cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Pendapatan Usahatani Ubi Jalar Tumpangsari dengan Jagung Manis di Desa Gunung Malang, Kabupaten Bogor Farm Income of the Intercropping System between Sweet Potato and Sweet Corn in Gunung Malang Village, Bogor Regency Nurmalina, Rita; Amandasari, Melissa
JURNAL PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.241 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i1.52

Abstract

Ubi jalar merupakan salah satu tanaman pangan pokok yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat selain beras. Permintaan terhadap ubi jalar terus mengalami peningkatan, tidak hanya untuk kebutuhan pangan tetapi saat ini industri juga membutuhkan pasokan ubi jalar dalam jumlah yang cukup besar. Peningkatan permintaan tersebut perlu diimbangi dengan kontinuitas pasokan bahan baku ubi jalar yang bermutu. Desa Gunung Malang merupakan salah satu daerah penghasil ubi jalar terbesar di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengkaji keragaan usahatani dan penggunaan input produksi ubi jalar tumpangsari dengan jagung manis di Desa Gunung Malang, menganalisis pendapatan usahatani dan rasio antara penerimaan dan biaya dari usahatani ubi jalar tumpangsari dengan jagung manis, serta menganalisis balas jasa terhadap faktor-faktor produksi pada usahatani ubi jalar tumpangsari dengan jagung manis di Desa Gunung Malang. Rata-rata pendapatan atas biaya tunai per hektar per musim tanam yang diperoleh petani responden yaitu Rp 17.176.794,84, sedangkan rata-rata pendapatan atas biaya total per hektar per musim tanam sebesar Rp 10.094.997,75. Berdasarkan nilai R/C atas biaya tunai dan biaya total, dapat disimpulkan bahwa usahatani ubi jalar tumpangsari dengan jagung manis layak untuk diusahakan. Nilai R/C atas biaya tunai yang diperoleh sebesar 2,24 sedangkan nilai R/C atas biaya total sebesar 1,48. Sweet potato is one of the staple food consumed by most people other than rice. Demand for sweet potatoes are increasing from time to time, especially for the industry that needs a supply of sweet potatoes in large quantities. Increasing demand needs to be supplemented with the continuity of high quality supply of sweet potatoes. Gunung Malang village is one of the largest producers of sweet potatoes in Tenjolaya district, Bogor regency. The objectives of this research are to analyze the farming techniques and the use of production inputs in Gunung Malang, to analyze the income and the ratio between revenue and cost of intercropping system between sweet potato and sweet corn, and to analyze the return to production factors in Gunung Malang. The average income value based on cash costs per hectare per cropping season for intercropping system of sweet potato and sweet corn farming is Rp 17,176,794.84 while the average income value based on total costs per hectare per cropping season is Rp 10,094,997.75. The intercropping system of sweet potato and sweet corn farm is feasible to be developed based on the value of R/C over cash cost and total cost. The value of R/C based on cash cost is 2.24, while the value of R/C based on the total cost is 1.48. 
Saatnya Indonesia Bangkit Melawan Aflatoksin Raharjo, Sri
JURNAL PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1705.817 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i1.215

Abstract

Di kalangan pimpinan pemerintahan dan politik nilai strategis dari penanganan aflatoksin dan dampaknya terhadap ketahanan dan kedaulatan pangan belum mendapatkan perhatian dan komitmen yang memadai. Perlu dipahami dan disadari bersama oleh seluruh warga bangsa Indonesia bahwa kegagalan dalam pengendalian terhadap cemaran aflatoksin pada hasil pertanian menimbulkan kerugian yang sangat besar, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Meskipun cemaran aflatoksin banyak dijumpai pada saat penanganan pascapanen namun untukmengatasinya diperlukan serangkaian langkah yang terfokus dan terkoordinasi dari segenap pihak. Untuk itu perlu diketahui sejauh mana kesiapan pengendalian aflatoksin secara nasional yang ada saat inidan langkah-langkah yang masih perlu untuk ditempuh. Unsur-unsur dalam sistem pengendalian aflatoksin terdiri dari lembaga yang memiliki otoritas atau kewenangan, peraturan dan perundangan yang mengatur tentang keamanan pangan, mekanisme pengelolaan dan penerapan standard keamanan pangan, penyedia layanan pengujian cemaran aflatoksin, cara berproduksi pada tingkat petani, rantai perdagangan hasil panen, dan industri pengolahan pakan dan pangan. Komitmen nasional perlu segera digalang dan diarahkan antara lain untuk mempromosikan kesadaran (awareness) tentang kerugian jangka pendek dan jangka panjang yang bisa ditimbulkan oleh cemaran khususnya aflatoksin, mengembangkan sistem dan tindakan pengendalian yang efektifpada tingkat on farm dan off farm, mengoptimalkan penyelenggaraan penelitian pengendalian aflatoksin, dan secara periodik dilakukan monitoring cemaran aflatoksin untuk keperluan perdagangan komiditas terkait.
Efektivitas dan Neraca Hara Pupuk SNL dan SNP dalam Tanah Padi untuk Sawah (Oryza sativa L.) pada Inceptisol Karawang (Effectiveness and Nutrient Balance ofSNL and SNP Fertilizers in the Soilfor Paddy Rice (Oryza sativa L.) at Inceptisol of Karawang) Nursyamsi, Dedi
JURNAL PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1120.8 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i4.313

Abstract

Pemupukan merupakan tindakan yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi padi nasional. Pupuk SNL dan SNP yang masing-masing berbentuk cair dan bubuk serta diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke tubuh tanaman dan permukaan tanah berpotensi meningkatkan produksi padi sawah. Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari efektivitas dan neraca hara pupuk SNL dan SNP dalam tanah untuk padi sawah (Oryza sativaL.) telah dilaksanakan di Tanah Inceptisol Karawang pada MH 2007/2008. Dua unit percobaan lapang (percobaan SNL dan SNP) menggunakan rancangan faktorial (dua faktor) dalam rancangan acak kelompok, 3 ulangan, dan padi variets Ciherang. Faktor pertama adalah 0, SNL 5 L/ha, dan SNL 5 L/ha +SNP 5kg/ha (unit pertama), serta 0dan SNP 5kg/ha (unit kedua). Faktor kedua adalah 0, NPK 25 persen, NPK 50 persen, dan NPK 100 persen berdasarkan uji tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk SNL dan SNP efektif meningkatkan hasil padi sawah jika pupuk NPK diberikan dengan dosis 100 persen dosis anjuran. Pemberian SNL 5 L/ha dan SNP 5 kg/ha pada pemupukan NPK 100 persen memberikan hasil gabah tertinggi (7,35 t/ha). Walaupun demikian pemberian kedua pupuk tersebut hanya menyumbang hara: 0,575 kg N, 0,292 kg P205, dan 0,276 kg Kpper hektar. Dengan demikian peningkatan hasil gabah tersebut sangat tergantung pada kontribusi ketersediaan hara N, P, dan K dalam tanah.Fertilizer application is a must to increase national rice production. SNL and SNP fertilizers whichhave liquid and powder forms respectively and are usually aplied on plant and soil surface have potential to incrase rice production. Experiments aimed to study the effectiveness and nutrient balance of SNL and SNP fertilizersin soil for paddy rice (Oryza sativa L) was conducted at Inceptisols ofKarawang in WS 2007/2008. Two field experiments (SNL and SNP experimets) were arranged using factorial design in a Randomized Completely Block Design, three replications, and rice of Ciherang variety. The first factor was: 0, SNL 5 Uha, and SNL 5 Uha +SNP 5 kg/ha (first unit), as well as 0 and SNP 5 kg/ha (second unit), while the second factor was: 0, NPK 25percent, NPK 50percent, dan NPK 100 percent base on soil test. The results showed that combination ofSNL and SNP effectively increased yield ofpaddy rice when NPK fertilizer was given at a dose of100 percent recommendations. Use of SNL 5 Uha and SNP 5 kg/ ha combined with NPK fertilizersat 100 percent reccomendation gave the highest grain yield (7.35 t/ha). Nevertheless the use ofboth fertilzers only contributed nutrients of0.575 kg N, 0,292 kg P205, and 0,276 kg K20 perhectare. Thus the increase of grain yield was highly dependent on the contribution of nutrient availability ofN, P, and K from the soil.
Pengelolaan Tanaman Terpadu pada Padi Sawah yang Ramah Lingkungan (Integrated Crop Management in Rice Environmentally Friendly) Wihardjaka, Anicetus; Nursyamsi, Dedi
JURNAL PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.187 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i2.146

Abstract

Sistem usahatani ramah lingkungan diartikan sebagai usahatani untuk memperoleh produksi optimal tanpa merusak lingkungan baik secara fisik, biologis dan ekologis. Selain itu sistem ini juga harus menjamin keberlanjutan sistem produksi. Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada padi sawah yang bersifat ramah lingkungan diyakini dapat mengakomodasi teknologi untuk peningkatan produksi padi, sekaligus memelihara kelestarian lingkungan biofisik, serta menjaga keberlanjutan sistem produksi padi sawah.Penerapan teknologi mitigasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di lahan sawah selain dapat mempertahankan dan meningkatkan produksi padi, juga dapat mereduksi emisi GRK secara signifikan.Dengan demikian maka untuk menjamin peningkatan produksi padi, sekaligus memelihara kelestarian lingkungan lahan sawah serta menjaga keberlanjutan sistem produksi padi, maka teknologi mitigasi emisi GRK di lahan sawah perlu ditambahkan dalam paket PTT.Environmentally friendly farming system is defined as afarmto obtain an optimal production without physically, biologically andecologically damaging the environment. In additionthis system should also ensure the sustain ability of production systems. Integrated crop management (ICM) aproachin paddy ricefield is believed tobe able to accommodate environmentally friendly technologies which increaserice production, maintain sustainability of biophysical environment, as well asmaintain sustainability of rice production systems. Application of GlassHome Gas (GHG) emissions mitigation technologies in paddy rice field do not only maintainand increaserice production, but also reduce GHG missions significantly. Thus,toguarantee an increase inrice production, sustainability of bio physical environment, and sustainability of rice production systems, the GHG emission mitigation technology inpaddyrice fields should be addedin the ICM package.  
Karakteristik Sensori Nasi dari Beberapa Varietas Padi Aromatik Lokal Indonesia Wijaya, C. Hanny; Kusumaningrum, Hafida; Kusbiantoro, Bram; Handoko, Dody D.
JURNAL PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i1.13

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik sensori beberapa padi aromatik dengan pendekatan uji hedonik, uji ranking dan uji deskriptif. Uji deskriptif dilakukan dengan diskusi dalam fokus grup (focus group discussion) dan Quantitative Descriptive Analysis (QDA). Rojolele, Sintanur, Situ Patenggang, Pandan Wangi Garut dan Pandan Wangi Cianjur digunakan sebagai sampel padi aromatik asli Indonesia dan beras Basmati digunakan sebagai pembanding. Berdasarkan uji hedonik, pada atribut aroma, semua nasi tidak berbeda nyata, sedangkan pada atribut rasa nasi Rojolele memiliki skor kesukaan tertinggi. Pada uji ranking nasi Rojolele menempati urutan pertama, diikuti Sintanur, Pandan Wangi Garut, Pandan Wangi Cianjur, dan Basmati. Hasil diskusi focus group menunjukkan bahwa untuk atribut aroma semua sampel nasi memiliki aroma pandan, creamy, buttery, sweet, dan cereal, sedangkan untuk atribut rasa, semua sampel nasi mempunyai rasa manis dan asin. Berdasarkan intepretasi dari biplot Principal Component 1 (PC 1) dan PC 2 hasil QDA, nasi Pandan Wangi Garut dapat dicirikan oleh aroma pandan. Nasi Rojolele, Sintanur, dan Situ Patenggang berada dalam kelompok yang sama dan dapat dicirikan oleh aroma creamy. Nasi Pandan Wangi Cianjur dan Basmati dapat dicirikan oleh aroma buttery, cereal dan sweet. Namun, rasa manis dan asin tidak bisa mencirikan atau mendiskripsikan rasa sampel nasi.This research is aimed to determine sensory characteristics of several varieties of Indonesian aromatic paddy using the approaches of hedonic test, ranking test, and descriptive analysis. Descriptive analysis is conducted using focused group discussion (FGD) and quantitative descriptive analysis (QDA). Rojolele, Sintanur, Situ Patenggang, Pandan Wangi Garut and Pandan Wangi Cianjur are used as samples of Indonesian aromatic paddy, whereas Basmati rice is used as the comparator. Based on hedonic test, the results show that all cooked rice does not have significant differences in aroma, but cooked rice of Rojolele has the highest score in taste attribute. In the ranking test, cooked rice of Rojolele gains the first rank, followed by Sintanur, Pandan Wangi Garut, Pandan Wangi Cianjur, and Basmati. The result of FGD shows that in term of aroma attributes, all samples of cooked rice have the aromas of pandan, creamy, buttery, sweet, and cereal, whilst in term of taste attributes, they contain sweet and salty tastes. Based on the biplot Principal Component 1 (PC 1) and PC 2, cooked rice of Pandan-Wangi Garut could be distinguished by its pandan aroma. Cooked rice of Rojolele, Sintanur, and Situ Patenggang is clustered in one or the same group and could be distinguished by its creamy aroma. Cooked rice of Pandan Wangi Cianjur and Basmati could be described by its buttery, cereal and sweet aromas. However, the taste of the cooked rice samples could not be distinguished or described by their sweet and saltytastes. 
PEMIKIRAN UNTUK MENGELUARKAN PETANI DARI KEMISKINAN Arifin, Bustanul
JURNAL PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1018.718 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i1.278

Abstract

Petani di Indonesia merupakan masyarkat yang sebagian besar (sekitar 55%) masuk dalam kelompok penduduk miskin. Oleh karena itu, program pengentasan kemiskinan baik langsung maupun tidak langsung cukup efektif diarahkan terutama kepada para petani ini. Apalagi para petani menjadi sasaran yang terkena dampak cukup signifikan dari kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Langkah-langkah yang perlu diambil oleh pemerintah sebagaimana yang telah dicanangkan oleh Bapak Presiden tentang strategi tiga jalur (triple-track strategy) platform pembangunan yang lebih pro-growth, pro-employment dan propoor, salah satunya adalah melalui revitalisasi sektor pertanian dan perdesaan untuk berkontribusi pada pengentasan kemiskinan. Saat ini masyarakat menunggu upaya konkrit daripemerintah untukpenyerapan tenaga kerja. pengurangan disparitas pendapatan diperdesaan dan aliran tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor ekonomi lainnya. Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk pengentasan kemiskinan, antara lain peningkatan alokasi anggaran untuk sektor pendidikan dan kesehatan, peningkatan usaha ekonomi produktif dan perbaikan infrastruktur vital di perdesaan, serta diperlukan program pengentasan kemiskinan yang tegas antara misi sosial pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan skala komersil.
Peranan Komoditas Tanaman Pangan Unggulan terhadap Kesempatan Kerja dan Pendapatan di Kabupaten Sukoharjo (Analisis Input-Output) Tuminem, FNU
JURNAL PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.813 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i3.397

Abstract

Subsektor tanaman pangan merupakan subsektor yang strategis. Selain menyerap tenaga kerja terbesar dalam  kegiatan produksi, subsektor tanaman pangan juga menghasilkan produk yang menjadi bahan pangan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komoditas tanaman pangan unggulan dan menganalisis peranan komoditas tanaman pangan unggulan tersebut terhadap kesempatan kerja dan pendapatan di Kabupaten Sukoharjo. Data yang digunakan adalah data produksi komoditas tanaman pangan tahun 2011-2015 Kabupaten Sukoharjo dan Jawa Tengah serta data Tabel Input-Output Kabupaten Sukoharjo Tahun 2012 transaksi total atas dasar harga produsen. Metode analisis menggunakan Location Quotient (LQ), Shift Share Analysis (SSA), dan Input-Output (IO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa padi, kedelai, dan  kacang tanah merupakan komoditas basis di Kabupaten Sukoharjo. Padi, jagung, dan kedelai tumbuh cepat tetapi hanya padi yang  memiliki daya saing  sehingga menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Sukoharjo.  Berdasarkan analisis angka pengganda,  padi memiliki angka pengganda pendapatan tertinggi yaitu sebesar 0,0325 sedangkan  angka pengganda kesempatan kerja padi  peringkat ketiga setelah jagung dan kacang-kacangan.
Potensi Mekanisasi Budidaya Tebu Lahan Kering di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua (Mechanization Potency of Dry Land Sugarcane Cultivation at Merauke County, Papua Province) Pramuhadi, Gatot
JURNAL PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.921 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i2.84

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengkaji potensi mekanisasi budidaya tebu lahan kering di Kabupaten Merauke, Propinsi Papua. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanah di wilayah survey (Domande dan Kaliki) sangat potensial dalam menopang operasional mesin untuk pekerjaan pembukaan lahan, pembentukan lahan, dan penyiapan lahan sehingga tanah di wilayah survey berpotensi untuk aplikasi mekanisasi budidaya tebu lahan kering. Semua mesin (alat berat) merk Komatsu dan Caterpillar (ground pressure 0,26– 2,67 kgf/cm2) bisa dioperasikan di wilayah survey karena besar tahanan penetrasi tanah rata-rata hingga kedalaman 10 cm di lokasi survey sebesar 3,58 – 10,33 kgf/cm2. Tanah yang lebih dalam berpotensi memiliki densitas tanah maksimum lebih tinggi dibanding tanah di atasnya, sehingga perlu tindakan pengolahan tanah optimum lebih dari 40 cm. Nilai permeabilitas tanah rata-rata semakin turun pada lapisan tanah yang semakin dalam, yaitu dari 0,2625 mm/jam menjadi 0,0122 mm/jam dan dari 0,2567 mm/jam menjadi 0,0312 mm/jam. Tanah di wilayah survey tergolong tanah berdrainase buruk karena waktu peresapan air rata-rata ke dalam tanah lebih dari 30 hari, sehingga perlu rekayasa untuk membuat saluran-saluran drainase dalam dan kolam penampungan air yang bisa dimanfaatkan tanaman tebu lahan kering pada musim kering (kemarau). Waktu tersedia untuk operasional mesin sebanyak ± 14 hari/bulan dan sesuai untuk budidaya tanaman tebu lahan kering.The objective of the research was to study mechanization potency of dry land sugarcane cultivation in Merauke County, Papua Province with indicators were ability of machines to travel across soil surface on natural or field existing of soil physical and mechanical conditions, and ability of dry land sugarcane to grow and make interaction with new growing environment from planting up to harvesting. Results of the research showed that soil in surveyed region (Domande and Kaliki) were very potential in machines operational supporting for land clearing, land forming, and land preparation so that it had potency for mechanization application of dry land sugarcane cultivation. All machines with trade mark of Komatsu and Caterpillar (ground pressure of 0.26 – 2.67 kgf/cm2) could be operated in surveyed regions because the amount of average soil penetration resistance up to 10 cm depth in the surveyed regions were 3.58 – 10.33 kgf/cm2. Deeper soil layers possessed higher maximum soil dry bulk density than above soil layer, so that it needed optimum soil tillage action more than 40 cm from soil surface. Average soil permeabilities decreased on the deeper soil layers possessed higher maximum soil dry bulk density than above soil layer, so that it needed optimum soil tillage action more than 40 cm from soil surface. Average soil permeabilities decreased on the deeper soil layer, which were from 0.2625 mm/hour became 0.0122 mm/hour and from 0.2567 mm/hour became 0.0312 mm/hour. Soils in surveyed regions were categorized as bad drainage soil because it need average infiltration time more than 30 days, so that it need engineering application to make deep drainage canals and water ponds which can be took advantage by plant during draught season. Operational available time for machines operation was ± 14 days/month and suitable for dry land sugarcane cultivation. 
Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Multi-kualitas: Pengalaman Negara Lain dan Gagasan untuk Indonesia Sawit, M. Husein
JURNAL PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (925.228 KB) | DOI: 10.33964/jp.v18i3.242

Abstract

Pemerintah telah mengimplementasikan kebijakan HPP gabah/beras satu jenis kualitas yaitu medium, sejak awal 1970an. Hampir setiap tahun, insentif harga melalui HPP dinaikkan, namun tidak banyak kaitannya dengan kualitas gabah/beras dan penguatan industri penggilingan padi. Sejumlah negara produsen padi di Asia telah lama menerapkan HPP/harga dasar multi-kualitas, sehingga petani dan penggilingan padi terdorong untuk meningkatkan kualitas gabah dan beras sesuai dengan tingkat insentifnya. Tujuan makalah ini adalah memperlihatkan HPP/harga dasar gabah/beras multi kualitas di sejumlah negara lain di Asia, serta kemungkinan penerapannya di Indonesia. Pada masa mendatang, kenaikan HPP dan pengadaan BULOG dianjurkan multi-kualitas. Pada tahap awal, cukup 2 jenis kualitas yaitu medium dan premium, sehingga tidak terlalu sulit untuk diimplementasikan. HPP ditetapkan sesuai dengan kualitas, yaitu lebih tinggi untuk HPP kualitas premium dibandingkan dengan HPP kualitas medium. Ini dapat mendorong peningkatan pengadaan DN (dalam negeri), disamping peningkatan kualitas gabah/beras. Dalam jangka menengah/panjang, petani produsen akan merespons untuk memperbaiki kualitas gabah dengan menggunakan benih bermutu, mekanisasi panen dan perontokan gabah. Penggilingan padi (PP) akan terdorong untuk mempercepat pengembangan pengeringan mekanis (dryers), dan mempercepat peralihan dari PP kecil/menengah ke PP modern. Kebijakan ini perlu pula dilengkapi dengan skim kredit dan insentif fiskal dalam kerangka modernisasi PP/percepatan perubahan teknologi panen/pasca panen.
ANALISIS KEBIJAKAN TERHADAP SUPPLY DEMAND JAGUNG NASIONAL DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIK Panikkai, Sumarni
JURNAL PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.947 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i2.350

Abstract

Jagung merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang mempunyai peranan strategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia. Jagung dapat dimanfaatkan untuk pangan, pakan, dan bahan baku industri. Kebutuhan akan jagung semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) jagung nasional haruslah senantiasa dapat terjaga agar tidak terjadi kelangkaan disatu sisi dan over-supply disisi yang lain.Sistem dinamik dalam mengestimasi tingkat kebutuhan dan ketersediaan jagung nasional menjadi sangat penting, mengingat sistem dinamik dapat memproyeksi keduanya dimasa yang akan datang. Metode pengumpulan data adalah studi literatur dengan mengumpulkan data sekunder terkait produksi jagung nasional dalam kurun waktu 2010-2015. Metode analisis data menggunakan pendekatan sistem dinamik. Hasil penelitian diperoleh bahwa model skenario yang dikembangkan dengan skenario#1 (ekstensifikasi lahan areal tanaman dari 4% meningkat menjadi 8% per tahun) dan skenario#2 (intensifikasi lahan dengan peningkatan produktivitas lahan rata-rata 2,0 ton/ha), mampu menjawab kebijakan terhadap supply-demand jagung nasional.Skenario#1 akan memberikan implikasi kebijakan berupa program ekstensifikasi atau perluasan areal tanam mulai tahun 2016 dengan peningkatan sebanyak 4% per tahun. Peningkatan luas areal tanam tersebut akan meningkatkan luas areal tanam dari 6.953.067,64 hektar pada tahun 2015 meningkat menjadi 8.803.697,58 ha pada tahun 2016 atau naik sebanyak 1.850 ribu hektar atau sekitar 26,67%. Skenario#2 merupakan skenario kombinasi antara program ekstensifikasi dengan program intensifikasi. Peningkatan produktivitas lahan rata-rata 2,0 ton/hektar akan berimplikasi pada berbagai upaya peningkatan produktivitas lahan seperti; program benih unggul, pemberantasan hama dan penyakit, peningkatan pemupukan dan lain sebagainya.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue