cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Peran Bioteknologi untuk Peningkatan Produksi Pangan di Lahan Marginal (Role of Biotechnology for Increased Food Production in Marginal Land) Suyanto Pawiroharsono
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i1.101

Abstract

Dalam rangka ketahanan dan kemandirian pangan di Indonesia, maka diperlukan upaya peningkatan produktivitas pertanian, khususnya untuk tanaman pangan. Upaya intensifikasi selama ini dinilai berhasil, namun produktivitas sudah mendekati keadaan jenuh, sehingga upaya ekstensifikasi dengan memanfaatkan lahan marginal merupakan alternatif yang harus segera dilakukan. Indonesia sangat berpotensi mengembangkan pertanian di lahan marginal untuk peningkatan produktivitas tanaman pangan, mengingat luasan lahan yang dimiliki lebih dari 30 juta hektar dan memiliki kesiapan teknologi budidaya melalui aplikasi bioteknologi. Pemanfaatan lahan marginal untuk peningkatan produktivitas pangan masih banyak menghadapi kendala teknis sehingga dibutuhkan investasi yang lebih mahal. Disamping itu, implementasi pemanfaatan lahan perlu memperhatikan berbagai kearifan lokal sedemikian rupa agar berbagai sumber daya dapat dimanfaatkan secara optimal. Riset di bidang bioteknologi sudah banyak dilakukan di Indonesia dan hasil-hasilnya sangat berpotensi untuk peningkatan produksi tanaman pangan di lahan marginal. Hasil-hasil riset tersebut antara lain adalah varietas tanaman hasil rakitan yang toleran pada lahan marginal, pupuk hayati dan agen pengendalian hama. Selain itu, keberhasilan program peningkatan produktivitas pangan di lahan marginal perlu dukungan kebijakan dan komitmen pemerintah, baik pusat dan daerah serta dukungan masyarakat petani. In the framework of food security and food self-sufficiency, the improvement ofagricultural product of staple food commodities is urgently required. Intensification program is considered to be successful, but the productivity has recently been relatively saturated. Hence, the extensification program by using the marginal or sub-optimal land is an important option to be executed immediately. Indonesia has a great potential to develop agriculture in the sub-optimal land for increasing food production because it has a vast area of land of more that 30 million hectares and the readiness of farming technologies, specifically the application of biotechnology. The use of sub-optimal land for the improvement of food productivity is still facing several constraints, so that the more expensive capital investment is needed. In addition, the local wisdoms should be seriously considered in order to optimize the use of resources. Biotechnology researches have been done in Indonesia, and their results are potentially useful for improving the food productivity in sub-optimal lands. Theresearch results consist of the engineered plant varieties which are tolerant to sub-optimalland, bio-fertilizer and bio-pesticide. Moreover, the success of the program requires the support from the government (centraland regional), as well as the farmers communities. 
Karakteristik Fisikokimia dan Sifat Fungsional Tempe yang Dihasilkan dari Berbagai Varietas Kedelai (Phsyco-chemical Characteristics and Functional Properties of Tempe Made from Different Soybeans Varieties) Made Astawan; Tutik Wresdiyati; Sri Widowati; Siti Harnina Bintari; Nadya Ichsani
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i3.102

Abstract

Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang diproduksi melalui fermentasi kedelai dengan kapang Rhizopus sp. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan karakteristik fisik dan kimia kedelai impor (GMO, Non-GMO) dan kedelai lokal (Grobogan, Anjasmara, Argomulyo). Sebelum difermentasi, kelima jenis kedelai dibandingkan satu sama lain dalam hal ukuran, berat per 100 biji, volume, densitas kamba, impuritas, dan derajat pengembangan setelah dimasak dan direndam satu malam. Kadar air, abu, dan proteinnya juga dibandingkan. Untuk produksi tempe, kedelai disortasi, direbus, direndam, dikupas kulitnya, dan difermentasi. Tempe yang dihasilkan kemudian dianalisis kadar air, abu, protein, kapasitas antioksidan, rendemen, biaya paling efektif, dan karakteristik sensorinya. Hasil analisis menunjukkan kedelai Grobogan memiliki ukuran terbesar (19,53 g/100 biji kedelai) dan efektivitas biaya tertinggi (0,73), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen tempe yang dihasilkan (p > 0,05). Tempe yang dihasilkan dari kedelai Grobogan memiliki kadar air, protein, dan lemak yang sama dengan tempe dari kedelai impor. Tempe yang dihasilkan dari kedelai Argomulyo memiliki kadar protein tertinggi (52,70 persen). Kapasitas antioksidan tempe dari kedelai impor dan lokal berkisar antara 186-191 mg AEAC/kg tempe dan tidak berbeda nyata (p > 0,05) satu sama lain. Berdasarkan analisis sensori pada tempe mentah dan tempe goreng, secara keseluruhan tempe dari kedelai lokal memperoleh tingkat kesukaan yang sama dengan tempe dari kedelai impor.Tempe is Indonesian traditional food made by fermentation of soybean by the fungus Rhizopus sp. The objective of this research was to compare physical and chemical properties of import soybeans (GMO, Non-GMO) and local soybeans (Grobogan, Anjasmara, Argomulyo). Before being fermented, these import and local soybeans were compared on size, weight/100 grains, volume, bulk density, impurities, and puffing degree after being cooked and overnight soaked. The moisture, ash, and protein contents were also compared. For producing tempe, soybeans were sorted, cooked, soaked, dehulled, and fermented. The tempe moisture, ash, protein, antioxidant capacity, yield, cost effectiveness, and sensory characteristic were then evaluated. The result showed that Grobogan variety had the biggest size (19.53 g/100 soybean grains) and the highest cost effectiveness (0.73), but the yields of all tempe were not significantly different (p > 0.05). Tempe made from Grobogan soybean had moisture, protein, and fat content as high as tempe made from imported soybeans. Tempe made from Argomulyo soybean had the highest protein content (52.70 percent). The antioxidant capacity of tempe made from imported and local soybeans was about 186–191 mg AEAC/g, but was not significantly different (p > 0.05). Based on sensory evaluation of raw and fried tempe, overall tempe made from local soybeans had the same preference with tempe made from imported soybeans. 
Residu Pestisida di Sentra Produksi Padi di Jawa Tengah Asep Nugraha Ardiwinata; Dedi Nursyamsi
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i1.103

Abstract

Dewasa ini pestisida sudah merupakan bagian dari sistem usahatani sebagianbesar petani di Indonesia. Penggunaan pestisida semakin intensif dan cenderung tidak terkontrol; akibatnya agroekologi pertanian dan kesehatan manusia sebagai konsumen menjadi terabaikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status penggunaan pestisida dan residunya yang dilaksanakan dengan mengambil contoh tanaman padi, tanah, dan air di sentra produksi padi di Jawa Tengah. Konsentrasi residu pestisida dalam contoh ditentukan dengan menggunakan kromatografi gas (GC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani di Jawa Tengah sudah terbiasa menggunakan pestisida karena diyakini bahwa pestisida ampuh dalam menanggulangi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Namun demikian penggunaan pestisida di petani umumnya belum berdasarkan prinsip pengelolaan hama terpadu (PHT), yaitu pestisida digunakan dalam jumlah sesedikit mungkin dalam batas yang efektif dan diaplikasikan apabila tingkat kerusakan tanaman atau kepadatan populasi organisme pengganggu melampaui batas toleransi ambang ekonomi. Meskipun penggunaan insektisida organoklorin telah dilarang dan hasil wawancara dengan petani tidak ditemukan penggunaannya di lahan sawah, tetapi residunya di lapangan masih ditemukan sehingga berpotensi mengganggu kelestarian lingkungan. Residu insektisida organoklorin dan organofosfat telah ditemukan dalam contoh tanaman padi, tanah, dan air di sentra produksi padi di Jawa Tengah (Kabupaten Grobogan, Demak, Pemalang, Brebes, Tegal Cilacap, Kebumen, Sragen, dan Klaten), sedangkan residu insektisida karbamat hanya ditemukan di Kabupaten Klaten, Demak, Cilacap, dan Pati.Presently, pesticide has already been a part of farming system of most farmers in Indonesia. The use of pesticides has become more intensive and tended to be uncontrolled; consequently agro-ecological agriculture and human health as consumers have becomeneglected. This research is aimed to identify status of use of pesticides and their residues that is carried out by collecting rice plant, soil, and water samples from paddy fields of rice production centers in Central Java. Concentration of pesticides residue in the samples is determined by using Gas Chromatography (GC) method. The results show that farmers in Central Java use the pesticides because they believe that the pesticides are significantly effective in tackling pests attack. However, the use of pesticides by farmers generally has not been based on the principles of integrated pest management(IPM), a pesticide used inamounts as little as possible withinthe effective limits (no-exaggeration) and it is applied when the extent of damage to crops or pests population densities exceeds the economic threshold. Although the use of insecticides of organochlorine has been prohibited and the interview result reveals that the farmers do not use it in paddy fields, the residues on the paddy field are still found, so that they potentially pollute the environment. Organochlorine and organophosphate insecticide residues are found at rice plants, soil, and water samples taken from paddy field of riceproduction centers in Central Java (District Grobogan, Demak, Pemalang, Brebes, Tegal,Cilacap, Kebumen, Sragen, and Klaten), whereas the carbamate insecticide residuesare only found in Klaten, Demak, Cilacap, and Pati Districts. 
Potensi Dedak dan Bekatul Beras Sebagai Ingredient Pangan dan Produk Pangan Fungsional Made Astawan; Andi Early Febrinda
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.104

Abstract

Dedak dan bekatul adalah produk sampingan dari proses penggilingan beras. Dedak (rice bran) terdiri dari lapisan luar butiran beras (perikarp dan tegmen) serta sejumlah lembaga, sedangkan bekatul terdiri atas lapisan dalam butiran beras yaitu aleuron/kulit ari beras serta sebagian kecil endosperma. Dalam proses penggilingan padi di Indonesia dedak dihasilkan pada proses penyosohan pertama, sedangkan bekatul pada proses penyosohan kedua. Dedak dan bekatul mengandung nilai gizi yang lebih tinggi daripada endosperma (sehari-hari dikenal sebagai beras). Karbohidrat utama di dalam dedak padi adalah hemiselulosa, selulosa, pati dan b-glucan. Tiga asam lemak utama di dalam dedak dan bekatul beras adalah palmitat, oleat dan linoleat. Minyak dedak mentah (crude rice bran oil) mengandung 3-4 persen wax dan sekitar 4 persen lipid tak tersaponifikasi. Antioksidan potensial seperti oryzanol dan vitamin E juga ditemukan di dalam dedak beras. Dedak dan bekatul beras juga kaya vitamin B kompleks. Komponen mineralnya antara lain besi, aluminium, kalsium, magnesium, mangan, fosfor, dan seng. Kandungan gizi dan karakteristik fungsional yang dimiliki dedak dan bekatul beras merupakan potensi untuk pemanfaatan keduanya sebagai pangan fungsional dan food ingredient. Permasalahan utama dalam pemanfaatan dedak dan bekatul adalah mudah tengik akibat reaksi yang menjurus kepada ketengikan hidrolitik dan ketengikan oksidatif.Upaya stabilisasi dedak dan bekatul beras dapat dilakukan melalui inaktivasi enzim lipase dan lipoksigenase, antara lain dengan pengaturan pH, pemanasan kering, pemanasan uap, penggunaan energi microwave, pemakaian uap etanol, hingga pemanfaatan antioksidan.
Utopia Pangan Berkelanjutan Dahri Tanjung
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.106

Abstract

Tanpa kesungguhan, nampaknya pencapaian pangan yang berkelanjutan hanya akan menjadi “utopia”. Masalah dan tantangan yang dihadapi semakin besar diantaranya masih merupakan masalah yang klasik yakni masalah yang bersifat struktural yang tidak kunjung selesai. Pemilikan lahan yang sempit, teknologi yang kurang berkembang serta dukungan infrastruktur irigasi yang tidak memadai menjadi kendala utama dalam implementasi pangan yang berkelanjutan. Pemilikan atau penguasaan lahan yang sempit menjadi sumber segala sumber penyakit pangan tidak berkelanjutan. Selain usahatani tidak mencapai skala ekonomis, dampak selanjutnya pangan Indonesia tidak berdaya saing terlebih dalam perekonomian yang semakin global dan ujung-ujungnya masyarakat tidak tertarik lagi untuk usahatani pangan. Jawa yang selama ini sebagai sumber produksi pangan, lahan pertaniannya semakin terkonversi ke peruntukan non pangan; sementara di luar Jawa usahatani non pangan khususnya perkebunan mempunyai keunggulan komparatif sehingga lebih memberikan daya tarik bagi petani. Oleh karena itu agar pangan yang berkelanjutan tidak menjadi “utopia” perlu keberpihakan pemerintah. Jika landreform sebagai kebijakan yang sebetulnya tidak dapat ditawar lagi, sulit untuk diimplementasikan maka kebijakankebijakan harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pangan melalui peningkatan alokasi investasi ke sektor pertanian khususnya pangan untuk membangun dan memperbaiki jaringan irigasi; research and development dalam upaya mengembangkan teknologi pangan; serta untuk pelatihan pengembangan SDM; dan diperlukan juga untuk pembukaan lahan baru.
Optimasi Rasio Pati Terhadap Air dan Suhu Gelatinisasi untuk Pembentukan Pati Resisten Tipe III pada Pati Sagu (Metroxylon sagu) (Ratio Optimization of Starch to Water and Gelatinization Temperature to Produce Resistant Starch Type III of Sago Starch (Metroxylon sagu)) I Gusti Putu Adi Palguna; Sugiyono Sugiyono; Bambang Haryanto
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i3.107

Abstract

Pati resisten tipe III adalah salah satu tipe pati resisten yang terbentuk karena retrogradasi amilosa pati tergelatinisasi. Pati resisten tipe III memiliki efek fisiologis yang dapat bermanfaat untuk kesehatan diantaranya: efek kenyang lebih lama, mengontrol peningkatan glukosa darah, meningkatkan konsentrasi asam butirat feses, dan nilai indeks glikemik rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum rasio pati terhadap air dan suhu gelatinisasi yang dapat menghasilkan kadar pati resisten tertinggi dari pati sagu (Metroxylon sagu). Dengan menggunakan response surface methodology dapat diketahui bahwa kondisi optimum rasio pati terhadap air adalah 1:2,23 dan suhu gelatinisasi pada 77oC pada satu kali siklus gelatinisasi dan retrogradasi dapat menghasilkan kadar pati resisten tertinggi sebesar 3,88 persen. Berdasarkan analisis ragam diketahui bahwa semakin banyak jumlah air yang digunakan semakin berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kadar pati resisten. Namun, peningkatan suhu gelatinisasi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan kadar pati resisten.Resistant starch type III is one of the types of resistant starch formed by amylose retro gradation of gelatinized starch. This type has some physiological effects to health such as: longer satiety response, giving low glycemic index, improving the concentration of fecal butyric acid, and controlling the increase of blood glucose. The objective of this research was to develop optimum conditions ratio starch to water and gelatinization temperature in order to reach the highest level of resistant starch of sago starch (Metroxylon sagu). By using response surface methodology, it was found that optimum conditions: ratio starch to water was 1:2.23 and gelatinization temperature at 77oC produced the highest resistant starch content (3.88 percent). Based on the analysis of variance, it was found that the increase of ratio starch to water was significantly affected the increase resistant starch level. However, the increase of gelatinization temperature did not significantly affect the level of resistant starch. 
Prospek Beras Berlabel SNI Suismono Suismono; Sandi Damiadi
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.108

Abstract

Tujuan penggunaan beras berlabel SNI untuk memberi jaminan mutu dan harga kepada konsumen, serta meningkatkan nilai bagi pelaku usaha perberasan di Indonesia. Beras yang ada di pasaran umumnya sudah berlabel, tetapi tidak sesuai dengan persyaratan kaidah sistem pelabelan produk pangan, sehingga merugikan konsumen dan belum ada tindakan sangsi hukum dari pihak pemerintah. Respon konsumen rumah tangga dan rumah makan umumnya belum percaya pada beras berlabel, namun bila ada beras berlabel SNI konsumen bersedia membeli. Pedagang beras umumnya kurang terpengaruh terhadap beras berlabel karena tidak menggunakan merk sendiri dan merk mengikuti keinginan konsumen, walaupun tidak sesuai isinya. Penggilingan padi umumnya berminat menggunakan label kemasan SNI beras, namun mekanisme mendapatkan label SNI beras belum ada, sehingga pelabelan beras  belum memenuhi persyaratan. Prospek beras berlabel SNI akan memberi dampak positif terhadap (a) penyediaan bahan pangan aman dan halal untuk dikonsumsi; (b) pemberian kepuasan konsumen beras; (c) memperpendek tataniaga; dan (d) peningkatan harga jual dan permintaan beras, sehingga memberikan nilai tambah/pendapatan bagi stakeholder dalam perdagangan beras.
Ketersediaan Pupuk 2010-2014 dan Subsidi Pupuk Sutarto Alimoeso
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.110

Abstract

Pupuk adalah salah satu input yang esensial dalam proses produksi tanaman pangan. Pupuk dapat berperan optimal dalam usaha peningkatan produktivitas dan produksi, kalau ketersediaan air cukup dan benih bermutu diadopsi petani. Proyeksi kebutuhan berbagai jenis pupuk diharapkan dapat dipenuhi dari produksi pupuk dalam negeri. Proyeksi kebutuhan pupuk 2010-2014 memperlihatkan bahwa hanya jenis pupuk N mampu disuplai oleh produksi dalam negeri. Indonesia harus  bergantung pada impor untuk jenis pupuk P dan K. Ketergantungan pada impor akan berisiko tinggi, karena instabilitas harga pupuk di pasar dunia serta ketersediaan devisa. Subsidi pupuk yang berlaku saat ini adalah tidak langsung terhadap petani produsen, tetapi melalui produsen pupuk, sehingga telah menimbulkan banyak kesulitan dalam implementasinya. Alternatif lain adalah subsidi langsung ke petani melalui Kelompok Tani. Namun hal ini perlu kesiapan matang, karena diperlukan penguatan kelembagaan pelaksana di daerah dan penguatan kelembagaan Kelompok Tani/Gapoktan. 
Optimalisasi Persediaan Beras Pada Tingkat Distributor di Kota Bau-Bau Optimization ofRice Supply at DistributorLevel in The City of Bau-Bau Antasalam Ajo; Marsuki Iswandi; Sitti Aida Adha Taridala
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i2.111

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis optimalisasi persediaan beras pada tingkat distributor di Kota Bau-Bau, menggunakan data tahun 2010 sebagai acuan perencanaan persediaan pada tahun-tahun berikutnya. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif untuk melihat upaya-upaya yang dilakukan distributor. Model EOQ digunakan untuk menentukan jumlah dan saat  pemesanan yang tepat agar total biaya minimal. Model perputaran persediaan digunakan untuk menganalisis lama modal tersimpan dalam persediaan, dan model regresi non-linier sederhana diterapkan untuk melakukan peramalan penjualan. Kesimpulan penelitian adalah: (i) upaya-upaya distributor dalam mengeloia persediaan beras adalah pemesanan sebelum stok habis, pembayaran ke supplier setelah beras tiba, dan selalu jujur dan saling percaya; (ii) jumlah pemesanan distributor rata-rata adalah 304,18 ton, ketika persediaan rata-rata adalah sebanyak 9,34 ton, dan biaya total minimal rata-rata adalah Rp 9.869.222; (iii) perputaran persediaan beras minimal 6kali setahun; dan (iv) peramalan penjualan distributor bulanan untuk Januari hingga Juni tahun 2011 rata-rata sebanyak 56,38 ton, dan jumlah pemesanan periode dua bulanan rata-rata sebesar 112,69 ton.This study isaimed at analyzing the optimization ofrice provision at distributor level in Bau-BauMunicipality using the 2010 data as a basis for planning the provision in the following years. This is an explanatory study in which the data are gathered through a survey method. The population ofthe study is 8 rice distributors. The data are analyzed using a descriptive method to identify some endeavors done by the distributors. The EOQ model is used to determine the number and time of fixed orders to minimize costs. The model ofprovision rolling is usedto analyze the time length for the capital put in stock and the simple nonlinear regression is used to predict the selling based on the data ofmonthly selling in 2010. This study shows the following findings. First, the efforts made by rice distributors are able to optimize the rice provision although some improvement is still needed. These include orders that should be placed before stock off, payment that ismade right after delivery and honesty and trustworthy that is encouraged to build among suppliers and distributors. Second, the total maximum order for each distributor ranges from 153.63 to 532.68, averaging of304.18tons ofrice. This maximum order ismade when stocks reach about 4.45 up to 21.78 tons, averaging of9.34tons. The total minimum costvaries about Rp 4,893,690, up to Rp 17,894,090, averaging ofRp 9,869,222. Third, the rolling ofrice provision is atminimum of6 times per year. Fourth, the distributor estimate is in the average of56.38tons for the monthly selling between January and June 2010. The selling estimate by each distributoris in the average of56.38tons. The total order for each two months ranges from 111.01 up to 114.31 averaging of 112.69 tons, 
Manajemen Rantai Pasok Global Dan Antisipasi Peningkatan Kinerja Manajemen Rantai Pasok Pangan Di Perusahaan Umum BULOG Endang Gumbira Sa'id
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i1.112

Abstract

Manajemen rantai pasok global agribisnis dan agroindustri adalah pergerakan komoditas dan produk serta kapital secara transnasional dengan perbedaan waktu yang sangat bervariasi tergantung jarak dan lokasi geografisnya. Oleh karena itu, pemetaaan manajemen rantai pasok global dapat memperlihatkan hubungan ekonomi dan konseptual diantara para petani produsen, pusat-pusat perdagangan, serta rantai distribusi diantara berbagai pihak di atas dan dengan konsumen. Sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam ketahanan pangan nasional, Perum BULOG seyogianya mampu mengantisipasi kemungkinan diperluasnya tugas penanganan pasokan pangan utama dari sumberdaya domestik dan mancanegara, bukan hanya beras, melainkan juga kacang kedelai, jagung, gula, minyak goreng dan daging sapi, sesuai dengan ambisi pemerintah untuk mewujudkan swasembada keseluruhan komoditas dan produk di atas pada tahun 2014. Tulisan ini menjelaskan kondisi mutakhir mengenai rantai pasok pangan global, karakteristik rantai pasok pangan, dan berbagai kebutuhan yang perlu diantisipasi BULOG dalam penyiapan sumberdaya manusia dan sumberdaya teknologi dalam menangani rantai pasok pangan di Indonesia, di masa depan.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue