cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Teknologi Proses Ekstrusi untuk Membuat Beras Analog (Extrusion Process Technology of Analog Rice) Faleh Setia Budi; Purwiyatno Hariyadi; Slamet Budijanto; Dahrul Syah
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i3.114

Abstract

Tingkat konsumsi beras di Indonesia mencapai angka 139 kg/kapita/tahun, lebih tinggi dari konsumsi rata-rata di Asia Tenggara, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya sering dilakukan impor beras. Indonesia memiliki sumber pangan lokal lain seperti jagung, sorgum, ubi kayu, ubi jalar, sagu dan lain-lain. Namun bahan pangan non beras tersebut kurang populer dibandingkan dengan beras. Oleh karena itu, perlu dikembangkan teknologi proses yang potensial untuk mengolah bahan pangan lokal non beras menjadi beras analog. Teknologi ekstrusi merupakan salah satu teknologi yang telah digunakan untuk pembuatan beras analog dengan bahan baku beras patah. Belakangan, teknologi ini juga mulai digunakan untuk pembuatan beras analog dari bahan pangan non beras. Karakteristik beras analog yang mirip dengan beras alami dapat dicapai dengan mengontrol parameter-parameter kritis ekstrusi seperti karakteristik dan komposisi bahan, suhu ekstrusi, kecepatan ulir dan sebagainya. Studi menunjukkan bahwa beras analog bisa dibuat dari bahan pangan non beras. Keberhasilan teknologi ini juga akan memperluas peluang fortifikasi dengan menggunakan beras analog sebagai pembawa zat gizi. seperti protein, vitamin dan mineral, sesuai dengan tujuannya. Makalah ini mengkaji hasil-hasil penelitian pembuatan beras analog dengan teknologi ekstrusi baik dengan menggunakan bahan beras patah maupun bahan non beras yang disertai dengan dan tanpa fortifikasi.Indonesia rice consumption level is very high and up to 139 kg/capita/year, higher than that of average consumption level in South East Asia, so that import of rice is frequently needed to fill the need of population. Indonesia is actually rich in local food sources other than rice; such as corn, sorghum, cassava, sago, etc. but they are not as popular as rice. Therefore technology for the production of analog rice using the localbased non-rice food sources is needed. Extrusion technology has been used to produce analog rice from broken rice as its raw material. Recently; extrusion technology has also been used to develop analog rice using non-rice food material. The characteristic of analog rice which is similar with the natural rice could be achieved by controlling the critical extrusion parameters, such as the characteristics and composition of raw material, the temperature of extrusion, the speed of screw etc. The success of the analog rice production from the non rice food material will open up opportunities for fortification program using analog rice as a carrier for the nutrient target. This paper reviews the research reports for analog rice production with extrusion technology using variety of raw materials; including broken rice and the non-rice food material, with and without fortification. 
Strategi Menghadapi Perdagangan Bebas Kawasan Asean-China Untuk Komoditas Pertanian Purbayu Budi Santosa; Teguh Santoso
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.115

Abstract

Perdagangan bebas Cina-ASEAN (CAFTA) mulai diberlakukan tanggal 1 Januari 2010. Khusus untuk produki pertanian beberapa komoditas masih belum diliberalisasi, karena masuk dalam kelompok produk sensitive list atau higly sensitive list. Akan tetapi semua produk yang masuk dalam SL dan HSL akan diliberalisasi mulai tahun 2015. Neraca perdagangan Indonesia untuk sektor pertanian dan Indeks Spesialisasi Perdagangan menunjukkan bahwa kekuatiran bagi Indonesia sebelum diberlakukan liberalisasi CAFTA. Salah satu strategi yang dapat ditempuh untuk menghadapi perdagangan bebas adalah dengan membangun dan mengembangan pertanian melalui konsep agropolitan, yang diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia. Keberhasilan pelaksanaan pendekatan agropolitan memerlukan kemauan politik (political will) dari pemerintah, tanpa itu akan sulit diujudkan.
Bioteknologi Untuk Ketahanan Pangan Kedelai: Aspek Produksi dan Konsumsi (Biotechnology For Soybean Food Security: Production and Consumption Aspects) Suyanto Pawiroharsono
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i3.117

Abstract

Kedelai adalah komoditas pangan penting di Indonesia. Kedelai merupakan makanan bergizi yang sudah berabad-abad lamanya dan telah menjadi bagian budaya bangsa. Bentuk makanan yang umum dikonsumsi terutama adalah tempe, tahu, kecap dan tauco. Namun demikian, Indonesia sejak tahun 1974 tidak dapat memenuhi semua kebutuhan secara mandiri, dan akibatnya Indonesia menjadi negara pengimpor kedelai sampai sekarang. Kecuali pada tahun 1992, tercatat produksi kedelai nasional mencapai 1,9 juta ton sehingga pada tahun tersebut dikatakan mampu berswasembada. Ketergantungan impor kedelai meningkat dari tahun ke tahun dan pada tahun 2012 mencapai 70 persen. Oleh karena itu, pemanfaatan bioteknologi diharapkan dapat menjadi solusi untuk mendukung program swasembada dan ketahanan pangan kedelai, yaitu mencakup aspek peningkatkan produksi kedelai (varietas unggul dan pupuk hayati), dan melalui perbaikan aspek konsumsi (proses fermentasi) yang dapat memperbaiki kualitas gizi dan keamanan konsumsi. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi bioteknologi untuk ketahanan pangan kedelai diperlukan suatu model sistem inovasi yang melibatkan berbagai pihak seperti peneliti, petani, penyuluh, investor dan industri.Soybean is an important food commodity in Indonesia. Soybean is considered as a nutritious food, which is consumed for the centuries and to be part of national culture. Generally, the types of food products from soybean are tempe, tofu, soy-sauce (kecap) and taucho. Unfortunately, since 1974, Indonesia could not fulfill the demand trough domestic production, and consequently Indonesia has been an importing country of soybean up to present. Except in 1992, it was noted that the national soybean production reached 1, 9 million tons, so in this year it called to be able to self sufficiency. The import dependency increased gradually from year to year, and in 2012 the level reached nearly to 70 percent. For this reason, the implementation of biotechnology is expected to be a solution for soybean self supporting program and soybean food security. The implementation covered two aspects namely: increasing the soybean production (superior variety and biofertilizer), and improving on consumption (fermentation process), that is able to increase on nutritive value and food safety. Therefore, the successful of the implementation of biotechnology on soybean food security needs an innovation system model involving related stakeholders such as researcher, farmer, agricultural extension, investor and industry.  
Pengembangan Granula Ubi Kayu yang Disuplementasi dengan Tepung Kecambah Kedelai (Development of Cassava Granule Supplemented with Soy Sprout Flour) Sugiyono Sugiyono; Hoerip Satyagraha; Wiwik Joelijani; Elvira Syamsir
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i2.118

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk ganula ubi kayu dengan suplementasi tepung kecambah kedelai. Dari analisis ragam didapatkan hasil bahwa granula ubi kayu yang disuplementasi dengan tepung kecambah kedelai 10 persen, 15 persen, dan 20 persen memiliki nilai kesukaan yang tidak berbeda nyata dalam hal rasa, warna, aroma dan tekstur. Granula ubi kayu yang diberi perlakuan penambahan Na2S20s 0,0 persen dan lama sangrai 20 menit serta penambahan Na2S205 0,1 persen dan lamasangrai30 menit memiliki nilai kesukaantertinggi dibandingkan perlakuan yang lain untuk atribut rasa. Dalam hal atribut tekstur, nasi ubi kayu dengan penambahan Na2S20s 0,0 persen dan variasi lama sangrai 30 menit memiliki nilai kesukaan terbaik dibandingkan dengan perlakuan yang lain. Berdasarkan hasil uji pembobotan, produk terbaik adalah granula ubi kayu yang diberi perlakuan suplementasi tepung kecambah kedelai 20 persen tanpa penambahan Na2S20s dan lama sangrai 20 menit. Produk granula ubi kayu terbaik memiliki densitas kambasebesar 0,62 g/ml, kadarair5,95persen, kadarprotein 11,31 persen, kadar lemak 0,87 persen, kadarabu 3,04persen,kadar karbohidrat 78,83 persen, kadar pati 45,21 persen, kadarserat 2,50 persen, daya rehidrasi 3,76g air/g, dan kadar HCN 12,30 ppm.The objective of this research is to develop a cassava granule product supplemented with soy sprout flour. Byusing the analysis of variance, itis found that the supplementation of soy sprout flour at the rate of 10percent, 15percent and20 percent do notcause anydifferences in terms of color, texture, aroma, and taste ofthe products. Cassava granules bleached bythe addition of0.0percent of Na2S20s and roasted for 20 minutes, and the addition of 0.1 percent of Na2S20s and roasted for 30 minutes have the highest score of taste among the other products. For the texture attribute, cassava granules treated bythe addition of 0.0 percent of Na2S205 and roasted for 30 minutes have the highest score.Based on the weighted method, it is found that the bestproduct is produced bythe supplementation of 20percent ofsoy sprout flour, without the addition ofNa2S20d and roasting for 20 minutes. The product had the following characteristics: bulk density of0.62 g/ml, and the contents ofmoisture, protein,fat, ash, carbohydrate, starch, and fiber are 5.95, 11.31, 0.87, 3.04, 78.83, 45.21, and 2.50 percent respectively. The rehydration rate is 3.76 g water/g, with the content of 12.30 ppm of HCN. 
Aplikasi Teknik Pengolahan Citra dalam Analisis Non-Destruktif Produk Pangan Usman Ahmad
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.119

Abstract

Aplikasi ilmu teknik dalam bidang pertanian sudah dilakukan sejak lama. Perancangan terhadap lingkungan terkendali telah mengalami evolusi yang signifikan sejak tahun 1980. Sejak beberapa tahun terakhir bahkan kata “presisi” telah digunakan untuk menggambarkan penggunaan teknologi baru seperti komputer, elektronik, dan sensor. Beberapa contoh yang sudah muncul adalah precision farming, precision forestry, precision tillage, dan mungkin hanya masalah waktu saja bagi munculnya istilah precision fisheries and precision horticulture. Semua istilah di atas dapat dirangkum dalam satu pengertian yang berarti penerapan otomatisasi menggunakan teknologi komputer dan elektronika. Penggunaan pengolahan citra (image processing) diharapkan dapat meningkatkan akurasi sortasi dan pemutuan produk hortikultura berdasarkan kualitas dan kemasakannya. Kondisi buah dapat didekati dari ukuran obyek dalam citra bila diambil dengan latar belakang yang kontras dengan warna buah yang diamati. Tingkat kemasakan buah bisa didekati dari pengamatan warna dan tekstur kulit buah karena biasanya buah seperti mangga mengalami perubahan warna dan tekstur kulitnya seiring dengan perubahan tingkat kemasakan atau kehadiran plek-plek getah pada kulit mangga sehingga mutunya dinilai rendah. Meskipun masih berada pada tahap penelitian, pengolahan citra telah dikembangkan untuk klasifikasi beberapa produk hortikultura seperti jeruk, mangga, belimbing manis, paprika, tomat, wortel, dan lain sebagainya. Demikian halnya dengan produk pangan lainnya seperti biji-bijian, pengolahan citra dapat digunakan untuk tujuan yang sama. Beberapa contoh hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi mutu biji-bijian dengan menggunakan pengolahan citra memberikan hasil yang lebih akurat bila dibandingkan dengan hasil klasifikasi secara manual.
Kombinasi Varietas Kentang Generasi Satu (Gi) dengan Jarak Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang (Solanum tuberosum L.) Combination of Basic Seed of Potato With Planting Scale on Growth and Production of Potato (Solanum tuberosum L.) Laurensius Lehar
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i2.120

Abstract

Bibitkentang generasi satu (Gi) atau basic seedBmerupakan keturunan dari umbi yang dihasilkan  oleh mother planet atau generasi nol (Go). Bibit generasi satu (Gi) mempunyai keunggulan, yaitu bebas dari hama dan penyakit. Penggunaan bibit yang bebas hama dan penyakit, pengaturan jarak tanam dan pemilihan varietas merupakan tiga faktor yang menentukan keberhasilan produksi dalam budidaya kentang. Tujuan percobaan adalah untuk mendapatkan jarak tanam yang sesuai pada tiga varietas kentang. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan menggunakan dua faktor yaitu faktor pertama varietas dan faktor kedua jarak tanam. Hasil percobaan menunjukkan bahwa Varietas Desiree pada jarak tanam 10 cm x20 cm dan 20 cm x20 cm menghasilkan jumlah daun tertinggi. Verietas Desiree pada jarak tanam 20 cm x 20 cm menghasilkan jumlah umbi gradeA(2-10 g) terbanyak. Varietas Atlantik dan varietas Desiree menghasilkan tinggi tanaman tertinggi. Varietas Desiree menghasilakn jumlah umbi per tanaman dan per petak, serta berat umbi segar pertanaman tertinggi. Jarak tanam 10cm x 20 cm menghasilkan jumlah umbi per petak, dan berat umbi segar perpetak tertinggi. Jarak tanam 20cm x20cm menghasilkan berat umbi segar pertanaman tertinggi. Varietas Desiree memiliki pertumbuhan tanaman dan hasil panen yang lebih baik dibandingkan dengan varietas Atlantik dan varietas Granola.The basic seedofpotato (Gi) isa variety ofpotato produced by the mother planet or the zero generation (GO). The advantage ofthis basic seed or the first generation seed (Gi) is its disease-resistance. The use of disease-resistance seed, arrangement of planting distance andchoice varieties are the three factors that determine the success of potato production. The aim of this research is to obtain suitable planting distance on three different varieties ofpotatoes namely Desiree, Atlantic and Granola. The experiment applies Random Sampling Groups (RSG) factors using two factors namely: variety as the first factor and planting scale as the second factor. The result shows that Desiree variety atplanting distances of 10cmx 20 cmand 20 cmx 20 cmproduces the highest number of leaves whereas the Desiree variety at planting scale of20cm x 20cm produces the highest number oftubers (2-10 g). Both Atlantic variety ofpotatoes and Desiree variety produced the highest height ofplants. Desiree variety produces the highest grade and number oftubers on each plant and slot. Planting scale of 10 cm x 20 cm results in the highest production of the number and grade offresh tubers on each slot. Meanwhile, planting scale of20 cm x 20 cm produces the highest grade offresh tuber per plant. However, Desiree variety has better production and growth compared to those ofAtlantic and Granola varieties,
Pengaruh Aktifitas Proteolitik Aspergillus sp-K3 dalam Perolehan Asam-Asam Amino sebagai Fraksi Gurih Melalui Fermentasi Garam pada Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) Agustine Susilowati
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.121

Abstract

Fermentasi garam pada kacang hijau (Phaseolus radiatus L) menggunakan kapang campuran Aspergillus sp-K3 selama 0, 2, 4, 6, 8, 10 dan 12 minggu pada suhu kamar menghasilkan kacang terfermentasi yang berpotensi sebagai kaldu nabati yaitu produk fermentasi semi padat untuk seasoning agent. Asam-asam amino yang diperoleh dalam fermentasi ini merupakan precursor flavor savory non volatil dan sumber umami yang tidak terlepas dan aktifltas proteolitik Aspergillus sp-K3. Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi Aspergillus sp-K3 sebagai inokulum kaldu nabati melalui fermentasi garam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aspergillus sp-K3 dengan inkubasi 72 jam menghasilkan aktifitas proteolitik sebesar 0.588 U/g berpotensi sebagai inokulum kaldu nabati. Aktifitas proteolitiknya pada fermentasi garam meningkatkan kadar protein terlarut dan N-amino namun menurunkan kadar air, total protein, VRS dan lemak sejalan dengan bertambahnya waktu fermentasi. Berdasarkan kesesuaian organoleptik, 10 minggu adalah waktu fermentasi terbaik untuk perolehan kaldu kasar dengan kandungan protein total 10,9621 persen, protein terlarut 8,5 mg/g, N-amino 5,6 mg/g, lemak 0,355 persen dan air 40,0854 persen, VRS 70 meq/g. red, gula pereduksi 843,75 mg/mL. Jenis asam amino non esensial dominan yang diperoleh adalah asam glutamat (0,973 persen protein kering) dan asam aspartat (0,527 persen protein kering) sedangkan asam-asam amino esensial adalah Leusin (0,615 persen protein kering) dan Lisin (0,542 persen protein kering). Asam-asam amino lain diperoleh dengan konsentrasi antara 0,193- 0,415 persen (protein kering). Secara visual, hasil fermentasi berupa padatan semi solid, berwarna coklat, sedikit berlemak, berasa gurih dan sedikit asin, dengan aroma umami/savory yang cukup kuat.
Etnobotani Tacca leontopetaloides (L.) O.Kuntze Sebagai Bahan Pangan di Pulau Madura dan Sekitarnya, Jawa Timur (Ethnobotany of Tacca leontopetaloides (L.) O. Kuntze as Food Material in Madura Island and Its Surrounding Areas, East Java) Siti Susiarti; Ninik Setyowati; Rugayah Rugayah
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i2.122

Abstract

Ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai bahan pokok yangsangat tinggi menyebabkan swasembada pangan akhir-akhir ini sulit dicapai. Oleh karenanya upaya diversifikasi bahan pangan perlu terus digalakkan. Tacca leontopetaloides (L) O. K. dipilih sebagai salah satu jenistanaman untuk penelitian diversifikasi bahan pangan pokok. Penelitian etnobotani tumbuhan Tacca leontopetaloides dilakukan di Pulau Madura dan sekitarnya dengan metode wawancara open-ended, observasi di lapangan, dan purposive sampling. Tumbuhan Tacca leontopetaloides ternyata masih belum banyak dikenal oleh masyarakat di Jawa Timur, demikian juga pemanfaatannya. Tumbuhan ini memiliki nama daerah yang berbeda di setiap lokasi penelitian, seperti di Madura dikenal dengan "Lorkong" dan "Oto'o", sedang di Jawa dikenal dengan "Kecondang". Masyarakat Sumenep telah memanfaatkan umbinya untuk pati atau tepung melalui proses tertentu. Pati tersebut digunakan sebagai bahan dasar untuk produk kudapan atau snack, misalnya: bubur, kue "Serpot", sebagai pengganti tepung terigu. Daunnya juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Di lokasi penelitian, jenis Tacca ini pada umumnya masih banyak tumbuh liar, namun di desa Langsar, Saronggi tumbuhan ini sudah dibudidayakan. kataLately, the highly dependence ofthe community on rice as staple food has caused difficulty in achieving food self-sufficiency. Therefore, diversificationof foodstuffsshould be encouraged. Taccaleontopetaloides(L.) O.Kuntzeis selectedas one ofthe species forfooddiversificationresearch. Ethno botanical study of Tacca leontopetaloides in this research is conducted in Madura Island and itssurrounding areas using open-ended interview methods, field observations and purposive sampling. Taccaleontopetaloides is still neither muchknown nor utilized by the local people in EastJava. The planthasdifferentlocal names in each region, such as "Lorkong" and "Oto'o" in Madura, and "Kecondang" in Java. In Sumenepdistrict, local people use tuber of the species to extract the starch using a certain process. The starch is utilized as a substitute for wheat flour, and widely usedas an ingredient for snacks, for example: porridge, cakes "Serpot". The leavesare alsousedaslivestock feed. In the research locations, the species is commonly grown in wild, but inthe Langsar village, Saronggi, this planth as been well cultivated. 
Strategi Peningkatan Daya Saing BULOG Melalui Pendekatan Balanced Scorecard Suswono Suswono; Arief Daryanto; M. Husein Sawit; Bustanul Arifin
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i2.123

Abstract

Tujuan makalah ini adalah untuk (i) merancang sasaran strategik, key performance indicator (KPI), inisiatif strategik yang ditinjau melalui empat perspektif yaitu keuangan, pelanggan, proses internal bisnis dan pertumbuhan dan pembelajaran pada BULOG sebagai lembaga yang menjalankan fungsi PSO dan non PSO (komersial), dan (ii) membuat peta strategi berdasarkan pendekatan balanced scorecard (BSC). Penelitian ini menunjukkan dari empat perspektif BSC di BULOG untuk fungsi non PSO, sasaran strategiknya terdiri dari: (i) perspektif keuangan sebanyak 10 sasaran strategik, diantaranya meningkatkan penjualan dan menurunnya persentase biaya operasional; (ii) perspektif pelanggan sebanyak 4 sasaran strategik, diantaranya mampu memberikan produk dan layanan yang bercitra positif dan juga kompetitif kepada pelanggan, serta mampu memberikan jaminan ketepatan waktu pengiriman barang kepada pelanggan; (iii) perspektif bisnis internal sebanyak 10 sasaran strategik, diantaranya kemampuan menguasai industri hulu dan mampu memberikan jaminan mutu barang yang dikirim kepada pelanggan; dan (iv) perspektif pertumbuhan dan pembelajaran sebanyak 14 sasaran strategik, diantaranya mengembangkan penciptaan nilai (value creation) bagi organisasi dan kemampuan memetakan kebutuhan sumber daya organisasi untuk bisnis 5 tahun yang akan datang. Perspektif BSC di BULOG untuk fungsi bisnis PSO, sasaran strategik-nya terdiri dari: (i) perspektif keuangan sebanyak 7 sasaran strategik, di antaranya meningkatkan kemampuan untuk menentukan harga jual yang ideal dan mempertahankan delta; (ii) perspektif pelanggan sebanyak 3 sasaran strategik, diantaranya rumah tangga sasaran memperoleh beras dengan jumlah mutu, harga, waktu, dan tempat yang tepat serta petani memperoleh jaminan pasar dengan harga yang wajar; (iii) perspektif bisnis internal dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, fungsi bisnis PSO dan fungsi bisnis non PSO memiliki jumlah sasaran strategik yang sama karena kedua fungsi ini masih dijalankan dalam satu organisasi dan belum ada pemisahan sumber daya.The purpose of this study is to (i) formulate strategic objectives, Key Performance Indicators (KPIs), strategic initiatives which are reviewed through four perspectives: finance, customer, internal business process and growth & learning in BULOG as an institution that runs the function of PSO and non-PSO (commercial), and (ii) create BULOG’s strategic map as institution that runs the function of PSO and non-PSO (commercial) based on the Balanced Scorecard approach. The research method used is descriptive research techniques with a Balanced Scorecard approach. The study shows that from the four perspectives of BULOG BSC for non-PSO function, its strategic objectives consist of: (i) Financial perspective as much as 10 strategic objectives, including increasing sales and decreasing the percentage of operating costs; (ii) Customer perspective as much as 4 strategic objectives, among others, able to provide products and services that has a positive image and also competitive to the customer, and is able to guarantee timely delivery to customers; (iii) internal business perspective as much as 10 strategic objectives, including the ability to master the upstream industry and is able to provide quality assurance of the delivered goods to customers; and (iv) Growth and learning perspective as much as 14 strategic objectives, including developing value creation for the organization and the ability to map organization resource needs for business five years to come. From the four BULOG BSC perspectives for PSO business functions, its strategic objectives consist of: (i) Financial perspective as much as seven strategic objectives, including increasing the ability to determine the ideal price and maintenance delta; (ii) Customer perspective as much as three strategic objectives, including target households obtaining rice within the appropriate quality, price, time and place as well as farmers guaranteed a fair market price; (iii) internal business perspective and growth and learning perspective, PSO business functions and non-PSO business functions has the same number of strategic targets, because both functions are executed within one organization and there is no separation of resources.
Determinan Inovasi Teknologi dan Kebijakan Pengembangan pada Industri Pangan (Determinants of Technological Innovation and Development Policy in Food Industry) Harianto Harianto; Dyan Vidyatmoko; Husni Yasin Rosadi
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i4.124

Abstract

Inovasi teknologi memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di negara maju, namun demikian, kajian faktor-faktor yang menentukan inovasi teknologi di Indonesia masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi inovasi industri pangan dan merumuskan alternatif kebijakan dalam meningkatkan inovasi teknologi pada industri pangan. Penelitian menggunakan metode analisis regresi 2 SLS (Two Stage Least Square) dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam faktor yang mempengaruhi inovasi teknologi pada industri pangan. Faktor tersebut meliputi kepemimpinan, sumberdaya manusia, orientasi pembelajaran, kemampuan perusahaan dalam memberikan insentif, hubungan kerjasama perusahaan dengan pihak luar dan lokasi perusahaan. Berdasarkan hasil tersebut, didapat enam alternatif kebijakan untuk mengembangkan inovasi teknologi di industri pangan. Tiga prioritas kebijakan adalah mendorong terjadinya alih teknologi dengan lebih banyak memberikan pelatihan teknologi bagi karyawan perusahaan, mendorong dan memfasilitasi diklat bagi pimpinan perusahaan, menyelenggarakan kompetisi hasil inovasi, melakukan kebijakan alih teknologi dalam setiap pembelian mesin/peralatan serta membangun sentra/kawasan industri terpadu.Despite the fact that technological innovation and its role in the economic growth of developed countries have been much studied, but there is only little knowledge about the factors that determine technological innovation in Indonesia. Objectives of this study are to analyze the factors that effect innovation in the food industry in Indonesia and to recommend the policy alternative for technological innovation development in food industry. Analytical methods used to achieve the research objective are regression analysis with 2 SLS (Two Stage Least) method and qualitative analysis. The results show that there are six factors that influence technological innovation in the food industry. The determinants include the style of leadership, human capital, learning orientation, the company’s ability to provide incentives, company relationships with outsiders and corporate location. This implies that there are six possibilities of policy in order to promote technological innovation in food industry. 

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN More Issue