pihak yang melanggar peraturan yang ada.
Analisis Permintaan Impor Daging di Indonesia: Pendekatan Error Correction Almost Ideal Demand System Jamil, Ahmad Syariful
JURNAL PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.878 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i1.403

Abstract

Adanya peningkatan permintaan konsumen, produsen daging diminta untuk meningkatkan produksinya dalam mendukung pemenuhan kebutuhan konsumsi daging. Sejumlah impor daging yang berasal dari beberapa negara digunakan untuk memenuhi kesenjangan kebutuhan daging domestik. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi elastisitas permintaan dan pendapatan daging impor baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, Error Correction Almost Ideal Demand System digunakan untuk menganalisis pasar impor. Data ekspor tahunan dari tiga negara dengan pangsa ekspor terbesar dari tahun 1967 sampai 2013 didapatkan dari United Nation Commodity Trade (UN Comtrade). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Australia memiliki pangsa tersebesar sebagai eksportir daging terbesar ke Indonesia. Nilai elastisitas harga sendiri menunjukkan bahwa baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang adalah inelastis, hal itu berarti bahwa konsumsi daging impor tidak terpengaruh oleh perubahan harga. Berdasarkan nilai elastisitas pendapatan menunjukkan bahwa daging impor adalah barang normal. Selain itu, New Zealand mempunyai nilai elastisitas tertinggi dalam jangka pendek dan Australia dalam jangka panjang. Elastisitas harga silang menunjukkan bahwa terdapat hubungan kompetisi diantara ketiga negara tersebut.  
Taksonomi dan Sejarah Penyebaran Ubijalar Sebagai Pangan Harapan Potensial (Taxonomy and History of Sweet Potato Distribution as Food Potential) Widodo, Yudi
JURNAL PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2059.998 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i1.151

Abstract

Kelangkaan pangan global kian menunjukkan akibat fatal dengan krisis komplek yang diiringi kelabilan politik dan memicu kerusuhan. Kasus Yunani, negara yang sejak kuno telah maju di semua bidang, termasuk filsafat ribuan tahun lalu, kini terpuruk ekonomi dan politiknya, sehingga warga negara terancam kekurangan pangan. Sementara itu, perubahan iklim global juga menjadi ancaman dalam peningkatan produktivitas, sehingga target untuk meningkatkan produksi pangan guna mengurangi kelaparan dan mengentaskan kemiskinan sesuai tujuan pembangunan milenium menjadi kecemasan baru. Eksploitasi jenis pangan yang didominasi oleh biji-bijian dan butir-butiran terutama serealia (padi, gandum, jagung dan Iain-Iain) dan leguminosa (kedelai, kacang tanah dan Iain-Iain) telah mencapai titik kejenuhan, sehingga sangat sulit untuk ditingkatkan potensinya. Ubijalar merupakan kelompok tanaman ubi-ubian yang potensinya menjadi harapan baru untuk memenuhi permintaan terhadap pangan. Meskipun kini telah dianggap sebagai pangan lokal, sebenarnya asal usul, sejarah penyebaran tanaman ubijalar perlu lebih diketahui agar mendapat pemahaman yang utuh.The taksonomical and historical distribution of sweet potato was discussed. The root crop is a potential food crop when the scarcity occurs. Food scarcity or food insecurity is the most important global issue affecting multidimensional crisis, includingpoliticalinstability in various countries. Recent situation in Greece, as an old developed country from the ancient, showed that her economic and political situations dropped into the worse circumstances, including malnutrition of the population. Moreover, the global climatic change is also threatening to the food production. So the target of the Millennium Development Goals through the increasing food production, reducing hunger and alleviating poverty encountered a new serious problem. So far, the exploitation of food crops is dominated from cereals and legumes such as rice, wheat, maize, soybean, peanut, mungbean etc, where theirproductivities revealed under saturation level, there by the endeavors to increase production are very difficult. Sweet potato as a food under tuberous rootcrop group therefore provides an alternative as the new potential food source to meet the greater demand forstaple food. Although sweet potato is considered to be local food, its real origin and historical distribution perspective as well as from taksonomicalpoint of view need to be understood holistically. 
Potensi dan Pemanfaatan Pati Sagu dalam Mendukung Ketahanan Pangan di Kabupaten Sorong Selatan Papua Barat (Potential and Utilization of Sago Starch to Support Food Security in South Sorong Regency, West Papua) Haryanto, Bambang
JURNAL PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.666 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i2.23

Abstract

Kabupaten Sorong Selatan memiliki potensi sagu (Metroxylon sp). Namun luas areanya masih belum pasti, pemanfaatan pati sagu masih terbatas sebagai pangan pokok masyarakat tertentu. Studi ini bertujuan mengetahui potensi dan pemanfaatan sagu di Kabupaten Sorong Selatan. Metodologi yang digunakan adalah pemetaan dengan citra satelit dan survei lapangan. Potensi sagu dihitung menggunakan persamaan Yumte. Hasil pemetaan area potensi sagu mencapai 311,5 ribu ha dan tersebar di 8 distrik dengan potensi pati sagu sebesar 2,9 juta ton. Areal sagu terluas terdapat di distrik Kais sebesar 63,8 ribu ha, Kokoda 61,3 ribu ha, Inanwatan 55,5 ribu ha, Saefi 39,6 ribu ha dan Kokoda utara 34,5 ribu ha. Kerapatan pohon sagu masa tebang setiap ha mencapai 67 pohon dan diameter rata-rata 41,2 cm dengan tinggi pohon 9,9 m. Estimasi produksi sagu mencapai 9,7 ton per ha. Usulan untuk membuka pasaran pati sagu salah satu strarteginya adalah setiap pegawai negeri sipil di Kabupaten Sorong Selatan mendapatkan jatah sagu setiap bulannya sebesar 10 kg sebagai bentuk implementasi penggunaan bahan baku lokal dalam mendukung ketahanan pangan. Pemanfaatan potensi sagu ini bila dapat diterapkan di lapangan akan membuka kegiatan ekonomi dan mendukung ketahanan pangan di wilayah Sorong SelatanSouth Sorong Regency has the potential of sago (Metroxylon sp). However, its area remains unclear. The utilization of sago starch has been limited as a staple food of certain communities. This study aims to determine the potential and utilization of sago in South Sorong Regency.The methodology used is maping with satellite imagery and field surveys. Potential sago is calculated using Yumte formulation. The results show that the potential area reaches 311.5 thousand hectares and spreads over 8 districts, whilts sago starch potential is approximately 2.9 million tons. The widest sago areas are located in the districts of Kais (63.8 thousand ha), Kokoda (61.3 thousand ha), Inanwatan (55.5 thousand ha), Saefi (39.6 thousand ha) and in northern Kokoda (34.5 thousand ha). The Sago tree density is 67 trees per ha with an average diameter of 41.2 cm and height of 9.9 m.The estimation of sago production is about 9.7 tons per hectare. A strategy to open up the market is to impose a policy in which each civil servant in South Sorong regency would get sago of 10 kg/month as an implementation of the use of local production for food security. This strategy is hoped to open up the economic activities in the region of South Sorong.
Bioteknologi Untuk Ketahanan Pangan Kedelai: Aspek Produksi dan Konsumsi (Biotechnology For Soybean Food Security: Production and Consumption Aspects) Pawiroharsono, Suyanto
JURNAL PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1082.492 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i3.117

Abstract

Kedelai adalah komoditas pangan penting di Indonesia. Kedelai merupakan makanan bergizi yang sudah berabad-abad lamanya dan telah menjadi bagian budaya bangsa. Bentuk makanan yang umum dikonsumsi terutama adalah tempe, tahu, kecap dan tauco. Namun demikian, Indonesia sejak tahun 1974 tidak dapat memenuhi semua kebutuhan secara mandiri, dan akibatnya Indonesia menjadi negara pengimpor kedelai sampai sekarang. Kecuali pada tahun 1992, tercatat produksi kedelai nasional mencapai 1,9 juta ton sehingga pada tahun tersebut dikatakan mampu berswasembada. Ketergantungan impor kedelai meningkat dari tahun ke tahun dan pada tahun 2012 mencapai 70 persen. Oleh karena itu, pemanfaatan bioteknologi diharapkan dapat menjadi solusi untuk mendukung program swasembada dan ketahanan pangan kedelai, yaitu mencakup aspek peningkatkan produksi kedelai (varietas unggul dan pupuk hayati), dan melalui perbaikan aspek konsumsi (proses fermentasi) yang dapat memperbaiki kualitas gizi dan keamanan konsumsi. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi bioteknologi untuk ketahanan pangan kedelai diperlukan suatu model sistem inovasi yang melibatkan berbagai pihak seperti peneliti, petani, penyuluh, investor dan industri.Soybean is an important food commodity in Indonesia. Soybean is considered as a nutritious food, which is consumed for the centuries and to be part of national culture. Generally, the types of food products from soybean are tempe, tofu, soy-sauce (kecap) and taucho. Unfortunately, since 1974, Indonesia could not fulfill the demand trough domestic production, and consequently Indonesia has been an importing country of soybean up to present. Except in 1992, it was noted that the national soybean production reached 1, 9 million tons, so in this year it called to be able to self sufficiency. The import dependency increased gradually from year to year, and in 2012 the level reached nearly to 70 percent. For this reason, the implementation of biotechnology is expected to be a solution for soybean self supporting program and soybean food security. The implementation covered two aspects namely: increasing the soybean production (superior variety and biofertilizer), and improving on consumption (fermentation process), that is able to increase on nutritive value and food safety. Therefore, the successful of the implementation of biotechnology on soybean food security needs an innovation system model involving related stakeholders such as researcher, farmer, agricultural extension, investor and industry.  
Identifikasi Potensi MOCAF (Modified Cassava Flour) sebagai Bahan Pensubstitusi Teknis Terigu pada Industri Kecil dan Menengah di Jawa Timur (Potency Identification of MOCAF (Modified Cassava Flour) as Technical Substitution of Wheat Flour in Small and Medium Enterprises in East Java) Ruriani, Eka; Nafi, Ahmad; Yulianti, Liony Dwi; Subagio, Achmad
JURNAL PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.605 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i3.99

Abstract

Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap terigu sebagai salah satu sumber pangan pokok. Salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan terigu adalah dengan memberdayakan dan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia. Penggunaan MOCAF (Modified Cassava Flour) yang berasal dari singkong adalah salah satu solusi. Penelitian ini mengkaji potensi secara teknis penggunaan MOCAF sebagai bahan pensubstitusi terigu untuk pembuatan berbagai produk pangan, khususnya pada Industri Kecil Menengah (IKM) pengguna terigu di Jawa Timur. METODOLOGI bersifat deskriptif kuantitatif melalui survei, penyebaran kuesioner, dan wawancara. Interpretasi data disajikan dalam bentuk tabel, gambar, dan diagram. Selain itu juga dilakukan analisis SWOT untuk mengetahui faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan MOCAF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara teknis, potensi MOCAF sebagai bahan pensubstitusi terigu dalam pembuatan berbagai macam produk pangan pada IKM pengguna terigu di Jawa Timur sebesar 54,43 persen. Analisis SWOT pada diagram cartesius menunjukkan bahwa posisi produk MOCAF berada pada kuadran I, yaitu browth (pertumbuhan). Posisi produk MOCAF berada dalam posisi yang menguntungkan atau dapat dikatakan bahwa MOCAF mempunyai kekuatan dan peluang yang besar dalam pertumbuhannya. Hasil matrik IE menunjukkan posisi kekuatan internal dan eksternal produk MOCAF berada pada sel IV, yang membutuhkan strategi pengembangan yang hati-hati karena persaingan yang cukup tinggi.Indonesia has high dependency on wheat flour as one of staple food sources. Exploration of indigenous natural resources is needed to reduce this dependency. The application of MOCAF (Modified Cassava Flour) on food products, which is derived from cassava, is an alternative technology to solve the problem. The objective of this research is to identify the MOCAF potency to substitute wheat flour in producing various kinds of food products in the view of technical matter, particularly in small and medium enterprises (SMEs) as end users of wheat flour in East Java. Descriptive analysis is used to identify the potency by the methods of survey, questionnaire distribution, and interview. Tables, charts, and diagrams are used to interpret the data. SWOT analysis is also used to investigate internal and external factors affecting the MOCAF development. The results show that MOCAF could substitute 54.43 persen of wheat flour in food production. The SWOT analysis describes that MOCAF development is in the growth phase, a beneficial position which has massive strength and opportunities in its development. Matrix IE explains the MOCAF position is in the fourth cell, which should always build up new strategy because of the strict competition. 
Teknologi Penyimpanan Gabah Secara Hermetik untuk Menekan Susut Kualitas dan Kuantitas Rachmat, Ridwan
JURNAL PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.865 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i2.256

Abstract

Penyimpanan gabah baik ditingkat petani maupun komersial menghadapitantangan keadaan iklim dan gangguan hama. Masalah utama kerusakan mutuyang disebabkan oleh absorpsi uap air dan hama serta kehilangan viabilitas daribenih. Studi ini mempelajari sistem penyimpanan gabah secara hermetik baikuntuk konsumsi maupun benih ditingkat petani dan laboratorium. Tujuan utamaadalah untuk mengamati pengaruh penyimpanan hermetik padi dan benih terhadap kehilangan secara kualitas maupun kuantitas. Penelitian dilakukan di Subang, dan Karawang, Jawa Barat. Metode penyimpanan yang dievaluasi terdiri atas sistem penyimpanan tradisional, sistem penyimpanan hermetik. Pengambilan sampel dilakukan setiap 3 bulan pada 5 lokasi yang berbeda secara terpisah. Analisa mutu sampel gabah dan beras dilakukan di Laboratorium Karawang pada Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian. Tingkat oksigen selama periode penyimpanan diukur setiap 2 minggu. Penelitian ini membandingkan sistem penyimpanan hermetik secara tradisional dengan wadah tabung plastik, plastik polyetylen serta volcano cube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penyimpanan hermetik merupakan metode yang efektif untuk skala kecil menengah dan memiliki kemampuan dalam pengendalian variasi kadar air dan hama Penyimpanan gabah. Ditinjau dari daya tumbuh benih tertinggi terdapat pada benih yang disimpan dalam tong plastik (plastik jar) yaitu 86%, diikuti kantong aluminium foil 84% dan karung polyetilene 82,3%, dan terendah yaitu volcani cube 78,3%. Penyimpanan metode hermetik dengan menggunakan tabung atau tong plastik secara umum terbaik dibandingkan dengan karung polyetilene atau kantong aluminium foil. Hasil analisa menunjukkan bahwa terdapat penurunan jumlah serangga, terkendalinya viabilitas benih selama 12 bulan penyimpanan. Viabilitas benih, kondisi lingkungan menurun setelah penyimpanan selama 6 bulan; sistempenyimpanan hermetik dengan prinsip pengendalian tingkat respirasi aerobik dari bahan, serangga dan jamur. Dalam sistem ini kadar karbon dioksida antar biji meningkat dengan berkurangnya tingkat konsentrasi oksigen, sehingga respirasi aerobik yang terjadi semakin rendah.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue