cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Analisis Pengaruh Butir Patah Dan Menir Terhadap Penjualan Beras Premium Di Pasar Induk Beras Cipinang Yudha, Yudy Prakasa; Sumarwan, Ujang; Bawono, Sri
JURNAL PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.118 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i4.172

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1). pengaruh butir patah dan menir terhadap tingkat penjualan beras premium; (2) pesentase kewajaran butir patah dan menir dalam beras premium; (3) bagaimana pengusaha dapat mempengaruhi kualitas beras premium untuk mencapai keuntungan tanpa mengurangi selera konsumen. Dalam penelitian ini dilakukan pendekatan deskriptif dengan tujuan agar hasil penelitian dapatmenggambarkan dengan baik hubungan antara variabel yang terkandung dalam beras premium terhadap penjualannya, menggunakan pedoman pada hasil yang diperoleh melalui metode Kuasi Eksperimen. Untuk mempermudah analisis digunakan aplikasi pengolah data SPSS (Statistical Program For Social Science), yang merupakan paket program aplikasi komputer untuk menganalisis data-data statistik. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa variabel Butir patah, Menir, Beras Ramos IR.64 dan Beras Rojolele secara simultan/bersama-sama ataupun sendiri-sendiri / parsial mempunyai pengaruh signifikan (bermakna) terhadap penjualan Beras Premium di Pasar Induk Beras Cipinang.The purposes of this study are to determine: (1) the effect of broken grains and groats on the rates of sales of premium rice; (2) the fair percentage of broken grains and groats in premium rice; (3) how the entrepreneurs can affect the quality of premium rice to gain profit without reducing consumer taste. In this research, descriptive approach is used in order that the results can well describe the relationship between the variables contained in premium rice and the sales of the rice, using the guidelines on the results obtained through the method of Quasi Experiments. To simplify the analysis of the data processing, SPSS (Statistical Program for Social Science), a computer application program package for analyzing statistical data, is applied. The results show that the variables of broken grains, groats, Ramos IR.64 rice, and Rojolele rice simultaneously or partially have significant (meaningful) influences on the sales of premium rice at the Rice Master Market of Cipinang. 
Karakteristik Fisik dan Sifat Fungsional Beras Jagung Instan Akibat Penambahan Jenis Serat dan Lama Pembekuan Physical Characteristics and Functional Properties of Instant Corn Rice due to the Addition of Fiber Type and Duration of Freezing Kumalasari, Rima; Setyoningrum, Fitri; Ekafitri, Riyanti Ekafitri
JURNAL PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (877.889 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i1.41

Abstract

sifat fungsional beras jagung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis serat dan waktu pembekuan terhadap karakteristik fisik dan fungsional beras jagung instan. Faktor yang diuji adalah jenis serat, (tanpa serat, ditambah serat tepung agar-agar/serat agar-agar, ditambah serat tepung agaragar yang dicampur dengan wortel/serat agar-wortel) dan lama pembekuan (72, 96, dan 120 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jenis serat meningkatkan nilai densitas kamba dan tingkat pengembangan serta menurunkan nilai porositas, rasio rehidrasi, dan tingkat penyerapan. Densitaskamba beras jagung instan berserat berkisar antara 0,2065 – 0,4165 g/ml, porositas berkisar antara 66 – 79 persen, rasio rehidrasi berkisar antara 406 – 578 persen, tingkat penyerapan berkisar antara 306 – 459 persen, dan tingkat pengembangan berkisar antara 44 – 119 persen. Sifat birefringence yang diamati menujukkan bahwa baik beras jagung dengan perlakuan penambahan jenis serat dan lama pembekuan masih menunjukkan beras jagung belum cukup matang dengan waktu pemasakan selama 4 menit. Penambahan jenis serat berpengaruh terhadap sifat fisik beras jagung instan tetapi tidak berpengaruhterhadap sifat fungsional beras jagung instan, sedangkan lama pembekuan tidak berpengaruh terhadap sifat fisik maupun fungsional beras jagung instan.The addition of fiber in instant corn rice has been done due to improve its functional properties. The aim of this research is to determine the effects of fiber type and time of freezing on physical and functional characteristics of the instant corn rice. The tested factors are the types of fibers (without fiber, jelly powder, jelly powder mixed with carrot) and the time of freezing (72, 96, and 120 hours). The addition of fiber increases the bulk density and the swelling rate, and decreases the porosity value, rehydration ratio, and absorption rate. The bulk density of instant corn rice are ranged from 0.2065 to 0.4165 g/mland the porosity are ranged from 66 to 79 percent. The rehydration ratio, absorption rate and swelling rate are ranged from 406 to 578 percent, 306 to 459 percent, 44 to 119 percent, respectively. By birefringence properties show that either treatment of fiber addition or time of freezing induces the instant rice corn cooked unwell for 4 minutes. The results show that the addition of fiber types affect the physical properties of instant corn rice but does not affect the functional properties while the time of freezing does not affect neither the physical nor the functional properties.
Dukungan Iptek Bahan Pangan pada Pengembangan Tepung Lokal Budijanto, Slamet
JURNAL PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1062.303 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i2.205

Abstract

Jumlah dan pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini cukup besar, sehingga tidak bisa mengandalkan pemenuhan kebutuhan sumber karbohidrat hanya pada beras. Kesadaran untuk memanfaatkan komoditas pangan lokal sebagai bahan pangan utama sumber karbohidrat pernah ada, seperti jagung di Madura dan sagu di Maluku. Oleh karena itu, peluang untuk mengeksplorisasi sumber karbohidrat non beras untuk pangan pokok bukan suatu hal yang baru. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan mendorong tumbuhnya industri tepung berbahan baku lokal. Beragamnya sumber karbohidrat yang berpeluang untuk dijadikan tepung memerlukan dukungan teknologi yang dapat menghasilkan tepung dengan karakteristik yang ungggul dan dapat diterima oleh masyarakat.
Perbedaan Komponen Hasil Dan Hasil 4 Genotip Ubi Jalar Di Lahan Basah Dan Lahan Kering Dengan Pemberian Kombinasi Pupuk Kalium Dan Bokashi Jerami (The Difference of Storage Root Yield Component and Yield of 4 Genotype of Sweet Potato in Wet Land and Dry Land with Aplication of Fertilizers Combination of KCl and Straw Bokashi) Hidayati Nafi’ah, Hanny; Nurmala, Tati; Karuniawan, Agung
JURNAL PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1582.572 KB) | DOI: 10.33964/jp.v25i1.302

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui komponen hasil dan hasil beberapa genotip ubi jalar yang ditanam di lahan basah dan lahan kering dengan pemberian kombinasi pupuk KCl dan bokashi jerami. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan UNPAD Ciparanje Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dari bulan Februari hingga Juli 2015. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial, yaitu faktor genotip yang terdiri dari 4 genotip dan 1 check, dan faktor kedua kombinasi bokashi jerami dan KCl terdiri dari 6 kombinasi dan 1 kontrol. Masing-masing satuan percobaan diulang 2 kali, sehingga secara keseluruhan terdapat 70 satuan percobaan di tiap lahan. Penelitian menunjukkan komponen hasil dan hasil ubi jalar lebih baik di lahan basah daripada di lahan kering. Genotip 95 [265 (653)] lebih dominan di lahan basah sedangkan genotip Rancing lebih dominan di lahan kering. Kombinasi pupuk 50 kg/ha KCl + 20 t/ha bokashi jerami dapat meningkatkan komponen hasil dan hasil ubi ubi jalar di lahan sawah, sedangkan kombinasi pupuk  50 kg/ha KCl + 15 t/ha bokashi jerami dan 100 kg/ha KCl + 15 t/ha bokashi jerami dapat meningkatkan komponen hasil dan hasil ubi ubi jalar di lahan kering.The  aims of this study were to see the difference characters of genotype in two agro ecosystems, wet and dry lands fertilized with KCL and straw Bokashi.  The research was conducted at the Experimental Field of Faculty of Agricultural UNPAD Ciparanje Jatinangor from February to July 2015. The research was carried out using Randomized Block Design (RBD) two factorials. The first factor was genotype, consisted of 4 genotypes and 1 control, second factor was combination of KCl and straw bokashi that consisted of 6 combinations and 1 control. The study was repeated twice so there were 70 treatments. Storage root yield component and storage root yield growth were better in wet land than dry land. Genotype 95 [265 (653)] was dominant in wet land and Rancing was dominant in dry land. Combination of fertilizers 50 kg/ha KCl + 20 t/ha straw bokashi could increase storage root yield component and storage root yield in wet land, while in dry land combination of fertilizers 50 kg/ha KCl + 15 t/ha straw bokashi and 100 kg/ha KCl + 15 t/ha straw bokashi could increase storage root yield component and storage root yield.
Budidaya Jamur Kuping Dan Tiram Dengan Teknologi Pengendalian Suhu Yamin, Mad
JURNAL PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.319 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i2.137

Abstract

Pada umumnya budidaya jamur kuping dan tiram dilakukan pada dataran tinggi dengan ketinggian 800 m dpl (di atas permukaan laut). Oleh karena itu, sampai saat ini para petani jamur menggunakan lahan-lahan di dataran tinggi tersebut untuk pembudidayaan jamur kuping dan tiram. Perlu terobosan baru dalam melakukan budidaya jamur dengan menggunakan teknologi pengendalian suhu, sebagaimana yang sudah dilakukan di negara-negara maju seperti Jepang, yaitu budidaya jamur dengan pengendalian suhu pada 15o C menggunakan mesin pendingin. Dengan teknologi pengendalian suhu tersebut, budidaya jamur dapat dilakukan di dataran rendah. Pada tulisan ini akan diuraikan hasil hasil penelitian yang telah dilakukan di Fakultas Teknologi Pertanian, IPB Bogor. Hasil Penelitian yang telah dilakukan oleh Sri Daryani dkk (1999) dengan teknik pengendalian suhu pada rumah jamur,telah menghasilkan dalam skala laboratorium hasil panen jamur kuping mencapai 84.8 % dari berat media. Sedangkan hasil panen jamur tiram mencapai 78.2 %, dengan pengendalian suhu 17oC , juga menghasilkan panen yang terbesar, yaitu 424 gram untuk jamur kuping dan 391 gram untuk jamur tiram per bag log. Pertumbuhan jamur akan lebih cepat pada rumah jamur dengan suhu 21oC dan ada kecenderungan bahwa pertumbuhan jamur di dalam rumah jamur dengan suhu terkendali, memberikan hasil yang lebih baik yaitu diameter Pileus dan diameter Stipa yang lebih lebar dan lebih tebal. Dari uraian di atas, maka sudah saatnya bagi para pengusaha Jamur untuk menggunakan Teknologi pengendalian suhu dalam budidaya jamur.Cultivation of Tiram Mushroom and kuping Mushroom usually done at high land about 800 m above sea level . That’s why the Mushroom’s Farmers always using high land for example land at Puncak or at Dieng Mountain and another high land. We need new inovation, how the farmers could doing Tiram Mushroom and Kuping Mushroom cultivation at the lower land using temperature control technology which has done at Japan or western countries. Japan has developed Temperature control technology about 15oC for Mushroom cultivation using Refrigeration machine which temperature control at 15oC. There for the mushroom cultivation could be done at lower land. At this paper will describe about reseach which has done at Faculty of Agricultural Technology, Bogor Agriculture Institute (IPB Bogor). Sri Daryani et al (1999) has found on her reseach that Mushroom in the green house which temperature control give harvest result about 84.8% of mushroom baglog weight. The result of Tiram Mushroom harvest is 78.2 %, at temperature control abaout 17oC. Also give the greatest harvest 424 gram of kuping Mushroom and 391 gram of Tiram Mushroom for every bag log, Mushroom grows faster at Green house by temperature of 21oC , diameter of Pileus wider and diameter of Stipa more thick. So, this time the mushroom farmers could do mushroom cultivation on the lower land by using temperature control green house. 
Tinjauan Waktu Tanam Tanaman Pangan Di Wilayah Timur Indonesia (Review of Food Crop Planting Time In Eastern Indonesia) Runtunuwu, Eleonora; Syahbuddin, Haris; Ramadhani, Fadhlullah; Apriyana, Yayan; Sari, Kharmila; Nugroho, Wahyu Tri
JURNAL PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.745 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i1.75

Abstract

Waktu awal tanam padi merupakan salah satu aspek pertanian yang menggambarkan waktu mulai menanam padi yang diduga bervariasi antar tempat. Penelitian bertujuan untuk mengkaji variasi waktu tanam tanaman pangan di wilayah timur Indonesia. Awal waktu tanam tanaman pangan yang dilakukan petani pada Musim Tanam I (MH) ditentukan apabila 8 persen dari luas baku kecamatan yang bersangkutan telah ditanami, awal tanam Musim Tanam II (MK I) ditentukan pada saat 6 persen dari luas baku sawah telah ditanami. Analisis dilakukan dengan menggunakan data luas baku dan luas tanam bulanan untuk tanaman padi sawah, padi ladang, dan jagung. Data yang dikumpulkan adalah data per kecamatan untuk periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Penelitian menunjukkan awal waktu tanam yang hampir sama untuk semua komoditas yaitu pada pertengahan sampai dengan akhir Oktober (Okt ll/lll) untuk MH. Untuk MK I, petani melakukan penanaman padi ladang dan jagung terlebih dahulu mulai akhir Januari sampai dengan awal Februari (Jan lll/Feb I)dan juga pertengahan sampai akhir Februari (Feb ll/lll) untuk padi sawah. Realisasi waktu tanam petani ini sangat ditentukan oleh awal musim hujan yang terjadi di wilayah timur Indonesia, sehingga hanya beberapa tempat yang bisa melakukan penanaman padi pada MK I, dan umumnya diganti dengan tanaman palawija. Apabila informasi awal waktu tanam ini dipetakan secara nasional, maka usaha pemenuhan kebutuhan tanaman pangan dapat difokuskan dengan memperhatikan tempat dan waktu kegiatan budidaya tanaman pangan.Planting time of food crop by farmers is expected to be varied among regions. The study aimed to examine the planting time variation of food crops in eastern Indonesia. Commencing planting time of planting season I (MH) is determined when 8 percent of the total food crop area have been planted, while commencing planting of planting season II (MK I) determined when 6 percent of the area have been planted. Analyses were performed using the food croparea and monthly planted area forirrigation paddy, rainfed paddy and maize. The collected data are distributed in each sub-district between 2000 and 2009 and obtained from the Central Statistics Agency (BPS). Research result showed commencing planting time forrainy season (MH) is almost similar forall food crops in the midto late of October(Oct II / III). For dry season (MK I), farmers plants rainfed paddy and maize crops in advance from late January to early February (Jan HI / Feb I) as wellas midto late February (Feb II / III) forirrigated paddy. Actual planting time is largely influenced bymonsoon in eastern Indonesia, therefore only a fewplaces that cultivate rice inMKI, butgenerally they plant secondarycrops. When the commence of planting time information is mapped nationally, efforts to fulfill the food crops requirement could be planned appropriately considering the local time of food crops cultivation.
ARAH KEBIJAKAN PENYEDIAAN PANGAN DALAM NEGERI Nainggolan, Kaman
JURNAL PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.079 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i1.230

Abstract

Ketahanan pangan pada tingkat nasional diartikan sebagai kemampuan suatu bangsa untuk menjamin seluruh penduduknya memperoleh pangan yang cukup, mutu yang layak, aman; yang didasarkan pada optimalisasi pemanfaatan dan berbasis pada keragaman sumberdaya lokal (Dewan Ketahanan Pangan, 2006). Dari pengertian tersebut, idealnya kemampuan dalam menyediakan pangan bersumber dari dalam negeri sendiri, yaitu yang dihasilkan petani. Sedangkan impor pangan dilakukan sebagai altematif terakhir untuk mengisikesenjangan antara produksi dan kebutuhan pangan dalam negeri, serta diatur sedemikian rupa agar tidak merugikan kepentingan para produsen pangan di dalam negeri, yang mayoritas petani skala kecil, juga kepentingan konsumen khususnya kelompok miskin. Produksi pangan strategis pada tahun 2007 (ASEM BPS) mencukupi yaitu : produksi padi sebesar 57,05 juta ton GKG; jagung sebesar 13,29 juta ton; kedelai sebesar 698,94 ribu ton; daging sapi sebesar 464 ribu ton; ubi kayu sebesar 19,803 juta ton; kacang tanah sebesar 788,53 ribu ton; kacang hijau sebesar 322,17 ribu ton; ubi jalar sebesar 1,88 juta ton; dan daging ayam 1,33 juta ton ton. Pembangunan ketahanan pangan dunia akhir-akhir inimenghadapi tiga masalah utama, yaitu: 1) meningkatnya harga pangan dunia, 2) meningkatnya harga BBM, sehingga meningkatkan permintaan atas bio energi, dan 3) masalah global warming yang memicu terjadinya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah. Secara mikro, terwujudnya kemandirian pangan dicirikan oleh indikator sebagai berikut: (a) dipertahankan ketersediaan energi perkapita minimal 2.200 Kilokalori/hari, dan penyediaan protein perkapita minimal 57 gram/hari, (b) meningkatnya kemampuan pemanfaatan dan konsumsi pangan perkapita untuk memenuhi kecukupan energi meminimal 2.000 Kilokalori/hari dan protein sebesar 52 gram/hari, (c) meningkatnya kualitas konsumsi pangan masyarakat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) minimal 80. Sedangkan secara makro/nasional, dicirikan oleh indikator meningkatnya produksi pangan dalam negeri yang berbasis pada sumberdaya lokal, yang diwujudkan melalui pemantapan swasembada beras berkelanjutan; swasembada jagung pada 2007; swasembada kedele pada 2012; swasembada gula pada 2009 dan swasembada daging sapi pada 2010 ; serta membatasi impor pangan utama di bawah 10 persen dari kebutuhan pangan nasional. Berdasarkan hal tersebut, strategi umum untuk mewujudkan ketahanan pangan yang akan dilaksanakan adalah pendekatan jalur ganda (twin-track approach), yaitu: (a) membangun ekonomi berbasis pertanian dan pedesaan untuk menyediakan lapangan kerja dan pendapatan; dan (b) memenuhi pangan bagi kelompok masyarakat miskin dan rawan pangan melalui pemberian bantuan langsung agar tidak semakin terpuruk, sertapemberdayaan agar mereka semakin mampu mewujudkan ketahanan pangannya secara mandiri.
Efek Kombinasi Pupuk Fosfat dan Bakteri Pelarut Fosfat terhadap Indeks Pertumbuhan Fisiologi Lima Varietas Ubi Jalar [Ipomoea batatas (L.) Lam] Sukmasari, Miftah Dieni
JURNAL PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i3.336

Abstract

Physiological growth index is the representation of plant response to environmental factors. The application of phosphate fertilizers (P2O5) and phosphate solubilizing bacteria (PSB) are environmental factors that can be controlled to optimize plant growth. The effect P2O5 and PSB to sweet potato physiological growth indices has been investigated in the experimental field of the Faculty of Agriculture, Padjadjaran University in June 2014 to October 2014.The trial was designed as 5 x 4 factorial experiments in the randomized complete block and laid out in split-plots arrangements with two replications. The main plots were five sweetpotato varieties (Awachy 1, Awachy 2, Awachy 4, Awachy 5, and Kuningan Putih), while four combination P2O5 + PSB fertilizer levels (36 kg/ha P2O5 without PSB (BP0), 36 kg/ha P2O5 + PSB (BP1), 27 kg/ha P2O5 + PSB (BP2) dan 18 kg/ha P2O5 + PSB (BP3) constituted the sub-plots. The experimental results showed there were variation in crop dry weight (CDW), leaf area index (LAI), net assimilation rate (NAR) and crop growth rate (CGR) caused by a varieties factors. Variety Awachy 5 have the largest physiological growth indices. The application of 18 kg/ha P 2O5 + BPF (BP3) combination increase CDW, LAI, NAR and CGR on sweet potato varieties.
Peranan Penyimpanan Dalam Menunjang Ketahanan Pangan Haryadi, Yadi
JURNAL PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.647 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i4.163

Abstract

Ketahanan pangan didefinisikan sebagai keadaan pada saat semua orang pada setiap saat secara fisik sosial, dan ekonomi memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan yang sesuai dengan seleranya bagi kehidupan yang aktif dan sehat. Arah kebijakan ketahanan pangan Indonesia saat ini masih cenderung difokuskan pada tahap budidaya (on farm), sementaraperhatian pada tahap pasca panen masih belum memadai. Padahal, selama tahap pasca panen dapat terjadi kerusakan, kehilangan, dan penurunan mutu dan nilai gizi, serta keamanan pangan, yang dapat membuat pangan yang ada tidak memenuhi kriteria pemenuhan ketahanan pangan. Penyimpanan merupakan salah satu tahap pasca panen yang berpotensi memberi andil pada terjadinya kehilangan dan kerusakan bahan pangan yang telah diproduksi. Pada tahap penyimpanan dapat diterapkan teknik-teknik penyimpanan yang benar dan pengendalian hama yang tepat sehingga selama masa penyimpanan kerusakan ditekan sekecil mungkin.Food security is defined as a situation in which all people physically, socially, and economically at all times have access to sufficient, safe and nutritious food to meet their needs in accordance with their taste for an active and healthy life. It seems that the current policy of Indonesian food security is heavily focused on the food production phase (on farm), whereas insufficient attention is given on post harvest stage. In fact, during post-harvest stage food loss, quality deteriorations, and loss of nutritional value, as well as loss of food safety may take place, which can make food that does not fulfill the criteria of food security compliance. Storage is one of post-harvest stages that could potentially contribute to the occurrence of above quantitative and qualitative food losses. During storage different proper storage techniques and pest control could be applied, so that the food losses during storage could be reduced to as small as possible. 
Protokol Penanggulangan dan Penyelamatan Krisis Pangan dan Gizi pada Kelompok Rawan (Protocol for Recovery and Prevention of Food and Nutrition Crises on Vurnerable Group) Briawan, Dodik; Hariyadi, Purwiyatno; Hari Purnomo, Eko Hari Purnomo; M. Taqi, Fahim
JURNAL PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1724.573 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i2.32

Abstract

Krisis pangan dan gizi merupakan permasalahan yang berdampak terhadap pembangunan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan protokol pencegahan dan penanggulangan krisis pangan dan gizi. Data yang digunakan terdiri dari data sekunder dan primer. Protokol krisis pangan dan gizi dikembangkan dengan melibatkan ahli dan narasumber dari pemerintah daerah di Sukabumi, Situbondo dan Bogor. Kondisi krisis pangan dan gizi dapat ditetapkan dengan sistem survailan menggunakan indikator yang valid, sensitif, dan mudah dikumpulkan. Model yang sudah ada yaitu “Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi” dapat digunakan dengan beberapa modifikasi tertutama pada komponen indikator. Protokol pencegahan dan penanggulangan dikembangkan untuk kelompok rumah tangga rawan di masyarakat. Kelompok ini dapat ditetapkan berdasarkan 14 indikator nonmoneter yang dikembangkan oleh BPS, dengan prioritas yang mempunyai anak di bawah usia lima tahun dan atau ibu hamil. Upaya penyelamatan terutama dilakukan dengan memberikan makanan tambahan pada kelompok rawan ini. Penanggulangan diarahkan melalui bantuan ekonomi kepada rumah tangga sasaran. Pemerintah daerahperlu membentuk tim manajemen krisis pangan dan gizi yang disertai peran dan tanggungjawab yang jelas. Disarankan, pemerintah daerah mempunyai kewenangan dalam menetapkan kondisi krisis, yang disertai anggaran pelaksanaan protokol tersebut. Selain itu, dalam jangka panjang program seperti SKPG, Posyandu dan UPGK perlu diperbaiki dan ditingkatkan.Food and nutrition crises affect Indonesian development. This study aims to develop general protocol for prevention and recovery of food and nutrition crises. The data comprises of secondary and primary data. The crisis protocol is developed by involving experts and resource persons from Sukabumi, Situbondo and Bogor local governments. The crisis condition could be determined using mechanism of surveillances, valid, sensitive, and easy to generate indicators. The existing “Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi” model could be applied with some modification on its components. The recovery and prevention protocolshould specifically be developed for vulnerable groups which can be determined using 14 non-monetary indicators developed by CBS, with special priority given to households with children under 5 years and/or pregnant mothers. The recovery is focused on feeding program for those groups. Prevention program is designed for the development of economic activities for the targeted households. The local government need to establish a crisis management team with well defined roles and responsibilities. It is proposed that Head of Local Governments should have authority to determine, declare crisis condition, and allocate budget to execute the protocol. In the long run, existing food and nutrition programs; especially SKPG, Posyandu and UPGKshall be up-graded and improved.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue